tumblr_n2c2f2wywk1rkekcoo2_500


Tie The Knot


“Wow, Luhan!! Masih saja sama. Manisnya~”

 

Acara reuni ke tujuh SHS kami. Lengan Oh Sehun terentang ketika ia berjalan ke arahku. Hanya sekejap saja aku sudah terkunci di dalam pelukannya yang terlalu erat. Kakaknya, Baekhyun, meneleponku kemarin malam, melaporkan padaku bahwa adiknya akan datang pada acara reuni kali ini, jadi aku benar-benar menghadiri acara yang tak pernah sama sekali kudatangi ini hanya untuk mencarinya. Aku sudah terlalu rindu.

 

Kami telah saling mengenal sejak 1998, saat usiaku masih sebelas, 18 tahun lalu. Sehun tiba-tiba saja menjadi tetanggaku setelah ayah Baekhyun memutuskan untuk menikahi ibunya Sehun yang berstatus janda. Begitu akrabnya hingga kami remaja, sampai aku tak paham bagaimana bisa kami berhubungan lebih dari sekedar tetangga dan sahabat dekat saat usiaku 15. Sehun bahkan mencuri ciuman pertamaku meskipun kami sempat tak bicara dua minggu setelah ia melakukan itu, lalu sebulan kemudian ia melabeli diriku dengan status ‘pacar’, tak peduli pada tatapan aneh orang-orang yang melihat kebersamaan kami. Anehnya aku tak menolak, bahkan Baekhyun mendukung. Aku benar-benar yakin kalau aku menyukai Sehun saat itu.

 

Tapi semuanya kembali hambar ketika kami lulus dari SHS, Sehun memutuskan hubungan dengan alasan ingin berkuliah ke salah satu universitas di London, dan tak ingin membuatku lelah menunggunya, padahal aku tetap saja melakukan itu; menunggu.

 

Selama acara reuni, Sehun menggenggam tanganku kemanapun kami pergi. Padahal kami sama-sama tahu kalau kami tidak sedang dalam suatu hubungan cinta, namun Sehun tetap melakukannya, aku tak menolak. Dia dan aku, bertiga dengan Baekhyun, mengobrol banyak hal di dalam mobil selama dalam perjalanan pulang selepas acara reuni, hingga pada waktunya kami berpisah di depan rumah. Baekhyun telah lebih dulu masuk ke rumahnya, tapi aku menyempatkan diri bicara berdua dengan Sehun sebelum aku pulang ke rumahku sendiri.

 

“Aku merindukanmu,” kata Sehun, genggaman tangannya mengerat pada tanganku.

 

“Yeah..aku juga,” aku menjawab.

 

“Bagaimana kabarmu?” dia bertanya lagi.

 

“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja. Kau?”

 

“Aku tak sebaik dirimu. Agak sulit hidup di London. Mungkin tak terlalu sulit jika kau di sampingku,” katanya.

 

Ia menggenggam tanganku semakin erat saat aku mengalihkan pandanganku darinya. Aku sebenarnya sangat gugup. Ini serius.

 

“Apa aku boleh menciummu?”

 

“Huh?” Aku tersentak dan menatapnya tolol.

 

“Aku ingin menciummu. Sudah sangat ingin sejak lama.” Sehun memegang bahuku dan mendekat. Aku menahan napas. “Boleh ya…aku terlalu takut melakukan ini saat kita berpacaran dulu. Aku benar-benar menyesal jika mengingatnya…” Ia berbisik.

 

Aku tak menjawab, tapi ia pasti mengerti jika aku tak merasa keberatan. Bibirnya menyentuh bibirku dalam beberapa detik. Aku merasakan nafasnya begitu hangat, semakin hangat saat bibirnya bergerak lembut pada permukaan bibirku.

 

“Selamat beristirahat Luhan…semoga mimpimu menyenangkan…” bisiknya ketika bibir kami terlepas.

 

Dalam perjalanan menuju pintu rumahku, aku menyadari bahwa jantungku berdebar, dan berdebar terus sepanjang malam. Aku nyaris tidak bisa tidur. Rasanya masih sama saja seperti dulu. Aku masih mencintai Oh Sehun.

 

 

*****

 

Hari berikutnya kami kembali berkumpul dengan beberapa teman yang mendengar kabar jika Sehun telah berada di Korea. Mereka mengadakan pesta kecil-kecilan dan aku turut serta dalam pesta itu. Entah apa hubunganku dengan Sehun sekarang. Aku sangat yakin jika kami sudah pernah putus, tapi Sehun memperlakukanku masih sama seperti ketika aku ini masih kekasihnya. Sama seperti kemarin, ia terus menerus menggenggam tanganku, dan akupun masih sama, tetap tak menolak. Aku bahkan merasa nyaman duduk di atas pangkuannya ketika Chanyeol memetik gitar akustiknya sambil menyanyikan lagu milik Keith Martin. Hingga malam kembali tiba, Baekhyun lagi-lagi memberikan ruang untuk kami bicara, sedang ia sendiri pergi bersama Chanyeol dan teman-teman lainnya.

 

“Ini adalah saat-saat paling menyenangkan yang pernah kualami. Dewasa, mapan, dan sedang jatuh cinta,” katanya.

 

Aku meliriknya. Dia menarik jemariku dan mengecupnya. Matanya menatap mataku dengan bibirnya yang tersenyum.

 

“Jatuh cinta?” Aku mengulangi ucapannya.

 

“Ya.”

 

“Padaku?” tanyaku lagi.

 

Sehun tertawa. “Menurutmu pada siapa?”

 

“Entahlah,” jawabku sambil mengangkat bahu. Lalu kami sama-sama diam.

 

“Minggu depan aku akan kembali ke London,” ia berbisik.

 

Aku merasakan angin menampar pipiku. Begitu panas dan agak nyeri. Anehnya rasa nyerinya menjalar hingga ke dalam dada.

 

“Kau mau pergi lagi?” Suaraku nyaris tak keluar. Mataku memanas. Rasanya ingin menangis saja. Aku baru saja berpikir jika pertemuan kami ini merupakan ‘titik balik’ kisah asmara kami yang sempat terputus, tapi ucapan Sehun barusan mematahkan semua harapanku.

 

Sehun menatapku lagi. Jarinya mengelus pipiku dan ia agak terkejut saat airmataku menetes di kulitnya. Entahlah. Aku sedih, dan aku yakin jika perasaanku baru saja terpantul keluar.

 

“Jangan begitu…” ia meringis tak enak, dan ia menarik kepalaku ke dadanya. “Aku sudah bekerja di sana, Lu. Aku harus kembali.”

 

Aku melepaskan diri dari pelukannya, dan kutatap ia dalam-dalam. “Bukankah kau jatuh cinta padaku?”

 

Sehun tersenyum. “Benar. Aku jatuh cinta lagi padamu. Semakin cinta jika aku menatap wajahmu seperti ini,” jawabnya.

 

“Kalau kau pergi, kau tidak bisa melihat wajahku lagi. Jangan pergi Sehun…kau tidak boleh meninggalkan aku lagi,” Aku merengek.

 

“Aku tidak akan melakukannya. Kau akan ikut. Denganku.”

 

Dalam beberapa detik aku terdiam, berusaha mencerna ucapannya. Aku tak bicara sampai aku merasakan tangannya bergerak di atas kepalaku.

 

“Aku kembali ke Korea untuk menjemputmu. Aku sudah meminta izin pada orangtuamu, jadi kau putuskan sekarang mau ikut denganku atau tidak. Ugh, sulit sekali bagiku untuk hidup tanpamu Luhan. Aku tak ingin mengalaminya lagi. Serius, jauh darimu itu rasanya menyebalkan sekali.”

 

Aku tercekat. Tiba-tiba saja suaraku seperti menghilang. Mengapa kata-katanya terdengar seperti sebuah lamaran? Ini tidak serius kan? Aku berusaha mengingatkan diriku jika ia akan pergi sebentar lagi, tapi tidak. Ini terlalu nyata.

 

“Kau…mau…membawaku?” tanyaku terbata-bata.

 

Sehun mengangguk yakin. “Kau tidak akan menolak kan?”

 

Aku menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Tentu saja tidak,” jawabku penuh keyakinan.

 

Sehun tertawa melihat reaksiku. Ia mengacak-acak rambutku, lalu ia memelukku erat-erat dalam pangkuannya, seperti memeluk sebuah teddy bear besar. Kami mengobrol banyak hal lagi hingga larut malam, sampai Baekhyun kembali dari acara bersenang-senangnya berdua saja dengan Chanyeol.

 

“Chanyeol akan menginap disini,” Baekhyun sempat melapor sebelum tubuhnya dan tubuh Chanyeol menghilang di pintu masuk. Sedang Sehun hanya tersenyum dan menarikku menuju pintu rumahku sendiri.

 

“Nah, sudah saatnya tidur, Rusa kecil,” ucapnya.

 

Aku mengangguk dan menatapnya sambil menggigit bibirku sendiri. Aku belum terlalu yakin untuk melakukan ini, tapi ketika aku sadar, aku telah menarik kaus Sehun dan menciumnya dalam-dalam. Sehun terkejut pada awalnya, namun ia membalas ciumanku dengan antusias karena terlalu senang.

 

Pada hari dimana ada jadwal penerbangan pesawat, aku begitu senang, sampai-sampai aku terus-menerus bernyanyi di sekeliling ruangan rumah. Mom dan Dad tak terlalu heran dengan kelakuanku, mereka hanya menggeleng maklum. Keduanya mengangkat tangan ketika melihat Sehun berdiri di depan pintu rumah kami, seolah mengatakan jika mereka menyerahkanku dengan sukarela untuk Sehun karena mereka tak mau mengurusku lagi, haha.

 

Semuanya tak lagi hambar. Kebahagiaanku kembali. Hidupku begitu indah, semakin terasa indah saat aku memeluk lengan Sehun sepanjang perjalanan menuju London. Jauh sebelumnya, aku pernah berharap bahwa suatu saat Sehun akan kembali padaku dengan cinta yang sama besar dengan apa yang aku rasakan.

 

Sepertinya harapanku sudah dikabulkan.


End-


Advertisements