Male Depose

Male Depose


-Chapter 8-


Hampa dan asing. Seperti ini sajakah kisah cintaku berakhir?

Aku ingin berteriak, ingin memaki Tuhan atas segala hal yang aku alami, namun pada akhirnya aku hanya mampu menertawakan keironisan hidupku sendiri. Hatiku kosong dan dingin. Aku merasa mati. Dunia benar-benar tidak adil. Aku merasakan rindu, tapi arogansiku menahanku untuk mengakuinya. Aku memang berbeda, aku sangat mengerti. Hatiku menjerit menahan sakit, namun otak idiotku menyuruhnya diam.

Aku merindukannya.

Sentuhannya yang canggung dan hati-hati, sikapnya yang sopan dan penuh kasih menghangatkan hatiku yang membeku dalam kebodohan selama bertahun-tahun. Senyuman dan kasih sayangnya menggelitik perasaanku hingga membuatku egois ingin memilikinya seorang diri.

Tapi dia pergi. Aku yang membuatnya melakukan itu. Hatiku merasakan perih seolah ada tangan besar yang berusaha mengoyaknya, meremasnya hingga hancur berkeping-keping. Aku merasakan hatiku terluka parah karena tercabik terlalu dalam. Lututku melemah hingga aku tidak mampu menopang diriku sendiri. Aku menangis tanpa kusadari. Membayangkan punggungnya yang menjauh dan menghilang dari pandanganku, serta kalimat sederhana ‘aku menyukaimu’ , membuat suara tangisanku meledak tanpa bisa kucegah. Rasa sakit itu semakin gencar menghantamku.

Inikah yang harus kudapatkan dari egoku sendiri? Mengapa rasanya tidak begitu adil?

.

.

.

.

.

-Male Depose-

.

.

.

.

.

Ini sulit. Luhan membolak-balikkan tubuhnya berulang kali, namun hal itu tidak membantu sama sekali. Sangat sulit. Ulu hatinya nyeri. Malam seolah berjalan begitu cepat, bahkan ia belum berhasil tidur dengan usaha kerasnya memejamkan mata sejak beberapa waktu lalu. Sudah pukul 4 pagi, Luhan mengerang frustasi. Sebelah tangannya menyambar jam digital di permukaan nakas kemudian melemparkan benda itu begitu saja hingga remuk saat terhantam dinding.

Empat bulan berlalu tanpa Sehun, ia masih saja belum terbiasa. Tidak ada lagi pelukan, tidak ada lagi belaian. Semakin parah karena ia tidak dapat melihat Sehun lagi dalam waktu selama itu. Kemana pria kecil itu pergi?

Luhan mencari, tentu saja. Ingin sekali rasanya ia memeluk bocah itu, memeluknya sangat erat dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan semua kebohongan Sehun, semuanya. Ia mampu menelannya bulat-bulat, asalkan Sehun tetap berada di sisinya, setia dengannya. Tapi lagi-lagi, niat itu hanya bergerak di dalam hatinya saja, terlalu gengsi untuk mengakui semua itu dengan ucapan maupun perbuatan. Ia menunda, berpikir bahwa mungkin ia hanya membutuhkan sedikit waktu lagi untuk bertindak. Ia ingin Sehun kembali. Ia sempat mengusahakan hal itu, tapi sepertinya sekarang sudah terlambat.

Minggu pertama Sehun pergi, setiap hari Luhan menatap bocah itu dari kejauhan melalui halaman luar SHS Asian Pasific, namun di minggu kedua, Sehun menghilang. Hingga saat ini, Luhan tak pernah melihat bocah itu lagi, dimanapun. Entah kemana Sehun pergi.

Luhan menekuk lutut dan membenamkan wajahnya sendiri ke pangkuan, frustasi. Mengapa ia menjadi setolol ini? Frustasi. Sejak awal ia telah bersumpah untuk membuat Sehun selalu berada di sisinya, menjadi miliknya sendiri apapun caranya. Tapi kenyataan yang terjadi, ialah yang membuat pria itu pergi. Hanya karena emosi serta pikiran negatif yang tak mampu ia kendalikan, semuanya seolah terasa salah. Menyesal? Jika ada kata yang lebih daripada itu, mungkin itulah yang ia rasakan.

****

“Aku benci dengan fakta kalau kau berada di sini Kris,” Luhan mengumpat.

“Yeah, di sampingmu lebih tepatnya,” sahut pria pirang yang duduk di sisi kanannya.

“Jangan menggangguku.” Luhan mendengus, kemudian menenggak alkoholnya tanpa berminat menatap pria yang duduk di sebelahnya. Ia menarik napas kuat-kuat setelahnya, sampai hidungnya terasa nyeri.

“Reuni yang buruk. Payah bukan? Harusnya kita berkumpul di tempat yang lebih baik, bukan di tempat seperti ini. Padahal reuni ini sudah dijadwalkan hampir lima bulan yang lalu, dan hasilnya begini saja,” kata Kris, mencoba mengobrol lebih akrab dengan Luhan, tapi pria itu tak peduli.

“Kubilang jangan menggangguku.”

Bola mata Kris bergerak seirama arah gerakan tubuh Luhan. Pria manis itu mengabaikannya, melewatinya begitu saja, jelas-jelas mengusirnya, tapi Kris juga tak peduli. Ia memperhatikan Luhan yang melangkah agak terhuyung menuju kerumunan manusia di lantai dansa. Bombay Shappire menguasai gesture tubuhnya. Tangannya tersembunyi di dalam saku celana, tetapi tubuhnya bergerak lemah, Luhan menari dengan mata tertutup. Hiruk pikuk suara manusia dan juga alunan musik seolah tak mengusiknya sama sekali. Begitu angkuh. Seakan ada gelembung imajiner yang melingkupi tubuh ramping itu. Meskipun beberapa kali Luhan oleng, tapi ia tidak berpindah dari sana, ia kembali bergerak lamban, menari, jika bisa dikatakan seperti itu. Sementara manusia-manusia di sekitarnya berjingkrak-jingkrak dan melambaikan tangan-tangan mereka seperti gerakan senam pagi para buruh pabrik sekrup di Cina, beberapa pria bahkan menghayalkan jika mereka adalah Mike Jagger hanya karena sepenggal lagu Rolling Stones yang menggema di ruangan itu. Namun semua itu tidak mempengaruhi Luhan.

Kris menjauhkan bokong dari kursi tinggi yang ia duduki. Langkahnya pasti menuju pria manis yang menari tanpa semangat di tengah lantai dansa, menyingkirkan setiap tubuh yang menghalangi langkahnya tanpa ampun. Ia berhenti tepat di depan Luhan dan hanya diam disitu, netranya mengawasi Luhan dalam jarak sekian centi, tersenyum miring ketika melihat liquid bening mengalir dari sepasang mata yang tertutup itu. Sebegitu putus asanya kah Princess arogan ini?

‘Menarik sekali,’ – pikir Kris.

“Kau takkan sendirian,” Kris meraih pinggang Luhan dan menuntun pria manis itu menari bersamanya, menyesuaikan gerakan mereka dengan irama musik yang ada. Luhan mendorong, tapi Kris menangkap tangannya, menariknya ke pelukan, mengecup sisian leher, dan berbisik di telinganya, “cobalah untuk move on dan bukakan pintu agar aku dapat masuk ke hatimu,”

Luhan terkekeh. “Silahkan bermimpi,” ia menimpali seraya sikunya menekan kuat pada rusuk Kris, mencoba menyakiti si blonde. Penolakan.

“Jangan sok kuat. Kau terlalu lemah untuk melawanku,” Kris menimpali, lalu menarik tengkuk Luhan begitu saja, berusaha menuntaskan hasratnya untuk menikmati bibir itu kembali, tapi si pemilik bibir lebih gesit. Tubuh Kris jatuh terjerembab di lantai dansa. Satu bogeman mentah menghantam rahangnya, dan kali ini dadanya tertekan kuat oleh sepatu mengkilat milik Luhan. Orang-orang di sekitar mereka tampak terkejut dengan apa yang terjadi, bahkan Baekhyun dan Chanyeol yang berada dalam jarak beberapa meter dari mereka tampak kehabisan kata-kata. Kris menggeram. Lampu disko di langit-langit menerpa dirinya yang sedang terjebak dalam posisi yang sangat memalukan.

“Sudah kubilang jangan mengangguku. Aku tidak selemah yang kau pikir, sialan.”

