MALE DEPOSE

Male Depose

.

Written by tmarionlie♡♡Poster by LE Design
.

.

[HunHan]

.

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


Chapter 7


Altar sederhana, terbuat dari tiang-tiang penyangga yang terlilit oleh tanaman rambat dan juga chiffon putih. Angin sepoi-sepoi bertiup dari arah barat, mengayunkan rambut cokelat madunya yang ditata rapi. Luhan berjalan dengan gugup. Jantungnya bertalu kencang, namun senyuman tampan dan binar mata pria berkulit pucat yang menantinya di Altar sana membuat segalanya menjadi terasa ringan. Beberapa langkah anggun diiringi senyuman berseri pada wajah, dan Luhan sampai di depan pemuda itu, yang dengan tatapan penuh kekaguman, meraih jemarinya dan membawanya naik ke atas Altar dengan lembut. 

Kelopak bunga-bunga Lily yang menghiasi meja di hadapan mereka bergerak-gerak karena tertiup oleh angin, tepat ketika Sehun dan Luhan mengucapkan janji untuk sehidup-semati, saling mencintai untuk selamanya. Langit semakin meredup. Bias jingga menerpa semburat di pipi Luhan di saat mereka berdiri berhadapan. Sehun memeluk pinggangnya, kemudian menariknya mendekat. Bibir tipis yang sejak tadi mengulum senyuman bahagia itu menggapai bibir Luhan, menyesapnya lembut dan penuh penghayatan. Sorak bahagia dan juga suara tepukan tangan terdengar riuh melalui sekeliling, namun Sehun dan Luhan masih betah pada posisi mereka, saling memeluk dengan bibir yang saling menyentuh dalam. 

Luhan baru saja mengangkat tangan kirinya, meremas rambut Sehun dengan gemas, namun helaian rambut pemuda itu terasa begitu nyata pada telapak tangannya. Kesadarannya berkumpul menjadi satu, kemudian tiba-tiba saja pandangan matanya memburam. Sorakan riuh dan suara tepuk tangan berubah menjadi suara hujan. Pada detik yang sama, Luhan tersadar jika semua ini bukanlah kenyataan. Ini hanyalah mimpi. Peristiwa semu yang muncul di alam bawah sadarnya akibat keinginan gilanya untuk memiliki Sehun selamanya, membuat pria itu mencintainya. 

Kesadaran yang semakin lama semakin menyatu membuatnya merasa kecewa tiba-tiba, namun kepalanya terasa dingin seolah baru saja tersiram oleh air es di musim salju setelah dia menyadari satu hal. Ciuman ini nyata. Sehun benar-benar menciumnya dengan penuh perasaan, melambungkan angannya terbang menembus awan-awan di langit. Dan di detik berikutnya, Luhan membuka mata.

.

.

.

“Mmmhh…”

 

 

Luhan melenguh, namun mengeratkan cengkramannya pada helaian rambut Sehun. Pria yang menghimpit tubuhnya itu masih memejamkan mata, masih menikmati bibirnya dengan penuh penghayatan tanpa peduli pada fakta bahwa pria yang dia curi ciumannya telah terbangun oleh apa yang dia lakukan. Beberapa sesapan balasan dilakukan oleh Luhan, kemudian Sehun berhenti menciumnya, melepaskan bibirnya dan menarik kepalanya menjauh.

 

 

“Pagi.”

 

 

Senyuman itu menggetarkan hati Luhan. Dan tatapan matanya yang teduh kembali membawa Luhan melayang tinggi ke atas awan.

 

 

“Ya. Selamat pagi, Oh Sehun. Terima kasih telah membangunkanku dengan cara yang begitu manis, tapi ciumanmu mengacaukan mimpi indahku,” gerutu Luhan dengan nada kecewa yang terdengar jelas melalui suaranya.

 

 

“Mimpi seperti apa?” tanya Sehun, menyingkirkan helaian poni yang menjuntai di sekitar dahi Luhan dan memberikan satu kecupan sayang di sana.

 

 

Luhan tertegun. Sikap Sehun semakin hari semakin lembut padanya. Segalanya tampak begitu nyata, seolah Sehun benar-benar melakukan semuanya atas keinginannya sendiri. Seperti benar-benar melakukannya dengan perasaan.

 

 

“Kau memimpikan apa, Luhan?”

 

 

Luhan tersentak dan kembali pada pikirannya setelah mendengar desakan pertanyaan itu. Menghela nafas satu kali, dia melemparkan senyumannya pada Sehun.

 

 

“Mimpi tentang sesuatu,” jawabnya dengan suara rendah, “suatu kesalahan, namun sangat indah dan membuatku merasa bahagia.” Luhan membuang nafas kecewanya. “Sayangnya hanya mimpi.”

 

 

Sehun menggeser tubuhnya, berbaring di samping Luhan. Dia raih jemari tangan Luhan yang dingin, dan dia genggam erat-erat tangan pemuda cantik itu. “Mau menceritakannya padaku?”

 

 

Luhan menggeleng. “Kau tidak akan suka mendengarnya.”

 

 

“Aku akan berusaha mendengarkan semuanya dengan baik.”

 

 

Luhan melirik ke arah Sehun, namun kembali mengalihkan tatapannya dalam sekejap, mengamati langit-langit kamarnya sendiri.

 

 

“Aku bermimpi tentang…pernikahan.”

 

 

Hening. Tak ada suara yang terdengar selain hanya suara derai hujan di luar sana.

 

 

“Bagaimana menurutmu?” Luhan berpaling, melirik pada Sehun yang masih menatapnya tanpa suara.

 

 

“Kau…sudah ingin menikah?” Sehun malah balik bertanya, tak berusaha menyembunyikan nada kekecewaan di dalam suaranya. Tapi sesaat kemudian dia mengangguk kecil. “Itu bagus. Kau memang sudah cukup umur untuk menikah,” lanjutnya, melepaskan tangan Luhan yang dia genggam dengan kecewa.

 

 

Keduanya kembali terdiam untuk waktu yang begitu lama. Luhan memiringkan tubuhnya, menatap lurus pada gorden jendela yang berkibar tertiup angin, hingga sesekali matanya dapat melihat jutaan air hujan yang turun dari langit melalui celah-celah gorden. Sementara Sehun, menatap tengkuk Luhan dari sisi belakang punggung sempit pemuda cantik itu tanpa suara.

 

 

“Hujannya deras sekali,” kata Luhan tanpa menoleh.

 

 

Sehun hanya diam, tak berniat memberikan komentar apapun.

 

 

“Tapi aku harus pergi bekerja hari ini,” kata Luhan lagi, tetap tanpa menoleh. Dan Sehun, masih tetap diam tanpa suara.

 

 

“Sehun…”

 

 

Sehun terkesiap ketika mendengar namanya disebut oleh pemuda cantik itu. “Ya?” jawabnya, sekaligus bertanya.

 

 

“Apa kau…menyukaiku?”

 

 

Sehun tertegun. Satu pertanyaan ini mengundang berjuta makna di dalamnya. Sehun tak mengerti ‘rasa suka’ seperti apa yang di maksud oleh Luhan, namun apapun makna yang terkandung di dalam pertanyaan itu, Sehun yakin jika dia menyukai Luhan, dalam hal apapun.

 

 

“Ya. Tentu saja aku menyukaimu, Luhan.”

 

 

Luhan tersenyum getir. “Bagus sekali. Terima kasih,” katanya nyaris tak terdengar, ‘sialnya aku terlanjur mencintaimu‘  lanjutnya tanpa gerakan bibir dan suara.

 

 

Untuk sesaat, keduanya kembali terdiam, menjelajah pada kemana pikiran masing-masing membawa mereka. Udara berhembus dingin, menghantarkan jutaan rasa menggigil hingga bintik pori di sekujur tubuh Luhan memunculkan eksistensinya.

 

 

“Aku kedinginan Sehun…bisakah kau memelukku?”

 

 

Sehun tersenyum tipis di balik punggung Luhan, kemudian dia beringsut mendekat. Lengan kirinya melingkar begitu saja ke tubuh Luhan, menempel melalui perut hingga menyilang melewati dada, dan telapak tangannya berakhir dengan menyentuh bahu kanan pemuda cantik itu tanpa ragu-ragu.

 

 

“Masih ada satu jam yang tersisa. Istirahat lagi saja. Aku akan menyiapkan air panas dan juga sarapan untukmu,” kata Sehun sambil berusaha melepaskan pelukannya, tapi Luhan menahan gerakannya.

 

 

“Sebentar lagi, Sehun. Peluk aku dulu…sebentar saja.”

 

 

Sehun menarik nafas dalam. Tubuhnya kembali dia baringkan, dan kali ini dia tarik punggung Luhan agar mereka berbaring berhadapan. Dalam sedetik, wajah mungil Luhan telah terbenam di dalam lekukan lehernya, dan rambut cokelat madu pemuda cantik itu menggelitik dagunya. Keduanya saling memeluk erat, hanya diam sambil menikmati nyanyian hujan di pagi hari beku yang dingin ini.

 

 

“Jika kau menikah nanti…aku harus pergi kan?” tanya Sehun nyaris berbisik. Airmata berkumpul di pelupuk matanya, sebagai wujud dari rasa sedih dan sesak menyakitkan yang menghantam jantungnya sejak tadi. Luhan sudah ingin bergerak dan bicara, tapi Sehun tak membiarkannya menjauh sedikitpun.

 

 

“Jangan menjawab,” cegah Sehun. “Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku…” lanjutnya seiring dengan matanya yang terpejam, membuat buliran air yang berkumpul di matanya meluncur turun begitu saja. Entah mengapa dia sesedih ini, Sehun pun tak mengerti dengan dirinya.

 

*****

“Aku pergi dulu, Sehun…”

 

 

Sehun mengangguk, dan Luhan berbalik setelah sempat melemparkan sebuah senyuman untuk pria simpanannya itu, kemudian bergegas masuk ke dalam Bugatti Veyron hitam mengkilatnya. Mobil itu menjauh secara perlahan, dan Sehun menatapnya dengan pikiran yang berkecamuk.

 

 

Pagi masih berjalan seperti biasanya. Sepanjang langkah kakinya kembali menuju Apartemen milik Luhan, tatapan Sehun tak pernah beralih dari lantai yang dia pijak. Pikirannya kacau, menjelajah kemana-mana. Udara padat seolah menyerangnya secara bertubi-tubi ketika dia menutup pintu utama, membuatnya merasa sesak hingga dia sulit bernafas. Jam di dinding ruangan telah menunjukkan angka setengah delapan pagi, karena itu Sehun cepat-cepat membawa langkahnya lurus menuju gudang penyimpanan barang-barang usang yang tak terjamah. Melalui rak paling bawah, tempat dimana dus-dus penyimpan peralatan olahraga tak terpakai, Sehun menarik keluar ransel birunya, rutinitasnya setiap hari ketika Luhan telah pergi bekerja. Dia sampirkan ransel itu ke bahunya, kemudian dia kembali melangkah keluar Apartemen.

 

 

Telah begitu banyak hal yang dia lewatkan selama satu bulan lebih 14 hari belakangan ini. Sehun harus memangkas jadwal belajar yang seharusnya berjalan selama 13 jam perhari, menjadi hanya 7 jam perharinya. Bahkan dia tak pernah lagi menghadiri bimbingan belajar khusus seperti anak-anak lainnya. Belum lagi jika hal-hal seperti kemarin harus dia alami, dimana Luhan memutuskan untuk cuti dari pekerjaan, yang artinya mau tak mau dia juga harus ikut meliburkan diri karena memang dirinyalah pihak yang harus menyesuaikan jadwalnya dengan jadwal hidup Luhan sejak sebulan lebih yang lalu.

 

 

Sehun mempercepat langkah kakinya hingga setengah berlari. Bulir keringatnya bahkan telah jatuh melalui pelipis meskipun udara pagi sangat dingin menusuk tulang. Rasanya melelahkan sekali jika setiap hari harus dilalui dengan rutinitas monoton yang seperti ini, namun Sehun tak ingin mengeluh. Mungkin beberapa waktu yang lalu dia akan menghabiskan paginya dengan mengutuk-ngutuk nasib sial yang membelenggu hidupnya hingga harus terjebak di dalam keadaan menyebalkan ini. Namun akhir-akhir ini dia tak pernah lagi melakukannya. Semuanya telah berhasil dia lalui dengan baik, dan kembalinya Seung Hwan sebenarnya sudah cukup memberinya alasan untuk berhenti dari jebakan hidup yang melelahkan ini dan kembali pada hidup normalnya seperti dulu. Tapi Sehun sudah tak menginginkan semua itu lagi semenjak perasaannya berubah terhadap orang itu. Tak ada lagi yang lebih berarti bagi hidupnya untuk saat ini kecuali orang itu. Tidak orangtuanya, tidak Han Yoo Ri, tidak juga Oh Seung Hwan. Tapi Xi Lu Han. Hanya pemuda itu yang paling berharga untuk hidupnya saat ini.

 

 

Entah sampai kapan.

 

*****

Tak ada yang Luhan lakukan sejak pukul 9 pagi tadi. Meja kerjanya bahkan nyaris tak tersentuh. Malas. Luhan tak bersemangat untuk melakukan apapun hari ini. Beberapa kali sekretarisnya yang berdada besar itu mengantarkan dokumen ini-itu yang harus dia tandatangani, namun Luhan hanya menyuruh gadis itu menumpuknya di sudut meja dan dia akan mengusir gadis itu keluar dari ruangannya.

 

 

Bukan tanpa alasan mood-nya memburuk seperti sekarang. Tentu saja semua ini karena Sehun, ehm, mungkin masalahnya sebenarnya terletak pada dirinya sendiri. Sejujurnya, Luhan tak mampu menahan semuanya lebih lama lagi, maksudnya perasaannya pada pemuda itu. Hatinya menyuruh mulutnya untuk segera mengaku, namun otaknya menyuruhnya tetap bungkam. Dan berkali-kalipun mencoba menentang, pada akhirnya Luhan hanya akan menurut pada apa yang otaknya suarakan, karena benda pintar yang bersemayam di dalam kepalanya itu memberikannya banyak alasan logis tentang mengapa dia harus tetap diam dalam kasus ‘perasaan’ ini.

 

 

Tentu saja semua alasan itu sangat berkaitan erat dengan pride-nya sebagai lelaki yang agung. Luhan yakin jika dia akan tahan untuk menyimpan semuanya sampai akhir meskipun dia merasa menderita. Otaknya memberikan rasa optimis itu untuknya. Lagipula, dia tak berniat melepaskan Sehun walau apapun yang terjadi, termasuk apabila ‘misalnya‘, Sehun membencinya. Dia akan mampu melakukan apapun asal Sehun tetap berada di sisinya. Pemuda pucat itu harus mencintainya nanti.

 

 

Bosan berdiam diri di dalam ruang kerjanya, Luhan memutuskan untuk keluar. Mungkin dia bisa menelepon Sehun dan memaksa pria-nya itu untuk meninggalkan kampus lalu datang padanya, kemudian mereka bisa makan siang bersama di restoran yang bagus. Langkah kakinya dia perlebar lagi ketika dia mencapai lantai paling dasar. Namun tiba-tiba saja segala rencana indah egoisnya itu buyar oleh sebuah kebetulan menyebalkan dari sumber yang juga menyebalkan melalui pintu utama gedung. Seorang pria blonde  baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perkantoran miliknya ini. Pria itu terlihat berbinar ketika mereka bertemu, dan dalam sekejap saja pria itu telah melangkahkan kaki lebar-lebar menuju ke arahnya. Lalu dengan seringaian menjijikkan serta tanpa aba-aba, pria blonde itu menarik lengannya dan membawanya menuju mobil putih yang terparkir tak jauh dari gedung.

 

 

Luhan mendengus ketika dia di dudukkan paksa di dalam mobil pria tinggi itu, dan mendecih sinis saat pemuda itu duduk di sebelahnya. “Untuk apa kau membawaku kesini?” tanyanya tanpa menoleh, malah membuang tatapannya ke arah luar jendela. Dia memang tak ingin menatap pria setengah bule itu, karena entah mengapa, dia merasa muak pada pemuda tinggi ini sejak…sejak…ehm, sejak entahlah. Entah sejak kapan.

 

 

“Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal.”

 

 

“Dan aku yakin jika apapun yang akan kau tanyakan pasti menyebalkan,” jawab Luhan sengit. “Kau tahu? Kau tak harus bersikap terlalu peduli pada hidupku, Kris.”

 

 

“Ya. Tapi sayangnya aku peduli,” jawab Kris. Tangannya telah meraih jemari Luhan, dan sebelum Luhan sempat menariknya dengan paksa, Kris telah lebih dulu mencengkramnya kuat-kuat. “Dengarkan aku Luhan. Aku peduli karena aku menyukaimu. Aku sudah menyukaimu sejak lama, sejak dulu.”

 

 

Luhan terhenyak. Tanpa bisa dia cegah, lehernya berputar dan matanya terpaku pada wajah Kris. Terkejut? Tentu saja itu yang dia rasakan sekarang.

 

 

“Apa maksudmu?” nada suara Luhan meninggi. Entah mengapa dia merasa emosi secara tiba-tiba. Pria yang berada di sampingnya ini sedang berusaha mempermainkannya, setidaknya itulah yang dia yakini. Dan Luhan tak menyukainya. “Jangan mengucapkan lelucon tak bermutu, Kris. Aku belum terlalu lama mengenalmu. Lagipula kau adalah pria normal, kita semua tahu itu.”

 

 

Kris terkekeh. “Sayangnya kau terlalu cantik. Sangat cantik dan membuat otak normalku tak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik,” bisiknya dengan suara berat. Satu tangannya yang terbebas menyelip di antara tengkuk Luhan dan sandaran jok, lalu wajahnya mendekat secara perlahan ke wajah mungil pria cantik yang dia puja. “Aku memiliki obsesi padamu. Sangat kuat, dan juga mengerikan.”

 

 

“Menjauh dariku, Kris! Dasar gila!” umpat Luhan sambil menahan dada Kris agar tak mendekat padanya, namun Kris malah melepaskan tengkuknya, mencengkam kedua pergelangan tangannya lalu menahannya ke kaca jendela mobil.

 

 

“Ya. Aku tak merasa keberatan menerima anggapan itu selama kau yang mengucapkannya sayang…”

 

 

Itu adalah sebaris kalimat terakhir yang diucapkan oleh Kris sebelum dia berhasil membungkam Luhan dengan sebuah ciuman. Gerakan brutal yang dilakukan oleh Luhan untuk menolaknya, membuat hasratnya melambung naik. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa gerah dan terbakar, apalagi kali ini dia berhasil memenuhi salah satu obsesi gilanya untuk menikmati bibir pemuda cantik pujaannya itu, merasakan tekstur lembut yang seolah membuat otaknya berhenti berfungsi secara mendadak.

 

 

Luhan telah hampir putus asa ketika rasa sesak yang teramat sangat, menghantam paru-parunya. Dia butuh bernafas, namun Kris tak mau beralih. Beberapa menit yang menyiksa dia lewati sambil berusaha melepaskan cengkraman Kris pada pergelangan tangannya, dan Luhan meraup udara sebanyak-banyaknya ketika Kris melepaskan bibirnya pada akhirnya. Pria itu masih mencumbuinya, mengecupi bagian wajahnya di sana-sini.

 

 

“Berhenti. Berhenti Kris!”

 

 

Luhan mengumpulkan tenaganya ke kepalan tangan. Dengan paksa dia melepaskan diri dari cengkraman tangan Kris, lalu dia dorong pria setengah bule itu menjauh dari dirinya setelah dia terbebas. Sedikit menggeram dan menampakkan raut jijik, Luhan menyeka bibirnya sendiri dengan punggung tangan. Tatapan kebencian dia lemparkan ke arah Kris, namun pemuda blonde itu malah membalas dengan seringaian menjijikkan pada wajahnya.

 

 

“Aku tidak suka disentuh oleh kau!” kata Luhan dengan gigi yang saling merapat geram disertai tatapan sinis mengintimidasi pada wajahnya, namun Kris malah menarik satu sudut bibirnya hingga seringaian menyebalkan tercipta di sana.

 

 

“Aku akan membuat kau menyukainya,” tukas Kris enteng. “Lagipula, aku masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan bocah piaraan-mu itu.”

