Search

Sila Sveta

The sun is gone, but I have a light – Kurt Cobain

Category

Tragedy

Stupidity


cry


STUPIDITY


Restoran ini penuh. Aku menunggu di bar sampai nama Baekhyun dan nomor mejaku dipanggil. Di dekatku ada tungku perapian yang menyala,dan pohon sungguhan terletak di bagian sudut, terselubungi oleh lampu-lampu kecil berwarna warni. Aku memesan segelas wine untuk Baekhyun, dan meminum birku, sedangkan Baekhyun pergi menuju kamar mandi. ‘Pasti ia sedang menangis di salah satu bilik toilet,’ -pikirku sedih sambil mengingat kembali segala ucapan keras dan caci maki yang kulontarkan padanya di sepanjang jalan tadi.

 

Tidak ada yang menyenangkan dari kencan ini. Ini adalah yang terakhir. Kami ingin berpisah. Aku dan Baekhyun sama-sama tidak mau berusaha lagi… Continue reading “Stupidity”

Game Over


saw_maze___game_over_by_thrash618


Game Over


United States Airlines baru saja mendarat di bandara internasional San Fransisco, kota favorit Oh Sehun. Sembari melangkah pendek-pendek mengikuti penumpang lainnya keluar dari badan pesawat, ia larut dalam pikirannya sendiri, bertanya-tanya apakah yang ia lakukan ini sudah benar atau tidak. Empat bulan bukanlah waktu yang singkat. Ia pun tahu jika ia telah mengorbankan banyak hal selama waktu itu tapi tak apa, ia memiliki tujuan, dan ia harus segera mencapai tujuan itu. Ia mengepalkan tangannya ketika ia mengingat wajah pria itu, agak geram karena orang yang berda di dalam pikirannya adalah penyebab segala kekacauan ini terjadi. Waktunya, tenaga, pikiran,dan juga bisnisnya, hampir terbengkalai hanya karena pria itu melarikan diri darinya.

 

Tidak.

 

Sudut bibir Sehun berkedut naik saat ia melihat matahari San Fransisco yang begitu cerah dari balik kacamata hitamnya. “Cobalah berlari lebih jauh lagi, Luhan. Karena sejauh apapun kau pergi, aku pasti akan mendapatkanmu kembali.” Continue reading “Game Over”

Qualtagh


qualtagh


Qualtagh


Hanya sebuah lukisan biasa. Isinya hanyalah lukisan seorang bocah  lelaki berusia sekitar 9 tahunan, berpakaian khas bangsawan sedang berdiri tegak memegang busur panah. Dua orang pengasuh berdiri tak jauh dari bocah itu, gesture tubuh khas pelayan Istana, menatap si bocah dengan seksama. Hanya lukisan biasa, namun mampu membuat Luhan berkelana jauh ke dalam memori masa lalunya.

 

“Aku ingin bertemu dengan pelukisnya. Antarkan aku kesana,” ia berbicara tegas pada Panglima kerajaan. Continue reading “Qualtagh”

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: