.

 

 

.

 

 

.

 

 

Ada satu masa dimana kau harus benar-benar bertahan dan berusaha mengendalikan diri agar tak tergoda dengan sesuatu hal yang sebenarnya jelas-jelas akan menjerumuskanmu ke dalam suatu kesalahan. Dua jalanan yang tampak mirip tak akan pernah benar-benar sama apabila kau mencermati keduanya dengan baik. Dua jalanan itu akan membuatmu kebingungan, kau akan stuck pada tempat di mana kau berdiri, dan tanpa kau sadari pikiranmu akan terpecah menjadi dua, hatimu akan terbelah menjadi dua, dan kau akan merasa frustasi ketika kedua belahnya memiliki ukuran yang hampir sama karena kau akan menemukan kesulitan untuk memilih salah satunya. Dan inilah yang dialami oleh Sehun sekarang.

 

 

Mencari peruntungan, Sehun mencoba menyusuri kedua jalannya hingga pada akhirnya dia menemukan dua tempat yang sama-sama indah. Namun seperti yang di sebutkan di awal, apapun itu, tak akan pernah benar-benar memberikan kebahagiaan yang sama. Keduanya sama-sama memiliki kekurangan, begitupun sebaliknya, tak bisa benar-benar sempurna. Namun meskipun begitu, pasti ada yang lebih baik. Dan inilah yang sedang di cari oleh Sehun.

 

 

Di hadapannya, sepaket tubuh molek dengan tampilan wajah yang begitu menggoda menguasai sebagian otaknya yang telah terpecah menjadi dua. Ini tidak benar, namun nafsu yang entah bagaimana bisa mendominasi pikirannya telah terlanjur menguasai, ditambah dengan rasa asing yang menggelitik dinding hatinya hingga dia selalu berdebar akhir-akhir ini. Tanpa harus berpikir terlalu keras, Sehun pun tahu jika dia tengah berdiri di tengah-tengah sebuah tempat yang dinamakan kesalahan. Meskipun begitu, dia tak ingin beranjak dari tempat ini. Di sini terlalu nyaman, tempatnya terlalu indah, lagipula sesosok Sylph cantik bernama Luhan yang menghuni tempat ini membuat dunianya menjadi aneh dan juga penuh warna.

 

 

Lalu bagaimana dengan sebagian otaknya yang lain?

 

 

Terus terang saja, akan lebih baik jika Sehun mengutamakan sebagian otaknya yang satu ini. Lebih logis, namun jika di cermati lebih dalam, apa yang ada di dalam sebagian otaknya yang lain ini sebenarnya tak akan lebih baik dari sebuah kesalahan. Sehun baru menyadari jika satu bilah jalanan itu ternyata adalah jalan yang membawanya kembali ke tempat yang telah dia diami untuk waktu yang begitu lama. Di sini tempatnya juga indah, namun dia sendirian. Sehun telah menghuni tempat ini selama bertahun-tahun, dan tak ada yang bisa dia lakukan di tempat ini selain hanya menunggu dan menunggu. Dan rasanya melelahkan.

 

 

Menyukai seorang gadis cantik sejak kecil secara sepihak rasanya menyakitkan, namun dia telah berkorban selama tahun-tahun yang panjang hanya untuk menunggu perasaannya terbalas di tempat ini. Tapi tidak. Segala hal telah dia lakukan, namun semuanya sepertinya sia-sia. Perasaannya tak pernah terbalas, lagipula nyeri-nyeri menyakitkan harus dia telan setiap harinya. Dan semakin hari rasanya semakin kosong. Meskipun Sehun meyakini bahwa dirinya masih menyukai gadis itu sampai sekarang, nyeri-nyeri yang dia dapatkan telah menusuk-nusuk hatinya hingga rongga-rongga kecil terlanjur tercipta di dalam sana, semakin lama semakin besar, dan pada akhirnya rongga-rongga itu menyatu, membuat hatinya terkoyak lebar hingga dia mati rasa.

 

 

Jadi mana yang lebih baik? Jawabannya adalah tak ada. Namun jika dicermati, tempat pertama akan jauh lebih baik meskipun dia tahu jika berada di dalamnya adalah merupakan pilihan yang benar-benar salah, lagipula dia tak akan bisa menghuni tempat itu untuk selamanya. Tempat pertama adalah mutlak milik Sylph cantik bernama Luhan. Statusnya di tempat ini hanyalah seorang pelayan. Suatu saat, dia harus rela meninggalkan tempat indah ini ketika sang pemilik merasa bosan dengan layanan yang dia berikan dan dia harus menerimanya dengan lapang dada. Tapi tak apa. Setidaknya dia tak akan merasa kesakitan di tempat ini karena dia juga berhasil mencapai tempat indah ini hanya dengan bermodalkan tiket kebohongan. Jadi jika suatu saat nanti, ketika dia harus benar-benar pergi, dia tak akan terlalu merasa rugi, apalagi sakit.

 

 

 

Ya, seharusnya.

 

.

 

.

 

.

 

 


 

MALE DEPOSE

 

Male Depose

Written by tmarionlie ♡♡ Poster by L.E Design

HunHan | Hurt & Comfort | Romance | Mature


Chapter 5


 

Gesekan kulit kaki beradu di balik selimut putih, dan dua pasang bibir saling menyentuh dalam, diiringi suara decapan serta desahan basah yang mengalun merdu. Juntaian poni agak basah yang menutupi dahi pemuda yang lebih mungil tersapu oleh jemari panjang pria yang menghimpitnya, kemudian ciuman itu terlepas.

 

 

Usapan sayang menyentuh kepala Luhan. Senyuman lembut membuat jantungnya semakin menggila di setiap detiknya. Debaran yang begitu kuat membuat jantungnya terasa nyeri dan menyenangkan secara bersamaan.

 

 

“Aku tak tahu caranya bercinta dengan sesama pria, ini jujur. Aku belum pernah melakukannya.”

 

 

Luhan tersenyum, lalu dia raih rahang pemuda pucat yang masih menghimpit tubuhnya itu, membelainya dengan rasa sayang yang begitu membuncah.

 

 

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Sehun.

 

 

Wajah frustasi pemuda itu membuat tawa kecil Luhan pecah. “Lakukan saja apa yang menurutmu harus kau lakukan, Sehuna…” jawabnya.

 

 

Sehun masih diam, berpikir sambil menikmati wajah Luhan yang menatapnya sayu. Namun sekejap kemudian, dia memutuskan untuk melakukan apapun yang dia anggap paling benar. Dalam satu gerakan sensual, dia kembali meraih bibir Luhan, mencecapi rasanya yang manis hingga tubuhnya kembali merinding oleh rasa geli yang menyengat perut. Lumatan penuh gairah, jilatan penuh nafsu, membawa keduanya dalam kenikmatan dan rasa panas yang membakar tubuh.

 

 

Ciuman terlepas sepihak lalu satu desahan terdengar dari bibir Sehun. Luhan membelai perutnya secara langsung, dengan gerakan tangan yang menjalar lambat seperti ular yang sedang berjalan. Satu tarikan, dan kaus hitam Sehun terlepas. Tatapan penuh nafsu yang mengarah ke kulit tubuhnya membuat Sehun merinding, namun dia menyukainya. Luhan yang sedang menggigiti bibirnya sendiri itu menghantarkan gelombang erotis yang menyengat otaknya, hingga tubuh Sehun semakin terbakar. Rasanya benar-benar panas, menggairahkan.

 

 

Dan Luhan, tanpa mengalihkan tatapannya, melepaskan kaus Sehun yang masih berada di dalam genggamannya, membiarkannya terjatuh di lantai yang dingin. Agak bergetar, dia raba kulit dada Sehun, sedang pria yang dia sentuh menahan nafas dan menggeram.

 

 

“Kau –sangat sempurna…”

 

 

Pujian yang menyenangkan dan lagi-lagi Sehun berdesir saat mendengarnya. Tanpa mau bersusah-susah memikirkan apapun, Sehun kembali menunduk, menggapai kembali bibir Luhan, melumatnya penuh perasaan dan dia biarkan Luhan mengelusi punggungnya yang meremang karena geli oleh sentuhan jemari lembut serta cumbuan udara yang semakin lama terasa semakin beku.

 

 

Luhan bergerak gelisah di bawah himpitan tubuh Sehun ketika aroma pria pucat itu terasa semakin menusuk indera penciumannya, mengaburkan pikirannya dan membuatnya melayang. Sekuat tenaga dia dorong bahu Sehun, membuat tubuh setengah telanjang itu telentang pada permukaan ranjang hingga dia bisa kembali naik ke perut Sehun. Wajah Sehun tampak memerah, dan mata sipitnya sayu. Dia raba kulit tubuh itu di beberapa tempat, menggerakkan jarinya dengan begitu sensual hingga Sehun mengerang di bawahnya.

 

 

“Aku akan menunjukkan padamu, bagaimana rasanya bercinta dengan sesama pria,” bisik Luhan, merundukkan tubuh dan mengecup bibir Sehun satu kali, “dan kau pasti akan menyukainya sayang…”

 

 

Luhan kembali duduk tegak, dan tanpa mengalihkan tatapannya dari mata Sehun, dia lepaskan sweater merahnya hingga tubuh bagian atasnya terlihat jelas oleh mata Sehun. Luhan hanya diam setelahnya, namun matanya mengikuti gerakan tangan Sehun yang terulur padanya, berusaha menyentuh kulit perutnya secara langsung.

 

 

“Mmhh…”

 

 

Luhan memejamkan mata dan kembali menggigit bibir, menikmati belaian jemari Sehun pada kulit perutnya. Sentuhan Sehun menjalar naik, hingga tubuhnya merinding saat jemari Sehun sampai pada putingnya yang telah mengeras. Luhan menikmatinya hingga beberapa detik, dan dia terkesiap ketika Sehun bergerak tiba-tiba. Bokongnya merosot turun dan sekarang telah menduduki paha Sehun. Entah bagaimana Sehun bisa membawa dirinya duduk, Luhan pun tak tahu. Yang dia tahu, saat ini Sehun telah mengecupi kulit tubuhnya dengan nafas berat yang terputus-putus. Jilatan basah menyapu sekitar leher dan dadanya, lalu Luhan menggeram oleh lidah Sehun yang membelai putingnya.

 

 

“Sssshh….”

 

 

Luhan tak tahan. Dengan gerakan cepat, dia berdiri dengan lututnya, menurunkan celananya hingga kejantanannya terlihat. Pria yang di hadapannya membeku, menatap ‘miliknya’ tanpa berkata-kata. Tatapan pria pucat itu beralih dari kejantanan Luhan menuju mata pemiliknya, dan Sehun menemukan keinginan yang begitu kuat di dalamnya. Pancaran mata Luhan seolah mengatakan ‘ayo sentuh aku sayang’, dan Sehun tak dapat melakukan apapun lagi selain hanya menurut patuh.

 

 

Agak gemetar, Sehun mengulurkan tangan. Seperti baru saja menelan bara api, tubuhnya semakin memanas hebat ketika dia berhasil menyentuh penis Luhan. Dia tak tahu jika milik pria cantik itu selembut ini. Kulit Luhan terasa begitu halus di dalam genggamannya. Tanpa keragu-raguan, Sehun menggerakkan tangannya, dan otaknya semakin mendidih saat dia menangkap liukan tubuh Luhan di depan matanya. Pria itu begitu cantik, matanya terpejam dengan wajah yang mendongak, terangsang. Pipinya merona, bibirnya terbuka dan dia bergerak seksi karena sentuhan tangannya–

 

 

“Ahhh…”

 

 

–dan desahan lembut yang Luhan keluarkan, melumpuhkan syaraf-syaraf di dalam otaknya. Seolah benar-benar kehilangan kendali diri, Sehun menghempaskan tubuh Luhan ke permukaan ranjang. Dia turunkan celana pria itu hingga tubuh Luhan benar-benar polos seutuhnya. Cantik sekali. Sehun tak sabar untuk menikmatinya. Tubuh indah ini akan menjadi miliknya sebentar lagi, dengan penuh kerelaan oleh pemiliknya.

 

 

Tangan Luhan terulur menyentuh rahang Sehun, lagi-lagi membelai lembut dengan tatapan sayu menggoda yang mematikan fungsi otak. Baru sedikit saja Sehun merundukkan tubuh, Luhan telah menangkap tengkuk pemuda itu, mencengkramnya kuat dan bibirnya memagut bibir Sehun dalam-dalam. Terburu-buru dan tak sabaran, Luhan menghisap bibir Sehun dengan cepat, tengkuk Sehun ditekannya kuat-kuat, dan kedua kakinya melingkar di pinggang Sehun begitu erat.

