Male Depose


MALE DEPOSE

.

.

By tmarionlie

.

Poster By L.E Design

.

.

 

HunHan

.

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


CHAPTER 2


 

Entah sejak kapan sinar matahari berhasil masuk ke dalam kamarnya. Ini adalah kali pertama tidurnya terganggu akibat bias cahaya matahari yang terasa menusuk pada kelopak matanya yang terpejam. Sedikit mengutuk dalam hati, Luhan membuka mata, namun sumpah serapahnya seketika menguap oleh objek yang ia tangkap dengan indera penglihatannya untuk pertama kali. Ya, di hadapannya sudah ada Oh Sehun. Sudah rapi. Aroma sabun bercampur body mist menguar dari kulit pemuda pucat itu. Mug hitam berpola Bambi dengan list putih berada di dalam genggamannya, masih mengeluarkan uap hangat dari dalamnya. Dan yang terbaik adalah, pemuda tampan itu sedang tersenyum. Senyuman menawan yang tercipta melalui kedua belah bibirnya yang tipis dan merah basah. Senyuman selamat pagi untuk ‘pemiliknya’.

 

 

“Pagi.”

 
Luhan mengangkat sebelah sudut bibirnya dan bagkit dari posisi berbaringnya.

 

 

“Yeah, selamat pagi juga, Oh Sehun.”

 

 

“Tidurmu nyenyak sekali, tapi aku harus memaksamu bangun. Bukankah kau harus bekerja?” Sehun menyodorkan mug hitam yang ia pegang pada Luhan, yang langsung di sambut oleh pemuda cantik itu.

 

 

“Americano?” Luhan menaikkan alisnya, dan Sehun mengangguk, masih tetap tersenyum. “Darimana kau tahu kalau aku menyukai minuman ini? Ini adalah minuman favoritku selain bubble tea.”

 

 

Sehun membulatkan mulut, “kau menyukai bubble tea juga?” –Luhan mengangguk dan senyuman Sehun melebar–“aku juga menyukainya…mungkin kapan-kapan kita bisa membelinya berdua…umm, kalau Americano ini, aku hanya menebak-nebak. Berbagai macam jenis kopi instan ada di dapurmu, tapi hanya jenis ini yang sudah hampir habis, menandakan bahwa kau lebih suka menyeduh yang ini ketimbang yang lainnya.”

 

 

“Kau cerdas juga rupanya.”

 

 

“Tentu saja.”

 

 

Luhan terkekeh, kemudian menyeruput kopi itu dengan bola mata yang tetap mengarah pada wajah Sehun. Matanya tetap tak beralih meskipun ia meletakkan mug setengah berisi dari genggamannya ke permukaan nakas. Wajah Sehun yang tampan tak pernah membuatnya bosan memandangi pria pucat itu, semuanya begitu memikat, Luhan menyukainya.

 

 

Melemparkan senyuman manis, Luhan berdiri dengan lututnya. Ia bergerak mendekat pada Sehun dan menjatuhkan dirinya pada pelukan pria pucat itu. Tentu saja Sehun langsung menyambutnya, memeluk tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Wajah Luhan tersembunyi pada lekukan lehernya, dan Sehun berjengit sedikit saat Luhan menghirup aroma lehernya dalam-dalam serta menghujani lehernya dengan beberapa kecupan di sana-sini.

 

 

“Kau harum sekali Sehun…”

 

 

Sehun membasahi bibirnya, kemudian ia tersenyum simpul. “Tentu saja. Aku tak ingin terlihat berantakan di depan kekasihku…”

 

 

Luhan mengangkat wajahnya hingga matanya bertemu tatap dengan mata Sehun. “Kau menyindirku? Aku tak seberantakan itu,” katanya tersinggung, lalu melanjutkannya dengan gembungan di pipi yang terlihat lucu. Ia beringsut turun, merebahkan kepalanya sendiri di paha Sehun, dan usapan lembut dari jemari panjang Sehun menyusuri helaian rambut cokelat madunya yang sedikit ikal. Ekspresi cemberut yang terlihat menggemaskan itu membuat Sehun berdebar halus. Pemuda cantik ini ternyata adalah pria yang manja, dan–

 

 

‘Menggemaskan sekali…’ –pikir Sehun.

