WARNING!

SEMUA KARAKTER DALAM FF INI SANGAT MENYEBALKAN DAN JUGA MENJIJIKKAN. BAGI SIAPA AJA YANG NGGAK SUKA BIASNYA DINISTAKAN DALAM FF TOLONG CLOSE FF INI DENGAN SEGERA AGAR TIDAK TERJADI KESALAHPAHAMAN DENGAN AUTHOR ( SAYA ), THANKS, XDDD.


 All About Love Poster

ALL ABOUT LOVE ( Othello Season 2 )

.

.

By tmarionlie

.

.

ChanBaek | ChanLu | KrisBaek

.

.

 

Yaoi | Drama | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


CHAPTER 11


Chanyeol berkali-kali menggosok-gosok telapak tangannya karena udara yang begitu dingin. Berkali-kali juga ia menoleh, melirik pada pintu masuk klub malam yang berada beberapa meter di hadapannya. Senyuman lebar menghiasi wajah tampannya ketika ia melihat Luhan melangkah keluar dari dalam klub itu, berjalan cepat untuk menghampirinya.

 

 

“Chanyeollie…sudah lama?” tanya Luhan ketika jarak mereka sudah dekat.

 

 

“Hmm…lumayan.”

 

 

Luhan memutar bola matanya sendiri ketika tubuhnya tiba-tiba saja telah berada di dalam pelukan pria jangkung itu. Dia hanya diam hingga beberapa detik, membiarkan Chanyeol memeluknya dengan erat. Hingga beberapa detik kemudian yang membuatnya mulai merasa jengah sendiri.

 

 

“Err…Chanyeollie, lepaskan aku,” kata Luhan, tapi Chanyeol malah semakin mengeratkan pelukannya.

 

 

“Biarkan aku memelukmu Lu….aku kedinginan….”

 

 

Luhan membuang nafasnya dengan malas, namun kali ini ia membiarkan Chanyeol memeluknya lebih erat lagi dari pelukan yang tadi. Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya Chanyeol membebaskan tubuh Luhan dari pelukannya.

 

 

“Ayo…” kata Chanyeol singkat.

 

 

Tanpa berkata apapun Luhan langsung masuk kedalam mobil Chanyeol saat pemiliknya membukakan pintu mobil dan menyuruhnya masuk dengan isyarat mata. Mereka saling diam selama beberapa detik yang panjang di dalam mobil itu, namun salah satunya mulai bersuara ketika merasa jengah pada keheningan yang ada.

 

 

“Kenapa kau menyusulku kesini?” tanya Luhan.

 

 

“Tak apa. Aku hanya merindukanmu,” jawab Chanyeol tanpa menoleh pada pria yang duduk di sampingnya itu.

 

 

Luhan terdiam.

 

 

“Kenapa kau bertanya?” Kali ini Chanyeol yang bersuara.

 

 

“Tak apa-apa. Aku hanya–“

 
“Aku tau kau jengah….tapi biarkan aku tetap disisimu Lu…” kata Chanyeol dengan nada suara yang begitu pahit.

 

 

Luhan menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia menatap sisi wajah Chanyeol dengan tatapan sedih. Entah mengapa semuanya begitu rumit bagi mereka. Jujur saja Luhan sangat kasihan pada Chanyeol. Walau bagaimanapun Chanyeol adalah sahabat terbaiknya, orang yang sangat ia sayangi. Kehadiran Baekhyun memang membuat segalanya menjadi rumit untuk hubungan mereka, tapi Luhan juga tak bisa menyalahkan pemuda mungil itu. Luhan tak mengerti mengapa Baekhyun bisa sangat membencinya dan tega mempermalukannya di depan umum, tapi ia yakin jika pria kecil itu sebenarnya tak sejahat itu.

 

 

Sejak ia mengenal Baekhyun, Luhan meyakini jika Baekhyun telah menjalani hidupnya dengan begitu keras hingga membentuk kepribadian yang juga sedikit keras seperti sekarang. Ia tak akan mengerti tentang semua itu jika saja ia tak mengalaminya sendiri. Luhan mengerti bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tak diinginkan. Ia juga tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti sampah yang terbuang. Ia telah mengalami semuanya, dibeda-bedakan dengan Siyan sejak kecil, ditinggal Ibu dan kakak kembarnya, lalu diabaikan oleh Ayah kandungnya sendiri meskipun ia merintih kesakitan setiap kali Ibu Pedofilnya yang gila memperkosanya hingga berkali-kali. Ia tahu bagaimana rasanya. Memang menyakitkan, dan Luhan sendiri juga merasa muak pada hidup yang ia jalani, jujur saja.

 

 

Tapi untuk kasus Chanyeol dan Baekhyun, ia juga tak bisa melakukan apapun. Chanyeol menyukainya, dan ia telah berusaha melakukan segala cara agar Chanyeol dan Baekhyun menghentikan segala kesalahpahaman yang ada, bahkan ia telah menjauhi Chanyeol meskipun ia tak ingin. Tapi entah mengapa segalanya masih saja terasa sulit meskipun ia yakin jika ia telah melakukan hal yang benar. Entah apa lagi yang terjadi pada Chanyeol dan Baekhyun kali ini, hingga lagi-lagi ia harus terseret dalam masalah kedua pasangan egois itu. Seharusnya ia tak berada di sini. Seharusnya ia bisa menjalani hidupnya dengan tenang. Bahkan hidupnya sendiri saja sudah begitu mengenaskan, dan ia harus bersusah payah lagi terlibat dalam hubungan asmara pasangan tak punya otak seperti Chanyeol dan Baekhyun. Seandainya saja kedua orang idiot itu mau berpikir jernih dan membuang ego masing-masing, pasti segalanya tak akan serumit ini.

 

 

“Hhh…” Luhan mengeluarkan desahan lelahnya sambil menyandarkan punggungnya di jok mobil. Ia mendesis dan mengernyit sakit ketika salah satu luka lebam yang ia dapatkan dari Ibu tirinya kemarin menggesek jok yang ia sandari. Wanita Pedofil itu memang gila. Selain Pedofil ia juga maniak. Luhan tak pernah lolos dari seks yang menyakitkan ketika ia melayani Ibu tirinya itu. Setiap seks yang ia lakukan dengan terpaksa, Luhan tak pernah sekalipun terbebas dari hantaman benda-benda keras atau apapun yang membuat tubuhnya terluka. Ia pasti akan selalu mendapatkannya meskipun itu satu atau dua buah. Ck, menyebalkan dan juga menyakitkan. Bahkan ia telah merencanakan untuk kabur dari rumah sialan itu dan bersembunyi agar Ibu tirinya tak bisa menemukannya lagi. Untung saja ia dapat segera merealisasikan keinginannya itu. Besok ia akan segera kabur dan pindah ke Apartemen yang baru ia dapatkan dari Kris. Ia hanya harus berdoa semoga segalanya lancar dan berjalan sesuai dengan keinginannya.

 

 

“Chanyeol….”

 

 

“Hmm?”

 

 

“Kau dan Baekhyun….putus?” tanya Luhan hati-hati.

 

 

“Hmm.” Chanyeol hanya menggumam sebagai jawaban. Luhan bisa menangkap raut kesedihan dari wajah Chanyeol, membuatnya menyesali pertanyaan yang ia lontarkan, tapi Luhan benar-benar terlanjur ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.

 

 

“Kenapa kalian putus?”

 

 

“Dia tak mencintaku Lu…dia lebih memilih pria blonde itu…” jawab Chanyeol dengan nada getir pada suaranya.

 

 

“Namanya Kris. Dia temanku…” kata Luhan, meralat ucapan Chanyeol.

 

 

Chanyeol tertawa kecil. “Ya, aku tahu nama pria itu Kris. Jadi kau berteman dengannya juga ya?”

 

 

Luhan megangguk. “Ya…kami berteman dekat…”

 

 

“….”

 

 

“….”

 

 

“….”

 

 

“Kau tahu? Kau bisa memperbaiki hubunganmu dengan Baekhyun sebenarnya –jika kau mau,” kata Luhan.

 

 

“Yah…kau tahu kan kalau aku mau? Tapi sayangnya dia tidak. Sudahlah, tak usah membahasnya lagi Lu, aku muak.”

 

 

Luhan membuang nafas beratnya, kemudian ia hanya diam hingga beberapa detik sebelum ia kembali menoleh ke samping dan menatap wajah kusut Chanyeol lekat-lekat. “Chanyeollie, apa kau masih menyukaiku?” tanyanya tiba-tiba, membuat Chanyeol langsung menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik, lalu Chanyeol kembali fokus pada jalanan lengang yang berada di hadapan mereka.

 

 

“Ya,” jawab Chanyeol tanpa menoleh pada Luhan.

 

 

Luhan terkekeh sinis. “Kau bohong. Kau mencintainya, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas, Park Chanyeol.”

 

 

Ekspresi Chanyeol mengeras tanpa bisa ia cegah. Ia merasa frustasi. Entah hanya perasaannya saja, tapi Chanyeol merasa jika Luhan sedikit menyebalkan hari ini. Yeah, hubungan mereka memang sudah tak semanis dulu semenjak Baekhyun muncul. Tapi tak bisakah Luhan mengerti pada keadaannya yang sedang terpuruk ini sedikit saja? Ia sedang tak ingin membahas apapun tentang Baekhyun, tapi Luhan terus-menerus membahasnya, membuatnya merasa kesal dan juga sedikit muak. Ia hanya ingin lari dari masalah menyebalkan ini untuk sekejap saja, jadi tak bisakah Luhan mengerti pada keinginannya itu?

 

 

Chanyeol menarik nafas hingga berkali-kali untuk meredakan emosinya. Dan Luhan, malah terkekeh menyebalkan di sampingnya, mengejek.

 

 

“Tingkahmu menggelikkan. Aku heran kenapa Baekhyun bisa begitu menyukaimu,” ejek Luhan, semakin terlihat menyebalkan di mata Chanyeol.

 

 

Chanyeol menghentikan mobil dengan mendadak, membuat Luhan terpekik kaget.

 

 

“Tch, apa-apaan kau! Digoda sedikit saja kau sudah marah, bagaimana bisa Baekhyun bertahan pada pria idiot sepertimu? Labil, pemarah, egois, seperti itulah gambaran dirimu yang sebenarnya. Pantas saja Baekhyun kabur dan lebih memilih Kris ketimbang memilihmu. Jika aku jadi Baekhyun, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama,” kata Luhan kejam, dan tanpa perasaan.

 

 

Chanyeol memejamkan matanya, mencoba tak terpancing emosi oleh kata-kata Luhan yang sangat menyebalkan. Pemuda cantik ini benar-benar menjatuhkan harga dirinya. Chanyeol benar-benar telah berusaha menenangkan diri, tapi sayangnya kata-kata Luhan benar-benar berhasil mengorek emosinya keluar. Chanyeol tak akan membiarkan pemuda cantik itu terus meremehkannya dan menginjak-injak harga dirinya lebih jauh dari ini. Dia harus membungkam Luhan secepatnya.

