Langkah kecil kaki Sehun terseok akibat terlalu lelah bermain ditambah dengan panas terik membakar yang berasal dari langit. Perasaan kesal karena kalah dalam pertandingan sepak bola beberapa menit yang lalu membuat langkah gusarnya tak terkendali hingga tubuhnya oleng dan berakhir dengan lutut yang sukses mencium trotoar bertekstur kasar. Umpatan-umpatan meluncur begitu saja dari bibirnya. Sehun mencoba menggeser kakinya dengan susah payah namun gerakannya terhenti oleh sepaket jemari lentik dan mungil yang tertahan di udara, tepat di depan wajahnya. Dia mendongak, kemudian dia menemukan seraut wajah mungil seorang gadis bertubuh kecil yang terlihat tak lebih tinggi dari tubuhnya, tengah tersenyum diantara cahaya menyilaukan matahari. Rambutnya yang membiaskan kilau berwarna cokelat berterbangan ditiup angin, dan gaun selututnya juga melambai lembut.

 

 

“Pegang tanganku. Kakimu sakit kan? Aku akan membantumu berdiri.”

 

 

Sehun menatap tangan kecil itu hingga beberapa detik, menatapnya bergantian dengan wajah gadis kecil yang membantunya. Senyuman gadis kecil itu membuat otaknya terasa sejuk. Meskipun merasa ragu, tapi Sehun melemparkan senyum pada akhirnya. Dia raih jemari gadis itu dan dia membawa tubuhnya untuk berdiri.

 

 

Sedikit tertatih, Sehun melangkah menuju ke sebuah kursi panjang, dipapah oleh gadis kecil yang menolongnya. Dia dituntun untuk duduk, kemudian dia hanya diam saja meskipun dia merasa bingung oleh setiap gerakan yang dilakukan oleh gadis kecil itu. Lututnya yang berdarah terasa dingin dan sedikit perih ketika gadis itu menyekanya menggunakan sebuah tissue basah dari kemasan berwarna hijau muda.

 

 

“Untung saja tak ada kotoran di sini,” kata gadis kecil itu, mengamati luka Sehun dengan teliti untuk memastikan jika darahnya tak tersisa lagi. Sehun melirik lukanya yang sudah lumayan bersih, dan kembali menatap wajah gadis kecil yang saat ini sibuk menutup lukanya dengan sebuah plester jumbo bercorak fancy yang berwarna pink.

 

 

“Nah, sudah selesai. Akhirnya plester yang selalu diselipkan Eomma ke dalam tas harta karunku ini berfungsi juga.”

 

 

Gadis itu tersenyum lebar, lalu beranjak bangkit dari hadapan kaki Sehun dan duduk di sampingnya. Sedikit meringis, Sehun mengutuk-ngutuk warna plester yang membalut lukanya itu di dalam hati. Oh ayolah, warna pink itu kan–

 

 

“Minumlah.”

 

 

Sehun terkesiap dan tersadar dari pikirannya. Sebuah botol minum yang –oh shit! pink lagi?– berada tepat di depan wajahnya. Sehun melirik pada gadis itu dan melihat jika kedua alis si gadis kecil terangkat, mengisyaratkan padanya untuk menyambut botol berisi air itu untuk dia minum, tapi Sehun menepisnya.

 

 

“Aku tiduk haus.”

 

 

Gadis kecil tadi mengedikkan bahu tak peduli. “Kenapa kau bisa terjatuh?” tanya si gadis tanpa menoleh, terlihat sibuk dengan ‘tas berisi harta karun’ miliknya itu.

 

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” Sehun malah balik bertanya. Dia melirik ke sekitar dan melihat pepohonan di sana-sini, namun cukup terbuka hingga matahari masih bebas memancarkan sinar dan hawa panasnya di sekitar mereka. “Di sini sangat sepi dan kau itu anak perempuan.”

 

 

“Yeah, lalu?” tanya gadis kecil itu tanpa minat, menggigit sebuah roti dengan taburan keju di permukaannya yang entah berasal darimana. Oh, mungkin dari tas berisi harta karunnya yang –ish, pink juga?

 

 

“Kau bisa saja di culik dan dijual keluar negeri,” kata Sehun.

 

 

Gadis kecil itu hanya diam, menikmati makanannya tanpa memperdulikan Sehun.

 

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sehun lagi.

 

 

Gadis kecil itu melipat plastik bekas rotinya, kemudian melemparkannya begitu saja ke jalanan.

 

 

“Hei, buanglah sampah pada tempatnya!” tegur Sehun, membuat gadis kecil tadi menoleh padanya.

 

 

“Kenapa kau cerewet sekali sih?” tanya gadis kecil itu, kemudian meneguk minuman dari botol pinknya dengan santai. “Aku sedang melakukan riset.”

 

 

“Riset?” tanya Sehun, dan si gadis kecil mengangguk. “Aku mencari seekor kodok hijau yang tadi melintas beberapa meter di depanku. Dia melompat-lompat ke arah batu besar itu,” –gadis kecil itu menunjuk ke sebuah batu di seberang jalan dengan telunjuknya– “tapi waktu aku tiba di sana, kodoknya sudah menghilang.”

 

 

“Untuk apa kau memburu kodok itu?”

 

 

“Aku ingin membedahnya dan melihat detakan jantungnya secara langsung.”

 

 

Sehun berjengit jijik. “Jorok!” komentarnya, tapi si gadis kecil malah tertawa.

 

 

Sehun menggerak-gerakkan kakinya perlahan untuk mengendurkan rekatan plester yang menempel pada lututnya agar dia mudah berjalan nanti, sementara gadis kecil tadi menatapnya dari sisi kiri tanpa suara.

 

 

“Aku belum pernah melihatmu di sini sebelumnya,” kata Sehun tanpa menatap gadis itu. “Kau baru pindah ke sini ya?”

 

 

Gadis itu tertawa kecil. “Ya. Sejak dua hari yang lalu.”

 

 

“Oh.”

 

 

“Kau sudah lama tinggal di daerah ini?” gadis kecil itu balik bertanya.

 

 

“Ya. Sejak lahir aku sudah tinggal di sini,” jawab Sehun.

 

 

“Oh,” gadis kecil itu mengangguk-angguk. “Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan.”

 

 

Sehun menoleh pada gadis kecil itu. “Mengapa aku harus mengenalmu?” tanyanya.

 

 

“Memangnya kenapa? Kita mungkin bisa berteman.”

 

 

Sehun mengedikkan bahu. “Namaku Oh Sehun. Kau?”

 

 

Gadis itu tersenyum lebar. “Han Yoo Ri,” jawabnya. “Bulan ini usiaku sudah genap 13.”

 

 

Sehun menatap gadis itu lama. “Kau sudah hampir 13?” tanyanya, dan si gadis kecil mengangguk. Sehun mendesah, “sepertinya aku harus memanggilmu Noona.”

 

 

“Kenapa?”

 

 

“Aku baru 10 tahun.”

 

 

“Oh.”

 

 

“…..”

 

 

“…..”

 

 

“Sehunnie!”

 

 

Kedua bocah yang duduk di kursi panjang itu menoleh ketika mendengar suara teriakan dari seberang jalanan. Seorang remaja tinggi yang terlihat hampir menjelang dewasa terlihat berlari kecil menghampiri mereka, dan Sehun langsung berdiri ketika remaja pria itu berdiri tepat di hadapannya.

 

 

“Hyung…”

 

 

“Aish, kau kemana saja? Ibu Suri sudah sangat rewel di rumah. Ayo pulang.”

 

 

Sehun mengangguk dan berdiri dari posisi duduknya. Dia menatap si gadis kecil tadi dan tersenyum. “Noona, aku pulang dulu ya. Terima kasih untuk pertolonganmu dan juga plester pink ini,” kata Sehun dengan wajah meringisnya, sambil menunjuk lututnya sendiri. Gadis kecil itu mengangguk dan tertawa kecil.

 

 

“Terima kasih sudah membantu adikku.”

 

 

Sehun mendongak menatap kakaknya yang sekarang tengah melemparkan senyuman pada gadis kecil penolongnya. Kakaknya itu menjulurkan tangan pada gadis kecil itu, dan Sehun hanya diam menatapnya.

 

 

“Aku Oh Seung Hwan, kakak kandung bocah nakal ini.”

 

 

Senyum gadis kecil itu melebar hingga lesung pipinya yang dalam terlihat sangat jelas. Dia menyambut uluran tangan Seung Hwan dengan begitu ceria, dan berdiri dari posisi duduknya.

 

 

“Hai Seung Hwan Oppa! Namaku Han Yoo Ri. Senang mengenalmu!”

 

 


MALE DEPOSE

 

Male Depose

 

Written By tmarionli♥♥ Poster By L.E Design

HunHan | Hurt & Comfort | Romance | Mature


Tak ada yang lebih menyenangkan selain hari libur, ehm bukan, sebenarnya Luhan sengaja meliburkan dirinya sendiri, cuti. Sweater rajutan merah ber-list hijau baru saja membalut kulit tubuhnya yang masih lembab karena habis di guyur air. Bibirnya tersenyum ketika Sehun muncul dari balik pintu kamar, dan dia sambut pemuda pucat itu dengan pelukan.

 

 

“Jadi apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanya Sehun, satu cubitan lembut dia hadiahkan pada hidung Luhan.

 

 

“Tentu saja berkencan,” jawab Luhan. Kedua lengannya melingkar di sekitar leher Sehun, bergelayut manja di sana dan berakhir dengan hidung yang menempel pada lekukan leher si pemuda pucat, menghirup aroma tubuh Sehun dalam-dalam, sudah menjadi kebiasaan.

 

 

Sehun tersenyum simpul. Kedua telapak tangannya menempel pada punggung Luhan, menekannya hingga tubuh mereka saling merapat satu sama lain. Bibirnya mengarah pada pelipis Luhan, mengecupnya sekali. “Kencan seperti apa yang akan kita lakukan? Apa kau mau berjalan-jalan di sepanjang kebun bunga, kemudian kita bisa duduk di sebuah kursi panjang sambil berpegangan tangan dan menikmati langit biru sambil tersenyum satu sama lain, lalu kita akan akan saling menatap dan mengakhirinya dengan–“

 

 

“Hentikan,” Luhan berjengit dan berdecak, “gagasanmu menjijikkan sekali, Oh Sehun,” komentar Luhan. “Aku ini pria. Berkencan di sepanjang kebun bunga dan apapun yang kau katakan tadi membuatku mual. Apa kau juga berencana memetik sebuah bunga dan menyelipkannya ke telingaku?”

 

 

Sehun tertawa geli. “Kurasa kau akan terlihat cantik jika aku menyelipkan bunga di telingamu,” jawab Sehun, mengedikkan bahu sekali, kemudian dia menghadiahkan satu cubitan pada pipi Luhan ketika pemuda cantik itu menatap jijik padanya. “Baiklah, maafkan aku. Lagipula aku tak mungkin melakukan hal konyol seperti itu.”

 

 

Luhan mendengus dan melepaskan leher Sehun, mengarahkan tubuhnya pada cermin dan terdiam hingga beberapa lama. “Sehun, adakah yang aneh pada diriku?” tanyanya, membuat alis Sehun bertautan ketika mendengarnya. “Aku akan membeberkan satu rahasia. Ini sangat memalukan, tapi kurasa mengatakannya padamu tak akan menjadi masalah.”

 

 

Sehun mengangkat kedua alisnya, “dan apa rahasia itu?” tanyanya penasaran.

 

 

Luhan membuang nafas. “Aku sama sekali belum pernah berkencan dengan siapapun. Kau adalah yang pertama untukku. Aku tak tahu apapun tentang kencan. Karena itu, jika aku mengacaukan kencan ini nanti, kuharap kau akan maklum.”

 

 

Ucapan Luhan membuat Sehun terdiam. Entah mengapa pengakuan Luhan membuatnya agak merasa sedikit…berdebar? Perasaannya menjadi aneh, dan –ah, Sehun tak berani memikirkannya. Mengambil beberapa langkah kecil, Sehun mendekat, menyelipkan lengannya di antara pinggang Luhan, memeluk perut pemuda itu dari belakang.

 

 

“Mengapa kau tak berkencan? Aku tak percaya pada ucapanmu, kau tahu?” bisik Sehun disekitar sisian leher Luhan, yang cukup membuat Luhan merinding karenanya.

 

 

“Aku serius. Aku tak pernah mengencani siapapun. Kau benar-benar adalah yang pertama.”

