hunhan-curhat


CURHAT


A Passionate Lover. Hanya sederet huruf tebal berwarna hitam menyala yang menjerit tanpa suara pada layar notebook milik Luhan. Huruf-huruf itu mengingatkan Luhan pada beberapa cerita lainnya yang tak kunjung selesai meskipun bulan dan tahun terus berganti, membakar otaknya yang bengkak oleh kenyataan  bahwa apapun tak dapat ia hasilkan dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir. Cinta, hasrat, dan penghianatan, kini hanyalah secuil ide yang tersangkut dalam otaknya diantara ide-ide brengsek lain -tapi dia yakin jika semuanya adalah ide brilliant sesuai sistematis cara berfikirnya yang aneh kata orang-orang sekitar namun ia tak peduli pada hal-hal kecil itu-, tanpa bisa ia salurkan ke sebuah layar putih dengan kursor berkedip-kedip di hadapannya.

 

Apa yang salah? Mengapa letupan inspirasi yang selama ini ia andalkan, kini bahkan gagal menyala membentuk api semangat yang berkobar-kobar seperti dulu. Mungkin beberapa waktu terakhir kecanduannya akan game online sedikit memberikan pengaruh ‘dahsyat’  pada eksistensi ‘si tumpul lucu’ dalam mekanisme otaknya. Atensinya jatuh secara keseluruhan pada hal itu, bahkan terkadang ia lupa pada segalanya apabila tablet kesayangan yang ia agung-agungkan itu telah berada di dalam genggaman sepasang jemari miliknya. Ugh, sial. Mungkin manusia-manusia pintar di bumi ini harus bisa sedikit mengendalikan kecerdasan mereka agar inovasi-inovasi baru tak terlalu pesat perkembangannya, jadi otak-otak para pecinta gadget  tidak terkontaminasi oleh racun-racun aneh berbentuk kotoran hidung milik mendiang Michael Jackson itu terlalu banyak. Perumpaan yang payah.

 

“Ck, semuanya sampah.”

 

Luhan memencet ujung jerawat yang menempel secara sukarela di bagian bawah dagunya dengan gusar -sebenarnya ia merasa jengkel setengah mati- sambil melirik pada judul fiksi barunya yang berbunyi ‘A Passionate Lover’ itu seraya memaki nyamuk yang mendengung nakal di telinganya sedari tadi. Pada akhirnya Luhan hanya mendecak, kemudian men-shutdown Si Putih cantik yang berkilauan itu dan menjatuhkan dirinya ke atas ranjang dengan bokong yang mendarat terlebih dahulu.

 

Demi Tuhan, ia tak sanggup lagi memikirkan plot. Karakterisasi tokoh-tokohnya mengambang seperti adonan donat kentang yang menari-nari di antara minyak goreng pada wajan merah kesayangan Ibunya, lalu terombang-ambing di sekitar gender, gaya berpakaian, warna rambut, dan entah apa lagi sejenis itu, untuk tokoh favoritnya yang tak pernah berubah untuk sekian bulan dan tahun belakangan ini. Ngomong-ngomong soal gender, selama ini ia telah mematenkan diri untuk menulis fiksi-fiksi menyimpang yang spesifikasinya hanya mengarah pada kaum ‘homo-homo lucu’ -karena terlalu sering melihat pria cantik yang menyerupai gadis polos dan lugu di televisi, kurang lebih mirip dengan dirinya sendiri, ehm- namun akhir-akhir ini ia ingin ‘kembali’ menulis fiksi hetero yang dalam realita tentu saja lebih bisa diterima oleh khalayak ramai. Lagipula kemampuan menulisnya sudah merambat turun bahkan hampir mendekati angka nol akhir-akhir ini. Luhan selalu kesulitan memilih kalimat pertama, dan kalimat-kalimat setelahnya, tentu saja. Kemampuannya dalam mengembangkan ide dan mempertahankan konsistensi sudah lenyap, meskipun akhir-akhir ini banyak sekali kritikus yang mempertanyakan tentang keahliannya itu, dan kelangsungan hidup fiksi-fiksinya yang menggantung.

 

Kata mereka, menulis adegan seks adalah keahliannya yang paling fenomenal. Atau itulah nilai jualnya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh banyak sekali kritikus eksklusif di sekitarnya. Padahal sebenarnya ‘menurutnya sendiri’, adegan seks dan lain sebagainya hanyalah selentingan kecil kalimat panjang semacam bumbu penyedap yang selalu kau campurkan ke dalam sepanci sop panas dengan taburan bawang goreng dipermukaannya. Ya, itu adalah kekuatannya, ‘kata orang-orang’. Tapi kekuatannya itu telah pergi meninggalkannya. Jangankan menulis adegan tak senonoh, akhir-akhir ini ia bahkan tak mampu membayangkan serentet adegan normal yang bisa memeras darah melalui hidung para pembaca setianya, apalagi menulis adegan panas semacam itu. Segala hal mesum dan sejenisnya begitu gigih, menolak untuk hadir di dalam benaknya, dan kalaupun ia berhasil, hasilnya tak akan pernah sesuai dengan apa yang ia ekspektasikan. Segalanya mengecewakan, tulisannya itu.

 

Di sela-sela hiruk pikuk ‘sel-sel pusing’ di kepalanya yang entah mengapa semakin menjadi-jadi, decitan pintu dan dentingan ponsel memecahkan keheningan ruang kamarnya yang dingin. Sehun muncul dari balik pintu, dengan wajah datar yang tak pernah berubah semenjak mereka saling mengenal dan menjalin hubungan lumayan intim yang tampaknya aneh, bahkan ini masih pukul 9 pagi dan wajah Sehun sudah terlihat seperti tissue toilet yang diremas-remas oleh seseorang yang jengkel setengah mati oleh sesuatu. Entahlah, pria itu memang seperti itu sejak lahir, agaknya.

 

“Aku menghubungimu sejak tadi tapi tak satupun yang kau jawab.”

 

CK! Sudah kepala pusing, Sehun malah semakin membuat pusing.

 

“Aku sibuk.”

 

Luhan memutuskan mengabaikan Sehun dan memilih masuk ke ruang chatting favoritnya melalui gadget yang ia pegang. Tapi hanya sekejap saja, tablet putih kesayangannya telah berpindah tangan kemudian berpindah lagi ke atas nakas cokelat di samping ranjang.

 

“Ayo sarapan Lu, otak kosongmu akan semakin kosong bila nutrisinya tak terpenuhi sebagaimana mestinya.”

 

Luhan membuang nafas tak sukanya, tapi tangannya malah menjulur dengan manja, dan jangan lupakan wajahnya yang dibuat-buat agar tampak mirip seperti bayi milik tetangga sebelah. Luhan sempat melihat jika bola mata Sehun berputar malas, tapi toh pria tampan itu beranjak, lalu menyambut tangannya dan menariknya dengan lembut, membawa ‘mereka’ berdua menuju lantai bawah untuk menghabiskan sarapan pagi yang entah mengapa tak pernah terasa membosankan setiap harinya.

 

 

 


End-


 

Sesuai judul, ini bukanlah fiksi HunHan, hanya secuil curhatanku yang dituangkan dalam bentuk lain *sambil mencoba latihan menulis lagi*

 

Entah kenapa belakangan selalu susah ngetik, bingung mau memilih kata-kata, wkwkwk…tulisanku semakin amburadul, pemilihan kata-katanya selalu aneh dan dramatis tak berkesudahan/?, bikin ragu mau ngelanjutin FF laen2nya.

 

Tapi aku sedang berusaha comeback kok dengan hutang2 ffku yg belom lunas, haha…

 

Note ini sudah pernah aku share di akun fb pribadiku pada tahun lalu atau dua tahun lalu ( males cek tanggal notes, mungkin beberapa dari kalian sudah baca ya ). Terima kasih sudah membaca kembali^^

 

-written by tmarionlie-

 

Cr pict ada di gambar*

Advertisements