 

 

Tak mampu menahan hasratnya lebih lama lagi, Luhan mengeluarkan tenaganya untuk merubah posisi. Dia berguling hingga lagi-lagi dia mendominasi di atas. Lututnya dia gunakan untuk berdiri, membiarkan tatapan lapar Sehun yang tak mau beralih dari kejantanannya yang menggantung. Agak terburu-buru, Luhan melepaskan kaitan celana Sehun, menurunkan resletingnya dengan tergesa dan menarik celana itu turun. Lidahnya bermain di sekitar bibirnya sendiri saat dia berhasil melepaskan celana panjang Sehun dari kaki pemiliknya. Telapak tangannya menyentuh gundukan di selangkangan pemuda yang berada di bawah, menggeseknya sambil menjilat bibirnya sendiri, hingga–

 

 

“Ughh…mmhh…”

 

 

–erangan erotis keluar dari bibir Sehun. Wajah Sehun memerah sampai ke telinga, matanya terpejam dan bibir bawahnya dia gigit sendiri, frustasi oleh rasa nikmat yang baru kali ini dia rasakan.

 

 

Seringaian diiringi tatapan mata berkabut gelap, menghiasi wajah Luhan. Tangannya yang nakal merambat ke pinggul Sehun. Jari-jarinya mengapit satu-satunya kain penutup yang tersisa di tubuh lelaki tampan yang dia jamah, menariknya melalui sisi kanan dan kiri pinggul Sehun kemudian melorotkannya ke bawah hingga kejantanan pemuda pucat itu mencuat bebas. Gerakan tangannya sempat terhenti sesaat, seiring dengan iris cokelat bening yang terpaku pada objek mempesona di depan matanya, membuat gumpalan kabut di dalam mata itu kian menggelap pekat. Dan dia melepaskan celana dalam itu dengan terburu-buru setelahnya.

 

 

“Sehun, kau–“

 

 

“Ugh, Lu…”

 

 

“–menggairahkan sekali, sayang…”

 

 

Kepalan tangan Sehun mencengkram kain sprei di sekitarnya. Penisnya terjebak di dalam genggaman tangan Luhan, diremas lembut dan kulit penisnya bergerak naik-turun mengikuti gerakan tangan yang memerangkapnya.

 

 

“Lu…ahhh…”

 

 

Telinga Sehun semakin memerah. Baru kali ini. Ini benar-benar kali pertama kejantanannya di sentuh secara langsung oleh tangan manusia lainnya. Tubuhnya menggelinjang dan rasa geli terasa begitu menyengat di sekitar perutnya. Begitu panas, nikmat dan menyenangkan. Sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Otaknya kosong, hanya ada nafsu menggebu di dalamnya, yang sepertinya akan menutup rasionalitasnya secara keseluruhan, memblokir segala sistem pemikiran logisnya sampai benar-benar habis.

 

 

“Ohhh…”

 

 

Desahan yang begitu seksi, Luhan tak tahan mendengarnya. Bibirnya merindukan bibir yang baru saja mengeluarkan desahan basah itu, dan dia mempertemukan mereka. Sesapan dalam yang penuh gairah, dan cinta, dan nafsu, dan entah apa lagi menyatu di dalam ciuman ini. Luhan membenamkan jemari tangan kirinya pada helaian rambut Sehun yang sudah basah oleh peluh. Bibirnya bermain lembut pada bibir pemuda itu. Sesapan pelan, namun panas. Tangan kanannya masih memanjakan kejantanan pemuda yang dia cumbui, meremasnya lembut namun erat, pelan tapi bertenaga. Ciumannya merambat turun menyusuri dagu runcing pria pucat yang dia kuasai tubuhnya, semakin turun seiring detik jarum jam yang menempel pada dinding bercat hitam di sisi kiri ranjang, hingga dia menemukan kedua puting pria pucat itu. Dia gunakan lidahnya untuk membasahi ujung-ujungnya yang menegang. Bintik-bintik pori yang menghiasi sekitar puting merah muda itu menandakan bahwa pemiliknya tengah di serang rasa geli yang begitu hebat, dan Luhan suka dengan fakta yang satu ini. Pria pucat ini telah begitu terangsang. Bagus sekali.

 

 

Bibir Luhan membebaskan areal dada yang menggoda itu, kembali menjelajah semakin jauh, menuju ke daerah perut datar yang tampak putih mulus dan menggairahkan. Dikecupnya perut Sehun sambil menghembuskan nafas hangatnya di sekitar kulit perut itu dengan sengaja, agar api yang membakar tubuh Sehun berkobar semakin besar. Tangan kanannya tak pernah mau berpindah posisi, masih saja membelai lembut batang penis Sehun. Beberapa detik, dan cumbuan bibirnya kembali menemukan mangsa baru.

 

 

Bibir merah muda Luhan yang basah terbuka sedikit. Nafas hangat keluar dari dalam bibir itu, meniupkan udara erotis pada kulit kejantanan Sehun. Seringaian licik melengkung pada wajah cantik Luhan saat dia menemukan getaran agak kuat melalui tubuh Sehun. Pemuda yang dia goda ini lagi-lagi merinding, dan Luhan semakin semangat untuk menggodanya semakin jauh lagi. Ini benar-benar menarik, dan Luhan sudah berencana untuk berlama-lama menikmati semuanya.

 

 

Satu kecupan, dua, tiga, berganti menjadi jilatan basah pada batang kejantanan Sehun. Erangan keras meluncur dari bibir tipis favorit Luhan, menyengat kepalanya, melambungkan keinginannya untuk mencumbui benda yang dia genggam ini lebih dalam lagi. Jilatan basah kembali dia berikan pada lengkungan di kepala kejantanan Sehun yang telah mengkilat oleh precum, meniupkan udara kecil di sana agar Sehun semakin tersiksa oleh geli yang dapat dia bayangkan sendiri bagaimana rasanya.

 

 

“Ahh, Luhan…Luhan…Please…”

 

 

Luhan menarik satu sudut bibirnya. “Aku suka mendengarmu memohon seperti itu sayang,” katanya licik, kemudian dia tegakkan benda panjang yang dia genggam itu, membiarkan ujungnya menerobos belahan bibirnya sendiri, dan juga membiarkan batang penis itu masuk semakin dalam ke mulutnya. Lidahnya menyambut benda itu dari dalam, menggelitiknya hingga geraman berat yang basah dan seksi menggema di sekitar ruangan kamar yang semakin panas ini.

 

 

“Ahhh…Lu…Sshh…”

 

 

Sehun mendesis dengan telinga yang semakin lama terasa semakin panas. Urat-urat di sekitar pelipisnya keluar, menghiasi kulit pucatnya yang telah merona hebat. Siku tangan kirinya menekan permukaan ranjang, dan dia paksa tubuhnya untuk lepas dari jeratan permukaan ranjang itu. Matanya terbuka, hingga dia dapat melihat secara langsung bagaimana Luhan mengulum penisnya yang sudah sangat keras, yang terlihat keluar-masuk melalui belahan bibir Luhan dengan begitu perkasa. Belaian lidah Luhan membuatnya gila. Rasanya begitu nikmat, dan dia tak tahu bagaimana caranya menuangkan rasa frustasi yang menyerang kepalanya. Otaknya menghasut untuk membalas Luhan, jadi dia ulurkan tangan kanannya dan dia remas rambut cokelat madu milik pemuda yang sedang sangat bersemangat menyiksa penisnya itu dengan gemas. Tapi memang terlanjur sinting, Sehun menekan kepala Luhan bersamaan dengan pinggulnya yang sengaja dia desak maju.

 

 

“Uhukk…”

 

 

Sehun menyeringai tipis saat Luhan tersedak oleh kejantanannya. Namun ekspresi kesakitan yang menghiasi wajah Luhan membuatnya tak tega. Dia belai kepala pria cantik itu, kemudian dia paksa Luhan melepaskan penisnya. Luhan meringis sambil mengelus lehernya sendiri ketika Sehun menarik tubuhnya mendekat. Tangannya yang menempel pada lehernya sendiri itu ditarik lembut, kemudian dikecup sayang oleh Sehun.

 

 

“Maafkan aku…” ucap Sehun penuh penyesalan.

 

 

Tubuh Luhan dibaringkan perlahan oleh Sehun di sisi kirinya, namun lengannya mengurung tubuh mungil itu erat-erat. Bibir Sehun mencari bibir Luhan, lalu sedikit rasa marah yang sempat muncul pada otak Luhan tadi lenyap dalam seketika. Mereka kembali saling memagut, melumat basah, lalu saling menyerang lidah satu sama lain. Kedua kejantanan mereka bersentuhan dan saling menggesek karena tubuh keduanya memang sangat rapat, bahkan kaki mereka saling mengait satu dengan yang lainnya. Ugh, gelombang panas yang erotis semakin lama intensitasnya semakin bertambah saja. Baik Sehun ataupun Luhan sudah tak mampu menahannya lagi.

 

 

Luhan terengah-engah saat tautan bibir mereka terlepas. Wajahnya berjengit, kepalanya menggeliat sedikit ketika lidah Sehun memainkan anting hitam yang menghiasi telinga kirinya.

 

 

“Sehun, ugh jangan begitu sayang…” Luhan merengek, dan Sehun terkekeh.

 

 

“Bagaimana cara melakukannya? Cepat beritahu aku…”

 

 

Sekarang Luhan yang terkekeh. “Kau akan segera menemukan caranya… bersabarlah baby,” bisiknya dengan suara yang sengaja dibuat seksi.

 

 

Tubuh Luhan kembali berguling ke atas tubuh Sehun, masih dengan senyum menyebalkan yang menghiasi wajahnya. Satu kecupan lagi pada bibir Sehun sebelum dia berdiri menggunakan lutut. Kembali dia raih kejantanan Sehun, kemudian dia menyempatkan untuk memompa batang penis yang sudah sangat siap itu hingga beberapa kali dengan mata yang menatap Sehun dalam-dalam.

 

 

“Perhatikan,” kata Luhan, dan pinggulnya dia turunkan. Ujung penis Sehun digenggamnya erat-erat, dan bokongnya dia arahkan tepat pada ujung penis itu. “Tempatnya di sini sayang…” katanya, bersamaan dengan ujung penis Sehun yang menemukan permukaan lubang anusnya. “Rasakanlah –ugh!“ Luhan menggeram kuat ketika lubangnya terasa terbakar oleh ujung penis Sehun yang berhasil masuk ke dalamnya.

 

 

“A –Aaaahh….” Sehun melebarkan mata. Penisnya terasa hangat, nikmat, dan basah secara bersamaan. “Ya Tuhan…Owh, Sshhh…”

 

 

Sehun kembali memejamkan mata saat seluruh batang penisnya ditelan oleh bokong Luhan. Bibirnya mendesis seperti ular. Gila. Rasanya begitu nikmat. Dia tak menyangka jika bercinta dengan seorang pria rasanya akan sehebat ini. Ini benar-benar di luar ekspektasinya. Dia kira bercinta dengan sesama pria akan sangat menjijikkan, tapi apa yang dia pikirkan itu ternyata salah.

 

 

‘Ugh, benar-benar sialan. Nikmat sekali,’ –pikir Sehun.

 

 

“Sehunhh…ohhhhh…”

 

 

Ini yang lebih membuat gila, desahan si cantik ini. Sehun membuka matanya perlahan hanya untuk menatap Luhan. Dadanya telah ditekan oleh pemuda cantik itu sebagai penopang, dan penisnya di serang oleh rasa geli-geli nikmat yang memabukkan. Sehun memperhatikan gerakan naik-turun yang dilakukan oleh Luhan sambil menggigit bibir. Sesekali bibirnya mengeluarkan desisan nikmat, dan sesekali mengerang. Liukan tubuh Luhan begitu seksi, belum lagi wajah merona dan tubuh mengkilatnya yang basah oleh keringat. Sesuatu yang menggantung di antara kedua pahanya melompat-lompat saat pemiliknya bergerak naik-turun, membuat Sehun gemas.

 

 

”Akh..akh..akh!”

 

 

Sehun terpana. Wajah Luhan memerah sempurna dan tubuh pemuda cantik itu bergerak naik-turun semakin liar, mendominasi dan menguasai permainan. Sebelah tangannya dia gunakan untuk meremas penisnya sendiri, dan Sehun hanya menatap semua pemandangan erotis ini sambil menggeram nikmat. Penisnya benar-benar dimanjakan oleh lubang Luhan, dan dia merasa hampir-hampir meledak namun tertahan karena tiba-tiba saja Luhan berhenti bergerak. Sehun dapat merasakan jika tubuh Luhan bergetar di atasnya, lalu sekejap kemudian, perutnya basah.

 

 

“Mmhh…”

 

 

Gumaman nikmat terdengar dari bibir Luhan yang terkulum. Dada pemuda itu naik-turun, dan urat-urat lehernya masih tampak ketika dia melepaskan orgasme pertamanya. Mata Sehun terpaku pada kejantanan Luhan yang masih berkedut, memuntahkan cairan kentalnya. Ketika tetesan sperma dari benda panjang milik Luhan itu berhenti, Sehun bergerak bangkit dari posisi berbaringnya. Dia putar posisi mereka hingga punggung Luhan terhempas pada permukaan ranjang. Gerakan yang dia lakukan membuat tautan kelamin mereka terlepas, hingga Sehun dapat melihat sendiri ukuran kejantanannya saat dia mengalami ereksi hebat seperti sekarang. Benda itu membuatnya bangga. Lihat saja mata sayu Luhan yang tak mau mengalihkan tatapan selain pada penis kebanggaannya itu.

 

 

“Kau seksi sekali Sehun,” Luhan menggumam dan menyeringai nakal, kemudian meraih kejantanan Sehun dan menuntun benda panjang itu menuju lubangnya lagi.

 

 

Sehun tersenyum simpul dan memajukan pinggul, mengikuti gerakan tangan Luhan. Dia tekan kuat miliknya saat ujung penisnya menemukan permukaan berkerut lubang itu, mendorongnya masuk secara paksa, membelah rektum Luhan hingga lagi-lagi penisnya tenggelam di antara belahan bokong Luhan yang menggoda.

 

 

“Ahhh…”

 

 

“Ssshh…”

 

 

Desahan dan desisan frustasi kembali meluncur dari kedua bibir anak Adam ini saat Sehun menggerakkan pinggulnya maju-mundur dengan cepat. Kaki kiri Luhan yang awalnya melingkar di pinggang Sehun, ditarik oleh Sehun dan dibawa menuju bahu kanannya. Beberapa kecupan sempat dia berikan pada betis Luhan sebelum dia mulai bergerak dengan lebih liar. Ditusuknya lubang Luhan berkali-kali, dengan sebelah tangan yang memegangi kaki Luhan dan sebelahnya lagi mencengkram pinggang Luhan yang mulai basah oleh keringat.

 

 

“Akh!”

 

 

Pekikan nyaring yang meluncur dari bibir Luhan membuat kening Sehun mengerut. Dengan rasa ingin tahu yang begitu besar, dia kembali menusuk pada titik yang sama, dan kali ini Luhan menggeram frustasi karena ulahnya. Wajah Luhan begitu merah, tubuhnya bergetar kuat, dan tubuh pemuda itu semakin mengkilat karena peluh yang membanjiri kulitnya. Bibir Luhan yang terbuka membuat Sehun tak tahan, karena itu dia merendahkan tubuh. Dia biarkan Luhan tersiksa oleh tekukan kakinya sendiri, dan Sehun yakin jika titik menyenangkan yang membuat Luhan tak karuan itu telah berhasil dia sentuh semakin dalam karena posisi tubuh keduanya yang semakin merapat tanpa celah. Bibirnya meraih bibir Luhan yang memerah, melumat penuh nafsu dan terburu-buru. Gigitan kecil pada belahan bibir bawah Luhan membuat pemuda yang dia himpit melenguh dalam. Bibir Luhan yang terbuka menggoda Sehun untuk menjelajahinya lebih jauh lagi. Dia julurkan lidahnya untuk menari gemulai di dalam mulut Luhan, membelai lidah pemuda itu dengan lembut.

 

 

“Mhhh…mmm…”

 

 

Sehun berjengit saat merasakan remasan kuat pada rambutnya. Sepertinya Luhan mulai merasa kesal oleh serangan yang dia lakukan. Ciuman mereka semakin menggila, bahkan suara kecipak liur dari bibir mereka mengiringi suara decakan organ tubuh bagian bawah mereka yang masih saling beradu. Satu tarikan yang dilakukan oleh Sehun berhasil membuat tubuh Luhan melayang hingga dia terduduk di pangkuan Sehun. Ujung penis Sehun menekan prostatnya semakin dalam, hingga tanpa sadar dia cakar kedua bahu Sehun sampai lecet sebelum dia peluk tengkuk pemuda itu erat-erat.

 

 

Luhan kembali mendominasi kegiatan seks mereka. Tubuhnya kembali naik turun, memompa penis Sehun dengan lubangnya. Kepalanya mendongak dengan wajah merah dan bibir yang terbuka seksi, dan dia bergerak liar. Pinggulnya di cengkram erat-erat oleh Sehun, dan putingnya habis dijilat oleh lidah pemuda pucat itu. Penisnya yang menggantung bahkan ingin kembali meledak meskipun tanpa di sentuh. Ini benar-benar nikmat, dan Luhan tak yakin jika dirinya akan tahan untuk tak meminta Sehun menyetubuhinya lagi setelah ini, ‘nanti’.

 

 

Hawa panas di sekitar tubuh mereka berdua kian membelit. Kulit tubuh mereka semakin basah oleh peluh gairah. Mata mereka beradu saat Luhan menunduk, berkebalikan dengan Sehun yang mendongak, lalu keduanya kembali berciuman sambil melenguh dalam.

 

 

“Ugh…nghhh….lebih cepat Lu….”

 

 

Luhan mengulum senyum kemenangan. Dia tekan bahu Sehun kuat-kuat. Pinggulnya naik-turun semakin liar, bahkan lututnya sudah agak bergetar karena kelelahan. Namun wajah Sehun yang tampak tersiksa membuatnya menahan diri dan memutuskan untuk memanjakan penis Sehun sampai akhir.

 

 

“Akh!”

 

 

Dan Sehun mendapatkan orgasmenya. Luhan tertawa kecil namun masih bergerak cepat meskipun lubangnya sudah sangat becek oleh sperma Sehun. Dia juga ingin segera klimaks, dan sebentar lagi dia akan mendapatkannya. Suara kecipak semakin nyaring di dalam ruangan itu, lalu Luhan meledak beberapa menit setelahnya. Dia jatuhkan kepalanya di bahu Sehun, dan matanya terpejam erat. Dua kali orgasme dan keduanya begitu hebat. Luhan benar-benar lelah sekarang.

 

 

Punggung Luhan kembali terhempas pada permukaan ranjang, sedang Sehun menindihnya. Kecupan-kecupan kecil menghujani sisi wajah Luhan yang sebelah kiri, mulai dari pipi hingga sisian kulit lehernya. Nafas Sehun menyengat kulit bahunya, terputus-putus dan masih panas, sama seperti dirinya. Kejantanan mereka saling menekan karena posisi tubuh keduanya yang saling merapat tanpa celah, lalu keduanya sama-sama saling mencumbui satu sama lain tanpa kata-kata. Sehun menjilat daun telinga Luhan, sedang Luhan menyesap kulit leher Sehun kuat-kuat hingga bercak merah yang sangat jelas menodai kulit leher pemuda pucat itu.

 

 

“Aku lelah…”

 

 

Sehun terkekeh. “Oh ya?”