 

 

Keduanya sama-sama diam, mata masih saling menatap dalam. Jemari Luhan bermain di sekitar dada Sehun, tapi beberapa detik saja, Sehun telah menggenggamnya. Sedikit mengeluarkan tenaga untuk mengangkat kepala Luhan, Sehun menahan tubuh mungil Luhan dengan lututnya. Ia melemparkan senyuman satu kali, kemudian ia mendekat dan mendaratkan satu kecupan selamat pagi pada kening pemuda cantik itu, hidungnya, dan juga satu bagian dari pipi Luhan yang merona. Tapi Luhan menempelkan telapak tangannya dengan cepat pada bibir Sehun saat pemuda itu hampir meraih bibirnya, membuat alis sempurna Sehun saling bertaut menampilkan ekspresi bingung.

 

 

“Kau tahu? Aku telah mengalami morning erection parah dengan hanya melihat wajah dan menghirup aroma tubuhmu. Kalau kau menciumku, aku takut tak bisa mengendalikan diriku sendiri, Sehun sayang…” Luhan mengedipkan matanya sambil tersenyum miring, dan ia bangkit dari posisinya, memberikan sedikit jarak dengan Sehun. “Aku akan mandi sekarang, setelah itu kita sarapan bersama, okey…” lanjutnya.

 

 

Luhan masih sempat mendaratkan satu kecupan pada pipi Sehun sebelum menapakkan kakinya pada permukaan lantai dan melangkah gemulai menuju kamar mandi, meninggalkan Sehun yang masih duduk tertegun di tepian ranjang. Sepanjang Luhan melangkah, robe satinnya melambai hingga paha putihnya sesekali terlihat. Sehun menatapnya tanpa henti hingga punggung sempit pemuda cantik itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Senyuman tipis terukir pada bibirnya. Ia pegangi dadanya sendiri. Debaran aneh dan asing menelusup di sana, getaran-getaran halus yang ia tak tahu apa itu, membuatnya sedikit gelisah dan juga bingung.

 

 

.

-Male Depose-

.

 

Luhan menyusuri helai-helai rambut cokelatnya yang lembab menggunakan tangan kiri. Kerutan samar tercipta pada keningnya ketika ia menatap bayangan dirinya sendiri pada cermin yang berada di hadapannya. Gila. Jantungnya tak pernah bisa berhenti bertalu sejak tadi. Oh bukan sejak tadi, tapi sejak kemarin. Setelah memikirkan banyak hal di kamar mandi kemarin siang dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa segalanya akan baik-baik saja hingga ia akhirnya bisa memaksakan diri untuk bertingkah dengan begitu tenangnya di depan Sehun, sebenarnya debaran-debaran aneh yang menelusup ke dalam dadanya itu tetap saja tak mau hilang. Ia masih dapat mengingat dengan jelas saat ia dan Sehun berciuman sebelum keberangkatan mereka ke konser Saxophone kemarin. Itu adalah ciuman pertamanya. Pengalaman ciuman pertama yang begitu dalam dan menggairahkan, basah dan manis. Ia tak akan pernah menyesal karena memberikan ciuman pertamanya pada Sehun, lagipula ia benar-benar menginginkannya. Ia telah begitu lama merasa penasaran oleh sensasinya. Mengeluarkan uang begitu banyak dan tak mendapatkan apapun adalah ide yang buruk. Meskipun ia tak bisa menyentuh tubuh Sehun lebih jauh, setidaknya ia bisa dengan bebas berciuman dengan pemuda tampan itu kapanpun ia mau.

 

 

Ketika Luhan keluar dari kamar mandi, Sehun masih berada di sana, berdiri di depan lemari. Pemuda itu melemparkan senyuman untuknya. Dua buah hanger yang menggantung pakaian formal yang biasa Luhan pakai untuk bekerja berada dalam genggaman tangan Sehun, menunjukkannya pada Luhan, yang membuat kedua alis Luhan mau tak mau naik karena tingkahnya. Luhan menghampiri pria pucat itu, lalu ia menyilangkan tangan di depan dadanya yang telanjang.

 

 

“Apa yang kau lakukan?”

 

 

“Membantu memilihkan pakaian kerja untukmu,” jawab Sehun, masih dengan senyuman yang menghiasi bibir tipisnya.

 

 

Luhan memicingkan mata, tapi sekejap kemudian ia telah mengalihkan tatapannya pada dua set pakaian yang ‘dipilihkan’ oleh Sehun itu. Ia menunjuk salah satunya setelah melewati beberapa detik menatap dua set pakaian itu secara berganti-gantian.