Kris dapat melihat senyuman sinis di wajah Luhan. Harga dirinya jatuh sampai ke dasar-dasarnya. Tidak hanya dipukul di bagian wajah, ia juga dipijak oleh Luhan. Ia dapat merasakan wajahnya begitu panas, emosi menyengat kuat di kepalanya.

“Enyah kau dari hidupku.”

Luhan membebaskan Kris setelah berkata demikian. Pria ramping itu menjauh, mengabaikan kerumunan alumni mahasiswa yang tampak shock di sekitarnya. Chanyeol dan Baekhyun menghampiri Kris dan membantunya berdiri, tapi Kris menepis bantuan dua temannya itu dengan gusar.

Damn!”

Kris bernapas dengan susah payah. Begitu emosi sampai rasanya-rasanya ia ingin membunuh seseorang sekarang juga. Ia meraba rahangnya yang seolah remuk oleh pukulan yang dihadiahkan Luhan untuknya. Rasa nyerinya semakin terasa ketika ia menggeram, lagi.

Berani sekali. Kau akan membayar mahal atas semua ini, Luhan.’ Kris menyumpahi di dalam kepalanya sendiri.

****

Berlawanan dengan niat semula, Sehun terbangun hanya dalam beberapa jam dari ketika ia tertidur. Ia sangat berharap agar ia dapat tertidur untuk selama-lamanya, agar namanya memudar dan lenyap secara perlahan-lahan. Sehun terjaga di dalam ruangan yang hangat dan gelap, di atas ranjang yang keras, sejenak merasa tidak yakin dengan dimana tempat ia berada saat ini ataupun penyebab mengapa ia bisa sampai disini. Kepalanya berdenyut-denyut dan mulutnya terasa kering.

Mimpi buruk itu kembali. Sehun merasakan dorongan kuat untuk pergi, keluar, ke tempat dimana ia masih tinggal di rumah kontrakan kecil di pinggiran kota Seoul bersama Han Yoo Ri, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa pertemuan dengan Xi Luhan tidak pernah terjadi. Kedengarannya memang seperti sebuah penyesalan, dan sejujurnya ia memang merasa begitu. Kemana masa mudanya yang indah?

Di usia 17 tahun, ia sudah harus memahami betapa kerasnya hidup ini, menghadapinya seorang diri. Entah untuk apa ia hidup seperti ini. Tidak hanya dibuang oleh keluarga, mengalami kebingungan atas pengalaman berharga tentang percintaan, bahkan cinta pertamanya membuangnya. Seksualitasnya rusak, dan kini kondisi finansialnya telah berada di ujung tanduk. Ia terpaksa harus berhenti sekolah, dan harus pindah dari kontrakan kecilnya ke tempat yang lebih mini lagi, disini. Apa lagi yang akan lebih buruk dari ini, yang mungkin saja akan menyerang dirinya besok? Sehun bahkan tak mampu membayangkannya. Fakta memang benar-benar menyakitkan.

Matahari sudah tampak di langit, Sehun berjingkat di lorong hunian kumuh yang ia tinggali, kemudian melangkah menuruni anak tangga. Di bagian dasar tempat itu terdapat ruangan besar yang hanya diisi oleh meja dan kursi-kursi tua, mirip seperti lobi hotel. Ia melihat Kim Jongin, seorang salesman berpenghasilan rendah teman satu huniannya saat ini, sedang menikmati kopi hitam bersama Jung Sang Rim, sepupunya dari pihak ibu. Sehun mengabaikan dua orang itu dan melangkah menuruni undakan luar hunian kumuh itu. Ia melangkah ringan menapaki jalanan bersalju, sambil bersedekap karena udara dingin yang terasa menusuk tulang. Ia bahkan menarik napas dengan susah payah, hingga tampak seperti seseorang yang mengidap asma.

Disini mungkin adalah tempat barunya untuk berpikir. Ini hanyalah sebuah joglo kecil, di bawah pohon rindang yang daun-daunnya terselimuti oleh butiran salju. Sejenak ia memeriksa pesan-pesan di ponsel. Seung Hwan menelepon dua belas kali, dan meninggalkan enam pesan. Pasti kakaknya itu sudah terdesak biaya hidup, dan meminta ia mengirimkan uang, seperti biasanya. Sehun memijit pelipis. Kakaknya itu tidak tahu menahu tentang kehidupan sulit yang ia jalani sekarang. Yang lelaki itu tahu, Sehun adalah remaja muda berpenghasian tinggi, dengan pekerjaan penuh misteri yang ia lakoni. Padahal kenyataan sebenarnya tidak seperti itu, sudah berubah 360 derajat dari masa-masa yang dimaksud.

“Kau tampak sedih.”

Sehun menoleh, Jung Sang Rim berjalan dengan dua cup mie instan di tangannya, salah satunya ia sodorkan pada Sehun. “Makanlah, mungkin kau akan lebih bersemangat jika perutmu sudah diisi.”

Sehun meraih cup itu dan tersenyum. “Kau ramah sekali, tidak seperti sepupumu.”

Sang Rim terbahak mendengar ucapan Sehun. “Jangan salah paham. Kekasih Jongin sangat pencemburu, karena itu ia mengisolasi diri dari hubungan pertemanan, khususnya dengan sesama kaum lelaki.”

Sehun baru hendak membuka mulut, tapi tidak jadi.

“Jongin itu gay, meskipun aku tidak yakin dengan spekulasi itu, tapi yang aku tahu ia mengencani lelaki saat ini, jadi aku menilainya begitu. Atau mungkin ia biseks, entahlah,” dan Sang Rim telah menjawab apa yang ingin ia tanyakan barusan.

“Oh,” hanya itu yang dikatakan oleh Sehun, setelahnya ia hanya diam, memandangi lingkaran cup mie instan yang ia pegang. Tiba-tiba bayangan wajah Luhan memenuhi otaknya saat ia mendengar kata gay. Sehun memijit kening, frustasi, kemudian memilih untuk menikmati mie instan itu tanpa bicara.

“Kenapa kau mau tinggal disini? Penampilanmu tidak seperti pemuda miskin lainnya. Kau terlalu fashionable.”

Sehun tersedak, ia melirik Sang Rim dengan beberapa pikiran aneh yang memenuhi kepala, lalu ia memilih mengabaikan pertanyaan gadis itu, lagi-lagi menikmati mie instan di genggamannya tanpa bicara.

“Apa kau tahu? Jongin adalah mahasiswa hukum tahun pertama di Yale, ia berkewarganegaraan Amerika tadinya. Ia pintar dan ambisius, tapi tidak pernah berpikir untuk mencari komitmen serius.”

Sehun diam, menyimak. Ia tidak tahu apa yang akan ia petik dari cerita ini, tapi ia berusaha mendengarkan.

“Dulu ia memiliki seorang gadis, pacar yang cantik dan kaya, tapi tidak direstui.”

“Alasannya?”

Sang Rim tersenyum. “Mereka sepupu, orangtua si gadis tidak menyukai hubungan seperti itu.”

“Oh.”

“Gadis itu adalah adikku, Jung Krystal.”

“Oh? Kalau begitu, kau adalah seorang puteri kaya juga,” timpal Sehun.

“Ya, tadinya.”

Sehun terdiam. ‘Tadinya. Akupun begitu.’

“Jongin dan Krystal berpacaran selama empat bulan, backstreet. Hubungan mereka lebih cenderung ke kasual ketimbang romantis.”

“…”

“Satu malam, Jongin mengantarkan Krys pulang, ayah kami menangkapnya, tanpa seorangpun yang tahu. Tapi aku menyaksikan segalanya, dari tempat tersembunyi. Aku melihatnya dengan jelas, bagaimana ayah kami melucuti Jongin dan menerkamnya dengan penuh nafsu.”

Sehun terkesiap. “Hah?”

Sang Rim tersenyum kembali. “Tidak aneh. Dunia ini memang penuh dengan kebohongan, pencurian, spionase, dan entah dusta apa lagi. Yang aku tahu, setelah kejadian itu, perilaku Jongin berubah. Ia menjadi pendiam. Ia pergi meninggalkan segalanya, melupakan Krystal, meninggalkan keluarga, apapun itu. Ia hidup dalam banyak sekali proses kesengsaraan. Aku mengikutinya. Kami bahkan pernah tidak makan apapun dalam beberapa hari.”

“Untuk apa mengikutinya?” tanya Sehun.

“Entahlah. Aku hanya tidak ingin ia sendirian. Ia membutuhkan teman, mungkin aku bisa memenuhi kebutuhan itu. Dan ngomong-ngomong, Jongin bukanlah seorang salesman seperti yang kau tahu. Dia itu penjahat, pencuri, pengedar narkoba. Apapun akan ia lakukan demi uang, tuntutan hidup. Mahasiswa hukum yang pada akhirnya menjadi pelaku tindak kriminal, ironis bukan? Tapi Jongin memilih hidup seperti ini, aku juga tak ingin mengusiknya.”

“Untuk apa kau menceritakan ini semua padaku?” tanya Sehun.

“Hanya ingin memberimu motivasi, mungkin kau bisa bersyukur. Ada banyak remaja yang hidup dalam keadaan lebih sulit dari kau. Mereka tinggal di dalam kotak-kotak kardus, makan nasi satu kali sehari, itupun jika mereka mampu. Upah mereka sangat rendah, bahkan seringkali tidak dibayar untuk pekerjaan-pekerjaan kasar. Kita masih lebih baik, jadi bersemangatlah.”

Sehun tersenyum kecil ketika gadis itu menepuk bahunya. “Kau bisa menemuiku lagi bila kau butuh pekerjaan. Bagaimanapun, hidup ini sulit.” Sang Rim tersenyum dan melangkah pergi.

Sehun terdiam, berpikir. Ia mengkalkukasikan seluruh biaya yang harus ia penuhi pada bulan ini di dalam kepalanya, berpikir. Ia belum merencanakan bagaimana ia akan hidup di bulan depan, tidak mau pusing memikirkannya dulu. Untuk saat ini, ia memang butuh pekerjaan. Karena itu, ia meletakkan cup mie instannya dan menyusul Sang Rim dengan cepat.

“Hei!” Sehun menepuk bahu gadis itu. Sang Rim menoleh padanya dan menaikkan alis, bertanya. “Apa pekerjaanmu?” tanya Sehun tanpa basa basi.

Sang Rim tertawa. “Yang pasti, aku bukan penjahat seperti Jongin. Tapi pekerjaanku juga tak lebih baik dari sepupuku,” jawab gadis itu.

Sehun terdiam. Berpikir.

“Hei, Sehuna..”

“Ya?”

“Kau bisa menari?”

.

.

.

Jadi ini?

Sehun mengepalkan tangannya di depan mulut. Ia berada di dalam sebuah klab malam. Lampu-lampu disko berkerlap-kerlip, sinar laser dan neon memenuhi ruangan. Musik modifikasi yang penuh desahan wanita menggema. Tempat ini tidak asing. Ia pernah kesini sebelumnya. Beberapa meter di depannya, Sang Rim tampak menari sensual dengan pakaian yang amat sangat mini, menggoda para pengunjung, meraba perut-perut buncit mereka dan merogoh saku-saku mereka untuk mendapatkan apa yang ia mau.

“Ugh.” Sehun menggerutu.

Ingatannya tentang tempat ini, menyakitkan. Sehun memijit pelipisnya, melirik kursi tinggi di pojok ruangan. Ia pernah duduk disana, membujuk si pemabuk Luhan agar pria dewasa itu mau pulang bersamanya saat kencan pertama mereka dulu. Bayangan wajah pria manis itu menyeruak begitu saja di dalam kepalanya tanpa aba-aba. Wajah mungil nan angkuh, mata bulatnya, dan bibirnya, Sehun merindukan semua itu. Semua pengalaman yang telah ia lewati bersama Luhan sungguh indah, namun menyakitkan di saat yang bersamaan. Tanpa sadar ia menjambaki rambutnya sendiri. Dengan mata terpejam erat ia mencoba menghalau bayangan wajah Luhan dari kepalanya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Wajah itu malah semakin jelas, membelenggu dirinya erat. Ia seolah lumpuh. Organ vital di dalam dadanya berdenyut perih.

“Lu…” bibirnya menyebut nama itu tanpa ia sadari. Dan ketika tersadar, Sehun kembali mengeluh. Ia menarik napas sambil memperbaiki tatanan rambutnya yang mungkin saja sudah tidak beraturan, bola matanya menatap lurus ke depan dan ia tidak menemukan Sang Rim dimanapun padahal musik erotis masih saja mengalun.

“Mencariku?”

