WARNING!

INI FF SOMPLAK! DIKSI SANGAT ALAY DAN KOMEDI GARING. AWAS MUNTAH! XD.

10404427_773680236040762_1392848862692783691_n

 


 CHAPTER 1


Pria cantik berjaket merah, berambut cokelat selembut madu baru saja keluar dari Gedung Universitas Hanyang. Wajahnya tampak tak bersemangat, terlihat lelah dan juga mengantuk. Untuk sesaat dia berhenti melangkah, mengecek arlojinya dan berdecak ketika jarum jam menunjukkan angka 2.

 

 

“Hufftt….kerja lagi,” keluhnya.

 

 

Matahari masih terik diatas sana, membuatnya semakin lesu untuk melanjutkan hidupnya hari ini. Semuanya memang membosankan, begitu-begitu saja dan tak menarik. Dengan langkah terseret dia berjalan menuju jejeran taksi yang berderet di depan pagar Gedung Universitas, kemudian menyambar pintu salah satu taksi dan duduk manis di dalamnya.

 

 

“XOXO Café,” katanya singkat pada supir taksi tersebut, kemudian dia menyilangkan tangan dan hanya diam menatap pemandangan di luar jendela ketika roda taksi mulai bergerak. Oh, sekarang pipinya menggembung, sungguh imut dan juga lucu.

 

 

“Membosankan,” keluhnya lagi, lalu dia meniup-niup kaca jendela mobil yang berada di sebelah kirinya, membuat kaca mobil itu berembun. Jarinya terulur, kemudian dia mulai membentuk sebuah pola yang tampak seperti sebuah wajah yang aneh.

 

 

“Haha…”

 

 

Tawanya berderai ketika dia melihat hasil karyanya sendiri, kemudian dia kembali meniup-niup kaca jendela mobil itu dan membuat pola-pola aneh lagi disana, mengabaikan tatapan sebal dari supir taksi yang sejak tadi mengawasi tingkah kekanakannya itu dari jok kemudi.

 

 

Luhan baru saja ingin meniup kaca jendela untuk yang kesekian kalinya, namun dering ponselnya sendiri membuat gerakannya terhenti mendadak. Dia raih ponselnya, tapi hanya sekejap saja, wajahnya sudah cemberut ketika matanya melihat siapa si penelepon itu.

 

 

“Oh, si King Of Drama sedang menelepon Xi Lu Han yang tampan, imut dan juga seksi ini. Mari dengarkan apa lagi yang ingin dia katakan,” gumamnya sendiri sambil mengusap layap ponselnya ke arah kanan dan menempelkan ponsel itu ke telinganya sendiri.

 

 

Yeobose–“

 

 

“Luhannieeeeeeee……huweeeeeeee….”

 

 

Luhan memutar bola mata dan memijit pelipisnya sendiri. Ini sudah biasa. Tapi entah mengapa kepalanya tetap saja merasa pusing setiap kali dia mengalaminya.

 

 

“Ada apa lagi, Appa?” sahutnya malas.

 

 

“Appa terancam di pecat dari perusahaan, huwaaaaaa….”

 

 

“Oh.”

 

 

Luhan menusuk lubang hidungnya sendiri dengan jari telunjuk, berniat mendengarkan Ayahnya bicara sambil mengupil. Tapi sekejap saja dia sudah terlonjak panik ketika dia sadar tentang apa yang baru saja dikatakan oleh Ayahnya.

 

 

“Tunggu! Appa bilang dipecat??? DIPECAT??? Tapi kenapaaa???” tanyanya heboh.

 

 

“Huwaaaa….Boss Appa marah karena Appa tak kunjung berhasil mendapatkan tutor yang mampu bertahan lama untuk mengajari puteranya yang sangat nakal dan juga bodoh itu, huhuhuhu…”

 

 

Oh, masalah ini lagi. Luhan kembali memijit pelipisnya, pusing. Memang sudah 2 minggu berlalu sejak Ayahnya terlihat sangat stress akibat tugas barunya mencari guru les privat untuk putera Boss-nya. Bahkan Ayahnya sampai rela membaca koran-koran harian untuk mencari guru les itu, yang demi jenggot Dumbledore tidak pernah dia lakukan selama 49 tahun hidupnya di dunia ini. Itu semua karena Luhan menolak pekerjaan menjadi tutor itu. Luhan lebih suka menjadi pelayan kafe ketimbang harus mengajari putera Boss Ayahnya yang ‘katanya’ sangat bebal itu. Bukannya sombong, tapi dia memang lebiiiiiihhh dalam hal kecerdasan. Skornya tak pernah kurang dari 98 di setiap mata pelajaran. IQ-nya saja 200, bukankah itu keren?

 

 

Appa, kenapa harus Appa yang mengurus masalah putera Boss Appa yang bodoh itu? Lagipula itu kan bukan pekerjaan Appa!”

 

 

“Luhannie…huweeeeee…”

 

 

“Aish, berisik! Jangan mendramatisir keadaan! Aku tahu Appa hanya berpura-pura menangis, tch!” sungut Luhan jengkel.

 

 

“Jadi kau tahu? Ehehe…” –Ayah Luhan berdehem di seberang–“begini Luhannie, kau kan tahu kalau minggu kemarin Appa menghilangkan salah satu dokumen penting perusahaan–“

 

 

“Lalu?” potong Luhan.

 

 

“Lalu lebih baik kau diam atau akan kupotong lidahmu dan kuberikan pada ikan hiu piaraan tetangga.”

 

 

Luhan meringis mendengarnya. “Arasseo~”

 

 

Ayah Luhan kembali berdehem-dehem di seberang. “Jadi intinya, Boss Appa memberikan Appa kesempatan untuk tetap bekerja jika Appa berhasil mendapatkan guru les yang mampu mengajari puteranya yang bodoh dan nakal itu.”

 

 

“…..”

 

 

“Kenapa kau hanya diam?”

 

 

“Karena aku tak mau lidahku dipotong dan dilemparkan pada ikan hiu milik tetangga,” sahut Luhan, benar-benar mengupil sekarang. “Lalu apa rencana Appa selanjutnya?” tanyanya tanpa minat.

 

 

“Tentu saja Appa harus segera menemukan tutor itu!”

 

 

“Oh begitu. Ya sudah, kalau begitu Appa harus lebih berjuang lagi, oke? Fighting Appa!”

 

 

“Luhannieeeeee…..huweeeeeeeeee….”

 

 

Luhan memutar kembali bola matanya sambil meniup poni. “Apa lagiiiii???”

 

 

“Ini tidak akan mudah. Bagaimana kalau kau saja yang mengajari bocah berandalan itu, ya ya ya?”

 

 

“Aish…Aku tidak mau, titik!”

 

 

“Kau tega sekali pada Appa…huhuhuhuhu…”

 

 

“Ck!”

 

 

“Ayolah…”

 

 

“Tapi–“

 

 

“Sudah 23 orang yang mencoba mengajarinya dan satupun tak ada yang berhasil. Kau adalah harapan Appa yang terakhir, jadi tolong Appa satu kali ini saja, ya?”

 

 

“Nah, 23 orang professional saja tak berhasil mengajarinya. Dia itu pasti sangat menyebalkan. Pokoknya aku tidak mau! Aku tidak mau mati muda, titik!”

 

 

“Luhannieeeeeee….huhuhuhu….”

 

 

Appa tak akan berhasil merayuku.”

 

 

“Ayolaaaahhh, huhuhu…kau benar-benar menginginkan Appa dipecat dari perusahaan?”

 

 

“Ya, aku sangat senang jika Appa keluar dari perusahaan gila itu! Perusahaan yang memberikan pekerjaan tak masuk akal seperti itu pasti–”

 

 

“YAK! Jangan seenaknya bicara kau, bocah tengik! Memangnya kau pikir gampang mencari pekerjaan di usiaku yang sudah mencapai 50 tahun ini? Lagipula jika aku tak bekerja lagi, lalu siapa yang akan membiayai kuliahmu? Kau pikir gajimu sebagai pekerja sambilan di XOXO Cafe itu bisa menutupi biaya kuliahmu? Dan bagaimana dengan biaya hidup kita sehari-hari?” 

 

Dahi Luhan mengkerut, berpikir. “Benar juga sih,” katanya singkat.

 

“Memang benar, bodoh! Hiks, Luhan-ah… kau saja ya yang menjadi tutornya? Tolonglah Appa-mu yang sudah sangat menderita ini, demi kelangsungan hidup kita berdua, oke?”

 

 

 

“Aish, tidak mau! Yang guru profesional saja tak mampu mengajarinya apalagi aku,” tolak Luhan.

