saw_maze___game_over_by_thrash618


Game Over


United States Airlines baru saja mendarat di bandara internasional San Fransisco, kota favorit Oh Sehun. Sembari melangkah pendek-pendek mengikuti penumpang lainnya keluar dari badan pesawat, ia larut dalam pikirannya sendiri, bertanya-tanya apakah yang ia lakukan ini sudah benar atau tidak. Empat bulan bukanlah waktu yang singkat. Ia pun tahu jika ia telah mengorbankan banyak hal selama waktu itu tapi tak apa, ia memiliki tujuan, dan ia harus segera mencapai tujuan itu. Ia mengepalkan tangannya ketika ia mengingat wajah pria itu, agak geram karena orang yang berda di dalam pikirannya adalah penyebab segala kekacauan ini terjadi. Waktunya, tenaga, pikiran,dan juga bisnisnya, hampir terbengkalai hanya karena pria itu melarikan diri darinya.

 

Tidak.

 

Sudut bibir Sehun berkedut naik saat ia melihat matahari San Fransisco yang begitu cerah dari balik kacamata hitamnya. “Cobalah berlari lebih jauh lagi, Luhan. Karena sejauh apapun kau pergi, aku pasti akan mendapatkanmu kembali.”

 

 

*****

 

Ya. Sehun dapat merasakan jejak pemuda manis itu disini. Jongin benar. Homo tetaplah homo. Sekali pelacur, tetap pelacur. Sehun melangkah di antara temaramnya lampu-lampu jalanan Castro, daerah dimana penduduknya hampir rata-rata memiliki kelainan seksual. Kiri dan kanan jalanan hanyalah aneka klub malam dan juga cafe. Tak ada yang menarik. Tempat ini tak seindah Silom di Thailand. Dentaman musik hingar bingar beradu dengan teriakan pria-pria bule penggoda berpakaian amat minim dan bertelanjang dada. Langkahnya semakin cepat ketika ia melihat Jongin berdiri di depan sebuah gay klub beberapa meter di depannya. Lelaki gelap itu tersenyum sambil menyodorkan secarik kertas padanya, bertuliskan nomor telepon dan juga sebuah nama.

 

“Madam Lee. Hubungi orang ini untuk menemui Luhan. Katakan kalau kau mencari Leo,-” Jongin berhenti sejenak dan melirik ke dalam,- “kurasa dia ada disini, tapi tak semudah itu menemuinya. Cobalah lebih keras, dan bawa ia pulang kembali ke rumah. Aku muak melihat sikap temperamentalmu saat ia tak ada.”

 

Sehun mengangguk dan masih sempat mengucapkan ‘thanks’ sebelum Jongin menghilang dari pandangannya. Matanya menyapu segerombolan male escort yang hampir seluruhnya adalah pria Asia di pintu masuk klub malam ini, mempertimbangkan apakah ia akan masuk atau tidak. Lama ia mematung di sana, hingga matanya menemukan sosok pemuda itu, pria  yang ia cari-cari selama ini. Seorang pria chinese dengan tattoo tribal di bagian leher, sedang menyandarkan punggungnya pada dinding batu, baru saja keluar dari dalam klub dengan seorang pria setengah bule. Mereka mengobrol dan tertawa-tawa, dengan bibir yang sesekali menempel, membuatnya muak. Fuck. Sehun berbalik dan melangkah cepat menjauhi tempat itu sambil mengepalkan tangan.

 

Bitch. Besok kau mati.”

 

*****

 

“Hello. Asian Escort. Madam Lee speaking. Can I help you?”

 

“Leo. Bring him to me, 20000 dollars for one night.”

 

“W-what?? Who  are you?”

 

“I need him. Sutter Street Hotel, now.”

 

“But…”

 

Sehun memutuskan sambungan telepon dan melemparkan ponselnya begitu saja ke sofa. Ia meraih Italian roast espresso dari atas meja dan meyesapnya, merasakan pahit dan manisnya minuman itu. Matanya menatap lurus pada pintu hotel. Ia sedang menunggu. Ia bersabar, hanya sebentar saja, sebentar lagi Oh Sehun, ia mengulang-ngulang peringatan itu di kepalanya hingga berkali-kali. Detik jarum jam dinding hotel terdengar jelas, membuatnya termangu dalam jebakan memori.

 

Luhan.

 

Sehun mengusap wajah.

 

Pencuri.

 

‘Ya. Ia mencuri uang dan juga hatimu, Pecundang,’ suara dalam kepalanya mengejek.

 

Sehun menggeram. “Brengsek,” umpatnya.

 

 

*****

 

 

Luhan meringis. Sakit, ia mengeluh dalam kepala. Matanya terpejam erat sambil menggigit bibir. Kris menusuknya berkali-kali, mencumbunya tanpa ampun. Bibirnya membengkak dan kukunya mencakar-cakar punggung Kris brutal. Ia tak pernah puas. Rasanya berbeda sekali dengan saat pria pucat itu yang memasukinya. Luhan menjerit dalam hati. ‘Pria brengsek. Masokis sialan. Kau merusak seksualitasku hingga ke titik terendah,’ teriaknya tanpa suara.

 

Luhan menggigit bibir saat ia berada di puncak kemudian membuang napas kuat-kuat sambil mendorong tubuh Kris menjauh. Tanpa membersihkan diri, ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya.

 

“Oh sweetheart…padahal aku masih ingin berlama-lama denganmu,” Kris berbisik di perpotongan lehernya.

 

Luhan tak peduli. Ia melepaskan tangan Kris dari perutnya lalu mengambil dompet Kris dari permukaan nakas. Mengeruk semua isinya kemudian melangkah menuju pintu.

 

“Kau bisa menelepon Madam Lee lagi jika kau mau memesanku,”- Luhan melihat Kris mengangkat tangannya, memberikan isyarat oke,  -“aku harus pergi. Klien lain sudah menunggu,” ucap Luhan, tersenyum sedikit kemudian menghilang di balik pintu.

 

 

*****

 

Luhan termangu di persimpangan Post Street sambil menunggu lampu merah menyala, hendak menyebrang. Di sekitarnya penuh oleh bule yang bercakap-cakap tak jelas. Ia menatap kosong pada jejeran toko di Saks Fifth Avenue, memperhatikan gerombolan orang yang berlalu lalang di sekitar situ. Cengkramannya pada gumpalan dollar milik Kris di saku jaket mengerat ketika lampu merah menyala, ia menyebrang di antara orang-orang dan menghentikan salah satu taksi. Menarik napas dan membuangnya begitu keras untuk melepas beban, Luhan mengecek ponselnya lagi untuk memastikan lokasi kliennya kali ini.

 

“Sutter Street Hotel, please,” ucap Luhan, dan si sopir mengangguk paham.

 

*****

 

Langkah Luhan melambat saat ia sampai di persimpangan lorong menuju kamar 182. Gelisah. Entah mengapa perasaannya tak enak. Pelipisnya agak basah oleh keringat. Luhan menyekanya dan kembali melangkah meskipun ia ragu.

 

Kamar 182.

 

Luhan mengulurkan jarinya ragu. Dahinya berkerut dalam ketika ia berhasil menekan bel di sudut kiri pintu. Ia bertanya-tanya dalam hati mengapa ia merasa begitu gelisah. Menebak-nebak sendiri segala kemungkinan pemicu rasa tidak nyaman di dadanya. Mengapa. Mengapa?

 

Pintu kamar terbuka. Apa yang ditangkap oleh mata Luhan pertama kali adalah sandal hotel berwarna putih dibalik pintu yang terkuak. Bola mata Luhan bergerak naik, dagunya terangkat perlahan, menelusuri tubuh tinggi itu. Dan ketika ia menyadari sosok itu siapa, jantung Luhan mendadak nyeri, berdentam keras, memberontak. Pelipisnya semakin basah. Ujung jari-jari tangannya gemetaran.

