Search

Sila Sveta

The sun is gone, but I have a light – Kurt Cobain

Category

Fluff

Miracle Wedding March ( Chapter 3 )


“Adik kecil, heh?”

 

 

Aish. Dia mendengarnya. Sialan. Sebenarnya sudah berapa lama dia berdiri disana? Atau jangan-jangan dia memang sudah mendengar semua ucapanku?

 

Aku menjadi panik ketika aku melihat Sehun berjalan mendekat kearahku, matanya menatap tajam seolah ingin menelanjangiku saja. Bisa kurasakan aura yang tiba-tiba berubah mengerikan dan berbahaya, memaksaku untuk bersikap waspada padanya.

 

 

“I –itu mak –maksudku….”

 

 

“Akan kutunjukkan bagaimana jika ‘adik kecil’ ini menciummu.”


mwm


-Chapter 3-


Aku panik. Dengan agak tergesa aku bangkit dari posisi dudukku, berlari ke arah pojok ruangan untuk mengindari Sehun, namun opsi itu ternyata salah seribu persen. Aku terpojok. Sehun menangkapku dengan sangat mudah. Ia mengenggam kedua pergelangan tanganku dan menekannya ke dinding. Aku meronta kuat, namun ia semakin menambah tenaganya hingga taganku terasa sakit.

“Sehun, lepaskan,” aku merengek, tapi ia malah tersenyum miring.

“Lucu sekali. Kenapa kau harus merasa takut pada adik kecilmu sendiri, Luhan?”  Continue reading “Miracle Wedding March ( Chapter 3 )”

Advertisements

Miracle Wedding March (Chapter -2)


mwm


Chapter 2


“Minseok…”

 

“Hmm?” Minseok menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer. Aku mendekat ke arah meja kerjanya dengan agak ragu.  Ia tampak sangat serius. Jari-jarinya bergerak lincah memencet tombol-tombol keyboard komputernya.

 

 

“Minseok, bisakah kau membantuku memberikan ini pada Presdir?” beberapa berkas yang sudah selesai kukerjakan, kusodorkan pada Minseok.

 

 

Minseok menghentikan gerak jari-jarinya lalu menoleh dan menatapku. “Kenapa kau tidak lari saja seperti yang kau katakan?

 

 

“Ck. Bagaimana aku bisa lari darinya kalau dia mengancam akan menikahiku sekarang juga?”

 

 

“Ya sudah menikah saja sih, apa susahnya, haehh..” Minseok kembali menatap layar komputernya sembari mengibas-ngibaskan tangan, memberikan gesture mengusir padaku.

 

 

“Sialan! Hei, Kim Min—”

 

 

Umpatanku tertahan di tenggorokan, kemudian tertelan kembali ketika berkas-berkas ditanganku tiba-tiba saja ditarik dan diganti dengan sebuah minuman kaleng,  membuatku tertegun karena terkejut. ‘Shit, Oh Sehun!’—berdiri tepat di sampingku dengan tatapan datarnya. Continue reading “Miracle Wedding March (Chapter -2)”

Heart


heart


Heart


Seperti kebanyakan orang-orang, aku tumbuh dengan kepercayaan bahwa selusin mawar merah dan juga sekotak cokelat adalah hadiah Valentin yang ideal. Tapi itu salah.

Aku mengenal Chanyeol sejak usia 8 tahun, di sekitar hari Natal. Sejak awal berteman kami sudah merasa cocok satu sama lain. Klik, klop. Sama-sama tak punya pacar, membuat kami selalu mengisi Valentin bersama, mengabaikan teman-teman lainnya yang mengisi Valentin secara khusus dengan kekasih mereka.

“Hei Chanyeol, apa kau pernah melakukan sesuatu hal yang romantis untuk anak perempuan?” aku bertanya padanya. Ia terbahak dan menepuk keningku dengan seenaknya. “Seharusnya kau tidak menanyakan pertanyaan tolol semacam itu. Kau tahu sembilan puluh persen hidupku kuhabiskan bersamamu,” jawabnya dengan suara khasnya yang basah. Continue reading “Heart”

You…


you


You..


Aku membuka sedikit tirai kamar hotel untuk mengintip keluar. Pintu dan jendela kamarku yang berada di lantai bawah berhadapan langsung dengan lorong hotel yang sibuk. Aku dapat melihat setiap orang yang lewat, sebaliknya, mereka juga melirikku. Aku membayangkan jika aku adalah seorang gadis cantik dengan gaun hitam ketat dan stoking hitam setinggi paha dengan tepian berenda, dengan ikat pinggang mahal mengkilat yang mengikat perut. Dan juga high heels hitam setinggi 14cm, sempurna. Semua itu adalah hal yang pernah disebutkan oleh artikel “Cara Menghangatkan Hubungan Asmara Anda” dalam Amore Magazine. Tapi sayang itu bukan aku. Aku hanyalah seorang Baekhyun, pemuda pendek berdada rata, tak memiliki lekuk seksi dan betis jenjang tanpa bulu seperti wanita. Continue reading “You…”

First Kiss…


seluhades


First Kiss…


Ketika aku SHS, kaum penyuka sesama jenis bukan saja dianggap makhluk asing seolah alien yang datang dari Planet Mars, tapi lebih menjijikkan ketimbang itu. Saat SHS, aku hidup pada masa dimana K-Pop tidak sepopuler saat ini dan skinship antara pria dengan pria masih terlalu tabu. Wajar saja jika semua teman-temanku menjauhi mereka, maksudnya ‘si kelompok homo’ itu. Jadi bisakah kau bayangkan ketika kepala sekolahku membuat aturan pemisahan kelompok perempuan dan laki-laki di hari pertama aku memasuki kelas 2? Semua orang melolong seperti serigala lapar di malam hari, menyoraki kepala sekolah yang berpidato di tengah-tengah aula, menuduh yayasan membuat suasana sekolah tak lagi terasa asik.

 

 

Saat memasuki kelas masing-masing, Chanyeol, anak yang sok tahu dan bersuara besar, bertelinga besar dan berambut cokelat, mengumumkan pada semua anak di barisan belakang dengan dramatis bahwa mungkin ia akan mati sebentar lagi karena dipaksa duduk satu meja dengan Baekhyun, siswa pendek bermata sipit dan berjari lentik di sebelahnya, yang dipindahkan dari kelas lain. Jadi aku melirik pada teman semejaku, sambil bertanya-tanya dalam hati apakah aku juga akan mati. Dia adalah pria berambut cokelat madu berwajah mirip perempuan, bermata bulat dan pendiam.  Namanya Luhan. Dalam hati aku berbisik ; pria ini tak terlalu buruk. Continue reading “First Kiss…”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: