Search

Sila Sveta

The sun is gone, but I have a light – Kurt Cobain

Category

Fantasy

TwoShoot | Black House, Blue Rose, And Memory ( Part 2 )


Bagiku ingatan itu seperti kotak-kotak kardus yang berserakan….

 

 

Seperti laci-laci penyimpan kenangan….

 

 

Meskipun telah beribu malam yang pekat telah terlalui oleh guratan waktu….

 

 

Kenangan tentangmu tetap membekas dalam ingatanku….

 

 

Black House….Blue Rose….dan….Oh Sehun….


 

blue rose

.

.

Black House, Blue Rose, And Memory

 

 

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

.

Yaoi | Fantasy | Horror | Mystery | Romance | Rating T

.

.


PART 2


Jariku terus bergerak, menggesekkan kuas bercat hitam pada kanvas putih di hadapanku, menorehkan sebuah garis panjang lurus pada permukaan lembar kanvas putih. Sudah 8 tahun berlalu, dan inilah jadinya aku. Continue reading “TwoShoot | Black House, Blue Rose, And Memory ( Part 2 )”

TwoShoot | Black House, Blue Rose, And Memory ( Part 1 )


Kenangan seperti lumpur yang mengendap di dasar sungai…..

Mengerak, lalu menanti hujan turun agar bisa menyatu dengan air dan kembali menjadi lumpur…..

Black House…..

Di rumah itulah aku bertemu denganmu pertama kali…..

Saat kau memberikan setangkai mawar berwarna biru untukku…..


43d1dce86f2da6454acb01753733c280

.

.

Black House, Blue Rose, And Memory

( Romantic Gothic Story )

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

.

Yaoi | Horror | Romance | Rating T

.

.


PART 1


Hitam, pekat….itulah yang kuingat tentang wujud dari rumah itu. Continue reading “TwoShoot | Black House, Blue Rose, And Memory ( Part 1 )”

ShortFict | Siluman Mimpi


SILUMAN MIMPI

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

Y
aoi | Fantasy | Romance | Yadong

.

 


 

 

 

Untuk yang ke sekian kalinya aku terbangun tanpa busana. Cairan lengket yang telah mengering hampir mengotori beberapa bagian selimut dan sprei yang ku gunakan. Baunya tak enak, membuat keningku berkerut dalam dan dengan sekali gerakan cepat ku tendang selimut itu hingga terjatuh ke atas lantai.

 

 

Selalu seperti ini. Setiap hari aku akan terbangun dengan keadaan yang sama. Telanjang, tubuh yang terasa remuk dan ngilu, bokong perih, dan bercak sperma di sana-sini. Bahkan seluruh tubuhku penuh dengan bercak-bercak laknat di mana-mana. Aku tak mampu mengikuti perputaran waktu seperti orang-orang. Aku buta akan hari, tanggal. Mungkin aku hanya memperdulikan jam saja karena aku bisa melihatnya dengan mataku sendiri setiap aku terbangun dari ‘tidur panjangku’.

 

 

Segalanya aneh. Sudah sejak beberapa minggu –aku tak yakin jika itu adalah hitungan minggu– belakangan ini aku selalu terlarut dalam mimpi yang tak masuk akal. Awalnya aku sama seperti orang-orang lainnya. Setiap pagi aku akan pergi bekerja, dan pulang ketika bulan telah berpendar di langit yang hitam. Segala kegiatanku yang luar biasa mencekik ku lalui dengan normal tanpa mengeluh. Semenjak aku lulus dari perguruan tinggi aku memang langsung menjalani hidup yang membosankan seperti itu, bahkan aku tak sempat memikirkan percintaan. Di usiaku yang telah menginjak 25 tahun belum pernah sekalipun aku mengencani seorang gadis. Waktuku hanya ku habiskan untuk berkutat dengan pekerjaanku yang memuakkan.

 

 

Lalu bagaimana dengan seks? Jangan anggap aku buta tentang seks. Aku memang belum pernah meniduri seorang gadispun sampai aku hidup selama 25 tahun. Tapi tentu saja aku membutuhkan hal-hal semacam seks. Aku tak pernah melakukannya dengan seseorang. Aku hanya melakukannya dengan diriku sendiri. Yeah, aku memiliki tangan, apa susahnya menggerakkan tangan sendiri di areal itu agar aku mendapatkan kepuasan? Aku hanya memerlukan otakku untuk membayangkan jika seseorang yang melakukannya untukku. Selama ini aku sudah merasa cukup dengan hal itu. Tentu saja aku merasa penasaran dengan sensasi ketika aku dapat melakukannya dengan seseorang, tapi aku memiliki pengendalian diri yang cukup baik untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu. Aku bisa menahannya. Tapi tidak lagi sekarang, semenjak ‘dia’ selalu muncul dalam mimpiku.

 

 

Aku juga tak memahami apakah ini bisa di sebut dengan mimpi ataukah tidak. Aku seperti bermimpi, tapi aku selalu menemukan bukti-bukti nyata jika ‘dia’ benar-benar ada. Kissmarkkissmark selalu bermunculan di permukaan kulit ketika aku terbangun dari tidurku. Lelehan sperma dan bokong yang perih sudah cukup menunjukkan eksistensi ‘makhluk itu’ dalam hidupku. Entah apa dia. Aku tak bisa mengklasifikasikan dia sebagai mahkluk apa. Entahlah dia nyata atau hanya khayalanku, tapi dia ‘ada’, dan dia telah mengacaukan hidupku yang sebenarnya sudah sangat kacau.

 

 

Aku tak akan ke manapun hari ini. Tentu saja aku tak akan pergi ke manapun. Aku telah kehilangan pekerjaanku, ‘garagara dia’. Hari ketika aku terbangun dari tidur anehku yang pertama kali, adalah hari di mana aku kehilangan pekerjaanku. Ketika itu aku ingat jika aku tertidur pada 23 Juli malam hari, dan ketika aku terbangun, aku melakukan kegiatanku seperti biasanya, menuju kantorku yang memuakkan. Namun ‘si sialan’ itu menghancurkan hidupku bahkan di saat pertama dia muncul dalam mimpiku. Aku tak mengerti mengapa aku bisa terbangun pada tanggal 28 Juli. Aku tak ingat dan aku benar-benar tak tahu jika aku sudah tertidur selama itu, tapi itu adalah kenyataan. Aku meninggalkan pekerjaan yang sudah ku geluti selama hampir 4 tahun dengan pikiran yang berkecamuk, dan hidupku menjadi semakin kacau setelahnya. Aku tak tahu tanggal, aku tak tahu hari, aku tak tahu bulan. Aku juga tak bisa melakukan banyak hal karena tubuhku akan terasa remuk redam ketika aku terbangun. Ku pikir aku sudah sekarat.

 

 

Di setiap waktu tidurku, dia akan datang. Dengan kurang ajarnya dia akan mencumbui tubuhku dengan liarnya, namun anehnya aku tak bisa menolak sentuhannya meskipun aku membencinya. Dia memberikan segala pengalaman seks yang tak pernah aku dapatkan selama aku hidup, dan apapun yang dia lakukan padaku selalu membekas panjang di dalam ingatanku. Aku tak bisa menolak apapun yang dia berikan meskipun segala hal yang terjadi di dalam mimpiku adalah hal yang aneh dan tak wajar. Wajahnya sempurna, kulit putih dengan bibir tipis merekah, dan pancaran matanya selalu mengundang hasrat untuk bercumbu. Suaranya lembut, dan tekstur kulitnya sangat halus. Tapi dia –pria.

 

 

Aku tak tahu siapa dia. Aku tak tahu siapa namanya, tapi dia tahu namaku. Bibirnya selalu memanggil namaku dengan suara lembutnya. Desahannya yang basah selalu membuat kinerja otakku memburuk hingga aku tak bisa memikirkan apapun lagi ketika dia datang dan mencumbui tubuhku. Isi kepalaku seluruhnya hanya dirinya. Makhluk itu membuatku gila, meskipun sejujurnya aku membenci kehadirannya.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

  

 

Aku menatap bayangan diriku di depan cermin setelah aku selesai membersihkan tubuhku. Tubuhku semakin kurus, pipiku semakin tirus, dan lingkaran hitam terlihat sangat jelas di bawah mataku, padahal aku selalu tertidur dengan waktu yang bahkan tak bisa ku tebak berapa lama. Mungkin aku benar-benar sudah sekarat.

 

 

Langit sudah menggelap, dengan kilatan-kilatan petir dan hujan yang tumpah dari langit. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, ku pikir sudah saatnya aku tidur. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan memandangi ranjangku sendiri dengan tatapan kosong.

 

 

Apakah ‘dia’ akan muncul lagi malam ini? Apakah aku akan kembali menghabiskan beberapa hari hanya untuk bercinta dengannya di dalam mimpi?

 

 

.

 

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Ku telusuri lorong demi lorong bangunan di Kastil tua ini. Sisi kanan dan kiriku sangat gelap, dengan penerangan berbias oranye yang berasal dari obor-obor yang menggantung di sepanjang dinding Kastil. Aku tak tahu aku harus ke mana, aku hanya mengikuti instingku dan membawa langkah lurus menuju ke sebuah kamar di sudut kanan tikungan lorong. Ku genggam pegangan pintu kamar yang berpelitur itu dan menarik nafasku dalam-dalam, kemudian aku mendorong pintunya sekuat tenaga dan membawa tubuh kurusku menuju ke dalam.

 

 

Tak ada siapapun.

 

 

Ku edarkan tatapan mataku ke sana ke sini, entah apa tujuanku, namun segalanya tampak memburam ketika tubuhku tiba-tiba saja sudah di balikkan dengan kuat dan sesuatu yang lembut dan basah bergerak cepat pada permukaan bibirku. Aku manarik sudut bibirku di sela-sela ciuman itu, kemudian aku membalas ciumannya dengan gerakan yang sama seperti yang dia lakukan padaku.

 

 

Tubuhku terangkat, dengan kaki-kaki yang melingkar pada pinggangnya. Tautan bibir tak pernah terlepas, bahkan hingga tubuhku terhempas di atas ranjang. Tangannya bergerak cepat, menelusup masuk ke dalam kaus lengan panjang yang ku kenakan, lalu mengelus puting-putingku dengan gerakan sensual. Dia lepaskan ciumannya, hingga mataku terbuka dan menemukan wajah tampannya itu. Dia menatapku lekat-lekat, dengan pancaran mata yang penuh dengan nafsu. Helaan nafasnya terdengar sangat berat dan berisik, dan dia pejamkan matanya ketika pinggulnya bergoyang, menggesekkan penis-penis kami yang masih terbalut dengan celana.

 

 

Aku memejamkan mataku, aku tak tahan dengan sensasinya. Milikku di bawah sana sudah mengeras, dan ku rasa miliknya juga sama saja. Ku raih tengkuknya dan kugapai bibir tipisnya yang sangat menggoda. Ku lumat, ku gesek, dan ku ajak lidahnya bertarung dengan lidahku. Lidah kami saling membelit, dan tangannya sudah menjalar ke mana-mana. Dia tekan putingku, dia raba dan dia remas bokongku, kemudian dia mulai melepaskan apa-apa yang menempel pada tubuhku hingga aku telanjang sepenuhnya. Ku ikuti apapun yang dia lakukan. Ku lepaskan seluruh pakaiannya, kemudian ku gapai penis putihnya dan ku pijat dengan lembut. Kami memang tak pernah melakukan seks yang di hiasi dengan kata-kata mesra. Kami tak pernah saling bicara ketika kami bercumbu. Kami hanya saling mendesah ketika kami sama-sama bergerak seirama untuk mencapai kepuasan.

 

 

Tanganku terus bergerak, memijat-mijat penisnya dengan gerakan sensual, menciptakan geraman tertahan pada tenggorokannya. Dia ciumi seluruh wajahku dengan brutal, dan dia hisap kulit-kulitku di bagian-bagian yang dia inginkan, menambah kissmarkkissmark yang baru, yang tumpang tindih dengan kissmark yang mulai memudar. Bibir kami kembali bertemu, saling berpagut beberapa lama sebelum dia menjalarkan bibirnya turun menuju dada. Ku lepaskan penisnya, dan ku alihkan tanganku menuju rambutnya. Bibirnya menyentuh lebih dalam, merambat ke pusar, dan menjalar ke bawah lagi. Dia kecup ujung penisku beberapa kali sebelum akhirnya menghisapi batang penisku dengan permainan lidahnya yang gemulai dan geraman tertahan serta nafas beratnya yang meniup-niup kulit di sekitar penisku, membuat nafsuku menjadi semakin menggebu-gebu. Bibirnya terus bergerak maju mundur hingga perutku mengejang dan spermaku menembak tepat pada tenggorokannya.