 

“Lalu menurutmu Appa harus bagaimana? Aish, sayang sekali kau menolak, padahal Presdir Oh bersedia memberikan gaji yang sangat besar jika saja ada mampu bertahan mengajari puteranya yang bodoh itu.”

 

 

Mata Luhan melebar ketika dia mendengar kata ‘gaji yang sangat besar’. Semangatnya tiba-tiba saja muncul, sampai-sampai duduknya menjadi tegak, tidak menyandar malas seperti beberapa detik yang lalu.

 

 

“GAJINYA SANGAT BESAR?” tanya Luhan bersemangat. Oh, apakah dia terlihat terlalu…baiklah, lupakan dulu.

 

 

 

“Ehem, memangnya….berapa gaji yang ditawarkan oleh Boss Appa itu?” tanya Luhan penuh minat, namun menjaga suaranya tetap tenang atau harga dirinya akan jatuh di depan si King Of Drama di seberang sana. Padahal sudah sejak kemarin-kemarin Ayahnya itu menawarkan pekerjaan ini untuknya, namun dia tak tertarik. Lagipula baru kali ini dia mendengar tentang ‘gaji yang sangat besar’ itu. Sebelum-sebelumnya Ayahnya tak pernah menyebutnya, membuatnya jadi tak tertarik.

 

 

 

“Appa!” desak Luhan tak sabar, karena Ayahnya tak kunjung bicara. Dia sudah sangat penasaran dengan jumlah nominal gajinya.

 

 

“Mmm…sekitar 10 juta won perbulan,” jawab Ayahnya dari seberang.

 

 

“APAAAAAA????”

 

 

 

Luhan terbatuk-batuk setelah dia berteriak dengan begitu nyaring karena terlalu shock oleh jumlah nominal gaji itu. Bahkan supir taksi yang duduk di depan sampai terlonjak kaget karena teriakannya. Dan satu lagi, orang tua yang sedang bicara padanya sekarang telah terserang darah tinggi secara mendadak di seberang sana. Wajahnya mungkin telah memerah. Telinganya pasti sakit karena teriakan Luhan barusan.

 

 

 

 

“YAK! Jangan berteriak seperti itu, kau membuatku kaget!” omel Ayahnya dari seberang.

 

 

Luhan mengabaikan umpatan Ayahnya, dan saat ini malah telah sibuk menghitung-hitung jumlah gaji itu sambil mengarahkan bola matanya ke atas. Sepuluh juta won itu sangat banyak. Ah, Luhan jadi berbinar-binar sendiri ketika dia memikirkan betapa banyaknya jumlah uang itu. Lambang dollar berwarna hijau telah memenuhi hampir seluruh bagian isi dalam otaknya. Dengan uang sebanyak itu, dia bisa membayar uang kuliahnya, dan masih bisa digunakan untuk membeli sebuah smartphone baru yang sangat dia inginkan, lalu bisa juga dia pakai untuk mentraktir gadis cantik, lalu –ah, sisanya masih sangat banyak. Luhan bahkan tak mampu memikirkan apa-apa saja yang bisa dihasilkannya dengan uang sebanyak itu. Dia bahkan tak harus bekerja sambilan lagi di kafe jika saja dia…

 

“Appa! Aku saja yang menjadi tutornya!” kata Luhan dengan menggebu-gebu, semangat sekali.

 

“APAAAA?”

 

 

Ayahnya gantian berteriak dari seberang sana, namun Luhan tak peduli. Dia malah mengangguk-anggukkan kepalanya, mengabaikan fakta bahwa Ayahnya tak akan mungkin bisa melihat kalau dia sedang mengangguk seperti sekarang.

 

 

 

“Aku serius Appa! Aku bisa menjadi tutornya!” kata Luhan yakin.

 

“Tch, bukankah tadi kau bilang kalau kau tidak mau? Sudahlah, lupakan saja. Kau benar. Kau pasti tidak akan tahan. Bocah albino itu seperti es batu, sangat bebal dan juga bodoh. Lagipula kau itu masih kuliah. Yang guru profesional saja tak mampu mengajarinya, apalagi kau yang amatiran,” sahut Ayahnya, lalu Luhan mendengar Ayahnya menguap menyebalkan dari seberang sana.

 

“Aku berubah pikiran! Biarkan aku yang menjadi tutornya, aku pasti bisa! Aku sangat cerdas Appa! Jangan lupakan IQ 200-ku!” kata Luhan menyombongkan diri.

 

 

“……”

 

 

 

Appa?

