Male Depose

 

 

MALE DEPOSE


.

.

By tmarionlie

.

Poster By Lieya El Design

.

H
unHan

.

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature


.


.


CHAPTER 1


 

September. Padahal musim panas baru saja terlewati beberapa minggu yang lalu, namun udara sudah mulai mendingin. Untung saja di dalam kedai kopi kecil ini udaranya lumayan hangat berkat pemanas ruangan yang disediakan oleh sang pemilik. Luhan menopangkan dagu sambil menatap ke samping kiri. Tatapan matanya menembus etalase bening di sebelah kirinya, melihat daun-daun pepohonan yang berguguran di luar coffee shop. Sesekali ia mengecek arloji, lalu ia akan mendesah dan mengumpat. Seharusnya bukan dia yang berada di sini lebih dulu. Seharusnya pria berusia 23 tahun itu yang menunggunya.

 

 

Menyandarkan punggungnya yang lelah, Luhan mengalihkan tatapannya dari pemandangan musim gugur yang berada di luar sana. Tangannya terasa gatal, ingin segera meraih bungkus rokok dari saku coat cokelat yang ia pakai lalu menyulutnya barang sebatang atau dua batang. Sayangnya di ruangan ini telah diberi peringatan besar-besar untuk larangan merokok bagi para pengunjungnya. Peraturan konyol yang membuatnya lagi-lagi mendecak dan sedikit mengumpat jengkel. Menggelikkan jika memikirkan bahwa seseorang yang agung seperti dirinya harus menurut pada peraturan menyebalkan yang diciptakan oleh pemilik kedai kopi ‘kecil’ berdesain mewah yang berdiri di pinggir jalanan ini. Bukan apa-apa, hanya saja –ah, lupakan.

 

 

Luhan merogoh saku, kemudian meraih ponselnya sendiri dan mulai memainkan game agar ia tak mati kebosanan. Baru beberapa menit, layar ponselnya yang sejak tadi menampilkan pertarungan antara bajak laut dan monster gurita tergantikan oleh icon telepon yang diiringi oleh nada sambung berikut getaran. Dengusan muak terlepas dari hidung Luhan, tapi ia tetap menjawab panggilan itu.

 

 

“Ya.”

 

 

“…..”

 

 

“Tak perlu meminta maaf. Aku di dalam, masuklah. Meja nomor 14.”

 

 

Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Luhan memutus sambungan ponselnya secara sepihak. Terus terang saja ia hampir kehilangan minat pada pemuda tak tahu diri bernama Oh Sehun yang akan ia temui sebentar lagi. Menunggu adalah hal yang paling ia benci. Dan ia baru tersadar bahwa betapa tololnya ia karena mau menunggu pria asing yang tak jelas asal-usulnya itu sejak setengah jam yang lalu. Ia menutup segala aplikasi ponselnya lalu hanya duduk diam, menyandarkan punggung dengan nyaman sambil menyilangkan lengan di depan dada. Posisi duduknya yang arogan sempat menarik minat pengunjung lain untuk memberikan perhatian padanya. Raut wajahnya menampilkan ekpresi yang begitu dingin, sama sekali tak sesuai dengan wajahnya yang manis. Matanya awas, mengamati setiap manusia yang masuk ke dalam coffee shop, hingga ia menangkap sosok tinggi yang berjalan masuk sambil memperbaiki letak topi dan tas ranselnya beberapa menit kemudian.

 

 

Pemuda tinggi yang menggendong ransel pada bahunya itu terlihat celingukan ke sana-sini, hingga Luhan tak ragu bila pemuda itulah yang sedang ia tunggu. Luhan hanya diam memperhatikan dari jauh, hingga pada akhirnya pemuda itu menoleh ke arahnya. Wajahnya tak begitu jelas karena cap baseball bercorak merah yang ia pakai. Matanya hanya dapat melihat kontur tubuh pria berkulit sangat putih itu dari jauh. Luhan masih tak bergeming ketika pemuda itu melambaikan tangan dan melangkah lebar menuju ke arahnya, tapi matanya tak dapat beralih fokus lagi ketika jarak mereka telah begitu dekat. Sistem penglihatannya seolah terganggu dalam sekejap ketika pemuda pucat itu memutar posisi brim dari cap merah yang ia pakai ke arah belakang, membuat mata Luhan seolah melihat cahaya tak wajar yang mengiringi langkah pria berkulit pucat yang sedang berjalan ke arahnya itu. Entah mengapa ia terlihat begitu bersinar, dan juga–

 

 

“Meja nomor 14. Tuan Xi?” Pemuda itu membungkuk satu kali di hadapan Luhan, membuat Luhan terkesiap hingga pikirannya teralihkan dari keterpanaannya yang tak masuk akal. Ia menatap pemuda itu dari rambut hingga ujung kaki, menganalitis penampilannya dengan begitu cermat hingga fokusnya lagi-lagi mengarah ke wajah pemuda itu.

 

 

‘Tampan’ –batinnya memuji.

 

 

“Oh Sehun?” tanya Luhan, memastikan. Pemuda itu mengangguk. “Duduklah,” katanya lagi, mempersilahkan pria itu duduk dengan nyaman.

 

 

“Terima kasih.”

 

 

Pria bernama Oh Sehun itu menurunkan tas ranselnya, kemudian meletakkannya begitu saja di lantai. Dia duduk tepat di seberang Luhan, lalu terlihat sibuk menggulung kabel headset putih yang sejak tadi mengalung di sekitar jaket sport berwarna biru yang ia kenakan, sementara Luhan hanya diam sambil memperhatikan wajah pemuda tampan yang duduk di seberangnya itu.