 

 

“Mmm…ya…”
Sehun tak mengatakan apapun. Tangan kanannya merambat ke bawah, meraba bokong Luhan dan meremasnya lembut.

 

 

“Mmhhh…”

 

 

Luhan menggeliat kecil. Remasan pada bokongnya terasa menyenangkan, dan sekarang otaknya tersengat oleh rasa nikmat yang sama seperti tadi karena jemari nakal Sehun menggelitik permukaan lubang anusnya kembali.

 

 

“Aku tak tahu jika rasanya akan senikmat ini.”

 

 

Luhan terkekeh. “Dan kau berencana menyetubuhiku lagi?”

 

 

“Entahlah…mungkin?”

 

 

“Aku lelah.”

 

 

“Ya, aku tahu. Kau sudah mengatakannya tadi.”

 

 

Sehun menghela nafas, kemudian menarik jarinya dari belahan bokong Luhan. Dia kecup kening Luhan, melemparkan senyumnya pada pemuda cantik itu. “Tidur lagi saja, masih ada beberapa jam lagi sampai matahari pagi muncul.”

 

 

“Melakukan seks lebih menyenangkan ketimbang tidur.”

 

 

“Kau lelah.”

 

 

“Aku mengizinkan kau kembali menyetubuhiku jika kau yang bergerak sampai akhir.”

 

 

Sehun tertawa kecil, tapi tak menjawab.

 

 

“Dan aku ingin kau memanjakan milikku dengan ini,” lanjut Luhan, menyentuh bibir Sehun yang masih basah.

 

 

Sehun tersenyum simpul. Ditariknya tangan Luhan dari wajahnya, dan ditautkannya dengan jemarinya sendiri, lalu dia mengecup bibir Luhan satu kali. “Tidur saja. Kau harus pergi bekerja dalam beberapa jam dari sekarang…”

 

 

“Aku tak keberatan untuk cuti satu hari lagi.”

 

 

Masih dengan senyum yang sama, Sehun menyeka bintik keringat dari dahi Luhan. “Jadi?” bisiknya setelah mencuri satu ciuman lagi pada bibir pemuda cantik itu, “Seks…atau tidur?”

 

 

Luhan terkekeh. “Seks, tentu saja,” gumamnya, seiring dengan kedua lengannya yang melingkar pada tengkuk Sehun dan kepala yang menggantung untuk meraih bibir pemuda pucat itu lagi.

 

*****

Pool ball berwarna hitam dan merah melaju ke arah berlawanan kemudian meluncur masuk ke dalam pocket dengan waktu yang hampir bersamaan. Sementara cue ball berputar kembali ke tempat semula, dan back spin sukses terjadi karena draw shoot yang digunakan oleh Kris begitu tepat pada sasaran. Baru saja dia melakukan shoot untuk pool ball berwarna kuning yang berada di sudut meja, namun tiba-tiba saja missed karena pool ball berwarna kuning itu tergeser oleh sebuah bokong yang mendarat indah pada permukaan meja billiard.

 

 

Decakan frustasi meluncur dari bibir Kris. Dua orang manusia nista tengah bercumbu di seberangnya, –salah satunya yang berpostur lebih mungil sedang duduk manis di tepian meja billiard– berciuman intens sampai suara decapan bibir mereka terdengar nyaring dan menyengat telinga. Ingin sekali Kris memukul kepala dua manusia menyebalkan itu dengan cue yang dia pegang, namun yang dia lakukan hanya menatap keduanya sambil meniup poni karena terlalu kesal.

 

 

“Bisakah kalian menyingkir dari mejaku?” tegur Kris.

 

 

Dua orang itu terkekeh menyebalkan, namun tak bergerak sedikitpun, melirik juga tidak. Pemuda yang lebih tinggi malah memindahkan bibirnya dari bibir pria yang lebih mungil, bergerak turun menyusuri jakun si mungil hingga ke lehernya, menghisap keras di tempat itu hingga suara desahan basah yang terdengar menyebalkan, mengalun merdu dari bibir tipis milik si mungil.

 

 

Damn!” umpat Kris, frustasi. “Menyingkir kataku, brengsek!” teriak Kris sampai suaranya menggema di dalam ruangan, dan kedua manusia nista itu berhenti bercumbu, lalu sama-sama membuang nafas malas serta sama-sama memutar kedua bola mata mereka, kompak sekali.

 

 

“Kau menyebalkan sekali Kris.” Pemuda yang lebih mungil berujar, dan melingkarkan kedua lengannya pada leher pemuda yang lebih tinggi. Tubuh mungilnya melayang hingga kedua kakinya menapak pada lantai karena pemuda yang lebih tinggi menggendongnya turun.

 

 

“Kau yang lebih menyebalkan, pendek!” balas Kris, kemudian menggelengkan kepala dan kembali membungkuk untuk membidik poll ball berwarna kuning tadi. “Aish…Chanyeol, menyingkir dari tepian meja, jangan sentuh mejaku!” serunya jengkel saat menemukan kepalan tangan yang mencengkram ujung meja billiardnya.

 

 

“Astaga, kau rewel sekali sih!” umpat Chanyeol.

 

 

“Diamlah!” kata Kris kesal, kemudian bersiap menyodok cue ball-nya dengan kening yang berkerut dalam, entah karena sedang konsentrasi atau karena jengkel.

 

 

“Tumben sekali kau berada di sini,” gumam si pendek tadi, –Byun Baekhyun– menyilangkan kedua tangannya pada dada dan menatap gerakan cue ball yang disodok oleh Kris barusan, yang telah sukses mendesak bola kuning meluncur masuk ke dalam pocket. “Biasanya kau sibuk dengan gadis-gadismu yang berdada besar itu,” lanjutnya. Kaki pendeknya telah bergerak memutar menuju sudut meja di seberang. Baekhyun menyambar dua buah cue dan melemparkan salah satunya ke arah Chanyeol, dan senyuman penuh arti dia lemparkan untuk kekasihnya itu. “Kami ikut main. Ayo kita bertanding Kris,” katanya, dan Chanyeol tertawa lepas saat mendengar ucapan kekasih mungilnya itu.

 

 

Kris mendesah malas. Baekhyun adalah yang terbaik dalam English shoot, yang bahkan tak mampu dia lakukan meskipun dia telah berkali-kali mempelajarinya. Kekasih Baekhyun yang telah melemparkan cengiran aneh ke arahnya itu juga tak kalah hebat dalam permainan ini, dan Kris merasa mual mendadak ketika memikirkan fakta tentang akan bagaimana tingkah kedua ‘Alien autis’ yang berada di hadapannya ini di detik-detik kekalahannya nanti. Dia pasti akan di bully lagi oleh pasangan homo menyebalkan itu. Biasanya begitu, dan Kris sedang tak mood untuk mengalami hal itu hari ini.

 

 

“Kalian main saja sendiri. Aku malas bermain dengan kalian,” kata Kris, meletakkan cue yang dia pegang lalu berjalan lurus menuju sofa hitam di dekat jendela.

 

 

“Dasar pengecut. Bilang saja kalau kau takut di kalahkan olehku,” komentar Baekhyun, tapi Kris hanya mengedikkan bahu, tak peduli.

 

 

Beberapa menit yang panjang telah berlalu, dan Kris menghabiskan waktu itu untuk menatapi foto-foto Luhan melalui ponsel hitam yang berada di dalam genggamannya, sementara telinganya telah mendengar erangan menyedihkan yang keluar melalui bibir Chanyeol dari meja billiard beberapa meter dari posisi duduknya. Haha, Baekhyun pasti telah mengalahkan pria bersuara berat itu, sudah dia duga.

 

 

“Sepertinya aku mengenalnya.”

 

 

Kris terkesiap ketika ponselnya tiba-tiba saja di renggut oleh sepaket jemari lentik dari sisi sebelah kiri. Entah sejak kapan Baekhyun berdiri di sampingnya, dan sekarang mata sipit pria mungil itu sedang menatap foto Luhan dengan bibir yang mengerucut serta kening yang berkerut aneh.

 

 

“Ck, kembalikan ponselku!” kata Kris jengkel.

 

 

Baekhyun masih berada dalam mode berpikirnya ketika Kris kembali merebut ponsel hitam itu dari genggamannya. Tapi kedua alisnya langsung terangkat saat dia mengingat siapa orang yang berada di dalam foto itu. “Bukankah itu Luhan?” tanyanya pada Kris, namun dia diabaikan oleh pria setengah bule itu.

 

 

“Luhan?” ulang Chanyeol dari arah lemari es di sudut ruangan. “Apa Luhan yang di maksud adalah si flower boy cantik kampus kita dulu?” tanyanya, dan langsung berjengit kikuk saat melihat tatapan jengkel dari kekasih mungilnya. “Kau lebih cantik sayangku,” katanya pada Baekhyun, lalu melemparkan cengiran anehnya pada pemuda mungil itu sambil meletakkan botol air dingin yang dia pegang secara sembarangan, namun Baekhyun membuang muka dan malah menatap penuh minat pada Kris.

 

 

“Hei Kris, ini Luhan yang itu kan?” tanya Baekhyun. Bokongnya sudah mendarat tepat di sebelah Kris, dan lengannya telah menggamit lengan Kris. “Aku benar kan? Ya kan?” desaknya sambil mendekatkan bibirnya pada pipi Kris. “Sejak kapan kalian bertemu lagi? Apa pada akhirnya kau berhasil menggaet si sombong itu? Kalian sudah berkencan? Sejak kapan?” desak Baekhyun.

 

 

“Aish, menyingkir dariku, kerdil!” kata Kris sambil mendorong wajah Baekhyun agar menjauh dari wajahnya tanpa perasaan.

 

 

“Jangan kasar pada Baekhyun-ku!” umpat Chanyeol. Tangannya menggeser tubuh mungil Baekhyun lalu dia berlutut di depan pria pendek yang sekarang telah menunjukkan bakat akting yang dia miliki. Baekhyun melengkungkan bibir ke bawah dengan begitu dramatis. Cantik sekali, sampai-sampai Kris merasa mual ketika melihatnya.

 

 

“Yeollie, pipiku…” rengek Baekhyun, dan si tolol Chanyeol mau-mau saja percaya jika pemuda itu benar-benar kesakitan, karena itu dia mengelus pipi tirus pemuda mungil itu sambil mengumpati Kris sesekali.

 

 

“Menyebalkan!” umpat Kris.

 

 

Kris memutuskan beranjak bangkit dari posisi duduknya, kemudian melangkah menuju balkon yang terletak beberapa meter dari posisi meja billiard, mengabaikan umpatan Chanyeol dan rengekan menyebalkan yang keluar dari bibir Baekhyun. Sikunya menumpu pada tepian pembatas balkon, dan matanya menatap muak pada pemandangan musim gugur di bawah sana. Pikirannya melayang jauh pada wajah pemuda yang dia sukai, tapi terpecah begitu saja oleh getaran ponsel yang masih berada di dalam genggaman tangan kirinya.

 

 

Beberapa detik memandangi sederet kalimat yang masuk ke dalam kotak pesannya, senyum Kris mengembang. Senyumannya semakin melebar ketika beberapa foto mengiringi pesan itu. Dia genggam ponselnya erat-erat setelah dia puas membaca segala informasi yang masuk ke dalam kotak pesannya. Sepaket bayangan menyenangkan merasuk ke dalam otaknya saat dia memikirkan apa yang akan terjadi nanti apabila semua informasi ini sampai ke tangan Luhan.

 

 

“Pasti menyenangkan sekali,” gumam Kris, dan kali ini dedaunan musim gugur yang berwarna-warni begitu tampak indah dalam pandangannya meskipun dia membenci pemandangan musim gugur.

 

 

Sementara itu dua pasang mata menatap punggung Kris melalui pintu yang menghubungkan ruangan dengan balkon. Chanyeol menyandarkan punggungnya pada sisian pintu dengan tangan yang bersedekap serta sebelah kaki yang menapak pada tempatnya menyandar. Sedangkan Baekhyun tengah menempelkan kepalan tangannya pada dagu dan sebelah tangan yang juga bersedekap di depan dada, serta tatapan yang mengarah lurus ke punggung Kris. Wajahnya tampak serius, berpikir.

 

 

“Jadi menurutmu, apa yang sedang dilakukan oleh si bodoh itu sekarang, sayang?”

 

 

“Entahlah Yeol, tapi kurasa sesuatu yang tak begitu baik akan terjadi. Kris sepertinya sedang mengincar sesuatu, dan jika sesuatu itu ada hubungannya dengan Luhan, kurasa…Luhan, dan juga apapun yang saat ini sedang berada di dekatnya, sedang berada dalam bahaya.”

 

 

“Tenang saja, kita akan mengawasinya Baekkie…jangan khawatir.”

