-18 Juni 2005-

 

Wajahnya manis, tubuhnya mungil. Rambut cokelat madunya sedikit ikal dan ditata rapi. Sebenarnya kelopak matanya redup, tapi pancaran matanya terkesan tajam akibat ekpresi wajahnya yang angkuh. Dia melangkah arogan di sepanjang koridor kampus Universitas Chun Ang, dengan dagu yang terangkat dan tatapan mata yang lurus ke arah depan, tak peduli pada sekitar. Semua orang mengenalnya. Tak ada satupun yang tak tahu siapa Xi Lu Han. Namun semua orang akan ragu tentang apakah pemuda itu mengenal mereka juga atau tidak. Dia seperti hidup di dalam dunianya sendiri, tak peduli pada orang lain. Tak ada yang pernah berani mendekatinya. Belum ada yang mampu meraihnya.

 

 

Sepasang mata elang yang tersembunyi di balik kacamata berbingkai lebar masih saja mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh Luhan. Kemanapun dia pergi, sepasang mata itu tak pernah lepas dari sosoknya. Begitu mengangumi. Begitu memuja.

 

 

“Berhenti menatapinya seperti itu, Kris. Kau terlihat seperti hendak menelannya hidup-hidup.”

 

 

Kris mengalihkan tatapannya pada buku yang dia pegang, sementara Chanyeol, pria yang berbicara dengannya barusan sudah terkekeh di sampingnya.

 

 

“Aku tak menyukai dia–” Pria lainnya yang menyandar pada dada Chanyeol menyeletuk tiba-tiba. “Arogan, angkuh. Luhan itu menyebalkan.”

 

 

“Kau hanya iri padanya,” komentar Kris sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya.

 

 

“Tch, yang benar saja Kris! Untuk apa aku iri padanya?” sungut Baekhyun, sementara Chanyeol mengelusi kepala pemuda itu dan menciuminya sesekali.

 

 

“Yeah, Luhan itu manis.”

 

 

“Aku juga manis, benar kan Yeol?” Dan tentu saja Chanyeol mengiyakan.

 

 

“Tapi dia pintar, Baekhyun. Tidak seperti kau.”

 

 

“Cihh!” Baekhyun merengut, membuat Chanyeol tak tahan untuk tak mencubit pipi pria kecil cerewet itu karena dia gemas. Sementara Kris terkekeh geli.

 

 

“Dia juga sangat kaya. Kudengar dia mendapatkan satu anak perusahaan milik Ayahnya untuk dia kelola sendiri. Dia begitu mengagumkan. Cantik, independen, benar-benar menarik.”

 

 

Baekhyun mendecak sebal. “Cantik? Apa kau gila?” komentar Baekhyun. “Dia bukan seorang gadis, dan jika kacamata burung hantumu berfungsi dengan baik, kau pasti bisa melihat bahwa Luhan itu adalah pria,”gerutunya.

 

 

“Bahkan sangat pria. Dia terlihat cool dan maskulin, dan ya, –sangat pria,” komentar Chanyeol, kemudian ia mengedikkan bahu. “Dia bahkan perokok.”

 

 

“Ya, aku tidak buta, ck! Aku bisa melihat kalau dia itu pria, tapi dia manis. Disamping sikapnya yang ‘sangat pria’, kalian pasti setuju dengan argumenku tentang wajahnya yang cantik itu. Sebenarnya siapa yang buta di sini?”

 

 

“Aish…berhenti memujanya, Kris. Kau tahu kan dia itu siapa? Dia itu–“

 

 

“Xi Lu Han yang agung,” tambah Chanyeol.

 

 

“Ya, terima kasih Yeollie sayang, tapi kau sebenarnya tak perlu menyela ucapanku,” sungut Baekhyun, kesal setengah mati dengan kekasih homonya itu.

 

 

“Kalian berisik. Lebih baik aku pergi.”

 

 

“Ya pergilah, itu lebih bagus, jadi kami bebas bermesraan tanpa ada siluman burung hantu bule berwujud manusia yang memelototi kami terus-menerus,” kata Chanyeol.

 

 

“Fuck you, Chanyeol!” kata Kris kesal sambil meraih tasnya dan beranjak bangkit untuk berdiri.

 

 

Chanyeol? Tentu saja sudah tertawa konyol.

 

 

“Dan perhatikan jalanmu Kris, jangan sampai kau tersandung karena terus-menerus menatapinya seperti itu,” kata Baekhyun, dan Chanyeol lagi-lagi tertawa keras mendengarnya.

 

 

Kris memperbaiki letak kacamata burung hantunya, kemudian bersungut kesal pada pasangan mesra –homo meyebalkan– yang sampai saat ini masih menertawakannya di belakang sana.

 

 

Ya, pasti sulit baginya untuk meraih Luhan, bahkan sangat sulit. Pria itu begitu jauh untuk dia raih, sedang dia hanyalah pria nerd yang selalu diabaikan oleh sekitar. Mana mungkin Luhan mau menatapnya. Dia hanyalah seorang mahasiswa kutu buku jelek yang tak mampu mencegah hormon gay terkutuk yang membuat hidupnya semakin menyedihkan, sekalipun dia cukup kaya. Tak ada yang pernah berani mendekati Luhan. Belum ada satupun.

 

 

Kris berjalan lurus menuju pagar Universitas. Dia menyusuri trotoar yang sepi di tepi jalan raya dan akhirnya memutuskan untuk duduk di halte bus yang sunyi, menunggu supir keluarga menjemputnya pulang. Beberapa detik, sebuah bus berwarna-warni berhenti di hadapannya. Sisi bus yang dia lihat menampilkan poster aktor tampan Jang Dong Gun yang akhir-akhir ini menjadi aktor yang paling bersinar di seantero Korea. Menatapi poster itu, perlahan secercah keinginan menelusup di dalam hatinya. Sebuah semangat tiba-tiba saja mengambil alih pikirannya, membuat tubuhnya memanas dan dia tersenyum oleh sebuah alasan.

 

 

“Ya. Aku akan menjadi pria tampan dan mandiri di masa depan. Dan ketika saat itu tiba, aku akan membuatmu menjadi milikku, Xi Lu Han. Tak peduli kau normal, kau hanya boleh menatapku nanti.”


MALE DEPOSE

 Male Depose

Written By tmarionlie | Poster By L.E Design

♥♥♥

HunHan | Hurt & Comfort | Romance | Mature


CHAPTER 3


 

Americano hangat kembali menyambut pagi Luhan hari ini. Aroma khasnya menguar, terasa begitu pekat dan juga menenangkan. Sesapan pertama membuat bibirnya merasakan manis dan pahit dari kopi itu, dan rasa hangat menyenangkan mengaliri tenggorokan hingga perutnya, ditambah dengan rasa geli menggelitik ketika matanya menangkap senyuman tampan dari pria yang duduk di sampingnya. Senyuman yang sama seperti hari-hari sebelumnya, membuatnya ter-adiksi tanpa bisa dia cegah.

 

 

Luhan melirik jam dinding yang masih menunjukkan angka 6 lebih, dan dia memilih untuk kembali berbaring malas di permukaan ranjangnya sendiri, lagipula masih begitu banyak waktu sampai dia harus bersiap-siap pergi bekerja dalam beberapa jam lagi. Seperti biasanya pula, Sehun akan mendekat padanya, membiarkan hidungnya mencium aroma tubuh pemuda pucat itu dalam-dalam. Yang dilakukan oleh Sehun adalah memberikan belaian lembut dan apapun yang akan membuat Luhan senang, karena itulah fungsinya di sini, memanjakan Luhan.

 

 

“Sehun, kemarilah…berbaring di sampingku…” Luhan menarik lembut lengan Sehun agar pria itu lebih merapat padanya. Sebelah lengannya melingkar pada pinggang Sehun saat pemuda itu berbaring di sampingnya. Hidungnya sengaja dia tempelkan pada lengkungan tulang selangka Sehun dan menyusuri leher pemuda itu untuk menghirup aroma tubuh Sehun lebih dalam lagi. “Aku suka aroma tubuhmu…”

 

 

Sehun tak menjawab. Dia biarkan Luhan berbuat semaunya sambil berusaha menahan geli-geli menggelitik yang menyerang perutnya. Lengan kirinya menyangga kepala Luhan, sedang tangan yang satunya lagi dia gunakan untuk membelai lembut kepala pria itu. Matanya menatap kosong pada Vitruvian Man yang tergantung di dinding beberapa meter agak jauh dari ranjang. Pikirannya menjelajah jauh, namun keterdiamannya itu membuat Luhan merasa tak nyaman hingga akhirnya pemuda itu menjauhkan wajah dari lehernya.

 

 

“Kenapa kau hanya diam?” tanya Luhan, tapi Sehun tetap diam. Luhan memutar leher, mengikuti arah pandangan Sehun, dan dia tersenyum setelahnya. “Vitruvian Man? Kau tertarik pada lukisan itu?” tanyanya. Jari telunjuknya telah mendarat pada ujung hidung Sehun, cukup untuk membuat jiwa Sehun kembali dari dunia antah-berantahnya tadi.

 

VITRUVIAN MAN

 

“Apakah itu asli?” tanya Sehun, mencoba menutupi kegelisahannya akan sesuatu.

 

 

“Tidak, itu imitasi. Yang asli tentu saja masih berada di Venesia,” guman Luhan.

 

 

“Kukira kau telah berhasil membawanya pulang dari Gallerie dell Academia,” kata Sehun, mengakhirinya dengan kekehan kecil.

 

 

Luhan menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku suka mengoleksi barang antik dari berbagai negara. Vitruvian Man ini membuatku begitu tertarik, tapi untuk mendapatkan yang asli tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku menyuruh seorang ahli membuat replikanya, dan inilah hasilnya.”

 

 

“Barang ini ilegal,” komentar Sehun.

 

 

Luhan terkekeh kecil. “Ya, ilegal dan mahal. Tapi hasilnya tak mengecewakan, karena itu aku tak menyesalinya. Lagipula tak akan ada yang menemukan benda ini disini,” gumam Luhan, sebelah tangannya melingkar di leher Sehun dan membelai tengkuk pemuda itu pelan-pelan. “Siapapun pasti akan terkecoh jika replika ini kusandingkan dengan yang asli. Tak akan ada yang mampu membedakannya, aku sangat yakin.”

 

 

Sehun tersenyum, mendaratkan dua jari tangan kanannya pada pipi kiri Luhan, yang membuat kedua alis Luhan terangkat naik. Tapi untuk sekejap kemudian Luhan sudah berjengit, menahan rasa sakit akibat cubitan yang dihadiahkan Sehun pada pipi kirinya.

