Into A Dangerous Mind Poster


-Chapter 3-


Pagi mengumumkan diri dengan semburat cahaya yang masuk menerobos melalui jendela. Luhan masih sempat menggosok kelopak matanya sebelum ia memutuskan untuk bangkit. Keadaannya kacau. Bibirnya mengeluarkan bunyi decakan ketika ia menyibak selimut, dan ia mengumpat. Apa yang lebih buruk ketimbang terbangun di pagi hari dengan selangkangan yang basah?

 

Tak peduli dengan hawa dingin yang menyengat kulit, Luhan mengguyur tubuh sambil bersenandung, berusaha menepis isi kepalanya yang terasa sakit dan memar akibat mimpi erotis yang ia pikir terjadi. Ia masih sempat menatapi pria kurus –penata taman berpakaian serba hijau di luar jendela kamar saat ia menggosok rambut basahnya dengan handuk, namun langsung menutup gorden dengan gerakan tak sopan ketika penata taman itu melirik padanya.

 

Dengan cacing perut yang berteriak meminta asupan, Luhan melangkah menuju dapur, dan ia terdiam seketika saat matanya menemukan punggung seorang lelaki asing berdiri di tepi meja. Agak takut, namun ia memaksakan diri untuk menyapa.

 

“Kau…”

 

Butuh waktu hingga sekian detik sampai Luhan dapat melihat wajah pria itu. Ketika pemuda berkulit sangat putih itu berbalik kearahnya, dalam sekejap Luhan merasakan bahwa darahnya terjatuh begitu saja ke telapak kaki. ‘What? Ini masih di alam mimpikah?’  –teriaknya di dalam kepala.

 

“Ya, ini aku. Yang kemarin malam bersamamu,” kata pria itu.

 

“Ah, jadi kau…umm…” Luhan merasakan tenggorokannya kering. Sekali lagi, ia teringat akan mimpi erotis yang ia pikir terjadi. Dan sepertinya memang benar terjadi. Wajah sempurna di hadapannya membuat dirinya seakan menyusut menjadi kecil, karena itu ia mencubit dirinya sendiri. Mungkin bagian ini hanyalah mimpi juga, ia berharap. Tapi –“Ouch!” ia mengaduh ketika rasa sakit menjalar di tempat ia mencubit dirinya, lalu ia merasa tubuhnya semakin menyusut lebih kecil lagi. ‘Aku sadar! Aku tidak tidur! Bagaimana ini?’  –ia berteriak panik di dalam kepala.

 

“Jangan khawatir, Luhan.”

 

Pupil Luhan menangkap utuh bayangan wajah pria di hadapannya. Pria itu berdehem, dan ia juga menatap wajah Luhan. “Kau sedang dalam keadaan shock ketika aku menemukanmu, jadi aku dapat memaklumi apapun yang terjadi di antara kita kemarin malam. Lagipula aku tidak akan mengeluh hanya karena ada  seorang pemuda manis yang menyerangku dengan ciuman panas tanpa sadar,” lelaki itu mengatakan semua kalimat panjang yang jujur saja membuat Luhan merasa malu setengah mati, dengan sebuah senyuman.

 

“M –maaf.” Panas merangkak naik ke leher dan pipi Luhan, membuat wajahnya bersemu merah. Ia berusaha memalingkan wajahnya sejauh mungkin agar pria di hadapannya tidak dapat melihat ekpresinya yang pasti sudah sangat konyol sekali, namun ia tak dapat mengalihkan pandangan matanya dari pria itu.

 

Dapur tampak lebih kecil dengan adanya pria pucat itu disana, seolah langit-langit ruangan telah dipendekkan hingga beberapa kaki. Pria itu masih mengenakan celana jins yang ia pakai kemarin malam, dan telah mengenakan kaos abu-abu yang tampak nyaman. Tidak ada yang dipakainya yang mampu menutupi kenyataan bahwa ia adalah pria paling tampan yang pernah Luhan lihat dari jarak dekat.

 

“Namaku Oh Sehun, agen khusus FBI. Tapi tolong panggil aku Sehun.”

 

Luhan menyambut uluran tangan pria itu dengan kikuk. Matanya mengamati bentuk alis tebal dan dagu runcing pria di hadapannya, juga lekukan philtrum di atas lengkungan bibir tipis merah basah yang berkali-kali dijilat oleh pemiliknya. Luhan sungguh masih ingin menikmati pemandangan indah itu sedikit lebih lama, namun deheman pria di depannya memaksa ia untuk tersadar dari pengaruh pesona yang tak wajar.

 

“Maaf,” Luhan meminta maaf untuk kedua kali. Rasa panas di pipinya semakin menjadi-jadi, membuatnya malu bertatapan dengan pria di hadapannya itu. “Aku Xi Luhan. Kau pasti sudah tahu namaku.”

 

Sehun tersenyum sangat manis. “Tentu saja. Kau lapar?”

 

Luhan mengangguk.

 

“Tunggulah sebentar lagi. Aku sudah memesan pizza untuk kita berdua.”

 

Luhan kembali mengangguk. Sambil menggaruk pipi kali ini.

 

“Duduklah…kita akan mulai dari awal,” Sehun menarik pergelangan tangan Luhan dan membawa pemuda manis itu untuk duduk di meja dapur. Luhan mengikutinya. Seluruh situasi tampak sangat nyata, tak ada alasan bagi Luhan untuk menolak.

 

Sehun masih sempat membuatkan mereka berdua kopi hitam sebelum ia ikut bergabung dengan Luhan. Dikeluarkannya lencana dan kartu identitasnya dari saku belakang, menyodorkan itu semua pada Luhan agar pemuda manis itu mengamati. “Aku baru pindah di rumah sebelah kemarin sore,” jelasnya.

 

“A –aku tidak tahu kalau rumah itu sudah dijual,” timpal Luhan grogi, lalu ia mengamati lencana dan kartu identitas milik Sehun.

 

“Teknisnya, tidak ada rumah yang dijual. Tapi kadangkala FBI bisa sangat persuasif,” jelas Sehun. “Lagipula kami tidak membelinya. Rumah itu hanya disewa untuk sementara.”

 

“Oh…” Luhan mengangguk. “Lalu…ada kasus apa sampai-sampai FBI berkeliaran di pinggiran kota begini, Agen Oh? Dan apa hubungannya denganku?”

 

Sehun meletakkan tangannya dengan lembut pada puncak kepala Luhan. “Kita akan membahas operasi FBI sebentar lagi. Tapi sementara ini, aku akan membahas tentang mengapa kau selalu berpikiran bila kau memiliki kanker otak. Aku ingin kau berhenti berpikir seperti itu karena jujur saja aku meragukannya. Dan tolong, panggil aku Sehun.”

 

“Maaf…” ucap Luhan untuk kesekian kalinya. Jantungnya berdebar saat Sehun menyentuh kepalanya, dan butuh beberapa saat hingga sistemnya tersadar. Dia menemukan adanya ekpresi perhatian pada wajah Sehun, cukup terlihat nyata meskipun lelaki di hadapannya itu tidak menyerukan kekhawatirannya dengan suara nyaring. Kemudian entah mengapa tiba-tiba saja Luhan tersentak karena ia lagi-lagi teringat akan insiden tadi malam. Tangannya menyentuh bibir, dan rona merah kembali menjalar cepat pada wajahnya.

 

Sehun menyeringai sambil memutar cangkir kopinya sendiri. Dan entah mengapa Luhan mengerti maksud dari senyuman itu. Ia sudah menyadarinya sejak tadi, bahwa Sehun selalu memberikan respon konsisten pada setiap apapun yang ia pikirkan. Luhan tak dapat menahan diri untuk balas tersenyum juga. Kejadian tadi malam masih saja berputar di otaknya seperti bentrokan antara mimpi buruk dan juga khayalan erotis. Dan Luhan memutuskan untuk mencari tahu.

 

“Agen Oh. Maksudku Sehun,” Luhan mengalah ketika pria di hadapannya mengerutkan alis. “Kenapa kau bisa membaca pikiranku?” tanya Luhan langsung pada intinya. “Bagaimana bisa kau masuk ke dalam pikiranku?”

 

Terdengar agak gila ketika Luhan menanyakannya dengan suara nyaring. Namun sekali lagi, Luhan tahu apa yang terjadi. Dia sangat yakin bila dirinya memang memiliki kemampuan yang cukup baik dalam menilai karakter seseorang, namun kali ini berbeda. Luhan tidak menilai –ia mengetahuinya.

 

Sehun diam namun tersenyum. “Apa kau sudah siap untuk tahu?” tanyanya.

 

Luhan mengangguk. “Aku bertanya padamu, jelas sekali kan kalau aku ingin tahu?” –ia benci nada bicaranya yang keras kepala. “Please. Aku perlu memahami apa yang terjadi. Rasanya tidak nyaman bila aku hanya menebak-nebak sendirian.”

 

Sehun menatap Luhan agak lama, mengangguk, kemudian meminum kopinya dan mengelap tangan dengan serbet. “Baiklah. Aku akan mencoba menjelaskannya dari awal agar kau memiliki kerangka yang jelas atas pemahamanmu.”

 

Luhan kembali mengangguk.

 

“Begini. Ada orang-orang yang memiliki bakat unik dan tak lazim. Kita biasa menyebutnya sebagai bakat paranormal, atau bisa juga indigo, apapun itu.” Sehun melirik Luhan, mencoba menilai pemuda itu tanpa menggunakan kemampuannya, sebelum ia melanjutkan. “Beberapa orang yang memiliki bakat tersebut memanifeskannya sebagai firasat yang kebetulan terbukti benar, atau sebagai perasaan tak enak sebelum sesuatu terjadi padanya atau pada orang-orang di sekitarnya. Ada lagi yang levelnya lebih tinggi, seperti telekinesis, mampu melihat masa depan, telepati.”

 

Luhan tak berkata-kata. Ia menelan ludah agak sulit, terpengaruh atmosfer aneh di sekelilingnya. Ia merasa gugup tiba-tiba. “Lalu…apa hubungan ini semua denganku?” tanyanya takut-takut. “Aku tak memiliki kemampuan seperti itu, Sehun. Dan aku tak paham hubungan antara ini dengan apa yang kualami kemarin malam.”

 

Sehun mengangguk. “Aku paham bila kau masih tidak mengerti,” katanya.  “Begini Lu, sebenarnya ada banyak sekali manusia yang memiliki bakat unik paranormal itu, tapi karena sebuah alasan, pintu menuju potensi itu jadi tertutup. Tapi kadangkala suatu kejadian bisa membuatnya terbuka, misalnya kecelakaan, pengalaman traumatis, atau…dibuka oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan yang sama.”

 

Luhan mengerutkan dahi. “Sepertinya, salah satu temanku pernah mengalami itu semua. Ia mengalami kecelakaan mobil kemudian ketika ia sadar dari koma, tiba-tiba saja ia mampu melihat hantu. Apakah ini sama halnya dengan itu?”

 

Sehun menjentikkan jari tepat di depan wajah Luhan. “Exactly. Itulah yang kumaksud.”

 

“Aku…aku masih tidak mengerti. Aku bingung.” Luhan meringis, berpikir.

 

Sehun meraih jemari pemuda manis itu. “Saat kau terjatuh di halaman kemarin malam, itu karena Kris Wu membuat pintu kelebihanmu menjadi terbuka. Dalam hal ini, apa yang ia lakukan padamu dapat digolongkan sebagai tindak penyerangan. Kau bisa saja mengalami trauma di kepala akibat luka emosi. Tapi dari yang kupahami, kekuatan yang kau miliki jauh lebih besar dari miliknya, karena itu kau masih mampu bertahan.”

 

Bibir Luhan terbuka karena terkejut oleh apapun yang dikatakan oleh Sehun padanya. Intinya, peringatan internalnya kemarin malam tentang apa yang akan dilakukan oleh Kris itu ternyata adalah benar? Dan penyebabnya adalah apa tadi? Ia memiliki kekuatan aneh semacam itu? Paranormal?

 

Serius?

 

“Kemarin, Kris Wu mencoba menyerangmu lebih jauh. Ia tidak melakukan percobaan pembunuhan langsung seperti yang ia lakukan pada korban lainnya. Ia hanya berusaha mengukur kekuatannya sendiri. Sepertinya ia mengetahui jika kau lebih kuat darinya.  Dengan sangat manipulatif, ia menyerangmu secara bertubi-tubi, membiarkan kau tetap pada ketidaktahuan tentang bakat yang kau miliki, menyiksamu secara perlahan-lahan.”

 

“Tapi, kemarin…” Luhan menyahut ragu.

 

“Ya. Aku menyuruhmu membuka pikiran, ingat?” Sehun menjangkau dan menyentuh pipi kemerahan Luhan dengan lembut. “Aku meminta akses masuk ke dalam pikiranmu dengan membuatmu hanya fokus padaku saja. Aku mencoba untuk memblokir kekuatan Kris Wu agar ia tidak dapat menyerangmu lagi sambil menunggu Tylenol PM* bereaksi hingga berhasil membuat kau tertidur.”

 

“Aku…tetap bingung.”

 

“Wajar. Kau akan memahaminya pelan-pelan,” ucap Sehun menenangkan.

 

Luhan mengangguk, memperhatikan tangan Sehun yang menjauh dari kulit pipinya. “Ketika aku berada di dalam taksi, ada seseorang yang menyebut-nyebut nama The Reaper. Aku mendengarnya dalam pikiranku. Apakah ini ada kaitannya dengan operasi FBI?”

 

Sehun tertawa dan ia mengangguk. “Ya. Mungkin kau sedang mendengar isi pikiran Yixing. Dia temanku, pria yang mencarikanmu taksi kemarin malam. Dia adalah agen yang ditugaskan untuk menjagamu, maksudku, Yixing adalah salah satunya. Ada sangat banyak agen yang menyamar disana tanpa bisa kau duga. The Reaper  adalah kode yang diberikan oleh FBI karena pelaku pembunuhan berantai dalam target kasus ini selalu menyebut dirinya sebagai Reaper.”

 

“Oh…” Luhan mengangguk, meskipun ia belum terlalu memahami semuanya. “Lalu, –“ ia masih ingin bertanya, namun urung karena suara bel pada pintu.

 

“Mungkin itu tukang antar pizza. Kita sarapan dulu, setelah itu kita akan lanjutkan lagi obrolan ini.”

 

“Ya. Oke,” jawab Luhan. Ia mengikuti langkah Sehun menuju pintu keluar. Namun belum sampai, hidungnya membentur punggung Sehun secara mendadak.

 

“Luhan…”

 

Luhan menggosok hidung, sambil memiringkan kepala, merespon panggilan Sehun padanya.’Apa?’ –dan terkejut ketika lagi-lagi Sehun mengelus rambut cokelatnya.

 

“Misi pertamaku adalah membuatmu harus tetap aman. Jadi, kemungkinan terbaik yang dapat kulakukan adalah menjagamu selama dua puluh empat jam setiap hari. Harus sedekat itu,” Sehun berbisik di telinga Luhan, memberikan penekanan.

 

Rona merah kembali menjalar dari leher hingga wajah Luhan. Entah apa yang ia pikirkan, namun tiba-tiba saja ia memulai fantasy gilanya akan kegiatan apapun itu yang ia mimpikan tadi pagi, ‘bahkan godaannya membuatku ingin sekali bergumul dengannya saat ini, di lantai dapur, lalu’ –Luhan menatap shock pada wajah sumringah Sehun. Seringai lebar pria pucat itu membuat ia malu hingga ia menutup kedua wajahnya yang panas dengan keduan tangan.

 

“Sialan Sehun, sialan! Tolong keluar dari pikiranku!” Luhan mengerang.

 

“Haha.” Sehun tertawa nyaring tanpa bisa ia cegah. “Apa kau tahu Luhan? Aku baru saja mempertimbangkan untuk memintamu menjadi kekasihku, di luar dari kepentingan operasional kasus. Jadi kau bisa mewujudkan semua fantasy liarmu itu padaku sesuka hati tanpa harus kau cegah.”

 

Luhan terpaku. ‘Huh?’ Dan sistem otaknya terputus sementara.

 

Ketika ingin mengucapkan sesuatu sebagai jawaban atau malah pertanyaan, Luhan sudah melihat Sehun bercakap-cakap dengan pengantar pizza. Pada akhirnya ia hanya membiarkan pikirannya meledak-ledak seorang diri. Ia tak peduli apakah Sehun akan mendengarnya ataukah tidak.

 

*****

Suara bel rumah yang berdentang tanpa henti, menyelamatkan Luhan dari atmosfer aneh di sekeliling rumahnya karena keberadaan Sehun. Untuk beberapa saat ia membiarkannya, namun suara seseorang yang familiar dari pintu depan membuat wajah Luhan menjadi girang bukan main.

 

“Itu Baekhyun!”

 

“Temanmu?” tanya Sehun, dan Luhan mengangguk cepat-cepat. “Biar aku yang membuka pintu,” cegah Sehun sebelum Luhan beranjak dari tempat duduknya, mengantisipasi. Namun Luhan tetap berdiri, mengekor di belakang pria itu.

 

Hal pertama yang dilihat Sehun adalah seorang pemuda pendek berambut pink di depan pintu rumah Luhan. Setelan kasual yang dipakai oleh pemuda pendek itu tidak menutupi kenyataan bahwa barang-barang yang ia pakai pasti berharga mahal, celana pendek hijau lumutnya, apalagi sepatunya.

 

“Wow! Apakah kau adalah hadiah ulang tahun yang akan diberikan Luhan padaku?” pria itu berbicara pada Sehun.

 

Luhan buru-buru menengahi sebelum Sehun menjawab, karena dari ekpresi yang ditunjukkan oleh Baekhyun, ia paham jika sahabatnya itu baru saja berasumsi bila kedatangannya telah menganggu sebuah acara kencan.

 

“Baek!” Luhan buru-buru melewati Sehun untuk memeluk sahabatnya. Ia menarik Baekhyun masuk ke dalam rumah dan membiarkan Sehun menutup pintu kembali. “I miss you so much, baby Byun. Bagaimana Las Vegas?”

 

“Membosankan karena aku sendirian. Aku berjudi sepanjang hari, mencoba makanan-makanan bule, dan tidur. Begitu-begitu saja selama dua minggu.” Baekhyun meletakkan dompet kulitnya yang berukuran besar dan juga paperbag cokelatnya di lantai, kemudian ia mengarahkan matanya yang memakai kontak lens abu-abu itu ke arah Sehun. “So…siapa pria Adonis** ini?” Baekhyun menujuk Sehun, seolah Sehun adalah sebuah patung pahatan mahakarya bernilai tinggi.

 

“Oke. Mari kuperkenalkan. Byun Baekhyun, ini Oh Sehun. Dan Oh Sehun, ini Byun Baekhyun.” Luhan menggaruk kepalanya sekilas,”Sehun adalah seorang agen khusus FBI, dan juga tetangga baruku,” jelasnya pada Baekhyun.

 

Baekhyun menjabat tangan Sehun dan menggenggamnya. “Terus terang Sehun, kau tampan sekali,” Baekhyun mulai merayu. “Jadi pertanyaanku adalah, apa kau punya seorang saudara kembar? Atau sepupu yang kualitas wajahnya hampir sama denganmu, apapun itu asal bukan babi?”

 

Sehun tertawa. “Aku mungkin memiliki beberapa teman seperti yang kau inginkan. Tapi itupun tergantung pada apa definisimu tentang babi.”

 

Tawa renyah Baekhyun memenuhi ruangan seperti gemericik air yang mengalir. “Aku menyukaimu, Sehun.” Baekhyun menepuk bahu Sehun, “jangan kecewakan sahabatku.”

 

“Hubungan kami tidak seperti itu, Baek.” Luhan menggaruk tengkuknya sembari tersipu.

 

“Tak perlu malu begitu,” goda Baekhyun.

 

Luhan membuang arah pandangannya ke segala penjuru, salah tingkah. Dan Sehun hanya tertawa geli melihatnya.

 

“Baiklah, sebaiknya aku mengerjakan sesuatu yang berguna di rumahku. Aku akan membiarkan kalian berdua mengobrol,” kata Sehun. Baekhyun mengangguk dan mempersilahkan pria itu pergi. “Sampai bertemu lagi, Baek…” ucap Sehun, ia membungkuk sekilas pada Baekhyun sebelum ia melangkah pergi melalui pintu utama.

 

*****

Luhan menghabiskan seluruh pint es krim sambil mendengarkan cerita Baekhyun tentang liburannya di Las Vegas. Ia bahkan melupakan tentang operasi FBI, dan juga fakta baru yang ia temukan, bahwa ternyata dirinya adalah seseorang yang memiliki kemampuan paranormal. Ia hanya membicarakan tentang Sehun saja pada sahabatnya itu.

 

“Aku hanya meninggalkanmu selama dua minggu, dan lihatlah. Kau sudah mampu menjerat seorang lelaki tampan seperti Sehun,” ucap Baekhyun tiba-tiba.

 

“Hubungan kami belum sejauh itu, Baek.” Luhan kembali menjelaskan pada sahabatnya.

 

“Belum bukan berarti tidak kan?”

 

Luhan tertawa kecil mendengarnya.

 

“Tuan Lu, aku sudah tahu kalau Kris Wu itu adalah seorang bajingan sejak pertama kali aku melihatnya, namun aku tak menyangka jika ia akan nekat menyerangmu. Apakah polisi sudah menemukan petunjuk tentang kasus ini?”

 

“Baek, aku benar-benar belum mendengar apapun tentang kasus ini.” Luhan merasakan kalau nuraninya agak tertusuk ketika ia berbohong pada sahabatnya sendiri. “Tapi sejak Sehun menggendongku ke dalam rumah kemarin malam, aku sudah bertekad akan melupakan Kris selamanya dari pikiranku.”

 

Baekyun tertawa. “Aku mendoakan apapun yang baik untukmu. Sehun memang seksi.”

 

“Umm…ya, aku juga sependapat sih,” ucap Luhan tersipu.

 

“Jadi kapan kalian akan meresmikan hubungan?” goda Baekhyun.

 

“Stop it, Byun! Kau membuatku stress.”

 

“Haha.” Baekhyun tertawa renyah. “Serius Luhan, aku merasakan adanya getaran-getaran aneh di antara kalian berdua bahkan semenjak aku baru saja melangkah masuk ke dalam rumah ini tadi. Atau aku salah?”

 

Luhan menyeka lelehan es krim di sudut bibirnya. “Entahlah Baek. Tapi jujur, aku memang merasakannya,” kata Luhan jujur kali ini.

 

“Untung saja kau jujur. Karena kalau tidak…” Baekhyun sengaja menggantung kalimatnya untuk mengganggu Luhan.

 

“Eishh, jangan coba-coba Byun, ck!”

 

Baekyun menggosok lengannya yang ditonjok oleh Luhan sambil berdecak. “Aku hanya bercanda eighh…tenang saja, aku masih menyukai boobs.

 

“Kau hanya belum menemukan pria seksi saja. Kalau sudah, kau pasti akan mempertimbangkan pendirianmu itu lagi sampai seribu kali.”

 

“Ah tidak.” Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya. “Aku tidak berbohong tentang keseksian Sehun, tapi tetap saja, aku tidak tertarik padanya. Aku benar-benar lurus Luhan sayang,” ucap Baekhyun penuh penekanan. “Tubuh wanita lebih menarik dilihat dari sisi manapun.”

 

“Ya, ya. Baiklah, terserah kau saja.”

 

Luhan mengalah. Ia membiarkan Baekhyun sibuk dengan ponselnya. Bibir tipis pemuda pendek itu mengerucut lucu. Baekhyun selalu terlihat seperti supermodel California yang baru keluar dari majalah mode, atau aktor remaja yang baru saja selesai syuting film, bahkan mereka seumuran. Meskipun wajahnya imut dan manis selayaknya bocah perempuan berusia tiga belas tahun, Baekhyun sebenarnya adalah seseorang yang sangat pria. Luhan sudah lama merasa cemburu pada temannya itu. Selain kaya, Baekhyun juga memiliki otak dan ramah. Satu-satunya kekurangan pada diri sahabatnya itu hanyalah, ia sangat rumit, dan bersih, dan entahlah. Luhan kadang-kadang tak mengerti mengapa Baekhyun bisa hidup se-teratur itu.

 

“Baek…”

 

“Hmm?”

 

Luhan mengabaikan fakta jika Baekhyun tak melirik padanya sama sekali. “Sehun tadi sempat berkomentar tentang bumbu dapurku.”

 

“Oh ya? Dan apa isi komentar itu?” Baekyun bertanya, meski tetap fokus pada ponselnya sendiri.

 

“Dia mengatakan kalau seseorang yang menyusun bumbu dapur sesuai dengan abjadnya kemungkinan besar memiliki masalah kepribadian yang serius.”

 

Baekhyun berdecak. Lelaki itu meletakkan ponselnya di atas meja dan melirik sebal pada Luhan. “Aku meletakkan bumbu itu di dapurmu dengan harapan bahwa kau suatu saat akan mulai belajar memasak makananmu sendiri. Meskipun kita adalah laki-laki, kita tetap saja menjalani hidup secara independen, okay? Kau harus membiasakan dirimu hidup secara teratur di masa depan. Aku tak peduli. Aku akan menjadi ibumu sampai aku memiliki anak-anak sendiri.”

 

“Aku tidak sedang membicarakan tentang itu,” sanggah Luhan.

 

“Ya, aku mengerti. Katakan saja pada Sehun bahwa aku adalah orang yang sangat-sangat-sangat mementingkan kerapian,” Baekhyun memberikan penekanan pada suaranya, “dan aku sama sekali tidak kerepotan pada hal itu,” lanjutnya.

 

“Sebenarnya Sehun berpikir kalau aku yang melakukannya,” Luhan bersungut. “Dan kau benar, kau memang sudah mirip dengan ibu-ibu.”

 

Baekhyun tersenyum lebar sampai matanya menghilang. Ia mengacak rambut Luhan hingga pemuda manis yang duduk di lantai itu memakinya. Keduanya saling menyerang sambil tertawa-tawa, dan segala beban seolah lepas dari tubuh keduanya. Bertemu kembali setelah dua minggu berpisah membuat keduanya merasakan rindu. Ya, hubungan persahabatan mereka memang sudah sedalam itu.

 

*****

“Kau punya soda Diet?” Yixing mencari-cari di dalam kulkas Sehun.

 

Pepsi Diet membuat Sehun jadi teringat akan kulkas milik Luhan. Lemari dapurnya yang rapi, sebaliknya berbeda sekali dengan isi kulkasnya yang berantakan. Tetangganya itu memang penuh misteri. Dan hal itu membuat Sehun tak sabar ingin segera kembali bertemu dengannya.

 

“Hei, Sehuna!”

 

Sehun menggerutu ketika Yixing memanggilnya dengan suara ketus, memperlakukannya seperti seseorang yang tuli. “Kita berada disini untuk membahas kasus, atau mementingkan isi perutmu? Kalau kau tidak menemukan soda di kulkasku berarti aku memang tidak mempunyainya.”

 

“Tenanglah Sehun.” Chanyeol menengahi sebelum ia mengalihkan arah pandangnya pada Yixing. “Kalau kau ingin mengambil sesuatu cepatlah ambil lalu kesini,” perintahnya.

 

Chanyeol memindahkan sebuah kardus berukuran sedang berlabel Tools ke atas meja, kemudian ia duduk. Ia memberikan isyarat pada Sehun untuk memulai brifing.

 

Sehun berdehem dan menjauhkan pikiran tentang Luhan keluar dari kepalanya. Ia baru saja membuka mulut, tapi ketukan di pintu depan membuatnya urung bicara. “Oh, itu Luhan dan Baekhyun,” kata Sehun, lalu ia beranjak menuju pintu. Chanyeol hanya diam memperhatikan.

 

Luhan dan Baekhyun tersenyum saat melihat Sehun muncul di pintu rumah, tapi mereka menolak saat pria pucat itu mengajak mereka masuk ke dalam.

 

“Baekhyun sudah akan pulang ke rumahnya, dan ia hanya ingin melihatmu dengan jelas sekali lagi sebelum ia pergi,” kata Luhan.

 

“Oh…” Sehun mengangguk. “Setidaknya ayo kukenalkan dulu pada teman-temanku, siapa tahu salah satunya adalah tipemu,” kata Sehun sambil mengerling pada Baekhyun, membuat pemuda pendek itu tertawa geli. “Chanyeol, Yixing, kemarilah.”

 

Luhan menjulurkan lehernya penuh minat saat Sehun menyebut nama Yixing, dan menatap pria cina itu dari atas sampai bawah saat Yixing muncul di samping Sehun.

 

“Halo. Aku Zhang Yixing.”

 

“Aku mengingatmu. Kau pria berseragam khaki yang membantuku mencari taksi,” ucap Luhan. Yixing mengangguk. “Dan kau menerima uangku sebagai imbalan,” ungkit Luhan.

 

Yixing tertawa. “Kadang-kadang aku harus bersikap profesional agar orang lain tidak curiga,” sahutnya membela diri.

 

“Dimaklumi,” kata Luhan dengan tawa kecil. Luhan dan Baekhyun menjabat tangan pria cina itu, ketiganya tersenyum.

 

“Dan ini Chanyeol…” Sehun membiarkan Chanyeol melewati dirinya.

 

“Hai, aku Park Chanyeol.”

 

Luhan dan Baekhyun tersenyum manis pada pria raksasa berambut ikal yang berdiri di depan mereka itu. Luhan menyambut uluran tangan Chanyeol pertama kali, “kau orang FBI juga?” tanyanya.

 

“Ya begitulah,” jawab Chanyeol.

 

Dan Baekhyun menyambut uluran tangan Chanyeol kemudian. Tapi baru saja bersentuhan, Baekhyun tersentak ke belakang. Wajahnya pucat pias, membuat Chanyeol bertanya-tanya apa yang terjadi pada pemuda pendek teman Luhan itu. Terlebih lagi saat Baekhyun mundur perlahan ke belakang, kemudian berbalik dan pergi begitu saja dari mereka semua.

 

“Apa yang salah denganku?” tanya Chanyeol kebingungan. Ekspresi yang sama juga ditunjukkan oleh Luhan dan Yixing, bahkan Sehun.

 

“Aku akan menyusulnya. Jangan khawatir. Kalian lanjutkan saja kegiatan kalian,” ucap Luhan, sebelum ia berbalik dan berlari untuk mengejar sahabatnya.

 

.

 

.

 

.

 

“Baek! Hei Baek!”

 

Baekhyun berbalik saat namanya dipanggil oleh Luhan. Ia menunjukkan senyumnya, meskipun terlihat terpaksa.

 

“Ada apa?” tanya Luhan saat ia berhasil berhadapan dengan temannya.

 

“Aku tak apa-apa.” Baekhyun menjawab tanpa memandang Luhan. Ia menggaruk lehernya sendiri. Sikapnya jelas-jelas menunjukkan kalau ia tidak sedang baik-baik saja.

 

“Jujurlah padaku. Kenapa kau bertingkah seperti itu saat berkenalan dengan Chanyeol? Apa yang salah?” tanya Luhan bertubi-tubi.

 

“Ti –tidak. Aku tidak apa-apa, sungguh. Hanya saja…”

 

“Hanya saja?” Luhan menaikkan alis.

 

Baekhyun menjilat bibir, kemudian ia  meringis. “Hanya saja, aku tak menyukai teman Sehun itu. Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Tapi aku benar-benar tak menyukainya. Keberadaannya menggangguku.”


To Be Continued-


Note :

*Tylenol PM : merk obat pereda demam dan flu, yang mampu menghilangkan rasa sakit dan juga menyebabkan kantuk.

**Adonis : adalah nama seorang pemuda dalam cerita mitologi Yunani, yang digambarkan sebagai pemuda sempurna dan sangat tampan, hingga mampu menarik perhatian Dewi Aphrodite.

 

.

 

Terima kasih sudah membaca^^

 

Advertisements