Into A Dangerous Mind


Luhan berdiri di depan pintu rumah Sehun dan meyusun keberanian untuk mengetuk pintu. Ia telah melewati beberapa jam setelah Baekhyun pergi, sambil menunggu dua teman Sehun juga pergi dari lingkungan ini. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Ia hanya tidak ingin Park Chanyeol bertanya-tanya tentang temannya –Baekhyun, dan ia tidak tahu juga harus menjawab apa jika pria ikal itu bertanya tentang sikap Baekhyun tadi.

 

‘Masuk saja, Luhan…’

 

Luhan tersentak kaget saat mendengar suara Sehun di dalam kepalanya. Ia urungkan niatnya untuk mengetuk pintu terlebih dahulu seperti kebiasaan sopan orang-orang. Sebagai gantinya, ia malah mengusap pelipisnya yang berkeringat, entah karena apa, mungkin gugup?

 

“A –aku masuk ya…”

 

‘Ya, aku di belakang…’ pikiran Sehun menjawab ucapannya.

 

Luhan mendorong pintu kayu di hadapannya kemudian ia langsung menemukan sejumlah kekacauan –lautan kardus akibat dari situasi pindahan, juga beberapa gambar modern dari desain dinding berwarna dan bergaris tebal di balik lautan kardus tersebut. Ia dapat membayangkan dengan mudah bagaimana penampilan tempat ini nanti apabila pemiliknya sudah berminat beres-beres. Beberapa perabotan yang terbuat dari pohon oak berwarna madu mengintip dari salah satu gundukan kardus. Kemudian ada warna lain di dalam ruangan itu, yaitu warna hijau tua dan juga marun –yang terlihat sangat maskulin, sesuai sekali dengan pemiliknya.

 

Luhan melangkah lurus menuju pintu belakang untuk menemui Sehun. Bagian ruang makan rumah itu menyatu dengan dapur. Dinding transparan memenuhi hampir seluruh ruangannya, dan Luhan dapat melihat pemilik rumah setengah berjongkok di halaman belakang, dengan celana pendek hitam bermotif tengkorak dan juga kaus oblong putih yang bagian lengannya sudah digunting. Sehun sedang memotong pohon palem di pojokan halaman belakangnya dengan menggunakan gergaji mesin yang terlihat lumayan mengerikan. Kemilau dari bulir keringat membasahi kulitnya yang sangat putih. Luhan merasa terpesona setiap kali ia meyaksikan otot Sehun yang berkebat, lalu kembali melemas, seiring dengan gerakan tangannya. Ia bahkan membutuhkan beberapa menit untuk menyerukan kata ‘wow’ dan juga ‘yummy’ berkali-kali di dalam kepalanya, meskipun begitu, ia terus-menerus bertahan dan mencoba menunjukkan wajah datar dingin dengan percaya diri, padahal ia tahu hal itu tidak akan berhasil karena Sehun pasti hanya akan menertawakannya saja. Ia bahkan dapat melihat seringai Sehun melalui sebelah bagian wajah pria itu saat ini. Sialan. Benar kan!

 

Menghembuskan napas berat dan sedikit cemberut, Luhan menggeser pintu kaca yang menghubungkan dapur dengan halaman belakang. Ia menyilangkan lengannya di dada, dan menunggu Sehun selesai dengan kegiatannya.

 

“Rumah yang bagus,” Luhan berkomentar setelah Sehun mematikan gergaji mesinnya dan menyeka sedikit keringat yang hampir merembes ke matanya. ‘Yang itu juga bagus,’ ia berkomentar kembali di dalam kepala sambil menatap Sehun dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan ia mendengar Sehun terpingkal karenanya.

 

“Thanks,” Sehun berterima kasih setulus hati atas segala pujian pemuda manis itu. Ia menyambar sebotol air mineral dari atas meja bundar teras belakang rumahnya dan meneguk cairan itu keras-keras. “Lumayan melelahkan. Kupikir rumah ini sudah cukup bagus untuk ditinggali, tapi ternyata beberapa semak membuatku merasa terganggu.”

 

Luhan tertawa. “Ini hanya rumah samaran sementara FBI. Untuk apa kau capek-capek membereskan semuanya?”

 

“Entahlah. Aku suka tempat ini. Akan kupikirkan untuk membeli rumah ini apabila semua urusan sudah beres. Lagipula sebenarnya aku pria yang lumayan menyukai kebersihan.”

 

“Kalau begitu kau cocok sekali dengan Baekhyun,” jawab Luhan, sedikit rasa cemburu menggerogoti perasaannya ketika ia mengucapkan itu, tapi pria yang berdiri di hadapannya malah menaikkan alis dan menariknya duduk.

 

“Ah tentang Baekhyun…apa yang terjadi padanya?” tanya Sehun penasaran.

