cry


STUPIDITY


Restoran ini penuh. Aku menunggu di bar sampai nama Baekhyun dan nomor mejaku dipanggil. Di dekatku ada tungku perapian yang menyala,dan pohon sungguhan terletak di bagian sudut, terselubungi oleh lampu-lampu kecil berwarna warni. Aku memesan segelas wine untuk Baekhyun, dan meminum birku, sedangkan Baekhyun pergi menuju kamar mandi. ‘Pasti ia sedang menangis di salah satu bilik toilet,’ -pikirku sedih sambil mengingat kembali segala ucapan keras dan caci maki yang kulontarkan padanya di sepanjang jalan tadi.

 

Tidak ada yang menyenangkan dari kencan ini. Ini adalah yang terakhir. Kami ingin berpisah. Aku dan Baekhyun sama-sama tidak mau berusaha lagi…

 

Restoran ini adalah tempat terakhir yang akhirnya kami singgahi. Kami sudah melewati beberapa restoran tadi, tapi tidak pernah sesuai dengan selera Baekhyun ataupun anggaranku. Semakin lapar, semakin keras kami berteriak satu sama lain. Beberapa bulan belakangan memang kami habiskan dengan bertengkar. Keputusan Baekhyun memenuhi keinginan orangtuanya untuk menikahi seorang gadis pilihan keluarga adalah awal pemicu segala masalah. Aku kecewa dengan keputusannya. Aku merasa tidak dihargai, seperti sampah. Karena itu aku memutuskan untuk melepaskannya hari ini. Aku sudah terlalu lelah.

 

Sudah beberapa menit berlalu, Baekhyun tak muncul juga. Aku mulai bertanya-tanya, seberapa banyak ia menangis hingga ia menghabiskan waktu begitu lama di dalam toilet? Sambil mengunyah kacang yang sudah tengik, aku memperhatikan semua pengunjung restoran. Kebanyakan isinya adalah pemuda-pemudi yang sedang kasmaran. Bahkan diantara mereka beciuman secara terang-terangan di tengah keramaian, membuat pikiranku melayang ke masa-masa indah yang pernah kulewati bersama Baekhyun. Aku masih hapal rasa bibirnya. Lembut dan gerakannya sedikit nakal. Dulu kami juga melewati masa-masa bahagia seperti pemuda pemudi itu. Saat dimana kami duduk di tengah-tengah, sengaja minum koktail berlama-lama di bar dan bukannya malah cepat-cepat memesan meja. Rasanya belum begitu lama. Aku merindukan saat-saat bahagia itu, jujur saja.

 

Aku sedang tersenyum saat aku membayangkan wajah Baekhyun ketika ia beragyeo. Baekhyun adalah pria termanis yang pernah kutemui dalam hidupku. Aku mencintainya. Jika waktu boleh diputar, aku tak ingin segala masalah ini terjadi. Kehilangan Baekhyun adalah hal paling mengerikan dalam hidupku, tapi sayang sekali, aku harus mengalaminya. Aku baru saja ingin membayangkan segala ekpresi lucu Baekhyun yang terekam dalam ingatanku, tapi fokusku beralih pada orang-orang yang berlarian menuju toilet. Aku hanya memandangi mereka dengan ekpresi bingung. Ada apa? Aku bertanya-tanya dalam hati.

 

Segala pertanyaan terjawab ketika beberapa pria bertubuh besar membopong sosok mungil yang sangat kukenal dari dalam salah satu bilik toilet. Kemeja putihnya penuh dengan darah. Jemari lentiknya menggenggam pegangan  pisau yang masih menancap di perutnya. Matanya sembab dengan air mata yang masih mengalir ke pelipis. Bibirnya terbuka dan tertutup, lalu nyawaku seolah melayang ketika tatapan kami bertemu. Ia tersenyum padaku, dengan bibirnya yang mulai membiru. Air mataku jatuh bercucuran, dan dengan cepat aku meraih tubuh mungilnya.

 

“Baek…Baek…”

 

Hanya itu yang mampu kuucapkan. Lidahku seolah hilang dari mulutku. Aku hanya bisa menangisinya.

 

“Jangan menangis…” Ia berbisik dan terbata-bata, “ini yang terbaik, Chanyeol…maaf, aku hanya terlalu lelah…Aku mencintaimu…” ia berucap dengan suara yang semakin menghilang.

 

Aku menyaksikan ia menutup matanya perlahan. Nafasnya terhenti di pangkuanku. Aku bodoh. Demi Tuhan, aku ingin menyusulnya sekarang, saat ini juga. Aku menyesal.

 

Baekhyun ku…maaf…


End-


Advertisements