 

 

“Kau mungkin bisa membawa replika ini ke Italia dan menukarnya dengan yang asli,” kata Sehun tanpa melepaskan cubitannya.

 

 

Luhan berdecak. “Aku bukan pencuri,” katanya sarkastik sambil menyingkirkan tangan Sehun dari pipinya. “Dan cubitanmu ini sakit, bodoh!”

 

 

Sehun mengedikkan bahu. “Mengapa kau begitu bernafsu untuk memiliki lukisan itu? Hanya lukisan biasa, dan mahal. Kurasa aku akan mempertimbangkan masak-masak untuk membuat replika seperti ini meskipun aku memiliki banyak uang. Lukisan ini tak bernilai sama sekali, setidaknya bagiku.”

 

 

Luhan melepaskan tengkuk Sehun dan berbalik untuk melihat lukisan itu, terdiam beberapa saat hingga beberapa tarikan nafas, kemudian dia menggapai tangan Sehun dan menariknya ke perutnya sendiri, menyuruh Sehun memeluknya dari belakang. “Entahlah. Aku hanya tertarik dengan konsepnya. Antropometri ini sepertinya dibuat untuk menunjukkan setiap keinginan manusia untuk memiliki tubuh yang proporsional dan ideal. Tidakkah kau tertarik?” tanyanya, menggusakkan bagian belakang kepalanya ke dada Sehun lebih dalam. “Model yang dipakai sebagai Vitruvian Man itu sangat sempurna–“ Luhan menelan ludah,

 

 

“–seperti kau.”

 

 

Sehun terdiam. Pujian yang menggelitik. Getaran aneh dan asing tiba-tiba saja muncul, membuat dadanya bergemuruh. Tarikan nafas dalam yang dia lakukan bahkan tak mampu mengurangi apalagi mengusir getaran aneh itu dari dalam dirinya. Aroma rambut Luhan yang terhirup olehnya bahkan menghambat otaknya untuk berfikir lebih jauh. Dia sudah sempat memutuskan untuk mengosongkan pikirannya, namun kulit pipi Luhan, bulu mata yang panjang, dan apapun yang dia lihat dari sebagian sisi wajah Luhan membuatnya tak bisa beralih pikiran dari ‘hal aneh’ itu.

 

 

“Tidak, aku tak tertarik.” Sehun menarik tubuh Luhan semakin merapat dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua sampai batas leher, menyembunyikan jemari mereka yang saling bertautan di bawah selimut tebal itu. “Karena lukisan itu bohong…” kata Sehun sambil membentur-benturkan dagu runcingnya pada helaian rambut yang tumbuh di sekitar telinga kekasih palsunya itu, berjengit sedikit saat getaran asing itu terasa semakin kuat menghantam dadanya.

 

 

“Bohong?” tanya Luhan, bingung.

 

 

“Hmm…modelnya tidak sempurna. Kau bisa menemukan kekurangannya jika kau mengamati lukisan itu dengan lebih teliti.”

 

 

Luhan mematung dan menghabiskan beberapa menitnya untuk menatap lukisan itu lekat-lekat. Kerutan pada dahinya semakin dalam di setiap detiknya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyerah. “Aku tak mengerti. Aku tak menemukannya.”

 

 

Sehun terkekeh. “Lihat pangkal pahanya yang sebelah kiri.”

 

 

Luhan kembali menatap lukisan itu, dan sekejap kemudian, matanya melebar. “Itu…ada benjolan di sana. Apa itu?”

 

 

“Hernia. Penyakit yang muncul akibat penonjolan rongga isi perut. See? Modelnya bukanlah sosok ‘manusia sempurna’ seperti yang ingin ditunjukkan oleh Leonardo da Vinci. Mungkin dia salah memilih model, atau dia salah melukis. Yang pasti, Da Vinci gagal melukiskan sosok ‘manusia sempurna’ dalam lukisan itu. Dia merusak konsep yang dia buat sendiri.” Sehun menempelkan hidung dan bibirnya di sekitar telinga Luhan, menghirup aroma rambut pria cantik itu dalam-dalam. “Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Luhan…begitupun kau dan aku.”

 

 

Dan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Sehun itu, cukup untuk membuat Luhan tertegun dalam. Memang tak ada yang sempurna di dunia ini.

 

 

‘Ya…tenyata begitu…’ –pikir Luhan, membenarkan.

 

 

*****

Kris tak menyukai pemandangan musim gugur, sejujurnya. Cokelat, kering, meskipun dedaunan yang masih segar tampak berwarna-warni seperti pelangi pada dahan-dahan pohon yang menggantungnya, dia tak menyukainya. Namun kali ini adalah pengecualian, karena sesosok pria yang berjalan di tengah-tengah pemandangan tak menyenangkan itu membuatnya tak bisa melepaskan pandangannya dari sana, melalui etalase resto Italia bernuansa klasik yang menaunginya saat ini. Matanya mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh pria itu dengan tatapan memuja yang sama, seperti yang pernah dia berikan 9 tahun yang lalu, hingga pria itu berdiri tepat di hadapannya. Seolah menemukan sesosok Sylph yang sangat cantik, Kris menatap pria itu tanpa henti.

 

 

“Jadi apa lagi kali ini? Apa yang ingin kau tanyakan padaku? Katakan saja intinya, pekerjaanku sangat banyak.” Luhan bertanya tanpa menatap ke arah Kris, malah memilih menatapi hal yang tak disukai oleh Kris tadi, melihat pemandangan musim gugur di luar sana.