 

Luhan menggeleng. “Entahlah…aku juga tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Ia hanya mengatakan padaku kalau ia merasa terganggu dengan Chanyeol.”

 

“Oh? Memangnya apa yang sudah dilakukan Chanyeol padanya?”

 

“Mana aku tahu.” Luhan menjawab sambil mengangkat kedua bahu.

 

“Jangan-jangan temanmu juga memiliki potensi atas bakat paranormal jenis lain, dan menemukan sesuatu atas diri Chanyeol saat ia menyentuhnya?”

 

Luhan membulatkan bibir. “Mungkinkah?”

 

Sehun juga mengangkat bahunya, “ya bisa jadi…kita akan cari tahu nanti.”

 

Luhan menggigit bibir. Ucapan Sehun yang barusan, ia abaikan. Ia sungguh tidak ingin membahas tentang Baekhyun untuk sekarang. Ia malah memikirkan ucapan Sehun tadi tentang ingin membeli rumah ini. Gelombang harapan mengelilingi pikirannya, membuatnya membayangkan jika nanti ia akan selalu tinggal berdekatan dengan Sehun bahkan setelah segala urusan tentang The Reaper usai. Ini buruk. Sebaiknya ia segera mengganti topik pembicaraan sebelum ia lebih jauh mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Sehun.

 

“Oh ya Sehun, apakah Kris… sudah ditangkap oleh FBI?”

 

Sehun terdiam untuk waktu yang cukup lama. Ia bahkan tidak ingin menatap ke dalam mata Luhan untuk menjawab pertanyaan ini. “Belum. Kami memang memiliki teori-teori untuk Kris Wu dan kasus ini, tapi kami belum mempunyai bukti nyata. Kau paham kondisinya kan? Kekuatan yang kumiliki adalah dasar dari segala prediksiku atas kasus ini, dan itu agak sulit untuk dimasukkan sebagai bukti yang dapat ditunjukkan pada hukum.”

 

Luhan mengangguk kecil, dan menyandarkan punggungnya pada kursi besi yang ia duduki. Ia menarik napas dalam-dalam dan membiarkan Sehun menjelaskan bagaimana upaya yang akan dilakukan oleh FBI untuk menyortir orang-orang yang berpotensi menjadi calon korban. Ia baru bereaksi ketika Sehun menceritakan bahwa Kris Wu sempat masuk UGD akibat serangannya malam itu.

 

“Kau serius?”

 

Sehun mengangguk sembari tertawa kecil, namun Luhan justru merasakan punggungnya mendingin dalam sekejap. Ia takut, dan ia tak berusaha menyembunyikan perasaan itu.

 

“Malam itu, setelah menyerah dari mengejarmu, ia menuju UGD klinik Mayo. Lukanya lumayan. Tulang hidungnya patah, dan rusuknya memar-memar,” Sehun menjelaskan.

 

Secara tiba-tiba Luhan merasa seolah sedang mencoba bernapas melalui sebuah plastik tebal. Ia tidak mampu menarik cukup udara ke dalam paru-parunya, rasanya sesak, perwujudan dari tekanan rasa takut yang begitu berat, menggantung kuat di dalam rongga dadanya. “Mak –maksudmu..Kris akan terus mengejarku? Ia pasti tidak akan melepaskanku dengan mudah setelah apa yang kulakukan padanya. Benar kan?”

 

Sehun hanya mengangguk mengiyakan.

 

Luhan menggigil. Karena itu ia mencoba menghalau perasaan menusuk itu dengan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, padahal udaranya cukup panas.

 

“Jangan takut…”

 

Luhan menatap Sehun tanpa berkata-kata. Apakah ia terlihat setakut itu?”

 

“Kau akan aman bersamaku, Luhan. Aku akan melindungimu dengan seluruh kemampuan yang kumiliki. Tenanglah, oke?”

 

Luhan mengangguk sambil menunduk, pasrah.

 

Sehun meringis. Ia mengarahkan tangannya sendiri pada tangan Luhan yang saling bertautan takut, kemudian ia menggenggam jemari dingin pemuda manis itu. “Apakah aku gagal membuatmu merasa aman?” tanyanya patah hati.

 

“Aku tak harus menjawabnya kan? Kau bisa membaca pikiranku, bukan begitu?” Luhan balik bertanya dengan raut sedih.

 

Sehun tersenyum kecil. “Aku dapat memaklumi bila kau merasa sepesimis ini. Tenang saja. Kris Wu tidak akan bisa menyerangmu dengan mudah apabila kau sudah mampu membuat pelindung untuk dirimu sendiri.”

 

“Pelindung?” Luhan bertanya hingga kepalanya miring ke arah kiri, tidak mengerti dengan topik apa lagi yang mereka bicarakan saat ini.

 

“Begini. Coba kau bayangkan sosok Bella Swan, atau Sue Storm yang mampu mengeluarkan gelembung transparan dengan kekuatan pikiran mereka untuk melawan musuh. Pelindung yang kumaksud mungkin bentuknya seperti itu, hanya saja kita tidak mampu melihatnya dengan mata telanjang seperti yang di tampilkan di dalam film-film. Kita hanya mampu merasakannya saja.”

 

Luhan tidak berkata-kata. Banyak sekali huruf-huruf di dalam kepalanya, bergerak acak dan membentuk pertanyaan-pertanyaan, tetapi ia tidak tahu harus memulai darimana.

 

“Aku dapat merasakan kebingunganmu di dalam kepalaku,” bisik Sehun dengan senyuman simpul. “Jangan khawatir, aku akan menjelaskannya.”

 

“Ya…please…”  kata Luhan, mengeratkan setiap tautan tangannya pada jemari milik Sehun, mencoba mencari kekuatan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang akan dia dengar kali ini adalah hal yang bagus.

 

“Pelindung yang kumaksud adalah sebuah penghalang mental yang harus kau pelajari, dan kau harus membangunnya dengan kokoh, mempertahankan hal itu di sekitar pikiranmu untuk menjaga pikiranmu sendiri dari serangan pikiran orang lain yang mencoba untuk masuk,” jelas Sehun.

 

Alis Luhan mengkerut naik, dan senyuman melengkung pada sudut bibir Sehun sebagai respons. “Kau tidak mengerti ya? Baiklah, kita lihat apakah aku mampu menjelaskannya dengan lebih baik padamu kali ini ataukah tidak,” ucap Sehun sambil menarik botol bekas air minumnya tadi sebagai media penjelasannya. “Anggap botol ini adalah pikiranmu, setiap kali sinapsis menyala di dalam otakmu, percikan kecil dari energi supernatural yang kau miliki akan terbentuk. Orang yang cukup sensitif akan mampu mendeteksi dengan cepat atas percikan-percikan energi itu dari dirinya sendiri maupun dari orang lain,” –Sehun memegang botolnya, lalu membuat lingkaran di sekeliling botol itu dengan telunjuknya. “Tapi dengan kemampuan supernatural yang kau miliki, kau sebenarnya mampu membentuk sebuah pelindung mental untuk menyaring kekuatan lain yang mencoba memasuki pikiranmu, ataupun menghalanginya masuk secara total.”

 

“Oh…” Luhan mengangguk mengerti. “Artinya, jika aku mampu melakukan ini, kau pun bahkan tidak akan bisa lagi mendengarkan pikiranku dengan seenaknya, begitu?”

 

Alis Sehun menukik, “sepertinya kau merasa sangat senang saat mendengar ini ya?” tanyanya dengan wajah masam.

 

“Menurutmu?” Luhan bertanya dengan nada tinggi. Ia menegakkan punggungnya, kemudian ia menatap Sehun bak seekor anak anjing yang sedang berusaha meminta sesuatu kepada majikannya, “kalau begitu cepat ajarkan caranya padaku, hm?” ia merayu, sedangkan Sehun menggelengkan kepala sambil mendengus karena respons aneh pemuda manis itu.

 

‘Yang terpenting aku akan bebas! Lain kali sebelum tidur aku akan membiarkan fantasy dan hormonku menjadi lebih liar, dan tak ada siapapun lagi yang akan bisa mendengarkannya. Ahh…bagus sekali!’ –pikir Luhan.

 

“Ya. Tapi sebelum kau benar-benar bebas, kuharap kau mampu menahan semua itu karena aku masih mampu mendengarkan pikiranmu dengan sangat jelas saat ini, tuan…” celetuk Sehun tiba-tiba.

 

Luhan melipat bibirnya ke dalam mulut, kemudian ia memalingkan wajahnya yang memerah ke arah kiri. Ia berdehem-dehem kikuk, kemudian menunduk dengan malu-malu.

 

*****

Pukul tiga lebih empat puluh lima menit, masih terlalu awal untuk Baekhyun bangun, namun ia memutuskan untuk tidak menutup mata kembali ketika ia ingat jika pukul lima sore ia sudah harus berada di ruang direksi.

 

“Empat puluh dua, dua puluh delapan, lima puluh tujuh. Huft, pilihan yang sulit.”

 

Baekhyun mengernyit pada daftar di samping pintu lemari pakaian terkomputerisasi miliknya. Ia memasukkan angka nomor-nomor baju pilihannya dengan hati-hati pada keypad, menjaga agar benda itu tetap mulus tanpa goresan sedikitpun. Tentang fashion, ia memang salah satu jenis manusia yang selalu mengikuti mode. Entah mengapa ia selalu berpikir jika perang  busana adalah suatu keharusan untuk masa-masa saat ini. Ia hampir tidak pernah memakai pakaian tanpa memutuskannya lebih dari lima belas menit hanya untuk menghadiri suatu pertemuan, bahkan dengan sahabatnya sendiri –Luhan. Dan untuk menghadiri pertemuan dengan para direktur penerbitan tempat ia mempercayakan naskah-naskahnya dibukukan, ia akan memakai nomor empat puluh dua, dua puluh delapan, dan juga nomor lima puluh tujuh, tentu saja setelah berpikir hingga beberapa menit lamanya. Empat puluh dua adalah celana panjang hitam klasik hasil kreasi YSL, dengan garis setrikaan yang teramat licin dan tidak akan membuat selangkangannya berkeringat karena kepanasan. Dua puluh delapan adalah kemeja Prada birunya yang baru, dilengkapi dengan dua kancing di setiap barisnya.  Dan lima puluh tujuh adalah sepatu Salvatore Ferragamo hitam favoritnya.

 

Tidak ada yang mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang novelis terkenal, bahkan keluarganya dan juga Luhan. Ia menggunakan penname beraura wanita untuk menutupi semuanya dari orang-orang, dan membiarkan orang-orang berpikir jika ia adalah seorang pengusaha muda dengan jenis usaha yang misterius. Terlahir di keluarga yang sangat kaya membuat ia tidak harus bersusah payah untuk bekerja. Karena itu hidupnya terasa membosankan. Rumahnya yang begitu besar, dan dingin, membuatnya sangat muak, apalagi ia sangat jarang sekali bertemu dengan orangtuanya. Karena itu Baekhyun pada akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah yang lebih mungil di lingkungan yang lumayan ramai, meskipun tetap saja ia bermukim di salah satu hunian mewah Seoul dengan alasan keamanan.

 

Sejujurnya, Baekhyun tidak mengidamkan pertemuan dengan penerbitnya hari ini karena dapat dipastikan ia akan ditanyai tentang kabar kelanjutan tulisan terbarunya yang telah lama ia janjikan. Ia terlalu sibuk berlibur ke Las Vegas kemarin-kemarin, dan sibuk bermalas-malasan kemarin-kemarinnya lagi.  Guilty, adalah judul novelnya yang baru. Judul itu tertulis di dalam sebuah kertas dan tertancap di dinding ruangan kamarnya sebagai pengingat bahwa ia harus segera menyelesaikan novel tersebut, namun tidak pernah ia kerjakan. Sejauh ini ia telah memberikan banyak alasan kepada penerbitnya termasuk laptop rusak, pikiran buntu, bahkan serangan penyakit misterius yang sulit untuk diobati –malas. Baekhyun tidak yakin tentang bagaimana cara menjelaskan kepada penerbit jika ia belum mampu menyelesaikan tulisan itu. Ia sudah berusaha berkelit dari pertemuan namun sepertinya gagal. Mungkin nanti ia hanya harus menjelaskan bahwa kelanjutan alur cerita novelnya sudah selesai di dalam bagian otak kirinya –atau dimanapun seharusnya bagian kreatif otak berada, dan siap untuk diketik.

 

Sambil mengenyahkan kenyataan tidak menyenangkan itu dari pikirannya, Baekhyun menyentakkan kakinya dengan tidak sabaran sambil menatap tampilan elektronis di sebelah pintu lemari pakaiannya yang sedang memproses nomor-nomor yang ia masukkan tadi. Untuk sejenak bayangan wajah seorang pria ikal dengan senyuman lebar yang ia temui di rumah tetangga Luhan berkelebat di dalam otaknya, mencuri kesempatan ketika ia sedang memperhatikan pakaiannya yang baru saja ia keluarkan dari dalam lemari. Ketika bayangan pria ikal itu masuk, secara bersamaan bayangan ‘penglihatannya’ atas pria itu juga masuk memenuhi hampir seluruh pikirannya. Dalam sekejap perutnya terasa diaduk-aduk. Baekhyun menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Ia merasa mual, karena itu Baekhyun meletakkan pakaiannya ke atas ranjang secara sembarangan kemudian ia berlari cepat menuju kamar mandi. Ia muntah.

*****

“Jangan mengumpat terus-menerus, Luhan. Bersabarlah…” Sehun memarahi.

 

Luhan mengusap keningnya yang terasa berdenyut-denyut nyeri akibat dari usaha selama berjam-jam membuat pelindung pikiran di bawah pengawasan ketat Sehun. Ia sudah mampu membuat pelindung yang lumayan kuat tadi, namun ketika ia kehilangan konsentrasi meski sekejap saja, pelindung itu langsung lenyap. Sepertinya Luhan harus memutar otak agar ia mampu membuat pelindung yang lebih bertahan lama walaupun ia tidak sedang berkonsentrasi memikirkannya, tapi sepertinya sangat sulit.

 

“Ambil napas dalam-dalam dan coba sekali lagi. Aku akan membantumu,” kata Sehun dengan suara khasnya yang sensual, membuat Luhan sejenak teralihkan dari sakit kepalanya.

 

“Ya, tolong bantu aku untuk terakhir kalinya. Ini sangat melelahkan, aku benar-benar butuh istirahat.”

 

Sehun melemparkan senyumannya dan mengangguk. “Oke, ambil napas dalam-dalam, keluarkan, lalu tutup matamu.”

 

Luhan mengikuti semua instruksi itu dengan patuh. Ketika ia menutup mata, ia dapat merasakan percikan energi kecil dari kekuatan supernaturalnya. Ia merasakan bahunya ditekan kuat oleh Sehun, dan ia berkonsentrasi untuk membuat percikan energinya berubah menjadi lebih besar.

 

“Bagus. Sekarang kumpulkan energimu dan ubahlah menjadi pelindung,” bisik Sehun di telinganya.

 

Awalnya, Luhan mencoba membayangkan tumpukan kotak mainan anak-anak seperti yang diajarkan oleh Sehun padanya, namun tidak berhasil. Lalu ia mencoba membayangkan pelindung jenis Star Trek yang berkilauan dan tidak dapat ditembus oleh cahaya, namun hasilnya sama saja, bahkan lebih buruk dari ketika ia membayangkan kotak mainan anak-anak barusan. Oleh karena itu Luhan mengubah bayangannya lagi menjadi sebuah tembok besar sejenis gerbang pelindung istana dalam film-film kolosal. Ia menyatukan elemen-elemen kekuatan supernaturalnya hingga membentuk sebuah bola gelembung besar dengan cara membayangkan dinding batu padat berwarna biru abu-abu di dalam pikirannya. Dan berhasil.

 

‘Bagus Luhan. Pertahankan. Jangan lupa membuat jendelanya, sehingga kau dapat memilih informasi yang akan keluar masuk sesuai dengan keinginanmu.’ Pikiran Sehun menyapu lembut pikirannya.

 

Terpengaruh oleh kata-kata Sehun, sebuah jendela kecil muncul begitu saja pada tembok besar di dalam pikirannya.  Jendela itu berbentuk segiempat kecil dengan huruf U terbalik di bagian atasnya. Luhan merasakan gelombang adrenalin kepuasan memenuhi seluruh pikirannya, tapi kemudian tembok yang telah ia bangun itu tiba-tiba saja berguncang dan menghilang.

 

“Fuck!” Luhan membuka matanya dan rasa sakit di kepalanya bertambah hingga berkali-kali lipat, berdenyut seirama dengan detak jantungnya. “Ini membuatku kesal. Sialan!” ia mengumpat emosi.

 

Sehun meniup poninya sendiri dan menatap ke arah luar melalui dinding kaca. Langit sudah menghitam. Sudah berapa lama ia duduk disini hanya untuk mengajari Luhan membangun pelindungnya sendiri? Pasti sudah sangat lama sekali.

 

“Kita lanjutkan besok saja, Lu. Lihatlah, energimu sudah terkuras habis. Kau harus istirahat.”

 

Luhan mengangguk patuh. Ia duduk merosot ke permukaan lantai dan meluruskan kakinya serta menggerak-gerakkan leher. Yang ia lakukan sejak tadi hanya duduk sambil belajar membuat pelindung bersama dengan Sehun, namun rasanya ia seperti baru saja berlari berkilo-kilo meter jauhnya. Ia merasa lelah sekali.

 

“Lain kali cobalah untuk mengontrol emosimu sendiri. Hal itu sangat penting agar kau tidak mudah dipengaruhi oleh musuh,” Sehun mengingatkan. Ia tepuk bahu Luhan dan lagi-lagi pemuda manis di hadapannya mengangguk.

 

Untuk beberapa saat keduanya terdiam, tenggelam ke dalam pikiran masing-masing. Bunyi aneh terdengar berulang kali karena Luhan membanting-banting pelan pensil biru kecil milik Sehun ke lantai. “Aku..umm..lapar,” ia mengeluh tiba-tiba.

 

Sehun melirik pada pemuda manis itu dengan alis terangkat.

 

Luhan meletakkan pensil yang ia pegang ke permukaan meja, kemudian ia menggaruk belakang telinganya dengan sikap kikuk. “Itu…k –kau…kau suka makan kan?”

 

Sehun tidak mengatakan apapun. Alisnya menukik semakin tinggi, membuat Luhan seolah kehilangan nyali untuk mengucapkan hal yang menjadi inti dari kalimat acak-acakannya barusan.

 

“Mak –maksudku, semua orang pasti suka makan, pastinya kau termasuk salah satunya kan haha. Lalu…umm…”

 

“Apa kau sedang berusaha mengajakku untuk pergi makan malam denganmu?” Sehun berbisik tepat di depan wajah Luhan, dan tertawa kecil setelahnya, menggoda.

 

Dalam sekejap, pipi Luhan berubah warna. “Kalau kau berminat saja sih,” ia menjawab sambil mengusap kening. Ada sedikit keringat disana, entah karena hasil dari kegiatannya sejak tadi ataukah karena gugup, ia juga tidak tahu. “Ini kali pertama aku mengajak seseorang pergi keluar denganku, ternyata lebih sulit dari yang kubayangkan ya, heh..heheh..” lanjutnya dengan tawa yang terdengar aneh.

 

Sehun tersenyum. “Biar kuluruskan,” katanya, lalu ia raih kedua tangan Luhan.  Sementara Luhan, saat ini sedang menggigit bibirnya sendiri, berusaha keras untuk tidak bersikap gelisah. “Ada seorang pemuda manis yang baru saja kukenal  kemarin, yang saat ini ia sedang berada di dalam rumahku, dan pemuda itu tiba-tiba saja mengajakku keluar untuk berkencan pada jam ini. Serius?” Sehun melanjutkan ucapannya, lalu entah mengapa wajahnya menjadi berubah muram setelah ia mengatakan hal itu. Luhan tidak mampu membaca apa yang ada di dalam pikiran Sehun hanya melalui ekpresi yang ditunjukkan pria pucat tersebut. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara Sehun memasuki pikirannya selama ini. “Luhan, dengar. Aku sangat ingin, tapi…” Sehun mengangkat jarinya sebagai penekanan, “ini bukanlah saat yang tepat. Kita harus fokus pada kasus ini dulu.”

 

Luhan meringis, menarik tangannya dari tangan Sehun dan memundurkan tubuhnya dari meja, kemudian ia bangkit untuk berdiri dengan gerakan tubuh yang salah tingkah. Ia baru saja ditolak. Yah tidak aneh. Sejak ia remaja, ia bahkan sudah pernah ditolak berkali-kali oleh para gadis, dan ini kali pertama ia ditolak oleh pria yang sejak kemarin selalu menunjukkan sikap seolah-olah sedang tertarik atas dirinya. Menyebalkan! Omong kosong. Jika ia akan tampak bodoh setelah ini, ia ingin sekali mendapatkan itu semua dari sudut pandang yang tinggi, karena itu ia melakukannya –berdiri.

 

“Tidak-tidak. Jangan salah paham, Luhan…” Sehun bangkit dengan cepat dan ia berusaha menarik pergelangan tangan Luhan meskipun pemiliknya menolak. “Tolong kontrol mood mu, ya Tuhan. Kau hanya sedang kesal, karena itu respons negatif atas sikap orang lain lebih dominan menguasai pikiranmu.”

 

“Aku mengerti Sehun.”

 

“Tidak, kau salah paham.”

 

“Dengar. Jika kau hanya ingin membuatku merasa kecewa dengan mudah, tidak usah repot-repot, Sehuna. Aku ini sudah dewasa, dan –“

 

“Dengarkan aku dulu…” Luhan bungkam dan membiarkan Sehun menggenggam kedua pergelangan tangannya kali ini. “Aku sudah mengatakannya kan tadi, aku sangat ingin…”

 

“Kalau begitu kau seharusnya tidak memiliki alasan untuk menolak ajakanku kan?”

 

“Lihat kondisimu. Kau kelelahan, dan lapar. Kita bisa membuat makanan disini tanpa harus keluar rumah. Bukannya sejak tadi kau mengeluh terus untuk bisa segera istirahat?”

 

Luhan tak mengatakan apapun. Ia hanya duduk tanpa suara sambil menundukkan kepalanya. Ia memilin jari sambil berpikir.

 

“Lu…”

 

Luhan menarik napas dan terkekeh kecil setelahnya. “Aku terlalu cepat ya? Apa kau menilaiku terlalu agresif padamu?” tanyanya dengan suara rendah, serendah suara Sehun ketika pria itu memanggilnya barusan. “Aku akan fokus pada kasus ini, seperti yang kau katakan. Tolong jangan merasa terganggu atas segala sikapku padamu, atau pikiran-pikiran gilaku tentangmu. Bisa kan?”

 

“Terganggu?” ucap Sehun tak percaya dengan apa yang ia dengar. Bahunya jatuh melemas. Ia menyesal dengan semua sikapnya barusan, karena itu dia berlutut di hadapan Luhan dan menarik dagu pemuda manis itu agar tatapan mereka bertemu. “Kau salah paham, Luhan. Maafkan aku. Jujur saja, aku malah merasa sangat senang saat aku mendengar semua pikiranmu tentangku. Sungguh…”

 

Luhan menatap jauh ke dalam mata Sehun. Lagi-lagi, untuk waktu yang lumayan lama, mereka hanya diam, hingga Luhan membuka mulutnya lagi dan mengeluarkan suara. “Bagaimana kau melakukan itu?” tanyanya, membuat Sehun kebingungan dan harus membuka pikirannya agar ia mampu memahami konteks dari pertanyaan Luhan barusan. Ia tersenyum ketika ia mengerti maksudnya.

 

“Kau ingin tahu bagaimana caraku memasuki pikiranmu?” tanyanya, dan Luhan mengangguk. “Untuk mendengar apa yang kau katakan di dalam kepalamu, itu adalah hal yang sangat mudah, Lu. Dan itu tidak terlalu menyenangkan. Hal yang lebih membuatku merasa senang adalah ketika aku bisa merasakan apa yang kau rasakan tanpa aku harus melakukan apa yang kau pikirkan, misalnya…misalnya…saat kau membayangkan jika kita sedang melakukan seks –“

 

“Uhuk!” Luhan terbatuk dengan wajah merah matang. Ia menyingkirkan tangan Sehun dari dagunya, dan ia menutup mulutnya sendiri sambil membuang tatapannya ke arah lain. Tiba-tiba saja ia merasa seperti tengah berada di sebuah tempat asing, sebuah karnaval yang sangat ramai dengan dirinya yang tampil polos seperti bayi di tengah keramaian itu. Sekuat apapun ia berusaha berlari, tidak ada satupun tempat yang bisa ia pakai untuk ia bersembunyi. Ini benar-benar memalukan. Rasanya ia ingin sekali segera keluar dari keadaan ini. “A –aku ingin pulang saja,” katanya sambil berdiri dengan tergesa-gesa. Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya menjauh, punggungnya sudah terjatuh pada permukaan sofa, dan Sehun telah merangkak cepat ke atas tubuhnya. Wajah Sehun hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Ia bahkan dapat merasakan aroma napas Sehun menyapu lembut kulit wajahnya, dan ia seakan ingin mati ketika tatapannya dengan milik Sehun bertemu dalam posisi yang sangat intim.

 

“Mengapa kau mencoba kabur, hmm?”

 

Luhan bungkam. Telapak tangannya menekan dada Sehun, namun sekejap saja, pergelangan tangannya tiba-tiba sudah menyatu dalam genggaman Sehun di atas kepalanya sendiri. Ia terjebak.

 

“Sesuai yang kau katakan di dalam pikiranmu tadi Luhan, aku ini hanya omong kosong. Bagaimana menurutmu? Sejak kemarin, apa yang kutunjukkan atas sikapku padamu semuanya adalah kejujuran. Aku mengakui, aku sangat tertarik padamu…dan, sulit sekali untuk mengatasinya…”

 

“….”

 

“Tidakkah kau penasaran?”

 

Luhan menelan ludah dan memberanikan diri untuk bersuara. “Penasaran untuk apa?”

 

“Tentang apa yang kurasakan ketika aku memasuki alam pikiranmu yang berbahaya…”

 

Luhan tidak mengatakan apapun lagi. Penglihatannya memburam perlahan, kemudian menggelap. Ia merasakan bibirnya tertarik, sebuah bibir lain menangkapnya, melumat perlahan dengan penuh kelembutan dan terasa basah.

 

‘Buka pikiranmu, dan coba rasakanlah…’  pikiran Sehun bersuara.

 

Luhan membiarkan bibirnya ikut bergerak bersama milik Sehun, dan ia berkonsentrasi, membuka pikirannya. Dalam seketika, sensasi aneh seolah berputar-putar disekelilingnya, seperti pusat dunia menyatu di dalam pikirannya sendiri. Ribuan kupu-kupu bercahaya seakan berpendar menghiasi udara di sekitar dirinya dan Sehun, membuat fokus akan tubuh mereka menjadi terlihat lebih tajam. Luhan mampu merasakan jika Sehun sedang menjangkau pikirannya hingga ke titik terdalam, dan ia membiarkannya begitu saja. Sehun semakin jauh ke dalam dunianya, lalu…

 

‘Apa ini? Mengapa rohku seolah berada di dalam tubuh yang berbeda? Aku dapat merasakan seberapa halusnya kulitku di bawah sentuhan jemari Sehun. Bahkan sekarang aku dapat merasakan rasa bibirku sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi?’

 

Wajah Luhan memanas. Ia merasa melayang pada dua sensasi di antara dirinya dan juga Sehun.  Roh mereka seolah melebur menjadi satu. Perasaan manis, nikmat, dan nafsu ia rasakan secara serentak di dalam pikirannya sendiri, apalagi ketika ia merasakan lidah Sehun menari-nari di dalam mulutnya. Sensasi panasnya semakin membakar ketika sesuatu yang keras menusuk pangkal perutnya. Ia merasakan kausnya tersibak sedikit dan lengan Sehun merayap masuk ke dalamnya, dadanya diraba lembut oleh Sehun dan putingnya dibelai menggunakan ibu jari pada bagian puncaknya. Getaran gairah menguasai seluruh pikirannya dan juga pikiran Sehun, ia mampu merasakan keduanya secara bersamaan. Ketika tangannya dibebaskan oleh pria yang menindihnya, Luhan mengesampingkan perasaan malu dan ia menenggelamkan jari-jemarinya sendiri pada helaian rambut Sehun. Bibirnya mengeluarkan rintihan samar saat ia merasakan gesekan kejantanan Sehun pada miliknya. Ia biarkan hasratnya melebur  menjadi satu dengan milik Sehun, tenggelam dalam rasa panas, nikmat, dan berbahaya.

 

“Sehun…Sehunahhh…” Luhan mengerang serak. Ia menggeliat resah di bawah himpitan tubuh pemuda yang menindihnya. Telinganya memerah, dan otaknya menggelegak.

 

Ah…tubuhnya menginginkan lebih.

 

*****

Jam menunjukkan pukul  9 malam, namun udara dingin nyaris membeku memaksa Chanyeol untuk mengeratkan mantelnya. Lututnya sudah terasa agak kaku akibat dari duduk beberapa jam di dalam perpustakaan kota hanya untuk membaca-baca novel aliran misteri dan juga supernatural, sambil membayangkan jika manusia-manusia seperti Sehun dan Luhan adalah tokoh-tokoh dalam fiksi tersebut. Entah mengapa di dalam kehidupan modern saat ini masih saja ada orang-orang seperti mereka –Sehun dan Luhan. Ingin rasanya ia tidak mempercayai segala hal yang ia dapatkan baru-baru ini dari dua orang tersebut, namun lubuk hatinya yang terdalam menentang. Ia harus mengakui jika ia percaya. Apalagi setelah ia melihat kakak kandungnya sendiri meninggal tanpa sebab di dalam pangkuannya. Kemarin ia sudah menyadari bahwa hal-hal aneh terkadang adalah nyata, namun selalu diabaikan dan dianggap khayalan saja oleh orang-orang.

 

Chanyeol ingin sekali mencari tahu seberapa banyak jenis kekuatan lain seperti yang pernah dikatakan oleh Sehun padanya. Ia benar-benar ingin tahu, namun sendinya yang sudah mati rasa membuat ia mengurungkan niat tersebut. Dengan gontai ia memaksakan tubuhnya bangkit berdiri. Ia mengangkat semua buku yang telah ia bawa ke meja dan dengan hati-hati mengembalikan semua itu ke rak yang seharusnya. Tangannya yang agak melemas membuat ia tidak berhasil meletakkan salah satu buku dengan ketebalan hampir seribu tiga ratus halaman. Buku itu terjatuh, namun suara yang dikeluarkan oleh buku itu terdengar aneh. Bukan suara seperti ‘brukk’ atau semacamnya, ia malah mendengar suara seperti ‘aduh..’  dan juga umpatan di belakangnya. Tanpa dapat dicegah, tatapannya langsung beralih ke arah suara itu berasal. Ia menemukan seorang pemuda mungil sedang mengambil buku yang baru saja ia jatuhkan, dan ia sudah siap oleh makian yang akan dikeluarkan oleh pemuda itu padanya. Namun yang terjadi tidaklah demikian.

 

Dalam moment dimana pemuda mungil itu menatapnya, Chanyeol tersentak sambil membulatkan mata.“Baekhyun? Kau teman Luhan itu kan?” ia berseru dengan suara agak tinggi.

 

Pemuda yang ia panggil Baekhyun itu meringis. “Holyshit!  Kenapa aku harus bertemu denganmu di tempat ini?”  Ia mendengar Baekhyun mengumpat –what? –kemudian meletakkan buku yang ia pegang secara sembarangan dan langsung berbalik untuk meninggalkannya.

 

“Hei!” Chanyeol berlari kecil mengejar pemuda itu dan menangkap salah satu pergelangan tangannya, tapi pemuda yang lebih mungil menepisnya dengan kasar.

 

“Jangan menyentuhku!”

 

Ucapan ketus pemuda pendek itu cukup membuat kepala Chanyeol dipenuhi oleh ribuan pertanyaan pelik. “Kau ini sebenarnya kenapa?”

 

“Pokoknya kau menjauh saja dariku!”

 

“Hah? Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu? Kenapa kau sangat alergi padaku?”

 

“Shut up! Aishh. Menjauh saja dariku, stupid!”

 


To Be Continued –


 

Advertisements