 

 

Perut Sehun mendadak terasa geli. Salah satu bagian di tubuhnya –otaknya mungkin– terasa begitu sejuk ketika dia mengetahui kenyataan yang satu ini. Dia adalah orang pertama yang berhasil menyentuh Luhan dengan begitu intim, dan dia adalah orang pertama yang pernah mencium Luhan. Rasanya itu seperti…

 

 

‘Ugh, tolong jangan berpikir terlalu jauh, Oh Sehun! Kau itu tak memiliki arti apa-apa untuknya’ –suara otak Sehun mengingatkan.

 

 

“Hari ini kau tak akan pergi kemana-mana kan, Sehun?” Suara Luhan memecahkan pikiran Sehun.

 

 

Dengan senyuman terbaik yang dia miliki, Sehun mengangguk. “Tentu saja. Aku akan menemani kemanapun kau ingin pergi,” katanya sambil mengeratkan pelukannya pada perut Luhan.

 

 

Ya, tentu saja dia tak akan kemanapun selain menemani Luhan hari ini. Luhan adalah pria dewasa yang sangat sibuk. Waktu cuti yang hanya satu hari ini telah dia rencanakan sejak beberapa hari yang lalu. Sehun pikir Luhan telah terlalu capek bekerja dan ingin mengambil waktu untuk beristirahat, tapi ternyata pria itu malah merencanakan kencan pria dan pria yang memang belum pernah mereka lakukan. Dan disinilah mereka, mengobrol mengenai rencana kencan gay yang sepertinya akan lumayan membuat pusing.

 

 

“Menonton pacuan kuda ke Seoul Race Park sepertinya seru,” usul Luhan, tangannya telah mendarat di atas tangan Sehun yang memeluk perutnya, mengelusnya dengan lembut.

 

 

“Tidak,” kata Sehun sambil berjengit. “Kau pasti akan tergoda untuk mengikuti judi di tempat itu. Aku tak mau mengotori acara kencan kita dengan hal-hal seperti itu,” tolak Sehun.

 

 

“Lalu apa? Kau lebih suka kalau kita berjalan-jalan di kebun bunga dan menyelipkan setangkai bunga ke telingaku?” protes Luhan. “Kalau itu, aku yang tidak mau!”

 

 

Sehun tertawa kecil, kemudian dia hanya diam, berpikir sambil menatap bayangan mereka melalui cermin. “Bagaimana kalau kita pergi ke Jamsil dan menonton pertandingan baseball?” usulnya.

 

 

Luhan memutar bola mata dengan bosan. “Aku akan pergi kesana jika kau berani menciumku di depan umum. Mungkin rekaman kita yang sedang berciuman akan ditampilkan di megatron Jamsil Stadium ketika Kiss Time dimulai,” katanya dengan gigi yang saling merapat, kesal. “Apa kau tak punya ide yang lebih bagus lagi? Ck!”

 

 

Sehun membuang nafas dan ikut memutar bola matanya. Dagunya kembali terjatuh di bahu Luhan. Otaknya berputar, mencari tempat kencan apa yang paling cocok untuk sesama lelaki seperti mereka. Tapi sepertinya tak ada tempat kencan yang menarik.

 

 

“Aku lapar,” kata Luhan. Dan entah karena refleks atau apa, tanpa Sehun sadari dia telah mengelus perut Luhan pelan-pelan, seolah tak tega melihat bagian apapun dari tubuh Luhan, merasa kesakitan. “Kita makan saja dulu, lalu kita pikirkan lagi akan kemana setelahnya,”lanjut Luhan, menoleh untuk menatap pria itu, namun langsung terkesiap saat hidung mereka bersentuhan. Dengan sedikit gugup, Luhan melepaskan pelukan Sehun dan berbalik hingga mereka berdiri berhadapan. Tatapan matanya mengarah kemana-mana, salah tingkah sendiri.

 

 

Sehun hanya diam hingga beberapa detik, tapi setelah melihat pipi Luhan yang merona, secara perlahan senyumnya melebar. “Apa kau menyukai hewan?” tanyanya pada Luhan. Kerutan di kening pria yang dia tatap membuatnya gemas. Entah mengapa Luhan terlihat begitu lucu sekarang. Sweater merahnya yang tampak cerah membuat Luhan terlihat seperti anak-anak. Belum lagi rambut karamelnya dia biarkan jatuh sekarang, tidak ditata rapi seperti ketika dia akan pergi bekerja. Poninya menjuntai menutupi dahinya. Wajah Luhan jadi terlihat menggemaskan dalam pandangan Sehun.

 

 

“Tergantung hewannya,” jawab Luhan. Tangannya yang sejak tadi –berlagak–sibuk merapikan sweater rajutannya terhenti saat satu pikiran melintas di kepalanya. Dia menatap Sehun dengan kedua alis yang terangkat, “kau…tidak berencana mengajakku ke Kebun Binatang kan, Sehun?” tanyanya curiga, lalu meringis ketika dia memikirkan jika mereka berdua akan menghabiskan hari yang sangat berharga ini untuk pergi ke tempat bau itu. Ah, Luhan jadi mual sendiri saat membayangkannya.

 

 

“Tentu saja tidak,” kata Sehun diiringi tawa yang pecah. “Ayo kita pergi makan, dan kau bisa bermain dengan hewan yang lucu-lucu di tempat makan ini.”

 

 

“T–tunggu Sehun! Kita mau kemana?” tanya Luhan setengah memekik, tersandung kecil ketika Sehun menariknya. “Aku tak menyukai semua jenis hewan, aku hanya suka pada–“

 

 

“Bagaimana kalau anjing?” tanya Sehun, langkahnya berhenti tiba-tiba dan dia menatap Luhan dalam-dalam. “Kau suka anjing kan, Luhan?”

 

 

Luhan terdiam. Untuk sekejap saja, senyumnya telah mengembang. “Apa anjingnya lucu-lucu?” tanyanya bersemangat.

 

 

Sehun tersenyum simpul. Satu usapan lembut dia arahkan ke kepala Luhan, membuat pipi Luhan memanas karenanya.

 

 

“Ya, anjing-anjingnya sangat lucu, kau pasti menyukainya.”

