Into A Dangerous Mind

Into A Dangerous Mind Poster

Writer : tmarionlie

.

Poster By L.E Design

.

.

HunHan Ft ChanBaek

.

.

 

Yaoi | Supernatural | Mystery | Romance | Mature

.

.

 


CHAPTER 1


 

Oh Sehun, terus melampiaskan rasa frustasinya dengan berlari cepat di atas treadmill sambil mendengarkan musik hip hop dari headset yang menempel di kedua telinganya. Tubuhnya mengkilat oleh keringat, dan kaus abu-abu tanpa lengan yang ia pakai telah basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Mulai sekarang ia memutuskan bahwa melakukan olahraga adalah metode yang paling tepat untuk mengalihkan pikiran selagi ia menunggu operasi dimulai –hal yang paling tidak ia sukai dari pekerjaannya sebenarnya. Segala dokumen-dokumen yang ia dapatkan membuatnya meyakini bahwa The Reaper pasti akan mengunjungi rumah Xi Luhan malam ini, karena itulah ia ada di sini sekarang –rumah sewaan yang baru ia tinggali sejak beberapa jam yang lalu.

 

 

“Ugh, kenapa Suho Hyung belum menghubungiku juga?”

 

 

Sehun menghentikan laju perputaran pijakan treadmill-nya, kemudian ia melompat turun dan menyambar handuk kecil yang tersampir di sandaran sofa untuk menyeka keringat yang mengalir  di wajahnya. Setelah berpikir hingga beberapa detik yang menyebalkan, ia lemparkan handuk kecil itu dengan gusar. Baru saja ia berpikir untuk memecah keheningan radio di pojok ruangan sambil menikmati pizza dingin yang berada di atas meja makan, tapi kemudian rasa lengket tak menyenangkan yang menyelimuti seluruh permukaan kulit membuat niatnya berbelok arah. Mungkin mandi dengan air hangat adalah keputusan yang paling bijaksana sekarang ini, karena itu Sehun membuka pakaiannya dan melemparkannya ke dalam mesin cuci, lalu ia melenggang santai dengan tubuh polosnya menuju kamar mandi.

 

 

.

.

.

-HunHan-ChanBaek-

.

.

.

Sehun melangkah melalui sisi-sisi lautan kardus yang tersusun tak beraturan di ruang tamunya sambil menggosok-gosok rambut basahnya dengan sebuah handuk–tentu saja bukan handuk bekas keringatnya tadi–namun sebuah suara makian yang begitu keras memenuhi kepalanya.

 

 

‘Dasar bajingan kurang ajar yang tak punya etika dan sopan santun! Aku bersumpah jika aku akan segera menemukan teman kencan yang tampan dan juga hot, lalu akan kupatahkan anggapan bahwa aku adalah bujang lapuk yang tak laku.’

 

 

Sehun menggeram sambil menutupi kedua telinganya sendiri berdasarkan insting. Tapi sayang, seruan-seruan penuh emosi serta keputus-asaan yang mendengung di dalam kepalanya membuat usahanya untuk menutupi suara itu dengan tangan malah tak membantu.

 

 

“Tch, sebenarnya dia ini pria atau wanita?  Harusnya dia mampu mengendalikan kekuatannya itu dengan baik, bukan malah memancarkannya kemana-mana  secara sembarangan seperti ini,” gerutunya.

 

 

Sehun berkonsentrasi dan menyaring segala makian pria itu –awalnya. Tapi tidak, karena kemudian ia memutuskan untuk memutus koneksi pikirannya dengan pemuda berkekuatan besar yang tampaknya sangat putus asa itu. Karena itu dengan sesegera mungkin ia membangun perisai di dalam otaknya, dengan membayangkan balok bangunan kecil berwarna-warni dengan huruf yang berbeda-beda pada permukaannya –hal yang diajarkan oleh Ibunya sejak kecil ketika orangtuanya menyadari jika ada suatu kekuatan yang aneh pada dirinya. Entah bagaimana hal sepele semacam itu benar-benar membantu. Bahkan perisai sederhana yang diajarkan oleh Ibunya itu menjadi pelindung yang kuat bagi jiwanya dan sangat cukup untuk menyaring segala hal buruk berikut serangan-serangan gencar yang beberapa kali ia dapatkan dari pihak lain, namun juga cukup longgar sehingga ia juga tak terisolasi dari persepsi yang datang dari luar.