 

 

“Pilihan yang bagus,” komentar Sehun. Dan dia mengembalikan salah satunya ke dalam lemari. Setelahnya, ia meletakkan pakaian yang ia pegang ke handle pintu lemarinya, dan ia dorong lembut tubuh Luhan menghadap cermin yang berada di sebelah kiri lemari, sementara ia berdiri di belakang tubuh Luhan. Sehun meraih tube berisi krim mahal yang biasa digunakan oleh Luhan, mengeluarkan sedikit isinya lalu mengoleskannya pada kulit wajah pemuda cantik itu, tetap tersenyum sepanjang ia melakukannya. Dan Luhan hanya diam saja sampai Sehun selesai, terlalu sibuk dengan debaran jantungnya yang menggila.

 

 

“Tingkahmu manis sekali Oh Sehun.”

 

 

Senyum Sehun semakin melebar. “Terima kasih.”

 

 

Keduanya tak bergerak setelahnya, hanya saling tatap melalui pantulan cermin yang berada di depan mereka. Luhan tak tahu mengapa matanya tak bisa lepas dari wajah Sehun, seolah-olah tatapan matanya telah terpaku di sana dan tak bisa beralih fokus lagi. Sehun menatapnya juga dengan begitu dalam. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu, Luhan juga tak tahu. Beberapa detik panjang yang begitu menyiksa karena jantungnya meronta-ronta seperti hendak tercabut dari tempatnya.

 

 

Luhan terkesiap dan menatap ke bawah secara refleks saat ia merasakan sesuatu mendarat pada perutnya yang telanjang, dan ia menemukan telapak tangan kiri Sehun telah menempel di sana. Belum lagi keterkejutannya lenyap, bahunya yang sebelah kanan tiba-tiba saja telah dikecup oleh Sehun, dan dalam seketika tubuhnya bergetar, perutnya geli, dan kepalanya seperti tersengat oleh listrik dalam sekejap, membuat otaknya berkabut. Luhan merinding.

 

 

“Se…hun…”

 

 

“Hmm?” Sehun menjawab tanpa menjauhkan bibirnya dari bahu Luhan. Gumamannya menciptakan getaran halus di bahu Luhan, namun mampu menciptakan debaran kencang pada dada pria yang ia cumbui itu.

 

 

Jika kau tanya mengapa Luhan berbalik lalu mendorong tubuh Sehun ke atas ranjang dan langsung naik ke tubuh pemuda pucat itu, maka jawabannya adalah ia juga tak tahu. Ia bahkan mengabaikan handuknya yang terlepas dan terjatuh begitu saja ke lantai ketika ia berusaha merangkak ke atas tubuh Sehun, hanya menyisakan panty hitam ketat sebatas pangkal paha yang menutupi areal pribadinya. Ia duduk di atas perut Sehun, sementara kedua tangannya menekan bahu Sehun dengan sangat kuat. Matanya menatap tajam pada mata pemuda yang berada di bawah, dan nafasnya memberat.

 

 

“Oh Sehun, kau itu–“

 

 

Ia tak melanjutkan ucapannya lagi karena ia akan lebih memilih untuk menggapai bibir tipis basah milik Sehun ketimbang melanjutkan ucapannya yang hanya akan membuang-buang waktu. Ia sesap bibir Sehun kuat-kuat, membuat pemuda yang berada di bawah sedikit berjengit. Satu belaian lembut dari jemari Sehun pada lengkungan punggung telanjangnya membuat Luhan tak bisa berhenti lagi. Ciumannya semakin menggila, dengan kepala yang telah bergerak memutar ke kanan dan ke kiri, hingga Sehun agak kewalahan membalasnya. Nafas mereka beradu hangat, dan Luhan menggeram penuh nafsu saat Sehun menelusupkan jemari panjangnya ke dalam helaian rambut cokelat madunya, meremasnya lembut. Tubuhnya terasa begitu panas karena Sehun memeluk pinggangnya dengan sangat erat.

 

 

Satu gerakan lembut dan posisi mereka telah berubah. Luhan mendesah halus saat bibir Sehun berpindah ke lehernya, mengecupi kulit lehernya di beberapa tempat dan kesempatan itu Luhan gunakan untuk menghirup nafas dalam-dalam. Baru sebentar, ciuman Sehun telah kembali pada bibirnya. Beberapa lumatan lembut diberikan oleh Sehun, lalu segalanya berakhir, menyisakan desah kecewa dari bibir Luhan.