 

 

“Kau 23?” tanya Luhan, membuat gerakan pria itu terhenti. Tatapan mereka bertemu untuk sekejap, lalu pria itu mengangguk.

 

 

“Ya.”

 

 

“Tapi kau terlihat lebih muda dari usiamu,” kata Luhan menilai.

 

 

Pria itu tertawa kecil, lalu menopangkan dagu di hadapan Luhan. “Kuanggap itu sebagai pujian, terima kasih. Tapi sejujurnya, Anda terlihat lebih muda dariku Tuan Xi…” katanya.

 

 

Luhan menaikkan alisnya. ‘Apa dia sedang menggombaliku?’ –pikirnya. Lalu ia hanya mengedikkan bahu sebagai respon. Lagi-lagi ia diam dan hanya menatap Sehun lekat-lekat. Ia tak menyangka jika pria yang ia pilih ini adalah pria yang sangat santai sekali dan juga–seksi. Dia kira dia akan menemukan pria kikuk atau semacamnya kemarin, tapi untunglah si Oh Sehun ini bukan tipe pria membosankan seperti itu.

 

 

“Xi Lu Han. Kau bisa memanggilku Luhan, bukan Tuan atau Tuan Xi,” kata Luhan sambil menjulurkan tangan. Sehun melemparkan senyum tampan yang sempat membuat Luhan merasa meleleh dalam sekejap sebelum ia sambut uluran tangan Luhan dengan hangat.

 

 

“Kau sudah tahu namaku. Panggil aku Sehun, itu nama asliku.”

 

 

Luhan mengangguk tanpa minat.

 

 

“Maaf atas keterlambatanku. Beberapa hal membuatku tak bisa tepat waktu. Aku akan melakukan apapun untuk menebusnya.”

 

 

Luhan membuang nafas satu kali. “Lupakan. Lebih baik kita membicarakan soal kontrak segera. Aku tak suka membuang-buang waktu.”

 

 

Sehun mengedikkan bahu sekali, kemudian kembali menopangkan dagu sambil menatap Luhan lekat-lekat. “Bisakah kita langsung membicarakan berapa gaji pokok yang akan kudapatkan?” tanya Sehun tanpa basa-basi, membuat senyuman miring Luhan jadi muncul karena ucapannya.

 

 

“Sebelum kita membahas itu, aku ingin bertanya tentang beberapa hal.”

 

 

Sehun mengangguk. “Tanyakan saja.”

 

 

Luhan menarik nafasnya satu kali. “Mengapa kau mau menerima pekerjaan ini?”

 

 

“Karena aku tertarik.”

 

 

“Apa yang membuatmu tertarik?”

 

 

“Aku butuh uang.”

 

 

“Untuk apa?”

 

 

Sehun menaikkan alisnya. “Haruskah aku mengatakan alasannya padamu?”

 

 

Luhan terdiam sekejap, lalu…”baiklah, lupakan.”

 

 

Sehun mengedikkan bahu.

 

 

Mereka terdiam hingga beberapa detik hingga akhirnya Luhan membuka suara. “Kau tahu kan, dengan menerima pekerjaan ini, kau secara mutlak akan menjadi ‘milikku’ sampai aku memutuskan untuk mengakhiri kontrak. Kau tak berhak menuntut apapun, termasuk mengajukan tuntutan untuk mengakhiri kontrak sebelum aku merasa bosan padamu dan memutuskan untuk tak memakaimu lagi. Aku adalah yang memutuskan segala hal di sini, bukan kau. Kau baik-baik saja dengan semua itu?”

 

 

“Oke.”

 

 

“Bagus. Kau tak perlu cemas, aku tak akan menuntut banyak padamu. Seperti yang sudah kukatakan, aku hanya butuh kau berakting sebagai kekasihku dan juga menjaga mulutmu rapat-rapat mengenai–kau tahu maksudku. Setelah itu kau tak perlu melakukan apapun lagi. Aku tak akan memaksamu melakukan hal-hal aneh untukku, jadi kau tenang saja.”

 

 

Sehun mengangguk mengerti.

 

 

Keheningan panjang menyelimuti hingga beberapa lama. Sehun menatap lurus pada pola-pola kambium kayu yang tampak jelas pada meja yang berada di bawah lengannya. Dengan jari telunjuk, ia merasakan tekstur halus meja itu sementara keningnya berkerut, berpikir. Ucapan Luhan mengenai kontrak yang tak berujung itu sedikit banyak mengusik pikirannya karena alasan tertentu, meskipun ia berpura-pura tak terganggu oleh hal itu –ah tidak, sebenarnya ia merasa terganggu, sejujurnya. Namun Sehun kemudian menyadari jika segala yang ia lakukan pasti akan memiliki konsekuensi, karena itu ia akan mencoba menerima segalanya dengan kemurahan hati yang ia miliki dan tetap bersikap setenang yang ia bisa.

 

 

“Lalu, tentang seks dan–“

 

 

“Aku sudah mencantumkan poin yang satu itu pada e-mail sampah yang kukirimkan padamu, Oh Sehun. Tenang saja, aku tak akan menuntutmu untuk memuaskanku di ranjang.” Luhan menunjukkan ekpresi sedikit keras, merasa agak terganggu oleh pertanyaan itu.

 

 

Sehun lagi-lagi mengangguk mengerti dan hanya diam setelahnya.

 

 

“Jadi apa keputusanmu, Sehun?”

 

 

Sehun menghela nafas beratnya, kemudian ia menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki. Ia tatap wajah Luhan lekat-lekat, dan mulai bertanya-tanya tentang mengapa pria semenarik Luhan harus rela mengeluarkan uang hanya untuk membayar seorang kekasih palsu seperti dirinya? Luhan sangat memikat–menurutnya. Segala yang ada pada diri pria itu sangat menarik, jujur saja. Lagipula soal orientasinya itu, sepertinya pria-pria tampan seharusnya tak akan menolak menjadi kekasihnya, jika mengingat bagaimana penampilan Luhan serta–

 

 

‘Bukankah kau sangat kaya?’ –batin Sehun.

 

 

“Oh Sehun?” Luhan melambaikan tangan tepat di depan wajah Sehun, menyadarkan Sehun dari lamunannya. “Kau memutuskan untuk meneruskan kontrak, atau–“

 

 

“Tentu saja.”

 

 

‘Tentu saja aku akan menerima pekerjaan tak masuk akal ini karena aku harus melakukannya. Aku tak punya pilihan, jika kau ingin tahu.’ –batin Sehun, kesal.

 

“Baiklah. Kurasa pembicaraan kali ini cukup. Hal-hal lainnya akan kita bicarakan lain kali. Jadi, Oh Sehun…mulai dari sini dan entah sampai kapan, kau adalah milikku. Aku ingin kau selalu ada ketika kubutuhkan, kapanpun aku ingin kau berada di dekatku.”

 

 

Sehun mengangguk satu kali. “Ya, aku mengerti.”

 

 

“Kau bawa barang-barangmu kan?”

 

 

“Tentu. Kurasa semua yang kubutuhkan sudah kuletakkan di sini,” kata Sehun sambil menendang pelan ransel hitam yang berada di sisi kaki kanannya.

 

 

“Bagus. Sekarang ikutlah denganku. Kita akan pulang.”

 

 

Lagi-lagi Sehun mengangguk. Ia berdiri dari posisi duduknya, menyambar tas ranselnya yang tergeletak di sisi kaki kanannya sebelum ia mengikuti langkah kaki Luhan yang telah lebih dulu berjalan menuju luar coffee shop. Angin kencang serta dedaunan yang rontok dari pohon-pohon di sekitarnya menemani langkah kaki mereka sepanjang jalan menuju lokasi parkir. Sehun menatap punggung Luhan yang berjalan lambat dengan langkah arogan di hadapannya, mengamati bagaimana mungilnya tubuh pria itu. Aroma parfumnya yang mahal berkali-kali terhirup oleh indera penciuman Sehun ketika angin tanpa sengaja membawa aroma Luhan itu ke hidungnya, hingga tanpa butuh waktu lama otaknya telah merekam dengan sangat jelas aroma itu, lalu menyimpannya di sana. Sehun menghentikan langkah kakinya ketika ia melihat Luhan berhenti melangkah di depannya. Dia sengaja menaikkan alisnya saat Luhan berbalik untuk menatapnya, mencoba bertanya dengan isyarat mata.

 

 

“Hei Oh Sehun, apa kau sudah memiliki kekasih?”

 

 

Satu pertanyaan mudah tetapi sulit untuk ia jawab. Rasa kesal dan juga sakit tiba-tiba saja menyengat kepala Sehun ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir Luhan.

 

 

Apa yang harus ia jawab?

 

 

Sehun memperbaiki letak tas ranselnya dan membasahi bibir. Ia menatap Luhan lekat-lekat, lalu–

 

 

”Tidak.”

 

 

Dan Luhan melemparkan senyuman kecil untuknya sebelum pemuda itu kembali berbalik dan mulai melangkahkan kakinya lagi.

 

 

.

.

.

.

.

-Male Depose-

.

.

.

.

.

Apartemen berfurniture modern adalah hal pertama yang ditangkap oleh indera penglihatan Sehun ketika Luhan membawanya masuk ke dalam Apartemennya untuk yang pertama kali. Ruangan-ruangan dalam Apartemen Luhan berukuran luas, yang memiliki tema berbeda-beda di setiap ruangannya. Dia menghempaskan bokongnya dan berusaha nyaman berada di Apartemen mewah ini sementara ‘pemiliknya’ sedang mengambilkan air untuknya. Sehun sedang mengamati salah satu rubix cube yang ia raih dari berbagai macam bentuk rubik yang terletak di atas meja ketika Luhan muncul dari dapur.

 

 

“Aku selalu menggunakan benda itu ketika aku sedang mengalami mood yang buruk, dan benda itu selalu berhasil membuat mood-ku menjadi lebih baik,” kata Luhan sambil menyodorkan 2 kaleng minuman dingin untuknya.

 

 

Sehun menatap kaleng-kaleng minuman itu selama beberapa saat, dan ia memilih salah satu kaleng yang berwarna merah.

 

 

“Kukira kau akan memilih bir,” kata Luhan sambil duduk tepat di samping Sehun.

 

 

“Tidak, aku tak suka bir.”

 

 

“Kenapa? Bukankah kau sudah cukup umur untuk meminum minuman ini?” kata Luhan dengan senyuman samar yang terukir di bibir. Ia membuka penutup kaleng bir yang tak dipilih oleh Sehun dan meminumnya dengan cepat, membiarkan pria yang duduk di sisi kiri menatapnya dengan tatapan datar namun penuh makna di dalamnya. Alisnya naik sebelah ketika ia menangkap tatapan Sehun yang begitu dalam. “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

 

 

Sehun berdehem canggung sambil menyusuri tengkuknya sendiri menggunakan tangan kiri, kemudian ia membuka kaleng minuman yang ia pegang dan meneguknya satu kali sebelum ia kembali menoleh pada Luhan. “Tak apa, hanya saja bir tak begitu bagus untuk kesehatan lambung.”