 

 

“Kau tak pernah berubah, Luhan. Arogan, keras kepala, dan juga, –munafik.”

 

 

Ucapan menyebalkan yang memberikan cukup alasan bagi Luhan untuk menatap pria setengan bule itu dengan tatapan tajam menusuknya. “Maaf? Munafik?” tanyanya, tersinggung.

 

 

Kris mengedikkan bahu. “Aku yakin kalau aku baru saja mengatakannya,” jawabnya tak peduli.

 

 

Luhan membuang nafas kesalnya. “Aku datang kesini bukan untuk dihina olehmu Kris, jadi lebih baik aku–“

 

 

“Jangan terburu-buru begitu.”

 

 

Luhan menghentikan gerakannya yang hampir saja berdiri, dan kembali duduk dengan raut wajahnya yang kusut. Sebenarnya dia tak memiliki masalah apapun dengan Kris, hanya saja sikap Kris yang terlihat terlalu mencampuri urusan pribadinya terasa amat menganggu. Beberapa waktu yang lalu, pria blonde ini tiba-tiba saja mengajaknya bertemu dan menyinggung masalah orientasi seksualnya yang entah mengapa membuat lelaki itu merasa begitu tertarik. Keseksian dan kesempurnaan yang sejak dulu dia predikatkan pada pria itu secara diam-diam jadi terkikis, bahkan sudah hampir habis karena sifat menyebalkan Kris yang baru kali ini dia ketahui.

 

 

“Kukira kau tertarik padaku.”

 

 

Mata yang sejak beberapa detik lalu hanya menatap sekumpulan potongan sosis iris dan paprika serta keju leleh –toping pizza– di hadapannya seketika beralih dan jatuh pada wajah Kris. Seringaian miring dan tatapan tajam pria setengah bule itu membuat mata Luhan memicing. Benar-benar. Segala bentuk pemujaannya ‘dulu’ pada pria sangat tampan itu benar-benar lenyap, hanya menyisakan rasa muak yang membuat perutnya mual. Kau pasti akan mengerti jika kau melihat bagaimana ekspresi wajah Kris saat ini.

 

 

Luhan terkekeh kecil, kemudian dia ikut menyeringai sinis. “Kurasa kau terlalu percaya diri, Tuan Wu. Maaf membuatmu kecewa, tapi aku tidak tertarik padamu. Bahkan aku tak mengerti ketertarikan macam apa yang kau maksud.”

 

 

“Masih saja berpura-pura normal.” Kris masih tetap tersenyum menyebalkan dan mencondongkan tubuhnya kali ini. Kedua lengannya bertumpu pada meja dan matanya menatap lekat-lekat wajah Luhan, masih saja mengangumi paras pemuda itu yang membuatnya tak bisa beralih meskipun 9 tahun telah berlalu. “Kau yakin tak pernah tertarik padaku, Luhan?”

 

 

“Apa maksudmu?” gerutu Luhan, mulai muak dengan obrolan ini.

 

 

“Kau sangat pintar. Kau pasti mengerti maksudnya.”

 

 

Luhan membuang arah pandangannya. Gejolak emosi dan muak, dan entah apa lagi menyengat kepalanya secara tiba-tiba. Ya, dia mengerti. Kris pasti telah mengetahuinya. Jangan lupakan fakta bahwa pria bule ini juga sangat cerdas.

 

 

“Jika kau bersikeras menyimpulkan bahwa aku ini gay,” ujar Luhan, sedikit getaran pada jemarinya atas rasa malu untuk mengakui ini semua, “yes, I’am.”

 

 

Luhan yakin, dia dapat melihat dengan sangat jelas jika senyuman Kris berubah menjadi seringaian secara perlahan. Pria itu menatapinya terus-menerus, membuatnya risih.

 

 

“Kau boleh mengejekku sepuasmu. Tapi kuharap kau tak akan membeberkannya kemana-mana. Ini memalukan. Aku telah menyimpannya begitu lama dan mencegah orang-orang mengetahuinya. Dan kau disini, merusak semuanya.” Luhan memijit pelipisnya, merasa agak frustasi setelah mengakui ini semua, bukannya merasa lega. Walau bagaimanapun, Kris tak memberikannya cukup alasan untuk membuatnya yakin bahwa pria itu bisa dipercaya.

 

 

Kris berdehem. “Jadi kupikir, ehm maksudku, aku masih sangat yakin Luhan,” gumamnya, menopangkan dagu dan menatap Luhan sambil tersenyum, “kau pernah menyukaiku.”

 

 

Luhan terdiam. Dia bersumpah tak akan menjawab pernyataan tolol yang akan membuat harga dirinya jatuh. Sebaliknya, dia memilih untuk menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan mengangkat dagu untuk menunjukkan bahwa dia bukanlah pria lemah yang mampu dipermalukan dengan seenaknya oleh rekan bisnis yang tak memiliki arti apapun bagi dirinya meskipun pada kenyataannya Kris pernah membuatnya begitu tertarik hingga dia pernah sangat ingin menggiring Kris ke atas ranjangnya di masa lalu.

