Into A Dangerous Mind Poster


Chapter 2


Sebenarnya masih terlalu pagi untuk kunjungan tamu, namun bel yang terus-menerus berbunyi membuat fokus Sehun terpecah dari koran harian yang ia baca. Dengan membawa Glock 9mm dari meja di sebelahnya, ia melangkah menuju pintu dan mengintip melalui lubang kecil yang terdapat pada pintu tersebut. Bibirnya mengulas senyuman geli ketika matanya melihat sosok pria tinggi yang mengenakan celana pendek bermotif army, dalaman hitam serta kemeja oranye berlogo perusahaan TV kabel, berdiri di depan pintu rumahnya. Rambut cokelat ikal pria itu tertutup oleh topi dengan logo yang sama pula.

“Sebentar,” Sehun berkata melalui pintu. Ia menyimpan Glock pada ikat pinggang bagian samping belakang celana jinsnya, kemudian ia membukakan pintu.

“Park Chanyeol, dari Cox Cable. Aku datang kesini untuk melakukan instalasi,” kata pria tinggi itu.

Sehun melangkah mundur dan mempersilahkan pria itu masuk, kemudian ia menutup pintu. Sehun menatap pria tinggi itu dari atas ke bawah, dengan ekspresi yang begitu serius. “Apa aku dapat memasang HBO dan internet berkecepatan tinggi?” tanyanya.

“Jangan muluk-muluk kau bocah!” jawab Chanyeol sambil tertawa, memukul lengan Sehun dengan kepalan tangannya.

Sehun juga ikut tertawa. “By the way, Chanyeol –kau terlihat sangat manis dengan pakaian petugas TV kabel,” katanya.

“Sialan kau Oh Sehun.” Kening Chanyeol mengkerut ketika ia mengumpat. “Setidaknya tawari aku kopi atau beer. Dan jangan lupa untuk memberikan laporanmu.”

“Tentu saja aku akan memberikanmu kopi dan juga laporanku,” katanya sambil tersenyum. Ia melangkah ke arah dapur dan meminta teman sekaligus atasannya itu untuk mengikuti. Ia raih dua buah cangkir dan menuangkan kopi hitam ke dalamnya, menyerahkan salah satunya pada Chanyeol. “Aku tidak tahu bagaimana bisa kalian membawa van dan memindahkan barang secepat ini, tapi maaf saja, rumah ini masih penuh oleh kardus seperti pertama kali aku pindah kesini. Aku belum sempat menatanya,” kata Sehun.

“Tak apa. Santai saja.” Chanyeol duduk di salah satu meja dapur dan mengisyaratkan pada Sehun agar bergabung dengannya. “Bagaimana penyamaranku?”

“Tidak buruk,” jawab Sehun, “penyamaranku juga sepertinya sempurna.”

“Itu bagus,” kata Chanyeol. “Jadi apa yang kau dapatkan?” Chanyeol menyeruput kopinya, dan sebuah helaan napas berat, keluar dari bibirnya. “Aku belum dapat melakukan lebih dari hanya membaca laporanmu dan juga menandatangani persetujuan operasimu sejak kau masih pemula. Kuharap kau akan dapat memecahkan teka teki pembunuhan ini, dengan begitu kita berdua akan sangat diuntungkan. ”

Sehun mengangkat bahu. “Xi Luhan berada dalam pengawasan –aku menugaskan satu tim di rumahnya, menyamar sebagai penata taman. Dia masih tidur. Aku akan menginterogasinya ketika ia terbangun nanti,” jawab Sehun. ‘Lagipula aku sudah berjanji akan berada di sana ketika ia bangun,’ lanjutnya dalam hati. Sehun tersenyum ketika ia mengingat apa yang dirasakannya di kepala saat insiden ciuman spontan itu terjadi, dan bagaimana sulit dirinya berusaha untuk melepaskan ciuman itu.

Chanyeol mengangguk satu kali. “Oke. Sekarang aku tahu bahwa saksimu aman. Bagus sekali.” Ia menyandar , dan merenggangkan kakinya ke depan. “Seperti biasa, aku tidak perlu mengetahui detail dari kasusmu, benar kan?”

Sehun mengangguk. “Coba kau cek ini,” katanya sambil menyodorkan sebuah map berwarna biru bertuliskan ‘The Reaper’ pada Chanyeol. “Jumlah korban mulai bertambah. Empat orang korban ditemukan tewas di rumah mereka –termasuk seorang selebriti populer asal Cina bernama Huang Zi Tao, satu-satunya korban pria dalam kasus ini.

Chanyeol tersentak. “Serius?” tanyanya, dan Sehun mengangguk. “Ahli koroner tidak menemukan penyebab kematian, tidak ada goresan sedikitpun pada tubuh mereka. Para petugas forensik hanya mengatakan bahwa sistem tubuh mereka berhenti berfungsi begitu saja, tanpa sebab yang jelas. Hasil uji toksin juga negatif, tidak ada pendarahan di dalam, tidak ada yang aneh, kecuali pada tubuh Huang Zi Tao. Selebriti itu teridentifikasi telah melakukan kegiatan seksual sebelum nyawanya dicabut oleh The Reaper. Tapi tetap saja, tidak ada penyebab yang jelas atas kematiannya. Ia hanya sedang tertidur di atas ranjangnya ketika ia meninggal. Cina sedang berkabung besar-besaran atas meninggalnya selebriti ini.” Sehun menjeda dan mengambil kesempatan untuk menyeruput kopinya. “Kesimpulannya, semua korban adalah orang-orang yang sehat sebelum mereka meninggal. Tidak ada saksi yang benar-benar mengetahui kejadian sebenarnya dalam kasus ini –kecuali kau yang pernah melihat langsung proses kematian salah satu korban. Tapi sesuai prosedur, kita akan menginterogasi setiap orang, tidak peduli seberapa jauh kaitannya dengan para korban-korban itu. Benar-benar buntu.”

Chanyeol melepaskan topinya dan meremasnya dengan kedua tangan. “Kau benar. Aku masih tidak mengerti bagaimana bisa Yura meninggal begitu saja. Aku sedang mengawalnya ketika ia selesai dari jadwal membacakan acara berita petang itu. Aku melangkah tepat di sampingnya begitu ia keluar dari gedung MBC News. Semuanya baik-baik saja sebelum ia mulai berteriak kesakitan sambil mencengkram kepalanya sendiri, dan terus menerus mengatakan bahwa seseorang sedang menyerangnya. Aku memeluknya dalam pangkuanku dan menyaksikan ia tewas begitu saja. Aku tak menyangka bisa merasa sangat tidak berguna. Park Yura adalah kakak perempuanku satu-satunya. Aku pernah berjanji padanya bahwa aku akan melindunginya sekuat tenagaku tapi nyatanya aku gagal.” Chanyeol menjambaki rambutnya sendiri, kemudian ia hanya diam sambil menatap cangkir kopinya.

Sehun membiarkan keheningan memenuhi ruangan itu hingga beberapa detik. Tapi kemudian ia menepuk bahu Chanyeol untuk menenangkan. “Jangan dipikirkan lagi, Yeol. Lagipula tidak ada yang dapat kau lakukan. Semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu. Tenang saja, kita akan segera menangkap pembunuh ini.”

Damn it, Sehun! Kau hanya tidak tahu bagaimana rasanya,” –Chanyeol memukul meja dengan kepalan tangan. Marah, frustasi, dan kebencian mengalir di wajahnya hingga beberapa lama sebelum akhirnya ia dapat mengontrol emosi. Dia menegakkan posisi duduknya sendiri, dan menatap Sehun serius. “Apa yang terjadi kemarin malam? Bagaimana kau bisa mengetahui siapa yang menjadi target operasi kita?”

“Jawabannya simpel saja. Karena aku adalah profiler* terbaik yang kau miliki, jadi mudah saja bagiku untuk menentukan siapa orang itu.”

Chanyeol mendecih. “Dengan segala kerendahan hatimu Oh Sehun,” –Chanyeol menarik topi ke rambut ikalnya, “tidak ada satu buktipun yang dapat kau berikan padaku untuk menjelaskan mengapa kau mencurigai pria yang bersama Xi Luhan kemarin malam sebagai Reaper. Ketika kau memintaku untuk mulai melakukan operasi, aku sangat mengerti jika kau memang memiliki kemampun unik untuk menangkap seseorang, dan setiap kali kecurigaanmu memang selalu benar. Tapi seperti biasanya pula, kau tidak dapat memberikan bukti apapun padaku! Kita bekerja pada sebuah lembaga resmi pemerintahan tuan Oh, pekerjaan kita bukanlah seperti pekerjaan tim Scooby Doo di Misteri Inc. Kita harus memberikan bukti yang rasional kepada negara!”

Tidak yakin oleh seberapa banyak hal yang harus ia katakan pada bosnya itu, Sehun kembali bersandar di kursinya. Ia menatap langsung pada mata Chanyeol, bersikap formal sebagaimana umumnya bawahan sedang memberikan laporan kepada atasannya. “Aku mengumpulkan setiap profil orang-orang yang ada, memeriksa setiap rekaman interogasi, kemudian aku mempersempit kemungkinan tersangka hanya menjadi satu orang, –Kris Wu.”

“Alasannya?” tanya Chanyeol.

“Aku menemukan banyak ketidaksesuaian dalam semua kesaksiannya tentang keempat korban tersebut. Kemudian aku mengetahui bahwa Kris Wu ternyata memiliki banyak nama alias. Herannya, ia tidak memiliki catatan kriminal satupun, –belum ada,” jelas Sehun.

Ketegangan begitu terasa dalam ruangan itu, sampai akhirnya Chanyeol mendesah lelah. “Sehunnie, kita sudah bekerja sama cukup lama, dan kau benar –kau adalah Profiler terbaik yang pernah kutemui. Tetapi,” –Chanyeol mengacungkan telunjuknya untuk memberikan penekanan, “aku ingin kau berhenti berputar-putar dan katakan bukti apa yang membuatmu memilih Kris Wu dari sekian banyak orang yang kau interogasi? Aku mungkin bukan seorang Profiler seperti kau, tapi aku sangat yakin bila kau tidak memiliki cukup bukti untuk mengurai profil hitam dari si Kris Wu ini secara lengkap.”

Kening Sehun mulai berkerut-kerut, agak emosi. ‘Harus tetap pada fakta dan harus rasional, damn it!’ ia mengumpat di dalam hati. “Begini Yeol. Selama interogasi, ketika aku menanyakan apakah ia mengenal para korban, Kris Wu selalu melirik ke kiri. Dalam ilmu yang kupelajari, hal itu menandakan bahwa ia sedang berbohong. Ia akan melirik ke arah kanan untuk mengingat-ingat jika ia berkata jujur. Dan ketika aku mulai menyelidiki ceritanya…”

“Berhenti.” Chanyeol mengangkat tangannya, menginterupsi. “Aku tidak sedang bertanya tentang ilmu Profiler padamu. Kesimpulannya, kau bekerja hanya dengan menggunakan instingmu saja?” nada suara Chanyeol mulai meninggi.

“Insting adalah bagian dari setiap Profiler,” jawab Sehun.

“Omong kosong. Jangan mengada-ada, Sehun!” Chanyeol berdiri dan mulai mondar-mandir gusar di dapur Sehun. “Aku menjalankan operasi ini dengan harapan kita akan menjaring seorang pembunuh berantai. Aku tahu kau selalu memainkan firasat di operasi-operasi kita yang sebelumnya, namun selalu didukung dengan fakta-fakta,” –Chanyeol berbalik dan menatap Sehun, “aku ingin kau jujur padaku Sehuna…aku akan berada dalam masalah karena telah menyetujui operasi yang akan berakhir buruk tanpa adanya bukti-bukti yang cukup.”

Sehun membuang nafas kesalnya. “Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kejujuran, atau kau hanya ingin aku memberikan bukti yang cukup agar kau merasa nyaman?” nada suara Sehun mulai meninggi.

Chanyeol melepaskan topi dan menyisir rambut ikalnya dengan jari. “Ya, jujurlah padaku.” Dia melipat tangannya di dada dan menunggu Sehun bicara.

Sehun menarik napas sebelum ia mulai berbicara. “Oke. Kami memang sama sekali belum mempunyai petunjuk. Kami hanya memiliki beberapa rekaman telepon dari kepolisian, dimana ada seorang pria yang mengaku-ngaku sebagai Reaper, dan dia mengaku telah membunuh para korban itu, tetapi analisis menunjukkan bahwa suara si penelepon itu berbeda-beda. Mungkin Reaper yang asli membayar orang-orang untuk menelepon polisi. Dan yang paling menyebalkan, semuanya tidak terlacak sama sekali. Karena petugas forensik tidak menemukan penyebab kematian para korban, maka kematian mereka diputuskan sebagai kematian yang wajar. Pembunuhan ini sulit dipecahkan. Buntu.”

“Jadi?” Chanyeol menaikkan alisnya, penasaran atas kelanjutan cerita Sehun.

“Oleh karena setiap saksi memberikan kesaksian yang berbeda-beda, maka aku memutuskan untuk menemui ahli koroner seorang diri. Kebetulan sekali ketika aku menemuinya, ia sedang memeriksa jasad salah satu korban, jasad Huang Zi Tao. Di saat itulah, aku merasakan adanya restan** gelombang supernatural negatif, yang konsisten sekali dengan yang biasanya ditinggalkan oleh orang-orang yang menyerang orang lain secara mistis. Hal itu cukup menjelaskan padaku, mengapa petugas forensik tidak dapat menemukan bukti kematian fisik dari setiap tubuh para korban,” –Sehun mengangkat tangannya, mencegah Chanyeol menginterupsi, “kau menginginkan penjelasan, jadi tolong dengarkan aku. Aku menonton ulang rekaman interogasi, dan melalui setiap jawaban dari Kris Wu, aku dapat menganalisis bahwa ia memiliki kemampuan supernatural tersebut. Ia mampu mengkamuflase pikiran penyidik agar ia terelakkan dari jebakan pertanyaan para peyidik itu. Hanya Kris Wu yang memiliki kemampuan tersebut dari sekian banyak orang yang diinterogasi, karena itu aku memeriksa latar belakangnya.”

“Dan?” tanya Chanyeol.

Mengabaikan Chanyeol yang mengangkat alisnya, Sehun mengambil arsip yang terletak di antara mereka dan membuka halaman ketiga. “Kris Wu memiliki beberapa alias dan sering berpindah-pindah. Dua puluh enam kasus tidak terpecahkan selalu terjadi di negara-negara bagian tempat ia pernah tinggal. Kedua orangtuanya, Richard Wu dan Vanessa Wu, sudah meninggal dunia –pembunuhan yang belum terpecahkan hingga kini. Cukup menarik karena pasangan itu diketahui berprofesi sebagai paranormal yang bekerja untuk kepolisian Kanada, spesifik pada kasus-kasus pencarian orang hilang.”

Sehun membuka beberapa halaman lagi dan menemukan foto Kris Wu. Ia lalu menyodorkan foto itu pada Chanyeol. “Aku menugaskan tim untuk membuntuti dan menyelidiki aktivitasnya akhir-akhir ini. Beberapa hari yang lalu polisi lokal menerima surat dari pengirim bernama Reaper yang memberi peringatan arogan bahwa ia akan mengencani calon korbannya. Kami pun menyelidiki Kris Wu secara seksama. Tapi ia membuat janji dengan empat orang berbeda-beda di empat tempat yang berbeda pula. Karena itu aku menugaskan beberapa tim untuk meninjau setiap lokasi itu. Anehnya semua calon korbannya tinggal di daerah ini, itulah mengapa aku meminta Suho Hyung menyewakan aku rumah di lingkungan ini agar aku mudah mengawasi calon-calon korban. Tak disangka salah satu rumah calon korbannya berada tepat di samping rumahku.”

“Apa yang terjadi pada tetanggamu itu kemarin malam?” tanya Chanyeol.

“Xi Luhan? Begini, awalnya aku berpikir jika ini mungkin saja pengalihan. Karena itu aku menyuruh tim lain mengawasi tiga tempat lainnya secara ketat, tapi tak terjadi apapun di tempat lain. Agen Yixing meneleponku, tepat ketika Kris Wu datang ke Top Of The Rock bersama Xi Luhan kemarin malam. Aku menunggu, lalu tiba-tiba saja Yixing mengatakan bahwa Luhan berlari ketakutan dan meminta tolong untuk dicarikan taksi. Karena itu Yixing mengantarkan Xi Luhan mencari taksi tersebut. Ia melihat Kris Wu terluka sambil mengejar Luhan, tapi kemudian Kris Wu ambruk.” Sehun membungkuk untuk meyakinkan Chanyeol, “Yeol, kemarin malam ketika Luhan pingsan di halaman rumahnya, ia terluka. Restan dari kekuatan supernatural meliputi tubuhnya, sama dengan restan yang berada pada tubuh korban-korban lain yang sudah meninggal. Aku bersumpah,” katanya sambil mengetuk foto Kris. “Xi Luhan berhasil melukainya, kemungkinan besar Kris Wu akan sangat marah dan mulai akan bertindak ceroboh. Kita akan menggunakan itu untuk menangkapnya, kemudian tak akan ada lagi kasus kematian misterius, aku yakin.”

Chanyeol tak menjawab. Sangat jelas terlihat bahwa mood pria itu memburuk. Sehun sempat memutuskan untuk membuka pikirannya dan menggunakan kekuatan yang ia punya untuk mengintip ke dalam pikiran bosnya tersebut, namun ia urungkan. “Yeol, kau tahu aku tidak akan membahayakan kasus. Sebagai teman dan juga Profiler mu, kukatakan dengan yakin bahwa Kris Wu adalah The Reaper. Kupertaruhkan reputasiku.”

“Aku benci mengambil resiko –tapi baiklah. Kuserahkan semuanya padamu Sehun. Dan tolong jangan kecewakan aku, please.”

Sehun membuang napas lega. “Tenang Yeol. Memiliki kelebihan unik ini adalah bagian dari diriku yang pasti tidak akan mengecewakanmu. Kau menggunakan refleks dan logikamu, aku menggunakan firasat dan kekuatan ini. Seperti yang kau katakan, aku belum pernah salah. Jika kau jujur pada dirimu sendiri, kau akan mengakui objektivitas pada kasus ini akan mempengaruhi penilaianmu.”

Chanyeol memperhatikan Sehun dalam momen yang lumayan lama. “Aku mengerti. Untuk kepentingan kita berdua, kuharap kau tahu apa yang sedang kau lakukan.”

Sehun mengangguk.

Chanyeol melangkah menuju kulkas Sehun, dan menarik sebotol Bud Lights dari sana. “Ini untuk hak istimewa supervisor,” katanya sambil membuka penutup botol minuman tersebut. “Apa rencanamu selanjutnya?”

“Pertama-tama aku akan menanyai Xi Luhan,” jawab Sehun. “Dikarenakan Luhan adalah satu-satunya korban yang dapat melarikan diri bahkan melukai Reaper, mungkin saja ia lebih diinginkan daripada korban yang lain. Beberapa tetangga melihat aku menggendongnya masuk ke dalam rumah kemarin malam, jadi aku akan berpura-pura menjadi tetangga yang sok peduli atau bahkan –ehm pacar barunya jika itu cukup dapat membuatku berada sedekat mungkin untuk menjaganya.”

“Kau mau berpura-pura menjadi gay demi kasus ini?” Chanyeol tertawa geli.

“Kau mau aku berhenti?” Sehun malah melemparkan pertanyaan kembali.

Chanyeol menggeleng masih dengan tawa, dan mempersilahkan Sehun untuk melanjutkan ucapannya.

“Sementara itu kita memburu Kris Wu. Agen Yixing kehilangan jejaknya tadi malam, padahal ia yakin bahwa Kris Wu sedang berada di dalam UGD. Klinik Mayo melaporkan kalau Kris Wu mengalami patah tulang hidung dan juga memar di bagian rusuk. Tapi perawat tak menemukan Kris Wu di dalam kamarnya setelah perawat itu kembali dengan membawa surat keterangan pulang untuknya. Ia menghilang. Dia pasti sudah tahu kalau ia dibuntuti. Meskipun kekuatan supernatural yang ia miliki tak sekuat milik Xi Luhan, ia –”

“Tunggu! Maksudmu, Luhan memiliki kekuatan supernatural juga?”

Sehun mengangguk. “Itu sebabnya Luhan dapat melukai Kris Wu. Kekuatan Luhan jauh lebih besar darinya. Aku curiga ia membunuh hanyalah untuk menyerap energi supernatural pada diri setiap korbannya, yang memilki potensi supernatural juga, tetapi belum menyadarinya. Mungkin untuk suatu tujuan tertentu.”

Hell. Di dunia mana aku hidup?” erang Chanyeol, membuat Sehun tertawa.

“Istirahatlah Yeol. Serahkan kasus ini padaku. Kau tak akan menyesal telah menyetujui aku menangani kasus ini.”

“Kuharap kau benar.” Chanyeol menunjuk dada Sehun, “tapi pada saat kasus ini selesai, aku mengharapkan arsip penuh bukti nyata sebagai laporan.”

“Dimengerti.” Sehun mengangguk.

 

 

*****

Sehun terkagum ketika ia membuka pintu lemari kaca dapur milik Luhan. ‘Aneh sekali. Dia menyusun bumbu-bumbu dapur berdasarkan hurufnya,’–pikir Sehun. Benar-benar rapi dan tak biasa.

Sehun memutuskan membuat sarapan untuk Luhan, karena sesuai pengalamannya, orang-orang yang memiliki bakat unik biasanya akan lebih mudah lapar karena energi mereka mudah terkuras oleh kekuatan yang mereka miliki. Apalagi Luhan yang baru pertama kali menggunakan kekuatan tersebut pada tubuhnya. Sehun berpikir untuk membuatkan sarapan sederhana saja untuk Luhan, dengan apapun yang ada di dalam kulkas pemuda manis itu. Namun yang ia temukan hanyalah wadah botol air, enam kaleng Pepsi Diet, beberapa botol Bud Lights, dan beberapa kotak berjamur dari sisa masakan cina. Sehun membuang napasnya lalu ia memutuskan untuk menelepon Pizza saja daripada tidak ada makanan yang dapat dimakan ketika Luhan bangun nanti.

“Bagaimana bisa pria ini hidup seperti ini. Kacau sekali. Benar-benar pria yang penuh teka-teki,” ucap Sehun bermonolog.

Sehun melangkah menuju meja makan milik Luhan sambil membawa arsip FBI tentang pria manis itu. Arsip menjelaskan bahwa Luhan adalah seorang vokalis band berumur 28 tahun. Dia tercatat sebagai warga negara Korea keturunan cina, mahasiswa Kirin University jurusan vokal dari beasiswa dan lulus dengan IPK memuaskan 3,8. Di dalam arsip tidak menujukkan ada anggota keluarganya yang masih hidup, tidak ada status pernikahan maupun anak. Luhan membayar pajaknya tepat waktu. Ia menyumbangkan waktu dan uangnya untuk asosiasi seni, dan juga acara-acara amal. Dan Luhan sudah aktif menjadi pemilih dalam pemilu sejak ia berusia 18 tahun.

“Semua normal,” Sehun bergumam.

Hanya satu hal yang tidak dapat Sehun mengerti , yaitu ketimpangan antara isi arsip yang ia pegang dengan pria manis penuh gairah yang menyerangnya dengan ciuman-ciuman erotis tadi malam. Pria yang membuat nafsunya meledak hingga sulit ia kontrol.

Sehun mengerti jika Luhan berpikir bahwa dirinya hanya sedang bermimpi, dan mungkin saja pria manis itu masih dalam keadaan shock saat itu. Tapi ia hanya tidak menduga, bahkan tidak siap menerima serangan erotis seperti yang ia dapatkan tadi malam. Ia masih dapat merasakan ciuman bertubi-tubi itu pada bibirnya dengan memori yang amat jelas, serta perasaan basah oleh cairan panas yang berdenyut-denyut di bagian bawah pusarnya. Sehun menghembuskan napas gusar. ‘Lupakan hal itu Oh Sehun. Dia itu saksi mata.’ –ia mencoba memperingatkan dirinya sendiri di dalam kepala.

Mengguncangkan kepala untuk menjernihkan pikiran, Sehun malah ceroboh dan tanpa sengaja masuk ke dalam pikiran Luhan yang masih berada di dalam kamarnya, entah masih tertidur atau sudah terbangun, namun isi pikiran pria manis itu membuatnya tersentak. Ketika pertama kali ia masuk, ia melihat dirinya sendiri –ah, ini sungguh gila. Ia merasakan kejantannya mengeras secara spontan, berdenyut nyeri memberontak ingin segera dilepaskan. Ia cepat-cepat keluar dari pikiran Luhan dan menutup pikirannya sendiri, melindunginya rapat-rapat. Bukan kesan yang baik jika hal yang pertama kali di dengar oleh Luhan ketika bangun, adalah Sehun yang sedang memikirkannya, dan menikmati ereksi paginya secara sengaja.

Sehun duduk dengan gelisah di kursinya hingga lima menit lebih. Erangan keluar dari tenggorokannya ketika rasa panas di kejantannya semakin terasa menjadi-jadi. Memutuskan melanjutkan, Sehun berdiri dari tempatnya dan bersiap hendak melangkah ke kamar mandi Luhan –untuk menuntaskan hasrat lelakinya. Namun baru setengah jalan, ia malah merasakan gelombang supernatural lain memenuhi ruangan. Tubuhnya mematung untuk waktu sekian detik yang panjang, sebelum ia menyadari jika ia terlambat memutuskan untuk menggunakan kamar mandi demi tujuan onani. Seharusnya sejak tadi ia sudah memutuskannya, bukan hanya duduk sambil berkeringat dingin di kursi dapur itu. Sial.

‘Kau –” suara halus di belakang punggungnya menyapa ragu.

Sehun mengumpat tanpa suara. Dengan perasaan tak nyaman, ia meraba zipper celana jinsnya sendiri, membuka sedikit dan mengatur posisi paling nyaman untuk kejantanannya yang berdenyut-denyut semakin parah. Kemudian ia menutup zipper itu rapat-rapat sebelum ia berbalik untuk menatap Luhan.

“Ya. Ini aku, yang kemarin malam bersamamu,” Sehun menjelaskan pada pemuda manis itu.

“Ah jadi kau, umm…”

Wajah yang begitu manis dan menggemaskan. Shit!.’ Sehun menghembuskan napas gusar. Satu hal yang ia yakini tentang pria manis di hadapannya ini. ‘Bukan hanya sudah sangat kuat padahal cuma setengah dari kekuatannya saja yang terbuka, pemuda manis ini bahkan sangat hebat dalam hal berfantasy seks.’ Sehun memijit kepalanya, mulai pusing. ‘Fokus.’ Ia berbisik dalam hati. ‘Kau harus mampu mengontrol pikiranmu sendiri, Sehun. Fokus.’

 

 

*****

Aku merasakan aroma maskulin itu lagi melalui lekuk lehernya. Tangannya meraba lembut setiap bagian tubuhku, meremas rambut cokelatku, menggelitik tengkukku, mengelus punggung telanjangku dan menyusuri lengkungannya hingga mencapai bokong. Ia remas gumpalan bokongku, bibirnya mencari bibirku dengan nafas yang memburu. Lidah kami menyatu, membelit di antara bintik keringat yang mulai muncul dari permukaan pori kulit masing-masing. Aku dibaringkannya secara perlahan, kakiku menekuk ketika bibirnya mengecupi pahaku dengan penuh perasaan. Kemudian ia merayap naik kembali. Bibirku dilumatnya dalam-dalam. Betisku terangkat dan tertahan di bahunya. Sangat jelas bahwa bagian pusat tubuhnya berdenyut-denyut, panas dan menggelitik. Aku mengerang tertahan ketika ia menerobos masuk. Kurasakan tubuhnya gemetar oleh nafsu, nafasnya memburu, dan aku mendesah kuat oleh gerakannya yang konstan. Hingga sekian detik yang panjang ia bergerak, aku memekik nikmat namun tertahan di dalam mulutnya. Pusat tubuhku meledak hingga basah. Aku terengah-engah, dan aku masih melihat senyumannya sebelum semuanya menggelap. Kukira aku akan pingsan karena sensasi seks yang ia berikan, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Ya, aku terbangun.


To Be Continued


Advertisements