 

 

Luhan tertawa kecil dan menunjuk kaleng soda yang dipegang oleh Sehun. “Cola juga tak begitu bagus untuk kesehatan lambung.”

 

 

Sehun mengedikkan bahunya lalu tersenyum simpul sambil meletakkan kaleng minumannya ke permukaan meja. “Apakah kita akan membuat surat kontrak atau sejenisnya?”

 

 

Luhan terdiam, kemudian meletakkan kaleng birnya ke permukaan meja dengan raut wajah tak senang. “Kau ingin aku membuat surat ilegal semacam itu? Apa kau takut aku hanya akan mempekerjakanmu tanpa membayar? Tch, yang benar saja Oh Sehun…aku bukan manusia rendahan seperti itu. Aku bisa membelimu jika aku mau.”

 

 

Sehun tersenyum tipis ketika mendengar nada ketidak-sukaan yang begitu kentara dalam kalimat pongah yang Luhan ucapkan. Dia melirik sekilas ke arah Luhan yang sedang menatapnya dengan sengit, dan senyumnya semakin mengembang saat ia melihat rona pipi Luhan yang menggelap entah karena bir, atau karena marah, atau entah karena apa.

 

 

“Jangan tersinggung Tuan Xi. Aku sama sekali tak mencurigaimu akan melakukan tindakan eksploitasi atau semacamnya padaku. Lagipula aku bukan pria lemah yang akan dengan sangat mudah kau bodohi. Hanya saja, kita ini baru mengenal, dan–“

 

 

“Aku akan membayarmu di muka, jadi hentikan topik menyebalkan ini sekarang juga! Gunakan saja kemampuan akting terbaikmu untuk memanjakanku Oh Sehun. Ah, kau bahkan sudah menyebalkan sekali sekarang.” Luhan berdecak dan mengeluarkan ponselnya, lalu menyerahkannya pada Sehun. “Berikan nomor rekening bank-mu, aku akan mentransfer gaji pertamamu secepatnya.”

 

 

Sehun menatap ponsel itu dengan senyuman simpulnya. “Kau yakin tak akan menyesal mempercayaiku? Aku bisa saja kabur setelah mendapatkan uangmu, Tuan Xi.”

 

 

“Berhenti memanggilku ‘Tuan Xi’ dan berikan saja nomor rekeningmu. Sekedar informasi, jika kau membawa kabur uangku pun tak akan menjadi masalah yang begitu besar untukku. Aku memiliki banyak, asal kau tahu.”

 

 

“Baiklah jika kau memaksa…”

 

 

Sehun menyambut ponsel mahal itu dan mengetikkan nomor rekeningnya di sana sebelum ia kembalikan lagi ponsel itu kepada pemiliknya. Luhan mengutak-atik ponselnya beberapa detik sebelum meletakkan ponsel itu secara sembarangan di meja. Keheningan kembali tercipta hingga beberapa detik yang membosankan. Sehun hanya diam sambil membolak-balik rubik yang ia pegang, sedangkan Luhan sibuk mengamati lekukan wajah Sehun lekat-lekat dari sisi kanan yang mampu ia raih dengan matanya. Bola matanya yang cokelat bergerak lambat, menyusuri bentuk alis Sehun yang sempurna, lekukan hidung Sehun yang mancung, philtrum mungil berlekuk dalam yang menyambut bibir tipis berwarna merah yang tampak basah karena pemiliknya berkali-kali menjilatnya entah karena kebiasaan atau apa. Bulu-bulu halus pada wajah Sehun tampak bersinar samar di kulitnya yang kekurangan pigmen itu, dan bibir Luhan naik sedikit ketika matanya menangkap setitik noda hitam di leher kanan pemuda pucat itu. Sebuah titik hitam kecil yang tampak menggoda dan juga seksi.

 

 

Luhan terkesiap saat Sehun tiba-tiba saja menoleh ke arahnya. Keduanya saling berkedip-kedip canggung ketika tatapan mereka bertemu, tapi selanjutnya Luhan memanas sendiri saat Sehun melemparkan senyuman yang sangat tampan untuknya.

 

 

“Bagaimana cara memecahkan teka-teki benda ini?” tanya Sehun, mengangkat benda berbentuk kubus itu di samping wajahnya sendiri.

 

 

Luhan menelan ludahnya satu kali, lalu ia mengalihkan tatapannya pada rubix cube yang berada dalam genggaman Sehun itu dan bersikap setenang mungkin. “Aku akan mengajarimu,” katanya sambil meraih benda berpola kotak-kotak yang berwarna-warni itu dari tangan Sehun. Darahnya sedikit berdesir dan jantungnya berdebar tak nyaman ketika Sehun menggeser posisi duduk lebih dekat dengan dirinya hingga lehernya terasa geli akibat helaan nafas Sehun yang hangat. Bukan apa-apa, hanya saja ini adalah pengalaman pertamanya berinteraksi sedekat ini dengan seseorang. Dia akui jika ia memang payah dalam urusan–itu. Luhan tak menyangka jika memiliki kekasih sewaan akan membuatnya menjadi gugup sendiri seperti sekarang.

 

 

‘Kendalikan dirimu Luhan. Dimana otakmu? Kau adalah Xi Lu Han yang agung. Kau tak perlu berdebar seperti idiot hanya karena pria asing bayaran yang bahkan baru kau temui dua jam yang lalu.’

