you


You..


Aku membuka sedikit tirai kamar hotel untuk mengintip keluar. Pintu dan jendela kamarku yang berada di lantai bawah berhadapan langsung dengan lorong hotel yang sibuk. Aku dapat melihat setiap orang yang lewat, sebaliknya, mereka juga melirikku. Aku membayangkan jika aku adalah seorang gadis cantik dengan gaun hitam ketat dan stoking hitam setinggi paha dengan tepian berenda, dengan ikat pinggang mahal mengkilat yang mengikat perut. Dan juga high heels hitam setinggi 14cm, sempurna. Semua itu adalah hal yang pernah disebutkan oleh artikel “Cara Menghangatkan Hubungan Asmara Anda” dalam Amore Magazine. Tapi sayang itu bukan aku. Aku hanyalah seorang Baekhyun, pemuda pendek berdada rata, tak memiliki lekuk seksi dan betis jenjang tanpa bulu seperti wanita.

 

Ketika pintu utama kamar hotel bergerak, aku menutup kembali gorden jendela. Aku melangkah menuju cermin di sudut ruangan, mempelajari bayangan diriku sendiri dan membiarkan lengan besar Chanyeol menggulung perutku. Kami bertatapan di dalam cermin. Beberapa lama, hingga aku memaksa ia melepaskan pelukannya.

 

“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa yang sangat mengganggu? Hmm?”

 

Aku tak menjawab. Aku menekan telapak tanganku pada dadanya, dan mendesaknya menuju ranjang. Punggung Chanyeol terjatuh tepat di atas selimut bulu bermotif macan, bersamaan dengan gerakan cepat jariku mengeluarkan kancing-kancing kemeja hitam yang kukenakan dari lubang penguncinya. Dan juga celanaku, semuanya melorot begitu saja ke lantai.

 

“Wow. Aku sedang masuk ke dalam perangkap seperti apa kali ini?” Chanyeol menarik sudut bibirnya, menyeringai.

 

Aku tak terlalu gugup untuk reaksi yang ia tunjukkan pada tubuhku. Ini sudah biasa. Dia memang menyukai tubuh pria, karena itulah ia memilihku.

 

“Kejutan kecil, Park Chanyeol. Kau menyukainya?” aku bicara padanya dan menjaga ekpresiku agar tetap datar, sambil merangkak ke atas tubuhnya. Setelah itu aku merasakan punggungku terjatuh pada permukaan ranjang yang bergoyang, sampanye menyirami bagian pusarku dan sesuatu yang lunak menyerangnya, membuatku gelap mata. Kemudian tak ada lagi yang kurasakan selain hanya kenikmatan yang sulit digambarkan.

 

 

*****

 

 

“Aku tak mengerti mengapa kau menyukaiku,” aku bicara sambil berbaring pada perut telanjang Chanyeol, menelusuri lingkaran pusarnya sambil berpikir.

 

“Karena kau Baekhyun,” jawabnya.

 

Aku bergerak. Kali ini aku menatap matanya. “Seharusnya kau menyukai wanita yang berdada seksi, yang dapat mengenakan gaun ketat menggoda dan juga high heels,” kataku.

 

Chanyeol tertawa. “Aku mendapatkan semua yang kuinginkan darimu, Baekhyun. Aku tak butuh wanita, aku hanya butuh kau.”

 

“Aku selalu membayangkan jika aku adalah wanita cantik yang memang pantas berada di sampingmu, Chanyeol. Sedikit menggangguku. Aku memikirkannya setiap saat, menyesal mengapa aku dilahirkan menjadi laki-laki.”

 

“Kau bisa mencoba menjadi wanita cantik jika kau ingin,” katanya dengan senyuman, kemudian kami tak membicarakan apapun lagi.

 

 

*****

 

 

Aku tidak tahu apakah aku sedang mengalami hangover atau semacamnya. Aku terbangun pukul sembilan pagi, dan menemukan kotak berukuran sedang berpita perak terletak di sudut ranjang. Kubuka kotak itu, dan aku menemukan beberapa barang wanita. Gaun hitam, kalung mutiara mengkilap, wig berwarna cokelat madu, dan high heels. Dan juga selembar catatan di atasnya.

 

‘Baekhyun sayang, temui aku di Hotel Danford jam 8.30 malam, kamar 171. Maaf menyuruhmu datang ke hotel lainnya, tapi aku berjanji, kau tidak akan menyesal. Jangan lupa untuk memakai gaunmu.’

 

-Kau-Tau-Siapa-

 

 

Aku tertegun. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah  aku benar-benar siap menemui kekasihku dengan  memakai pakaian wanita ini?

 

 

*****

 

 

Aku tak percaya aku melakukan ini. Aku melangkah menaiki undakan tangga marmer menuju pintu masuk gedung Hotel Danford, dan baru beberapa langkah, Chanyeol yang berdiri bersama beberapa rekannya, menoleh ke arahku dengan tatapan takjub. Ia mengulurkan tangannya ke arahku dan aku menyambutnya. Bibirnya mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu disana.

 

“Kau sangat cantik. Tapi maaf sekali, cobalah untuk menjadi wanita bisu kali ini,” katanya, membuatku ingin tertawa.

 

Chanyeol mengenalkanku dengan bangga pada beberapa rekan bisnisnya, yang tak henti-henti mengagumi diriku, mengatakan jika aku sangat cantik, dan hal-hal aneh semacamnya yang membuat perutku ngilu. Aku tak bisa melakukan apapun selain hanya tersenyum tanpa suara, benar-benar membisu. Setidaknya mereka jangan sampai mendengar suara priaku bukan?

 

Setengah jam melelahkan bersama teman-teman Chanyeol, dan kali ini Chanyeol menggenggam tanganku erat-erat, menuju kamar 171. Ketika pintu tertutup, tanpa aba-aba ia menyerangku dengan ciuman yang terburu-buru. Ia menyentuhku di bagian-bagian sensitif, tergesa-gesa seperti serigala lapar.

 

“Cobalah mendesah sayang. Di kamar ini, kau bukan lagi wanita bisu,” bisiknya lembut diantara kecupannya pada sisian leherku, membuatku sadar jika hanya ada aku dan dirinya di tempat ini.

 

“Thanks,” kataku. Aku meraih pipinya, dan berbisik di antara dahi kami yang saling bersentuhan.

 

“Untuk?” ia bertanya.

 

“Untuk membuatku mengalami ini semua. Kau membuatku merasa sangat berharga, Chanyeol.”

 

“Aku hanya ingin mengobati rasa rendah dirimu, sayang. Kau tahu? Tak peduli kau pria ataupun wanita, aku akan tetap menyukaimu. Aku yang menentukan siapa yang pantas mendampingiku. Dan itu adalah kau. Aku tak ingin yang lainnya. Hanya kau saja.”

 

Aku tak bicara lagi. Kubiarkan ia melepas seluruh serat benang yang menempel di permukaan kulitku, sambil memejamkan mata dan mendesahkan namanya.


End-


 

 

Advertisements