• hunhan-notes

NOTES


Aku bisa berkata bila angin musim dingin mengirim serpihan-serpihan salju yang menari di jendela, sedangkan aku dan Sehun berpelukan di depan perapian yang berkobar, menikmati wine dan saling berbisik mesra, memperdalam cinta kami. Aku bisa saja berkata begitu, tapi sayangnya itu dusta belaka.

Badai salju di awal Februari mulai meleleh, meninggalkan pemandangan pepohonan kelabu dan tanah gelap yang basah. Cocok sekali dengan suasana hatiku, dingin dan beku. Aku dan Sehun terombang-ambing di antara kebahagiaan tentang fakta bahwa kami berhasil menjauh dari keluarga yang kolot, dan juga tekanan karena kesulitan ekonomi yang membuat kami harus bekerja seharian penuh tanpa memiliki waktu lagi untuk berduaan kecuali di waktu-waktu tidur. Kelelahan yang kerap menyiksa membuat kami sering bertengkar. Ditambah usia yang masih sama-sama muda. Perbincangan kami, terutama di dua minggu terakhir, tidak terdengar seperti kicauan burung yang sedang jatuh cinta, tapi lebih mirip seperti gonggongan anjing. Di waktu-waktu malam, aku selalu mengeluhkan kesulitan hidup yang kami jalani. Sehun merasa bersalah dan tersingkirkan, dan aku selalu memulai perdebatan bahkan beberapa kali melemparkan barang ke arahnya karena terlalu putus asa. Jika sudah begitu, Sehun hanya akan diam dan berhenti berbicara padaku sampai keesokannya, membuatku tak lagi merasa berharga.

Sembilan belas Februari, aku melempar tas begitu saja ke lantai setelah kelelahan bekerja seharian. Sehun sudah tertidur tengkurap di ranjang kami. Wajahnya begitu damai, dan garis-garis kelelahan hampir memenuhi wajah pucatnya. Aku peduli, tapi aku mencoba mengabaikan. Aku menjatuhkan tubuh di sampingnya, kemudian aku tertidur sampai pagi.

Sinar matahari pagi membuatku terkesiap, dan aku merasakan jemariku penuh. Kulihat Sehun masih tertidur pulas di sampingku, terlihat begitu nyaman sambil memeluk jari kami yang saling bertautan. Aku tak mengerti apa yang ia pikirkan. Kulepaskan jariku dari jarinya, lalu aku mulai beranjak dari ranjang. Aku berjalan lambat di lorong rumah yang tak tersentuh cahaya, lalu aku menyalakan lampu. Disana, aku menemukan satu catatan, terselip di antara jam dinding.

“Aku mencintaimu, karena kau cantik.”

Napasku terhenti sejenak. Darahku berdesir, dan aku merinding. Aku melanjutkan berjalan di sepanjang lorong, lalu aku menemukan satu catatan lagi.

“Aku mencintaimu karena kau baik.”

Aku mulai tersenyum. Aku memutari rumah, mencari catatan lain, mengumpulkan kehangatan dan juga afeksi. Cermin kamar mandi membuat senyumku semakin melebar. Aku menatap tulisan pada cermin begitu lama, sambil melirik sesekali pada ekpresi bahagia yang tak dapat kusembunyikan dari wajahku. Cermin itu penuh dengan polesan pasta gigi yang meleleh.

“Aku mencintaimu karena kau adalah Luhan.”

Perasaanku tak lagi terbendung. Aku berjalan cepat agak berlari menuju kamar. Hampir terjatuh ketika aku mencoba membuka pintu kamar karena terlalu terburu-buru, untung saja sebuah lengan pucat menangkap tubuhku dengan sigap. Aku mendongak menatapnya, dan ia tersenyum kecil untukku. Aku tak mampu bicara, lidahku kelu. Ia menarikku semakin rapat ke tubuhnya, memelukku begitu hangat, dan menelusupkan jemarinya di antara rambut ikalku.

“Aku mencintaimu karena kau juga mencintaiku, aku benar kan?” bisiknya lembut di telingaku. Kucubit pinggangnya, lalu kupeluk ia lebih erat.

“Tentu saja.”


End-


Advertisements