 

 

“Kupikir kau straight, Kris. Dada wanita dan lekukan pinggul yang seksi pasti sangat menarik untukmu. Jadi kenapa kau harus repot-repot mengamatiku saat kau bisa melakukan apapun yang kau sukai pada gadis-gadis itu? Kau tak seharusnya menyibukkan diri dan menyimpulkan bahwa aku tertarik, menyukaimu, or other nonsense which quite frankly made me feel sick when you discuss this ‘shit’ with me.”

 

 

Kris tertawa kecil. “Aku yakin jika yang kukatakan ini bukanlah omong kosong,” Kris mengulurkan tangannya dan menarik dagu Luhan dengan paksa, mencengkramnya hingga dia dapat merasakan bagaimana kerasnya ekpresi Luhan ketika dia melakukan hal itu. “Kau tertarik padaku, tapi kau terlalu munafik untuk mengakuinya.”

 

 

“Lepaskan tanganmu dari wajahku, brengsek! Berani sekali kau menyentuhku!” umpat Luhan, mulai gusar. Namun cengkraman pada dagunya malah semakin kuat hingga dia berjengit.

 

 

“Kau tahu apa yang membuatku jadi begitu peduli Luhan? Dia. Pria itu. Kau mungkin bisa menyangkal dan mengakui dia sebagai adikmu seperti yang kau katakan padaku beberapa waktu lalu, tapi aku bukan seorang idiot yang akan mempercayai ucapanmu begitu saja, apalagi kau adalah pria munafik yang sangat keras kepala. Pria berkulit sangat putih itu adalah ‘sesuatu’ untukmu, benar kan?” kata Kris, mengelus bibir bawah Luhan dengan ibu jarinya dan tersenyum licik, namun Luhan telah menyingkirkan tangan pria itu sekuat tenaga dari wajahnya.

 

 

“Jangan campuri urusanku!” Luhan berdiri dari posisi duduknya sambil mengelus dagunya yang sedikit sakit dan memerah. “Dan mengapa kau begitu tertarik pada Sehun?” –Luhan berjengit jijik –“Oh, sebaiknya aku tak usah peduli! Jangan hubungi aku lagi untuk membicarakan obrolan sampah seperti ini di masa depan.”

 

 

Luhan mulai melangkahkan kakinya dengan marah, namun dia menyempatkan diri untuk berbalik dan menatap Kris dengan tatapan penuh emosi yang terlihat begitu jelas melalui bola matanya yang menyala-nyala. “Dan Kris, kau adalah brengsek paling tak beretika yang pernah kutemui dalam hidupku. Aku menyesal pernah menyukaimu, asal kau tahu,” katanya, kemudian dia melemparkan senyuman sinisnya pada pria setengah bule itu sebelum dia benar-benar melangkahkan kakinya menjauh dari sana sambil merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ‘seseorang’.

 

 

Kris menatap punggung pria itu dengan senyuman yang terulas pada bibir. Entah mengapa dia bersikap seperti ini. Kenyataan bahwa Luhan membencinya sekarang bukan malah membuatnya merasa down, tetapi justru sebaliknya. Kris merasa tertantang untuk menaklukkan si keras kepala Luhan dan mendapatkan pria itu meskipun Luhan mungkin tak akan pernah menyukainya lagi. Sudah cukup rasa frustasinya dia lampiaskan pada gadis-gadis tak bersalah yang selama ini dia kencani tanpa perasaan akibat ketidak-pekaan Luhan pada perasannya yang sebenarnya sudah tak mampu dia tahan lagi sejak 9 tahun yang lalu. Cinta pertama yang membuatnya setengah gila dan merasakan frustasi berkepanjangan hingga sekarang. Memikirkan Luhan yang tak pernah mau menatapnya hingga waktu yang begitu lama membuatnya merasa begitu menderita. Dan ketika dia yakin bahwa Luhan sudah mulai menemukan keberadaannya, tiba-tiba saja pria asing berkulit pucat itu muncul dan merusak segalanya. Luhan harus merasakannya. Luhan harus mengerti bagaimana rasanya ‘dicintai’ oleh dirinya. Mulai dari sini dan untuk seterusnya dia tak akan membuang waktu lagi untuk menahan-nahan diri bagai idiot tolol seperti kemarin-kemarin. Apapun caranya, Luhan akan menjadi miliknya, meskipun dia harus menggunakan cara yang kotor sekalipun.

 

 

“Setidaknya kau baru saja mengakui bahwa kau pernah menyukaiku, sayang…” gumamnya, sambil mengamati sosok Luhan yang sekarang sudah mulai masuk ke dalam mobilnya sendiri melalui etalase resto dengan senyum yang tak pernah memudar dari wajahnya. “Namanya Sehun, hmm?”

 

 

*****

“Kau tidak berkerja hari ini?” Gadis itu bertanya sambil tetap sibuk mengancingkan coat selutut yang digunakan oleh Sehun, mengabaikan tatapan mata sipit yang sejak tadi terus-menerus terpaku pada wajahnya. Tak ada jawaban. Sehun hanya diam, dan tetap menatapnya tanpa henti, membuat gadis itu mendesah lelah kemudian berbalik dan pergi.

 

 

Senyum miris terulas pada bibir Sehun ketika gadis itu menjauh dan menghilang ke dalam kamarnya sendiri. Tapi mata sipitnya menjadi agak berbinar saat gadis itu muncul dengan syal abu-abu di dalam genggamannya. Lehernya terasa hangat oleh syal abu-abu yang membalut lehernya, dan hatinya meleleh melihat senyuman gadis itu. Lesung pipi yang dalam menghiasi wajah gadis itu, membuat Sehun lagi-lagi terpikat oleh wajahnya yang sangat cantik.

 

 

“Kita pergi?” tanya gadis itu, mengeratkan topi dan juga memakai masker untuk menutupi separuh wajahnya. Matanya tertarik ke samping saat Sehun mengangguk, menandakan jika gadis itu sedang tersenyum di balik maskernya.

 

 

“Ayo.” Sehun menggapai jemari gadis itu dan mengenggamnya erat-erat, membawa langkah mereka menuju gang kecil yang merupakan gerbang untuk menuju ‘dunia luar’.

 

 

Langkah kaki mereka bergerak berganti-gantian dan keduanya hanya diam tanpa suara. Langkah dari kaki yang lebih kecil terhenti ketika matanya menemukan Bugatti Veyron hitam mengkilat yang terparkir tepat di depan gang kecil dengan begitu gagah.

 

 

“Sehunnie, ini–”

 

 

Gadis itu menoleh dan menatap Sehun, bertanya melalui matanya. Sehun membuang nafas satu kali dan tersenyum, “bukan milikku, Noona…ini milik Boss. Aku juga tak menyangka jika dia akan meminjamkan yang seperti ini padaku,”jelas Sehun, menggaruk tengkuknya sendiri.

 

 

“Pekerjaan apa yang kau lakukan sampai Boss-mu mempercayakanmu untuk memakai benda yang sangat mahal seperti mobil ini? Kau belum boleh menyetir, Sehunnie…”

 

 

Sehun mengusap bagian belakang kepalanya dan meringis, “bisakah kita langsung berangkat saja sekarang?”

 

 

Gadis itu ingin menyela, namun memilih untuk mengurungkannya dan mengangguk pasrah pada akhirnya. Dia mengikuti langkah Sehun menuju mobil, lalu hanya duduk manis disana, menunggu Sehun duduk di kursi kemudi.

 

 

*****

Tak ada hal yang lebih disukai oleh Sehun di dalam dunia ini selain menghirup aroma tubuh Han Yoo Ri dalam-dalam. Di depan mereka agak ke bawah, hamparan rerumputan memanjang, menyambut danau kecil berair hijau yang permukaannya bergelombang lembut ketika ditiup angin.

 

 

“Di sini sepi dan tenang, aku menyukainya Sehun…”

 

 

Sehun menoleh ketika mendengar gadis itu bersuara. Lesung pipinya terlihat jelas. Gadis itu tersenyum sambil memejamkan mata. Rambutnya beterbangan ditiup angin, dan aroma shampoo-nya jadi menguar kemana-mana, membuat Sehun ikut memejamkan mata saat aroma rambut gadis itu menyapa indera penciumannya. Tubuhnya tersentak saat jemarinya disentuh oleh Yoori, memaksanya membuka mata hingga tatapan mereka bertemu dan saling terkunci untuk waktu yang lumayan lama. Tapi gadis itu beralih setelah beberapa detik panjang yang mereka lewati dengan saling menatap satu sama lain.

 

 

“Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, Sehunnie…Kau membuatku merindukan Seung Hwan…”

 

 

Sehun tercekat. Satu kalimat yang membuatnya seperti terjatuh dari lantai 27, sakit dan remuk.

 

 

“Kukira kau sudah mencoba menerima kehadiranku, tapi–“

 

 

“Tidak, Sehun!”

 

 

Yoori tersentak saat dia menoleh. Wajah Sehun memancarkan luka yang begitu dalam, membuatnya merasa sangat bersalah. “Maaf…” ucapnya, kemudian kepalanya tertunduk dalam.

 

 

Sunyi kembali menyelimuti keduanya. Canggung, aneh. Hanya suara desiran angin dan nyanyian serangga-serangga dari sekitar yang terdengar.

 

 

“Sampai kapan kau akan menyembunyikanku, Sehun? Aku lelah…”

 

 

Wajah Sehun mengeras. “Sampai mereka berhenti membencimu,” jawabnya singkat sebelum dia mengusap wajahnya dengan kasar.

 

 

Matahari di ujung sana mulai tenggelam. Bukit rendah yang mereka duduki juga menggelap, rerumputan bahkan sudah tak terlihat hijau lagi. Yoori menatap matahari itu dengan senyuman lebar sambil mengelusi perut agak buncitnya sesekali, sementara Sehun menatap sisi wajahnya dari samping tanpa suara.

 

 

“Terima kasih, Sehun…Aku tak tahu apa jadinya aku jika tanpa kau…” ucap gadis itu tanpa menoleh, masih setia menatapi matahari tenggelam di ujung sana.

 

 

Sehun tak menjawab. Pikirannya berkecamuk. Dia hanya diam sambil menatap matahari yang berwarna oranye melalui permukaan air danau. Matahari itu tampak tenggelam di dalam air, sama seperti dirinya sekarang, terjebak di dalam situasi aneh dan menyebalkan yang membuatnya sakit dan juga berantakan.

 

 

Getaran ponsel yang tersimpan di dalam saku membuyarkan semua pikirannya yang kusut. Sehun melihat ponselnya, dan menemukan berpuluh-puluh panggilan tak terjawab serta beberapa pesan dari satu ID yang sama, telah terkirim ke dalam benda persegi itu. Salah satu pesan paling terbaru dia buka, lalu senyumnya mengembang begitu saja tanpa dia sadari ketika dia membaca sederet kalimat egois yang tertera pada layar ponselnya.

 

 

‘Tunggu sebentar, aku akan segera pulang…’ –jawabnya dalam hati.

 

 

*****

Baru beberapa langkah saja Sehun memasuki Apartemen Luhan, dia sudah disambut oleh tatapan tajam yang berasal dari sepasang mata cantik dari pemuda yang berdiri di dekat sofa ruang tamu. Posisi tubuh pria itu sebenarnya tampak santai, dengan kedua tangan yang tersembunyi pada saku celananya. Namun wajah cantiknya mengeras, menunjukkan bahwa dia sedang marah.

 

 

“Kau lama sekali, Oh Sehun!”

 

 

Luhan berdecak dan mengerutkan keningnya dalam-dalam untuk mengekspresikan kekesalannya karena telah terlalu lama menunggu. Sementara Sehun hanya melemparkan senyuman simpul untuknya, senyuman yang mengakibatkan segala emosi yang menyengat otaknya sejak tadi mereda secara perlahan-lahan. Tak mengerti dengan perasaannya, Luhan merasa semakin frustasi dengan dirinya sendiri yang seolah kehilangan kepribadian semenjak dia mengenal pria bernama Oh Sehun ini. Emosi yang sejak tadi menumpuk di dalam kepalanya lenyap dan hilang tanpa jejak begitu sentuhan jemari Sehun menggelitik kulit pipinya. Dia memanas dan dia yakin jika pipinya mulai merona sekarang.

 

 

“Maaf Lu, aku tak bermaksud membuatmu menunggu lama. Banyak tugas kuliah yang harus kukerjakan hari ini, karena itu aku terlambat pulang.”

 

 

Luhan melirik pada jam dinding melalui sisi telinga Sehun. Belum terlalu malam sebenarnya. Masih jam delapan. Dia menghembuskan nafasnya ketika dia sadar bahwa sikapnya ini terlalu hiperbola. Seharusnya dia tak perlu semarah itu, toh Sehun juga memiliki kegiatan lain yang harus dia lakukan, apalagi alasan keterlambatan pria itu kembali ke Apartemen adalah karena tugas kuliahnya yang sepertinya memang sedang menumpuk.

 

 

“Aku tak suka melihat Apartemen kosong ketika aku pulang, sementara aku begitu membutuhkanmu.” Luhan membuang tatapannya ke arah samping, tapi dalam sekejap saja telinganya telah menempel pada dada Sehun.

 

 

Ya. Inilah yang dia inginkan, berada di dalam pelukan Sehun. Dia sudah menanti saat-saat ini sejak beberapa jam yang lalu. Hari ini dia lewati dengan begitu menyebalkan. Ponsel Sehun yang sulit dihubungi membuat darahnya naik sampai ke kepala, mengakibatkan emosi tak terkendali menyengat dalam hingga kepalanya sakit sekali tadi. Tapi sekarang semuanya telah lenyap, hanya dengan sentuhan kecil yang diberikan Sehun untuknya.

 

 

Luhan melingkarkan lengan pada pinggang Sehun, sementara pria yang lebih muda mengelus belakang kepalanya. Tak peduli pada gejolak di dalam kepalanya yang menyuruhnya untuk berpikir secara lebih rasional, Luhan malah bergerak pelan dan dengan sengaja mengecupi leher pemuda yang memeluknya. Tubuh dan aroma Sehun membuatnya kecanduan. Bibirnya tak mau berhenti menjelajah di kulit putih pria itu dan dia menarik nafas beratnya saat matanya menemukan belahan bibir merah memikat milik Sehun. Lengannya berpindah ke atas, mengalung di sekitar leher Sehun. Bola matanya juga berpindah, menatap tepat pada iris cokelat Sehun sambil berusaha berbicara lewat tatapan matanya. Dia berusaha mengatakan bahwa dia menginginkan sesuatu, dan harus Sehun yang memulainya.

 

 

Seolah mengerti, Sehun tersenyum sekali lagi dan mendekat. Dia kecup bibir Luhan yang terkatup satu kali, dua, tiga, dan beberapa kali dengan mata terbuka sehingga dia bisa melihat bagaimana wajah Luhan yang merona akibat perbuatannya. Ibu jari kanannya mengelus belahan bibir bawah Luhan sebelum dia tarik dagu pria itu sambil menariknya sedikit, berusaha membuka bibir itu agar dia bisa menciumnya dengan ciuman yang lebih basah dan dalam.

 

 

Dua kepala masih bergerak teratur, dengan bibir yang saling melumat lembut, terhanyut dalam ciuman yang memabukkan, tapi dering ponsel Luhan merusak semuanya. Luhan menggeram saat Sehun melepaskan ciumannya secara sepihak, padahal dia berencana mengabaikan panggilan laknat itu tadi.

 

 

“Ponselmu berdering. Jawablah, mungkin itu adalah sesuatu yang penting,” kata Sehun lembut. Dia mengusap kepala Luhan saat dia menangkap raut kekecewaan pada wajah cantik itu. Pemuda kaya itu bahkan memalingkan wajahnya ke arah kanan.

 

 

“Kita akan melanjutkannya nanti.” Ucapan Sehun itu membuat Luhan kembali menatapnya. “Setelah kau selesai menjawab panggilan itu,” lanjut Sehun.

