labor-of-love


Labor Of Love


Pada Jumat pagi, aku memutuskan untuk meminta kenaikan jabatan pada pimpinan di perusahan tempat aku bekerja. Sebelum berangkat ke kantor tadi aku sudah sempat mengatakan pada Luhan tentang apa yang akan aku lakukan hari ini, ia hanya mengangguk dan menyemangatiku, memperlihatkan senyumannya yang secerah mentari pagi, hal yang paling kusukai dari bagian wajahnya. Pada sore hari, aku mengungkapkan itu pada Presdir Kim. Di luar dugaan, ia menyetujui keinginanku. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan, membuatku seketika merasa tak sabar ingin pulang.

 

Ketika sampai di rumah sederhana kami, aku menemukan meja makan mungil kami sudah ditata sedemikian rupa. Lilin-lilin  putih menyala di sudut-sudut ruangan, dan beberapa aroma makanan restoran menusuk indera penciumanku. Aku menduga jika Byun Baekhyun atau Park Chanyeol pasti sudah menelepon Luhan dan membocorkan rahasia.

 

Dengan langkah tak sabaran aku menuju ke dapur. Kutemukan Luhan dengan apron merahnya, mencuci beberapa sendok dengan lengan kemeja yang digulung. Kupeluk ia lewat punggungnya, daguku kusandarkan pada bahunya kemudian aku berbisik.

 

“Aku mendapatkan posisi itu di kantor. Aku berhasil.”

 

Luhan terkekeh dan ia mendapatkan jariku. “Aku sudah bilang kau akan mendapatkannya. Selamat ya, kau berhasil,” ucapnya tulus.

 

Selama makan malam, aku menceritakan semua rincian perkacapanku dengan Presdir Kim. Luhan hanya menopang dagu dan tertawa sesekali selama aku bercerita. Di akhir acara makan malam ia memberiku satu kartu.

 

“Aku sudah mengatakan selamat tadi, tapi aku terlanjur membuatkan ini untukmu,” ucapnya.

 

Kuterima kartu itu dengan senyuman. Di dalamnya kutemukan catatan yang ditulis dengan artistik; ‘Selamat sayang! Aku tahu kau akan mendapatkannya! Makan malam ini untuk menunjukkan betapa aku mencintaimu.’

 

Aku tersenyum semakin lebar ketika aku selesai membacanya. Kuhampiri kekasihku dan kupeluk ia seerat yang aku bisa. Kukecupi pipinya berkali-kali sampai aku merasa puas.

 

Kemudian, dalam perjalanan ke dapur, Luhan berpesan agar aku mematikan lampu sebelum aku menyusulnya ke kamar. Aku mengangguk dengan semangat menyala, meletakkan piring-piring kotor di bak sambil membayangkan apa yang akan kulakukan padanya malam ini. Ketika akan mematikan lampu, aku menemukan satu buah kartu lainnya terjatuh di bawah lemari pendingin. Kupungut kartu itu dan kutemukan catatan berbeda dari kekasihku.

 

‘Jangan khawatir karena tidak mendapatkan kenaikan jabatan Sehun sayang! Bagaimanapun juga kau sebenarnya pantas mendapatkannya. Mungkin mereka yang belum dapat melihat potensimu, jadi jangan bersedih! Makan malam ini kubuat untuk menunjukkan betapa aku mencintaimu…’

 

Dan aku terdiam disana. Hatiku berdesir dan darahku mengalir cepat di dalam tubuhku. Semangatku semakin meluap-luap. Dengan tergesa aku melangkah agak berlari menuju kamar kami. Kurasa aku tak memiliki alasan lagi untuk berhenti mencintainya. Sampai kapanpun.


End-


Advertisements