“Dan kami bertemu di bawah lampion merah saat malam festival itu. Sejak pertama melihat Luhan gege, aku sudah yakin jika aku telah jatuh pada pesonanya bahkan pada  pandangan pertama,” ucap Suri berapi-api, sementara salah satu bibir Luhan berkedut naik,  tersenyum.

 

“Oh, bagus sekali,” komentar Ibu Sehun dengan senyuman yang belum pernah memudar sejak tadi, sementara Sehun mendengus tak suka. Gerakan sekecil apapun membuatnya jengkel setengah mati, apalagi saat telinganya mendengar segala pujian penuh pemujaan yang keluar dari bibir  Luhan untuk adik perempuannya di antara obrolan tak bermutu ini.

 

Apa kau tahu? Sehun tak mempercayai pria bersurai cokelat madu itu. Ketika matanya melirik pada dua orang yang disebut-sebut sebagai keluarga Luhan, -si blonde tampan dan gadis pendiam yang sedari tadi hanya menatap salad mixed herb dan baby potato di hadapannya tanpa terlihat memiliki minat untuk menyantapnya sama sekali, Sehun masih menimbang-nimbang di dalam hati tentang apa-apa sajakah hal yang pernah ia lewatkan selama ia mengenal Luhan ‘dulu’, sampai-sampai ia tak mengetahui bagaimana bisa kedua orang itu menjadi kakak dan adik dari pria manis yang duduk tepat di hadapannya saat ini.

 

Sehun masih mengingat jelas bagaimana ia mengenal Luhan pertama kali. Saat kelas sebelas, ketika Sehun membuka loker miliknya di sekolah, ia melihat sepucuk surat kecil terselip di antara buku-buku dan kotak pensilnya yang berwarna kelabu. Ia mencabut surat itu, menatapnya dengan dahi berkerut sambil berjalan menuju ruang kelasnya. Saat ia membuka amplop pembungkusnya, sebuah kertas berbentuk serpihan salju terjatuh ke pangkuannya. Jantungnya berdebar keras sambil menebak-nebak apa isi surat itu. Ah, ia benar-benar tak berani memprediksinya. Ia ingat saat jantungnya semakin berdebam aneh ketika ia tahu apa isi suratnya. Sebuah surat cinta dari seseorang yang tidak ia kenal. Ia juga ingat bagaimana kerasnya ia mematri inisial ‘LU’ dalam ingatannya ketika ia memandang bagian bawah, tepat pada lipatan kecil surat cintanya dulu, dan bagaimana gemetar jari-jarinya saat ia tahu jika ia memiliki seorang pengagum rahasia yang menyukainya secara diam-diam.

 

Lalu mereka bertemu. Sehun tak tahu mengapa ia tak begitu terkejut ataupun merasa mual saat ia mengetahui jika pengagum rahasianya adalah seorang laki-laki. Sejak awal ia memang berada dalam wilayah abu-abu. Ia tak pernah mempermasalahkan pada siapa ia akan jatuh cinta. Lagipula, siapa yang mampu mengabaikan pesona Luhan? Bagaimana ia bisa menolak wajah semanis itu?

 

Ketika Sehun memandangi iris cokelat Luhan, ia selalu bertanya-tanya dalam hati, dari planet manakah pria indah ini datang. Mereka sering mengobrol sampai larut melalui akun sosial media mereka, melewati hari-hari indah dalam kebersamaan, dan di setiap waktu yang bergulir, Sehun menyadari jika dirinya semakin terpuruk jatuh dalam cinta. Tidak masuk akal? Mungkin.

 

“Sehun. Hei, Sehuna!”

 

Sehun tersentak dari memori masa lalunya ketika mendengar namanya dipanggil. Ia menatap ibunya yang tampak bingung dan khawatir, kemudian ia merasakan jika semua orang sedang menatapnya sampai-sampai ia merasa tubuhnya dilubangi di sana sini. Ia hanya diam saat ibunya menanyakan tentang apa yang mengganggunya, kemudian percikan emosi muncul begitu saja saat matanya terpaku pada Luhan. Shit! Sehun mengutuk dalam hati. Pria berambut cokelat madu itu sedang tersenyum padanya. Bukan senyuman manis seperti senyuman pria indah pada masa lalunya, namun senyuman licik di antara wajahnya yang sekarang berubah menjadi sedingin es. Ada yang tidak beres pada Luhan, Sehun sangat yakin pada hal itu

.tumblr_myxgh7x2yi1spfopmo1_500


– Affrontement Chapter 2-


Luhan memijit pelipisnya begitu kuat sambil memejamkan mata, hingga ia tak dapat merasakan lagi gesekan meja pada kulit sikunya. Kris telah memberinya tiga tablet Aspirin, yang baru saja ia telan tanpa air minum sampai-sampai ia hampir tersedak saat melakukannya, namun rasa nyeri yang mendera kepalanya belum juga mereda. Ia tak tahu apa yang membuatnya begitu sakit, entah memang ada yang tak beres pada otaknya, ataukah rasa takutnya sendiri begitu besar hingga efeknya merambat sampai ke kepala? Entahlah.

 

“Kris, aku butuh obat pereda rasa nyeri yang lebih ampuh, serius,” kata Luhan sambil menepuk-nepuk bagian atas kepalanya agak kesal.

 

“Apa rasanya sakit sekali?” Kris bertanya sembari meraih pergelangan tangan Luhan, menghentikan gerakan bodoh pria manis itu, sementara Luhan menatapnya tak suka. “Menurutmu?” jawab Luhan dengan nada ketus dan menarik tangannya dengan gerakan kasar, namun Kris malah menertawainya.

 

“Biarkan ia melakukan hal-hal gila honey.  Kau bisa ikut aku ke lantai atas? Aku ingin tidur”, celetuk seseorang yang baru saja menghabiskan sisa wine miliknya di kursi paling sudut, membuat tatapan Kris dan Luhan beralih padanya. “Aku lelah dan mengantuk,” kata pria mungil di pojok itu sambil menarik wig dari kepalanya.

 

“As you wish, my Princess.”  Kris melemparkan senyum lembut sambil beranjak.

 

Desah mengenaskan meluncur melalui celah bibir Luhan. “Aku membutuhkan teman untuk bicara, Baek,” Luhan menatap si mungil itu dengan tatapan memohon, “kalau kau tidak keberatan,” ucap Luhan putus asa, namun Baekhyun hanya meliriknya dengan dagu yang terangkat, bersikap tak peduli. Pria mungil itu malah mencampakkan wignya di atas meja agak kasar, dan menyeka lispstik merah darahnya dengan punggung tangan tanpa bicara. Jarinya yang juga berkutek merah meraih sisian leher Kris dan memeluk pria tinggi itu dengan senyuman, tak peduli pada penampilan wajahnya yang tampak aneh karena noda lipstik mengotori hampir sebagian pipinya. “Aku keberatan,” akhirnya ia bicara tanpa melirik Luhan, kemudian berlalu begitu saja sambil menyeret Kris menuju lantai atas.

 

Luhan mendengus, menatap kepergian kedua pasangan ‘panas’ itu dengan darah yang berdenyut-denyut di pelipis. Oh Tuhan, jangan sekarang, – pikir Luhan putus asa. Perasaan muak seperti ini tak seharusnya muncul di saat-saat yang kurang tepat, setidaknya untuk kali ini saja. Ia pusing, dan ia tak membutuhkan apapun kecuali teman bicara, sialnya ia tak bisa mengajak siapapun untuk bicara saat ini. Bayang-bayang wajah tipis pria masa lalunya semakin menusuk tajam, menembus otak. Akhirnya ia dapat melihat wajah itu lagi untuk pertama kalinya hari ini setelah sekian lama ia hanya dapat membayangkannya saja. Padahal ia telah bertekad untuk membenci pria itu selama tahun-tahun terakhir, namun segalanya kacau setelah ia bertatapan langsung dengan dia. Padahal Luhan sangat yakin jika dirinya adalah pemuda yang optimis. Lagipula ia yakin jika aktingnya seharian ini sangat bagus, serius. Tapi pada kenyataan sebenarnya, ia takut menghadapi esok ataupun lusa. Perasaan aneh itu masih saja sama, dalam dirinya. Tapi sepertinya tidak untuk dia.  Melihat tatapan tajam dan muak pria pucat itu saja, Luhan sudah merasakan jika darahnya turun secara bersamaan lalu berkumpul di telapak kaki. Bagaimana ia akan membalaskan dendam jika hatinya saja telah berkhianat sebelum ia bertindak? Ah, ia butuh alkohol sekarang. Terkadang ia merasa jika benda cair itulah sahabatnya. Satu-satunya yang memahami setiap mimpi buruknya.

 

Dengan langkah terseok, Luhan melangkah menuju kamarnya. Setelah melewati pintu kamar dan menutupnya kembali, ia melucuti seluruh pakaian mahal yang ia kenakan lalu menyambar celana panjang hitam tebal serta sweater magenta dari lemari. Ledakan emosi membuatnya jatuh berlutut dan ia terisak tanpa ia inginkan. Ia merangkak bodoh menuju kaki ranjang dengan lutut kurusnya yang berderit menyakitkan pada kayu beech yang sudah di amplas, kemudian meraba bagian bawah ranjang sambil meyakinkan dirinya jika ia pernah menyimpan satu botol gin disana dan semoga saja masih ada. Ia menyandar duduk pada sisian ranjang dengan bokong yang menempel pada lantai, memegangi botol gin seperti orang tolol sambil menatap bayangannya sendiri pada cermin yang menempel pada lemari beberapa  meter di depannya. Dalam cahaya lampu yang agak redup, kulitnya tampak suram dan kumal. Matanya berair dan keseluruhan wajahnya tampak mengerikan meskipun bibirnya masih terlihat memikat.

 

Luhan mulai menikmati minumannya untuk menenangkan diri. Rasa pedihnya harus ia buang, lalu ia harus mencoba membekali dirinya sendiri agar ia berani menghadapi segalanya, melakukan sesuatu. Dan satu-satunya yang membuatnya selalu merasa lebih baik, hanyalah alkohol. Aku tak akan menyerah. Setidaknya aku harus bisa membuatnya merasakan kepedihan yang sama, -pikirnya selagi ia menempelkan mulut botol itu pada bibir, memberikan sahabat kecilnya ini kecupan panas seperti malam-malam sebelumnya.

*****

“Pokoknya aku menentang keras jika kau menjalin hubungan dengan  pria itu!” sela Sehun agak berteriak di antara pembicaraan aneh mengenai rencana pertunangan Luhan dan Suri, tak peduli jika semua orang menatapnya heran sekaligus terkejut.

 

“Kenapa jadi kau yang terlihat sangat terganggu dengan rencana pertunanganku dengan Luhan gege?” sahut Suri dengan intonasi tinggi. Kening Suri mengkerut dan matanya menyipit tajam, tampak marah dan juga tak terima. “Katakan saja terus terang bahwa kau merasa sangat iri! Aku mendapatkan apapun yang kuinginkan dan kau tidak! Aku menolak kau mengatur hidupku, Oppa! Aku tak bisa diperlakukan seperti ini! Aku tak akan menerimanya!” teriak Suri.

 

Sehun mendidih. Memang benar. Mengingat apa yang ia alami beberapa tahun lalu ketika ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus menikah dengan gadis yang tak ia cintai, sekaligus dipaksa berakting jika ia adalah pihak yang ‘harus’ terlihat benar-benar menginginkan perjodohan itu, rasanya sangat sulit menerima bahwa Suri mendapatkan apapun yang ia inginkan pada masa ini. Dia memang sedikit iri, tentu saja orangtuanya memahami hal itu, namun bukan itu satu-satunya masalah yang mengganggunya. Ia menyayangi Suri, meski bagaimanapun adiknya itu menunjukkan sikap menyebalkan padanya, dan dalam porsinya, Luhan bukanlah pria yang baik untuk mendampingi adik kandungnya karena banyak alasan yang memaksanya untuk berpikir begitu.

 

“Luhan bukan pria baik. Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa kau rela mengorbankan hidupmu begitu saja pada pria seperti itu,” Sehun menjawab, namun Suri tampak semakin emosi hingga gadis itu bangkit berdiri dengan amarah yang meluap-luap.

 

“Aku tak mengerti mengapa kau sangat ngotot mencegahku menjalin hubungan khusus dengan Luhan gege seolah-olah kau pernah mengenal dia sebelumnya, tapi aku akan memastikan bahwa kau tak akan mendapatkan apapun yang kau inginkan, Oppa. Aku tak akan membiarkan kau melakukan apapun yang bisa membuatku terpisah dari kekasihku, jadi sebaiknya kau berhenti berpikir untuk melakukannya,” Suri menjawab dengan wajah yang tampak memerah, lalu memilih pergi dari hadapan orang-orang sebelum ia kehilangan kontrol diri dan mengamuk pada kakak kandungnya sendiri, sementara Sehun tampak sangat geram dan juga emosi.

 

“Sehun, sebaiknya kau duduk.” Ayah mereka mengeluarkan suara rendah namun terdengar memerintah, membuat Sehun mengerang frustasi, tak peduli pada tatapan aneh dari kedua orangtuanya dan juga Youn Cha yang sedari tadi hanya diam di meja paling sudut. Ia menghempaskan bokongnya kasar kemudian meneguk air dengan suara keras.

 

“Sebaiknya kita bicara, Sehuna,” ucap Ibu Sehun dengan suara lembutnya namun tatapan wanita itu terkesan tajam dan juga menyelidik.

 

“Tidak eomma,” Sehun menolaknya mentah-mentah. “Biarkan aku tidur. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri,” lanjut Sehun. Ia beranjak lunglai dan melangkah ringan menuju tangga, pikirannya agak kacau dan ia juga merasa lemah. Ia mendengar ayah dan ibunya bertanya ini – itu pada Youn Cha, –menyelidik, namun ia tak peduli. ‘Bukan urusanku’ batinnya picik, dan ia tetap berjalan lurus menuju kamarnya, membiarkan Youn Cha menghadapi orangtuanya sendirian.

 

*****

Rokok yang ia hisap baru habis setengah batang, tapi Sehun terpaksa mendesakan bagian ujungnya yang menyala ke permukaan asbak karena kemunculan Youn Cha di ambang pintu kamar mereka. Sehun tak mengatakan apapun, hanya melirik sedikit sebelum ia buang lagi pandangannya dari Youn Cha. Wanita itu tampak kacau. Wajahnya tampak lelah, bahkan kini terlihat agak kesal saat menatap Sehun yang duduk dengan santainya sambil merebahkan tengkuk pada sofa, tanpa baju, hanya celana panjang hitamnya saja, dan tak mau menatap istrinya sendiri.

 

“Keterlaluan kau Oh Sehun!”

 

Sehun tertawa meremehkan. “Begitulah,” sahutnya santai.

 

“Harusnya kau tak meninggalkan aku sendirian disana!”

 

Bola mata Sehun berputar dan ia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Youn Cha. “Tak bisakah kau tenang sedikit?” ucapnya sembari mendesak tubuh Youn Cha menuju dinding, memenjarakan wanita itu dengan kedua lengannya. “Atau kau harus kubungkam dulu baru bisa diam?” bisiknya di sela-sela perpotongan leher Youn Cha, menghirup aroma wanita itu dengan hidung, cukup membuat Youn Cha membisu sambil menahan nafas. “Ayo layani aku, Cha ya~ Aku sedang dalam mood bagus kali ini,” Sehun mengecupi leher Youn Cha dengan gerakan lambat dan tangannya menyelip melalui lengan istrinya menuju pinggang wanita itu, menariknya sedikit kuat hingga tubuh mereka saling merapat tanpa celah. Helaan nafas Sehun terdengar berat, menggelitik kulit di bawah telinga Youn Cha, cukup membuat wanita itu gemetar karenanya.

 

“Kau ingin dilayani karena kau menginginkanku, atau karena kau marah?”

 

Gerakan Sehun terhenti. “Haruskah kau mengatakan hal seperti itu?”

 

“Aku ingin sekali bertanya, -”

 

“Aku tak ingin membahasnya,” potong Sehun dingin.

 

Youn Cha menghela nafas. Wajah Sehun mengeras, kelihatan sekali jika pria itu kesal, membuatnya merasa geli sendiri, karena itu Youn Cha tertawa karenanya. “Kau tahu, kau bisa menceritakan segala hal padaku Sehuna…Aku ini istrimu,” bisiknya sembari mengelus sisian rahang Sehun, tapi Sehun menolak, menyingkirkan tangan wanita itu dengan gerakan kasar dan berbalik menuju ranjangnya sendiri.

 

Youn Cha meniupkan nafas melalui mulut hingga poninya bergerak sedikit. Ia hanya diam dengan tangan bersedekap sambil menyandarkan punggungnya pada dinding, memperhatikan Sehun yang saat ini menarik selimut dan menenggelamkan dirinya sendiri ke dalamnya.

 

“Aku hampir tak tahan menghadapimu Sehun,” ujar Youn Cha dengan suara pelan.

 

“Kau boleh meminta cerai kalau begitu,” sahut Sehun dari balik selimut.

 

Fuck you Sehuna. Kau kira kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik kalau  kita berpisah?”

 

“Aku tak akan menikahi wanita manapun lagi kalau kita bercerai,” sahut Sehun.

 

“Oh ya? apa kau tahan?”

 

Sehun tertawa dan ia menurunkan selimut yang menutupi wajahnya.”Aku bisa menyewa pelacur saat aku menginginkan seks. Mudah bukan?” jawabnya geli.

 

“Keparat sialan!” maki Youn Cha. Wanita itu melangkah ringan menuju ranjang, menyambar bantal dan memukuli Sehun dengan bantal yang ia pegang hingga berkali-kali, sedang Sehun hanya tertawa-tawa tanpa membalasnya. Youn Cha baru berhenti saat ia merasa lelah. Wajahnya masih tampak kesal, membuat Sehun menjadi tak tega juga pada akhirnya.

 

“Kemarilah,” kata Sehun, melebarkan lengan kanannya dan menarik Youn Cha dengan tangan kiri. Istrinya hanya diam dan berbaring patuh di lengan kanan suaminya. Ia memang istri penurut, bahkan sangat penurut. Karena itulah terkadang Sehun merasa bersalah. Youn Cha terlalu baik untuknya, namun wanita itu tetap bertahan disisinya, entah mengapa.

 

“Ayo kita tidur saja Sehun,” gumam Youn Cha lemah.

 

“Hmm,” gumam Sehun menjawab, memeluk tubuh Youn Cha erat dan memejamkan mata.

 

*****

Aku tidak bisa bernapas. Rasa dingin merayapi punggung, dan aku mencengkram papercup besar berisi popcorn milikku begitu keras tanpa kusadari, sampai isinya berhamburan keluar. Waktu seolah terhenti dan suara-suara menghilang. Pandangan sekelilingku tiba-tiba blur, hingga tak menyisakan apapun lagi kecuali objek sempurna di bagian tengah, dimana pria manis itu berdiri. Ia tampak kikuk. Rambutnya berwarna cokelat madu agak ikal di bagian ujung. Matanya berkilauan, menambah kesempurnaan wajahnya. Kami bertatapan agak lama, dan meskipun ia terlihat canggung, ia melemparkan senyuman pada akhirnya. Hatiku benar-benar meleleh, entah mengapa.

 

“H -hai.”

 

Suara pertamanya yang kudengar.

 

“Sehun,” kataku.

 

“Ya, aku tahu,” jawabnya canggung. “Aku Luhan,” katanya sambil menunduk kikuk.

 

“Yeah, aku juga tahu,” jawabku agak geli.

 

Sesungguhnya, aku sama canggungnya dengan dia. Kami sudah sering berkomunikasi lewat media sosial, tapi tetap saja suasananya berbeda saat kami bertemu langsung.

 

“Sepertinya filmnya sudah akan diputar. Kita masuk?” tawarku, dan ia mengangguk. Itu  adalah pertemuan pertamaku dengannya.

 

Luhan sedikit bicara, awalnya. Namun semakin lama aku mengenalnya, ia bicara lebih sering. Ia suka berkelakar. Ia sempurna bagiku. Aku menyukai saat-saat dimana aku bisa mencium aroma rambutnya ketika ia tertidur di bahuku. Aku suka melihatnya tertawa, dan aku menyukai suaranya yang lembut. Aku suka warna rambutnya. Aku suka matanya, bibirnya. Segala yang ada padanya, aku menyukainya. Karena itulah, aku tak pernah menghalangi keinginanku untuk memilikinya. Bukankah dia juga menyukaiku? Dia telah menjadi milikku sejak awal.

 

“Luhan, kau masih menyukaiku kan?” tanyaku di antara obrolan kami mengenai musik country di malam basah di penghujung Juli. Ia tampak malu saat aku menanyakan perasaannya. Ia tak menjawab dengan suara, namun ia mengangguk kecil meskipun ia tertunduk dalam setelah ia mengakuinya, membuat sesuatu meledak di dalam diriku dan membuat perutku terasa diaduk-aduk karena terlalu bahagia. Bagaimana bisa ia terlihat begitu menggemaskan? Ia lelaki yang hampir dewasa, tapi ia sangat lucu seperti bayi. Kugenggam jemarinya yang sejak tadi hampir tak terlihat karena ia meremasnya terlalu kuat. Ia menatapku entah dengan tatapan apa. Iris cokelatnya berkilauan dan bibir bawahnya menghilang karena ia gigit sendiri, membuatku melupakan di dunia mana aku bernapas. Lalu aku kehilangan kontrol diri. Aku menarik wajahnya dan kukecup bibirnya dalam-dalam. Ia tak menolak, hanya diam mematung dalam rengkuhanku. Aku tak peduli. Kulumat bibirnya pelan, dan aku melakukannya sepuas hati meskipun ia tak membalasnya.

 

“Apa kau tahu? Aku juga menyukaimu Luhan,” bisikku di telinganya malam itu, setelah aku puas menikmati bibirnya. Ia tak bicara. Ia hanya diam dan memalingkan wajah, menghindari tatapanku. Namun meskipun begitu, aku menangkap senyuman di wajahnya meskipun samar, membuatku yakin jika ia memang menyukaiku juga.

 

*****

Sehun tersentak. Matanya terbuka tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul satu malam, dan ia terduduk dengan keringat yang membasahi kening. Ia mengerang sambil menjambak helaian rambutnya yang agak basah oleh keringat. Youn Cha menggeliat di sampingnya, membuat tatapannya beralih. Istrinya tampak kedinginan dan menggigil, namun Sehun tak peduli. Ia menurunkan kakinya dari ranjang, dan melangkah menuju lemari. Ia menyambar sweater rajutan yang sangat tebal lalu memakainya, kemudian ia melangkah ringan menuju balkon. Wajahnya mengeras ketika ia melihat butiran air yang tumpah dari langit. Hujan sangat deras, dan ia membencinya. Hujan membuatnya merasa muak, semuak ia pada dirinya sendiri.

 

“Sialan.”

 

Sehun terkekeh menyedihkan ketika bayangan Luhan kembali menguasai pikirannya. Bahkan kini ia dapat melihat bayangan Luhan yang sedang tersenyum di antara ribuan air hujan.

 

“Argh! Kenapa kau harus muncul lagi di hadapanku?”

 

Sekali lagi Sehun meremas rambutnya sendiri, dan ia memejamkan mata. Opsi yang salah. Matanya yang terpejam justru membuat bayangan Luhan menjadi tampak semakin nyata dalam pikirannya, dan ia jadi semakin membenci dirinya sendiri. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, dengan rahang bergemeretak dan pelipis yang mengeras.

 

“Sialan. Sialan kau Luhan. Aku akan menyingkirkanmu secepatnya, brengsek!” umpatnya ketika ia membuka mata.

*****

Hampir pada waktu yang sama ketika Luhan melangkah melewati pintu berpelitur mengkilap rumah keluarga Oh,  tubuhnya seolah remuk setelah punggungnya menghantam dinding. Ia mengerang kesakitan dengan mata terpejam, dan ia menemukan ekspresi keras Sehun tepat ketika ia membuka mata. Luhan tercekat. Iris kelam Sehun membawanya ke alam yang berbeda. Punggungnya seperti dilumuri oleh es yang mencair, terasa dingin dan juga ngilu. Ia agak takut, namun ia memaksakan dirinya melemparkan senyuman licik pada Sehun untuk menantang.

 

“Lepaskan aku,” ucap Luhan dingin, tapi ia kembali mengerang ketika bahunya diremas sangat kuat oleh Sehun.

 

“Untuk apa kau kembali di hadapanku?” Sehun bertanya dengan gusar, dan nafas yang memburu emosi.

 

“Percaya diri sekali kau,” ucap Luhan setelah ia mengeluarkan kekehan meremehkan, -“bukan kau yang kutuju, Oh Sehun.”

 

“Omong kosong!”

 

“Terserah,” sahut Luhan. Ia mendorong Sehun sekuat tenaganya namun tanpa ia duga, jari-jari Sehun lebih cepat menjerat lehernya, sangat kuat hingga ia merasa akan mati.

 

“Se..hun..lep..as,” Luhan memohon dengan wajah yang mulai membiru, namun Sehun tak peduli dan menunjukkan senyum sinis dengan mata yang menyala-nyala di hadapannya.

 

“Aku berpikir semalaman dan tak ada opsi lain yang terpikirkan olehku selain menyingkirkanmu secepatnya dari hidup kami, ” -Sehun menyeringai, “aku akan membunuhmu Luhan.”

 

“Ti..dak..” ucap Luhan lemah, dan ia merasakan kunang-kunang memenuhi kepalanya. ‘Tidak! Aku belum mau mati!’ Luhan berteriak dalam hati.


To Be Continued-


Fanart : Donna Lily 

Advertisements