 

 

Tak butuh waktu lama untuk Luhan menganggukkan kepala. Dia merasakan jari-jari tangan Sehun mengunci erat jemarinya hingga udara dingin tak begitu terasa lagi. Enam langkah pertama untuk mereka berjalan beriringan, namun setelahnya tangan Sehun melepaskan jarinya, berpindah ke pinggangnya dan mereka melangkah bersama seperti itu, saling memeluk pinggang satu sama lain.

 

 

*****

Sehun tak tahu jika Luhan bisa terlihat kekanakan seperti ini. Pandangannya tak bisa beralih lagi sejak setengah jam yang lalu. Dia hanya duduk diam, menikmati tehnya sambil melihat Luhan yang sejak tadi sibuk bermain dengan anjing-anjing lucu yang berkeliaran di dalam Bau House Café ini. Sesekali Sehun tertawa jika melihat Luhan bicara pada anjing-anjing itu.

 

 

‘Lucu sekali’ –pikirnya.

 

 

Getaran ponsel yang terselip di sakunya membuat perhatian Sehun teralihkan. Sedikit kesal karena merasa agak terganggu, Sehun mengeluarkan ponselnya sendiri dari dalam saku jaketnya sambil mengumpat tanpa suara. Tapi nama Han Yoo Ri pada layar ponsel itu membuatnya tertegun. Sehun terdiam hingga beberapa lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu.

 

 

“Halo…Yoori Noona, ada apa?”

 

 

‘Sehun, bisakah kau pulang?’

 

 

Sehun melirik ke arah Luhan. Pria cantik itu menggendong satu anjing berukuran sedang sambil mengelusi bulunya. Luhan menatapnya dari kejauhan sambil tersenyum, membuat Sehun tak bisa menahan diri untuk tak membalasnya juga dengan senyuman.

 

 

“Ada apa Noona? Apa ada masalah?” tanya Sehun tanpa mengalihkan tatapannya dari Luhan.

 

 

‘Sesuatu hal yang penting ingin kukatakan padamu, Sehun…bisakah kau pulang sekarang?’

 

 

Sehun terdiam hingga beberapa detik. “Apa sangat penting?” tanyanya, kali ini tak lagi menatap Luhan.

 

 

‘Ya…penting sekali Sehun…bisakah kau datang?’

 

 

Sehun mengerutkan keningnya. Sekali lagi, dia menatap Luhan. Pria itu sedang berjongkok sambil memberikan snack pada beberapa anjing yang mengerumuninya. Wajah Luhan yang tampak sangat senang membuat kerutan di kening Sehun menjadi semakin dalam, berpikir.

 

 

‘Sehunnie? Kau akan datang kan?’

 

 

Suara Yoori di seberang sana memecahkan pikiran Sehun. Dia masih tetap diam hingga beberapa detik, lalu–

 

 

“Maaf Noona…sepertinya aku tak bisa menemuimu sekarang. Aku telah berjanji pada seseorang yang sangat penting untuk menemani kemanapun dia pergi hari ini. Jadi –ehm, maaf, aku tidak bisa…Aku tak ingin membuatnya kecewa…”

 

 

Tak terdengar suara apapun dari seberang sana. Sehun menunggu hingga beberapa detik yang panjang, namun Yoori tetap tak bersuara.

 

 

“Aku akan menutup teleponnya,” kata Sehun. Sedikit perasaan tak enak menyelimutinya, namun Sehun tak ingin mengubah keputusannya. Dia telah berjanji untuk menyenangkan Luhan hari ini. Membayangkan raut kecewa Luhan membuatnya tak mampu berpikir lebih jauh lagi. Tidak. Dia tak ingin melihat wajah Luhan yang seperti itu. “Aku akan menemuimu besok. Jaga dirimu Noona…” kata Sehun, dan pada akhirnya dia benar-benar memutus sambungan teleponnya meskipun Yoori belum menjawab dari seberang sana, lalu dia kembali menyimpan ponsel itu ke dalam sakunya lagi.

 

 

Setelah mengambil beberapa tarikan nafas, Sehun bangkit dari kursinya. Dengan langkah lambat, dia hampiri Luhan. Pemuda itu masih mengoceh tak menentu pada anjing-anjing dengan bermacam ukuran di depannya, sambil menyodorkan snack ke mulut anjing-anjing itu sesekali.

 

 

“Kalian harus banyak-banyak makan, oke? Ayo makan, aku akan menyuapi kalian dengan senang hati. Ya Tuhan, kalian ini lucu-lucu sekali…”

 

 

Sehun tertawa kecil saat mendengar ocehan Luhan. Dia berjongkok di samping pemuda itu, mengelus kepala Luhan satu kali dan tersenyum. “Kau juga harus makan, Luhan. Bukankah tadi kau bilang kalau kau lapar?”

 

 

Luhan meringis. “Ah, ya. Maaf…anjing-anjing lucu ini membuatku lupa pada segalanya.”

 

 

Sehun menyipitkan mata, lalu dengan sedikit memaksa dia menarik lengan Luhan, membuat Luhan mau tak mau ikut berdiri. Mereka melangkah bersama ke meja yang telah terisi penuh oleh makanan pesanan Sehun. Luhan menarik salah satu piring yang berisi mie di dalamnya, namun ketika seekor anjing berbulu cokelat menghampiri dan duduk di bawah kakinya, perhatiannya jadi teralihkan pada anjing itu.

 

 

“Hai! Baru kutinggal sebentar saja, kau sudah merindukanku…” kata Luhan sambil mengelus kepala anjing itu.

 

 

Sehun menatap ‘mereka’ tanpa suara, hanya terdiam dengan tatapan bodoh ketika dia melihat Luhan tertawa-tawa saat anjing itu mulai bertingkah jahil dengan menggigiti sepatu Luhan, yang entah mengapa membuat pemuda cantik itu tertawa geli karenanya. Baru kali ini Sehun melihat Luhan tertawa seperti itu. Wajah Luhan membuatnya terpana. Dan entah mengapa jantungnya menjadi tak karuan saat melihatnya.

 

 

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Luhan tiba-tiba, membuat Sehun terkesiap dari keterpanaannya yang aneh.

 

 

Sehun berdehem, salah tingkah. Sebelah tangannya menyusuri tengkuknya sendiri, lalu dia menunjuk pada mie yang terletak di hadapan Luhan. “Makanlah…jangan bermain terus…” katanya, sengaja mengalihkan tatapannya pada cairan teh di dalam gelas yang dia pegang.

 

‘Ugh…jantungku…’ –keluh Sehun di dalam hati. Dia menekan dadanya sendiri yang entah mengapa untuk kesekian kalinya, selalu berdebar aneh. ‘Apa ini?’ –tanyanya dalam pikiran.

 

 

“Sehun…kau baik-baik saja?”

 

 

Sentuhan pada pipinya membuat Sehun terkesiap. Tatapannya teralihkan pada iris cokelat milik Luhan, melihat bayangan dirinya sendiri yang terperangkap di dalamnya. Dan sekeras apapun dia berpikir sekaligus mencari tahu tentang alasan mengapa dia begitu menyukai wajah Luhan akhir-akhir ini, hasilnya akan selalu sama. Dia tetap tak tahu jawabannya.

 

 

*****

Luhan terkekeh ketika melihat ringisan di wajah Sehun. Sudah malam, hampir jam sembilan. Setelah seharian bermain di Bau House, Sehun mengajak Luhan berkeliling ke tempat-tempat sederhana yang tak pernah Luhan kunjungi sebelumnya. Udara telah begitu dingin. Gigi Luhan bahkan sudah bergemeletuk sejak sore tadi, tapi dia bersikeras menolak untuk pulang meskipun Sehun telah membujuknya berkali-kali. Pria cantik itu malah memaksa Sehun mengunjungi tempat yang ‘menurutnya’ bisa membuat tubuh mereka berdua menjadi panas, dan disinilah mereka sekarang, di dalam sebuah diskotik yang penuh dengan manusia-manusia berpakaian mini.

“Jangan minum lagi.”

Sehun menarik gelas berisi alkohol berkadar tinggi yang berada di dalam genggaman Luhan, namun pria itu menahannya dan malah menghabiskannya dalam sekali tegukan. Membuang nafas berat adalah satu-satunya hal yang dilakukan oleh Sehun ketika dia melihat Luhan memijit pelipisnya sendiri. Sepertinya Luhan mulai mabuk.

“Ayo pulang Lu…”

“Sebentar lagi, Sehun.”

“Kau sudah mabuk. Ayo pulang…” bujuk Sehun lagi, dan kali ini memaksa Luhan untuk berdiri. Dengan susah payah Sehun menyeret Luhan keluar dari tempat berisik itu, mencengkram pinggang Luhan lebih erat sampai akhirnya mereka berhasil mencapai mobil Luhan.

.

.

.

Sehun tertegun dalam ketika melihat wajah damai pemuda yang tertidur di sampingnya. Kepala Luhan terkulai jatuh ke kaca jendela mobil, membuat Sehun menjadi tak tega melihatnya. Dengan hati-hati dia selipkan telapak tangannya ke tengkuk pemuda itu, membiarkan kepala Luhan terjatuh ke bahunya. Nafas hangat yang keluar dari hidung Luhan menggelitik kulitnya, membuat kening pemuda pucat itu berkerut dalam. Lagi-lagi jantungnya berdebam aneh, dan Sehun tak mengerti mengapa dia selalu seperti itu akhir-akhir ini.

“Luhan…”

Sehun menepuk pipi Luhan pelan-pelan, berusaha membangunkan pria yang sudah tertidur itu, tapi Luhan hanya menggumam satu kali. Kepala pemuda itu menggusak leher Sehun, hingga aroma rambutnya yang harum terhirup oleh hidung Sehun.

“Lu, ayo bangun…kita sudah sampai. Kau akan tidur dengan lebih nyaman di ranjangmu sendiri…” bisik Sehun, kembali menepuk lembut pipi pemuda itu, tapi Luhan lagi-lagi menggusakkan kepala di sekitar dadanya, mencari posisi nyaman yang akan membuatnya tidur lebih lelap. Tepukan Sehun berubah menjadi belaian lembut secara perlahan. Kekehan kecil terlepas dari bibirnya, dan Sehun tak melakukan apapun lagi selain hanya terus menerus, lagi dan lagi untuk memberikan sentuhan sayang yang akan membuat Luhan merasa nyaman.

“Baiklah, apa boleh buat. Tidurlah sepuasmu, dan biarkan Oh Sehun yang malang ini bersusah payah menggendongmu sampai ke kamar,” kata Sehun setengah berbisik, lalu terkekeh kecil setelah mengatakannya. Kepalanya mendongak dan menatap gedung Apartemen yang menjulang di depan sana. Ah, memikirkan tentang menggendong Luhan sampai ke atas membuat Sehun meringis lelah bahkan ketika dia hanya membayangkannya saja.

“Lantai 22. Ya, bagus sekali Luhan,” keluhnya. “Apa boleh buat. Fighting Sehun!” katanya, menyemangati dirinya sendiri.

*****

 

Ini sudah menjelang akhir Oktober, udara musim gugur semakin menggila. Dinginnya semakin menjadi-jadi. Dengan mata terpejam, Luhan menggeser tubuhnya semakin dekat, meringkuk semakin rapat di dalam pelukan Sehun. Wajahnya dia tenggelamkan di lekukan leher Sehun, hingga aroma maskulin dari pria pucat itu menusuk hidungnya semakin dalam, membuai syarafnya dan membujuknya untuk kembali memasuki alam mimpi. Tapi sayangnya dia benar-benar sudah terbangun meskipun matanya masih terpejam rapat.

Dalam kesadaran penuh –meskipun memejamkan mata–, dia merasakan jemari Sehun membelai lembut bagian belakang kepalanya. Selimut tebal yang tadinya sudah turun sampai ke pinggang, perlahan naik dan menutupi seluruh tubuhnya hingga batas leher. Senyumnya tak bisa tak mengembang ketika Sehun memeluk tubuhnya semakin erat. Jantungnya terasa sesak akibat terlalu kencang berdetak di dalam sana. Sentuhan jemari Sehun turun dari kepalanya, lalu dia merasakan punggungnya yang tertutup selimut dibelai lembut oleh pria itu. Beberapa usapan membuatnya semakin lama semakin tak mampu menahan geli-geli yang menggelitik perutnya, dan –oh shit, dia ereksi sekarang.

“Nghhh…Sehun, hentikan.”

Sehun merenggangkan pelukannya, menatap jam di atas nakas yang telah menunjukkan angka 12 lewat tengah malam. Dia memang belum tertidur sejak tadi. Sesuatu menahannya untuk tidur, dan lagi-lagi alasannya adalah wajah pemuda yang dia peluk. Entah mengapa dia begitu menikmati wajah tertidur Luhan sejak tadi, sampai-sampai dia tak sadar jika malam telah begitu larut. Sehun mengalihkan tatapannya dari jam itu, merunduk, dan menatap ke bawah dengan kening yang berkerut. “Kau sudah bangun?” tanyanya.

“Mm…” Luhan hanya menjawabnya dengan gumaman. Dia menjauhkan kepalanya dari leher Sehun dan membuka matanya dengan perlahan hingga tatapan mereka bertemu. Wajah Sehun yang tampak bingung membuat Luhan tertawa kecil. “Jangan begitu…” katanya, yang membuat kening Sehun berkerut semakin dalam.

“Apanya?” tanya Sehun.

“Jangan mengelusku sembarangan seperti itu.”

Kerutan di kening Sehun menghilang, berubah menjadi raut tak enak, merasa bersalah, dan entah apa lagi. “Oh, maaf karena telah sembarangan menyentuhmu–“ katanya, kemudian menarik tangan dan juga menarik dirinya untuk memberikan jarak dengan Luhan, “–aku benar-benar tak bermaksud mengganggu tidurmu dan menyentuh tubuhmu secara sembarangan seperti itu,” lanjutnya sambil beringsut menjauh, tapi Luhan menahannya dengan cepat dan kembali memeluknya.

“Bukan begitu maksudku, kau –astaga Sehun, jangan salah paham. Hanya saja–“ Luhan menyembunyikan wajahnya di dada Sehun, “–sentuhanmu membuatku ereksi,”akunya malu, dan Sehun meringis tanpa setahu Luhan. Wajah Sehun terasa panas, merasa malu juga, entah mengapa.

“…..”

“…..”

“Dingin…” rengek Luhan, mencoba menarik perhatian Sehun. Pria itu memang tak memeluknya lagi sekarang, dan hingga beberapa detik Luhan menunggu, Sehun tak kunjung memeluknya juga. Luhan menarik kepalanya dan menatap Sehun dengan wajah cemberutnya. “Sehun…aku kedinginan…” Luhan merengek lagi.

Sehun menatap Luhan dan tetap diam. Memang dingin. Meskipun ragu, Sehun bergerak, mengulurkan tangannya lagi ke punggung Luhan dan menarik tubuh pemuda itu, memeluknya kembali. Rambut Luhan menggelitik bagian bawah dagunya, terasa lembut dan juga harum. Helaan nafas Luhan yang hangat menerpa-nerpa kulitnya meskipun tak terlalu terasa karena terhalang oleh kaus hitam berlengan panjang yang dia pakai.

Beberapa detik terasa amat menyiksa bagi Sehun, karena pengakuan Luhan tadi membuatnya menjadi kikuk dan tak tahu harus bagaimana, bingung untuk menentukan hal apa yang sebaiknya dia lakukan. Sehun jadi bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang dipikirkan oleh Luhan sekarang. Apakah Luhan masih –ehm menegang di bawah sana? Ugh, Sehun jadi penasaran. Satu detik, dua detik, dan beberapa detik selanjutnya mereka tetap diam. Dan Sehun masih saja tetap bertanya-tanya dalam hati tentang ‘hal itu’. Kepalanya jadi pusing secara mendadak hanya karena memikirkannya. Sementara itu, Luhan tak lagi bergerak di dalam pelukannya. Sudah tertidur lagikah?

Meskipun awalnya ragu, tapi Sehun memberanikan diri untuk mengelus kepala Luhan ‘kembali’. Beberapa usapan, dan gerakan tangannya kembali menjalar ke bawah, menyusuri tengkuk Luhan dan punggung pria itu, memberikan kasih sayangnya, ‘seperti biasanya’. Tanpa Sehun tahu, Luhan telah menahan nafasnya sejak tadi. Tubuh mungil itu menggigil, merinding karena seluruh tubuhnya terasa geli oleh sentuhan jemari Sehun, dan udara dingin membuat intensitasnya semakin lama menjadi semakin bertambah. Luhan mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan diri, namun belaian tangan Sehun membuatnya gila.

“Nghh…”

Erangan Luhan membuat Sehun terkesiap dan menyadari situasinya, karena itu dia menarik tangannya untuk tidak menyentuh Luhan lagi. Dia baru saja berencana menjauh, namun terlambat. Tiba-tiba saja Luhan bergerak, mendorong bahunya hingga tubuhnya telentang dan pemuda mungil itu naik ke atas tubuhnya, hingga Sehun dapat merasakannya dengan sangat jelas. Ya, Luhan sedang ereksi. Dan parah. Dia dapat merasakan betapa kerasnya ‘benda itu’ hingga perutnya terasa seperti ditusuk oleh sesuatu.

“Sudah kubilang jangan menyentuhku Oh Sehun,” desis Luhan. “Jangan salahkan aku jika aku tak bisa menahan diriku lagi. Ini. Semua. Salahmu.”

Luhan berbicara sambil merapatkan giginya, agak merasa geram karena gagal mengendalikan gairah seksualnya sendiri. Salahkan Sehun yang tak mau mendengarkan ucapannya. Ya, memang Sehun yang salah. Dirinya tak pernah salah. Dia akan selalu menjadi yang pertama mengendalikan keadaan, bukan Sehun. Dengan memikirkan hal itu, Luhan menyeringai puas. Dia akan selalu menjadi pihak yang paling benar. Dia akan selalu menang, bagus bukan?

Sehun tak mengatakan apapun. Wajahnya terlihat agak panik, namun bibirnya tetap terkatup rapat. Kedua pergelangan tangan Luhan dicengkramnya kuat-kuat, membuat seringaian Luhan semakin melebar karenanya. “Kenapa? Kau takut aku memperkosamu?”

Sehun menelan ludahnya dengan susah payah, “k–kau sudah berjanji jika tak akan ada seks dalam hubungan ini,” katanya mengingatkan.

Luhan mendengus. “Kau menolakku?” katanya dengan nada yang kentara sekali jika tengah tersinggung.

“Bukan begitu Luhan, hanya saja–“

“Kau menolakku! Tak usah berusaha menjelaskan apapun,” kata Luhan sedikit membentak. “Aku masih ingat dengan perjanjian itu,” Luhan membuang wajahnya ke samping, “jadi tak usah cemas. Aku –ingat.”

Luhan mulai bergerak, bermaksud menyingkir dari tubuh Sehun, namun cengkraman tangan Sehun menahan gerakannya. “Bisa kau lepaskan tanganku?” tanyanya ketus, tapi Sehun hanya diam. Luhan menunggu hingga beberapa detik, namun Sehun masih memegangi kedua pergelangan tangannya seolah takut jika dirinya akan berbuat macam-macam jika dia dilepaskan.

Luhan mendesis geram. “Lepaskan tanganku, Oh Sehun! Aku tak akan melakukan apapun padamu, jadi cepat lepaskan tanganku, atau–“

Jantung Luhan berdenyut sampai terasa nyeri. Gerakan Sehun terlalu cepat. Luhan bahkan tak mengerti bagaimana bisa tubuhnya tiba-tiba saja telah terhimpit oleh tubuh pria pucat itu. Mata sipit itu menatapnya lembut, namun nafas pemuda pucat itu terengah-engah.

“Maaf…”

Luhan tertegun. Maaf? Mengapa Sehun meminta maaf padanya?

“Maafkan aku…aku tak bermaksud membuatmu marah…”

Oh, begitu.

Luhan membuang nafasnya, kemudian memalingkan wajah, tak ingin menatap Sehun. Bukan karena marah, tapi wajah Sehun membuatnya gila, hanya itu.

“Aku tidak marah. Tak apa…Lagipula, aku memang telah berjanji untuk tak menyentuhmu terlalu jauh.” Luhan menarik nafas satu kali, dan menggigit bibir.

“Kau membentakku, kau marah,” kata Sehun, merasa bersalah. “Maafkan aku, Luhan…”

Luhan memejamkan matanya, berusaha bersabar. “Aku tak marah, jadi cepat menyingkir dari tubuhku.”

Sehun meringis. Perasaan bersalah itu semakin lebar, menghantuinya. Dia tak bermaksud menolak Luhan, sungguh. Hanya saja, ada ‘sesuatu’ yang membuatnya merasa khawatir. Dan soal perjanjian itu, sejak awal memang –baiklah, lupakan dulu tentang perjanjian itu. Yang terpenting saat ini adalah meminta maaf pada Luhan, karena entah mengapa, Sehun tak ingin Luhan marah padanya. Dia tak ingin pemuda itu merasa kecewa, atau apapun lagi yang sejenis dengan perasaan itu. Dia telah berjanji untuk menyenangkan Luhan hari ini, dan besok, dan besok-besoknya lagi. Tapi sepertinya dia telah mengacaukan semuanya.

“Jangan marah…”

Luhan mendesah lelah. Kali ini dia menatap Sehun secara langsung dan memaksakan senyumannya. “Aku tak marah sayang…jadi bisakah kau menyingkir?” katanya lembut. Dia mengangkat tangan kanannya, lalu dia belai rahang Sehun, meraba lembut di sekitar pipi dan berakhir di bibir tipis Sehun, bagian tubuh yang paling dia sukai. “Aku butuh pergi ke kamar mandi. Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. Kau mengerti kan?” katanya, sengaja menunjukkan raut wajah tersiksanya pada Sehun.

Sehun tak bergeming, hanya diam membatu sambil menatap wajah Luhan yang sekarang tengah menggigiti bibirnya sendiri karena ‘sesuatu yang dibawah sana’ sepertinya telah begitu sesak dan menyakitkan. Sehun tak tahu apa yang dia pikirkan. Yang dia tahu, wajah Luhan terlihat begitu cantik, pipinya merona, dan tetesan peluh di sekitar kening serta pelipisnya terlihat begitu menggoda.

‘Ugh, lagi-lagi. Sebenarnya perasaan apa ini?’ –pikir Sehun, mulai frustasi.

“Ugh, Sehun…menyingkirlah, cepat…” Luhan memohon. Bintik keringat muncul semakin banyak di keningnya, meskipun udara sebenarnya sangat dingin.

Sehun menyerah dan tak mau memikirkan apapun lagi selain hanya mengikuti keinginannya untuk menyenangkan Luhan, tak ingin membuat pemuda itu kecewa. Lagipula entah mengapa tubuhnya terasa amat gerah sekarang. Darahnya bergejolak, mengalirkan rasa panas membakar yang berkumpul di sekitar pusarnya, lalu rasa panasnya menjalar ke bawah. Entah mengapa dia juga mengalami ereksi hanya dengan melihat paras cantik pemuda yang dia tindih. Dengan penuh kesadaran, dia tahan bahu Luhan, kemudian dia memberikan satu kecupan sayang pada kening pria cantik yang masih terjebak di bawah himpitan tubuhnya itu.

“Aku–“ Sehun menelan ludah, “–akan melakukan apapun untukmu.“

Luhan terdiam. Dia tak mengatakan apapun, hanya menatap Sehun dalam-dalam. “Aku tak akan memaksamu Oh Sehun. Jadi menyingkirlah sebelum aku berubah pikiran.”

Sehun menarik sudut bibirnya dengan ragu-ragu, kemudian dia menggeleng. “Aku akan melakukan apapun untukmu, bukan karena terpaksa. Aku –tak suka membuatmu kecewa…”

Luhan terdiam, membeku. Wajah Sehun yang semakin lama semakin dekat membuat jantungnya berpacu kencang. “Apa yang kau inginkan?” bisik Sehun di depan bibir Luhan. Luhan tak menjawab. Tak ada yang bisa dia lakukan lagi selain hanya memejamkan mata ketika bibir Sehun menyentuh bibirnya, menempel lembut, dan semakin lama menekan semakin dalam. Dia bawa tangannya bergerak dan dia peluk leher Sehun erat-erat, membelai tengkuk pemuda itu hingga dia dapat merasakan tubuh Sehun bergetar di atas tubuhnya.