 

 

Luhan mendengus, tapi dia melepaskan Sehun juga pada akhirnya. Dia raih ponselnya dengan gusar, tapi jantungnya jadi tak bisa tenang saat dia melihat nama Kris tertera pada layar ponselnya yang berkedip-kedip. Ragu. Luhan mendiamkan panggilan itu dan hanya memegangi ponselnya sambil menggigit bibir, ragu untuk menjawab, dan sejujurnya dia memang tak ingin menjawabnya. Dia terkesiap saat tubuhnya di tarik dengan tiba-tiba hingga bokongnya terduduk di atas paha Sehun. Entah kapan pemuda pucat itu melewatinya bahkan sudah duduk di sofa yang berada di belakang tubuhnya. Sepertinya beban pikirannya telah begitu besar, membuatnya jadi tak bisa fokus pada sekitar. Kris membuatnya merasa agak kacau, dan Luhan paling benci dengan keadaan seperti ini. Dia tak suka jika hidupnya seolah dikendalikan oleh seseorang, meskipun secara tak langsung seperti sekarang. Perasaan tak nyaman selalu menghantui, membuatnya muak dan marah.

 

 

“Kenapa tidak di jawab, hmm?” Sehun memeluk erat perutnya dan menghujani sisi lehernya dengan kecupan-kecupan kecil yang membuatnya merinding. Cumbuan ringan itu membuat aliran darahnya menjadi panas. Luhan memejamkan mata sambil memegangi ponselnya yang tak mau berhenti berdering sejak tadi. Dia memilih mengabaikan panggilan itu dan menikmati gerakan bibir Sehun yang lembut di kulit lehernya. Ketika matanya terbuka, Luhan mengerang dan dengan cepat dia lepaskan baterai ponsel itu sebelum dia melemparnya secara sembarangan di sofa single yang terletak di sisi kanan meja. Tanpa berkata apapun dia berbalik, memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Sehun.

 

 

“Kau pintar sekali membuatku bergairah. Aku tak yakin bisa mengontrol diri untuk tak menyentuhmu lebih jauh jika kau terus-menerus bersikap selembut ini padaku, Oh Sehun.”

 

 

Sehun terdiam. Luhan juga diam setelah mengatakan sederet kalimat itu. Keheningan yang panjang membuat Luhan muak sendiri. Dia menyentuh rahang Sehun, tapi entah mengapa pemuda itu malah memalingkan wajahnya ke arah kanan, membuat dahi Luhan berkerut bingung. Tanpa mau peduli dengan apa yang dipikirkan oleh pemuda pucat itu, Luhan memaksa Sehun untuk menatapnya kembali.

 

 

“Jangan memalingkan wajah saat aku berada di hadapanmu, aku tak suka.”

 

 

Luhan tersenyum miring ketika kepala Sehun tak bergerak lagi, benar-benar patuh. Bahkan Sehun tak berani mengalihkan pandangan matanya dan hanya menatapnya saja sekarang. Beberapa detik mereka habiskan dalam diam. Dada Luhan tak mau berhenti bergemuruh saat dia menatap wajah Sehun lekat-lekat. Percikan emosi kembali muncul begitu saja tanpa mampu dia hindari saat dia menyadari satu hal, yang merupakan fakta tak terbantahkan dan membuatnya mengerang sedikit karena merasa terlalu frustasi.

 

 

Dia benar-benar jatuh cinta. Pada Sehun. Pada pria bayaran ini. Pada manekin hidup berwajah tampan ini.

 

 

Tak ada gunanya menolak lagi. Perasaan ini sudah sangat jelas. Dia tak perlu menyangkalnya lagi meskipun dia yakin jika dia tak akan pernah mengakui hal itu dengan mulutnya sendiri. Dia akan menahan diri untuk menutupinya. Sehun tak boleh tahu tentang apa yang dia rasakan. Harga dirinya akan jatuh jika dia mengatakannya. Dia harus bisa menyembunyikan ini rapat-rapat dan menyusun rencana agar Sehun tetap berada di sisinya sampai kapanpun, apapun caranya. Dia tak akan melepaskan pemuda tampan ini. Sehun, adalah miliknya.

 

 

“Ayo kita lanjutkan, sayang….”

 

 

Luhan mengangkat dagu Sehun dengan tangannya, dan melemparkan senyuman ketika tatapan mata Sehun bertubrukan kembali dengan matanya.

 

 

“Cium aku lagi. Jangan berani melepaskannya sebelum aku merasa bosan,” kata Luhan dengan nada tegas yang mewarnai suaranya. Sedikit mengangkat dagunya, Luhan menunjukkan arogansinya pada pria pucat yang masih menatapnya tanpa suara itu.

 

 

Sehun tersenyum lelah, tapi dia tetap melakukannya dengan patuh. Dia menurunkan dagu runcing pemuda cantik yang duduk di pangkuannya itu, mengelus pipi Luhan dengan lembut, berusaha mengurangi ekspresi kesombongan yang terpahat di sana.

 

 

“Jangan begitu. Aku lebih suka melihat wajah meronamu yang cantik ketimbang wajah sombongmu ini,” kata Sehun sebelum dia raih kembali bibir Luhan, menyesapnya lembut, meskipun hatinya berteriak perih dan ingin segera keluar dari keadaan ini.

 

 


To Be Continued


A/N : Thanks For Reading^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Advertisements