 

 

 

“Hihihihi….”

 

 

 

Luhan mengerutkan kening ketika telinganya mendengar suara tawa Ayahnya yang aneh dari seberang sana. Entah mengapa dia merinding secara mendadak.

 

 

“Kenapa Appa tertawa? Suara tawa Appa terdengar seperti hantu,” kata Luhan sambil memeluk dirinya sendiri.

 

“Tidak apa-apa. Jadi…ehem, kau benar-benar mau menjadi tutor bocah sialan itu?”

 

 

 

Lagi-lagi Luhan menganggukkan kepalanya dengan bodoh. “Ya, aku mau!” katanya yakin.

 

 

 

“Baiklah. Kalau begitu sekarang juga kau pergi kerumah Presdir Oh. Appa akan mengirimkan alamatnya padamu, oke?”

 

“Okeeeeeeeeee!” jawab Luhan penuh semangat.

 

 

*****

Luhan melangkah lurus menuju ke sebuah rumah bercat putih bersih dengan pagar yang sangat tinggi beberapa meter di hadapannya. Ada beberapa petugas keamanan berpakaian hitam-hitam di depan pagar rumah itu, membuat nyali Luhan sedikit menciut. Namun Luhan tetap berjalan maju.

 

 

‘Demi 10 juta won,’ batinnya matre.

 

 

Luhan sudah sangat dekat. Tapi beberapa petugas keamanan langsung mengerumuninya, membuatnya menunduk takut.

 

“Siapa kau?” tanya seorang petugas keamanan.

 

“A-aku ini tu-tutor baru untuk pu-putera Presdir Oh,” cicit Luhan takut-takut.

 

Petugas yang menanyainya tadi menatapnya dari atas sampai bawah, membuatnya merasa risih.

 

“Oh? Jadi kali ini tutornya seorang gadis? Wah, kau cantik sekali!” kata salah satu petugas keamanan itu. Tak hanya menggombal, petugas itu malah sudah mengedipkan mata dengan genit padanya, membuat darah tinggi Luhan langsung naik. Bahkan rasa takutnya tadi lenyap tanpa sisa hanya dalam sepersekian detik.

 

“AKU INI BUKAN YEOJA, BODOH!” teriaknya galak pada petugas yang mengatainya tadi sambil berkacak pinggang seperti ibu-ibu, membuat petugas yang berjumlah 5 orang itu terkejut setengah mati. Luhan mendengus. “Jadi aku bisa masuk atau tidak?!” tanyanya ketus.

 

Petugas itu saling pandang-pandangan, membuatnya tak sabar.

 

“YAK!” teriaknya jengkel.

 

 

“Bo –boleh. Silahkan masuk,” kata petugas yang menanyainya tadi, kemudian mengantarkan Luhan masuk ke dalam.

 

Luhan mengikuti langkah petugas tadi memasuki rumah yang sangat besar itu, dan matanya tak bisa lepas dari segala kemewahan yang ada dalamnya. Dia dibawa ke arah belakang rumah, tempat dimana terdapat sebuah kolam renang yang sangat besar berada, dan Luhan dihadapkan pada seorang pria tua berkulit putih pucat tapi masih sangat tampan, yang sedang duduk menikmati teh di tepi kolam itu.

 

“Presdir, ini adalah tutor baru untuk Tuan Muda Oh Sehun.”

 

Luhan langsung membungkuk hormat meskipun pria tua yang dipanggil Presdir itu tak menoleh padanya.

 

 

 

Pria tua itu meletakkan gelas tehnya, kemudian dia menggoyang-goyangkan kakinya dengan santai. “Nama?” tanyanya pada Luhan, masih tanpa menoleh.

 

“Lu-Luhan,” jawab Luhan gugup.

 

“Luluhan atau Luhan?”

 

“Luhan.”

 

“Umur?”

 

“22 tahun.”

 

“Latar belakang pendidikan?”

 

Luhan meringis. “Errr….Saya adalah mahasiswa semester akhir.”

 

Pria tua itu menoleh, dan menatap Luhan dengan tatapan yang entah terkejut atau apa. “Kau 22?” tanyanya, dan Luhan tentu saja mengangguk.

 

“Tidak bohong?”

 

“Maaf?”

 

“Kau terlihat seperti bocah berusia 12 tahun,” jawab Presdir Oh tanpa perasaan.

 

Luhan menjatuhkan dagunya dan menatap Boss Ayahnya itu dengan mulut yang terbuka. Dia menggaruk pipinya sendiri sebelum membuang pandangannya kearah lain, merasa kesal.

 

‘Sialan!’ –pikirnya jengkel.

 

“Kenapa suaramu sangat besar? Seperti pria saja,” kata Presdir Oh lagi-lagi tanpa menatap Luhan.

 

“Huh?” Lagi-lagi, dagu Luhan terjatuh dibuatnya.

 

“Suaramu, seperti suara pria. Apa kau perokok?” tanya Presdir Oh sambil kembali mengambil teh yang tadi dia letakkan di atas meja dan kembali meminumnya dengan santai.

 

Luhan mulai merasa stress. Darahnya naik sampai ke kepala. Setelah dilecehkan dan dikatai gadis cantik oleh petugas tadi, haruskah dia juga dihina dengan julukan bocah berusia 12 tahun oleh Boss dari petugas tadi, yang sialnya adalah Boss Ayahnya sendiri –dan juga calon Boss-nya sebentar lagi? Ugh, kepalanya mau meledak sekarang. Luhan merasa emosi, sungguh!

 

“Presdir, nama Saya Xi Luhan. Saya mahasiswa berusia 22 tahun, dan Saya memang pria,” kata Luhan dengan gigi yang merapat. “Satu lagi. Saya ini bukan perokok!” jelas Luhan panjang lebar, tetap dengan gigi yang merapat karena jengkel. “Saya putera kandung Yoo Hwan Xi.”

 

Presdir Oh tersedak sampai terbaruk-batuk, membuat Luhan terlonjak karena terkejut. “P –Presdir? Anda baik-baik saja?” tanya Luhan panik dan hendak membantu menepuk punggung pria tua itu, namun Presdir Oh menunjukkan telapak tangannya, mengatakan jika dia baik-baik saja dengan isyarat tangan.

 

“K –kau putera Yoo Hwan?” tanya Presdir Oh, shock.

 

“Ya.” Luhan mengangguk dan menunjukkan wajah bingungnya. “Memangnya kenapa jika aku putera kandung Ayahku?” tanya Luhan bodoh.

 

Pria tua itu menatap Luhan dalam-dalam. Raut senang terlihat begitu jelas dari wajahnya. Bagaimana tidak senang? Dia sudah sangat sering mendengar tentang Luhan dari karyawan kesayangannya yang dramatis itu –Ayah Luhan–yang selalu membangga-banggakan soal kejeniusan puteranya dan membuatnya jadi tak sabar ingin segera bertemu dengan Luhan sejak lama. Ternyata Yoo Hwan menyuruh putera jeniusnya untuk mengajari si pangeran kecil yang sangat nakal di rumah ini? Kebetulan sekali!

 

 

 

“Presdir? Anda akan membiarkan Saya mencoba mengajari putera Anda atau tidak?” tanya Luhan, kesal menunggu.

 

 

Wajah Presdir Oh yang semula terlihat berbinar kembali datar ketika dia tersadar dari pikirannya. Pria tua itu berdehem-dehem, berusaha menjaga wibawanya di depan Luhan, padahal dia sangat senang sekali sekarang.

 

“Ehem, baiklah. Kalau begitu kau langsung saja ke kamar Sehun. Dia belum pulang, tapi kau bisa menunggu dia pulang sambil beristirahat disana.”

 

“Siswa SHS belum pulang pada jam ini?” tanya Luhan, merasa heran.

 

“Ah, aku harus memberitahumu. Puteraku itu adalah anak yang berada diluar zona aman. Dia sedikit pemberontak dan sering menentang jalur, jadi kau harus lebih bersabar menghadapinya. Selama ini belum ada satupun tutor yang bisa menjinakkan sifat liarnya itu.”

 

“Ya, bagian yang itu sudah sering aku dengar dari Ayahku sih,” kata Luhan sambil memutar matanya dengan bosan, membuat Presdir Oh tertawa kecil.

 

“Bagus kalau kau sudah tahu, jadi kau bisa memikirkan apa yang harus kau lakukan. Aku bergantung padamu nak. Ajari Sehun agar dia bisa menjadi anak yang lebih berguna. Aku akan menggajimu 20 juta won perbulan jika kau berhasil menaikkan nilai-nilai pelajarannya,” kata Presdir Oh tenang, tapi Luhan bahkan sudah membeku mendengar sederet kalimat yang diucapkan oleh pria tua itu.

 

“Du-du-dua puluh juta???” kata Luhan shock. Lambang dollar sudah terlihat di kedua bola matanya.

 

“Ya, 20 juta. Berusaha keraslah, karena dia akan menghadapi ujian negara 3 bulan lagi. Semoga beruntung!” kata Presdir Oh sambil mengedipkan mata pada Luhan, kemudian dia berlalu pergi setelah sempat menepuk bahu Luhan beberapa kali.

 

 

  *****

Lagi-lagi Luhan mengecek arlojinya. Jam 6 sore, hampir menjelang malam.

 

 

“Ck, kemana sih bocah tengik itu? Sudah 4 jam aku disini dan dia belum juga muncul. Aish, m­embuatku kesal saja!” umpat Luhan jengkel, lalu dia menguap. “Kalau begini terus bisa-bisa aku ketiduran disini,” gumamnya sambil berdiri dari posisi duduknya.

 

 

Luhan memutuskan untuk melihat-lihat ke sekitar kamar, membawa tubuhnya berkeliling, bahkan dia memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar itu dan melihat-lihat isinya. Luhan tak menyadari jika pintu kamar telah terbuka, dan seorang pria tinggi berkulit pucat masuk ke dalamnya, Oh Sehun.

 

.

 

.

 

Sehun melemparkan tasnya begitu saja ke atas lantai, lalu membuka seragam sekolah berikut celananya juga, hanya menyisakan panty berwarna biru langit bergambar Doraemon saja di tubuhnya. Langkah panjang pria pucat itu terbawa lurus menuju ke kamar mandi tanpa suara. Dia masuk ke dalamnya, kemudian keningnya berkerut ketika matanya menemukan seseorang sedang berdiri di kamar mandi sambil melihat-lihat bathup miliknya.

 

 

‘Kenapa ada manusia asing disini?’ –pikir Sehun, namun dia tetap diam dan membiarkan saja seseorang itu melanjutkan kesibukannya memandangi bathup miliknya. Jika dilihat dari potongan pakaian yang dikenakan oleh orang itu, Sehun yakin jika orang itu adalah pria, meskipun tubuhnya terlihat mungil. Namun ketika orang itu bergeser hingga matanya mampu menangkap sisi wajah orang itu, Sehun mematahkan argumennya tadi dalam sekejap. Tidak, orang itu bukan pria, karena dia–

 

 

 

‘Cantik,’ –pikir Sehun.

 

 

Sehun tak mengerti mengapa dia begitu tertarik pada orang itu. Hanya melihat sisi wajahnya saja, Sehun sudah merasa jantungnya berdebar aneh. Tanpa mau memikirkan tentang mengapa seorang gadis bisa tersasar sampai ke kamarnya –lebih tepatnya ke dalam kamar mandinya–, Sehun memilih untuk melangkahkan kaki menuju orang itu. Dalam satu tarikan saja, tubuh orang itu telah berhasil dia balikkan hingga mereka berdiri berhadap-hadapan, dan mata Sehun melebar dalam sekejap ketika dia berhasil melihat seluruh bagian wajah cantik orang itu. Sehun dapat melihat jika orang itu juga melebarkan mata ketika melihatnya, tapi hanya sekejap saja, karena sekejap setelahnya dia telah mendorong orang itu ke dinding dan menghimpitnya, kemudian tiba-tiba saja bibir mereka berdua telah menyatu tanpa celah. Sehun tak tahu apa yang dia lakukan, dan sesungguhnya dia juga tak ingin tahu mengapa tiba-tiba dia berhasrat untuk mencium orang asing ini. Satu-satunya hal yang ingin dia ketahui saat ini hanyalah bagaimana rasa bibir orang asing itu ketika dia menciumnya, dan ya, rasanya begitu manis. Mengabaikan tubuh yang menegang kaku di dalam dekapannya, Sehun malah menggerakkan bibirnya dengan lambat, menyesap bibir orang asing itu dengan lembut sambil memejamkan mata.

 

.

 

.

 

Luhan tak tahu mengapa tiba-tiba saja tubuhnya ditarik oleh seseorang dan dihempaskan ke arah dinding. Punggungnya terasa sakit, tapi baru saja hendak protes, tiba-tiba saja bibirnya telah dibungkam oleh sesuatu yang terasa lembut dan basah. Luhan mengerjap-ngerjap, lalu matanya terpaku pada sepasang mata yang terpejam tepat di depan matanya sendiri. Dan ada apa dengan bibirnya? Apa yang bergerak lembut itu?