Sehun menoleh dan menemukan gadis itu di sisi kanannya. Sang Rim telah berubah wujud kembali menjadi gadis tomboy seperti yang ia kenal sebelumnya. Ia mengenakan jeans dan juga jaket berwarna gelap, rambut panjangnya ia gerai di balik topi yang ia kenakan.

“Jadi kau menari striptis?” Sehun bertanya tanpa memandang gadis itu.

“Ya, tuntutan hidup. Pekerjaan ini membuatku mudah mendapatkan uang. Kau boleh bergabung denganku kalau kau mau. Tentu saja kau tidak perlu menggoda pengunjung. Mungin hanya menghibur mereka dengan menari erotis di panggung denganku, mungkin?”

Sehun tertawa kecil. “Entahlah, aku tidak yakin.”

Sang Rim ikut tertawa. “Pikir-pikir saja dulu.”

Sehun mengangguk. “Ya. Tentu.”

“Ayo pergi dari sini. Aku akan mentraktirmu makan sebelum kita pulang.”

“Makan di waktu selarut ini?” tanya Sehun heran, tapi gadis di sebelahnya itu menggoyangkan alis dan mengangguk yakin. Sehun ragu, dan sebenarnya ia tidak lapar sama sekali. Tapi ia mengangguk juga. “Oke. Ayo kita makan saja,” katanya seraya menarik pergelangan tangan gadis itu, tapi Sang Rim menahannya.

“Kau keluar duluan saja, Sehun. Aku akan mengambil ranselku dulu.”

“Oh, oke.”

****

Dari sekian banyak klab malam di kota Seoul, memilih salah satunya tidaklah sulit. Luhan mematikan mesin mobilnya di halaman parkir Sexonico Night Club, klab malam favoritnya. Ia menggulung lengan kemeja denimnya, membuka kaca jendela mobil dan memutuskan untuk menyulut sebatang rokok sebelum ia masuk ke dalam klab. Tengkuknya ia sandarkan pada jok. Di antara keremangan cahaya karena ia tak menyalakan lampu mobil, Luhan menatap gumpalan asap rokoknya sambil berpikir. Beberapa kali ia berdecak, kemudian ia merenung. Sama. Masih saja nama Sehun yang berputar-putar di dalam otaknya. Ia kembali berdecak, kemudian melemparkan puntung rokoknya begitu saja keluar jendela.

“Sehun Sehun Sehun. Menyingkirlah dari kepalaku, keparat! Aku muak dengan keadaan ini,” keluhnya. Kepalan tangannya ia ketuk-ketukkan ke kening, dan ia mendengus. ” Hanya pria tolol yang mau hidup dengan perilaku gila dan merindukan bocah ingusan brengsek seperti Oh Sehun.” Luhan bermonolog dengan gusar. “Dan tentu saja aku bukan pria tolol semacam itu!”

Keputusan final. Luhan menarik napas dan menyambar dompet. Ia turun dari mobil dan membanting pintunya sebelum ia melangkah lebar-lebar ke arah klab. Di dalam kepala, ia sudah memutuskan akan memulai hidup baru. Ia ingin lepas dari bayang-bayang masa lalu, membuang nama Sehun jauh-jauh dari otaknya, dan juga hidupnya. Ia yakin dirinya tak akan semenderita ini jika ia mau mencoba menjadi lebih realistis. Ia adalah Luhan yang maha agung, oke? Secuil Sehun seharusnya tidak akan mampu merusak hidupnya yang berharga. Bocah ingusan itu bukanlah siapa-siapa, dan seharusnya memang bukan apa-apa jugauntuknya. Sehun tidak ada artinya sama sekali, meskipun hatinya menentang semua asumsi tersebut.

Luhan sudah yakin. Ia sangat yakin bahwa…

“Huh?”

Bahwa ia mungkin memang sudah gila. Dunia berhenti berputar. Ia merasakan pijakannya melemah, dan jantungnya melompat sampai terasa nyeri. Jakunnya naik turun dan matanya terpaku pada satu arah. Itu…hanya beberapa meter di depannya…

“Se -”

“Sehun…”

.

.

.

“Apa hubunganmu dengannya?”

“Mengapa anda ingin tahu, tuan?”

“Karena dia adalah milikku.”

.

.

.

-To Be Continued-

Advertisements