 

 

“Dia bukan bocah! Dan dia bukan piaraan!  Sehun adalah pria yang kucintai. Dan kau, sebaiknya menyingkir dari hidupku sebelum kau menyesal,” ancam Luhan.

 

 

Namun lagi-lagi, Kris membalas ucapan Luhan dengan seringaian sinis menyebalkan pada wajahnya, kali ini mengandung emosi di dalamnya. Mungkin harga diri pria tampan ini sedikit tersinggung oleh ucapan Luhan barusan. “Dia tak pantas dicintai olehmu, Luhan! Bocah itu yang harus menyingkir dari hidup kita!”

 

 

“Kita?” ulang Luhan dengan intonasi tinggi tanpa berusaha menyembunyikan nada ketidaksukaan pada suaranya, tapi Kris melemparkan senyuman liciknya sebagai respon.

 

 

Mengabaikan ekspresi marah Luhan, Kris kembali mendekat, mencoba mencari-cari bibir pemuda cantik itu. Tangannya telah sempat menekan tengkuk Luhan dengan paksa, namun sayang pria cantik itu langsung menepisnya. Kemudian hanya dalam sepersekian detik saja kepalan tangan Luhan telah mendarat kuat pada pipinya, meninggalkan suara pukulan yang lumayan keras dan juga rasa ngilu yang berdenyut di sana. Rasanya sakit sekali. Namun luka di dalam hatinya masih jauh lebih sakit. Luka yang timbul oleh penolakan Luhan barusan.

 

 

“Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau berani menyentuhku lagi!” ancam Luhan dengan intonasi sedingin es namun sengit, kemudian berbalik dan berniat keluar dari mobil itu, tapi Kris telah secepat kilat mengunci semua pintunya.

 

 

Luhan mengerang frustasi dan kembali menatap Kris dengan wajah yang telah memerah sempurna. Dia sudah akan meledak dan telah berniat menghajar pria blonde  itu sampai sekarat, tapi niat indahnya itu tertahan oleh selembar foto yang ditunjukkan oleh Kris tepat di depan hidungnya. Tenggorokannya tercekat. Matanya terpaku pada foto itu, namun dia tak melakukan apapun. Otaknya berputar cepat, memilah-milah segala hal yang telah dia lewati bersama Sehun selama sebulan lebih ini.

 

 

 

“Bocah piaraan-mu itu. Apa kau tahu siapa dia, Luhan?”

 

*****

“Apa kalian berhasil?”

 

 

Pria yang wajahnya mirip seperti Sehun di sofa pojok itu menggeleng, namun senyuman maklum terpahat pada wajahnya.

 

 

“Mereka marah Sehunnie, terutama Eomma. Kau tahu? Mereka bahkan menyuruhku meninggalkan Yoori dan juga bayi kami. Aku tak menyangka jika kita memiliki orangtua seperti itu.”

 

 

“Ya. Pada kenyataannya mereka adalah orangtua kita, Hyung,” jawab Sehun, setelah sempat mengedikkan bahunya satu kali.

 

 

Oh Seung Hwan melirik ke arah pintu kamar yang terbuka. Di dalam sana, Yoori tertidur dengan wajah lelah. Semalam gadis itu menangis hingga beberapa lama, menangisi dirinya yang sempat mendapatkan pukulan keras di kepala melalui tangan Ayahnya sendiri.

 

 

“Aku akan membawa Yoori pergi, Sehun.”

 

 

Sehun tertegun. Matanya melirik kesamping, ke wajah kakak kandungnya sendiri. Guratan sedih terlihat jelas pada wajah itu. Ya, pasti sangat sulit, dan juga menyakitkan. Dia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasanya dibuang oleh orangtuanya sendiri ketika dia memutuskan untuk melindungi Yoori beberapa bulan yang lalu. Kasih sayang yang telah berpuluh tahun orangtuanya berikan seolah lenyap tanpa sisa hanya karena mereka tak menyukai Han Yoo Ri. Entah apa yang membuat kedua orangtuanya tak menyukai gadis itu, baik Sehun maupun Seung Hwan juga tak mengerti. Apakah mungkin mereka membenci Yoori karena gadis itu tak se-kasta dengan mereka? Entahlah. Sehun sudah tak ingin memikirkannya lagi. Dia telah memutuskan untuk hidup secara independen, tanpa bantuan orangtuanya.

 

 

“Kau akan membawa Yoori Noona kemana, Hyung?”

 

 

Seung Hwan menggeleng, “entahlah…aku juga belum tahu. Kau sendiri mengerti bagaimana keadaanku sekarang. Sangat sulit menentukan kemana aku harus pergi, sementara aku belum memiliki pekerjaan.”

 

 

Sehun menghela nafas beratnya. “Aku memiliki tabungan Hyung…Kau boleh menggunakannya untuk bertahan sementara sambil mencari pekerjaan.”

 

 

“Tidak Sehun, aku tidak boleh menyusahkanmu lagi,” tolak Seung Hwan.

 

 

“Tak apa. Lagipula, gaji yang kudapatkan dari pekerjaanku memang kukumpulkan untuk Yoori Noona dan calon keponakanku, Hyung. Pergilah. Bawa Yoori Noona menjauh dari Seoul agar pikirannya tenang. Aku akan mengirimkan uang secara rutin padamu sampai kau mendapatkan pekerjaan.”

 

 

Seung Hwan menghela nafas beratnya. Kepalan tangannya berkali-kali membentur keningnya sendiri. Pusing. Dia tak menyangka jika adik yang pernah dia sakiti yang akan menolongnya. Padahal adiknya itu belum pantas memikul beban seberat ini. Keduanya terdiam dengan pikiran yang sama-sama kalut.

 

 

Seung Hwan sedang memikirkan kemana dia harus membawa Yoori pergi. Masa lalunya tak begitu bagus. Liberalisme yang dia agung-agungkan sejak masa remaja adalah satu-satunya faktor sialan yang membuatnya terjerumus ke dalam alur hidup yang menyebalkan seperti sekarang. Dulu dia begitu dinamis, potensi seksualitasnya sedang pesat-pesatnya berkembang, lalu paradigma salah mengenai mencari kesenangan lewat drugs dan juga seks bebas muncul begitu saja di dalam dirinya, yang tanpa dia duga justru membawanya ke lubang hitam kehancuran. Usianya baru akan menginjak 25 tahun, tapi dia yakin jika dirinya sudah sangat rusak. Bahkan dia tak mampu menyelesaikan studi arsitektur interiornya dengan baik. Dimasa-masa sekarang ini dia baru menyadari jika tindakannya yang hanya mengikuti keinginan dan naluriah semata itu adalah hal yang salah. Penyesalan memang selalu terlambat datangnya. Lalu apa yang bisa dia lakukan setelah ini? Untuk Yoori? Untuk calon bayinya? Dia benar-benar merasa gagal dan tak berguna.