 

 

“Bisakah kau berhenti membahas dia? Jangan menyebut namanya lagi di depanku Lu, aku muak mendengarnya! Aku benar-benar ingin melupakan Baekhyun. Tak peduli kau menyukaiku atau tidak, aku hanya ingin bersamamu. Aku butuh kau Luhan, dan kau harus mau berada di sisiku, tak peduli kau suka ataupun tidak! Kau milikku sekarang, kau harus mau menjadi kekasihku meskipun kau tak ingin, titik!” katanya egois.

 

 

Dan sebelum Luhan sempat menjawab, tubuhnya telah tersudut ke kaca jendela mobil, dengan tangan Chanyeol yang menekan kuat bahunya. Bibir Chanyeol menekan bibirnya dalam-dalam, dan tubuhnya tak bisa bergerak karena Chanyeol mencengkram lengannya dengan begitu kencang. Luhan merasa kesal, namun ia tak bisa melakukan apapun untuk melawan. Dia hanya bisa pasrah menerima cumbuan liar dari pria tinggi itu, bahkan ia tak berani mengatakan apapun lagi ketika Chanyeol mulai melajukan mobil dengan nafas tersengal karena terlalu emosi dan berhenti di depan salah satu Hotel setelahnya. Sepertinya kata-katanya memang sudah sangat keterlaluan tadi, hingga membuat pria tinggi itu menjadi sangat kesal, marah, dan mungkin saja sekarang ini Chanyeol ingin mengamuk padanya, entahlah…Luhan tak ingin bertanya.

 

 

Luhan hanya mengikuti langkah kaki Chanyeol dengan terseok-seok saat pria tinggi itu menyeret paksa tubuhnya ke dalam salah satu kamar Hotel, menghempaskan tubuh mungilnya ke atas ranjang, membuat punggungnya yang lebam terasa seperti ditusuk dengan pasak besi yang runcing. Luhan tak bisa melawan ketika Chanyeol menelanjanginya dan mulai mencumbui tubuhnya dengan penuh nafsu. Luhan hanya diam dan menahan nyeri-nyeri yang menyengat punggung dan juga bokongnya ketika Chanyeol memperkosanya dengan begitu liar. Ia hanya bisa mencoba maklum dan tak ingin bertanya, karena ia mengerti perasaan pria itu. Karena mereka berdua sama. Sama-sama putus asa pada keadaan. Luhan hanya bisa meremas kuat rambut pria tinggi itu dan berkali-kali mendesis nikmat bercampur sakit hingga mereka mencapai klimaks mereka bersama-sama. Keduanya sama-sama diam saat kegiatan seks itu berakhir, saling mengatur nafas hingga Chanyeol menyingkir dari atas tubuh Luhan, memisahkan tubuh mereka lalu sama-sama menatap langit-langit kamar Hotel dalam keheningan. Lalu…

 

 

 

“Maafkan aku…” kata Chanyeol menyesal, setelah mereka terjebak dalam keheningan yang begitu panjang. Luhan hanya diam dan menatap sedih pada Chanyeol ketika pria itu menyembunyikan wajah ke dalam dadanya yang telanjang. Tanpa bertanyapun, Luhan tahu jika Chanyeol tengah menangis sekarang. Dadanya terasa basah, dan tubuh Chanyeol bergetar dalam pelukannya.

 

 

“Chanyeollie…sssttt…tak apa-apa, tenanglah…” Luhan mengelus punggung Chanyeol hingga beberapa kali, kemudian mengelus rambut cokelat pemuda tinggi itu. “Tenanglah Chanyeol…tak apa-apa…”

 

 

Luhan menghela nafas lega ketika Chanyeol telah tampak tenang dalam pelukannya. Dia renggangkan pelukannya, dan ia menemukan Chanyeol sedang menatapnya dengan tatapan menyesal saat ini.

 

 

“Aku benar-benar menyesal melakukan ini padamu…” kata Chanyeol, meraih jemari Luhan dan mengecupnya satu kali.

 

 

Luhan tersenyum dan menggeleng. “Tak apa. Aku baik-baik saja. Sudah pernah kukatakan padamu kan jika tubuhku ini bukanlah sesuatu yang begitu berharga lagi semenjak Ayahku menikahi wanita gila itu? Jadi kau tak perlu merasa bersalah padaku karena hal sepele seperti ini. Jangan kau pikirkan. Aku baik-baik saja.”

 

 

Chanyeol mengusap kasar wajahnya, kemudian kembali menatap Luhan. “Aku tahu kau tak menyukaiku Lu…tapi aku benar-benar membutuhkanmu di sisiku. Karena itu, berpura-puralah untuk peduli padaku, kau mau kan?”

 

 

Luhan hanya diam hingga waktu yang begitu panjang. Ia tak ingin, benar-benar tak ingin terlibat lebih jauh lagi, tapi –ia menggigit bibir, kemudian ia malah mengangguk, merasa tak tega melihat Chanyeol yang terlihat sangat rapuh sekarang ini.

 

 

Chanyeol tersenyum miris, kemudian mengecup kening Luhan satu kali. “Terima kasih atas pengertianmu, kau benar-benar baik Luhan…”

 

 

Mereka kembali terdiam, lalu keduanya sama-sama menelentangkan posisi berbaringnya, menatap kosong pada langit-langit kamar Hotel dengan pikiran yang sama-sama berkecamuk. Tangan mereka saling bertautan, saling menggenggam, menguatkan satu sama lain.

 

 

“Chan…”

 

 

“Hmm?”

 

 

“Aku berencana pindah ke Apartemen baru besok.”

 

 

Chanyeol menoleh ke arah samping, menatap Luhan yang juga sedang menatapnya. “Pindah? Besok?”

 

 

Luhan mengangguk. “Ya. Aku memutuskan untuk kabur dan hidup secara independen. Aku tak ingin menyia-nyiakan hidupku dengan percuma. Hidupku terlalu berharga untuk kuhabiskan dengan menjadi budak seks wanita sialan itu. Aku akan kabur dan bersembunyi darinya,” jawab Luhan, lalu ia tertawa kecil meskipun kelopak matanya telah tergenang sedikit oleh airmatanya sendiri.