 

 

Aku bernafas beberapa kali, dan ku bawa tubuhku bangkit. Dengan tak sabaran ku dorong dia hingga berbaring dan aku merangkak naik ke atas pahanya. Ku genggam penisnya yang telah ereksi sejak tadi dan ku arahkan pada lubang anusku. Entah mengapa aku melakukan hal ini. Aku pria, seharusnya penisku yang memasuki lubang seseorang, namun tidak untuk pria pucat ini. Aku akan dengan senang hati menerima bokongku di masuki oleh penisnya yang menggoda itu. Geraman kuat keluar dari tenggorokannya ketika penisnya tenggelam sepenuhnya di dalam lubangku. Aku mulai bergerak naik turun, dan desahan basahnya menggema dalam ruangan kamar Kastil ini. Aku bergerak lincah, ku remas puting-putingnya yang kemerahan dan dia mencengkram pinggangku kuat-kuat. Desahannya semakin memberat, dan kulit wajahnya mulai merona. Aku bergerak semakin cepat ketika ku rasakan penuh sesak memenuhi bokongku. Lubangku basah, lengket. Gerakanku perlahan-lahan melambat, hingga akhirnya berhenti sepenuhnya.

 

 

Netra kami saling bersinggungan. Dia tatap mataku dengan lembut, tangannya membelai-belai bongkahan bokongku dengan lambat. Ku raba wajahnya, dan dia memejamkan matanya ketika aku melakukannya. Ku rendahkan bahuku, dan ku kecup bibirnya, ku lumat lembut, hingga dia membangkitkan tubuhnya dengan bibir kami yang tak pernah bosan-bosannya saling berperang. Aku duduk di pangkuannya, tanpa melepas kontak kelamin kami. Perasaanku aneh, aku merasa akan mati. Ku lepaskan ciumanku, lalu ku peluk tubuhnya erat-erat.

 

 

Aku tak tahu mengapa air mataku mengalir turun, tapi aku benar-benar menangis.

 

 

“Aku sekarat” kataku, dan ku rasakan pelukannya semakin mengerat. Dia belai punggungku, dan dia kecup pipiku dengan bibir tipisnya yang basah.

 

 

“Kau menghancurkan hidupku” kataku lagi, dan seperti sebelumnya, dia tetap diam.

 

 

Ku lepaskan pelukanku, lalu ku tatap matanya dalam-dalam, dengan jarak wajah yang sangat amat dekat.

 

 

“Siapa namamu? Kau makhluk apa? Kenapa kau selalu datang dalam mimpiku?”

 

 

Dia menaikkan sudut bibirnya, melempar senyum tampannya untukku.

 

 

“Kau bisa memanggilku Sehun, Xi Luhan…” jawabnya.

 

 

Hanya itu saja, hanya satu pertanyaan yang dia jawab, sebelum dia mengangkat pinggulku lagi dan memaksaku kembali bergerak memompa penisnya dengan lubangku, dan sama seperti sebelumnya, aku hanya menurut dan melakukan apapun yang dia inginkan meskipun sejujurnya aku merasa sangat amat lelah.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Aku terbangun dengan perasaan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhku. Aku sangat lelah, bahkan terlalu lelah meskipun hanya untuk membuka mata. Ku rasakan cairan lengket itu di sekitar paha bagian dalamku, dan nyeri-nyeri pada bokong yang sudah sangat familiar hingga aku mati rasa. Aku ingin bangkit dari ranjangku, namun aku tak mampu. Aku hanya berakhir dengan tergeletak di atas ranjangku sendiri, dengan pandangan mata buram bahkan aku tak mampu menatap langit-langit kamarku dengan fokus.

 

 

Aku benar-benar sudah sekarat.


END


Protected: NC 21- Rating MA | I’m Slave For You ( Chapter 2 )


This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: NC 21 – Rating MA | I’m Slave For You ( Chapter 1 )


This content is password protected. To view it please enter your password below:

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: