.

 

.

 

 

“Apa yang harus kulakukan, Sehunnie?”

 

 

Sehun tak mampu mengatakan apapun. Yoori menangis di hadapannya, namun lidahnya telah terlanjur kelu, tenggorokannya tercekat oleh pengakuan gadis itu.

 

 

‘Aku hamil…’ –itu adalah kata yang di ucapkan oleh Yoori beberapa menit yang lalu.

 

 

Jantung Sehun seperti di remas-remas sampai hancur. Aliran darahnya kian cepat, mengalir menuju otaknya dan terasa panas. Kepalanya mendidih, sungguh.

 

 

“Kalian…sering melakukannya?”

 

 

Sehun bahkan tak mampu menahan nada kekecewaannya. Suaranya bahkan bergetar secara menyedihkan. Anggukan kepala gadis itu membuat syarafnya lumpuh. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia menyukai gadis ini? Menyukainya untuk waktu yang begitu lama?

 

 

Sehun tak pernah tahu jika Yoori dan Seung Hwan memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman dan tetangga. Seung Hwan bahkan tahu jika dia menyukai gadis itu. Dia juga telah berterus-terang pada Yoori mengenai perasaannya. Bagaimana dia begitu menyukai Yoori yang mandiri, bagaimana dia begitu kagum pada sosoknya yang tegar, namun Yoori tak pernah memberikan jawaban padanya. Gadis itu hanya tersenyum, dan berkali-kali menyuruhnya berpikir ulang dengan kepala jernih. Ucapan ‘kau tidak mencintaiku, Sehunnie…itu hanyalah rasa kagum…kau mungkin harus berpikir ulang dengan kepala jernih…itu bukan cinta, kau harus segera menyadarinya…’yang berkali-kali Yoori ucapkan, membuatnya kesal, tapi dia tak bisa melakukan apapun selain hanya mengangguk ketika Yoori mengatakannya. Dia ditolak secara halus, dan dia sebenarnya mengerti, tapi entah mengapa dia tetap keras kepala oleh anggapan bahwa dia menyukai gadis itu.

 

 

Sehun tak pernah berhasil menyingkirkan rasa kagumnya yang begitu besar. Gadis itu begitu kuat. Bahkan kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orangtuanya tak membuatnya terpuruk terlalu lama. Yoori tetap ceria. Senyuman cantik berlesung pipi selalu menghiasi wajahnya, dan Sehun menyukai wajah itu. Mungkin Yoori benar, dia hanya kagum. Tapi otaknya tak pernah mau menerima argumen itu. Dia menyukai Yoori, dan dia meyakininya.

 

 

Tapi satu pernyataan yang meluncur dari bibir Yoori kali ini menghempaskan dirinya sampai ke dasar jurang yang paling dalam. ‘Mereka sering melakukannya’. Sangat cukup untuk menjelaskan bahwa Yoori dan Seung Hwan saling membutuhkan, saling mencintai.

 

 

Bukankah itu adalah argumen yang paling masuk akal? Mereka saling mencintai kan? Sehun yakin Yoori dan Seung Hwan saling mencintai. Tapi mengapa kakak kandungnya itu justru mengatakan…

 

 

“Itu bukan bayiku!”

 

 

Sehun dapat melihat jika tubuh Yoori bergetar kuat saat Seung Hwan mengatakan kalimat pendek itu. Gadis itu mencengkram jaket Seung Hwan dengan putus asa, bahkan dia tak mampu berkata-kata selain hanya terisak menyedihkan. Sehun melihat dengan matanya sendiri jika kakak kandungnya itu menghempaskan tubuh Yoori dengan begitu kuat hingga tubuh gadis itu terjatuh dan menimbulkan suara debaman yang begitu keras pada lantai.

 

 

“APA YANG KAU LAKUKAN?”

 

 

Sehun tak bisa menahan emosinya. Selama eksistensinya, baru kali ini dia membentak seseorang, dan itu adalah kakak kandungnya sendiri. Dia baru saja menarik lengan Yoori dan berusaha menarik gadis itu agar berdiri, namun satu decihan sinis yang keluar dari mulut kakak kandungnya membuat rasa panas menggelegak kembali menyengat otaknya lebih hebat dari sebelumnya.

 

 

“Melihat tingkah kalian berdua, aku semakin ragu jika bayi itu adalah bayiku…”

 

 

Sehun dapat merasakan jika tubuh Yoori semakin bergetar hebat melalui telapak tangannya, padahal dia hanya menyentuh lengan gadis itu. Airmata gadis itu mengalir semakin deras, tapi dia tak mengatakan apapun lagi selain hanya menunduk dengan bibir yang gemetaran.

 

 

“Kalian cocok sekali.”

 

 

Sehun mendongak cepat, dan dia menemukan seringaian menjijikkan itu pada wajah Seung Hwan.

 

 

“Benarkah bayi itu adalah bayiku? Jika mengingat betapa mudahnya Yoori dibawa ke atas ranjang, aku tak yakin jika bayi itu adalah bayiku. Dia bahkan pernah sengaja menggodaku agar aku menyentuh tubuhnya.”

 

 

Kepalan Sehun menguat. Emosi yang menumpuk dalam otaknya telah membakar kepalanya. Geram sekali. Ingin rasanya Sehun merobek mulut kakak kandungnya itu agar dia berhenti mengoceh.

 

 

“Kau menyukai dia kan, Sehun?”

 

 

“Apa maksudmu?”

 

 

“Maksudku…bisa jadi gadis murahan ini menggodamu juga dan menggiringmu ke atas ranjangnya. Apa kau juga pernah menidurinya Sehun? Bayi itu…bukan bayimu kan, Saeng-ie?”

 

 

Geraman kuat keluar dari tenggorokan Sehun. Kilatan marah terlihat begitu jelas dari kedua matanya. Hanya dalam sekejap, tubuh Seung Hwan telah terjerembab ke atas lantai dengan tubuh Sehun di atasnya. Kepalan tangan Sehun tak pernah berhenti bergerak, menghujani wajah Seung Hwan dengan pukulan bertubi-tubi sampai wajah kakak kandungnya itu lebam-lebam dan berdarah. Emosi yang menyengat kepalanya telah membuat Sehun gelap mata. Bahkan teriakan Yoori tak mampu lagi dia dengar.

 

 

Sehun baru berhenti saat tubuhnya di tarik paksa oleh Ayahnya. Setelahnya dia hanya diam. Emosi masih menyengat otaknya, namun kedua tangannya di cengkram kuat di balik pinggang oleh Ayahnya sendiri. Dia melihat Yoori menangis meraung di samping tubuh Seung Hwan, namun Ibunya mengusir gadis itu pergi, membuat perasaanya semakin campur aduk. Emosi, marah, kecewa, dan juga rasa kasihan, berputar secara acak hingga dia tak mampu memilah-milahnya lagi. Rasanya begitu kacau dan juga memuakkan. Yoori meringkuk di dinding sambil menangis, tak berani lagi menyentuh tubuh Seung Hwan. Sedangkan Ibunya yang memang tak pernah menyukai Yoori sejak awal, memaki gadis itu dengan kata-kata yang begitu kejam. Gadis itu benar-benar kasihan. Sehun tak tega melihatnya. Jika keadaannya seperti ini, bagaimana nasib gadis itu nantinya? Bagaimana dengan bayi yang berada di dalam perutnya? Walau bagaimanapun, bayi itu berhak untuk hidup dan memiliki Ayah.

 

 

Dengan segala kebingungan yang menyengat otaknya, Sehun membuka mulut. Tangannya masih di cengkram kuat oleh Ayahnya sendiri, namun Sehun tak peduli.

 

 

“Yoori Noona hamil…“

 

 

Sehun dapat melihat jika Ibunya membeku, dan dia juga merasakan jika cengkraman tangan Ayahnya mengendur hingga benar-benar terlepas sesaat kemudian. Sekian detik terlewati, dan Sehun berpikir keras sepanjang detik yang berputar itu, bertanya-tanya tentang apa yang sebaiknya dia lakukan untuk melindungi Yoori dan bayinya? Segala opsi yang sempat melintas di dalam kepalanya hangus begitu saja secara menyedihkan. Otaknya benar-benar buntu. Hanya satu jawaban yang dia temukan, dan tak ada pilihan lain untuk sekarang. Karena itu dia berbalik untuk menghadap Ayahnya sendiri. Dia lirik Yoori sekilas, lalu dia tatap mata Ayahnya dengan penuh keberanian.

 

 

“Aku yang melakukannya, Appa…Bayi itu, adalah bayiku…”

 


 

 

 

MALE DEPOSE

 

Male Depose

Written By tmarionlie♥♥♥Poster by L.E Design

.

[Hun♥Han]

.

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


Sehun terbangun oleh sebuah tepukan lembut pada pipinya. Mimpi buruk yang menyerang waktu tidurnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh wajah mungil yang bersinar di antara biasan cerah matahari yang masuk melalui jendela.

 

 

“Tidurmu gelisah sekali, Sehun. Kau mendapatkan mimpi buruk?”

 

 

Suara lembut itu membuat syaraf Sehun sedikit rileks. Tanpa menjawab, dia bawa tubuhnya untuk duduk. Rasa pegal menjalar di seluruh tubuhnya. Sendi-sendinya ngilu, dan tulang-tulangnya terasa remuk. Dia melihat raut wajah mungil itu menyiratkan kecemasan yang begitu dalam. Dia gelengkan kepalanya beserta sebuah senyuman lembut untuk Luhan agar pemuda itu merasa tenang.

 

 

“Kau sudah bangun sejak tadi?”

 

 

“Ya.”

 

 

Matahari memang sepertinya telah meninggi. Udara ruangan sedikit kering, namun tetap terasa dingin karena musim gugur masih akan menyelimuti Korea Selatan untuk beberapa waktu ke depan.

 

 

 

“Maaf karena aku terlambat bangun. Seharusnya aku bangun lebih dulu agar aku bisa menyiapkan sesuatu untukmu.”

 

 

Luhan tertawa kecil, dan dalam sekejap kakinya telah melayang, menjauh dari permukaan lantai. Dengan menggunakan kedua lutut, Luhan berjalan pada permukaan ranjang. Dia bawa tubuhnya mendekat pada tubuh Sehun yang masih polos seperti bayi, melemparkan dirinya sendiri ke dalam pelukan Sehun –rutinitas pagi hari yang tak pernah berubah sejak Sehun menjadi miliknya pertama kali.

 

 

“Kau hanya perlu memberikan ucapan selamat pagi seperti biasanya, sayang…”

 

 

Nafas hangat Luhan yang membelai kulit pada lekukan lehernya, menciptakan jengitan geli pada wajah Sehun. Lengannya menyambut tubuh Luhan, melingkar di sekeliling punggung pemuda itu.

 

 

“Kau harum sekali.” Sehun membawa ujung hidungnya menuju belakang telinga Luhan, menghirup aroma shampoo pemuda itu dalam-dalam, dan syarafnya telah benar-benar rileks sekarang. “Rambutmu masih basah.”

 

 

“Ya. Seluruh tubuhku terasa lengket karena aktivitas melelahkan kita tengah malam tadi.”

 

 

Sehun tertawa kecil saat mendengarnya. “Jadi kau mandi pagi-pagi sekali untuk melenyapkan segala hal yang mengganggu itu?”

 

 

“Tentu saja. Dan ngomongngomong, kau bau sekali Sehun.” Luhan melepaskan pelukannya dan berjengit. “Kau bau seks,” lanjutnya dengan intonasi yang menggoda, kemudian dia tertawa lepas.

 

 

Sehun tak mengatakan apapun selain hanya menatap wajah cantik yang sedang tertawa itu lekat-lekat. Bagaimana hubungan mereka bisa sampai sejauh ini? Perasaannya memang telah begitu aneh akhir-akhir ini, dan semakin terasa nyata jika dia melihat Luhan dalam jarak pandang yang sangat dekat seperti sekarang. Bolehkan dia menyimpulkan perasaannya sekarang juga? Tapi apa yang akan di katakan Luhan jika dia menyuarakan isi hatinya? Akankah pemuda itu menerimanya, atau malah sebaliknya?

 

 

Memikirkan fakta bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, serta segala kebohongan yang dia bawa ke hadapan pemuda cantik ini, rasa-rasanya sangat tak pantas jika dia mengharapkan sesuatu yang lebih dari apa yang dia dapat sekarang. Karena itu Sehun tetap bungkam, tak berani mengatakan apapun.

 

 

“Kenapa kau memandangiku seperti itu?” tanya Luhan setelah dia memutuskan untuk menghentikan tawa konyolnya.

 

 

Sehun menggeleng. Dia bawa tangan kanannya menuju leher Luhan, menyentuh kulit yang penuh dengan kissmark di sana-sini itu lalu mengusap salah satunya dengan lembut menggunakan ibu jari. Perasaannya agak melambung saat melihat kissmarkkissmark itu, begitu aneh dan juga menggelitik sampai-sampai dia merinding. Bercak-bercak merah itu adalah bukti nyata yang menunjukkan bahwa mereka memang benar telah saling memiliki tubuh satu sama lain melalui cumbuan liar yang panas dan juga menggairahkan.

 

 

“Kau benar-benar cuti hari ini?”

 

 

“Ya. Kau pikir ini sudah jam berapa? Ini sudah hampir tengah hari, Tuan Oh.”

 

 

“Begitu? Sepertinya aku harus segera mandi.”

 

 

Luhan mengedikkan bahu dan memberikan isyarat tangan ke arah pintu kamar mandi di sudut ruangan, seolah mengatakan ‘silahkan mandi Tuan’, dan Sehun langsung bangkit namun gerakannya terhenti secara mendadak ketika dia mengingat ‘sesuatu’.

 

 

“Bisakah kau tutup matamu, Tuan Xi?”

 

 

Tatapan bingung yang ditunjukkan oleh Luhan memaksa Sehun mengarahkan bola matanya ke bagian bawah tubuhnya sendiri sambil menggoyangkan selimut yang menutupi areal pribadinya, berusaha mengingatkan pada Luhan bahwa dia sedang telanjang saat ini. Namun yang dilakukan oleh Luhan setelahnya adalah mengganti tatapan bingungnya dengan jengitan jijik serta decihan.

 

 

“Memangnya kenapa? Kau malu? Bukan hanya sekedar melihat, bahkan aku telah menyentuh milikmu semalaman, Oh Sehun.”

 

 

Sehun membuang nafas berat, kemudian ikut mengedikkan bahu dan menyibak selimut putih itu tanpa malu-malu lagi. Setelahnya, dia melenggang ke kamar mandi dengan tubuh polosnya, membiarkan Luhan menatapnya dari arah ranjang dengan segala pikiran yang berada di dalam otak pemuda itu. Luhan benar, untuk apa dia merasa malu? Bahkan mereka telah menghabiskan waktu dengan saling menyentuh tubuh satu sama lain sepanjang pagi beku beberapa jam yang lalu, bergumul di bawah selimut hingga begitu intim, dan juga –ehm, sebaiknya lupakan saja pembahasan yang satu ini.

 

 

Rasanya nyaman sekali ketika air hangat membasahi ujung kepala hingga kulit kakinya. Ingatan tentang semalam membuat Sehun tersenyum sendiri tanpa dia sadari. Segala ingatan itu berputar lambat di dalam kepalanya seperti sebuah slide show. Sehun masih ingat bagaimana kesan pertamanya saat dia menemui Luhan untuk pertama kali. Pria arogan itu sempat menekan keyakinannya untuk melangkah lebih jauh ke dalam lingkaran hidup mewah yang dia miliki. Klausul mengenai kontrak tanpa batas yang diputuskan oleh Luhan terasa amat membebani pada awalnya, namun daya tarik yang dipancarkan oleh pemuda arogan itu membuatnya tetap melangkah maju. Dan disinilah dia sekarang, terjebak di dalam lingkaran hidup Luhan yang seolah mengikat dirinya hingga dia sama sekali tak memiliki ‘lagi’ keinginan untuk pergi. Pria cantik itu membuatnya merasa begitu nyaman. Hidupnya terasa semakin ringan akhir-akhir ini. Beban-bebannya seolah lenyap tertiup angin, dan semua itu berkat Luhan. Tapi sampai kapan dia bisa tetap berada di samping pemuda cantik ini?

 

 

Segala pemikiran itu membuat Sehun tertegun. Telapak tangannya menempel pada dinding keramik yang berada di hadapannya. Kepalanya tertunduk, membuat buliran air menyiram tengkuknya lalu terjatuh bebas ke arah bawah. Mata sipitnya menatap bulir-bulir bening yang terjatuh menimpa kakinya itu. Tiba-tiba saja jantungnya di serang rasa sesak yang begitu dalam. Beban lama memang telah menghilang, namun beban baru mendadak muncul dan lagi-lagi membuat dirinya tertekan.

 

 

“Jika kau menemukan identitas asliku…apakah kau akan membuangku, Luhan?”

 

 *****

Jemari lentik yang menggenggam P90 itu tersentak berkali-kali, dan peluru yang meluncur dari ujungnya lagi-lagi menambah banyak lubang yang telah menganga pada lempengan berbentuk manusia di ujung sana. Beberapa tembakan kembali diluncurkan oleh Baekhyun ke arah target, hingga akhirnya dia menurunkan P90-nya dan menggerak-gerakkan bahunya yang agak sedikit pegal.

 

 

“Kemampuan menembakmu meningkat jauh, baby…”

 

 

Baekhyun mengedikkan bahunya dengan gaya yang arogan, kemudian melepaskan earmuff beserta safety goggle dari wajahnya dan melemparkan semuanya pada Chanyeol.

 

 

“Lain kali kau harus menggunakan balaclava meskipun ini hanya sekedar latihan, Baek…”

 

 

“Berhentilah mengoceh Old Lady. Jangan bertingkah seperti Ibuku,” jawab Baekhyun sambil melepaskan jaketnya, dan lagi-lagi melemparkannya pada kekasih homonya yang langsung menangkap semua yang dia lemparkan itu dengan sigap.

 

 

“Sepertinya kau berbakat sekali sayang…mungkin kau bisa pindah dan bergabung dengan para sniper itu.”

 

 

“Lalu apa? Kau yang menjadi observer-nya, Yeollie?”

 

 

“Aku yakin itu adalah keahlianku, Baby…”

 

 

“Ck, lupakan.”

 

 

Keduanya tertawa, lalu memilih menyingkir dari tempat latihan menembak itu dan melangkah lurus menuju mobil yang terparkir di bawah pohon beberapa meter dari lokasi latihan. Beberapa kali mereka membungkuk ketika berpapasan dengan rekan-rekan sesama profesi, dan setelahnya Baekhyun menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada jok mobil sementara Chanyeol masih sibuk menyingkirkan daun-daun yang berserakan di atas kap mobilnya. Well, ini musim gugur, ingat?

 

 

“Tch, aku benci musim gugur.” Chanyeol mengeluh sambil menyilangkan seatbelt ke tubuhnya sendiri.

 

 

“Apa kau tertular oleh Kris? Lagipula salahmu sendiri memarkirkan mobil di bawah pohon, Giant.”

 

 

“Shut up, Smurf!”

 

 

“Haha.”

 

 

Chanyeol menyalakan mesin mobilnya setelah sempat menyentil kening Baekhyun satu kali, meninggalkan tempat latihan menembak itu. Perutnya sudah sangat lapar, dan tanpa perlu bertanya, dia sangat yakin jika kekasih mungilnya itu pasti juga sudah kelaparan. Chanyeol melirik Baekhyun sesekali, dan pemuda mungil itu terlihat begitu fokus pada agenda yang dia pegang. Bibirnya yang tipis maju beberapa senti, membuat senyuman Chanyeol mengembang tanpa bisa dia cegah.

 

 

“Ahhh…aku lelah dengan hidupku…” keluh Baekhyun. Kepala pemuda itu terjatuh pada sandaran jok, dan wajahnya tampak tak bersemangat.

 

 

“Tidur saja. Aku akan membangunkanmu jika kita sudah sampai.”

 

 

Baekhyun menggeleng, tidak mau menuruti ucapan kekasihnya. “Profesi ini tak semenyenangkan ekspektasi masa remajaku, ck!”

 

 

“Jangan mengeluh terus, Baek…”

 

 

“Aku lelah, Yeol…”

 

 

“Apa kau butuh cuti? Kita bisa memintanya pada–“

 

 

“Tidak perlu,” potong Baekhyun. “Lagipula kita masih harus menangkap si Jean Writer Wu itu beserta para bawahan-bawahannya secepatnya.”

 

 

“Kita akan segera menangkapnya Baekkie…Kita telah terhubung dengan orang-orang terdekatnya. Terima kasih pada tugas yang mengharuskan kita menyamar menjadi mahasiswa 9 tahun yang lalu.”

 

 

“Berterima kasihlah padaku karena aku yang memiliki ide brilliant itu, Yeol…”

 

 

“Ya, terima kasih karena telah membuatku mengulang ‘masa-masa indah’ menjadi anak kuliahan hingga aku tampak begitu konyol sayang,” sindir Chanyeol.

 

 

Baekhyun mengedikkan bahunya cuek, lalu meneguk air dari botol yang baru saja dia keluarkan dari dalam ransel yang tergeletak menyedihkan di bawah kakinya.

 

 

“Aku masih cocok menjadi mahasiswa ‘saat itu’ Yeol…”

 

 

“Jangan pamer. Aku tak akan menyangkal jika wajahmu memang tampak seperti anak-anak, tapi jangan mengungkitnya terus-menerus dan membuatku merasa mual. Kurangi sifat narsistic-mu itu atau kau akan membuat banyak orang mengalami kelainan syaraf karena harus terus-menerus memutar bola mata mereka sendiri saat kau mulai mengoceh.”

 

 

“Aku tak peduli. Lagipula wajahku ini adalah salah satu hal yang membuatmu terpikat padaku, Jelek. Aku awet muda selamanya.”

 

 

“Terserah.”

 

 

Baekhyun terkikik menyebalkan, sementara kekasih tingginya telah memutar bola matanya dengan bosan.

 

 

“Lagipula Direktur Kim tak secerdas yang aku pikir,” kata Baekhyun.

 

 

“Dia butuh pensiun, Kerdil. Mungkin kau harus menggunakan sedikit kepintaranmu untuk menyingkirkannya dan mengambil alih jabatannya. ”

 

 

Keduanya tertawa, dan menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengolok-olok atasan mereka dengan kata-kata kurang ajar ala Chanyeol dan Baekhyun. Kemudian rasa lelah membuat keduanya kembali terdiam. Baekhyun kembali menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil sambil memandangi sisi wajah Chanyeol tanpa suara hingga beberapa lama.

 

 

“Kau harus memenuhi janjimu setelah tugas ini selesai, Yeol…”

 

 

Chanyeol tertegun, kemudian memutuskan untuk melemparkan senyuman pada kekasih mungilnya itu. Dia mengurangi laju mobil, dan menepi di bawah sebuah lampu jalanan yang menyala meskipun langit masih sangat terang. Dia lepaskan seatbelt yang menyilang pada tubuhnya dan membawa dirinya mendekat pada Baekhyun, memberikan satu kecupan pada kening pria mungil itu dan menatap mata Baekhyun-nya lekat-lekat.

 

 

“Tentu saja. Aku akan mempersiapkan pesta pernikahan yang mewah untukmu Baby Smurf… Aku janji…”

 

*****

Bukan karena merasa rindu, tapi lebih kepada rasa tanggung jawab oleh janji yang dia ucapkan sendiri. Sehun bersusah payah membohongi Luhan agar dia bisa pergi menemui Yoori hari ini. Padahal pemuda cantik itu telah berencana menghabiskan waktu cuti satu harinya lagi untuk bermanja-manja padanya, dan sejujurnya Sehun juga tak ingin meninggalkan pria itu. Tapi Han Yoo Ri adalah tanggung jawabnya. Lagipula dia telah memberikan waktu lebih banyak untuk Luhan dan menolak Yoori kemarin. Di samping itu, Sehun memiliki keinginan kuat untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai ‘sesuatu’, dan untuk mendapatkan keyakinan itu, dia memang harus bertemu dengan Han Yoo Ri meskipun hanya sebentar agar dia tak terus-menerus merasa gamang oleh kekeras-kepalaannya sendiri.

 

 

Baru saja Sehun membuka pintu utama rumah mungil yang letaknya terpencil itu, matanya langsung menemukan Yoori sedang menyandar pada bahu seseorang yang amat sangat dia kenal. Tiba-tiba saja darahnya naik sampai ke kepala. Emosi lama kembali muncul, dan rasa sakit hatinya membuat Sehun menggertakkan giginya karena geram.

 

 

“UNTUK APA KAU KEMBALI?” teriaknya murka. Dengan tarikan kuat bertenaga, dia tarik lengan Yoori dan menjauhkan gadis itu dari si Brengsek yang membuat hidup Yoori serta hidupnya menjadi hancur berantakan. “PERGI ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU, SIALAN!”

 

 

“Sehun, dengarkan aku dulu–“

 

 

“DIAM!”

 

 

Pukulan kuat bertenaga dilayangkan oleh Sehun ke wajah pria yang lebih tua 7 tahun darinya itu tanpa mau mendengarkan apapun yang ingin diucapkan oleh Seung Hwan. Sementara di sudut rumah mungil itu, Yoori memekik ketakutan dan tangisannya mulai pecah karena Sehun memukuli wajah pria yang dia cintai tanpa jeda sama sekali.

 

 

“DASAR BIADAB! BRENGSEK! SEHARUSNYA AKU MEMBUNUHMU SEJAK DULU!”

 

 

Sehun tetap memaki dan memukuli Seung Hwan tanpa henti. Urat-urat pelipisnya muncul dan kulit wajahnya memerah oleh emosi yang tak terbendung. Kepalan tangannya sudah agak licin oleh darah Seung Hwan. Seandainya saja Yoori tak memeluk punggungnya sambil menangis, dia pasti tak akan berhenti. Seandainya saja gadis itu tak merosot turun lalu memeluk kedua kakinya sambil memohon, pasti kakak kandungnya yang brengsek itu sudah mati di tangannya.

 

 

“Hentikan Sehun…kumohon hentikan. Aku mencintainya…aku mencintainya…”

 

 

Isak tangis dan kata-kata permohonan yang diucapkan oleh Yoori itu menekan syarafnya sampai lumpuh. Sehun berdiri mematung dengan perasaan sesak yang membuat nafasnya sedikit tersengal. Tubuh Seung Hwan telah roboh di bawah kakinya, dan mata kakak kandungnya itu menatap Yoori dengan tatapan yang begitu sedih.

 

 

“Aku hanya ingin melindungimu, Noona…Si Brengsek ini tidak pernah mau mengakui bayinya sendiri dan memutuskan pergi untuk wanita lain, jadi bagaimana bisa kau masih tetap mencintainya?” kata Sehun dengan sedikit getaran pada suaranya.

 

 

“Dia mencintaiku Sehun…Dia kembali untukku dan juga bayi kami. Kumohon biarkan Ayah dari bayiku tetap hidup Sehunnie. Tolong…”

 

 

Sehun tak mengatakan apapun lagi. Dia berbalik lambat, kemudian menarik lengan gadis itu agar berdiri. Diusapnya lembut pipi basah gadis itu, menyeka airmata yang mengalir di permukaan kulit lembutnya. Dia tatap wajah cantik itu hingga beberapa lama, dan Sehun tersenyum ketika dia mendapatkan apa yang dia cari. Ya, pada akhirnya dia menemukannya.

 

 

“Kau itu gadis yang sangat bodoh, kau tahu?”

 

 

Yoori mengangguk lemah. “Ya, aku memang bodoh. Aku tahu aku bodoh…”

 

 

Lagi-lagi Sehun tersenyum. Dipeluknya gadis itu, mengusap rambut cokelat panjangnya pelan-pelan. “Aku menyayangimu, Noona…kau tahu aku menyayangimu kan?” kata Sehun lembut, dan dia merasakan Yoori mengangguk kembali di dalam pelukannya.

 

Bukan, Sehun tidak mengatakannya karena dia begitu mencintai gadis ini. Pada akhirnya dia menyadari segalanya. Sepertinya dia memang keliru. Yoori benar, ini bukanlah cinta. Dia begitu emosi hanya karena dia merasa kecewa. Benar-benar kecewa karena Han Yoo Ri yang dia kagumi ternyata adalah gadis yang sangat bodoh. Dia lepaskan gadis itu, lalu dia menatap kakaknya sendiri. Dengan satu tarikan, dia bantu kakaknya itu agar berdiri. Tatapan sedih dan rasa bersalah, serta rasa sayang memancar melalui mata sipitnya, dan Sehun menyeka darah kakak kandungnya itu dengan ibu jari, kemudian dia peluk Seung Hwan erat-erat.

 

 

“Maafkan aku Hyung….”

 

 

Sehun bisa merasakan jika kakaknya menangis ketika dia mengucapkan kata maaf itu. Tubuh Seung Hwan bahkan sampai gemetaran di dalam pelukannya.

 

 

“Aku yang seharusnya meminta maaf padamu Saeng-ie…Maafkan aku…maaf…”

 

 

Sehun melepaskan pelukannya dan lagi-lagi tersenyum. “Kau benar-benar mencintainya kan?”

 

 

Seung Hwan mengangguk cepat, dan Sehun kembali tersenyum, kemudian ikut menganggukkan kepalanya, mengerti.

 

 

“Kau harus menjaga Yoori Noona, dan juga bayimu…” Sehun membuang nafas, lalu menepuk bahu kakaknya. “Pulanglah ke rumah. Meyakinkan Appa dan Eomma adalah tanggung jawabmu sekarang.”

 

 

“Ya, aku tahu,” jawab Seung Hwan sambil berjengit sedikit ketika Yoori menyentuh salah satu luka lebam pada wajahnya.

 

 

Sehun menatap dua orang yang tampaknya memang saling mencintai itu dengan perasaan lega yang begitu besar. ‘Syukurlah…’–pikirnya.

 

 

Ya, dia memang patut bersyukur atas segalanya. Kehamilan Yoori, kepergian Seung Hwan, diusirnya dia dari rumah, pertemuannya dengan Luhan, dan kembalinya kakak kandungnya itu sekarang. Dia harus mensyukurinya. Dia benar-benar harus bersyukur. Dia tak akan menjadi dewasa –benar-benar dewasa dalam konteks yang berbeda– seperti sekarang jika dia tak mengalami semua ini.

 

 

“Kalian sebaiknya segera menikah…” kata Sehun, melanjutkannya dengan kekehan kecil ketika dua orang yang berada di hadapannya itu terlihat salah tingkah. “Aku akan menunggu kabar bahagia itu.”

 

 

Sehun berbalik setelah dia mengatakan itu, melangkah mantap menuju pintu utama. Segala beban dia tinggalkan di belakang. Dia tak harus mengkhawatirkan Han Yoo Ri lagi. Sudah ada kakaknya yang akan menjaga gadis cantik itu. Dia hanya harus melangkah ke depan sekarang, menata hidupnya dengan lebih baik lagi.

 

 

“Sehun…”

 

 

Sehun berbalik oleh panggilan kakak kandungnya. Dua alisnya dia angkat, bertanya melalui isyarat.

 

 

“Terima kasih…” ucap Seung Hwan, melemparkan senyuman tulus pada adiknya. “Terima kasih sudah menjaga Ibu dari bayiku…Aku menyayangimu, sungguh…”

 

 

“Aku juga menyayangimu Hyung…” kata Sehun.

 

 

“Kau akan pulang kan?”

 

 

Sehun tertegun ketika mendengar pertanyaan itu, berpikir dalam beberapa detik, lalu tersenyum setelahnya. Dia tatap kakaknya, kemudian dia menggangguk.

 

 

“Ya, aku memang akan pulang, tapi bukan pulang ke rumah Appa. Aku akan pulang ke tempatku yang seharusnya. Lagipula orangtua yang ortodoks seperti Appa dan Eomma pasti tak akan mau menerima diriku yang sekarang Hyung…”

 

 

Seung Hwan mengerutkan keningnya karena bingung, namun Sehun hanya tersenyum tanpa menjelaskan arti ucapannya.

 

 

“Jaga diri kalian. Jangan lupa kabari aku jika kalian akan mengadakan pesta pernikahan…”

 

 

Dan Sehun berbalik untuk pergi. Membiarkan sepasang kekasih yang menatap bingung di belakang punggungnya. Dia ingin cepat-cepat ‘pulang’. Dia sudah sangat merindukan ‘orang itu’.

 

*****

“Shit!”

 

 

Umpatan penuh emosi lagi-lagi keluar dari bibir Luhan saat mangkuk berisi olahan salad yang dia pegang terjatuh hingga hasil kerja kerasnya hancur berantakan di permukaan lantai secara menyedihkan. Apapun yang dia lakukan sejak tadi tak ada yang benar. Dia tahu jika dia tak memiliki bakat sama sekali untuk urusan dapur, tapi tak bisakah dia mendapatkan sedikit keberuntungan dan melakukan segala hal dengan baik untuk saat ini saja? Dia hanya ingin membuat sesuatu untuk Sehun melalui olahan tangannya sendiri, tapi hanya kekacauan yang dapat dia ciptakan.

