qualtagh


Qualtagh


Hanya sebuah lukisan biasa. Isinya hanyalah lukisan seorang bocah  lelaki berusia sekitar 9 tahunan, berpakaian khas bangsawan sedang berdiri tegak memegang busur panah. Dua orang pengasuh berdiri tak jauh dari bocah itu, gesture tubuh khas pelayan Istana, menatap si bocah dengan seksama. Hanya lukisan biasa, namun mampu membuat Luhan berkelana jauh ke dalam memori masa lalunya.

 

“Aku ingin bertemu dengan pelukisnya. Antarkan aku kesana,” ia berbicara tegas pada Panglima kerajaan.

 

“Tapi Pangeran,-”

 

“Tidak ada tapi. Aku ingin bertemu dengannya. Ini perintah!” potong Luhan dengan nada tegas yang begitu kentara.

 

“Saya mengerti,” Panglima kerajaan menunduk patuh kemudian mulai melangkah pergi dari tempat itu.

 

Luhan meraba lukisan itu, senyum kecil menghiasi wajahnya. “Akhirnya kau kembali. Sudah lama sekali aku menunggumu…”

 

 

*****

 

 

Luhan merasakan udara dingin segera, ketika ia melangkah keluar. Hujan akan segera turun. Susunan bintang sulit dilihat dari balik selimut tebal dan asap yang meliputi kota, tetapi terkadang sebuah bintang mengintip dan menunduk, menatap tiga orang yang menyisir jalanan setapak sunyi malam itu.

 

Pertama, pengawal  menggiring kuda Luhan melewati sungai kecil di lingkungan istana. Mereka segera meninggalkan gerbang maha besar istana saat meneruskan perjalanan lebih jauh ke dalam isi perut kota. Lenyaplah sudah suara gayageum* dari ruang judi istana. Kini yang terdengar hanyalah lolongan suara anjing penjaga, air yang mengalir, dan raungan kucing yang tidak jelas di malam hari.

 

Hujan rintik-rintik mulai turun saat mereka mencapai Buljeonggeori-ro. Kemudian mereka melewati Koayanggwa-gil, menyusuri anglo-anglo yang dikelilingi oleh pria-pria berwajah penuh jelaga dan melintasi tumpukan-tumpukan jerami di antara meriam perang yang basah. Ada bau tajam dari batu bara yang terbakar, dan aroma kayu yang membusuk. Bau-bauan itu begitu lembab dan berubah wujud, aromanya menyebar sekaligus menantang.

 

Setelah beberapa lama, melewati hujan yang semakin deras, akhirnya mereka sampai di Changwon Si. Luhan turun dari kudanya, menyusuri jalanan Mansahapon-gu, melompat dan menyebrangi selokan yang mengalir kental dengan sampah-sampahnya. Kedua pengawalnya mengikuti persis dari belakangnya.

 

Ketika menuruni bangunan-bangunan batu bata, ia melihat banyak sekali sketsa kulit kayu raksasa pada dinding-dindingnya, dengan ejaan yang buruk dan huruf-huruf yang sangat besar. Isinya tak lain adalah makian dan celaan untuk Raja, ayah kandungnya. Luhan berhenti tepat di depan satu-satunya tempat tinggal yang menunjukkan adanya cahaya. Sambil menyeringai, ia mengetuk-ngetuk pintu.

 

Pintu itu perlahan terbuka. Seorang pria tinggi berkulit pucat berdiri disana. Pria itu mengenakan sarung tangan tanpa jari, dan pakaian khas orang Belanda. Sebatang pensil menghiasi telinganya, menusuk di sela-sela helaian rambut cokelatnya. Dua kucing berbulu kelabu dan emas berada di kakinya. Kedua binatang itu menatap Luhan dengan datar dan dingin.

 

“Sehun…” Luhan menatap pemuda di hadapannya dengan penuh damba.

 

Sehun tidak mengatakan apapun.

 

“Boleh aku masuk?” Luhan memohon.

 

“Seorang Pangeran terhormat tak seharusnya berkunjung ke tempat kotor seperti ini.”

 

“Tempat kotor yang merupakan persembunyian dan mengecoh.” Luhan tersenyum kecil. Kakinya melangkah pasti, memasuki tempat kumuh itu, menarik pergelangan tangan Sehun dan membanting pintu, menghalangi pandangan dua pengawalnya. Dengan segenap perasaan yang meluap, ia memeluk tubuh tinggi di hadapannya. Matanya terpejam dan jemarinya meremas erat pakaian Sehun.

 

“Aku merindukanmu. Sangat.”

 

Sehun menekan punggung ramping itu, “aku merasa sangat tersanjung, Pangeran…” ia berbisik ringan.

 

Luhan merenganggkan pelukan, memandang wajah pucat di depannya seolah wajah itu membawa jiwa malangnya pergi. “Aku benar-benar merindukanmu.”

 

Sehun tersenyum, “aku baru saja mendengarnya, dan kau mengulanginya lagi.” Tangannya bergerak ke wajah Luhan, menyingkirkan helaian rambut sang Pangeran yang mendesah lemah. “Kau sudah berubah.”

 

Luhan menggeleng. “Tidak. Kau yang berubah. Kau tidak lagi tampak seperti orang Asia. Tidak mirip sama sekali dengan adik kecilku dulu.”

 

“Pulanglah. Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah,” Sehun menyentuh ujung hidung itu dengan hidungnya sendiri.

 

Lagi-lagi Luhan menggeleng. “Tidak akan. Aku sudah kehilanganmu untuk waktu yang begitu lama, dan aku tidak mau mengalaminya lagi.”

 

“Kita saudara kandung. Raja menentang hubungan kita,-”

 

“Biarkan saja,” potong Luhan. “Aku milikmu, bukan miliknya.”

 

Sehun mendesah lelah. “Keras kepala.”

 

“Ya.” Luhan menyahut bangga.

 

“Aku akan menahanmu selamanya dalam penjaraku, Pangeran.”

 

“Dengan senang hati,” jawab Luhan.

 

Sehun tersenyum bangga. Diraihnya rahang Luhan dan sebuah kecupan dalam membuat Luhan merana. Jemari Sehun menelusup ke dalam sakunya. Sebuah pistol yang ia bawa dari Belanda mencuat dalam genggamannya. Pintu menjeblak terbuka, dan suara lesingan peluru memecah hujan di malam itu. Dua pengawal Luhan tergeletak bersimbah darah, sedang Sehun dan Luhan menatap mayat-mayat itu dengan rona puas di wajah mereka.

 

“Aku akan membawamu pergi dari negara ini  besok, pagi-pagi sekali. Setelah itu kau tidak dapat berada jauh dari jangkauanku sama sekali. Kau bersedia?” Sehun menarik pinggang itu hingga menempel erat pada tubuhnya.

 

Luhan meraih tengkuk pucat itu, tersenyum, dan, “Aku bersedia…”


End-


Note : Gayageum adalah alat musik petik tradisional Korea sejenis kecapi.

Advertisements