 

 

Luhan mendesah ketika suara hatinya memaki di dalam kepalanya. Ia mengumpat dalam hati. Tentu saja ia bukan orang idiot seperti yang suara hatinya bilang. Dia adalah Xi Lu Han yang terhormat, dan pria asing yang berada di sampingnya ini bukanlah siapa-siapa selain hanya sekedar manekin hidup yang ia bayar untuk menemani hari-harinya yang hampa. Ia berjengit geli ketika nafas Sehun terasa semakin dekat dengan kulit lehernya. Sebenarnya pemuda itu tak melakukan apapun selain hanya memperhatikan gerakan lincah tangan Luhan yang sibuk mengobrak-abrik susunan rubik yang ia pegang. Tapi entah mengapa Luhan merasa gugup dan juga merasa tak nyaman sendiri. Well, bukankah yang seharusnya ia lakukan hanyalah menikmati semuanya? Bukankah ia seharusnya mulai membiasakan diri?

 

 

Tujuan utamanya memiliki kekasih simpanan adalah agar dirinya mendapatkan segala hal yang biasanya didapatkan orang-orang dari pasangan mereka, termasuk skinship dan hal menyenangkan lainnya. Seharusnya ia menikmati debaran-debaran itu dengan antusias, tapi debaran aneh itu entah mengapa justru membuatnya merasa takut karena beberapa alasan konyol yang hinggap dalam otaknya. Aneh, dan juga membingungkan. Salah satu alasan konyol itu adalah karena ‘ia telah tertarik pada si Oh Sehun ini sejak pertama kali mereka bertatapan muka, tadi –dua jam yang lalu.’ Sepertinya ia gagal mengendalikan hormon gay-nya sesuai apa yang telah ia rencanakan sejak kemarin. Pria berwajah tampan sangat mudah membuatnya terpikat, dan sialnya si manekin hidup ini sangat tampan dan masuk dalam tipe pria idamannya. Itu menyedihkan dan juga memalukan. Luhan tak ingin ketertarikan tak masuk akal itu akan menjebaknya ke dalam hal rumit dan menyebalkan nantinya. Dia harus siaga. Dia akan baik-baik saja dengan hubungan palsu ini. Ini hanya main-main. Pengusir kebosanan. Ini hanya iseng. Segalanya hanya untuk bersenang-senang. Ia hanya perlu bersikap konservatif dan tetap menjadi Xi Lu Han yang agung. Kesendiriannya selama ini hanya karena tak ada seseorangpun yang mampu ‘meraih dan menyentuhnya’. Ya, seharusnya ia berpikir begitu. Memang seharusnya begitu.

 

 

Sehun menautkan alisnya dengan bingung saat Luhan meletakkan ‘rubik setengah jadinya’ itu secara sembarangan di permukaan meja kaca yang berada di hadapan mereka. Pria bersurai cokelat madu itu berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Sehun dari atas dengan dagu yang diangkat sedikit tinggi.

 

 

“Aku akan mandi sekarang. Simpan saja barang-barangmu di kamarku. Setelah itu kita akan pergi bersenang-senang.”

 

 

Sehun bahkan belum sempat mengeluarkan suara untuk menjawab ucapan Luhan, tapi pria manis itu telah berjalan menuju ke salah satu pintu bercat hitam dan masuk ke dalamnya. Menghela nafas lelah, Sehun menyambar ransel hitamnya dan melangkah mengikuti arah dimana Luhan menghilang tadi. Ketika ia membuka pintu hitam itu untuk pertama kalinya, ia disambut oleh kamar bernuansa gothic dengan dominasi cat hitam suram di seluruh ruangan kamarnya. Ranjang Luhan berwarna hitam, dengan sprei yang juga hitam–sedikit list perak di beberapa bagian. Untung saja gorden kamarnya tak hitam juga, jadi kamar ini tak terlihat sesuram gedung tua yang telah satu abad ditinggalkan–ehm, sebenarnya tak sesuram itu juga. Kamar ini sangat mewah, sungguh. Ranjang Victorian style dan beberapa furniture antik bertebaran di sana-sini, hanya saja nuansa gothicnya membuat Sehun merasa sedikit kurang nyaman. Dia merasa sedang berada di dalam kamar tidur seorang Vampir. Apalagi AC ruangan begitu dingin, membuat udara semakin lembab saja di musim gugur yang dinginnya sudah menyiksa ini. Seharusnya Luhan menyalakan pemanas ruangan dan bukan AC, ugh…lupakan.

 

 

Ransel hitam berukuran besar yang ia pegang, ia bawa ke arah ranjang. Sehun baru berniat membongkarnya, namun urung ketika pintu kecil di sudut ruangan terbuka dan Luhan muncul dari dalam sana. Handuk putih yang melilit di sekitar pinggang, rambut cokelat yang basah, dan kulit tubuh yang menguarkan aroma mint lebih membuatnya tertarik ketimbang membongkar sedikit barang yang ia bawa untuk menginap di sini. Ya, menginap. Itu adalah hal penting yang Luhan inginkan, dan sebagai pria simpanan pemuda kaya ini, Sehun harus menerima semua itu tanpa banyak protes. Segalanya, Luhan yang memutuskan. Dia hanya harus menuruti segala keinginan pemuda itu nantinya.

 

 

“Apa kau sedang memandangiku, Tuan Oh?”

 

 

Sehun terkesiap dari pikirannya saat suara Luhan tiba-tiba saja menyapa telinganya. Senyum simpul pemuda manis itu membawanya ke dalam satu pemikiran aneh tentang mengapa wajah seorang pria tulen bisa begitu mirip dengan wajah seorang gadis. Jika saja Luhan menggunakan wig, pasti…

 

 

“Tak salah kan kalau aku memandangi kekasihku sendiri?”

 

 

Sehun memutuskan untuk berkelakar untuk mengurangi kekakuan hubungan mereka. Yah…menjalani hubungan palsu dengan orang asing yang baru kau kenal bukanlah hal yang mudah. Ini bukanlah drama-drama roman seperti yang sering ia lihat di dalam televisi. Ia bukanlah aktor drama yang bisa dengan mudah menyatu dengan lawan main meskipun baru saling mengenal. Tapi ia akan melakukan yang terbaik untuk hubungan ini. Meskipun ini hanyalah hubungan palsu, tapi hubungan ini harus terjalin secara alami. Dia akan melakukan yang terbaik untuk menyenangkan Luhan. Dengan begitu Luhan akan mengakuinya sebagai pria simpanan yang hebat, dan pastinya ia akan mendapatkan banyak keuntungan dari hal itu. Pria kaya seperti Luhan pasti akan memberikan apapun yang ia mau asal ia mampu memanjakan pria itu sampai Luhan benar-benar terbuai.

 

 

Dua buah lengan dingin mendarat pada bahunya, membuat Sehun lagi-lagi tersentak dari pikirannya. Tubuh setengah telanjang yang masih terasa dingin karena baru diguyur air berada tepat di depan wajahnya, membuat ia mampu melihat betapa mulusnya kulit itu. Sehun mendongak, menemukan wajah mungil yang mirip wanita itu sedang tersenyum padanya meskipun sedikit. Dagu yang terangkat angkuh seperti biasanya tak mengurangi paras indah lelaki itu, dan Sehun kembali terpana dibuatnya. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Luhan, namun Sehun mengerti jika pria itu menginginkan ia melakukan sesuatu.

 

 

Sehun melemparkan senyum simpul untuk Luhan. Tanpa ragu ia memeluk pinggang pria itu, mendaratkan bibirnya pada perut Luhan yang telanjang, mengecupinya di beberapa tempat. Ia bangkit perlahan dari posisi duduknya, dan lengan Luhan mengikuti gerakannya, tetap memeluk leher Sehun. Sehun tak mengerti mengapa bola mata cokelat jernih itu begitu memikat. Pemiliknya begitu manis, ia akui hal itu. Bola mata cokelatnya tersembunyi di balik kelopaknya ketika Sehun mendaratkan dua jari untuk mengelus pipi halus pemuda itu. Raut wajah Luhan terlihat amat menikmati belaian tangannya, membuat Sehun agak berdebar. Diam-diam ia cermati wajah mungil itu. Bulu mata yang panjang, hidung dan bibirnya tampak begitu sempurna. Ia tekan pikirannya sendiri. Sejujurnya ia adalah pria normal yang masih tertarik pada gadis-gadis cantik. Namun bersama pemuda ini, ia mau tak mau–harus mau–merubah seksualitasnya menjadi homo untuk sementara. Ya, tak apa. Lagipula Luhan bukanlah pria tampan berbadan kekar berotot yang akan membuatnya muntah nanti. Pemuda ini cantik. Ehm, ya…cantik.

 

 

“Cium aku Sehun…”

 

 

Sehun menelan ludahnya dengan payah ketika Luhan bersuara dengan mata yang tetap terpejam. Gerakan tangannya terhenti. Entah mengapa debaran jantungnya agak lebih gila dari yang tadi. Cium? Haruskah ia mencium pria cantik ini?

 

.

.

Ya, harus.

 

.

.

 

 

Menarik nafaspun rasanya sangat susah. Debaran jantung terasa semakin menggila, tapi…ah, abaikan. Sehun kembali mengelus pipi itu dengan tangan kanan, mengeratkan pelukannya pada pinggang Luhan dengan tangan kirinya. Ia memiringkan kepala, mencoba menggapai bibir Luhan meskipun ia agak ragu. Nafas yang hangat terasa menggelitik kulit bibirnya, dan aroma sabun pria cantik itu terasa semakin tajam. Kepalanya seperti baru saja diguyur dengan air es ketika ia berhasil menggapai bibir Luhan. Keragu-raguan yang terselip dalam hatinya tadi mendadak lenyap tak bersisa. Hormon kelelakiannya melonjak naik, membuat darahnya terasa panas dalam sekejap, entah mengapa. Ia menggerakkan bibirnya tanpa ragu lagi, menyesap belahan bibir Luhan perlahan dan lambat. Bibir Luhan terasa begitu lembut dan juga manis, rasanya ia seperti sedang mengulum marshmallow saja. Tengkuknya dibelai oleh jemari yang sejak tadi menempel di sana, membuatnya merinding dan perutnya juga terasa geli. Ia merapatkan tubuhnya pada tubuh Luhan dengan lebih erat. Tangan kirinya ia gunakan untuk menyusuri lengkungan punggung telanjang pemuda yang ia cium itu dengan gerakan sensual, mulai dari tengkuk hingga pinggang ramping pemuda cantik itu. Dan satu desahan halus dari bibir Luhan membuatnya tanpa ragu melesakkan lidahnya ke dalam mulut pria itu, menjelajah lebih dalam lagi untuk mencari rasa manis menyenangkan yang membuatnya berdebar sejak tadi.

 

.

.

.

.

.

-Male Depose-

.

.

.

.

.

Entah bagaimana cara Luhan mendefinisikan kata ‘bersenang-senang’ dalam hidupnya. Yang Sehun tahu, saat ini ia sedang berada di jajaran kursi penonton VIP konser tunggal seorang Saxofonis. Tak ada suara apapun yang terdengar selain hanya alunan nada lagu-lagu populer yang dimainkan oleh Saxofonis yang berdiri di tengah-tengah panggung. Semua orang hanya diam, duduk dengan sopan pada kursi mereka masing-masing, dan semuanya mengenakan pakaian formal, dia juga. Begitupun pemuda cantik yang berada di sisi kanannya, hanya diam, dengan tatapan mata lurus ke arah depan.

 

 

‘Ugh, membosankan sekali…’ –pikir Sehun.

 

 

Sehun bernafas lega saat Saxofonis itu membungkukkan badannya di depan sana, menandakan jika konsernya telah berakhir. Dengan semangat ia berdiri dan ikut bertepuk tangan seperti orang-orang lainnya yang berada di dalam tempat itu. Ia tak tahu apa nikmatnya menonton konser membosankan seperti ini, tapi ia melihat seyuman lebar Luhan, mengartikan jika pemuda itu amat sangat puas dengan apa yang ia lihat.

 

 

“Bagus kan?”

 

 

Sehun terkekeh saat Luhan berbisik di telinganya. Ia mendaratkan tangan kanannya pada pinggang pria itu, lalu balas berbisik juga,

 

 

“Membosankan sekali.”

 

 

Ia masih sempat mendengar Luhan tertawa kecil, lalu ia merasakan tangannya digenggam dan ditarik oleh pemuda cantik itu, dan mereka melangkah beriringan untuk meninggalkan gedung konser yang membosankan ini.

 

.

.

.

.

Sehun menarik dasinya dengan frustasi begitu mereka berdua sampai di Apartemen Luhan. Pakaian formal yang ia pakai terasa sangat menyebalkan, dan dasinya terasa mencekik leher. Sehun berdecak kesal ketika ia kesulitan membuka simpul dasi itu, tapi untunglah Luhan segera datang dan membantunya melepaskan dasi sialan itu dari lehernya.

 

 

“Kau tak menikmati konsernya ya?”

 

 

Sehun mengeluarkan desahan pelan, lalu mengangguk. “Membosankan sekali. Jujur saja, aku tak menyukainya. Yang tadi itu sama sekali bukan bersenang-senang, kau tahu?”

 

 

Luhan tertawa kecil. “Bagiku itu menyenangkan,” katanya sambil membantu melepaskan jas hitam yang dikenakan oleh Sehun. Ia biarkan jas hitam itu terjatuh di lantai, sementara tangannya mengalung di leher Sehun dan bibirnya tersenyum manis. Ia biarkan Sehun memeluk pinggangnya, dan keduanya hanya diam setelahnya dengan mata yang saling menatap satu sama lain.

 

 

“Aku memiliki sesuatu yang harus kulakukan malam ini. Kau akan mengizinkanku pergi kan?”

 

 

Ucapan Sehun membuat kerutan menghiasi dahi Luhan. “Kau mau kemana?”

 

 

“Hanya memeriksa sesuatu dan mengambil beberapa barang di rumahku. Sebentar saja, setelah itu aku akan kembali secepatnya.”

 

 

“Biarkan aku mengantarmu.”

 

 

“Tidah perlu. Aku hanya sebentar, aku janji.”

 

 

Luhan melepaskan pelukannya dan melangkah ke arah nakas di tepi ranjang, menyambar kunci mobilnya dan menyodorkannya pada Sehun. “Gunakan mobil dan jangan pergi terlalu lama, aku tak suka menunggu. Kau harus memelukku sampai aku tertidur nanti.”

 

 

Sehun melemparkan senyumnya dan meraih kunci mobil itu dari tangan Luhan. “Aku hanya sebentar, janji.”

 

 

Luhan mengangguk tanpa minat dan berbalik, tapi Sehun menariknya hingga tubuh pemuda itu kembali terjebak ke dalam pelukannya. Satu ciuman lembut ia berikan pada bibir Luhan, kemudian ia memeluk pria itu dan menempelkan bibirnya di telinga Luhan.

 

 

“Tunggu sebentar saja. Nanti aku akan memelukmu sampai kau tertidur.”

 

 

“Hmm…pergilah…jangan lama.”

 

 

.

.

.

.

.

-Male Depose-

.

.

.

.

.

Gang sempit dan lorong gelap menemani langkah Sehun sejak beberapa menit yang lalu. Tikus-tikus got beberapa kali berlari dan menabrak mata kakinya, yang membuatnya mengumpat kesal hingga beberapa kali. Daun-daun musim gugur beterbangan ditiup angin malam, tampak berwarna hitam karena gang sempit itu memang amat gelap. Sehun berdebar saat ia tiba di depan rumah pertama setelah ia berhasil keluar dari gang sempit tadi. Ia mengeluarkan nafas beratnya satu kali, merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci dari sana. Ruangan tamu yang gelap menyambutnya ketika ia berhasil membuka kunci rumah itu, namun cahaya dari kamar utama yang pintunya terbuka membuatnya melangkah lebih mudah di dalam rumah. Ia masih sempat menyalakan lampu ruang tamu sebelum ia melangkah mantap ke dalam kamar utama.

 

 

“Sehunnie…”

 

 

Sehun melemparkan senyuman pada seseorang yang memanggil namanya tadi. Ia hampiri orang itu, seorang gadis berambut panjang dengan perut yang sudah mulai membuncit, yang saat ini duduk manis di tepian ranjang sambil memegangi bermacam-macam obat di tangannya. Senyuman gadis itu merekah ketika ia melihat Sehun, membuat Sehun tak bisa menahan diri untuk tak membelai rambut cokelatnya yang panjang.