 

 

Sementara di sudut lainnya, Sehun juga sedang bergelut dengan pikiran kalutnya. Begitu banyak yang dia pikirkan, namun hanya satu yang paling dominan, yaitu tentang  ‘sampai kapan dia bisa bertahan di sisi Luhan sementara pemuda cantik itu telah mengungkapkan keinginannya untuk menikah?’

 

 

Ngomong-ngomong Sehun…sebenarnya apa profesimu sekarang ini? Bagaimana bisa kau menjalani pendidikanmu sambil bekerja?”

 

 

Sehun tercekat di tenggorokan. Matanya melirik ragu ke arah kakak kandungnya, kemudian dia memaksakan senyuman untuk menutupi segalanya. Dia harus bisa menjaga privasi hidupnya. Seung Hwan tidak boleh tahu.

 

 

“Itu…rahasia Hyung…Diamlah, dan lakukan saja tugasmu sebagai calon Ayah dengan baik,” jawab Sehun dingin, kemudian kembali memalingkan wajah dan bergelut dengan pikirannya sendiri, mengabaikan tatapan penasaran yang dilemparkan oleh Seung Hwan padanya.

 

 

Hidupku adalah milikku, Hyung…Meskipun kau kakak kandungku, kau tak memiliki hak untuk mengetahuinya.’ – lanjut Sehun di dalam hati.

 

 

*****

Berkali-kali menarik nafas, lalu berkali-kali membuangnya dengan frustasi, inilah yang dilakukan oleh Luhan sejak beberapa menit yang lalu. Jarinya memainkan sebuah card  hitam berukuran sedang, yang tadi siang diselipkan oleh Kris ke sakunya sebelum pria blonde itu membiarkannya pergi. Bukan card istimewa sebenarnya, hanya berisi jadwal reuni bersama teman-teman satu jurusan universitasnya dulu.

 

 

“Tch!”

 

 

Luhan menarik salah satu sudut bibirnya setelah sempat mendecih malas. Menggelikkan sekali. Memangnya sejak kapan dia memiliki teman? Lagipula, dia juga merasa enggan bergaul dengan para mahasiswa-mahasiswa rendahan itu, sejujurnya.

 

 

Sebenarnya sudah setengah jam yang lalu dia sampai disini, di basement Gedung Apartemen yang dia tinggali. Hanya saja, dia masih merasa belum siap untuk masuk ke dalam. Luhan sedang berpikir. Otaknya dipenuhi oleh dugaan-dugaan logis tentang jati diri Sehun yang sebenarnya. Segala tingkah aneh pria itu, yang memang sejujurnya sempat dia rasakan hingga berkali-kali namun dia abaikan karena hatinya menyuruh otaknya untuk menolak memikirkannya. Tapi kali ini dia tak boleh menolak lagi. Sehun adalah seseorang yang berharga untuknya. Sangat. Seharusnya dia memang harus tahu siapakah Sehun itu sejak awal. Ketika hal seperti ini harus dia hadapi, Luhan benar-benar merasa frustasi, merasa bodoh karena tak mau menggunakan otaknya dengan baik. Harusnya otaknya yang mengendalikan semuanya. Namun pada kenyataannya, selama ini justru hatinyalah yang memegang kendali, meskipun dia sangat yakin jika dia sudah menggunakan otaknya dengan bijaksana.

 

 

Setelah menarik nafas berat dan membuangnya entah untuk yang kesekian kalinya, akhirnya Luhan membuka pintu mobil dan bergerak turun. Sepanjang dia melangkah, Luhan mengurut keningnya sendiri karena merasa pusing. Dia hanya diam sambil bersedekap ketika lift sedang bergerak naik, masih memikirkan ini-itu yang mengganggu.

 

 

Semakin dia mendekat pada pintu Apartemen miliknya, semakin sulit rasanya menghirup udara dengan bebas. Luhan menggeram kecil dan masih sempat mengumpat ketika dia menekan beberapa angka pada interkom. Tapi…

 

 

“Hei Lu…”

 

 

Kaki Luhan terpaku di pintu masuk. Rasa frustasinya lenyap begitu saja setelah dia melihat senyuman pemuda tampan yang tadinya terlihat sibuk menyusun bantalan sofa itu. Pemuda itu melangkah mendekatinya, dan Luhan hanya diam mematung pada tempatnya berdiri, menatap bodoh pada wajah pria tampan yang sangat dia sukai itu.

 

 

“Kau lama sekali pulangnya. Aku merindukanmu.”

 

 

Luhan terkesiap dan punggungnya tersengat oleh rasa ngilu menggelitik ketika telinganya mendengar ucapan pemuda itu. Matanya menatap wajah Sehun dalam-dalam, kemudian segala pikiran tadi kembali muncul. Dia tak sadar jika Sehun telah menatapnya dengan raut yang aneh. Tapi untung saja dia menyadari situasinya ketika dia melihat Sehun menggerakkan tangan kanan untuk mengusap tengkuknya sendiri. Dengan paksa, Luhan menarik kedua sudut bibirnya, mencoba tersenyum pada pemuda yang terlihat salah tingkah dan tak nyaman oleh tatapan yang dia berikan itu.

 

 

“Maaf telah membuatmu menunggu lama, sayang…Apa kau sangat merindukanku?”

 

 

Luhan melangkah maju, kemudian dia menenggelamkan tubuhnya bulat-bulat pada Sehun. Rasa hangat yang nyaman menjalar cepat pada tubuhnya ketika Sehun melingkarkan lengan ke punggungnya, memeluknya dengan sangat erat.

 

 

“Tentu saja aku merindukanmu Luhan…”

 

 

Luhan tercekat di tenggorokan saat mendengar suara Sehun. Suara pemuda itu agak sedikit bergetar, entah mengapa. Pelukan pemuda itu sangat erat, menghantarkan gelombang nyeri pada hatinya sendiri. Dia peluk tubuh Sehun dengan erat juga, dan dia biarkan saja Sehun mengecupi leher hingga pipinya sampai berkali-kali.

 

 

“Udara sangat dingin Lu…aku akan menyiapkan air panas untukmu,” bisik Sehun di telinga Luhan, “tunggu sebentar, oke?”

 

 

Luhan mengangguk, dan menurut patuh saat Sehun membawanya menuju sofa dan mendudukkannya di sana. Rasa nyeri itu kembali menyengat tubuhnya ketika Sehun mengelus kepalanya sambil tersenyum sebelum pemuda itu melangkah pergi. Rasa sakit di kepala kembali dia rasakan, lalu Luhan kembali berkelana ke dalam pikirannya, termenung sendirian.

 

 

“Besok…”

 

 

Luhan menarik nafas dalam-dalam, kemudian memijit pelipisnya sendiri dengan wajah yang kusut. Keningnya berkerut dalam, berpikir dengan sangat keras. Desahan berat meluncur dari belahan bibirnya, frustasi dan putus asa. Kemudian setelah menimbang-nimbang, Luhan mengangguk kecil dan memantapkan niatnya.

