heart


Heart


Seperti kebanyakan orang-orang, aku tumbuh dengan kepercayaan bahwa selusin mawar merah dan juga sekotak cokelat adalah hadiah Valentin yang ideal. Tapi itu salah.

Aku mengenal Chanyeol sejak usia 8 tahun, di sekitar hari Natal. Sejak awal berteman kami sudah merasa cocok satu sama lain. Klik, klop. Sama-sama tak punya pacar, membuat kami selalu mengisi Valentin bersama, mengabaikan teman-teman lainnya yang mengisi Valentin secara khusus dengan kekasih mereka.

“Hei Chanyeol, apa kau pernah melakukan sesuatu hal yang romantis untuk anak perempuan?” aku bertanya padanya. Ia terbahak dan menepuk keningku dengan seenaknya. “Seharusnya kau tidak menanyakan pertanyaan tolol semacam itu. Kau tahu sembilan puluh persen hidupku kuhabiskan bersamamu,” jawabnya dengan suara khasnya yang basah.

Jika pertanyaanku terdengar kasar, ini disebabkan karena Chanyeol adalah pengawas yang mengepalai pembangunan toko-toko dan juga restoran-restoran. Ia telah bekerja di bidang konstruksi selama hampir 18 tahun sejak ia lulus sekolah. Berdasarkan stereotip, ia membenci pakaian bisnis, menghabiskan sebagian besar harinya dengan bertukar gurauan jorok dengan teman-temannya. Ia bisa membuka tutup botol Soju dengan jempol dan telunjuk jari kakinya karena tangannya seringkali terlalu sibuk memperbaiki sesuatu. Singkatnya, pekerja bangunan dianggap tidak romantis terhadap perempuan, atau, mereka bukanlah termasuk orang-orang yang dianggap bisa diterima masyarakat dengan sopan.

“Besok kami akan mencor sisian jalan untuk proyek restoran kami yang terbaru,” katanya.

“Oh.”

“Oh?” ulangnya.

“Aku tak memiliki sesuatu untuk mengomentari pernyataanmu,” jawabku sekenanya.

“Besok itu 14 Februari,” katanya mengingatkan.

“Oh! Valentin!” kataku bersorak. Ia tertawa.

“Kau bisa meminta kado apapun dariku, Baek.”

Aku berpikir. “Kau bilang kau akan mencor sisian jalan untuk proyek restoranmu yang baru?” tanyaku. Ia mengangguk. “Baiklah,” kataku, “aku ingin kau mengukirkan namaku di permukaan semen yang basah,” kataku, setengah bergurau.

Chanyeol meletakkan kunci inggrisnya. Ia menghampiriku, berjongkok di hadapanku, dan menepuk kepalaku sambil tersenyum. “Aku akan memgukir nama kita berdua di permukaan semen itu,” katanya serius. Aku terdiam. Entah apa. Aku sudah mengenalnya selama 20 tahun, dan baru kali ini aku melihat pancaran matanya yang begitu berbeda.

“Aww, romantis sekali kau ini!” Aku menepuk lengannya dengan kikuk. Tapi ia tak bergeming. Ia menangkap tanganku tanpa mengatakan apapun. Dan pancaran matanya itu, entah mengapa tak kunjung berubah.

*****

Hari Valentin, Chanyeol mengundangku ke tempat ia bekerja. “Selain makan malam denganku, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu,” katanya dengan suara pelan.

Kami melangkah mengelilingi restoran pada sisi jalan yang baru mengering, ia menunjukkan padaku tempat dimana ia telah mengukir nama kami berdua. Bukan hanya satu kali, tapi ia mengukir namaku dan namanya di tiga tempat sekaligus.

“Apakah ini berarti ada sesuatu yang ‘menyemen’ di antara kita?” kataku berkelakar. Ia hanya merespon dengan tertawa. Aku tak mengerti apa yang terjadi padaku. Senyuman di wajahku seolah tak ingin memudar. Sudah sangat cukup menunjukkan bahwa aku sangat menyukai tindakannya.

Kemudian, kami makan malam dalam suasana Valentin yang aneh. Chanyeol memberiku sepotong kayu pinus. Ya, kedengarannya memang sangat biasa. Tetapi, ia telah menggergajinya dan mengampelasnya menjadi bentuk hati. Heart. Aku terpukau.

“Kapan kau membuatnya?” tanyaku.

“Siang tadi di tempat kerja.”

“Apa teman-temanmu melihat saat kau membuat ini?”

“Tentu saja. Mereka sedikit mengejekku, tapi tak apa. Aku sangat ingin membuatkanmu ini,” jawabnya.

“Untuk?” aku bertanya.

“Hadiah,” jawabnya.”Khusus, untukmu.”

Aku diam dalam waktu yang sangat lama, mengelus kayu pinus itu dengan jariku, merasakan teksturnya. “Mengapa kau memberiku benda seperti ini, Yeol?” Aku menatapnya, dia antara keremangan cahaya yang ada.

Chanyeol meremas tangannya. Pandangannya bergerak ke segala arah sebelum akhirnya kembali terjatuh padaku. Ia meraih tanganku, kami menggenggam kayu itu bersama-sama.

“Baekhyun…kupikir, aku…aku mencintaimu,” katanya serak.

Punggungku terasa dingin, dan kurasakan darahku seolah jatuh seluruhnya ke telapak kaki. Adrenalinku menguat begitu saja. Aku tak mengerti perasaan apa ini, tapi aku tersenyum, untuknya.

Sesaat kemudian, aku menyadari bahwa bunga, permen, cokelat, dan semua hadiah konvensional itu tidak akan pernah sebanding dengan sepotong kayu pinus biasa berbentuk hati dan nama kami yang diukir permanen pada semen di restoran terdekat. Meskipun aku tak begitu mengerti apa yang terjadi di antara kami hingga berada pada titik ini, yang pasti, Chanyeol telah memberiku hadiah Valentin yang paling romantis dalam hidupku.


End-


Advertisements