 

 

“Obat dan vitaminnya belum diminum?” tanya Sehun.

 

 

Gadis itu menggeleng. “Aku menunggumu.”

 

 

Sehun membuang nafas lelah sebelum Ia berdiri dengan lutut di depan kaki gadis itu. “Cobalah untuk meminum obat sendiri, Noona…untuk beberapa waktu ke depan aku tak bisa terus-menerus merawatmu…”

 

 

Gadis itu merengut, membuat Sehun terkekeh. Ia menyodorkan beberapa pil ke bibir mungil gadis itu, dan menyodorkan air seperti sedang memberikan obat pada anak kecil. Setelahnya ia duduk di samping gadis itu dan mengelus punggungnya dengan lembut, menunggu apakah gadis itu akan memuntahkan semua pil tadi seperti biasanya atau tidak. Untung saja gadis itu tak memuntahkannya, jadi Sehun tak perlu repot mengepel lantai seperti biasanya.

 

 

“Tenang saja, aku tak muntah Sehunnie…masa mengidamku telah lewat…”

 

 

Sehun mengangguk mengerti.

 

 

“Kau tahu, dia sudah mulai berdenyut disini,” –gadis itu menunjuk perut bagian bawahnya –“kau mau merasakannya?”

 

 

Sehun terkekeh, “tentu saja.” Ia meletakkan telapak tangannya pada perut gadis itu, merasakan denyutan kecil disana dengan dahi yang mengerut. “Apakah bayi yang sedang menedang gerakannya sekecil ini?”

 

 

Gadis itu tertawa. “Tentu saja tidak, bodoh. Usia kandunganku baru 4 bulan. Janin yang berada di dalam sini belum terbentuk secara sempurna. Kau bisa merasakan tendangannya saat usianya sudah 7 bulan nanti.”

 

 

Sehun mengangguk-angguk. Ia tersenyum miris ketika ia melihat gadis itu mengelusi perutnya sendiri. “Noona…”

 

 

“Hmm?”

 

 

Sehun tak tahu harus mengatakan apa saat gadis itu berpaling ke arahnya. Gadis itu selalu tersenyum padanya, membuat rasa bersalah dalam hatinya menjadi semakin besar di setiap detik. “Maafkan aku…”

 

 

Gadis itu tersenyum, membelai rambut Sehun dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya. “Ini bukan salahmu, tak apa Sehunnie…”

 

 

Sehun meraih tangan gadis itu dan mengecupnya satu kali. “Aku tak bisa lagi menemanimu terus-menerus seperti biasanya. Aku memiliki pekerjaan yang mengharuskanku menetap di sana. Kau tak apa kan?”

 

 

Gadis itu mengangguk. “Ya, tak apa…aku baik-baik saja. Tenang saja, aku akan memakan obatku sendiri mulai besok.”

 

 

“Aku akan sering-sering datang mengunjungimu…mulai besok, biarkan Bibi Kim tinggal di sini untuk menjagamu. Aku akan mengumpulkan uang agar kita bisa merawat si bayi dengan baik nanti…”

 

 

Gadis itu mengangguk lagi. “Hmm…aku mengerti. Maaf…”

 

 

Sehun terkekeh. “Jangan meminta maaf. Ini salahku.”

 

 

Sehun melepaskan jemari gadis itu, kemudian berdiri dari posisi duduknya. “Aku datang untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal. Maafkan aku, aku tak bisa lama-lama Noona…orang yang memperkerjakanku sedang menungguku sekarang. Jangan keluar rumah. Biarkan Bibi Kim membeli segala kebutuhanmu. Jangan sampai mereka menemukanmu Noona…

 

 

“Ya, aku mengerti. Pergilah. Hati-hati Sehun…”

 

 

Sehun mengangguk. Ia berbalik pergi setelah sempat mengecup kening gadis itu, melangkah menuju kamar belakang, kamarnya sendiri. Langkahnya lurus menuju meja belajar yang berada di sudut ruangan. Ia mengambil notebook merahnya, meraih beberapa buku dan seluruh barang-barang yang ia perlukan untuk besok, menjejalkan seluruhnya ke dalam ransel birunya dengan hati-hati sebelum menggendongnya di punggung. Jantungnya berdebar-debar kencang ketika ia mulai melangkah meninggalkan kamarnya. Ia sempat melirik ke dalam kamar gadis yang hamil tadi dan menemukan gadis itu telah berbaring miring di atas ranjangnya. Ia tutup pintu kamar gadis itu, kemudian ia melangkah menuju luar rumah. Lorong sempit kembali mengiringi langkahnya ketika ia berjalan menuju mobil mewah milik Luhan di ujung gang sempit di depan sana. Sehun meletakkan ranselnya dengan hati-hati di jok belakang lalu ia memutar langkah menuju jok kemudi. Ia membuang nafas beratnya saat ia hendak membuka pintu mobil, terdiam lama di sisi pintunya dengan debaran menyakitkan pada jantung.

 

 

“Tenang saja Sehun. Kau tak mungkin ketahuan. Tenang saja…”

 

 

Sehun kembali membuang nafas beratnya, kemudian ia membuka pintu mobil dengan yakin dan mulai mengemudikan mobil itu menjauh dari sana.


To Be Continued


 A/N : Untuk Lieya, Thanks banget ya dek udah bantuin bikinin posternya, love you~

 

 

Advertisements