 

 

Chanyeol menatap Luhan yang sedang tertawa itu dengan senyuman miris yang terukir pada bibirnya. Ia mengulurkan tangannya dan menggapai surai merah Luhan, mengelus kepala pemuda itu hingga beberapa kali. “Aku akan membantumu,” kata Chanyeol, kemudian ia tarik tubuh Luhan untuk ia peluk. Ia tak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk Luhan. Ia hanya berharap pelukan hangatnya dapat mengurangi kesedihan pemuda cantik itu meskipun ia baru saja menambah beban bathin serta luka pada tubuh Luhan akibat emosinya yang tak terkendali.

 

 

“Terima kasih Chanyeollie…kau adalah sahabat terbaikku,” kata Luhan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang telanjang Chanyeol yang masih basah oleh keringat akibat kegiatan seks mereka tadi.

 

 

Chanyeol menarik nafasnya dalam-dalam. “Mulai sekarang kau adalah milikku Lu…Aku tak tahu bagaimana menyebutnya, tapi kau adalah milikku, aku adalah milikmu, ingat itu…” kata Chanyeol sambil menaikkan selimut sampai menutupi dada mereka, kemudian ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Luhan. Dagunya menempel pada kepala Luhan, dan tangannya mengelus-elus rambut Luhan dengan lembut. Ia mengecup kepala Luhan satu kali, lalu ia hanya diam sambil  menatap kosong pada objek lurus yang tertangkap oleh matanya. Meskipun ia ingin menghentikan semua kegilaan ini, ia tak bisa melakukannya. Meskipun otaknya kini penuh oleh bayang-bayang pria mungil bermata sipit yang berada sendirian di rumahnya, entah mengapa egonya tetap menyuruhnya untuk bersikeras melawan memikirkan si kecil itu. Segalanya terasa sangat membingungkan, dan menyakitkan. Ia mengerti jika apa yang ia lakukan ini telah menyakiti Baekhyun dan Luhan sekaligus, tapi ia tak mampu mencegahnya. Ia juga merasa menderita, merana karena nasib percintaannya yang mengenaskan. Ia tak bisa menahan diri. Chanyeol hanya ingin melampiaskan rasa sakitnya meskipun tindakannya ini egois dan kejam.

 

 

Chanyeol mengutuk dirinya sendiri dalam hati, mengutuk apa yang baru saja ia lakukan pada Luhan. Meskipun pemuda cantik yang ia peluk ini mengatakan jika ia baik-baik saja, Chanyeol tahu jika sebenarnya ia tak begitu. Hidup Luhan sudah sangat kasihan. Seharusnya ia tak menyakiti sahabatnya ini. Seharusnya ia membiarkan Luhan hidup dengan tenang, bukannya berkali-kali menyeretnya pada masalah yang seharusnya tak menjadi urusannya. Tapi ia tak bisa berhenti, belum, meskipun ia ingin.

 

 

Chanyeol merasakan jika matanya kembali memanas, dan dadanya terasa amat sesak. Ia pejamkan matanya, membuat air yang sudah menggantung di sudut matanya tadi langsung terjatuh bebas dan membasahi kulit wajahnya. Pria itu memeluk tubuh Luhan lebih erat. Chanyeol butuh kekuatan lebih besar lagi untuk menghadapi nasib percintaannya yang rumit. Dipelukannya, Luhan juga sama. Pria cantik itu juga masih diam dengan kening yang berkerut dalam. Banyak hal yang dipikirkannya, dan selurunya membuatnya pusing. Akhirnya Luhan juga mengikuti Chanyeol, ikut memejamkan mata, dan memeluk punggung telanjang Chanyeol erat-erat. Biarlah mereka melupakan segala kenyataan pahit ini sejenak, dan menikmati kebersamaan mereka yang sebenarnya sama-sama tak mereka inginkan.

 

 

.

.

.

-All About Love-

.

.

.

Jam 7 pagi. Baekhyun baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan turun untuk membuat sarapan setelah tubuhnya terasa segar sehabis mandi. Kaki pendeknya melangkah lambat di anak-anak tangga, menuju ke lantai bawah. Langkahnya terhenti mendadak ketika ia melihat Chanyeol yang baru saja masuk ke dalam rumah, membuatnya tertegun diam pada tempatnya berdiri.

 

 

‘Jadi tadi malam Chanyeol tak tidur dirumah? –pikirnya.

 

 

Chanyeol berhenti melangkah saat melihat pria yang dicintanya itu tengah menatapnya dari tengah-tengah tangga. Mereka cukup lama terdiam dengan mata yang saling menatap satu sama lain, tanpa bicara apapun. Ah, mereka memang tak saling bicara lagi semenjak malam dimana mereka bertengkar di dekat pagar rumah. Chanyeol merasa ragu, tapi pada akhirnya dia melemparkan senyumnya juga pada Baekhyun. Chanyeol ingin menunjukkan pada Baekhyun bahwa dia baik-baik saja dan benar-benar tak merasa terpuruk oleh kenyataan bahwa hubungan mereka telah berakhir. Tidak, Baekhyun tak boleh melihat jika sebenarnya ia merasa begitu menderita.

 

 

“Hai,” sapa Chanyeol, mencoba mengajak Baekhyun bicara.

 

 

Baekhyun hanya diam. Jantungnya berdetak tak karuan, namun ia menjaga wajahnya agar tetap terlihat datar. Perlahan kaki pendeknya melangkah turun dan melewati tubuh Chanyeol begitu saja, menuju meja makan. Baekhyun duduk tenang disana, mulai mengambil roti dari atas meja dan mulai mengoleskan strawberry jam di permukaan roti tawarnya.

