“Adik kecil, heh?”

 

 

Aish. Dia mendengarnya. Sialan. Sebenarnya sudah berapa lama dia berdiri disana? Atau jangan-jangan dia memang sudah mendengar semua ucapanku?

 

Aku menjadi panik ketika aku melihat Sehun berjalan mendekat kearahku, matanya menatap tajam seolah ingin menelanjangiku saja. Bisa kurasakan aura yang tiba-tiba berubah mengerikan dan berbahaya, memaksaku untuk bersikap waspada padanya.

 

 

“I –itu mak –maksudku….”

 

 

“Akan kutunjukkan bagaimana jika ‘adik kecil’ ini menciummu.”


mwm


-Chapter 3-


Aku panik. Dengan agak tergesa aku bangkit dari posisi dudukku, berlari ke arah pojok ruangan untuk mengindari Sehun, namun opsi itu ternyata salah seribu persen. Aku terpojok. Sehun menangkapku dengan sangat mudah. Ia mengenggam kedua pergelangan tanganku dan menekannya ke dinding. Aku meronta kuat, namun ia semakin menambah tenaganya hingga taganku terasa sakit.

“Sehun, lepaskan,” aku merengek, tapi ia malah tersenyum miring.

“Lucu sekali. Kenapa kau harus merasa takut pada adik kecilmu sendiri, Luhan?” 

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tahu ia hanya memperolokku, karena itu aku meniup poniku agak kesal dan kuangkat daguku sesombong mungkin di depan wajahnya.

“Aku tidak takut padamu,” sahutku congkak.

“Begitu?”

“Tentu saja! Makanya, kau itu jangan mudah sekali tersinggung. Yang tadi itu aku hanya bercanda.”

Senyum di wajah Sehun menghilang. Sekarang ia menatapku entah dengan tatapan macam apa.

“Kalau begitu, anggap saja jika sekarang aku juga sedang bercanda.”

Mataku membelalak tak percaya dengan apa yang terjadi selanjutnya. Bibirku tertekan kuat, oleh bibirnya. Aku menatap matanya horor. Ia juga menatapku. Tubuhku semakin terhimpit ke dinding. Sehun menekan wajahnya kuat-kuat hingga bagian kepalaku nyaris membentur tembok. Sesapannya menguat ketika aku berusaha memberontak. Ini percuma. Karena itu aku menutup mata pasrah, kubiarkan saja semua terjadi dan aku berdoa semoga Sehun mau melepaskanku.

“Candaan yang menyenangkan bukan?” ia berbisik di depan hidungku ketika ciuman itu selesai.

Aku mendorongnya kuat-kuat dan melangkah menjauh tanpa mengatakan apapun. Aku masih terlalu bingung dengan apa yang terjadi barusan. Tapi baru beberapa langkah saja, Sehun kembali menarikku.

“Apa-apaan kau Oh Seh, –hei!

Punggungku terjatuh agak keras di sofa. Kulihat Sehun mendekat sambil membuang jas yang ia pakai, lalu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.

“A –apa? Apa yang ingin kau lakukan padaku?” kataku panik.

“Bercinta,” jawabnya dengan seringai mengerikan.

Aku meraba-raba sofa, dimanapun. Mengharapkan semoga saja ada suatu benda keras yang dapat kugunakan untuk memukul si brengsek Oh Sehun. “Yak! jangan macam-macam. Jangan macam-macam kau Oh Sehun!”

Tapi ia tidak terpengaruh. Lututnya sudah naik dan bertumpu pada sofa, dan tangannya sudah menekan bahuku agak kuat.

“Ja –jangan lakukan i –itu . Kenapa kau tiba-tiba begini?” kataku panik.

“Ini bukan tiba-tiba,” jawabnya. “Keinginan ini sudah lama kurasakan.”

“Apa yang kau bicarakan! Kau gila!”

Sehun terkekeh. “Anggap saja memang begitu,” ia menjawab dengan jari-jari yang sudah bekerja gesit pada kancing-kancing kemeja yang kukenakan.

“Sehun, hentikan. Kau mencintai adikku kan? Hentikan.”

Gerakan tangannya terhenti, ia menatapku sebal, kemudian ia kembali membuka kancing-kancing kemejaku sambil mendengus. “Tidak juga. Aku sudah melupakan adikmu sejak lama,” jawabnya.

Aku menahan gerakan tangannya dan kupaksa ia berhenti bertindak gila. “Jadi maksudmu apa? Kau menyukaiku, hah?” tanyaku, agak emosi kali ini karena ia sudah keterlaluan jika tujuannya hanya ingin memperolokku saja.

“Tidak.” Ia menjawab dengan tampang yang begitu menyebalkan. “Aku tidak harus menyukaimu untuk dapat bercinta denganmu kan? Cukup dengan keinginan saja aku sudah bisa melakukannya.”

Aku murka. “Yak! Berhenti mempermainkan aku Oh Se—”

Dan lagi-lagi aku membelalak. Gila-gila-gila!. Kali ini aku benar-benar tak dapat bergerak. Sehun memaksa gerakanku terhenti secara total. Pergelangan tanganku digenggamnya dengan sebelah tangan, dan ia tahan diatas kepalaku. Lututnya bertumpu di sisian pinggulku, ia duduk di atas pahaku dan tangan kanannya menyibak kemejaku hingga kulit dada dan perutku terlihat jelas. Kali ini kata ‘brengsek’ dan ‘keparat’ mendengung jelas di kepalaku, mengalun berulang-ulang menilai apa yang dilakukannya padaku saat ini.

“T –tunggu!” aku menghentikan gerakan wajah Sehun yang sedikit lagi sudah hampir sampai pada kulit leherku. Ia berhenti dan menatapku dengan jarak yang begitu dekat, bahkan aku bisa merasakan nafasnya menerpa kulit pipiku sekarang. Aku mengingat keras-keras bagaimana wajah anak anjing milik tetanggaku dan berusaha menirukannya setengah mati, menunjukkan wajah memelasku pada Sehun. “Kumohon lepaskan aku,” aku merengek padanya sambil menekuk bibiku ke bawah, mewek.

Seringai menyebalkan itu kembali menghiasi wajahnya. Wajahnya mendekat lebih dalam padaku, tatapan matanya mengintimidasi. “Aku bisa menunda keinginan ini,” katanya congkak. “Tapi aku tidak janji bisa menahan diriku selamanya. Aku tak peduli kita sedang berada dimana. Aku akan tetap melakukannya jika aku ingin.”

“Jangan berbicara seenaknya!” umpatku kesal. “Kita belum menikah, jadi jangan memperlakukan aku seperti ini, bodoh!”

“Kalau begitu kita akan menikah secepatnya,” sahutnya ringan.

“Tidak mau! Aku tidak mau menikah dengan brengsek seperti kau. Lepaskan aku, errrgg!” aku mulai marah.

“Tidak. Katakan ya dulu baru aku mau melepaskanmu.”

Masa bodo. Aku berontak sekuat tenaga dan menggeliat membabi buta di bawah himpitan tubuhnya. Tapi ia menambahkan lagi tenaganya agar aku berhenti melawan. “Menikah denganku.” Ia memaksa.

“Tidak! Akh…”

Sialan. Sakit sekali. Leherku rasanya ngilu. Sehun terkekeh setelah ia berhasil menggigit leherku. “Katakan ya,” paksanya.

“Tidak!”

“Keras kepala.” Ia kembali mendekat ke arah leherku, mencium di bagian itu dan berbisik di telingaku “katakan ya atau kulakukan ini sekarang juga.”

Aku merinding setengah mati saat bibirnya kembali menyesap leherku kuat-kuat. Sialan. Aku tidak mampu lagi melawan keinginannya.

“Baiklah!” aku menyerah.

Ia berhenti. “Kau bilang apa?”

“Ya.”

“Apa?”

“Ya! Aku bilang ya, apa kau tuli?” aku berteriak tepat di depan wajahnya.

“Katakan dengan jelas!”

“Iya, aku mau menikah denganmu. Puas kau!”

Sehun tertawa. Ia melepaskanku dan membantuku duduk. Aku menolak bantuannya saat ia hendak membantuku merapikan pakaianku sendiri sambil melafalkan kata ‘brengsek’ di kepalaku hingga berkali-kali.

“Ah, aku senang sekali…” katanya, tapi aku membuang muka, malas menatapnya. “Kita akan menikah besok,” lanjutnya.

Aku memutar pandanganku ke arahnya secepat yang aku bisa. “Besok? Yak, kau gila!!”

*****

Alunan lagu Wedding March terdengar, lagu yang mengisyaratkan untuk memberikan kesakralan dan keheningan, menandakan bahwa para pengantin akan mulai memainkan perannya. Aku melangkah melewati karpet merah yang akan mengantarkanku kedepan altar, tempat calon ‘pasangan hidupku’ menunggu. Arrgh.

Tak seperti pasangan pengantin pada umumnya yang akan tersenyum ceria dan menatap berbinar-binar penuh cinta pada pasangan mereka, aku justru menatap  Sehun yang berdiri menungguku didepan altar dengan tatapan muak bercampur kesal. Jika saja tatapan mataku dapat  mengeluarkan laser mematikan, aku pasti akan membunuh Sehun saat ini juga sebelum aku sampai di hadapannya.

 

Ada beberapa hal yang membuatku merasa sangat kesal sekaligus tersiksa dengan pernikahan ini. Pertama, karena aku diperlakukan seperti seorang pengantin perempuan yang harus berjalan langkah demi langkah dengan iringan lagu Wedding March yang sengaja diperlambat untuk sampai kedepan altar, tempat dimana calon suamiku menunggu. Sebelumnya, aku sempat berharap upacara pernikahan itu akan langsung kepada acara intinya saja, —mengucapkan janji dan selesai, tapi kenyatannya tidaklah seperti harapanku, sial. Yang kedua, karena kupikir Sehun hanya ingin bermain-main saja denganku kemarin-kemarin, meski aku tahu konteks permainan itu cukup serius dengan melakukan ‘pernikahan’ aneh ini. Sampai sekarang aku bahkan masih belum mengerti mengapa Sehun begitu ngotot ingin menikahiku. Jika ini hanya permainan saja, kurasa ia sudah benar-benar keterlaluan. Ini sudah tidak lagi lucu. Ketiga, karena aku tahu jika kami bukanlah pasangan yang menikah karena cinta. Aku merasa dirugikan dalam hal ini. Seharusnya aku menikah dengan orang yang kucintai, bukan dengan si Sehun brengsek itu. Dan terakhir, karena Sehun tersenyum padaku seperti seorang idiot saat ini. Aku merasa jengkel setengah mati karena aku tak mengerti apa arti dari senyumannya itu.

 

“Tersenyumlah. Jelek sekali wajah cemberutmu itu. Kau sedang akan menikah, bukan akan dihukum mati,” Sehun berbisik di telingaku.

 

Aku menarik bibirku, memperlihatkan barisan gigiku dengan sangat terpaksa di hadapan Pastor yang akan menikahkan kami, namun bokongku dicubit oleh Sehun hingga aku melotot tak terima padanya.

 

“Tersenyumlah yang ikhlas, bodoh. Senyumanmu barusan itu terlihat seperti idiot yang akan memeriksakan gigimu ke dokter gigi,” ia berbisik agak kesal di telingaku.

 

Aku mendesis tak sabar dan mendekat ke arahnya. “Aku sudah berusaha melakukan itu, brengsek,” bisikku.

 

“Aku tak melihat usahamu itu,” balasnya juga dengan bisikan. “Kau menakuti para tamu undangan.”

 

“Aish! Biarkan saja mereka lari. Aku tak peduli!” kataku kesal.

 

“Sudah selesai berkasak-kusuknya?” Pastor yang berdiri di depan kami menginterupsi ketika Sehun baru saja akan membalas ucapanku. Kami sama-sama menggaruk tengkuk dan melemparkan senyuman kikuk padanya. “Kalau sudah, kita akan mulai pemberkatannya,” kata Pastor tersebut, ekpresi kesal tampak terlihat samar pada wajahnya.

 

“Baiiikk…” sahutku dan Sehun bersamaan.

 

*****

Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Jujur saja, saat ini aku benar-benar merasa gelisah dan tidak tenang. Suara gemericik air di dalam kamar mandi membuat detakan jantungku menjadi agak kurang normal, entah mengapa. Aku terlonjak kaget pada tempatku saat pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba. Kemudiaan aku menatap bodoh pada Sehun seolah aku sedang kehilangan nyawa. Ia bertelanjang dada, hanya ada handuk hitam yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Tetesan air mengalir turun melalui dada dan perutnya, membuatku berkeringat dingin saat aku melihat pemandangan erotis itu.

“Air liurmu jatuh tuh.”

Aku menyeka bibirku secara spontan ketika Sehun mengatakan hal itu, kemudian aku merasa sangat tolol karena mempercayai ucapannya begitu saja. Merasa diperolok, aku mengambil pensil yang tergeletak tepat diatas meja, kemudian aku melemparnya kuat-kuat kearah Sehun, namun dengan cepat si bodoh itu menghindar, membuatku merasa semakin kesal.

“Dasar jelek! Kau brengsek!” aku memakinya terang-terangan. “Minggir!” aku sengaja menubruknya dan menyambar handuk yang ia pakai kuat-kuat.

“Hei! Lu –aish!”

Aku mendengarnya mengumpat, tapi sayangnya aku sudah berhasil masuk ke dalam kamar mandi. Aku mendengarnya mengoceh tidak jelas dari dalam kamar mandi, karena itu aku sengaja bernyanyi keras-keras agar ia tahu jika aku sama sekali tidak mendengarkan semua ocehannya.

*****

Lampu-lampu dikamar sudah dimatikan, tapi aku hanya diam, sambil melirik pada Sehun yang meringkuk dalam selimut diatas ranjang. Sudah lima belas menit aku bertahan dalam posisi ini, dan sesungguhnya aku mulai merasa pegal.

“Kau mau tidur sambil berdiri?” ia bertanya pada akhirnya.

Aku menggaruk pipiku, merasa agak canggung. “Kenapa kau tidak pakai baju?” tanyaku.

“Aku memakai celanaku, Lu. Apa sih yang kau pikirkan?” ia balik bertanya.

“Aku tidak akan tidur satu ranjang denganmu jika kau tidak memakai bajumu,” ucapku tegas, tapi ia tampaknya tak peduli.

“Aku terbiasa tidur seperti ini. Tenang saja, aku tidak sedang bernafsu, jadi aku tak akan menyerangmu.”

 

Tidak sedang bernafsu?

 

Aku mulai berpikiran jelek. Jadi maksudnya, Sehun akan menyerangku jika ia sedang bernafsu? Tch! Memangnya aku ini apa?!

Dengan sebal aku melangkah menuju ranjang, ku ambil bantal dan kutarik selimut yang ia pakai. Ia menoleh terkejut padaku dan tampak hendak protes pada awalnya, namun sedetik kemudian ia malah tertawa geli.

 

“Aku tak mau tidur satu ranjang denganmu!” kataku bersungut kesal. Ia semakin mengeraskan tawanya.

 

“Awas ada kecoa masuk ke bajumu saat kau pulas tertidur nanti,” katanya menakut-nakuti.

 

Aku melirik sebal padanya, kemudian aku mengibaskan selimut yang kupegang keras-keras agar ia tahu jika sikapnya itu membuatku jengkel setengah mati. Tapi ia hanya mengedikkan bahu dan tidur membelakangiku, menunjukkan pantat gepengnya itu tepat padaku. Sambil membuang napas aku menghamparkan selimut yang kupegang di lantai, lalu aku membaringkan tubuhku diatas selimut itu, membuang jauh-jauh rasa kesalku pada Sehun yang sepertinya sudah mulai tertidur. Beberapa detik setelahnya aku ikut memejamkan mata juga, sambil berdoa jika hari-hariku tidak akan terlalu buruk besok-besok. Jujur saja beberapa hari yang sial ini, membuatku agak merasa lelah.

*****

Aku menggeliat tak nyaman ketika merasa terganggu oleh gerakan jari yang terasa mencubit hidungku berulang kali. Ingin sekali aku bangun, namun mataku seolah tak bisa diajak berkompromi. Aku masih mengantuk.

 

“Hei bangun. Ini sudah jam delapan, cepat bangun!” aku mendengar suara Sehun memanggil-manggilku. Tangannya masih saja mencubiti ujung hidungku, menyebalkan sekali dia.

 

Aku mendesis kesal. Kusingkirkan tangannya dari hidungku, meraba bantal dan kututup wajahku saat aku mendapatkannya. Tapi sekejap saja bantal itu sudah menghilang dari wajahku, entah dibuang kemana oleh Sehun.

“HEI PEMALAS! CEPAT BANGUN!” Ia mencubiti pipiku agak keras kali ini.

Aku mengerang. Kubuka mataku sedikit, sangat sedikit hingga mungkin saja tak terlihat. “Ini hari minggu, jangan ganggu aku,” ucapku dengan suara serak.  Kemudian aku membenarkan posisi tubuh, bersiap akan memejamkan mataku kembali.

 

*****

Kening Sehun bertaut, kini ia mengerti dengan alasan mengapa Luhan memiliki julukan ‘Setan Telat’ seperti itu. Pria manis  ini sepertinya selalu mendambakan hari libur sehingga ia selalu bergumam tentang hari Minggu setiap pagi.

Sehun menghela nafas, mengatur perasaannya yang hampir kehilangan kesabaran. Detik kemudian ia menindih tubuh Luhan, mendorong dagu Luhan menengadah keatas menggunakan telunjuk dan ibu jarinya kemudian mendekatkan wajahnya pada leher Luhan. Bibir itu menyapa permukaan kulit leher Luhan, menggigit dan menyesap dengan kuat dan dalam. Ditengah ketidak sadarannya, Luhan terus melenguh saat ciuman-ciuman Sehun terus berlangsung, tak menyadari seberapa banyak kissmark yang sudah Sehun sematkan dilehernya. Hingga tubuhnya terkesiap, matanya melotot lebar pada langit-langit kamar itu.

“APA-APAAN KAU! AAARGHH!!” Luhan berteriak dengan keras, bisa dipastikan teriakan itu terdengar hampir keseluruh bagian dalam mansion milik Sehun.

Tubuh Sehun terjatuh kesamping ketika Luhan mendorong tubuh pemuda pucat itu dari atas tubuhnya sambil mengumpat. Ia tertawa keras melihat kejadian yang menurutnya sangat-sangat lucu ini.

 

“Sudah bangun?” Sehun bertanya dengan wajah inosennya.

“APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!”

 

Sehun menutup telinganya sendiri ketika ia lagi-lagi mendengar teriakan Luhan. “Berisik sekali kau,” keluhnya. “Seperti perempuan saja.”  Ia beranjak turun dan berdiri disamping ranjang dengan tangan bersedekap didada sambil menatap Luhan.

Luhan membalasnya dengan tatapan tajam penuh amarah. Namun ia harus mengenyampingkan kemarahannya ketika ia menyadari dimana tubuhnya berada saat ini.

 

“Kau memindahkanku keatas ranjang?”

 

“Tidak. Kau berjalan sendiri.”

 

Luhan menyipitkan matanya tak percaya, ia yakin bahwa dirinya tak sekalipun pernah berjalan dalam keadaan tidur. “Pembohong,” tuduhnya pada Sehun.

 

“Ck, itu tidak penting. Cepat bangun, kita sudah terlambat.”

 

Luhan mengeluh. Bukankah baru kemarin mereka menikah? Itu baru sehari, tapi mengapa tidak ada hari libur untuk pengantin baru? Aish.

 

Luhan merutuki Sehun yang terlalu disiplin pada pekerjaannya, ia bahkan ingin menendang pria pucat itu ketika Sehun mengatakan ‘kau akan mendapatkan liburanmu jika aku sudah mendapatkan malam pertamaku. Kau mau libur besok? Aku akan menidurimu dengan senang hati sekarang. Bagaimana, hmm?”

 

Segiempat imajiner terbentuk di kening Luhan saat ia mengingat hal itu. Jika kau bertanya apa jawaban Luhan saat Sehun mengatakan hal tersebut, tentu saja jawabannya adalah tidak, dan juga brengsek setelahnya.

 

Dengan bibir mengerucut, Luhan beranjak dari ranjang. Ketika ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, ia masih sempat bersyukur bahwa seluruh pakaiannya masih lengkap melekat pada tubuhnya. Namun rasa syukur itu tak sampai beberapa detik, langkahnya terhenti saat ia hendak kekamar mandi, matanya membelalak saat ia melihat pantulan dirinya dari kaca lebar dikamar itu—perpotongan lehernya penuh dengan kissmark, terlihat tumpang tindih tak beraturan seperti habis diserang oleh ‘seekor’ vampir. Ia menoleh pada Sehun dengan geram. “Bagaimana aku bisa pergi kekantor dengan penampilan seperti ini, sialaaaannn!!”

 

Sehun tak berminat menoleh pada Luhan dan terus menyibukkan dirinya pada simpulan dasi kerah bajunya sendiri.

“Yak, Oh Sehun! Aish!” Luhan mengerang sambil mengacak rambutnya sendiri. Merasa jengkel setengah mati.

“Bukan urusanku,” jawab Sehun sambil berlalu.

“Yak!”

Sehun menghentikan langkah, berbalik, dan melemparkan senyuman miringnya pada Luhan. “Aku akan melakukan itu besok, besoknya, dan besok-besoknya lagi, setiap hari, jika jam 5 pagi kau masih belum mau bangun. Mengerti?”

“Ap –apa katamu? Hei, aturan macam apa itu! Aku menentang!” kata Luhan sewot, namun Sehun malah mengibaskan tangannya, bersikap tak peduli.

 

“Cepatlah bersiap-siap sebelum kau kutinggal,” ia menjawab sambil melangkah ke arah pintu.

 

“Brengsek!! Brengsek!! Brengsek!! Kau brengsek Oh Sehun. Kau dengar itu?”

 

Sehun mendengarnya. Tentu saja ia dengar. Ia memijit pelipisnya ketika berhasil keluar dari  kamar itu.

 

“Dia itu sebenarnya laki-laki atau perempuan sih? Dasar makhluk aneh,” katanya mengeluh.


To Be Continued-


 

 

 

 

 

Advertisements