 

 

Mungkin dia bisa memasak dengan tenang jika saja Sehun berada di sini sekarang. Tapi dia telah terlanjur emosi karena pemuda pucat itu tak kunjung pulang. Ini sudah sore, dan entah mengapa dia begitu khawatir karena rinai-rinai hujan yang biasanya selalu turun di musim semi, jatuh begitu deras di luar sana meskipun ini masih musim gugur. Pemuda pucat itu sudah pergi meninggalkannya sejak siang, mengacaukan keinginan indahnya untuk memeluk pria itu sepanjang yang dia inginkan seharian ini. Tapi mengapa Sehun belum juga kembali sampai sekarang?

 

 

Luhan sudah akan meledak saat lagi-lagi saus yang dia pegang tergelincir jatuh dan menggelinding ke arah bak pencucian piring di sisi kanannya, namun amarahnya menghilang dan nafasnya terhenti secara mendadak ketika tiba-tiba saja dua buah lengan terselip melalui pinggul dan memeluk erat perutnya dari belakang. Punggungnya basah, dan Luhan berjengit geli ketika sepasang bibir yang sangat dingin mengecupi tengkuknya hingga berkali-kali.

 

 

“Sehun?”

 

 

“Hmm?”

 

 

“Kau kehujanan?”

 

 

“Hmm…”

 

 

Luhan menggenggam tangan Sehun, mencoba menghangatkan jemari beku pemuda pucat itu. “Ayo ganti baju Sehun, kau bisa sakit…” katanya sembari berbalik. Dia genggam sebelah tangan Sehun dan mulai melangkahkan kaki, hendak membawa Sehun ke kamar ‘mereka’. Namun Sehun menggenggam kuat tangannya dan menahan pijakan pada lantai, memaksa dirinya ikut menahan langkah hanya untuk menatap pemuda pucat itu.

 

 

“Ada apa?” tanya Luhan.

 

 

Sehun semakin mengeratkan tautan jemari mereka. Tatapan Sehun membuat Luhan bertanya-tanya tentang apa yang dipikirkan oleh pemuda itu, namun Luhan hanya diam, menunggu.

 

 

“Kau…tidak akan membuangku kan?” tanya Sehun. Suaranya begitu rendah, untung saja Luhan masih mampu mendengarnya.

 

 

“Apa maksudmu?” tanya Luhan, bingung. Tapi kebingungannya sirna dalam sekejap karena sistem di dalam otaknya macet secara mendadak. Sehun menariknya, memeluknya dengan begitu erat, seolah mereka baru saja bertemu setelah seribu tahun berpisah.

 

 

“Jangan membuangku Luhan…Apapun yang terjadi nanti, tolong jangan menyuruhku pergi…”

 


To Be Continued


 

A/N  : Soal kuis yang kemaren itu, banyak jawaban yang mendekati, tapi entah kenapa jawabannya belom ada yang greget dan bikin aku puas. Tapi aku baru sadar kalo pertanyaanku sendiri juga ambigu -____-

 

 

Karena ituuu….aku kasih pertanyaan baru yang lebih spesifik, dan akan ada beberapa clue yang mungkin bisa membantu kalian untuk menjawabnya. Hadiah pulsa sudah aku tambahkan menjadi 50k. Masih pada minat buat ikutan main tebak-tebakan kan? Masih dong ya? Harus! Hehe.

 

 

Pertanyaan pertama : Apakah profesi Chanyeol dan Baekhyun di dalam FF ini? Siapakah mereka?

Clue 1: Observasi lapangan.

Clue 2 : Investigasi & mengumpulkan data.

Clue 3 : Ahli dalam menyamar.

 

Pertanyaan kedua : Chanyeol dan Baekhyun merupakan anggota organisasi apa?

Clue 1 : Badan Rahasia Negara Korea Selatan.

Clue 2 : Terdiri dari 3 kata jika ditulisakan ke dalam Bahasa Inggris.

Clue 3 : Didirikan tanggal 10 Juni 1961 dengan nama awal Korean Central Intelligence Agency ( KCIA ), dan diubah menjadi nama yang sekarang pada Januari 1999.

 

Clue 4 : Markas besarnya terletak di daerah Naegokdong, Seoul Selatan.

Pertanyaan ketiga : Siapakah Sehun? Berapakah usianya?

PS : Clue sudah sangat banyak di dalam plot, yang cermat dan bener2 ngikutin plot pasti langsung akan bisa menebak dengan tepat.

Pertanyaan keempat : Kira-kira, siapakah Jean Writer Wu itu?

Jika 2 dari 4 pertanyaan benar-benar tepat dan akurat, maka kalian sudah dianggap menang. Jika 3 dari 4 pertanyaan mendekati benar, kalian juga akan dianggap pemenang. Dan kalo keempatnya benar semua, ya itulah pemenang mutlaknya. Daaannn…kalo banyak yang jawab benar, pemenang akan dipilih secara acak oleh saya, hohoho…

PS : Kuis ini digabung juga dengan yang ada di Fanfiction.net. Thanksseu~~

 

Advertisements