 

 

Chanyeol mendesah lelah, lalu dengan membuang harga dirinya, ia ikut duduk di meja makan, tepat di samping Baekhyun, membuat gerakan tangan Baekhyun terhenti. Kepala pemuda mungil itu menoleh kearah Chanyeol dengan kening yang berkerut tak senang. Wajahnya menunjukkan dengan sangat jelas jika ia tak suka Chanyeol berada dalam jarak sedekat itu dengannya, membuat Chanyeol mendengus sebal karena merasa muak oleh tingkah keras kepala pria mungil itu.

 

 

“Ck, ayolah…kita tak perlu bermusuhan lebih lama lagi Baek, jangan terlalu kekanakan,” kata Chanyeol jengah.

 

 

Baekhyun tak menjawab, dan mulai mengolesi rotinya lagi dengan jam rasa strawberry kesukaannya.

 

 

“Bisakah kau membuatkan satu untukku?” kata Chanyeol, berharap Baekhyun masih mau memberikan sedikit perhatian untuknya.

 

 

Baekhyun tak bergerak hingga beberapa detik, tapi kemudian ia menjulurkan tangan, mengambil dua belah roti dan mengolesinya dengan selai kacang, membuat Chanyeol tersenyum miris. Baekhyun bahkan masih ingat kalau dia menyukai roti dengan selai kacang daripada strawberry atau rasa lainnya, menandakan jika pria mungil itu masih begitu memperhatikannya, tapi mengapa Baekhyun masih saja keras kepala dan tak mau mencoba memperbaiki hubungan mereka?

 

 

Baekhyun meletakan roti-roti itu ke atas piring kecil dan mendorong piringnya ke hadapan Chanyeol tanpa mengatakan apa-apa, setelahnya ia hanya menikmati sarapannya sendiri tanpa suara.

 

 

“Terima kasih,” kata Chanyeol sambil menarik piring rotinya mendekat.

 

 

Beberapa detik mereka hanya diam, sarapan. Detik selanjutnya Baekhyun sudah melirik ke arah Chanyeol dengan raut wajah ragunya. Ia ingin bertanya, tapi berkali-kali ia urungkan. Tapi pada akhirnya toh ia tak bisa menahan. Keingin-tahuannya begitu besar, membuat pertanyaan yang menggumpal sejak tadi tak bisa ditahan untuk dikeluarkan.

 

 

“Kau….baru pulang?” tanya Baekhyun hati-hati, suara pertama yang dikeluarkannya setelah mereka saling diam selama beberapa hari ini.

 

 

Chanyeol sempat tertegun, tapi ia kemudian menunjukkan senyumnya pada Baekhyun. “Ya,” jawabnya singkat, lalu ia menggigit rotinya lagi.

 

 

“Semalam kau tidur dimana?” tanya Baekhyun lagi.

 

 

Chanyeol menoleh dan menatap Baekhyun, menatapnya dengan raut wajah yang begitu terluka.

 

 

“Hotel–” jawabnya, lalu mengalihkan tatapannya lagi kearah meja. Ia diam hingga beberapa detik sambil menahan-nahan nyeri pada hatinya sendiri, lalu…

 

 

“–dengan Luhan,” lanjutnya tanpa perasaan, sengaja ingin memberikan rasa sakit pada hati Baekhyun. Agar si mungil itu tahu jika bukan hanya ia saja yang mampu menguasai keadaan. Baekhyun harus tahu jika bukan hanya ia saja yang bisa mencampakkannya dengan seenaknya. Baekhyun juga harus merasakan apa yang ia rasakan. Rasa sakit itu, ia tak mau menanggungnya seorang diri.

 

 

Chanyeol bisa merasakan jika Baekhyun tadi langsung menoleh terkejut ke arahnya, tapi ia tetap menatap piring rotinya sendiri, tak ingin menatap Baekhyun. Setelahnya ia malah berdiri tanpa menghabiskan makanannya, lalu mulai membelakangi pria mungil itu.

 

 

“Aku lelah–dan mengantuk. Semalaman aku dan Luhan tak tidur. Kau tahu? Seks kami begitu hebat Baek, tubuhku rasanya sangat remuk. Luhan benar-benar pintar memuaskanku di ranjang. Ah, mungkin kami harus melakukannya lagi lain kali.”

 

 

Chanyeol melirik sekilas pada Baekhyun, dan ia melihat pemuda mungil itu mematung dengan tatapan yang mengarah lurus pada piringnya sendiri.

 

 

“Aku sudah sangat lelah, jadi aku akan tidur sekarang. Terima kasih sudah mau membuatkan sarapan untukku,” lanjut Chanyeol, lalu ia berjalan cepat menuju lantai atas, ke kamarnya sendiri.

 

 

Pisau dan garpu yang dipegang Baekhyun terjatuh begitu saja ke piringnya, setelah ia sekuat tenaga memegangnya dengan tangan yang gemetar hebat sejak tadi. Ucapan Chanyeol tadi membuat hatinya tersengat oleh nyeri-nyeri yang mematikan. Baekhyun benar-benar merasa ingin mati saja sekarang. Dadanya sesak sekali. Sesuatu mendesak keluar dari matanya, dan sesuatu itu benar-benar jatuh tanpa bisa ditahannya lagi. Baekhyun menangis tanpa suara, dan kepalanya terkulai jatuh begitu  saja di permukaan meja makan. Ia menangis sambil menyembunyikan wajahnya diantara lengan dan meja, sementara bahu sempitnya bergetar kuat.

 

 

‘Ya Tuhan, sakit sekali…’ erangnya dalam hati sambil terisak-isak pilu.

 

Chanyeol meremas pegangan tangga kuat-kuat, sambil menatap pria mungil itu dari atas. Matanya juga sudah terasa panas, tapi Chanyeol menahannya sekuat tenaga. Pria tinggi itu akhirnya mengalihkan tatapannya dari pria mungil yang berada di bawah dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Chanyeol sudah tak tahan, hingga akhirnya airmatanya terjatuh juga bersamaan dengan pintu kamarnya yang tertutup karena ia banting dengan begitu keras.

 

.

.

.

-All About Love-

.

.

.

Luhan menatap Chanyeol dengan tatapan datar. Pria tinggi itu kini sedang membongkar boxbox besar berisi barang-barang Luhan, dan meletakkan segalanya sesuai instruksi yang diberikan Luhan. Yeah…sejak siang tadi Chanyeol membantu –err maksudnya Chanyeol mengerjakan segalanya, sedangkan Luhan hanya menyuruh-nyuruhnya saja dengan mengatur segala letak barang-barangnya hingga akhirnya segalanya selesai setelah berjam-jam yang melelahkan. Chanyeol duduk sebentar disofa Luhan setelah segalanya beres, dan beberapa menit setelahnya ia mendapatkan segelas minuman dingin yang disodorkan oleh pria yang lebih mungil. Chanyeol menyodorkan kembali gelas itu setelah isinya habis seluruhnya, dan Luhan gantian menyodorkan ponsel milik Chanyeol yang sejak siang tadi memang dititipkan padanya.

 

 

“Baekhyun meneleponmu sejak tadi,” kata Luhan datar.

 

 

Chanyeol mengerutkan keningnya, lalu mengecek history panggilan di ponselnya dengan cepat.

 

 

Baekkie…23 missed call…

 

 

Dada Chanyeol terasa bergemuruh tak tenang, tapi ia mencoba menepisnya dan malah menoleh ke arah Luhan dengan senyuman genitnya.

 

 

“Kenapa tidak kau jawab saja?” tanyanya, membuat Luhan langsung tertawa kecil.

 

 

“Aku hanya tak ingin membuat kekasih mungilmu itu menangis…” jawab Luhan tanpa minat.

 

 

“Dia tak akan menangis….lagipula kami sudah putus.”

 

 

“Terserah. Lagipula aku tak peduli padanya. Aku hanya malas berbicara dengannya,” kata Luhan dingin. Pemuda cantik itu beranjak dari duduknya, lalu melipat tangannya di depan dadanya sendiri sambil menatap Chanyeol. “Kau tak pulang?” tanyanya pada Chanyeol.

 

 

“Kau mengusirku?” protes Chanyeol, dan Luhan langsung tertawa ketika mendengarnya.

 

 

“Ya, aku mengusirmu. Jangan tersinggung, aku hanya ingin menikmati Apartemen baruku seorang diri –tanpa kau,” kata Luhan tanpa perasaan.

 

 

Chanyeol terkekeh geli, lalu ia menarik tubuh Luhan kepangkuannya. “Kenapa tak mau menikmatinya bersamaku, hmm? Kita bisa melakukan ‘sesuatu’ chagiya…”goda Chanyeol.

 

 

Luhan berdecak sebal, kemudian ia dorong wajah Chanyeol yang hampir saja mencuri ciuman dari bibirnya. Dengan cepat ia kembali berdiri dan menarik tangan Chanyeol, memaksanya ikut berdiri juga.

 

 

“Cepatlah pulang. Ini sudah jam tujuh malam, Chanyeollie!” kata Luhan memaksa, sebenarnya hanya ingin Chanyeol cepat pulang dan mengecek keadaan Baekhyun, karena pria mungil itu menelepon terus sejak tadi. Well…Luhan memang sangat ingin mengabaikan apapun tentang Baekhyun dan bersikap tak peduli pada pria mungil itu, tapi entah mengapa perasaannya menjadi tak enak ketika melihat nama Baekhyun berkali-kali menghubungi ponsel Chanyeol. Sepertinya pemuda mungil itu sangat membutuhkan Chanyeol untuk alasan tertentu dan bisa jadi hal itu adalah sesuatu yang sangat penting.

 

 

“Hhh…kenapa kau berniat sekali mengusirku? Biarkan aku tetap di sini Chagiya~” rengek Chanyeol, dengan nada yang dibuat-buat. Hampir saja Luhan muntah melihatnya. Tak pantas sama sekali.

 

 

“Ck, cepatlah berdiri Park Chanyeol!” paksa Luhan, sambil menarik-narik lengan Chanyeol dengan brutal, membuat Chanyeol terkekeh.

 

 

Dengan sangat terpaksa, akhirnya Chanyeol beranjak juga dari posisi duduknya meskipun sebenarnya ia merasa enggan. “Baiklah, aku akan pulang…” kata Chanyeol menyerah. Ia memeluk pinggang ramping Luhan selama mereka berjalan sampai ke pintu utama Apartemen, membuat Luhan memutar bola matanya dengan malas. Chanyeol tahu jika Luhan merasa jengah, tapi Chanyeol tak peduli.

 

 

Kau yakin tak ingin bersenang-senang malam ini? Kita bisa menghabiskannya dengan sangat bergairah…” goda Chanyeol lagi. Ia telah memutar tubuhnya dengan tangan yang masih tetap memeluk pinggang Luhan, memeluk tubuh mungil itu, lalu sedikit menjilat telinga Luhan dan membisikkan kata-kata rayuan yang sukses membuat Luhan tersenyum geli. Tapi sayangnya, sekejap kemudian Luhan sudah mendorong tubuhnya menjauh dengan tak berperasaan.

 

 

 

 

“Aku sedang tak mood Chanyeollie…Lagipula apa kau tidak lelah?”

 

 

 

Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan wajah yang dibuat-buat imut, sedikit memaksa dan tak pantas sama sekali, membuat Luhan tertawa kecil karenanya. Jari-jari mungil Luhan kini sudah mengarah pada pipi kiri Chanyeol dan mengelusnya pelan-pelan.

 

 

 

“Pulanglah…..Baekhyun pasti sedang menunggumu. Daritadi dia mencoba menghubungi ponselmu terus, aku khawatir terjadi sesuatu dengannya…” kata Luhan lembut.

 

 

 

 

Chanyeol terkekeh. “Woooo…tumben kau peduli padanya.”

 

 

 

Luhan berdecak lagi. “Pulanglah, Park Chanyeol!” kata Luhan, lagi-lagi mendorong tubuh Chanyeol agar menjauh darinya.

 

 

 

“Oke-oke…tapi cium aku dulu. Apa kau tak berniat memberikan upah apapun setelah aku membantumu?” tanya Chanyeol, plus dengan bibir yang dengan sengaja dimajukan hingga membuat wajahnya terlihat aneh.

 

 

 

Luhan mendesah malas, tapi –”hhh…baiklah….” katanya menyerah. Sebenarnya Luhan hanya ingin agar Chanyeol tak berlama-lama lagi dan cepat-cepat pergi dari hadapannya. Lagipula Chanyeol butuh mengecek keadaan Baekhyun –menurut Luhan. Demi memangkas waktu, Luhan menarik pipi Chanyeol mendekat, lalu ia langsung mencium bibir Chanyeol dengan ciuman liar yang terkesan ganas. Chanyeol juga sama saja, membalas ciuman Luhan dengan tak kalah liar. Tangan Luhan sudah mengalung erat di leher Chanyeol, dan pemuda yang lebih tinggi memeluk pinggangnya erat-erat. Kepala mereka sudah bergerak teratur ke arah yang berlawanan, menikmati ciuman mereka yang entah untuk apa mereka lakukan, padahal mereka sama-sama tak menginginkannya –sebenarnya. Ayolah Chan, Lu, kalian bahkan berada diluar pintu Apartemen, ck!

 

 

 

 

“Ehem! Sebaiknya kalian masuk ke dalam jika ingin melakukan itu.”

 

 

 

 

Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar, membuat Luhan dan Chanyeol terpaksa menghentikan ciuman panas mereka. Luhan menoleh cepat ke arah suara itu, dan wajahnya langsung pucat dalam seketika. Chanyeol juga sama, menoleh ke arah suara itu, tapi keningnya langsung berkerut dalam ketika ia melihat wajah pemuda yang menginterupsi ciuman panasnya dengan Luhan. Chanyeol tiba-tiba saja teringat pada sesuatu. Pemuda tinggi itu menatap Luhan ketika pria pucat yang menegur mereka tadi masuk begitu saja ke dalam Apartemen yang berada tepat di sebelah Apartemen Luhan. Kening Chanyeol kembali berkerut saat melihat wajah pucat Luhan. Menurutnya Luhan tampak aneh, entah mengapa.

 

 

 

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol penasaran, membuat Luhan terkesiap.

 

 

 

“Aku?  A–aku tak apa-apa. Aku baik-baik saja kok,” jawab Luhan terbata, lalu pemuda cantik itu kembali menatap pintu Apartemen tetangganya yang sudah tertutup rapat sejak beberapa menit yang lalu.

 

 

 

Chanyeol juga ikut menatap pintu itu bersama Luhan. “Aku pernah melihat pria pucat itu Lu,” katanya yakin. Dan tanpa ia duga-duga, ucapannya itu menarik minat Luhan untuk meneruskan topik tentang pemuda pucat tadi lebih jauh.

 

 

 

“Be–benarkah?” tanya Luhan, dengan tingkah yang begitu aneh.

 

 

 

Chanyeol mengangguk yakin. “Ya, tak salah lagi. Dia pasti pria yang waktu itu.”

 

 

 

Luhan menelan ludahnya dengan susah payah. “D-dimana kau melihatnya?” tanyanya lagi.

 

 

 

Chanyeol menarik nafasnya, heran dengan tingkah Luhan, tapi ia menjawab pertanyaan Luhan juga pada akhirnya. “Di pemakaman Siyan…” jawabnya singkat.

 

 

 

Chanyeol semakin heran ketika melihat wajah Luhan yang tampak begitu serius. Bahkan kening pemuda cantik itu berkerut dalam, menandakan jika ia sedang berpikir keras saat ini. “Pemakaman Xiao Huo? Untuk apa dia kesana? Apa dia mengenal Hyung?” tanya Luhan, entah untuk siapa pertanyaan itu.

 

 

 

“Mengapa kau tampak begitu tertarik pada pria pucat itu? Kau mengenalnya?” tanya Chanyeol, merasa penasaran akan tingkah aneh yang ditunjukkan pemuda cantik yang berada di hadapannya itu.

 

 

 

Luhan menatap Chanyeol lekat-lekat, kemudian menggaruk tengkuknya dengan kikuk. “Umm, dia itu teman sekelasku di XOXO…” jawab Luhan pada akhirnya.

 

 

 

“Oh,” kata Chanyeol singkat. Minatnya untuk bertanya lebih jauh menjadi menguap begitu saja. Dia kira Luhan memiliki hubungan dengan pemuda tadi, tapi ternyata pemuda pucat itu hanya teman yang baru Luhan temui di sekolah barunya.

 

 

 

“Umm…Chanyeollie…”

 

 

 

“Hmm?”

 

 

 

“Kau yakin jika pria yang kau lihat di pemakaman itu adalah Sehun?” tanya Luhan tiba-tiba, dan aneh.