 

 

“Besok aku harus cuti…” gumamnya pelan, tepat ketika dia mendengar langkah Sehun yang semakin lama semakin dekat dengan telinganya. Dan saat lelaki pucat itu berdiri tepat di hadapannya, Luhan mendongak, melemparkan senyuman palsunya pada pemuda itu bersamaan dengan tangannya yang terangkat untuk menyambut uluran tangan Sehun.

 

*****

 

“Aku akan berangkat sekarang,” gumam Luhan dengan sebuah senyuman di wajahnya.

 

 

Sehun mengangguk dan masih sempat merapikan kerah kemeja Luhan sebelum pemuda cantik itu melangkah menuju mobilnya sendiri.

 

 

“Hati-hati Lu…” kata Sehun sambil melambai dan tersenyum.

 

 

Luhan menatap Sehun beberapa lama, kemudian melempar senyum juga sebelum dia menutup pintu mobilnya. Genggaman tangannya mengetat pada setir kemudi. Dengan nafas yang tak beraturan, dia berpikir beberapa lama hingga akhirnya otaknya mengatakan ‘ya’ di dalam kepalanya. Sementara Sehun masih berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

 

 

Luhan kembali menoleh untuk menatap pemuda itu, dan dia melemparkan senyuman kembali untuk Sehun. Dia keluarkan lengan kirinya, dan dia suruh Sehun mendekat padanya dengan bahasa isyarat. Lengannya menarik kuat lingkaran leher sweater yang dikenakan oleh Sehun ketika pemuda pucat itu menunduk di samping jendela mobil, kemudian dia kecup dalam-dalam bibir tipisnya.

 

 

“Terima kasih untuk isi ulang energinya sayang,” bisik Luhan setelah dia lepaskan bibir Sehun, lalu merasa melayang oleh senyuman yang ditunjukkan oleh pemuda pucat itu padanya.

 

 

“Hati-hati,” bisik Sehun tepat di depan bibirnya, dan balas mengecupnya lebih lama. “Kuharap kau tak keberatan. Aku juga butuh energi. Terima kasih untuk isi ulangnya…”

 

 

Luhan tertegun hingga beberapa detik, menatap hampa pada wajah Sehun. Namun lambaian tangan pemuda itu menyadarkannya, dan dia cepat-cepat menutup kaca jendela mobilnya tanpa menoleh pada Sehun lagi. Dia tekan klakson satu kali, kemudian dia mengemudikan mobilnya menjauh dari tempat itu. Melalui kaca spion, Luhan dapat melihat jika Sehun masih melambai untuknya di belakang sana, lalu dia tak melihat sosok tinggi itu lagi setelah mobilnya berbelok ke arah kiri.

 

 

Cahaya lampu basement telah tergantikan oleh cahaya terang yang berasal dari langit. Luhan mengurangi laju mobilnya, kemudian mulai menoleh ke kanan dan kekiri, mencari tempat terbaik untuk bersembunyi. Beruntung sekali beberapa meter di depannya terdapat Minimarket yang sudah lumayan ramai pengunjung, tapi masih memiliki cukup tempat kosong untuk memarkirkan mobil di antara mobil-mobil para pengunjungnya. Dia mengarahkan mobil hitamnya ke arah sana, kemudian menyelipkan mobilnya di antara mobil berwana biru dan hitam juga di sisi kanan dan kirinya, lalu Luhan hanya diam menunggu setelah itu.

 

 

Beberapa menit. Jari-jari Luhan telah mengetuk-ngetuk setir kemudi dengan tak sabaran. Dan itu dia. Sebuah mobil hitam yang sama persis seperti yang dia pakai sekarang, melintas di depannya dengan kecepatan tinggi. Tanpa membuang waktu lagi, Luhan menyalakan mobil dan melaju cepat, mengekor di belakang mobil itu. Dia menjaga jarak semampunya, dan semoga saja Sehun tak menyadari jika dia sedang diikuti.

 

 

Mobil Sehun berbelok melalui pertigaan dan melaju ke arah timur kota Seoul menuju distrik Nowon, sementara Luhan masih mengekor di belakangnya. Dua puluh menit berlalu, dan kening Luhan berkerut ketika melihat mobil Sehun berbelok kemudian lenyap di areal parkir salah satu pusat perbelanjaan mewah di daerah padat penduduk ini.

 

 

Luhan menunggu. Matanya mengawasi jalan masuk areal parkir dengan cermat, menanti mobil hitam itu keluar dari sana. Entah apa yang dilakukan Sehun di tempat ini, Luhan juga tak tahu. Yang pasti, Sehun tak mungkin membeli sesuatu di dalam gedung pusat perbelanjaan mewah itu, apalagi ini masih sangat pagi, baru pukul setengah 8 lewat.

 

 

Sepuluh menit menunggu, Luhan terkesiap ketika matanya melihat sosok tinggi Sehun yang melangkah turun melalui undakan yang berada di depan gedung megah itu. Hanya dalam sekejap, tenggorokan Luhan tercekat, jari-jari tangannya gemetar, dan yang paling utama adalah hentakan  cepat pada jantungnya, yang membuat organ vitalnya itu terserang nyeri-nyeri yang menyakitkan. Mata Luhan terasa panas, namun dia masih mengikuti gerakan Sehun kemanapun. Pemuda pucat itu melangkah cepat sambil menjinjing ransel berwarna biru yang belum pernah dilihat oleh Luhan sebelumnya. Sweater abu-abu dan jeans yang Sehun pakai tadi telah tergantikan oleh kemeja putih berlengan panjang dengan dasi hitam yang menjuntai di dadanya, celana panjang berwarna krem, dan juga jas berwarna hijau lumut yang tampak rapi, seragam khas siswa SHS.

 

 

Luhan termenung sendirian. Kris tidak mengada-ada. Sehun memang masih bocah. Melihat seragam sekolahnya, Luhan dapat memastikan jika Sehun bukanlah pemuda yang berasal dari kalangan bawah. Dia tahu dimana Sehun bersekolah. Seragam sekolah itu berasal dari sekolah internasional ternama di wilayah ini. Sehun pasti bukan pemuda sederhana seperti yang dia kira.

 

 

“Shit!”

 

 

Luhan memukul setir kemudinya dengan marah. Hatinya nyeri, dan kepalanya mulai pusing. Dia menduga-duga jika pemuda itu pasti memiliki motif tersembunyi hingga harus datang padanya dengan memalsukan usia. Dan Luhan mulai berpikir untuk menyingkirkan pemuda pucat itu secepatnya meskipun dia tahu jika ini sudah sangat terlambat. Sehun sepertinya berbahaya. Dia benar-benar harus waspada.

 

 

*****

Pukul 5 sore, dan angin bertiup dengan sangat kencang dari arah barat. Sehun memperlambat laju mobilnya ketika memasuki basement Gedung Apartemen. Setelah memarkirkan mobil pemberian Luhan ini di salah satu tempat yang kosong, Sehun menyambar ransel birunya dan bergegas turun dari mobil.

 

 

Seharian ini Sehun memikirkan tentang beberapa menu makan malam yang baru saja dia lihat melalui internet tadi siang. Otaknya baru saja menduga-duga, apakah dia mampu menciptakan salah satu atau dua resep itu saja selama 3 jam yang tersisa sebelum Luhan pulang pukul 8 malam nanti ataukah tidak. Terus terang saja, dia mulai merasa gila karena terus-menerus mengkhayalkan tentang bagaimana ekspresi Luhan jika menemukan dirinya dengan sengaja merancang acara makan malam romantis untuk mereka berdua hari ini.

 

 

Luhan pasti akan memberikan senyuman yang sangat cantik untukku,’ – pikir Sehun.

 

 

Langkahnya dia perlebar lagi ketika lift telah berhenti di lantai 22, dan Sehun melangkah cepat menuju pintu Apartemen Luhan dengan terburu-buru. Beberapa digit angka dia tekan pada interkom, dan dia melangkah masuk ke dalam dengan gerakan cepat, namun gerakannya langsung terhenti secara mendadak saat matanya menemukan Luhan tengah duduk dalam posisi yang tampak begitu angkuh pada sofa merah yang terletak di dekat pintu utama. Dia cengkram kuat ransel birunya, dan dia berdiri mematung sambil menatap Luhan yang tampak santai menikmati segelas wine tanpa terganggu oleh kehadirannya.

 

 

“L -Luhan…kau sudah pulang?”

 

 

Sehun melihat jika Luhan melirik melalui ekor matanya, kemudian pemuda cantik itu menjawab dengan gumaman sambil meneguk minumannya kembali. Pria pucat itu hanya diam setelahnya, berdiri canggung pada posisi awalnya karena dia tak tahu harus melakukan apa.

 

 

“Kenapa kau hanya diam di situ, Oh Sehun? Apa keberadaanku di Apartemen pada jam ini…menganggumu?” tanya Luhan dengah nada yang kentara sekali jika tengah menyindir pria pucat yang berdiri beberapa meter dari hadapannya.

 

 

“Tidak, ehm…maksudku, kau…cepat sekali pulangnya,” jawab Sehun sedikit gugup.

 

 

Luhan tersenyum sangat manis, kemudian meletakkan gelas wine yang dia pegang ke permukaan meja. “Bagaimana kuliahmu hari ini sayang?” tanyanya tanpa mengurangi lekuk senyuman pada wajahnya.

 

 

Sehun menatap ke segala arah, dan cengkraman pada ransel birunya semakin menguat. Bibirnya masih terkatup. Sehun tak tahu harus menjawab apa, karena itu dia memilih tetap bungkam. Situasinya sepertinya agak aneh. Dia yakin jika Luhan mengetahui sesuatu, dan Sehun mulai menduga-duga tentang apa yang akan terjadi setelah ini. Ugh, perasannya benar-benar tak enak, sampai-sampai perutnya menjadi mual.

 

 

“Kenapa kau terlihat tegang sekali sayang, hmm?” tanya Luhan masih dengan senyuman cantiknya. Namun beberapa detik setelahnya, senyumannya memudar, hingga akhirnya benar-benar lenyap, tergantikan oleh raut geram yang tampak jelas melalui rahangnya yang mengetat dan bergemeretak. “Kenapa kau hanya diam, Oh Sehun? Kenapa tak menjawab satupun dari pertanyaan ramah yang kuberikan?

 

 

Sehun menelan ludahnya dengan susah payah. “Apa kau…mengetahui sesuatu?” tanyanya dengan suara pelan yang nyaris berbisik, dan Luhan tertawa, meskipun kilatan marah tampak begitu nyata pada matanya.

 

 

“Apa yang harus kuketahui, Sehun? Memangnya apa yang kau sembunyikan dariku?”

 

 

Sehun tak menjawab lagi. Dia yakin jika Luhan sudah tahu. Karena itu lebih baik dia diam saja.

 

 

“Benarkah kau mahasiswa Yonsei?”

 

 

“…..”

 

 

“Apa kau benar-benar 23 tahun?”

 

 

“…..”

 

 

Luhan menatap Sehun dalam-dalam, sementara Sehun tetap bungkam dengan bola mata yang menatap lantai meskipun kepalanya tidak menunduk.

 

 

“Kenapa kau hanya diam?”

 

 

“…..”

 

 

Luhan mengalihkan tatapannya ke arah lain saat dia merasa lelah menunggu Sehun mengatakan sesuatu. Rasa putus asa menyeruak dalam pada dirinya, dan sejujurnya dia ingin sekali menangis sekarang.

 

 

“Kau tahu? Aku benar-benar merasa tolol karena telah berhasil kau bodohi,” gumam Luhan sambil menatap sendu pada lututnya sendiri, sedangkan Sehun menatap wajah Luhan dengan bibir yang sudah terbuka sedikit, ingin mengatakan sesuatu tapi dia menahannya.

 

 

“Aku sengaja cuti hari ini, karena berniat mengikutimu. Lalu aku menemukan kau memasuki gerbang sekolah Asia Pasific International pagi ini…”

 

 

Sehun tercekat, kemudian menunduk, tak berani menatap Luhan lagi. Sementara Luhan sedang mati-matian menahan diri agak tak menangis karena terlalu emosi.

 

 

“Tidak merokok, tak mengkonsumsi alkohol, tak merasa nyaman dengan suasana Night Club. Seharusnya sejak awal aku bisa menganalisa tentang berapa usiamu yang sesungguhnya,” gumam Luhan, kecewa. “Siapa kau sebenarnya?”

 

 

“…..”

 

 

“Apa motifmu mendekatiku? Siapa yang menyuruhmu? Apa kau berniat mencelakaiku?”

 

 

Sehun terkesiap ketika mendengar pertanyaan itu. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya karena panik. Tidak, dia tak memiliki tujuan hina seperti itu. Luhan harus tahu.

 

 

“Tidak Luhan, aku…”

 

 

“DIAM!” pekik Luhan sambil berdiri dari posisi duduknya. “Luhan? Kau pikir kau pantas memanggil namaku dengan kurang ajar seperti itu? Apa kau tahu seharusnya kau memanggilku apa? Kau seharusnya memanggilku Paman, bocah brengsek!” maki Luhan dengan nafas yang tersengal karena terlalu emosi.

 

 

Sehun tercekat di tenggorokan, dan tak mengatakan apapun. Matanya menatap Luhan dengan lemah. Pikirannya menjadi kalut, dan rasa putus asa menyerang dirinya begitu cepat. Karena itu Sehun menunduk, kemudian membuka bibirnya yang agak bergetar.