 

“K-kau..”

 

Luhan tercekat. Kilas balik memori menghantam kepalanya. Bagaimana keras pria pucat ini mencambuki kulit telanjangnya sampai berdarah-darah, mencumbunya seperti hewan, meneriakinya dengan kata-kata kasar. Memaksa bibirnya berteriak kesakitan setiap kali pria itu menidurinya. Masokis sialan. Brengsek. Orang gila.

 

Lari!’ teriak suara dalam kepalanya.

 

Kaki Luhan bergerak mundur. Wajahnya pucat pasi.

 

Lari.

 

Aku harus lari.

 

Luhan berbalik. Tapi terlambat. Lengannya di cengkeram sangat kuat. Tubuhnya diseret seperti hewan, dihempaskan begitu saja hingga kepalanya menabrak kaki besi meja. Rambutnya ditarik kuat-kuat hingga ia merasa kulit kepalanya seakan ingin terkoyak dari tempatnya. Pergelangan kakinya dipijak kuat hingga ia merasakan air menetes di sudut matanya.

 

“Sakit. Please…jangan lagi.”

 

Bibir tipis itu tersenyum sinis.

 

“Tutup mulutmu Luhan. Kau mati kali ini. Game Over.”

 

Setelahnya, Luhan merasakan dunianya berputar-putar. Pakaiannya sobek. Napasnya sesak. Ia menjerit kesakitan, dan pria pucat itu semakin beringas di atasnya, menusuknya tanpa ampun. Punggungnya berdarah lagi. Tidak. Luhan melihat pisau itu ketika tangan Sehun mencengkram bahunya. Ternoda oleh darah dari punggungnya.

 

Aku ingin lari. Aku ingin pergi.

 

Tidak.

 

….

 

….

 

Aku ingin mati.

 

Air mata Luhan menggenang di pelupuk matanya. Ia menopang tubuhnya yang terlonjak-lonjak dengan sebelah tangan. Meraih pisau itu dalam sekali gerakan. Menghujam perutnya dalam-dalam. Dan gerakan pria di belakangnya terhenti. Ia merasakan getaran kuat dari tangan pria itu pada kedua pinggulnya yang telanjang. Lalu cengkraman pada pinggulnya melemah.

 

“Lu..Luhan..”

 

Luhan tersenyum. Lututnya tak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri. Perutnya nyeri. Jantungnya nyeri. Ia ambruk tengkurap pada permukaan ranjang. Sprei putih tergenang darahnya yang begitu merah.

 

“Tidak!!! Apa yang kau lakukan!! Dasar jalang!!

 

Luhan tertawa dalam hati melihat pria pucat itu begitu frustasi. Ia berbalik sekuat tenaga. Melihat ekspresi panik pemuda itu di antara sisa nyawanya.

 

” Luhan…Luhan…maaf…”

 

Luhan tersenyum sedikit melihat air mata pemuda itu. Pria ini begitu mencintainya,  tapi ia sakit. Ia gila. Luhan menang. Pria ini  akan mati tanpanya. Pasti akan  mati tanpanya. Tak berguna. Pecundang. Kau lemah. Luhan tertawa tanpa suara.

 

“Kau…mati,” bisik Luhan terbata-bata  sambil meregang nyawa. “Game over, Sehun.”

 

“Tidak! Kau tidak boleh mati, brengsek! Maafkan aku. Maaf…”

 

.

 

Who cares? It’s too late, Oh Sehun.

 

Game Over.

 


End-


AN : Ini sebenernya adalah sebuah ide ff setengah mateng saya. Sesuai ciri khas, ide ini sangat nista dan mesum sangad ) yang saya singkat jadi sf, makanya plotnya kacau. Ide ini udah lama, tapi gak tau kenapa saya terlalu malas mengembangkan plotnya ( tak mau menambah hutang ).  Hubungi saya kalau kalian berminat mengembangkan ide ini jadi FF, LOL.

 

Advertisements