Sementara Sehun, secara diam-diam telah menyentuh dadanya sendiri, menekannya agak kuat untuk mengurangi rasa sesak yang menyerang jantungnya. Keningnya berkerut dalam ketika dia merasakan lagi debar-debar aneh itu. Getaran asing yang terasa amat menyiksa dan membuat otaknya menjadi tumpul. Dia baru menyadari jika dadanya terasa begitu nyeri –bukan nyeri yang menyakitkan, namun sebaliknya, menggelitik dan juga menyenangkan– jika dia berinteraksi seintim ini dengan Luhan. Udara yang teramat dingin menekan syarafnya hingga dia tak mampu berpikir lebih logis lagi. Dia tak mampu memikirkan apapun. Dia hanya tahu jika saat ini Luhan terlihat begitu menggairahkan meskipun dia yakin jika dirinya masih pria normal.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Sehun dengan nafas yang telah memberat. Bibirnya bergerak lembut mengecupi dagu Luhan, menyusuri leher, dan dia biarkan Luhan meremas-remas rambutnya hingga berantakan. “Aku belum pernah melakukan sampai sejauh ini dengan siapapun, terutama dengan sesama pria.”

“Katakan,” Luhan mendesah halus, “apa yang ingin kau tawarkan padaku Oh Seh–ugh…ya Tuhan…” Luhan menggigit bibirnya kuat-kuat dan meremas rambut Sehun lebih kencang. Lidah Sehun membelai kulit leher hingga naik ke dagunya, menghantarkan lebih dan lebih banyak lagi hawa panas ke tubuhnya. Bibirnya kembali dilumat lembut oleh Sehun dan Luhan tak bisa memikirkan apapun lagi karena otaknya tertutup sempurna oleh kabut nafsu.

Mata mereka kembali saling terkunci satu sama lain ketika Sehun melepaskan ciumannya. Dengan nafas yang terengah, Luhan tersenyum. Jemarinya mengelus tengkuk Sehun, dan untuk beberapa detik dia menahan kepalanya di udara, hanya untuk mengecupi wajah Sehun hingga berkali-kali, dan dia mengakhirinya dengan menarik kepala Sehun hingga wajah pemuda itu tersembunyi di lehernya.

“Bisakah kita melakukannya?” bisik Luhan dengan nafas yang telah terputus-putus. Bibir Sehun yang mengecupi sisi lehernya membuat Luhan berjengit, dan pemuda pucat itu melanjutkan dengan mengendusi telinganya dan menjilat beberapa kali, memainkan anting yang dia pakai dengan lidah.

“Apa yang kau inginkan?” bisik Sehun. Suaranya serak, dan agak bergetar. “Aku harus melakukan apa untukmu, hmm?”

Luhan menelan ludahnya dengan susah payah, lalu dia tarik wajah Sehun hingga mereka kembali bertatapan. “Seks–” bisik Luhan tepat di depan bibir Sehun, “–bisakah kita melakukannya?” katanya, meraih bibir tipis itu untuk dia lumat hingga beberapa detik.

“Hhhh…” Desahan basah terlepas dari bibir Sehun saat jemari Luhan menyentuh kulit perutnya. Satu sesapan lembut yang diberikan Luhan pada kulit lehernya membuat darah Sehun semakin bergejolak panas, penuh gairah.

“Ayo bercinta sayang…” bisik Luhan ditelinga Sehun. “Aku –akan membiarkan kau memasukiku dengan senang hati.”

*****

Bibir tipis itu sedikit terbuka dengan gigi-gigi yang menggigiti kuku jari sejak tadi. Mata bulatnya menyiratkan pancaran ketakutan, mengarah lurus pada sesosok tubuh pria yang menggunakan jaket lusuh berwarna abu-abu, celana jeans belel serta cap hitam-biru beberapa meter di depan pintu rumah. Dengan getaran pada jemari tangan, dia meraih ponselnya sendiri, mendial nomor ponsel seseorang.

 

 

“Sehun, bisakah kau pulang?” tanyanya setelah panggilannya dijawab oleh seseorang yang berada di seberang sana.

 

 

‘Ada apa Noona? Apa ada masalah?’

 

 

Keringat dingin jatuh ke pilipis, dan dengan gemetar, Yoori menyekanya. “Sesuatu hal yang penting ingin kukatakan padamu, Sehun…bisakah kau pulang sekarang?” tanyanya. Jantungnya semakin tak karuan ketika sosok asing itu mendekat ke pintu rumah, dan Yoori semakin gemetaran seiring detik yang terus bergulir.

 

 

‘Apa sangat penting?’ tanya Sehun dari seberang.

 

Yoori membelalak. Pria itu telah berdiri tepat di depan pintu, dan tak ada siapapun saat ini. Hanya dirinya sendiri, sendirian. “Ya…penting sekali Sehun…bisakah kau datang?”

 

 

Pria itu mengetuk pintu, dan Yoori beringsut mundur dari depan pintu. “Sehunnie? Kau akan datang kan?” tanyanya panik. Beberapa detik yang hening membuat Yoori semakin ketakutan. Dia yakin Sehun pasti akan datang. Pria itu pasti akan pulang sebentar lagi, tapi–

 

 

 

“Maaf Noona…sepertinya tidak aku tak bisa menemuimu sekarang. Aku telah berjanji pada seseorang yang sangat penting untuk menemani kemanapun dia pergi hari ini. Jadi –ehm, maaf, aku bisa…Aku tak ingin membuatnya kecewa…”

 

 

Yoori tak lagi menjawab. Pria asing itu menggedor pintu dengan brutal, membuat getaran di tubuhnya semakin menjadi-jadi. Ponsel masih menempel di telinganya, dan dia masih dapat mendengar suara Sehun yang tengah mengatakan akan memutus sambungan telepon. Lalu sekejap kemudian suara Sehun lenyap, digantikan oleh bunyi panjang yang menandakan jika sambungan ponsel mereka benar-benar telah terputus.

 

 

Pintu menjeblak terbuka. Pria asing itu muncul di balik pintu. Yoori gemetaran hebat, dan bersiap-siap untuk lari, namun kakinya seolah terpaku pada lantai secara mendadak. Nafasnya terputus-putus oleh rasa takut yang begitu besar, hingga akhirnya benar-benar tertahan ketika pria asing itu melepaskan cap biru-hitamnya.

 

 

“Akhirnya aku menemukanmu setelah sekian lama–” kata pria itu, dengan tatapan tajam lurus yang mengarah tepat pada wajah Yoori. Namun tatapannya cepat beralih menuju perut Yoori yang membuncit.

 

 

“–Han Yoo Ri sayang…”

 


To Be Continued


A/N : Thanks buat semua yang menyempatkan membaca^^

Advertisements