 

 

“Maafkan aku, Paman…”

 

 

Tatapan Luhan terjatuh ke permukaan lantai, dan tubuhnya ambruk begitu saja ke sofa yang dia duduki beberapa saat lalu. Dengan frustasi, dia menjambaki rambut karamelnya sambil mengerang, memaki-maki dirinya sendiri dan tampak putus asa. Sementara Sehun hanya menatap sedih ke arah pemuda cantik itu tanpa mengatakan apapun.

 

 

“Pergilah…kumpulkan semua barang-barangmu dan menyingkir dari hidupku secepatnya,” kata Luhan pada akhirnya.

 

 

Sehun menatap putus asa pada pemuda cantik itu. Sendi-sendinya serasa dilolosi, dan dia merasa jika nyawanya seolah dicabut secara paksa saat ini juga.

 

 

“Lu, kita bisa membicarakan ini baik-baik…”

 

 

“Pergi. Aku tak mau melihatmu lagi!” kata Luhan, dengan nada yang begitu tegas dalam kalimatnya.

 

 

“Luhan…tolong…” Sehun memohon, namun yang dia dapatkan justru adalah tatapan marah dari pria dewasa yang duduk di hadapannya.

 

 

“Pergi, atau kau kubunuh sekarang juga!” jawab Luhan dengan gigi yang bergemeretak geram.

 

 

Sehun tertegun. Begini sajakah? Secepat inikah?

 

 

Ya, sudah berakhir. Begini saja. Sad Ending. Padahal dia baru saja menyadari adanya benih-benih cinta yang tumbuh untuk pria dewasa berwajah cantik ini, tapi segalanya telah terlambat. Karena itu Sehun tersenyum getir. Dengan lemah, dia merogoh sakunya, mengeluarkan kunci mobil dari dalam sana dan meletakkannya pada permukaan meja.

 

 

“Ini bukan milikku, kukembalikan padamu,” katanya singkat, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Luhan untuk mengambil ransel yang lebih besar lagi dari yang dia pegang sekarang. Sehun memasukkan barang-barang miliknya dengan tangan yang sedikit bergetar dan hati yang perih, namun dia tetap melakukannya. Dia memang harus pergi.

 

 

Sehun melihat Luhan sedang memijit pelipis ketika dia kembali melangkah menuju pria cantik itu. Langkahnya sempat terhenti, sekedar untuk menatap sisian wajah Luhan sedikit lama, mencoba melihat setiap detilnya dengan teliti sebelum dia menghilang dari hidup pria cantik ini. Genggaman pada ransel besarnya mengerat, lalu dia sampirkan ransel itu ke bahunya dengan yakin sebelum dia melangkah menuju Luhan lagi.

 

 

“Aku akan pergi. Terima kasih atas semua kebaikanmu selama ini Tuan Xi,” katanya sambil membungkuk di hadapan Luhan, sementara pria cantik itu hanya diam tanpa mau menatapnya.

 

 

Sehun menegakkan tubuhnya, dan kembali menatap wajah Luhan lagi dengan tatapan lemah hingga beberapa detik sebelum akhirnya berbalik. Dia berjalan sampai beberapa langkah, tapi kemudian memutuskan untuk menahan pijakannya pada lantai karena sesuatu. Sehun benar-benar tak tahan untuk tak mengatakan ini.

 

 

“Maafkan aku…tapi jika kau mau percaya, aku tidak pernah memiliki niat untuk menyakitimu. Aku memang bukan mahasiswa Yonsei, hanya siswa SHS, dan aku memang masih 17 tahun. Aku datang padamu karena aku memang benar-benar membutuhkan uang, bukan karena alasan hina lain, apalagi untuk tujuan melukaimu Tuan Xi…”

 

 

Luhan tak mengatakan apapun. Matanya menatap lantai di sisi kanan sofa, mencoba mengabaikan segala ucapan Sehun meskipun sebenarnya telinganya begitu cermat menyaring setiap kata yang meluncur dari bibir pemuda pucat itu.

 

 

“Mungkin kau tak ingin mendengar ini…tapi aku tetap akan mengatakannya karena sepertinya hanya ini kesempatan terakhir untuk kita bertemu dan bicara meskipun sebenarnya sangat banyak hal yang ingin kujelaskan padamu.”

 

 

Luhan mendengus tak suka, tapi Sehun tersenyum meskipun senyumannya adalah senyuman lemah yang penuh dengan keputus-asaan.

 

 

“Aku menyukaimu…”

 

 

‘Suka?’

 

 

Jantung Luhan berdenyut nyeri. Kelopak matanya melebar, dan benar-benar terasa panas tanpa bisa dia cegah saat mendengar sebaris kalimat pendek itu.

 

 

“Aku menyukai segala hal yang ada padamu, semuanya. Aku hanya dapat berharap jika kau mau bermurah hati untuk tak membenciku setelah ini,” Sehun mengepalkan tangannya dan menelan nyeri hebat pada tenggorokannya. “Karena aku benar-benar menyukaimu Lu…” lanjut Sehun nyaris berbisik, namun Luhan dapat mendengarnya dengan sangat jelas.

 

 

Keheningan terajut cukup lama. Keduanya tak mengatakan apapun, bahkan tak mau saling menatap. Sehun memperbaiki letak ranselnya, kemudian dia kembali berbalik untuk menatap Luhan lagi.

 

 

Untuk terakhir kalinya saja, tolong menoleh padaku. Aku ingin melihatmu Luhan…’

 

 

Sehun menunggu. Dan seolah mampu mendengar suara pikiran Sehun, secara perlahan Luhan mengalihkan tatapannya dari permukaan lantai, memutar pandangan untuk menatap Sehun. Tak ada yang bersuara. Mereka berdua hanya diam dan saling menatap putus asa satu sama lain. Sehun melemparkan senyuman lemah untuk terakhir kalinya pada Luhan, kemudian dia memutuskan kontak mata mereka.

 

 

“Aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu Tuan Xi…Maaf karena aku tak bisa memanjakanmu lagi…” kata Sehun sangat pelan, lalu cepat-cepat berbalik dan melangkah pergi dari tempat itu. Sementara Luhan, hanya terdiam sambil memandangi punggung Sehun. Menatapnya terus tanpa berkedip, hingga pada akhirnya punggung Sehun lenyap di balik pintu, bersamaan dengan bulir airmatanya yang terjatuh, tepat ketika pintu utama Apartemennya itu tertutup.

 


To Be Continued


PS : Pemenang kuis sudah saya dapatkan, yaitu Author Lulu Exotics. Maaf karena saya nggak bisa menjabarkan semua jawaban di sini. Saya mengupdate FF menggunakan tab karena saya sibuk dan laptop saya juga sedang rusak, karena  itu wordnya terbatas. Tapi saya sudah jabarkan panjang lebar di akun FFN saya. Makasih banyak untuk waktu yang kalian luangkan buat membaca tulisan tangan saya. Thanksseu~

Advertisements