 

 

Sehun mengernyit ketika ia menyadari satu hal yang terlewatkan dari pikirannya tadi. Seruan pemuda yang menjadi saksi utama kasus ini tadi terasa begitu kuat mendengung di dalam kepalanya. Seharusnya ia menyadari jika pemuda itu telah berada di sekitar sini tanpa harus memikirkannya dengan bersusah payah. Dengan memikirkan hal itu ia menggeram sendiri, baru menyadari jika ternyata manusia secerdas dirinya bisa menjadi begitu dungu. Ia menendang salah satu kardus yang berada di bawah kaki dengan geram, kemudian ia mengintip melalui gorden jendela ruang tamu dan matanya langsung menemukan sebuah taksi –dengan kekuatan yang begitu besar di dalamnya– berbelok di pojokan kompleks perumahan yang ia tinggali. Matanya terus mengamati laju taksi itu, namun bibir tipisnya langsung membulat begitu ia menyadari jika taksi itu berhenti tepat di depan rumah yang berada di samping rumah ini. Oh, jadi saksi kasus ini adalah tetangga barunya? Kebetulan sekali!

 

 

‘Pantas saja Suho Hyung belum menghubungiku. Mereka pasti sedang fokus memburu The Reaper dan bukan mengikuti Xi Luhan karena mereka telah sengaja menempatkanku begitu dekat dengan pria ini. Kenapa aku tak merasakan keberadaan Luhan ketika aku memantau lingkungan ini kemarin?’ –pikir Sehun.

 

 

Namun pikirannya itu menjadi terpecah-pecah saat ia melihat bagaimana rupa pemuda –saksi kasus itu– yang mempu membuat darahnya berdesir dalam sekejap. Tetangganya itu…Astaga, cantik  sekali! Oke, abaikan jika ia adalah seorang pria. Lagipula siapa yang akan percaya jika ia ternyata seorang pria tulen jika bukan karena melihat dadanya yang rata dan pakaiannya yang terlihat ‘sangat pria’ itu?

 

 

Pemuda berwajah cantik itu tampak melangkah tertatih menuju pekarangan rumahnya. Wajahnya yang mungil terlihat sembab, dan beberapa kali ia hampir terjatuh. Sehun membuka kembali pikirannya, membiarkannya terkoneksi kembali dengan pikiran pemuda cantik yang terlihat menyedihkan di seberang sana itu, namun ia mendadak harus memijit pelipis ketika ia merasakan gelombang kekuatan lain yang mencoba menyusup ke dalam koneksi pikirannya dengan pemuda bernama Xi Luhan itu. Ia mendesah gusar, kemudian ia berkonsentrasi dan mencoba memblokir kekuatan asing itu dari pikiran mereka, lalu tanpa membuang waktu lebih banyak ia melangkah cepat ke arah pintu dan berlari menuju rumah tetangganya.

 

 

Mata Sehun membulat ketika ia melihat tetangga barunya itu terjatuh dengan posisi tengkurap di depan pintu rumahnya sendiri. Dia tahu apa yang menyebabkan pemuda itu terjatuh, membuatnya merasa sangat marah atas siapapun yang menyalah-gunakan kelebihan mereka pada saat ini. Tetangganya itu pasti menangkap gelombang kekuatan asing itu tadi, karena itulah ia terjatuh lemas seperti ini. Kepalanya pasti sangat sakit. Sehun sebenarnya tak ingin mengaku, namun faktanya pemuda itu memang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari yang ia miliki, karena itulah ia akan lebih sensitif dalam menyaring segala serangan ketimbang dirinya.

 

 

“Argghh…sakit sekali! Sial-sial-sial! Berhentilah, jangan menggangguku. Please…”

 

 

Sehun membuka mulutnya ketika ia mendengar pemuda itu merengek. Suaranya begitu lembut, membuat kaki Sehun melemah dan lembek seperti jelly. Pemuda itu menjambaki rambutnya sendiri, masih mengerang marah, lalu melanjutkannya dengan isakan yang –err…apa pemuda itu menangis? Umm, maksudnya, apa ia benar-benar pria? Dan menangis?

 

 

Tak butuh waktu lama untuk Sehun tersadar dari keterpanaannya atas tingkah ajaib pria yang berada beberapa meter dari jangkauannya itu. Dengan sesegera mungkin Sehun berlari, kemudian ia raih lengan pemuda itu dan membalikkan posisi tubuh pria itu agar ia dapat melihat wajahnya dengan lebih leluasa. Dan apa yang ia lakukan itu membuatnya menyesal hingga berkali-kali lipat. Wajah pemuda itu membuat kecerdasannya lenyap. Ia hanya mampu menatap wajah itu dengan tatapan yang begitu bodoh. Untung saja ia masih memiliki sedikit kesadaran, sehingga ia mampu menguasai dirinya sendiri.

 

 

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Sehun, menarik pergelangan tangan kanan pemuda itu agar tak terus-menerus menjambaki rambut cokelat madunya sendiri. Pemuda itu masih menangis dalam pangkuannya, dan bibirnya terlihat sangat pucat.

 

 

“Tolong aku…kepalaku sakit sekali…” rintih pemuda itu dan masih terisak-isak menyedihkan.

 

 

Sehun menunduk dan meletakkan bibirnya tepat di depan telinga pemuda itu, kemudian ia berbisik di sana.

 

 

“Buka pikiranmu Luhan…aku akan membantumu meredakan rasa sakitnya…” Sehun memerintahkan dengan nada suara yang sangat lembut agar tidak menyebabkan rasa sakit atau takut lebih lanjut. Ia memusatkan perhatiannya pada penyusup itu. Lalu dengan usaha dan konsentrasi yang penuh, Sehun berusaha mati-matian memblokir kekuatan si penyusup itu dari pikirannya dan pikiran Luhan, meningkatkan perisai mental dalam dirinya dan memancarkannya ke sekitar Luhan. Tapi tiba-tiba saja Luhan terkulai lemas dalam pangkuannya sedetik setelah ia berhasil melumpuhkan kekuatan asing itu dari pikiran mereka berdua. Sehun menepuk-nepuk pipi pemuda cantik itu, tapi sayangnya Luhan telah pingsan.

 

 

.

.

.

-HunHan-ChanBaek-

.

.

.

Luhan terbangun dengan perasaan nyaman oleh pelukan erat yang mengelilingi tubuhnya. Ia mencium perpaduan menggairahkan antara sabun, body mist dan juga keringat. Bukan. Aromanya tak seperti cologne mahal semacam cologne yang digunakan oleh Kris kemarin. Yang ini aromanya lebih menggoda, lebih maskulin dan–seksi.

 

 

‘Mungkin ini adalah salah satu mimpi dari ksatria berbaju besi-ku. Aku akan membiarkan mimpi ini sering-sering diputar dalam memori otakku nantinya’ –batin Luhan.

 

 

Luhan memang menjalani hidupnya dengan begitu dramatis. Ketika ia dewasa, teman-teman prianya menempatkannya dalam kategori ‘teman’ hanya karena humornya yang sarkastik, dia easy going, dan dia memiliki segalanya–maksudnya dalam hal materi. Belum lagi kepopuleran yang ia dapatkan karena ia iseng-iseng bergabung dalam satu agency penampung orang-orang berbakat –untungnya ia cukup bagus dalam menyanyi– hingga ia akhirnya terpilih menjadi salah satu personil grup Band yang diberi nama Exotic Band oleh perusahaan tempat ia bekerja sekarang, vokalis pula. Tapi semua itu toh tak juga membuat kisah percintaannya menjadi mulus.

 

 

Berkali-kali ditolak oleh gadis-gadis cantik karena bakat pengacau yang ia miliki sejak remaja membuatnya menjadi trauma oleh wanita. Karena itulah ia memilih untuk berbelok arah menjadi gay saja seperti sekarang. Sejujurnya ia memang lebih suka dilindungi ketimbang melindungi selayaknya pria-pria dewasa lainnya. Memang aneh, dan juga tak biasa. Luhan juga tak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Atau jangan-jangan sejak dulu orientasinya memang sebenarnya sudah ‘begitu’? Lagipula dulu ia berkeinginan mengencani gadis hanya karena ia iri saja pada teman-temannya, bukan karena benar-benar tertarik pada mereka. Entahlah. Sangat sulit membayangkan dirinya seksi –dalam konteks pria dewasa. Dia lebih cocok disebut lembut dan lemah jika tak mau dibilang feminin. Tak heran jika alam bawah sadarnya selalu membawanya ke kehidupan pria yang seperti kisah-kisah menggebu novel romantis.

 

 

Luhan terkesiap ketika tangan-tangan kuat membuainya, memeluknya, dan ia tenggelam dalam sensasi itu. Sangat menyenangkan sekali jika merasakannya melalui sisi feminin yang ada dalam dirinya. Luhan benar-benar merasa sangat mungil –dan juga terlindungi. Ia meremas kaus yang ada dalam genggamannya, kemudian ia mengambil resiko untuk membuka mata.

 

 

‘Ouw, yeah…aku benar-benar bermimpi. Dia tak nyata, tapi dia umm–seksi. Bukan hanya aromanya saja yang menggoda, tapi pemiliknya juga menggairahkan.’

 

 

Iris cokelat Luhan bergerak mengamati  wajah itu. Pria tampan, yeah, sempurna dalam persepsinya. Seperti wajah yang dirobek dari poster majalah mode terkemuka. Bola mata cokelat muda yang dibingkai oleh kelopak sipit itu tampak tajam. Hidung mancung yang sejajar dengan bibir tipis berwarna merah basah mengirimkan gelombang erotis dalam pikiran Luhan, membuat benaknya jadi penasaran oleh esensi tentang bagaimana jika ia merasakan bibir itu menggunakan bibirnya sendiri?. Cahaya berkabut dari sinar bulan mengelilingi pria  itu dan Luhan memberanikan diri mengulurkan tangan kanan untuk meraba rahang tegasnya, kemudian menyusuri lengkungan dagu lancip pemuda itu.

 

 

“Alam bawah sadarku semakin baik akhir-akhir ini, syukurlah…” gumam Luhan, lalu ia menutup mata dan meringkuk di dalam dada pria itu, menikmati rasa aman setelah merasakan terror yang menyakitkan selama beberapa jam terakhir. “Meskipun belakangan ini aku seperti memiliki gangguan mental akibat kanker otakku, aku merasa menikmatinya.”

 

 

Helaan nafas berat keluar dari pria yang memeluknya, kemudian Luhan merasakan pelukan pada tubuhnya melonggar hingga akhirnya terlepas sama sekali, memaksanya membuka matanya lagi. Luhan melihat pria itu telah duduk di sampingnya, kemudian tangan pria itu meninggalkan jejak hangat ketika diusapkan pada keningnya sendiri, cukup untuk membuat kening Luhan berkerut bingung setelahnya.

 

 

“Sepertinya kau mengalami hangover. Tidurlah lagi, setelah itu kita akan berbicara serius mengenai sesuatu. Kau harus cukup tidur agar aku bisa menanyaimu dengan leluasa. Apa kau butuh sesuatu untuk membuatmu tidur kembali?”

 

 

Luhan terdiam, mencoba memahami setiap kata-perkata yang diucapkan oleh pemuda pucat yang berada di depannya, tetapi pikirannya tak bisa fokus dan keras kepala oleh anggapan bahwa ia hanya sedang bermimpi sekarang.

 

 

“Kepalaku sakit. Aku melihat pria tampan berkulit pucat di depanku sekarang, dan aku juga mendengar ia berbicara. Bukankah itu aneh? Sepertinya aku sedang bermimpi,” kata Luhan. “Tapi aku suka dengan mimpi ini,” lanjutnya dengan senyuman yang terukir pada bibirnya.

 

 

Luhan beringsut duduk. Senyuman cantik masih menghiasi bibirnya, membuat parasnya menjadi semakin membingungkan bagi  pemuda pucat yang sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu bodoh saat ini. Dengan dorongan naluri yang masih saja meyakini jika ini hanyalah mimpi, Luhan mendekat pada pemuda itu, lalu ia renggut tengkuk pemuda pucat itu untuk meraih bibir tipis yang menggodanya sejak tadi. Luhan mengabaikan rasa terkejut dari pria yang ia cium, menikmati bagaimana tubuh itu menegang dalam rengkuhannya.

 

 

Luhan tersenyum diam-diam diantara ciuman itu. Rasanya panas dan memabukkan, sangat sesuai dengan apa yang menjadi ekpektasinya sejak tadi. Pria tampan berkulit pucat ini sangat berbahaya dan juga menarik, maskulin dan juga seksi. Hanya sekejap saja, ledakan kecil menggigil menyelimuti seluruh tubuh Luhan, dan nafasnya juga sudah terengah-engah. Darah di bawah permukaan kulitnya menjadi mendidih dan menggelegak ketika pemuda pucat itu ikut bergerak pada permukaan bibirnya, melumat dan menghisap kedua belah bibirnya secara berganti-gantian.

 

 

.

.

.

-HunHan-ChanBaek-

.

.

.

Tangan Sehun yang tadinya membelai pipi Luhan, sekarang beralih untuk meremas surai cokelat madunya. Kebutuhan primitif seketika tumbuh di dalam dirinya ketika Luhan menciumnya dengan bergitu bergairah. Desahan mendesir di udara ketika tubuhnya dan tubuh Luhan merapat satu sama lain. Dia merasa berdebar, dan tubuhnya bergetar secara aneh. Dia tarik pinggang Luhan semakin merapat pada tubuhnya, lalu ia tekan bibir pemuda cantik itu dalam-dalam seolah itulah kenikmatan yang paling ia cari selama eksistensi hidupnya.

 

 

Jemari Luhan menyusup ke dalam rambut Sehun, dan mereka masih saja saling menyerang dengan memainkan lidah satu sama lain, saling mendorong dan juga membelit nikmat di antara erangan mereka. Panas melingkar menggelitik perut Sehun dan merambat ke bawah, membuat sesuatu yang berada di sana menegang dan menginginkan lebih. Kejantanannya merasakan kesakitan dalam gairah lambat yang terus-menerus mengalir –rasa sakit yang lebih intensif dari sebelumnya– hingga intensitasnya menjadi semakin bertambah banyak seiring waktu yang bergulir. Rasa sakit yang sangat sulit ia tahan itu membuatnya gemetar, lalu dalam sekali sentak ia menyibak kaus yang melekat pada tubuh Luhan sebelum ia kembali mencium pria cantik itu. Tangannya merambat, membelai dada mulus tanpa cela yang terasa lembut pada telapak tangannya, dan ia belai sesuatu yang berada di sana hingga Luhan mendesah panjang dengan kepala yang terdongak seksi. Leher mulus itu memanggil-manggil Sehun untuk segera menjangkaunya. Ia kecup leher itu hingga beberapa kali, dan ia masih saja merasakan belaian-belaian lembut yang merayapi tengkuknya.

 

 

Luhan menegakkan kepala dan memegangi kedua rahang Sehun agar ia dapat melihat wajah Sehun dengan lebih jelas. Tatapan matanya sayu –sebenarnya Luhan masih berpikir jika ia masih bermimpi saat ini. Ia kembali tersenyum, lalu ia mendaratkan kecupan satu kali pada bibir Sehun yang terlihat semakin menggoda karena basah oleh saliva. Jemari Luhan menelusup ke dalam kaus Sehun, menggelitik perut pemuda itu hingga Sehun terpaksa memejamkan matanya, menikmati elusan memabukkan itu dalam-dalam. Jemari itu terus bergerak, melukiskan pola-pola aneh pada perutnya, lalu sekejap kemudian telah beralih ke bawah, meraba kejantanannya yang sedang merana kesakitan hingga Sehun tersentak kembali pada realita seolah ia baru saja muncul dari dalam danau yang sangat dalam. Sehun menggeram frustasi sambil menggigit bibir, merasakan elusan memabukkan itu hingga beberapa detik yang menggairahkan, tapi setelahnya ia tarik pergelangan tangan Luhan, menyingkirkan jemari Luhan dari daerah kejantanannya dengan bijaksana.

 

 

Sehun menggelengkan kepala ketika Luhan berusaha meraih selangkangannya lagi, seolah menegaskan jika itu adalah kesalahan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam ketika ia melihat raut kekecewaan dari wajah Luhan. Ia raih kepala pemuda cantik itu dan ia letakkan pada dadanya sendiri, mengelus surai cokelat madunya pelan-pelan.

 

 

“Kepalamu akan terasa sakit hingga beberapa waktu ke depan. Tidurlah, aku akan memelukmu sampai kau tertidur.”

 

 

Sehun membaringkan tubuh Luhan perlahan-lahan, kemudian ia juga berbaring di samping pemuda cantik itu. Sesuai janjinya, ia memeluk Luhan dan mengelus kening pria itu agar Luhan benar-benar tertidur, meskipun setiap detiknya terasa sangat menyiksa untuknya.

 

 

Luhan memejamkan mata, membiarkan dirinya mengapung. Baru kali ini seorang pria membuatnya merasa seksi dan juga erotis. Pria yang memeluknya ini membuatnya seolah tak berpijak pada bumi di mana ia tinggal. Belum ada pria yang mampu membuatnya merasa seperti ini sebelumnya.

 

 

‘Sayang sekali ini hanya mimpi.’ –pikir Luhan.

 

 

Pria tampan yang memeluknya ini adalah tipe lelaki idamannya. Dia harus bersikap tenang agar ia tak mengacaukan mimpi indahnya kali ini. Jangan sampai dalam mimpi pun ia tak bisa meraih kencan romantis seperti dalam novel-novel roman yang sering ia baca selama ini. Ia eratkan pelukannya pada tubuh pria itu, mencari posisi nyaman yang membuatnya merasa terlindungi. “Jangan pergi ya…meskipun kau hanya ada dalam mimpiku, tapi aku ingin memelukmu terus seperti ini sampai aku terbangun nanti.”

 

 

Sehun terdiam, kemudian ia menarik nafas dalam-dalam dan ikut mengeratkan pelukannya pada tubuh Luhan. “Aku akan disini ketika kau terbangun nanti. Sekarang tidurlah…” gumamnya lembut.

 

 

Luhan masih sempat mendengar kata-kata halus itu di dalam kepalanya, kemudian ia merasa mulai melayang dalam kegelapan. Setelahnya ia menemukan setitik cahaya terang, membawanya ke sebuah tempat asing yang indah. Ia mulai melangkah ke sana. Dengan senyuman yang melengkung pada bibirnya, ia mulai menjelajah di tempat asing tetapi indah itu, di dalam alam mimpi yang sebenarnya.

 


 

To Be Continued


A/N : Terima kasih sudah menyempatkan membaca^^ 

Advertisements