seluhades


First Kiss…


Ketika aku SHS, kaum penyuka sesama jenis bukan saja dianggap makhluk asing seolah alien yang datang dari Planet Mars, tapi lebih menjijikkan ketimbang itu. Saat SHS, aku hidup pada masa dimana K-Pop tidak sepopuler saat ini dan skinship antara pria dengan pria masih terlalu tabu. Wajar saja jika semua teman-temanku menjauhi mereka, maksudnya ‘si kelompok homo’ itu. Jadi bisakah kau bayangkan ketika kepala sekolahku membuat aturan pemisahan kelompok perempuan dan laki-laki di hari pertama aku memasuki kelas 2? Semua orang melolong seperti serigala lapar di malam hari, menyoraki kepala sekolah yang berpidato di tengah-tengah aula, menuduh yayasan membuat suasana sekolah tak lagi terasa asik.

 

 

Saat memasuki kelas masing-masing, Chanyeol, anak yang sok tahu dan bersuara besar, bertelinga besar dan berambut cokelat, mengumumkan pada semua anak di barisan belakang dengan dramatis bahwa mungkin ia akan mati sebentar lagi karena dipaksa duduk satu meja dengan Baekhyun, siswa pendek bermata sipit dan berjari lentik di sebelahnya, yang dipindahkan dari kelas lain. Jadi aku melirik pada teman semejaku, sambil bertanya-tanya dalam hati apakah aku juga akan mati. Dia adalah pria berambut cokelat madu berwajah mirip perempuan, bermata bulat dan pendiam.  Namanya Luhan. Dalam hati aku berbisik ; pria ini tak terlalu buruk.

 

 

Di saat yang sama aku mendengar Chanyeol berseru, “aku heran sekali dengan para homo itu, memegang tangan dengan aneh pada sesama pria saja sudah membuatku merinding”, – ia memegang tangan Baekhyun namun dengan cepat melepasnya lagi seolah ia tengah tersengat listrik jutaan volt, – ” bagaimana bisa mereka mencium sesama pria seperti itu?” Chanyeol menambahkan.

 

“Ouwhh..” Seorang siswa dipojok mengeluh.

 

“Menjijikkan,” sahut yang lainnya sambil bertingkah memasukkan jari ke mulut seolah ingin muntah.

 

Aku melihat Luhan menggosok telinganya dan memutar mata, terlihat tak nyaman dengan obrolan kelompok tong kosong di meja belakang. Tingkah Luhan membuat bibirku bicara tanpa berpikir, “entahlah Chanyeol, tapi kurasa menjadi homo tak seburuk itu juga,” kataku.

 

Kelompok Chanyeol menatapku dengan tatapan yang begitu aneh, seolah aku ini adalah penghianat atau mungkin musuh.

 

“Kau sinting!” Umpat Chanyeol padaku.

 

“Terserah,” jawabku tak peduli.

 

Karena kehabisan kata, Chanyeol diam sejenak, tapi kemudian ia tersenyum aneh padaku. “Jadi, lakukanlah jika menurutmu itu tidak menjijikkan,” katanya.

 

“Melakukan apa?” tanyaku tak mengerti.

 

“Mencium anak laki-laki,” desaknya.

 

Aku terdiam. Ini gila, pikirku. Aku tak tahu harus berbuat apa. “Aku…” jawabku ragu.

 

“Kenapa? Takut? Jijik?” kata Chanyeol merasa menang.

 

Sialan, pikirku. “Apa yang kudapatkan jika aku melakukan itu?” sahutku tak mau kalah.

 

Chanyeol berpikir. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet dari sana.

 

“Aku tak butuh uangmu,” tolakku.

 

“Ck. Aku tak memberimu uang. Aku akan memberimu ini,” katanya sambil menunjukkan setumpuk kartu bisbol miliknya padaku. “Satu kartu bisbol untuk setiap ciuman. Deal?” katanya.

 

Aku bisa merasakan keteguhanku mulai runtuh. Mungkin pada akhirnya aku memang harus mencium anak laki-laki.

 

“Jadi…siapa?” tanyaku ragu.

 

Chanyeol mengarahkan dagunya pada Luhan. “Kau bisa mencium dia.”

 

Luhan berdiri cepat-cepat dari kursinya, hendak kabur. Seperti kebanyakan teman kelas kami, dia juga tak nyaman menonton ‘perang ngotot’ antara aku dan Chanyeol tadi. Wajahnya memerah sempurna karena ia terpilih sebagai korban. Aku agak gemetar saat mencoba meraih lengan Luhan. Tapi aku tetap melakukannya.

 

“Apa kau keberatan?” tanyaku kikuk sambil melihat mata cokelat Luhan. Dia tak menjawab, hanya diam menatapku, tampak sangat gugup. Aku tak banyak berpikir. Kucondongkan tubuhku padanya dan kukecup bibirnya dengan lembut. Anak-anak sekelas berteriak kesetanan, sedang Chanyeol melongo. Dan Luhan, malah menunduk tanpa suara.

 

Aku menoleh pada Chanyeol dengan ekspresi secongkak mungkin, sambil menjulurkan tanganku padanya. Ia membayar dengan satu kartu bisbolnya yang mahal itu padaku. Setelahnya tanpa ragu, aku mencium Luhan lagi, berulang-ulang. Hingga ketika wali kelas kami masuk, aku telah menemukan setumpuk kartu bisbol ditanganku.

 

Setelah insiden itu, sepanjang tahun sekolah, aku dan Luhan kerap bertemu diam-diam. Aku memang tak mendapatkan kartu bisbol lagi dari Chanyeol, tapi tak masalah. Bisa mencium Luhan sering-sering saja, itu sudah cukup.


End-


Pict : Seluhades

Advertisements