 

 

“Kau akan terlambat bekerja…” kata Sehun mengingatkan. Ibu jarinya menyapu bibir Luhan yang basah, mengusap lelehan saliva mereka dari sana. Senyuman lembutnya kembali ia tunjukkan pada Luhan, dan lagi-lagi Luhan merinding dibuatnya.

 

 

Beberapa detik dan Luhan hanya diam, tak ingin bergerak dan ia juga tak membiarkan Sehun memberi jarak pada tubuh mereka. Jari-jari tangan kanannya mengelus rahang Sehun, dan matanya menyusuri wajah Sehun tanpa suara.

 

 

“Kau tampan sekali, Sehun…” kata Luhan, jujur. Ia memejamkan mata saat Sehun menghadiahkan satu kecupan lagi pada keningnya dan melanjutkannya dengan senyuman yang masih sama tampannya dengan yang sudah-sudah. “Terima kasih,” jawab Sehun.

 

 

Luhan menarik satu sudut bibirnya dan mengangguk, lalu tanpa berperasaan ia dorong keras tubuh Sehun dari atas tubuhnya hingga Sehun terbaring telentang pada ranjangnya, tapi pria itu langsung bangkit dan duduk di permukaan ranjang. Luhan turun dari ranjang dan melenggok tanpa malu meskipun ia hampir telanjang. Ia melangkah menuju lemari pakaian dan mulai memakai pakaian yang dipilihkan oleh Sehun tadi, sementara Sehun menatapnya terus-menerus tanpa suara dari posisinya. Ia melihat dengan jelas bagaimana sensualnya gerakan tubuh Luhan saat pemuda itu membungkuk untuk mengenakan pakaiannya. Bokong Luhan yang padat membuat otaknya jadi berpikir yang aneh-aneh, tapi–

 

 

‘Berhenti menatapinya Sehun, kau itu normal! Dan lagi, dia itu –29’

 

 

Sehun menggelengkan kepalanya, mencoba menepis sekelebat pemikiran aneh dalam otaknya yang sepertinya tengah kacau. Di hadapannya Luhan terlihat sibuk menyemprotkan parfum pada kulit tubuhnya yang terbuka. Meskipun Luhan membelakangi Sehun, namun bayangan tubuhnya terlihat begitu jelas dari pantulan cermin. Kemejanya memang sudah ia pakai, namun belum dikancingkan. Sehun bahkan bisa melihat dengan jelas lekukan-lekukan abs pemuda cantik itu melalui cermin meskipun jarak mereka agak jauh. Dia beringsut turun dari ranjang, kemudian ia hampiri Luhan dan membantu pria itu mengancingkan kemeja birunya. Luhan hanya diam saja, membiarkan Sehun menyelesaikan pekerjaannya.

 

 

“Kau tak perlu membantuku melakukan hal-hal yang kecil Sehun. Kau ini bukan butler-ku.”

 

 

“Tak apa. Aku senang memanjakanmu,” jawab Sehun.

 

 

Luhan tertawa kecil. Ia memejamkan mata saat Sehun menyemprotkan hair spray pada rambutnya dan membantu menatanya. “Kau akan kemana saja hari ini?” tanya Luhan dengan mata yang terpejam.

 

 

“Tentu saja kuliah. Aku ini masih mahasiswa, kau tahu?”

 

 

“Oh.”

 

 

Luhan membuka matanya dan ia langsung disambut dengan jas semi formal yang telah dibentangkan oleh Sehun. Sambil tersenyum, ia julurkan kepalan tangannya pada lingkaran tangan jas itu, memakainya.

 

 

“Dengan apa kau berangkat kuliah?”

 

 

“Umm, bus.”

 

 

“Menyebalkan sekali. Besok aku akan membelikanmu mobil.”

 

 

Sehun terkekeh. “Tak perlu. Aku mendapatkan gaji yang begitu besar darimu. Jangan membuang-buang uangmu lagi untuk memberikanku fasilitas ini dan itu yang tak berguna.”

 

 

Luhan mendecih, namun tetap tersenyum. Dia berbalik dan ia tangkup kedua rahang Sehun dengan telapak tangannya. “Jangan munafik sayang, aku tahu kau membutuhkannya. Kau adalah milikku, milik Xi Lu Han. Dan kau lihat? Apapun yang menjadi milikku tak ada yang usang dan murah. Aku akan membuatmu menjadi lebih tampan dari sekarang.”

 

 

Diam. Sehun tak mengatakan apapun bahkan sampai Luhan melepaskan wajahnya dan berbalik menuju pintu kamar. Dia hanya mengikuti langkah pria itu dari belakang. Menarikkan kursi makan untuk Luhan duduk agar pemuda cantik itu bisa sarapan dengan tenang. Beberapa menit yang panjang hanya mereka habiskan tanpa suara –sarapan. Hingga satu pertanyaan keluar dari bibir Luhan.

 

 

“Oh Sehun…”

 

 

“Ya?”

 

 

“Kau…kuliah di Universitas apa?”

 

 

Sehun terkesiap, lalu hanya diam dan menatap lurus pada slice roti panggang yang berada di hadapannya. Lagi-lagi pertanyaan simpel, tetapi–

 

 

‘Aku harus menjawab apa?’

 

 

“Ngg…aku…”

 

 

.

-Male Depose-

.

 

Sajangnim, dokumen ini memerlukan tanda tangan Anda.”

 

 

Luhan menggerakkan jarinya, menyuruh Sekretarisnya itu mendekat padanya. Gadis cantik berpostur tinggi itu melangkah dengan riang menuju ke arahnya. Map biru yang ia pegang ia letakkan di hadapan Luhan, sedang ia merundukkan tubuhnya di hadapan Luhan hingga belahan dadanya terlihat begitu jelas, membuat Luhan tersenyum simpul ketika ia menarik map dokumen itu mendekat padanya.

 

 

“Aku menyukai bentuk dadamu…” kata Luhan sambil mencoretkan tanda tangannya pada beberapa dokumen yang berada di hadapannya. Matanya melirik pada gadis itu saat ia telah selesai, dan ia dapat melihat jika gadis itu merona akibat ucapan frontalnya barusan. Tapi toh gadis itu tak mengubah posisi tubuhnya meskipun Luhan telah membicarakan bentuk dadanya secara terang-terangan.

 

 

“Terima kasih, Sajangnim. Saya senang jika Anda menyukainya.”

 

 

Luhan berjengit sedikit. ‘Tch, tak tahu malu sekali,’ –pikirnya jijik. Dia baru sadar jika gadis itu sengaja membungkuk agar ia dapat melihat belahan dadanya yang terbuka. Sengaja ingin menggodanya? Ha! Sayang sekali ia menggoda pria yang salah.

 

 

“Ehm, bukankah kau sedang berkencan dengan Kris?” tanya Luhan sambil menyodorkan semua dokumennya pada gadis itu. Dia dapat melihat jika gadis itu berjengit jijik.

 

 

“Sudah tidak lagi, Sajangnim. Kami sudah putus kemarin.”

 

 

Luhan terkekeh. “Kau dicampakkan? Sudah kuduga.”

 

 

Pipi gadis itu memerah, entah malu atau marah, tapi Luhan tak peduli. Dia malah sengaja sibuk menatap layar notebook-nya setelahnya. “Kau boleh keluar. Aku sibuk,” usirnya pada gadis itu tanpa perasaan.

 

 

Gadis itu sempat mengeluarkan dengusan samar yang sebenarnya dapat ia dengar dengan sangat jelas, namun Luhan pura-pura tuli. Mungkin harga diri gadis itu terluka karena ucapannya barusan. Tapi sekali lagi, itu bukan urusannya. Lagipula Kris memang terkenal brengsek, seharusnya gadis itu sudah menyiapkan diri lebih dulu sebelum ia dicampakkan.

 

 

Luhan mendesah lega saat tubuh gadis itu menghilang di balik pintu. Dia tekan punggungnya hingga kursi kerja yang ia duduki menjauh dari depan layar notebook-nya. Sekelebat bayangan Sehun menarik minatnya untuk membayangkan wajah pemuda tampan itu lagi. Ah, Sehun benar-benar menjungkir-balikkan dunianya. Dan–

 

 

“Oh shit!”

 

 

Luhan tersadar.

 

 

‘Tidak. Ini tidak benar. Aku tak boleh jatuh cinta padanya. Ini hanyalah main-main. Ini hanyalah keisengan. Aku tak boleh memikirkan dia terlalu sering. Ini adalah jebakan, ranjau perasaan tak masuk akal yang akan membawaku jatuh jika aku membiarkannya berkembang lebih jauh lagi. Tidak. Aku harus bisa mengendalikan diri. Aku tak boleh terjebak. Sehun bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah boneka. Manekin hidup pengusir kebosanan. Tapi….

 

–bagaimana jika…’

 

 

Dering ponsel memecah pikiran Luhan. Nama Kris berkedip-kedip pada layar ponselnya, cukup untuk membuatnya mengerutkan dahi karena bingung. Dia cukup jarang berinteraksi dengan pria setengah bule itu. Mereka hanya rekan bisnis. Meskipun Luhan pernah sangat menyukai Kris karena hormon gay-nya selalu bergejolak jika ia memandang pria tinggi itu. Tapi itu dulu. Jika sekarang, ia tak tahu apakah ketertarikan itu masih ada ataukah telah lenyap. Terutama setelah ia bertemu dengan Sehun.

 

 

Tanpa minat ia mengusap layar ponselnya, menempelkannya di telinga dan menjawab panggilan Kris, namun sayang sambungannya telah diputus oleh Kris karena ia terlalu lama menjawab. Luhan mengedikkan bahunya tak peduli, namun satu pesan masuk ke ponselnya.

 

 

Ayo bertemu. Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Dan aku juga ingin mengatakan sesuatu yang penting.

 

.

.

.

-Male Depose-

.

 

Di bawah pohon, di depan gedung Yonsei University. Sehun mengetuk-ngetukkan kakinya dengan bosan, menatap kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang di depannya. Beberapa kali mahasiswa-mahasiswa yang tampak asing menatap aneh dan penuh minat padanya, namun ia tak peduli. Sesekali ia menyingkirkan daun-daun kering yang tanpa sengaja tersangkut pada cardigan rajutan yang ia pakai, sesekali membasahi bibir sambil mensedekapkan lengan karena kedinginan.

 

 

Sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal berhenti tepat di depannya. Sehun mengulas senyum, dan ia langsung masuk ke dalam mobil itu tanpa membuang-buang waktu, lagipula udara dingin sudah hampir membunuhnya.

 

 

“Hai,” sapanya pada Luhan. Seyuman tak pernah luntur dari wajahnya sepanjang ia menyilangkan seat belt ke tubuhnya sendiri. Tapi Luhan hanya diam.

 

 

Dua puluh menit tanpa suara di dalam mobil. Tak ada satupun yang berkata-kata. Sejak tadi Sehun melirik pada Luhan, tapi tatapan pemuda cantik itu tak pernah teralihkan dari jalanan penuh dedaunan kering yang selalu beterbangan disapu oleh ban mobil yang mereka kendarai. Wajah Luhan terkesan dingin, dan gurat beban begitu jelas terlihat pada wajahnya. Sehun ingin bertanya, tapi ia tak tahu harus memulainya darimana.

 

 

Keheningan tetap terajut bahkan sampai mereka tiba di dalam Apartemen. Sepertinya mood Luhan benar-benar buruk, dan Sehun memutuskan untuk tak mengganggu pemuda itu untuk beberapa saat ke depan. Mungkin Luhan sedang mengalami frustasi karena pekerjaan, itulah yang dipikirkan oleh Sehun. Sudah hampir setengah jam berlalu, dan Luhan tak keluar juga dari kamar dalam mandi. Mungkin ia sedang berendam. Kesempatan itu digunakan Sehun untuk meraih ponselnya dan menyingkir menuju balkon. Jarinya bergerak cepat mengetuk-ngetuk layar ponselnya, menelepon seseorang yang membuatnya merasa khawatir sejak kemarin.

 

 

HaloNoona…”

 

 

“…..”

 

 

“Hmm, aku baik-baik saja. Apa kau muntah lagi?”

 

 

“…..”

 

 

“Baguslah…Aku sedikit lega karena telah mendengar suaramu…”

 

 

“…..”

 

 

“Aku tidak sedang menggombalimu. Aku benar-benar merindukanmu.”

 

 

“…..”

 

 

“Hmm…bagaimana bayinya? Apakah dia baik-baik saja?”

 

 

“…..”

 

 

Sehun tersenyum mendengar kelakar gadis yang berada di seberang sana. Dia memejamkan matanya, mencoba meredakan segala kecamuk perasaannya saat bayangan wajah mungil gadis itu merasuk ke dalam pikirannya. Tanpa berkata-kata, dia hanya diam mendengarkan suara gadis itu. Rasanya ia ingin menangis saja sekarang. Himpitan beban dalam dadanya terasa amat berat, dan semakin berat di setiap detiknya, jika ia memikirkan gadis itu. Hingga akhirnya keduanya sama-sama diam. Sehun tak tahu apakah gadis di seberang sana masih mendengarkannya atau tidak. Mungkin dia sudah tertidur. Dia sangat suka tidur selama dia hamil, dan Sehun tak dapat melakukan apapun selain hanya memakluminya.

 

 

Sehun meremas kepalan tangannya. Perasaannya kembali membuncah saat sekelebat bayangan kilas balik masa lalu merasuk ke dalam pikirannya. Dia tak tahu mengapa ia bisa serapuh ini jika mengingat saat-saat itu. Entah apa. Entah mengapa ia selalu seperti ini.

 

 

“Noona…Saranghae…”

 

.

.

.

.

.

Sebenarnya Sehun tak berniat mengusik Luhan sama sekali. Tapi ketika ia melihat benda silinder berasap yang terapit di antara jari tengah dan jari telunjuk kanan Luhan, Sehun tak bisa menahan dirinya lagi untuk tak menghampiri pemuda cantik itu. Satu gerakan cepat, dan batangan rokok yang masih tersisa setengah itu telah berpindah tangan.

 

 

“Jangan merokok.”

 

 

Luhan mendengus. “Jangan mengusikku Sehun. Aku sedang tak ingin di ganggu.”

 

 

“Jangan terlalu banyak pikiran…” Sehun menekan ujung rokok yang masih menyala itu sampai padam. “Nanti kepalamu sakit.”

 

 

Luhan memijit pelipisnya. “Berani sekali kau mengaturku. Kau pikir kau siapa? Kau bukan siapa-siapa, Tuan Oh.”

 

 

Sehun terkekeh. “Ya, terima kasih telah mengingatkanku. Aku hanya menggunakan kemurahan hatiku untuk memperingatkanmu, sebagai sesama manusia. Merokok tak baik untuk kesehatan.”

 

 

“Oh, Ya Tuhan…diamlah Sehun. Kau menyebalkan sekali.”

 

 

Luhan menyandarkan kepalanya malas pada sandaran sofa yang mereka duduki. Tapi sekejap kemudian kepalanya telah berpindah ke lengan Sehun karena pemuda pucat itu dengan sengaja menelusupkan lengan ke tengkuknya. Luhan hanya diam, malah menggeser posisi kepalanya ke dada Sehun, menyandar nyaman di sana. Suara pembawa berita malam dari televisi menemani keterdiaman mereka. Bola mata Sehun bergeser sedikit saat ia merasakan tangan Luhan bergerak dan meraih tangannya. Menurut dan patuh, Sehun ikut menggenggam tangan Luhan hingga mereka berakhir dengan jemari yang saling bertautan sambil menonton.

 

 

“Oh Sehun…”

 

 

“Hmm?”

 

 

“Mengapa kau tak pernah mau memanggiku dengan julukan? Oh, kau pernah memanggilku dengan satu julukan; Tuan Xi. Dan aku tak menyukainya.”

 

 

Sehun terdiam. Bukannya ia tak mau. Tapi ia tak tahu harus memanggil Luhan dengan bagaimana.

 

 

“Oh Sehun?”

 

 

Sehun berdehem. “Aku tak tahu harus memanggilmu apa,” jawabnya jujur. “Apa aku harus memanggilmu Luhan? Atau Luhan Hyung? Aku bingung.”

 

 

“Panggil namaku saja. Usia kita berbeda 6 tahun, tapi aku bersumpah tak akan mau kau panggil Hyung.”

 

 

Sehun terdiam. Sekelebat rasa bersalah menghantuinya, tapi ia tepis pikiran itu jauh-jauh.

 

 

“Sehun?”

 

 

“Ya?”

 

 

Luhan bergerak, menegakkan posisi duduknya hingga kepalanya tak lagi menyandar pada dada Sehun. Matanya menatap mata Sehun dalam-dalam, sementara Sehun menunggu. Dia tahu Luhan akan mengatakan sesuatu.

 

 

“Hubungan kita ini, jangan sampai ada yang tahu. Siapapun tak boleh ada yang tahu kalau kau adalah–itu.”

 

 

Sehun tersenyum saat kata-kata itu meluncur dari bibir Luhan. “Ya, tentu saja. Aku akan menutup mulutku rapat-rapat. Kau bisa mempercayaiku.”

 

 

“Jika ada yang menanyakan kau siapa, bilang saja kau adalah adikku. Aku mengizinkan kau memanggilku ‘Hyung’ ketika kita sedang tak berada di dalam Apartemen.”

 

 

Alis Sehun naik sebelah mendengarnya, dan Luhan mengalihkan tatapannya kembali ke televisi. Luhan tahu Sehun sedang menatap penuh tanda tanya padanya, membuatnya tak tahan sendiri, jadi ia mencoba mencurahkan isi pikirannya dengan jujur.

 

 

“Seorang rekan bisnisku mengendus hubungan kita. Entah bagaimana dia melihat aku dan kau bersama, dan yang lebih gila lagi, dia langsung menyimpulkan bahwa aku dan kau memiliki hubungan khusus dengan begitu cepat. Aku hanya khawatir jika dia benar-benar menemukan hubungan ini. Aku adalah pria terhormat, Sehun. Memalukan sekali jika orang-orang sampai tahu bahwa aku adalah pria yang menyimpang. Tidak, aku tak akan membiarkan itu terjadi. Karena itu–“

 

 

Luhan menatap Sehun, –“jaga rahasia ini rapat-rapat ya…” katanya sambil menarik tautan jemari mereka dan mengecup punggung tangan Sehun sebelum ia meletakkan telapak tangan Sehun itu ke pipinya sendiri.

 

 

Sehun tertegun. Satu kata yang terselip pada kalimat Luhan barusan, menohok perasaannya.

 

 

‘Rahasia.’

 

 

.

-Male Depose-

.

 

28 Oktober 2014, 06 PM, Nagwon Building Jongno-Gu, Seoul.

 

Kris menonton aksi Saxofonis dunia, Kenny G, yang sedang memainkan lagu-lagu dari album Paradise-nya dengan begitu khidmat. Perhatiannya tak pernah beralih fokus dari Saxofonis berambut ikal itu, baik semenjak konser dibuka hingga mendekati detik-detik lagu terakhirnya ini. Dia duduk di jajaran kursi VIP barisan ketiga, sedikit agak tinggi dari jajaran penonton VIP yang duduk di depan dan agak kebawah.

 

 

Dia berdiri dengan semangat dan langsung bertepuk tangan disaat konser telah berakhir, memberikan apresiasi diiringi decak kekagumannya pada Saxofonis populer yang tengah membungkuk sambil mengucapkan ‘thank you’ hingga berkali-kali di tengah-tengah panggung itu.

 

 

Tadinya perhatiannya hanya lurus ke tengah panggung, –tadinya. Tapi sebelah sisi wajah pria berambut cokelat madu yang sangat ia kenal di jajaran kursi VIP dua tingkat di depan sekaligus bawahnya tiba-tiba saja tertangkap oleh indera penglihatannya, membuat perhatiannya langsung teralihkan dari Saxofonis dunia yang masih memperlihatkan senyuman ramah-tamahnya pada seluruh penonton dari tengah panggung sana dalam sekejap. Kris memicingkan matanya untuk memastikan, dan alisnya naik sebelah ketika ia melihat seseorang –yang belum pernah ia lihat– merangkul pinggang sekaligus berbisik dengan begitu intim di telinga pemuda yang ‘menurutnya’ ia kenal itu.

 

 

Kris telah mencoba menepis pikirannya dan semoga saja ia salah lihat. Ya, ia sepertinya memang salah lihat. Tapi ternyata tidak. Pemuda itu memang dia, orang yang sangat ia kenal. Sang CEO Excellent Corp yang menjadi rekan bisnisnya selama ini. Kris tak mengerti dengan apa yang ia lihat sekarang. Yang pasti otaknya merekam dengan sangat jelas jika Luhan dan pria asing yang berada di sampingnya, saling melemparkan senyuman dan mereka berjalan beriringan menuju luar gedung –dengan jemari yang saling bertautan.

 

 

“Siapa pria asing itu? Apakah Luhan…gay?” gumamnya pada dirinya sendiri, dan sejak saat itu ia telah bertekad untuk mencari tahu lebih jauh.

 

.

-Male Depose-

.

 

“Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Kris?”

 

 

“Tanpa basa-basi Luhan. Aku hanya ingin tahu satu hal.”

 

 

“Dan bisakah kau langsung pada poin pentingnya saja?”

 

 

“Tentu saja. Yang ingin kutanyakan adalah, apakah kau…gay?”

.

.


 To Be Continue–


A/N : Big Thanks untuk Lieya buat posternya, love you dek ^_^

 

 

 

Advertisements