 

 

 

“Sehun?” tanya Chanyeol, bingung.

 

 

 

Luhan menggaruk tengkuknya (lagi). “P –pria yang tadi itu. Namanya Oh Sehun…”

 

 

 

“Oh.” Chanyeol mengangguk, mengerti.

 

 

 

“Kau yakin itu dia?” ulang Luhan.

 

 

 

Chanyeol menghela nafasnya satu kali. “Ya, aku yakin. Kulit pucat, dan raibow hair miliknya itu, aku masih sangat ingat. Lagipula aku yakin dia orang yang sama. Dia tak mengenakan kacamata dan semacamnya di pemakaman Siyan. Pria tadi berdiri tepat di sampingku. Aku menatapnya terus selama acara pemakaman karena dia terus-menerus menatap ke arahmu Lu, karena itulah aku masih ingat wajahnya dengan begitu jelas….” Kata Chanyeol, dan Luhan hanya mampu menatap lantai koridor dengan nanar sambil menggigiti bibirnya sendiri dengan kening yang berkerut dalam.

 

 

.

.

.

-All About Love-

.

.

.

Chanyeol memasuki rumahnya dan langsung mencari Baekhyun. Chanyeol juga khawatir sebenarnya, hanya saja ia tak mau menunjukkannya di depan Luhan.

 

 

 

“Baek?”

 

 

 

Chanyeol menaiki tangga dengan cepat, lalu menuju kamar Baekhyun.

 

 

 

“Baekkie?” panggil Chanyeol lagi.

 

 

 

Chanyeol menemukan Baekhyun tidur menyamping di atas ranjangnya, dengan posisi membelakangi pintu, membuatnya tak bisa melihat wajah si mungil itu. Chanyeol tak tahu apakah Baekhyun telah tertidur atau belum, karena itulah ia memutuskan mendekati saudaranya itu dengan pelan, takut menganggu jika seandainya Baekhyun ternyata memang telah terlelap.

 

 

 

“Baek? Tadi kau menelepon?” tanya Chanyeol hati-hati, dengan suara yang sangat rendah.

 

 

 

“….”

 

 

 

“Baekkie…”

 

 

 

“Ngg…ssshhh…”

 

 

 

Chanyeol mengerutkan keningnya. ‘Apa barusan Baekhyun sedang merintih? –pikirnya.  Dengan segala kecamuk yang ada dalam kepalanya, Chanyeol menghampiri Baekhyun dengan cepat. Sepertinya Baekhyun sedang tak baik-baik saja, dan ia harus mencari tahu secepatnya.

 

 

 

“Baekkie….kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol.

 

 

 

 

Baekhyun tak menjawab. Matanya terpejam, dan tangannya sedang meremas perutnya sendiri, membuat Chanyeol keheranan. Tanpa membuang banyak waktu serta perasaan yang mulai tak enak, Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan terkejut karena jemari lentik itu sudah sangat dingin. Ia panik dalam seketika, dan jantungnya berdebam tak terkontrol.

 

 

 

“Baek?? Kau kenapa?”  tanyanya sambil mencoba membalikkan tubuh mungil Baekhyun, namun tubuh Baekhyun kaku, tak mau digerakkan kemanapun.

 

 

 

“Sakit Yeol…” rintih Baekhyun.

 

 

 

“Apa yang sakit? Di mana yang sakit? Cepat katakan padaku Baek!” kata Chanyeol, mulai frustasi dan sangat panik.

 

 

 

“Ssshhh…” Baekhyun hanya menjawabnya dengan desisan kesakitan, membuat Chanyeol menjadi semakin tak mampu berpikir jernih.

 

 

 

Chanyeol mengecek tubuh Baekhyun lagi. Suhu tubuh Baekhyun masih normal, hanya saja kaki dan tangannya terasa sangat dingin. Chanyeol menatap Baekhyun yang lagi-lagi meremas perutnya sendiri sambil merintih-rintih kesakitan. Melihat itu semua, Chanyeol baru menyadari apa penyebab pria mungilnya itu menjadi kesakitan begini.

 

 

 

“Perutmu sakit? Maag-mu kambuh?” tanya Chanyeol cemas.

 

 

 

Baekhyun mengangguk lemah.

 

 

 

“Kenapa bisa kambuh? Kau belum makan?”tanya Chanyeol dengan intonasi suara yang meninggi, mulai marah.

 

 

 

Baekhyun menggeleng sambil meringis perih, membuat Chanyeol kesal setengah mati pada pria mungil itu.

 

 

 

“Ya Tuhan, Byun Baekhyun! Apa kau sudah gila, eoh? Kenapa kau menungguku? Kenapa tak menelepon Kris jika aku tak menjawab panggilanmu?” kata Chanyeol frustasi. Ia benar-benar kesal, dan sangat marah pada tingkah keras kepala pria mungil ini, sungguh!

 

 

 

Baekhyun tak merespon lagi. Pria mungil itu hanya bisa merintih sambil memejamkan matanya erat-erat. Airmata sudah menetes dari sudut-sudut matanya. Perutnya sudah sangat perih, dan ia masih harus dimarahi lagi oleh Chanyeol. Apa lagi yang lebih menyedihkan daripada itu semua?

 

 

 

Chanyeol tak bisa menunggu lebih lama lagi. Dengan cepat Chanyeol memeluk tubuh mungil itu dan menggendongnya, mendekapnya erat-erat ke tubuhnya sendiri. Baekhyun harus dibawa ke Rumah Sakit secepatnya, sekarang.

 


 To Be Continued


A/N : Entah kenapa aku ngerasa Chapter ini agak sedikit flat, tapi tetep tinggalkan kesan kalian setelah membacanya ya ^^

Advertisements