mwm


Chapter 2


“Minseok…”

 

“Hmm?” Minseok menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer. Aku mendekat ke arah meja kerjanya dengan agak ragu.  Ia tampak sangat serius. Jari-jarinya bergerak lincah memencet tombol-tombol keyboard komputernya.

 

 

“Minseok, bisakah kau membantuku memberikan ini pada Presdir?” beberapa berkas yang sudah selesai kukerjakan, kusodorkan pada Minseok.

 

 

Minseok menghentikan gerak jari-jarinya lalu menoleh dan menatapku. “Kenapa kau tidak lari saja seperti yang kau katakan?

 

 

“Ck. Bagaimana aku bisa lari darinya kalau dia mengancam akan menikahiku sekarang juga?”

 

 

“Ya sudah menikah saja sih, apa susahnya, haehh..” Minseok kembali menatap layar komputernya sembari mengibas-ngibaskan tangan, memberikan gesture mengusir padaku.

 

 

“Sialan! Hei, Kim Min—”

 

 

Umpatanku tertahan di tenggorokan, kemudian tertelan kembali ketika berkas-berkas ditanganku tiba-tiba saja ditarik dan diganti dengan sebuah minuman kaleng,  membuatku tertegun karena terkejut. ‘Shit, Oh Sehun!’—berdiri tepat di sampingku dengan tatapan datarnya. Kemudian dalam beberapa detik ia sudah tampak sibuk membolak-balikkan berkas-berkas yang baru ia rampas dari tanganku.

 

 

“Ini hanya perlu kutanda tangani saja kan?” Sehun menepuk kepalaku, membuatku seketika kembali ke dunia nyata.

 

 

“Iyaaa..” aku menjawab tanpa minat.

 

 

 

Sehun menatapku sekejap sebelum wajahnya tampak sangat aneh. Aku mendengar ia terkekeh sangat-sangat pelan tapi tetap berusaha mempertahankan ekspresi datarnya. Sialan. Lagi-lagi dia memperolokku.

 

 

“Presdir benar-benar akan menikah dengan Luhan?”

 

 

‘What?? Aish! Sialan kau Kim Minseok!’

 

Semua karyawan sekarang menatap kearah kami dengan ekspresi yang begitu beragam setelah mereka mendengar pertanyaan dari Minseok. Minseok tergolong sangat nekat karena berani menanyakan hal tersebut pada Sehun. Padahal selama ini ia hanya berani menanyakan tetang pekerjaan saja pada pria pucat itu. Aku begitu penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh Sehun, karena itu aku memperhatikan ekpresinya dalam-dalam. Tapi, bukannya memberikan jawaban, Sehun hanya melemparkan senyuman aneh ke arah Minseok. Hell.

 

“P-Presdir…” Minseok kembali bertanya, terlihat agak ragu kali ini.

 

                                                                                        

Sehun menggeleng geli dan kembali terkekeh, kali ini sampai menyentuh mulutnya sendiri dengan kepalan tangan. “Ya. Baru kemarin ia kulamar,” Sehun menjawab tanpa beban.

 

 

“Aku sudah menolak lamaranmu, tuan Presdir!” kataku sewot, tapi tak ada yang mempedulikan.

 

 

“Lalu kapan anda akan menikahi Luhan?” Sekarang karyawan yang lain sudah mulai berani bertanya.

 

 

“Secepatnya.”

 

 

“Yak! Bicara apa kau Oh Sehun!”

 

 

Aku mulai emosi. Tidak ada seorangpun yang menghiraukanku. Aku menatap Minseok yang kini tengah menahan tawa dengan tatapan membunuh. Minseok adalah satu-satunya biang keladi dari keadaan ini. Dasar sialan! Bagus sekali. Besok koran kantor pasti akan langsung menerbitkan berita tentang pasangan gay baru yang akan mengarungi bahtera rumah tangga, yaitu aku dan Presdir Oh Keparat Sehun yang terhormat itu.

 

 

“Sudahlah terima saja lamaran Presdir, Luhan. Kalian terlihat cocok kok,” Minseok mengatakan hal itu sambil tertawa.

 

 

 

“Sejak kapan dua orang pria bisa menjadi pasangan yang serasi? Kau mendukungku menjadi seorang gay?

 

 

“Hah? Minseok menunjukkan ekpresi seperti seorang idiot padaku. “Bukannya kau memang gay ya? Selama ini kan pacarmu semuanya la –“

 

“Yak!” Aku menatapnya panik. Skakmat. Aku terdiam saja setelahnya, tak bisa membantah kata-kata Minseok. Sepertinya sangat berbahaya sekali jika aku berkomentar dalam kondisi ini, jadi sebaiknya aku menutup mulutku mulai dari sekarang.

 

Ketika aku menoleh pada Sehun agar setidaknya ia membantuku dari serangan-serangan ini, si bodoh itu malah sudah menghilang. Aku meghela nafas berat dan mulai melangkah menuju mejaku sendiri. Kuabaikan tatapan aneh dari karyawan lainnya, dan hanya fokus pada dokumen-dokumen di tanganku saja. Tapi ucapan Minseok tadi entah mengapa masih terngiang-ngiang jelas di telingaku.

 

“Pasangan serasi? Serasi apanya? Serasi bokongku!” aku mengumpat sangat pelan. Tidak, kami tak akan pernah menjadi pasangan serasi. Karena aku tahu, Sehun tidak mencintaiku. Begitu juga dengan aku.

 

 

******

 

 

“Kau tidak pulang?” Minseok masuk kedalam ruanganku dan duduk disofaku seenaknya.

 

 

“Kau tidak lihat aku sedang membereskan barang-barangku?” jawabku sambil cemberut.

 

 

“Kau masih marah ya?”

 

 

Aku menghela nafas dan menatap sebal pada Minseok. “Kau masih berani bertanya?”

 

 

“Ya maaf sih. Begitu saja marah. Lagipula kenapa kau harus menolak Presdir?”

 

 

“Bukan urusanmu!” jawabku sewot.

 

 

“Aduh Luhan. Aku sudah mengenalmu selama 5 tahun. Aku tahu ada sesuatu antara kau dan Presdir. Hubungan kalian tidaklah sesimpel itu.”

 

 

“Kami memang berteman. Tapi untuk menikah dengan Sehun, itu hampir tak mungkin Minseok-ah. Terpikir untuk hal itu saja aku hampir tidak pernah.”

 

 

Why?

 

 

Kuletakkan berkas-berkas yang tadi kukumpulkan, dan menumpuknya menjadi satu pada satu tempat. Kemudian kembali menatap Minseok yang menungguku bicara.

 

 

“Saat aku ditingkat sekolah menengah, untuk pertama kalinya aku menyukai seseorang—seorang pria. Aku agak stress dan bertanya-tanya mengapa aku seperti itu, tapi aku berusaha menahan diri dan berdamai saja dengan seksualitasku. Aku sangat dekat dengannya dan selalu bersama-sama dia, karena kami satu kelas dan sama-sama berada dalam organisasi pengurusan sekolah. Tak lama aku membuat pengakuan padanya. Meskipun aku sangat takut dia merasa jijik padaku, tapi pada akhirnya aku mengakui bahwa aku menyukainya. Di luar dugaan, dia malah menerimaku…”

 

 

“Lalu?” Minseok menunggu saat aku terdiam.

 

 

“Sialnya, tak lama setelah itu aku memergokinya sedang berciuman dengan adik perempuanku.” Aku menggelengkan kepalaku dan membuang nafas dengan berat. Sialan. Kenangan itu membuatku merasakan sakit di bagian dada secara tiba-tiba. Rasanya masih saja sama seperti dulu. Sakit sekali.

 

“Kau..ehm, punya adik perempuan?” Minseok bertanya ragu-ragu padaku.

 

 

“Ya. Dia cantik. Dia juga periang. Dia adalah tipe manusia yang mudah membuat orang lain menyukainya, berbeda sekali denganku..”

 

 

“Iya, kau memang agak menyebalkan sih.”

 

Sialan.

 

“Ehm, lalu?” Minseok kembali bertanya sambil menggararuk tengkuknya dengan kikuk.

 

 

Aku menghembuskan nafas  lalu menghempaskan pantatku keras-keras di sebelah Minseok, menopang dagu dan menerawang mengingat masa lalu. “Sejak saat itu aku tahu dia tidaklah sama dengan ku—dia tidak menyukai pria. Tapi tololnya, aku mengabaikan semua kenyataan itu. Aku menunggu dan terus menunggu agar ia jujur padaku. Aku juga tak bisa menyalahkannya karena dia tidak tahu kalau gadis yang dia sukai itu adik kandungku.”

 

Aku menjeda, memijit keningku sedikit karena obrolan ini tiba-tiba saja membuatku merasa pusing. “Beberapa bulan berlalu. Untuk kedua kalinya aku memergoki mereka berdua bermesraan di cafe favorit adikku. Entahlah. Aku merasa begitu remuk tapi aku masih diam saja. Dan saat itu pula, aku menyadari ada sepasang mata lain, menatap dua pasangan itu dengan tatapan yang sama sakitnya denganku.”

 

“Siapa?”

 

Aku terkekeh melihat wajah tak sabaran Minseok. “Dia Oh Sehun, Minseok-ah. Setelah insiden itu, aku mencari tahu siapa dia. Ternyata Sehun itu adik kandung dari pria yang kusukai. Dan dia, ehm…kekasih resmi adikku.”

 

Hell Luhan. Kepalaku menjadi pusing mendadak mendengar semua cerita ini, “ Minseok mengeluh. Kulihat Minseok berfikir keras. “Tapi Luhan, bukankah kakak kandung Presdir sedang dirawat dirumah sakit jiwa?”

 

 

Aku terdiam. Tapi aku mengangguk setelahnya. “Itu karena kami,” kataku menyesal. “Ketika aku menjemput adikku ke sekolahnya, Sehun sedang berdebat dengan adikku. Aku melihat adikku memohon pada Sehun agar Sehun mau melepaskannya. Aku masih ingat dengan sangat jelas, ketika itu Sehun mengatakan pada adikku,“Aku mencintaimu dan aku tak akan pernah melepaskanmu. Sekalipun untuk hyung-ku sendiri!”

 

 

Aku menatap Minseok dengan senyum kecut. “Bukankah takdir itu sangat lucu? Dia sangat tega mempermainkan kami yang bersaudara ini…”

 

 

Minseok menggaruk kepalanya. “Lalu apa yang terjadi setelah itu?”

 

 

“Lalu…adikku…adikku meninggal…” Kuberi jeda untuk menekan sesak didalam dadaku. “Setelah perdebatan itu, Sehun meninggalkan adikku begitu saja. Tapi adikku berlari mengejar Sehun hingga sebuah mobil menghentikan langkahnya—ia tertabrak mobil saat ia berusaha menghentikan Sehun yang melangkah menjauh.”

 

 

Kuhapus genangan air mata yang sebentar lagi mungkin akan jatuh. Mengesampingkan rasa sakitku lalu melanjutkan ceritaku karena Minseok masih menunggu.

 

 

“Setelahnya, kakak Sehun sepertinya mengalami stress berkepanjangan, dan membuatnya berakhir menjadi gila. Sehun juga merasa terpukul dengan kejadian itu tapi ia lebih mampu menguasai diri ketimbang kakaknya. Ia mencintai adikku tapi saudara kami masing-masing juga saling mencintai. Aku tidak tahu siapa yang harus disalahkan atas semua yang terjadi, karena kami semua merasakan sakit yang sama. Meski begitu, entah kenapa aku dan Sehun merasa bersalah pada mereka berdua…”

 

 

“Lalu apa yang membuat kau dan Sehun malah semakin dekat?”

 

 

“Mana aku tahu. Setelah kejadian itu Sehun melanjutkan sekolahnya diluar negeri. Lalu ketika ia kembali, ia datang kerumahku, menyeretku keperusahaan ini dan menjadikan aku sebagai sekertarisnya. Sekarang kau mengerti kan, kami tak akan pernah bisa menikah. Kami sama sekali tidak saling mencintai.”

 

“Coba saja menikah dengannya, siapa tahu cinta itu nanti tumbuh,” kata Minseok memaksa.

 

 

“Apa kau sudah gila?” Aku menepuk kepalanya karena kesal. “Sama sekali tak terbayang olehku jika harus menikah dengannya. Memikirkan jika aku akan berciuman dengan dia di altar nanti saja, rasanya aneh sekali. Seperti akan mencium adik kandung sendiri. Kau tahu, aku hanya melihatnya seperti seorang adik kecil yang harus kujaga, tidak mungkin lebih dari itu.  Lagipula, dia itu laki-laki normal Minseok,  jadi—

 

 

“Luhan, aku pulang duluan saja ya.”

 

“Hah?” Aku menatapnya bingung.

 

“Bye Luhan!” Minseok berdiri secepat kilat dari duduknya dan pergi begitu saja.

 

“Hei, Kim Min –“

 

 

 

Oh sialan! Pria chubby itu benar-benar brengsek. Ia bukan terburu-buru karena alasan penting, melainkan kabur karena ia menyadari keberadaan Sehun yang sedang menyandar pada sisian pintu ruang kerjaku. Dan aku? Tentu saja aku langsung duduk membeku di tempatku sambil menunduk tanpa berani menatapnya. Semoga saja ucapan terakhirku tadi tidak didengarnya.

 

Adik kecil, heh?”

 

 

Aish. Dia mendengarnya. Sialan. Sebenarnya sudah berapa lama dia berdiri disana? Atau jangan-jangan dia memang sudah mendengar semua ucapanku?

 

Aku menjadi panik ketika aku melihat Sehun berjalan mendekat kearahku, matanya menatap tajam seolah ingin menelanjangiku saja. Bisa kurasakan aura yang tiba-tiba berubah mengerikan dan berbahaya, memaksaku untuk bersikap waspada padanya.

 

 

“I –itu mak –maksudku….”

 

 

“Akan kutunjukkan bagaimana jika ‘adik kecil’ ini menciummu.”


To Be Continued-


 

Advertisements