MIRACLE WEDDING MARCH


mwm


[HunHan] [Yaoi] [Romance]

Written by lien & tmarionlie


Aku terlambat 2 jam pada acara kencan pertama dengan kekasih baruku—kutegaskan bahwa kekasihku itu adalah seorang priaotomatis yang akan kutemui bukanlah seorang gadis dengan riasan make up warna warni diwajahnya.

 

 

“Dan dia tidak ada. Yah…tidak heran.” Aku

mengeluh.

 

*****

 

 

“Cinta itu seperti bayangan saja,” ucapku tanpa semangat.

 

 

“Kau telat selama 2 jam, masih berharap dia menunggumu? Dasar tak punya otak.”

 

 

Minseok—sahabatku sekaligus teman sekantorku, adalah satu-satunya tempat mengadukan setiap nasib cintaku yang selalu berakhir hanya karena masalah ‘waktu’.

 

 

Kutengadahkan kepalaku menatap langit-langit ruangan kerjaku, berfikir keras tentang mengapa aku selalu bernasib sial tentang masalah cinta?

 

 

“Ternyata, cinta itu tak bertahan lebih dari 2 jam. Umurnya pendek, dan cepat sekali padam,” kataku.

 

 

“Hei, jangan berpidato terus, teleponmu berdering!”

 

 

Aku terkesiap begitu suara Minseok dan telepon kantor berdering, menyadarkanku dari ratapan hidup yang kulalui.

 

 

“KENAPA KAU MASIH BERADA DIKANTOR, LUHAN??!!”

 

 

“CEPAT DATANG DALAM WAKTU 5 MENIT!!”

 

 

“B-baik Presdir.”

 

 

Aku berlari keluar ruangan. Tak memperdulikan Minseok yang sekarang tertawa terpingkal-pingkal melihatku. Ini benar-benar gawat darurat, hari ini sang Presiden direktur ada pertemuan dengan investor dari Jepang dan aku sudah telat selama empat puluh lima menit.

 

Ya Tuhan. Pasti dia akan memberiku ceramah panjang lebar nanti. Sudah pasti. Mati aku!

 

 

*****

 

 

“Katanya ia sudah menungguku distasiun kereta bawah tanah. Tapi bagaimana mungkin aku menemukan dia ditempat seramai ini?” aku berbicara sendiri seperti orang gila. Nafasku tersenggal-senggal dan pandangan mataku menjadi kabur karena terlalu lelah berlari. Kepalaku terasa pusing melihat sekian banyak orang ditempat ini. Aku tidak bisa menghubunginya karena aku lupa mengisi baterai ponselku. Lengkap sudah. Kali ini aku pasti habis olehnya.

 

 

“Pasti dimarahi habis-habisan. Sebaiknya aku kembali dan pura-pura sakit saja ah,” –pikirku licik.

 

Aku sudah hendak berbalik dan berjalan beberapa langkah, namun langkahku terhenti begitu saja ketika seseorang menarik kerah bajuku dari belakang tanpa perasaan.

 

“Mau lari kemana kau , Setan Telat?”

 

Aduh! Suara itu berhasil membuatku merinding. Sangat jelas bahwa itu adalah suara sang Presdir, Oh Sehun. Ia lebih muda 3 tahun dariku. Kami berteman, dan karena suatu kejadian di masa lalu, kondisinya mengharuskan aku menjadi sekertaris pribadinya. Pria berkulit pucat ini mewarisi aset perusahaan keluarganya diusia muda karena ia jenius, kuliahnya saja lulusan luar negeri. Sesungguhnya, aku tidak terlalu menyukainya. Karena Sehun itu menyebalkan.

 

“Kau itu, selalu-selalu dan selalu datang terlambat! Aku heran mengapa kau bisa hidup seperti ini?” Ia mengoceh.

 

Aku menggosok telingaku. “Ish, pidatonya nanti saja. Sekarang bagaimana cara kita menghadiri pertemuan itu?” tanyaku tanpa rasa bersalah.

 

Ia menghela nafas kemudian berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. Aku mengikutinya dengan diam tanpa berani bertanya lagi.  kelihatannya ia kesal sekali padaku.

 

“Pertemuannya sengaja kupercepat dan sudah kuurus semuanya sendiri,” jawabnya.

 

“Huh? Jadi untuk apa aku berlari sampai kesini? Hei, Oh Sehun! Sehuna!”

 

“Berisik! Diamlah. Aku ini atasanmu, Setan Telat. Hormat sedikit bisa tidak?” ucapnya kesal, membuatku terdiam dan tak memiliki niat lagi untuk berdebat dengannya.

 

Sehun menyalakan korek api dan menyulut rokok yang tersemat diantara garis bibir tipisnya. Tatapannya memandang tanpa tujuan ke arah luar jendela. Wajah sempurna itu selalu seperti ini, ia akan terdiam dengan pandangan kosong jika berada di cafe yang menyimpan semua kenangan masa lalunya. Membuatku ikut merasakan sakitnya yang tak tampak.

 

 

Kuhela nafasku pelan, mengalihkan perhatianku dari wajah Sehun. Aku memilih untuk memaksa ponselku yang masih dalam keadaan low untuk menyala. Sebanyak dua puluh pesan langsung masuk begitu saja di dalam ponselku, dan semuanya itu dikirim oleh satu orang, Oh Sehun.

 

*Bangun. Kita ada pertemuan.

 

 

*Awas kalau kau telat lagi.

 

 

*Sudah berangkat?.

 

 

*Sudah sampai mana?

 

 

*Sialan. Angkat ponselmu!

 

 

*Kau telat!!

 

 

*Sedang operasi hidung, eoh?

 

 

*Apa kau baik-baik saja? Kenapa belum datang juga?

 

 

Haha. Meskipun marah, ia selalu perhatian padaku yang pelupa dan selalu tidak pernah tepat waktu. Ia sudah seperti alarm yang selalu mengingatkanku akan hal-hal yang selalu lupa aku kerjakan. Meski begitu, ia akan bersikap super dingin padaku jika didepan bawahannya yang lain. Tidak ada yang tahu bahwa kami saling mengenal hingga sedekat ini.

 

 

“Oh Sehun…Thanks.”

 

Ia meletakkan rokoknya kedalam asbak disamping cangkir kopi miliknya lalu ia menatapku.

 

“Seharusnya kau meminta maaf, bukannya  malah berterima kasih seperti itu. Dasar bodoh.”

 

‘Aku sedang serius, Tuan Presdir. Aku benar-benar berterimakasih karena kau—ah maksudku karena Presdir selalu mau membantuku. Kalau tidak ada anda, hidupku pasti akan sangat berantakan,” ucapku tulus.

 

Ia diam sembari menatapku lekat-lekat, membuatku secara refleks menunduk hanya untuk menghindari tatapannya.

 

“Ini bukan di lingkungan kantor. Panggil aku Sehun, bukan Tuan Presdir. Tuan Presdir bokongmu!”

 

Aku meniup ujung poniku. “Baiklah. Kali ini serius. Maaf sudah selalu merepotkanmu Sehuna…”

 

“Ya, kau memang selalu merepotkan, membuatku kesal, kau lambat dan menyebalkan. Selain itu kau juga bodoh. Aku bisa mati muda gara-gara kau,” katanya tanpa jeda.

 

Aku hanya diam, melipat bibirku masuk ke dalam mulutku sendiri.

 

“Begini saja,” katanya tiba-tiba, membuatku merasa was-was dengan kalimat yang akan ia ucapkan. “Bagaimana kalau kita menikah saja? Dengan begitu aku bisa mengontrolmu selama duapuluh empat jam penuh agar kau bisa menjadi manusia yang lebih baik dan berguna untuk perusahaan, dan juga untukku.” Ucapnya tiba-tiba, membuatku terkejut setengah mati.

 

Aku terdiam shock untuk waktu beberapa lama. Aku yakin jika saat ini mataku sedang melotot menatapnya. Kutajamkan pendengaranku meski kalimatnya sudah berlalu.

 

 

“Heh? Apa kau baru saja berbicara padaku?” Untuk memastikan, aku melihat kebelakang, dan juga kesamping kiri kananku.

 

 

“Memangnya ada orang lain?” sahutnya tak senang.

 

 

Aku menatapnya aneh sebagai efek dari kebingungan oleh kalimat yang tadi ia ucapkan.

 

 

“Mak-maksudku, kita ini bukan sepasang kekasih, jadi…umm..”

 

 

“Memang.”

 

 

“Lagipula, bukankah kau sudah punya pacar?”

 

“Hari ini sudah putus,” jawabnya tanpa minat.

 

 

Tak heran. Ini sudah lama berlangsung. Sehun bisa dengan cepat mendapatkan seorang kekasih, namun dengan cepat pula ia mengakhirinya. Tapi…

 

 

“Tapi…aku ini laki-laki.”

 

 

“Aku tidak sedang mempertanyakan tentang identitas kelaminmu. Tanpa kau sebutkan pun aku sudah tahu,” jawabnya.

 

“Tapi-tapi…” aku bingung hendak bicara apa lagi.

 

“Sudahlah diam saja dan katakan ya. Aku tidak sedang berminat melakukan tawar-menawar denganmu. Aku tahu kau laki-laki, dan aku akan tetap menikahimu, titik.”

 

What? Apa dia Biseksual? Ah mana mungkin. Selama ini dia selalu menggandeng para gadis cantik yang berbeda-beda pula. Apa dia sedang bermain-main denganku ya? Itu juga sepertinya tidak mungkin. Sehun bukan merupakan tipe orang yang suka bermain-main dengan ucapannya.

 

“Semua pertanyaanmu sudah kujawab. Jadi tidak ada masalah lagi kan?” Ia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar cafe.

 

“Tu-tunggu. Hei Oh Sehun!” Aku mengejarnya dan mengikuti Sehun sampai kedalam mobilnya. Ini harus diperjelas dan ia tak boleh berbuat seenaknya.

 

 

“Bukankah kita ini berteman, Luhan?” Sehun bertanya ketika ia melajukan mobilnya.

 

 

“Menurutku begitu sih,” jawabku.

 

 

“Kita sudah lama saling mengenal.”

 

“Ya, sepertinya memang sudah lumayan lama juga.”

 

“Ya sudah.”

 

“Apanya yang ‘ya sudah’?” tanyaku tak senang.

 

 

“Ya sudah. Jadi tidak masalah jika kita menikah.” Sehun berucap dengan santai seolah apa yang dikatakannya adalah masalah sepele.

 

 

“Tentu saja bermasalah. Aku menganggapmu sebagai atasanku dan sebagai temanku, jadi aku hanya ingin berteman saja denganmu, tidak lebih. Hanya teman selamanya, titik.”

 

“Ditolak! Pokoknya kita akan menikah, titik!”

 

“Hei! Kau gila ya?”

 

“Masa bodo.”

 

 

*****

 

 

Hari ini aku datang kekantor pagi-pagi sekali. Tentu saja ini tak seperti biasanya jika mengingat aku adalah orang terakhir yang selalu datang kekantor setiap paginya. Aku melakukan itu bukan karena aku sudah bertobat, tapi aku sebenarnya hanya ingin menghindari presdir Oh, yang sepertinya kemarin sedang dalam ‘mode gilanya’.

 

Meski itu sulit jika melihat posisiku sebagai sekretarisnya, namun aku mempunyai cara lain untuk menghindar darinya. Menyelesaikan berkas-berkas yang harus kuselesaikan, menaruhnya didalam ruangannya secara diam-diam dan mengiriminya email untuk jadwalnya hari ini, lalu berpura-pura sakit dan pulang kerumah. Sempurna.

 

 

Jika ditanya aku akan melakukannya sampai kapan? Tentu saja sampai pikiran Presdir sinting itu kembali normal. Sudah pasti kemarin dia dalam mode tidak normal, karena tiba-tiba ia bersikap aneh begitu padaku.

 

 

Aku memasuki lift dengan mata yang berat. Semalaman aku tak bisa tidur karena memikirkan bagaimana caranya ‘tak terlihat’ dari Sehun. Namun mataku seketika melotot ketika pandanganku mengarah pada pintu lift yang sudah hampir akan tertutup, tiba-tiba saja kembali terbuka dan menampilkan sosok pria yang saat ini benar-benar, sungguh-sungguh sangat ingin aku hindari.

 

 

Semua yang ada didalam lift ini – kecuali aku, membungkuk dan menyapanya. Sedangkan tatapannya menatap lurus padaku. Tatapannya datar dan aneh, dan tentu saja sangat sulit kumengerti. Mungkinkah ia lupa dengan apa yang dikatakannya kemarin?

 

 

Ia masuk kedalam lift dan berdiri disampingku. Aku bergeser sedikit lebih jauh darinya. Entah mengapa, aku  merasa sangat canggung disini.

 

 

“Rajin sekali kau datang pagi-pagi hari ini. Kau ingin merubah kebiasaan burukmu sebelum kita menikah? Ya baguslah.”

 

 

Semua yang ada didalam lift menoleh pada Sehun, satu-satunya manusia yang mengeluarkan suara. Tatapan mereka menunjukkan ekspresi yang sama, sangat jelas menunjukkan bahwa mereka sedang bertanya-tanya apa maksud dari ucapan sang presdir dan kepada siapa ia bertanya.

 

 

Tentu saja. Aku satu-satunya yang merasa ingin menendangnya dan menutup mulutnya dengan tanganku, atau bagaimana jika kupukul saja wajahnya yang menyebalkan itu? Apa dia sudah gila? Mengumumkan pernikahan didepan bawahannya, memberitahu bahwa ia mau menikahi seorang pria –aku, yang  adalah sekertarisnya sendiri? Dasar sinting!

 

 

“Kenapa diam saja Luhan? Hmm?” tanyanya dengan raut yang, ugh!

 

 

“Tutup mulutmu! Dasar bodoh!” aku mengumpat spontan.

 

 

Aku langsung membekap mulutku sendiri. Semua mata kini beralih menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya dan menyelidik, sekaligus menuduh, seolah ingin mengatakan bahwa aku adalah seorang ‘Sekretaris yang sangat kurang ajar’. Jika tatapan saja dapat membunuh, pasti aku sudah mati sejak tadi.

 

“Sepertinya kau sudah tidak sabar menanti pernikahan kita ya sayang, hmm? Jangan terlalu bersemangat begitu. Kau tidak harus sampai berubah sedrastis ini kok. Apapun kau, aku tetap akan menikahimu, jadi santai saja, oke?” Sehun mengucapkan kalimat menjijikkan itu dengan sebuah senyuman aneh dan sedikit cubitan di pipiku sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari lift.

 

 

Setelah  kepergian Sehun, semua pasang mata kini kembali menatapku. Mengintimidasi, menyiratkan bahwa mereka menuntut  sebuah penjelasan, sekarang.

 

 

“Sialan kau Oh Sehun. Sial-sial-sial. Ya Tuhan….tolong aku….


To Be Continued-


AN : Ini adalah ff kolaborasi saya dengan author Lien (Lien91 di ffn). FF ini dibuat sekitar 2 atau 3 tahun lalu, dimana tulisan kita berdua masih sangat kacau. Jadi mohon maaf apabila jenis tulisan ini bukanlah selera kalian. FF ini sudah saya abaikan begitu lamanya, dan saya berencana ingin meneruskannya kembali. Maaf atas segala kekurangannya, saya akan coba benahi sedikit demi sedikit  kok *bow*

Advertisements