 

Kedip.

 

Kedip.

 

Luhan tersadar, lalu…

 

“UWAAAAAAAA……SIAPA KAU?? APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU???” teriak Luhan panik setelah dia berhasil mendorong orang yang menghimpitnya tadi dengan sekuat tenaga.

 

Luhan dapat melihat jika pria yang berada di hadapannya itu membeku.

 

“Su –suaramu….Ja -jadi kau pria?” tanya pria itu, shock.

 

Luhan menatapnya dari atas sampai bawah, dan lagi-lagi berteriak histeris seperti wanita yang hendak diperkosa.

 

“GYAAAA!!!! ADA GAY MANIAK DISINI!!! TOLONG AKUUUUUUU….”teriaknya heboh.


To Be Continued


 

A/N : Percayalah, Author Note ini bakalan sepanjang rel kereta api. Siap-siap muntah, XDDDD.

Okai, pertama-tama, FF ini adalah FF saya. PUNYA TMARIONLIE.  Saya mau ceritain tentang sejarah menyedihkan(?) FF saya yang satu ini sampe saya takut ngepostingnya kemana-mana, bahkan disini yang jelas-jelas Blog pribadi saya. Kenapa? Karena waktu saya share FF ini ke FFN setengah taun yang lalu ( sekitar bulan Mei ), ada salah satu readers yang bilang kalo FF saya ini MEMPLAGIAT SALAH SATU FF YUNJAE! Sakit nggak dikatain Plagiator? TT______TT.

FF ini saya buat setahun yang lalu, dan ketika saya share di FFN itu statusnya sudah END, bahkan saya sudah merilis sequelnya dengan maincast KaiSoo. Tapi baru saya share di FFN sampe 2 Chapter, eh FF saya dikatain FF Plagiat, huwaaaa /die/. Waktu itu saya down, karena saya nggak pernah memplagiat FF orang laen. Karena saya tersinggung dikatain Plagiator, saya hapus FF ini dari FFN *ceileh ceritanya saya sakit hati, wkwk* Trus setelah saya hapus FF ini, saya mulai berburu(?) ke segala tempat-tempat FF yang ada YunJae-nya untuk nyari FF YunJae yang mirip banget sama FF ini. Selama berbulan-bulan saya cari kesana-kesini nggak nemu, dikarenakan faktor kesibukan saya plus saya nggak banyak temen yang berasal dari YunJae Kingdom ( Saya nggak baca YunJae juga soalnya ). Rata-rata temen saya itu dari HunHan Kingdom, ChanBaek, Kaisoo, dan beberapa dari fandom Super Junior.

Nah, beberapa bulan belakangan ini temen-temen saya baik sesama Author dan juga readers nambah banyak, dan kita semua ngumpul dari berbagai fandom termasuk dari fandom YunJae. Saya mulai nanya-nanya tuh ke mereka, minta bantuan, siapa tau mereka pernah liat FF yang mirip sama FF saya yang ini. Dan bingo! sekitar 3-4 hari yang lalu pas saya ngobrol sama Irna ( temen saya, readers saya, sahabat saya sesama EXO-L yang juga suka YunJae ), tanpa sengaja ngobrolin tentang FF ini dan saya dikenalin sama Pupsita ( Author FFN, Author YunJae, penname Black Spica ). Dari si Puspita inilah akhirnya saya tahu FF YunJae apa yang mirip sama FF saya. Dan kalian tau apa yang mengejutkan?? Saya berbulan-bulan nyari FF YunJae ini, tapi tanpa disangka-sangka ternyata FF yang dimaksud adalah FF punya temen saya sendiri, Author YunJae di FFN yang namanya Vea Kim! Demi apa! Saya kenal sama Vea udah sejak beberapa bulan yang lalu! Huwaaa…Ternyata dunia ini sempit, dan saya bener-bener surprise karena Author yang saya cari itu ternyata adalah temen saya sendiri! T___T

Hal ini bikin saya shock dan saya langsung buru si Vea buat minta link FFnya dia ( judul FF YunJae yang dimaksud adalah FF My Cute Tutor ). Saya baca isinya, dan ASDFGHJKL ASDFGHJKL ternyata beberapa adegan emang sangat mirip! Dan sialnya, FF si Vea udah publish lebih dulu ( taon 2012 ), sementara FF ini saya buat sekitar akhir taon 2013, huwaaaaa T__T.

Akhirnya, karena saya ngerasa kesamaan ide kita berdua yang merupakan ‘kebetulan’ tapi sangat spektakular ini terasa agak mengganggu dan bikin saya jadi down ( jelas down karena FF saya yang belakangan publish ), saya kejar si Vea, trus saya ngobrol sama dia secara langsung via LINE *makasih buat Emak Uthie Pradit yang ngetemuin saya sama Vea lewat LINE* Kita berdua ngomongin masalah kesamaan FF kita. Saya  kasih link FF yang punya saya, dan saya minta Vea menilai sendiri apakah FF saya ini memplagiat FF dia atau enggak. Kalau dia bilang saya  plagiat, saya  juga gabisa apa-apa, karena emang beberapa scene itu sama persis ( demi Tuhan ini tidak di sengaja dan saya bukan plagiator ). Saya nggak akan menyangkal kesamaan yang ada dan saya bukan tipe yang berkelit dari kenyataan. Meskipun saya bersikeras kalo saya tidak memplagiat, tapi pembelaan saya lemah karena FF saya ini belakangan publish.  Akhirnya saya hanya pasrah, dan saya biarkan Vea yang menilainya.

Dan setelah beberapa jam yang mendebarkan(?) karena ini akan mempengaruhi nama saya di dunia perfiksian Indonesia *halah* akhirnya Vea kembali menghubungi saya, dan mari kita lihat obrolan kami soal FF ini berikut apa kata dia tentang FF saya.

Screenshot_2014-12-28-14-55-06

Screenshot_2014-12-28-14-55-56

Dan yang terpenting ada disini!

PicsArt_1419753737877

Jadi intinya, FF HunHan ‘My Tutor is A Cute Deer’ bukanlah FF plagiat dari FF YunJae “My Cute Tutor’. Semua kesamaan di dalam FF saya ( baik kesamaan ide, beberapa scene, dan beberapa dialog ) dengan FF Vea adalah sebuah ketidak sengajaan alias kebetulan *masih sulit dipercaya hal yang begini ternyata bisa terjadi juga sama saya*. Jadi siapa tau salah satu readers di sini ( yang mungkin ) adalah orang yang pernah mengatakan kalau saya memplagiat FF milik Vea Kim, saya minta Anda tarik kata-kata Anda kembali. Anda tau nggak kalo saya itu sempet ngerasa patah semangat buat nulis bahkan sempet mutusin untuk hengkang dari dunia per-FFan karena tuduhan Anda? Nyesek lo dikatain Plagiator padahal enggak, huwaaa T__T.

Oh ya, FF My Tutor is A Cute Deer yang di share di Blog ini adalah versi remake ya, tidak sama dengan FF yang pernah saya share di akun FB. Kenapa harus di remake? Karena melalui obrolan saya sama Vea beberapa hari yang lalu, sepertinya remake emang perlu dilakukan supaya nggak ada yang salah paham lagi. Dia menyarankan pada saya untuk mengganti beberapa scene yang mirip di FF kita supaya FF kita tidak memiliki adegan yang sama persis seperti sebelumnya. Dan kenapa harus saya yang melakukan remake? Ya jelas karena saya yang belakangan publish T__T. Kalo saya bertahan dengan segala persamaan FF in dengan FF YunJae ‘My Cute Tutor’, nanti saya yang rugi sendiri. Saya kan nggak mau dituduh Plagiator sama readers saya /die/.

Ya sudahlah, begitu saja, wkwk. Makasih buat yang bersedia baca cuap-cuap nggak penting saya ini. Intinya FF ini akan saya simpan disini, karena semua FF saya akan saya angkut kesini nanti kalo saya sempet. Bagi yang belom baca, silahkan baca. Bagi yang udah pernah baca versi asli yang lebih alay dari ini, ya baca lagi yang ini kalo mau *plakk* Dan dengan selesainya masalah ini, saya akan lanjutkan sekuel My Tutor Is A Cute Deer setelah sekian lama saya abaikan FF itu karena masalah ini dan beberapa masalah lainnya. Saya akan lanjut segera setelah saya selesai me-remake FF ini. Jadi FF My Enemy Is My Love ( Sekuel MTIsACD dengan maincast KaiSoo ) nanti akan saya lanjut disini, nggak di FB lagi, XDDD.  Intinya saya bukan Plagiator, titik *ditendang*

Advertisements