Search

Sila Sveta

The sun is gone, but I have a light – Kurt Cobain

Category

Hurt & Comfort

Into A Dangerous Mind ( Chapter 4 )



Into A Dangerous Mind


Luhan berdiri di depan pintu rumah Sehun dan meyusun keberanian untuk mengetuk pintu. Ia telah melewati beberapa jam setelah Baekhyun pergi, sambil menunggu dua teman Sehun juga pergi dari lingkungan ini. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Ia hanya tidak ingin Park Chanyeol bertanya-tanya tentang temannya –Baekhyun, dan ia tidak tahu juga harus menjawab apa jika pria ikal itu bertanya tentang sikap Baekhyun tadi.

 

‘Masuk saja, Luhan…’

 

Luhan tersentak kaget saat mendengar suara Sehun di dalam kepalanya. Ia urungkan niatnya untuk mengetuk pintu terlebih dahulu seperti kebiasaan sopan orang-orang. Sebagai gantinya, ia malah mengusap pelipisnya yang berkeringat, entah karena apa, mungkin gugup?

 

“A –aku masuk ya…”

 

‘Ya, aku di belakang…’ pikiran Sehun menjawab ucapannya. Continue reading “Into A Dangerous Mind ( Chapter 4 )”

Advertisements

Affrontement (Chapter-2)


“Dan kami bertemu di bawah lampion merah saat malam festival itu. Sejak pertama melihat Luhan gege, aku sudah yakin jika aku telah jatuh pada pesonanya bahkan pada  pandangan pertama,” ucap Suri berapi-api, sementara salah satu bibir Luhan berkedut naik,  tersenyum.

 

“Oh, bagus sekali,” komentar Ibu Sehun dengan senyuman yang belum pernah memudar sejak tadi, sementara Sehun mendengus tak suka. Gerakan sekecil apapun membuatnya jengkel setengah mati, apalagi saat telinganya mendengar segala pujian penuh pemujaan yang keluar dari bibir  Luhan untuk adik perempuannya di antara obrolan tak bermutu ini.

 

Apa kau tahu? Sehun tak mempercayai pria bersurai cokelat madu itu. Ketika matanya melirik pada dua orang yang disebut-sebut sebagai keluarga Luhan, -si blonde tampan dan gadis pendiam yang sedari tadi hanya menatap salad mixed herb dan baby potato di hadapannya tanpa terlihat memiliki minat untuk menyantapnya sama sekali, Sehun masih menimbang-nimbang di dalam hati tentang apa-apa sajakah hal yang pernah ia lewatkan selama ia mengenal Luhan ‘dulu’, sampai-sampai ia tak mengetahui bagaimana bisa kedua orang itu menjadi kakak dan adik dari pria manis yang duduk tepat di hadapannya saat ini. Continue reading “Affrontement (Chapter-2)”

Affrontement (Chapter 1)


“Apa yang harus kulakukan agar kau bahagia?”

 

“Sangat mudah. Enyah saja dari hidupku, maka aku akan bahagia.”

aff


AFFRONTEMENT


HunHan | Yaoi | Mature | Hurt & Comfort | Romance

Mata Luhan terbuka nyalang. Keadaan seperti ini memang selalu terjadi setiap malam, sesuai prediksinya. Amarah. Ego. Dendam. Semua hal buruk itu mencokoli batinnya dengan erat seolah tak ingin berpaling, menggerogoti isi bagian dalam hatinya sampai mati rasa. Kalimat tak mengenakkan yang selalu berputar konstan di setiap waktu tidurnya menohok seperti tegangan listrik, mengisi baterai usang dalam otaknya, membuatnya panas dan kembali teringat pada kenangan hidupnya yang paling kelam. Setelah itu ia pasti akan terjaga sepanjang malam, membiarkan punggungnya menyandar tegak, membiarkan dirinya menyadari setiap keadaan, membiarkan kepalan tangan merespon suara otaknya dengan remasan geram pada selimut perak milik Kris, dan rahangnya yang bergemeretuk tajam.

 

“Cukup. Sudah saatnya untuk berkonfrontasi.” Continue reading “Affrontement (Chapter 1)”

Stupidity


cry


STUPIDITY


Restoran ini penuh. Aku menunggu di bar sampai nama Baekhyun dan nomor mejaku dipanggil. Di dekatku ada tungku perapian yang menyala,dan pohon sungguhan terletak di bagian sudut, terselubungi oleh lampu-lampu kecil berwarna warni. Aku memesan segelas wine untuk Baekhyun, dan meminum birku, sedangkan Baekhyun pergi menuju kamar mandi. ‘Pasti ia sedang menangis di salah satu bilik toilet,’ -pikirku sedih sambil mengingat kembali segala ucapan keras dan caci maki yang kulontarkan padanya di sepanjang jalan tadi.

 

Tidak ada yang menyenangkan dari kencan ini. Ini adalah yang terakhir. Kami ingin berpisah. Aku dan Baekhyun sama-sama tidak mau berusaha lagi… Continue reading “Stupidity”

Retrouvailles


retrou


Retrouvailles


[HunHan] [Fluff] [Romance]


Bagaimana kau mendeskripsikan kata romantis? Menurut Kim Jongin, sepupu sekaligus sahabatku, konsep dari kata romantis adalah hadiah yang unik, malam-malam panas di dalam hotel berkelas di pusat kota, atau liburan eksotis berdua dengan Kyungsoo di tempat-tempat yang menakjubkan. Tapi dalam versiku, romantis itu adalah perwujudan dari kisah cinta; -lebih jauh dari stereotip tradisional, lebih berharga dari apapun. Kisah cinta adalah keajaiban, sebaliknya juga sama, kau akan merasakan keajaiban itu apabila cinta menyentuhmu, dan aku sudah mengalaminya.

 

Namanya Luhan. Aku melihatnya pertama kali di stasiun Yeongdeungpo, dengan busana berwarna tanah; -sepatu boots berbahan kulit berwarna kopi susu, celana korduroi cokelat, sweater rajut tanpa lengan berwarna oranye berpola cokelat yang melapisi kemeja putih dibagian dalamnya dengan lengan yang digulung. Ia masuk ke gerbong dimana aku duduk, menyangga koper kulit cokelat berukuran agak besar dengan lututnya untuk naik ke anak tangga yang lumayan tinggi. Mata Luhan berwarna cokelat, dengan rambut yang juga berwarna cokelat bening seperti madu, kulitnya putih, ia tampak belia dan juga ramah. Setelah meletakkan bebannya di rak di atas kepala, ia merebahkan punggungnya pada sandaran kursi di seberang tempat aku duduk, merapikan kerah kemejanya lalu mengeluarkan sebatang Tobblerone dari dalam sakunya sambil menatapku dengan senyuman.

 

“Mau?” ia bertanya, menawarkan cokelatnya padaku. Aku menjawab dengan lima jari dan ia mengedikkan bahu. Setelahnya ia tampak tak peduli dan hanya menikmati cokelatnya sambil menatap pepohonan berbalut salju di luar sana, pemandangan khas bulan Desember. Continue reading “Retrouvailles”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: