Search

Sila Sveta

The sun is gone, but I have a light – Kurt Cobain

Tag

Kris

Into Dangerous Mind ( Chapter 3 )


Into A Dangerous Mind Poster


-Chapter 3-


Pagi mengumumkan diri dengan semburat cahaya yang masuk menerobos melalui jendela. Luhan masih sempat menggosok kelopak matanya sebelum ia memutuskan untuk bangkit. Keadaannya kacau. Bibirnya mengeluarkan bunyi decakan ketika ia menyibak selimut, dan ia mengumpat. Apa yang lebih buruk ketimbang terbangun di pagi hari dengan selangkangan yang basah?

 

Tak peduli dengan hawa dingin yang menyengat kulit, Luhan mengguyur tubuh sambil bersenandung, berusaha menepis isi kepalanya yang terasa sakit dan memar akibat mimpi erotis yang ia pikir terjadi. Ia masih sempat menatapi pria kurus –penata taman berpakaian serba hijau di luar jendela kamar saat ia menggosok rambut basahnya dengan handuk, namun langsung menutup gorden dengan gerakan tak sopan ketika penata taman itu melirik padanya.

 

Dengan cacing perut yang berteriak meminta asupan, Luhan melangkah menuju dapur, dan ia terdiam seketika saat matanya menemukan punggung seorang lelaki asing berdiri di tepi meja. Agak takut, namun ia memaksakan diri untuk menyapa.

 

“Kau…” Continue reading “Into Dangerous Mind ( Chapter 3 )”

Advertisements

Affrontement (Chapter-2)


“Dan kami bertemu di bawah lampion merah saat malam festival itu. Sejak pertama melihat Luhan gege, aku sudah yakin jika aku telah jatuh pada pesonanya bahkan pada  pandangan pertama,” ucap Suri berapi-api, sementara salah satu bibir Luhan berkedut naik,  tersenyum.

 

“Oh, bagus sekali,” komentar Ibu Sehun dengan senyuman yang belum pernah memudar sejak tadi, sementara Sehun mendengus tak suka. Gerakan sekecil apapun membuatnya jengkel setengah mati, apalagi saat telinganya mendengar segala pujian penuh pemujaan yang keluar dari bibir  Luhan untuk adik perempuannya di antara obrolan tak bermutu ini.

 

Apa kau tahu? Sehun tak mempercayai pria bersurai cokelat madu itu. Ketika matanya melirik pada dua orang yang disebut-sebut sebagai keluarga Luhan, -si blonde tampan dan gadis pendiam yang sedari tadi hanya menatap salad mixed herb dan baby potato di hadapannya tanpa terlihat memiliki minat untuk menyantapnya sama sekali, Sehun masih menimbang-nimbang di dalam hati tentang apa-apa sajakah hal yang pernah ia lewatkan selama ia mengenal Luhan ‘dulu’, sampai-sampai ia tak mengetahui bagaimana bisa kedua orang itu menjadi kakak dan adik dari pria manis yang duduk tepat di hadapannya saat ini. Continue reading “Affrontement (Chapter-2)”

Affrontement (Chapter 1)


“Apa yang harus kulakukan agar kau bahagia?”

 

“Sangat mudah. Enyah saja dari hidupku, maka aku akan bahagia.”

aff


AFFRONTEMENT


HunHan | Yaoi | Mature | Hurt & Comfort | Romance

Mata Luhan terbuka nyalang. Keadaan seperti ini memang selalu terjadi setiap malam, sesuai prediksinya. Amarah. Ego. Dendam. Semua hal buruk itu mencokoli batinnya dengan erat seolah tak ingin berpaling, menggerogoti isi bagian dalam hatinya sampai mati rasa. Kalimat tak mengenakkan yang selalu berputar konstan di setiap waktu tidurnya menohok seperti tegangan listrik, mengisi baterai usang dalam otaknya, membuatnya panas dan kembali teringat pada kenangan hidupnya yang paling kelam. Setelah itu ia pasti akan terjaga sepanjang malam, membiarkan punggungnya menyandar tegak, membiarkan dirinya menyadari setiap keadaan, membiarkan kepalan tangan merespon suara otaknya dengan remasan geram pada selimut perak milik Kris, dan rahangnya yang bergemeretuk tajam.

 

“Cukup. Sudah saatnya untuk berkonfrontasi.” Continue reading “Affrontement (Chapter 1)”

Game Over


saw_maze___game_over_by_thrash618


Game Over


United States Airlines baru saja mendarat di bandara internasional San Fransisco, kota favorit Oh Sehun. Sembari melangkah pendek-pendek mengikuti penumpang lainnya keluar dari badan pesawat, ia larut dalam pikirannya sendiri, bertanya-tanya apakah yang ia lakukan ini sudah benar atau tidak. Empat bulan bukanlah waktu yang singkat. Ia pun tahu jika ia telah mengorbankan banyak hal selama waktu itu tapi tak apa, ia memiliki tujuan, dan ia harus segera mencapai tujuan itu. Ia mengepalkan tangannya ketika ia mengingat wajah pria itu, agak geram karena orang yang berda di dalam pikirannya adalah penyebab segala kekacauan ini terjadi. Waktunya, tenaga, pikiran,dan juga bisnisnya, hampir terbengkalai hanya karena pria itu melarikan diri darinya.

 

Tidak.

 

Sudut bibir Sehun berkedut naik saat ia melihat matahari San Fransisco yang begitu cerah dari balik kacamata hitamnya. “Cobalah berlari lebih jauh lagi, Luhan. Karena sejauh apapun kau pergi, aku pasti akan mendapatkanmu kembali.” Continue reading “Game Over”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: