“Apa yang harus kulakukan agar kau bahagia?”

 

“Sangat mudah. Enyah saja dari hidupku, maka aku akan bahagia.”

aff


AFFRONTEMENT


HunHan | Yaoi | Mature | Hurt & Comfort | Romance

Mata Luhan terbuka nyalang. Keadaan seperti ini memang selalu terjadi setiap malam, sesuai prediksinya. Amarah. Ego. Dendam. Semua hal buruk itu mencokoli batinnya dengan erat seolah tak ingin berpaling, menggerogoti isi bagian dalam hatinya sampai mati rasa. Kalimat tak mengenakkan yang selalu berputar konstan di setiap waktu tidurnya menohok seperti tegangan listrik, mengisi baterai usang dalam otaknya, membuatnya panas dan kembali teringat pada kenangan hidupnya yang paling kelam. Setelah itu ia pasti akan terjaga sepanjang malam, membiarkan punggungnya menyandar tegak, membiarkan dirinya menyadari setiap keadaan, membiarkan kepalan tangan merespon suara otaknya dengan remasan geram pada selimut perak milik Kris, dan rahangnya yang bergemeretuk tajam.

 

“Cukup. Sudah saatnya untuk berkonfrontasi.”


Chapter – 1


Keremangan itu penuh dengan suara wanita. Sehun tersenyum miring, asap Silk Cut keluar dari hidungnya. Hisapan terakhir, dan ia melemparkan puntung sisa rokok itu ke lantai, menginjaknya.

 

“Ah Darling, kau tampak luar biasa.”

 

Sehun menoleh dan matanya menemukan rambut burgundy berpotongan tanggung melambai di antara keremangan cahaya lampu pesta. Gaun putih cemerlang berukuran mini menonjolkan lekuk seksi si rambut burgundy terutama bagian dada dan pinggulnya yang menggoda. Kelopak mata wanita itu dipoles eyeliner hitam tebal dan bulu mata hasil produksi pabrik menempel disana, menantang lentik ditambah dengan bibir merah merekah yang tampak sensual.

 

“Selalu, setiap saat. Harusnya kau terbiasa dengan kesempurnaan yang ada padaku.”

 

Si burgundy  melepaskan nafasnya dari hidung, mendengus. “Bangga sekali.”

 

“Yeah, sedikit,” jawab Sehun, dan si burgundy melirik dengan mata yang memicing. “Maksudku, banyak,” ralat Sehun.

 

Wanita itu menggeleng kecil dengan bola mata berputar bosan, “sayang sekali kita sedang berada di tempat ini,” ujarnya sambil merapikan helaian ikalnya dengan jari tangan.

 

“Kalau di tempat lain?” tanya Sehun dengan senyuman penuh arti di bibirnya, “maksudku, alangkah baiknya jika kita sedang berada di kamar kita saat ini,” lanjutnya.

 

Si burgundy terkikik, jarinya yang berkutek ungu menelusup ke bagian depan kemeja hitam Sehun, sedikit menggesek kulit perut pemuda itu dengan ujung kukunya. “Mungkin sebaiknya kita tidak usah datang tadi. Hanya pesta anak-anak kecil, sementara ranjang mahal kita menjadi beku karena tak dipakai bergulat semalaman. Oh shit, aku lupa jika ranjang itu memang selalu beku.” Ekspresi wanita itu mengeras sedikit, namun ia terkekeh setelahnya meskipun terdengar aneh, seperti sedang mendecih sinis.

 

“Suri adalah adikku,” Sehun melemparkan tatapan tak menyenangkan yang membuat si rambut burgundy itu tergelak dalam tawa.

 

“Oke-oke. Jangan terlalu galak pada istrimu sendiri, Oh Sehun.” Ucapan yang membuat alis Sehun naik sebelah dengan ekspresi seperti mengharapkan tamparan mesra di pipinya dengan sukarela. “Bagaimana kalau kita pulang?” tanya wanita itu sembari memainkan ujung jari telunjuknya pada lingkaran pusar suaminya.

 

Sehun tekekeh mendengar pertanyaan penuh makna itu.Telapak tangannya menghampiri helaian rambut istrinya yang harum, dan dalam sekejap telah berpindah turun  ke bagian bokong padatnya. “Apa yang akan kita lakukan di rumah?” ia bertanya sok polos.

 

“Hanya hal-hal kecil,” jawab istrinya sambil mengerling.

 

“Kau sukses menggodaku, Cha ya~”

 

“Tergoda?” wanita itu sedikit melebarkan mata bulatnya, sedikit ragu jika ia baru saja mendengar suara Sehun dengan jelas.

 

“Aku baru saja mengatakannya, kurasa. Kau selalu sukses menggodaku.”

 

“Tapi tak selalu berhasil menggiringmu ke ranjang dan melakukan segala hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri,” Youn Cha melirik sekilas dan menemukan wajah suaminya yang datar tanpa ekpresi, “sebenarnya aku masih ragu dengan pernyataan cintamu dua tahun lalu,” lanjutnya.

 

“Jika kau berpikir seperti itu, aku bisa apa? itu hak mu,” jawab Sehun bosan. “Aku menyentuh tubuhmu di setiap bagian, jangan pura-pura lupa.”

 

Youn Cha membuang nafas melalui mulut sampai poninya bergerak sedikit. “Lupakan dialog membosankan ini, Oh Sehun. Oh…coba kau lihat si pirang di pojok sana. Namanya Orlando Gossett, 17 tahun. Umm, bule. Kupikir dia menyukaiku. Sejak tadi dia mencuri-curi pandang ke arahku sambil mengedipkan mata sesekali.”

 

“Lalu?”

 

Youn Cha mendengus agak keras. “Aku sedang berusaha membuatmu cemburu, Oh Sehun!” katanya kesal.

 

“Ha. Ha. Hahaha.”  Sehun tertawa dengan nada aneh sambil menutup hidung dengan tangan kirinya, hingga wajah Youn Cha tampak memerah, lebih merah ketimbang lipstik Mon Rouge.

 

Fine. Kukira dia tampak lebih seksi dari kau, jadi aku-”

 

“Tidak heran,” potong Sehun, “standar pria seksi mu selalu berubah-ubah setiap waktu, sudah biasa.”

 

Youn Cha terdiam, begitupun Sehun.

 

“Oke. Aku menyerah. Aku akan berhenti mengganggumu, lalu berjalan ke arah sana dan mencium si Orlando itu dalam-dalam,” ancam si wanita, tapi Sehun mendecih tak peduli.

 

“Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, aku tak akan pernah melarangmu,” jawabnya dengan suara sebeku es, dan ekspresi yang tak jauh berbeda dengan suara yang keluar melalui kerongkongannya. “Pergi.” Sehun melepaskan telapak tangannya dari bokong padat seksi mlik Youn Cha, mengusir istrinya secara terang-terangan dengan ucapan, sementara Youn Cha menghentakkan heels nya kesal dan berbalik pergi dari tempat itu.

 

Setelah Youn Cha berlalu, Sehun mengusap seluruh bagian wajahnya dengan telapak tangan, sedikit menarik nafas berat hingga urat pelipisnya terlihat. Sehun agak kesal, tapi ia mencoba meredamnya dengan susah payah. Tangannya menyambar salah satu gelas berisi White Russian dari baki seorang pelayan berseragam putih-hitam yang baru saja melintas dengan tergopoh-gopoh di depannya. Sambil menikmati sampanye yang tidak enak itu, ia membawa pandangannya menjelajah di antara kerumunan tamu yang hampir rata-rata adalah remaja di bawah usia dua puluh tahunan. Suri, adiknya, mengenakan gaunbackless hitam ketat, memamerkan bentuk tulang punggungnya yang bagus dan kulit seputih saljunya yang tampak cemerlang. Beberapa pria menatap adiknya itu dengan tatapan memuja seolah Suri adalah mutiara hitam langka bernilai jual tinggi. Sampai saat inipun Sehun tak tahu yang mana di antara pria-pria tampan teman Suri itu  yang merupakan kekasihnya. Suri tak pernah menunjukkannya, meskipun di hadapan keluarganya sendiri. Bahkan Suri dengan jelas mengatakan jika pesta ini adalah realisasi dari rasa bahagiaannya karena ia sukses membuat ‘kekasih rahasianya’ itu menikahinya bulan depan, sialnya sosoknya masih saja menjadi misteri.

 

Sekali lagi si pelayan yang sama melintas, dan ketika ia melihat Sehun, gerakan tubuhnya tampak kikuk, seolah dapat menjatuhkan apa saja yang ia bawa ditangannya sewaktu-waktu. Pelayan itu berdiri di hadapan Sehun, melihat gelas sampanye yang berada dalam genggaman Sehun dengan tatapan ragu, menarik minat Sehun untuk ikut menatap gelas yang sama, yang ternyata masih menyisakan sedikit cairan di bagian dasarnya.

 

“Bawalah,” ucap Sehun sembari mengembalikan gelas itu, dan si pelayan membungkukkan badannya sebelum akhirnya kembali tergopoh-gopoh menuju ruangan bersih-bersih.

 

Sehun menghisap udara hingga hidungnya terasa agak perih, menatap kerumunan remaja yang asik bercengkrama di bawah sinar lampu strobo. Lalu pandangannya beralih ke bagian kiri agak ke bawah, di lantai dansa, tempat dimana pinggul bergoyang dan payudara berayun-ayun mengikuti hentakan musik cepat yang menggema di ruangan itu. Sepertinya ia hanya minum sedikit, tapi saat ini kepalanya agak terasa berat. Seharusnya ia sadar jika ia sangat buruk ketika menghadapi alkohol. Agak terhuyung, ia berjalan menuju ke arah lantai dansa. Ah bukan-bukan. Maksudnya ke deretan sofa duduk di sekitar situ. Lampu yang berkedip-kedip membuat kepalanya semakin berputar, apalagi melihat sekitar tiga puluh remaja autis berjingkrak-jingkrak di depannya. Gelegar musik dan hentakan kaki menjadi begitu jelas terdengar melalui speaker  dari tempat ini, lalu untuk pertama kalinya, Sehun merasakan desakan pertama untuk menertawakan perjalanan hidupnya sendiri. ‘Sangat lucu,’ pikirnya, dan entah apa yang membuatnya kesal tiba-tiba pada dua orang remaja pria yang bergoyang erotis padahal jelas-jelas irama musiknya tak mendukung mereka melakukan itu,- dan ketika kedua remaja pria itu berciuman, rasa-rasanya Sehun ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke dasar lautan yang paling dalam.

 

“Homo menjijikkan. Payah. Dasar sampah.”  Ia terus menerus mengumpat tanpa henti sambil meremas helaian rambutnya sendiri, lalu tiba-tiba saja pipinya ditepuk pelan oleh seseorang. Agak samar, Sehun menangkap bayangan wajah adiknya. Suri mendesah lelah sambil membantunya berdiri.

 

“Kau mabuk, sebaiknya kau pulang saja.”

 

Dan Sehun hanya menjawabnya dengan gumaman kecil di bawah intensitas pengaruh alkohol, lalu 20 menit kemudian, ia merasakan jika tubuhnya telah terbaring nyaman di atas ranjang tidurnya sendiri, membawanya ke alam mimpi.

*****

Menu sarapan yang tidak disukai oleh Sehun tersaji dipermukaan meja makan panjang di hadapannya. Suri duduk di kursi kedua dari sudut, menikmati ikan mackerel miliknya dengan anggun, tak melirik ke arahnya sama sekali meskipun Sehun tampak sibuk menuangkan susu cair ke gelasnya sendiri. Gadis itu hanya diam sambil memotong ikannya mejadi kecil-kecil sambil memasukkannya ke mulut satu persatu. Demi menuntaskan rasa lapar, Sehun menyambar dua slice roti tawar, mengolesinya dengan cokelat sebelum menggigitnya dari bagian ujung terlebih dahulu.

 

“Kalian melewatkan sarapan tanpa menungguku, tega sekali,” suara keluhan dari arah tangga membuat Sehun dan Suri menoleh. Youn Cha menggeliat dan menguap di anak tangga ketiga dari bawah, pangkal pahanya terlihat saat ia menggeliat sekali lagi sambil mengangkat tangannya sendiri.

 

“Duduklah,” Sehun menarik kursi di sebelahnya dan menyuruh Youn Cha datang dengan isyarat mata, lalu tersenyum saat istrinya itu berdiri di sampingnya sambil merangkul bahunya, sedikit mengelus bagian samping lehernya.

 

“Kakak ipar, apa hari ini kau sibuk?”

 

Youn Cha mendongak sambil menempatkan bokongnya pada kursi di samping kursi duduk suaminya, menatap Suri yang jelas-jelas bebicara padanya dengan tatapan penuh tanda tanya. “Tidak,” jawabnya.

 

“Temani aku memilih gaun untuk besok dan untuk besoknya lagi,” jawab Suri.

 

Mata Youn Cha berbinar. “Ah, dia akan datang?” tanyanya penuh minat, dan Suri mengangguk kecil. “Bagus sekali! Jadi besok kita semua pada akhirnya akan melihat bagaimana sosok pria yang berhasil menaklukkan hati nona Suri yang agung,” ujar Youn Cha penuh semangat, membuat kening Sehun berkerut sedikit.

 

“Kau masih 19 tahun, Suri ya~” Sehun mencoba mengingatkan, berhasil membuat Suri mengalihkan pandangan ke arahnya.

 

“Aku tahu,” jawab Suri penuh penekanan.

 

“Umur 19 tahun bukanlah umur yang cukup untuk menikah, kau harusnya bisa memikirkan hal yang sesimpel itu. Kau masih terlalu muda,” ujar Sehun, kembali memulai perdebatan seperti hari-hari sebelumnya. “Oh salah, menurutku kau masih terlalu kecil, bahkan.”

 

“Aku sudah lelah membahas hal yang sama berulang-ulang, Oppa. Apapun yang kau katakan, aku tetap tidak ingin mengubah keputusanku. Aku akan menikah muda,” jawab Suri.

 

“Kau menginginkan hal itu karena kau tak tahu bagaimana susahnya kehidupan setelah menikah,-”

 

“Susah seperti yang kau jalani dengan Cha Eonnie?” potong Suri, menyindir, hingga membuat wanita cantik di samping Sehun memasang ekspresi muram di wajahnya, bahkan Sehun dapat merasakan jika tangan Youn Cha mengepal kuat karena kalimat adiknya itu.

 

“Jangan bahas tentang aku dan istriku. Kita sedang membicarakan masa depanmu saat ini,” jawab Sehun agak kesal.

 

“Masa depanku tak ada urusannya denganmu. Aku mencintai kekasihku dan aku ingin memilikinya secepat mungkin, jadi jangan usik hidupku. Ini masalahku sendiri,” balas Suri sarkastik.

 

Sehun mendesah lelah. “Aku adalah kakakmu, kakak kandung,” katanya penuh penekanan dalam setiap kata di kalimat itu.

 

“Aku sadar,” jawab Suri acuh tak acuh.

 

“Lalu?”

 

Suri menatap kakaknya dengan ekpresi kesal yang tidak dibuat-buat. “Lalu bukan berarti kau bebas mengatur hidupku sesuka hatimu!” katanya agak berteriak, jengkel sekali.

 

“Kau tidak pernah membawa kekasihmu di hadapan kami, lalu kau tiba-tiba mengatakan ingin menikahinya. Kau pikir kau bisa melakukan semua itu? Kami butuh tahu siapa dia, latar belakang pendidikannya, bagaimana keluarganya, dan segala hal tentang dia. Dia adalah pria yang kau pilih sebagai calon suamimu, kuingatkan kalau kau lupa.”

 

“Aku tidak mau hidup seperti kau! Menikah karena perjodohan, kemudian mengeluhkan tentang nasib sialku seumur hidup!” balas Suri sengit.

 

“Sehun menyatakan cinta padaku, bukan terpaksa menikahiku karena perjodohan!” Youn Cha menatap Suri dengan wajah masam, merasa tersinggung dan berusaha membela diri, tapi Suri malah mendecih sinis.

 

“Seharusnya kau sadar jika semua pernyataan cinta kakakku itu adalah palsu.”

 

“Oh Suri!” bentak Sehun, mulai merasa kesal setengah mati.

 

“Tutup mulut kalian, dan jangan campuri urusanku lagi!” kata Suri sambil membanting sendoknya dan berdiri. “Kalian tidak berhak mengatur-atur hidupku seperti itu, urusi saja pernikahan kalian yang sudah di ujung tanduk.”

 

Sehun melihat Youn Cha kehabisan kata-kata. Istrinya itu memegangi lehernya sendiri dan tampak begitu frustasi, memandang tak percaya pada punggung Suri yang berjalan sambil menghentakkan kaki pada anak-anak tangga.

 

“Oh Tuhan. Aku tidak percaya ini terjadi…” kata Youn Cha sambil menepuk-nepuk lehernya sendiri. “Aku merasa terhina dan dipojokkan, bahkan aku tidak pernah mengatur hidupnya. Aku mendukungnya seribu persen untuk melakukan apapun yang dia suka dan dia membalasnya dengan memperlakukanku seperti ini?” Youn Cha berhenti sejenak dan mengambil nafas dengan susah payah sebelum akhirnya memposisikan tubuhnya agar berhadap-hadapan dengan Sehun. “Kau! Kau yang melakukan itu dan aku yang mendapatkan penghinaan dari adikmu!” teriak Youn Cha sambil menekan-nekan dada Sehun dengan  ujung jari telunjuknya. “Dan apa benar jika pernikahan kita serumit itu? Kau terpaksa mencintaiku, lalu apa? kau mau bercerai?” tuntut Youn Cha penuh kekesalan, namun wanita itu sudah buru-buru berbalik dan berjalan menghentak-hentak persis seperti yang dilakukan Suri tadi, meninggalkan Sehun bahkan sebelum Sehun sempat menjawab pertanyaannya.

 

“Sialan.” Sehun mengumpat kesal, lalu membuang nafas dan memijit keningnya sendiri, pusing. Ia mencoba menetralkan emosinya dan kembali menyambar sarapannya. Namun hanya dalam sekejap, ia telah membanting roti tawarnya dan berdiri dengan gusar. Selera makannya sudah hilang. Tak ada yang tersisa sama sekali selain rasa kesal setengah mati. Segalanya dimulai dengan sangat buruk hari ini. “Brengsek. Payah sekali.” Ia kembali mengumpat, lalu bergegas menyusul Youn Cha untuk memperbaiki keadaan. Wanita itu tak bersalah. Ini salahnya.

*****

Pyeongchang-Dong diselimuti oleh awan tebal. Melalui kediamannya, Sehun menatap jendela-jendela ruang makan rumahnya yang panjang dan elegan, meskipun pemandangan di luar rumah hanya memperlihatkan kabut ekstoplasma sejauh mata memandang, maksudnya tidak terlalu jauh dalam kondisi sebenarnya. Sebaliknya, pemandangan di dalam terlihat seperti sekolah khusus bagi para kaum bangsawan kuno,- rak buku menjulang tinggi, perapian mewah berhias lambang keluarga, dan barang-barang antik bernilai jual tinggi yang diletakkan dimanapun hampir di setiap sudut rumah.

 

Sehun mengamati gerak-gerik ayahnya yang beberapa kali tampak memperbaiki letak kacamata minus silindernya, terlihat sibuk memperhatikan desain bangunan Bio Climatic Solar House yang terletak di negara Perancis sana. Sejak ia lahir, ia telah mengenal ayahnya sebagai arsitek paling populer di negara ini. Sedangkan ibunya yang berprofesi sebagai Jaksa, terlihat sibuk membersihkan debu-debu yang menempel di gorden jendela ruang makan mereka dengan pembersih super alternatif yang ia pesan melalui TV shop. Orangtuanya tak terlalu sering berada di rumah ini meskipun rumah ini adalah rumah induk. Mereka hanya akan muncul apabila ada sesuatu, dalam kasus ini, tentu saja karena puteri bungsu mereka hendak membawa calon suaminya ke rumah untuk berkenalan.

 

“Aku tidak habis pikir mengapa Suri ngotot sekali ingin menikahi pria tak jelas itu.” Sehun menyuarakan ketidaksukaannya sembari menghempaskan bokong di sofa duduk, bersebelahan dengan ayahnya. Pria tua yang di sampingnya hanya meliriknya satu kali dari balik kacamata yang ia kenakan.

 

Well, segalanya akan menjadi jelas sebentar lagi.”

 

Sehun mendengus mendengar jawaban ayahnya itu. Apa yang ia ingin dengar bukanlah kalimat yang memiliki makna setenang itu, tapi setidaknya kalimat dukungan bahwa ayahnya mungkin saja memiliki jalan pikiran yang sama dengan dirinya.

 

“Kalian menjodoh-jodohkan aku dengan Youn Cha, tapi kalian membiarkan Suri memilih calon pendamping hidupnya sendiri, bukankah ini tidak adil?”

 

“Jadi kau iri pada adikmu sendiri?”

 

“Iri?”

 

Kening Sehun berkerut-kerut dan hampir seluruh bagian wajahnya menjadi kusut seperti tissue toilet yang baru saja diremas seseorang akibat merasa kesal oleh sesuatu. Baru kali ini ia mengeluarkan kalimat protes seperti itu, lagipula ia sudah bersikap sangat baik selama 23 tahun hidupnya. Menjadi anak yang penurut sampai-sampai mengorbankan segala hal bukanlah jenis kehidupan yang ia inginkan, namun ia melakukan semua itu demi pria tua ini dan juga nyonya angkuh yang sedang membersihkan debu di pojok ruangan sana, tidakkah mereka mengerti?

 

“Aku menyayangi Suri..”

 

“Itu bagus,” jawab ayahnya tanpa menoleh, “memang sudah seharusnya seperti itu.”

 

Keduanya diam. Sehun memiih bungkam untuk menghindari perdebatan, sudah terlalu lelah beradu argumen dengan Suri terhitung sejak  3 minggu terakhir, dan ia tak ingin kembali mengalami semua itu bersama ayahnya. Keluarga ini memang tak pernah hangat, sejak dulu. Tak ada perubahan signifikan selama berpuluh-puluh tahun, selalu seperti ini, dingin seperti es di musim salju.

 

“Suri berani memastikan jika calon suaminya adalah pria terbaik di antara semua pria baik yang pernah kami kenalkan padanya.” Ayah Sehun meletakkan lembaran-lembaran kertas yang ia pegang ke atas meja kecil di samping sofa, kemudian menatap tepat pada bola mata Sehun melalui kacamatanya. “Kau tidak usah khawatir. Kita akan melihat seberapa bagusnya pria ini sampai-sampai gadis yang memiliki kepribadian sesulit adikmu pun mampu luluh seperti sekarang.”

 

“Lalu apa yang akan Appa lakukan jika ternyata kekasih Suri memang seperti itu?”

 

“Kita akan membuangnya, tentu saja,” jawab ayahnya sembari berdiri dan berlalu dari tempat itu.

 

Sehun tertegun. Masih tak berubah. Orangtuanya masih saja sama, persis sama seperti orangtuanya sepuluh tahun lalu. Dia pikir hanya dia yang akan mengalami segala hal tak menyenangkan melalui orangtuanya itu, namun ia yakin jika Suri juga berada di posisi yang sama seperti dirinya. Menyedihkan sekali menjadi dirinya dan juga Suri.

 

“Sehun, bantu aku, please.”

 

Sehun menoleh ke asal suara ketika namanya dipanggil. Di pintu antara ruang makan dan ruang tengah, Youn Cha berjalan terhuyung-huyung tepat di saat kantong belanjaan yang ia pegang menggembung keberatan,- tali kantongnya putus sampai-sampai seluruh isinya berjatuhan di lantai, beberapa sunkist oranye cerah bahkan menggelinding sampai ke arah anak tangga paling bawah.

 

“Oh tidak,” Youn Cha mengerang frustasi, “mereka akan datang beberapa menit lagi dan aku masih terlihat berantakan,” keluhnya.

 

Sehun tersenyum geli melihat tingkah istrinya. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita ini. Kepribadiannya begitu flat bahkan saat Sehun memperlakukannya dengan tidak baik. Youn Cha adalah tipe yang mudah meledak di saat ia tak suka akan sesuatu, namun sangat mudah melupakan semuanya. Mungkin hal itu adalah faktor utama mengapa Youn Cha tahan menjadi istrinya selama dua tahun terakhir. Jika Youn Cha adalah wanita yang memiliki perasaan halus seperti wanita-wanita pada umumnya, Sehun tak yakin jika ia masih menyandang status suami saat ini. Mungkin ia telah menjadi duda sejak lama.

 

“Kau tak perlu terlihat cantik dalam situasi ini. Disini superstarnya adalah Suri, bukan kau.” Sehun tergelak ketika mengatakan hal itu sambil membantu Youn Cha memunguti segala hal dari permukaan lantai, dan ia mengaduh saat lengannya dipukul oleh Youn Cha sebagai bentuk protes wanita itu atas ucapannya.

 

“Kau tak pernah sedikitpun membuatku merasa senang, dasar keparat!” Youn Cha memukul lengan Sehun sekali lagi, namun wanita itu tertawa seolah tak merasa tersinggung sedikitpun atas ucapan suaminya, membuat Sehun tak tahan untuk tak tertawa juga bersamanya.

 

Baru saja Sehun mengacak rambut ikal istrinya karena gemas, suara Suri meredam segala suara yang bersumber dari dalam rumah melalui pintu utama. Sehun menghela nafas lelah. Youn Cha tampak terburu-buru berdiri dan merapikan helaian rambutnya dengan jari tangan, lalu meninggalkan Sehun tanpa mengucapkan sepatah katapun sementara Sehun membawa kantong belanja milik Youn Cha menuju meja di sudut ruangan. Telinganya dapat mendengar samar-samar suara ibunya yang menyambut sang tamu spesial  dengan nada ramah tamah yang ia yakini jika sembilan puluh persennya adalah palsu, dan juga lengkingan suara Youn Cha yang terdengar heboh entah karena apa. Bola mata Sehun berputar bosan ketika ia mendengar suara stiletto Youn Cha mengetuk-ngetuk lantai dalam tempo cepat, menuju ke arah ruangan dimana ia berdiri sekarang. Sepertnya wanita itu akan..

 

“Oh babe,  kau tidak akan percaya pada hal ini!” teriak Youn Cha dengan nada yang lumayan ekstrim.

 

“Apa?” Sehun mengangkat alis seksinya ketika ia melihat binaran wajah Youn Cha yang berlebihan. “Kenapa kau terihat begitu bersemangat?”

 

“Ya Tuhan! Oh My God! Kau harus melihat bagaimana wajah kekasih Suri. Mereka adalah yangban Sehuna, yangban! ” teriak Youn Cha heboh.

 

“Mereka?” tanya Sehun, bingung.

 

“Ya, mereka. Kekasih Suri datang bersama kakak dan adiknya yang terlihat sangat rata namun cantik dalam penilaianku. Ah, pokoknya kau harus melihatnya sendiri.”

 

“Oke,” jawab Sehun, tak yakin. Ia membiarkan jemari lembut Youn Cha menggenggam pergelangan tangannya dan menyeretnya dari ruang makan, menuju ruang tamu utama. Objek pertama yang ia lihat adalah tubuh pendek –dengan dada yang sangat rata-  seorang gadis cantik berambut cokelat menyala, yang tampak mengamati pernak pernik unik di lemari hias sebelah pojok ruangan. Tatapan Sehun memutar ke arah sofa tamu. Seorang pria bermata setajam elang, berwajah sangat tampan bahkan hampir mirip dengan wajah-wajah sampul majalah mode, berbincang dengan orangtuanya tanpa ekspresi, meskipun orangtuanya terlihat sangat ramah –aneh- sekali dalam kondisi ini. Dan ia tak melihat Suri dimanapun.

 

“Mereka ada di sana!” kata Youn Cha, menunjuk dua objek manusia yang sedang mengobrol sambil berpegangan tangan di halaman depan. Objek yang satu adalah Suri, tentu saja, sedang menyandarkan kepalanya ke bahu seorang pria berambut cokelat madu yang melambai lembut ketika ditiup angin. Punggung sempit, dan postur tubuh yang tampak familiar membuat kening Sehun mengerut serta menjelajahi pikirannya menuju beberapa waktu lalu, kenangan akan seseorang yang tak pernah ia lupakan. Ia menyingkirkan segala hal menganggu itu namun jantungnya serasa akan meledak ketika Suri dan pria itu menoleh ke arahnya. Mati. Sehun merasakan mati rasa di seluruh bagian tubuhnya. Sistematis otaknya terhenti mendadak, dan Sehun tak dapat bernafas.

 

Oppa…ini adalah Luhan gege, calon suamiku.”

 

Sehun merasakan jika dadanya baru saja dihantam beban seberat seribu kilo. Dan sedetik kemudian,  ia benar-benar merasa sekarat ketika ia melihat senyuman pemuda itu. Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa harus Luhan yang berdiri di hadapannya saat ini? Mengapa Suri menggamit mesra lengan pemuda itu? Mengapa Luhan tampak sangat bahagia? Mengapa harus ada Suri dan Youn Cha di antara mereka? Mengapa ia tak merasakan lagi kakinya berpijak di atas tanah? Mengapa ia merasa sangat kacau? Dan mengapa…mengapa ia masih mencintai pria ini?


To Be Continue-

Advertisements