 

 

“Ya. Tentu saja kita akan mengawasinya…”

 

*****

Jemari lentik itu membelai rambut hitam yang tampak berantakan pada pangkuannya. Perutnya yang agak membuncit tak menghalanginya untuk dapat menatap wajah pria yang dia belai itu dengan penuh cinta dan juga kasih sayang.

 

 

“Aku sangat merindukanmu,” gumamnya, dan pria itu tersenyum mendengarnya. “Kupikir seseorang datang untuk membunuhku. Tapi ternyata kau yang muncul. Aku merasa sangat bersyukur karena Tuhan masih mengizinkanku hidup lebih lama lagi…”

 

 

“Maaf karena telah meninggalkanmu hingga begitu lama. Harusnya aku yang melindungimu, bukan malah memberikan ketakutan seperti ini padamu. Aku sangat menyesal karena meninggalkanmu dan pergi untuk wanita lain. Aku memang pengecut dan brengsek. Maafkan aku, Yoori-ya…”

 

 

Senyuman cantik yang memunculkan lesung pipi menghiasi wajah gadis itu. Belaian tangannya semakin lembut, dan tatapan teduhnya menggetarkan hati pria yang merebahkan kepala pada pangkuannya.

 

 

“Sehun pasti membunuhku setelah ini,” kata pria itu, frustasi.

 

 

“Tidak, dia tak akan melakukannya.”

 

 

“Dia pasti akan melakukannya. Dia membenciku.”

 

 

“Tidak, kau adalah kakak kandungnya, Oppa…dia tak mungkin membunuhmu.”

 

 

“Dia sangat marah saat aku menuduhnya menghamilimu.”

 

 

“Ini bayimu, bukan bayi Sehun.”

 

 

“Ya, aku tahu. Maafkan aku, aku memang brengsek. Aku melakukannya bukan karena aku percaya bahwa kalian memiliki hubungan, hanya saja aku begitu terpikat pada kecantikan Eun Bi saat itu. Aku juga tak percaya mengapa aku tega memfitnah anak seumuran Sehun melakukan hal seperti itu pada kekasih kakaknya sendiri.”

 

 

“Sehun begitu baik padaku….”

 

 

“Tentu saja. Dia menyukaimu sejak lama.…Aku yang terlalu egois dan merenggut kebahagiannya.”

 

 

“Tidak, ini bukan salahmu. Aku hanya melihat Sehun sebagai adikku. Aku menyayanginya seperti itu saja, tidak lebih.”

 

 

“Ya, karena itulah dia membenci kakak kandungnya sendiri. Dia benar-benar mencintaimu.”

 

 

“Tidak. Aku tak merasakan cinta dalam dirinya. Dia hanya mengagumiku, karena itu dia menginginkanku. Tapi itu bukan cinta, Oppa…Jika itu cinta, aku pasti sudah menghindarinya sejak dulu. Tapi tidak. Sehun tak mencintaiku, karena itu aku tetap menyayanginya seperti seharusnya. Dia hanya berpikir jika dia mencintaiku. Dia hanya bingung. Sehun pasti akan segera menyadari bahwa itu bukanlah perasaan cinta seperti yang dia pikir.”

 

 

Pria itu bangkit untuk duduk. Dia menyandarkan punggung pada sofa, kemudian menarik kepala gadis itu agar merebah ke bahunya. “Aku akan pulang ke rumah. Aku akan membujuk Appa dan Eomma….”

 

 

Yoori tertawa kecil. “Mereka sangat membenciku. Mereka bahkan ingin membunuhku. Mereka pikir aku adalah kutukan. Karena kehadiranku, dua putera mereka pergi dari rumah.”

 

 

“Maaf….”

 

 

“Kenapa kau pergi Oppa? Jika kau tak ingin mengakui bayi ini sebagai anakmu, kau hanya tinggal mengatakannya padaku, dan aku tak akan menuntutmu untuk bertanggung jawab. Jika kau tak memilih gadis itu, pasti Sehun tak harus mengakui jika bayi ini adalah anaknya, dan dia tak akan diusir dari rumah. Kau tahu? Aku selalu ingin menangis jika melihat gurat beban pada wajahnya. Dia belum pantas mengalami ini semua. Dia bahkan harus bekerja serampangan selama beberapa bulan ini untuk menghidupiku dan bayi kita. Jika saja Appa dan Eomma masih hidup, pasti mereka akan melindungiku. Tapi mereka tak ada. Dan aku tak tahu mengapa orangtua kalian berubah menjadi begitu kejam karena masalah ini. Mereka benar-benar ingin membunuhku, karena itu Sehun–“
“Cukup, hentikan! Maafkan aku…maafkan aku…”

 

 

Pria itu memeluk Yoori erat-erat. Menyesal sekali. Segalanya menjadi buruk karena dirinya. Seandainya waktu bisa kembali diputar mundur, dia pasti akan menjalani hidupnya dengan lebih baik lagi. Dia tak akan berusaha lari dari masalah seperti yang dia lakukan kemarin-kemarin. Hal buruk yang dia lakukan, tanpa dia duga memberikan efek yang begitu besar bagi kehidupan orang-orang yang dia sayangi. Segalanya mengalir bagaikan drama yang penuh dengan konflik mengenaskan. Sangat sulit untuk mengembalikan keadaan ini menjadi pulih seperti selayaknya, tapi dia pasti akan melakukan apapun untuk memperbaikinya.

 

 

“Aku memang brengsek,” geram pria itu sambil menjambaki rambutnya sendiri, merasa gusar dan juga frustasi. Tapi Yoori menggenggam lembut tangannya, membawa dirinya dalam pelukan yang begitu hangat.

 

 

“Meskipun kau brengsek, aku tetap akan mencintaimu, Seung Hwan Oppa…”

 


To Be Continued


Kuis Iseng-Iseng Berhadiah, XD.

Ada yang tau apa peran yang dimainkan sama Chanyeol dan Baekhyun dalam FF ini?

 

Siapakah mereka?

Ayo tebak! Gampang banget! Yang tebakannya bener akan dapet hadiah dari aku *ini serius* Aku akan kasih pulsa 25 ribu untuk yang tebakannya bener *pelit, biarin / cuman iseng doang* Biarpun hadiahnya kecil banget, kalian kudu ikutan ya..itung-itung ikutan iseng-iseng berhadiah lah, wkwk. Hadiah hanya untuk satu orang yang beruntung, dan kalau banyak yang jawab bener, akan aku pilih secara acak *sumpah pelit banget*

PS : Kuis iseng-iseng ini digabung dengan yang ada di FFN, wkwk.

Makasih buat yang udah nyempetin mampir ke sini dan nyempetin baca…Thankseu~

Advertisements