labor-of-love


Suddenly…


Bak mandi perlahan penuh. Sementara menunggu, Luhan menanggalkan pakaiannya. Telapak kakinya sempat merasakan betapa lembutnya karpet tebal putih di bawah ranjang, sebelum ia mencapai pintu kamar mandi. Masih sempat melirik sekilas pada cermin besar di sisi kirinya, memperhatikan bayangan dirinya sejenak. Perasaannya campur aduk. Tumpukan lemak di sekeliling pinggangnya lenyap. Ia mengangkat lengannya ke atas, dan mampu melihat bentuk tulang rusuknya sendiri lalu mulai mengira-ngira sudah berapa banyak ia kehilangan berat badannya?

 

“Semua ini gara-gara kau!” Ia menggerutu.

 

Bak mandi sudah siap. Luhan melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi, kemudian  masuk ke dalam air, menenggelamkan diri ke dalamnya dan bersandar penuh syukur di antara gelembung-gelembung sabun sebanyak yang berani ia tuangkan. Sambil memandangi gelembung-gelembung itu, Luhan merenung dan mulai berpikir tentang hal apa yang kira-kira dilakukan orang itu saat ini? Semakin ia berpikir, ia merasa semakin kesal. Genap empat bulan, dan tak ada kabar apapun dari orang itu. Orang yang selalu mengaku-ngaku jika Luhan adalah cinta pertamanya, yang katanya ingin mencoba hal baru di keramaian California demi masa depan mereka berdua. Bullshit. Luhan yakin jika apa yang orang itu ucapkan dulu adalah cara licik untuk menghindari dirinya. Memberi harapan. Rasanya sakit seribu kali lipat. Menjengkelkan sekali.

 

Kini Luhan menelentang. Kehangatan dan kenikmatan air yang jarang ia rasakan merasuki tulang-tulangnya. Ia mengantuk karena kelelahan. Sempat berpikir untuk tidur sebentar di dalam bak mandi itu. Tangannya bahkan sudah sempat terulur untuk menekan tombol lampu di atas bak mandi agar padam, jika saja ia tidak mendengar bunyi gesekan benda aneh dari arah luar kamar mandi pribadinya. Ia menahan napas. Matanya mulai bergerak liar mencari benda apa saja untuk melindungi diri kalau suara langkah kaki yang mendekat itu adalah penjahat atau semacamnya. Darah mengalir keras ke kepalanya selagi denyut pelan menyebar ke sekujur tubuhnya. Pada saat yang sama, dentaman di otaknya seolah semakin intens. Pelan-pelan Luhan mengangkat dirinya dari air. Dan inilah yang ia takutkan. Dentaman pada pintu kamar mandi, dan cahaya terang lampu kamar menyorot penuh pada tubuh telanjangnya ketika pintu menjeblak terbuka. Luhan tercekat. Darahnya turun sekaligus ke telapak kaki. Siluet orang itu, ia mengenalnya. Meskipun cahaya menghalangi pandangannya dan membuat wajah orang itu tak terlihat.

 

“Kau…pulang?” Luhan mencicit. Keringatnya turun melalui pelipis. Lalu ia menyadari suara napas memburu dari arah depan. Sekejap saja ia merasa gelap menyelimuti. Tubuhnya kembali masuk ke dalam air, dengan seseorang yang memeluknya dengan pakaian basah.

 

“Penampilan pertamamu, membuatku sangat kacau, Luhan. Maaf, aku tak bisa menahan diri jika begini,” bisik orang itu.

 

Luhan terdiam, tapi gerakan basah di sekeliling punggungnya, membuatnya sadar jika ia tidak tengah berhalusinasi. Ini nyata. Pria itu telah kembali secara tiba-tiba.

 

“Sehun…” Luhan tersenyum ketika tengkuknya terasa ngilu oleh gigitan pelan pria itu.


End-


Advertisements