“Bahkan hingga akhirpun, aku tetap berkhianat pada keduanya....”
 

 

romantic-autumn-daydreaming-18932448-1024-768

.

ECLIPSE

.

.

By tmarionlie

.

.

HunHan  |  KaiLu 

.

.

Yaoi | Hurt & Comfort | Little Angst | Romance

.

.

 


Aku masih terdiam, duduk tak bergeming pada posisiku saat ini. Tanganku masih memegangi bukuku, tapi sesekali aku mencuri-curi pandang ke arahnya, pria pucat itu. Dia sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Dia sangat tampan. Aku tak bisa menahan senyumku ketika aku menatapnya. Segala yang ada pada dirinya sangat menarik. Dia sangat sempurna. Namanya Oh Sehun, dan dia adalah cinta pertamaku.

 

 

“Lulu Baby…”

 

 

Ah, suara itu. Aku langsung menoleh ketika aku mendengar suaranya, kekasihku. Namanya Kim Jongin, dan dia sangat mencintaiku.  Jongin melangkah cepat sambil memamerkan senyum tampannya untukku. Jongin adalah sepupu Oh Sehun. Aku mengenal Jongin karena Sehun yang memperkenalkan aku dengannya. Jongin sangat baik. Kami telah menjalin hubungan selama dua tahun, dan aku sangat menyayanginya. Entahlah…aku memang mencintai Sehun, tapi sayang, Sehun berbeda dengan kami. Sehun adalah pria normal. Dia menyukai gadis-gadis cantik, dan saat ini ia sedang berada di dalam sebuah hubungan dengan seseorang, seorang gadis cantik , tentu saja. Gadis itu adalah Park Jiyeon. Wajahnya mungil dan sangat cantik, lekuk tubuhnya juga seksi, tentu saja Sehun akan menyukainya. Ah, jika mengingat hal ini, dadaku rasanya sesak. Aku tak mengerti mengapa aku masih menyukai dia, Sehun. Aku memiliki Jongin di sisiku, pria yang sangat mencintaiku, tapi aku tak bisa melupakannya, belum.

 

 

Aku bertemu Sehun ketika aku duduk di kelas sebelas. Ketika itu sebuah bola basket berwarna hitam menghantam punggungku, dan Sehun berlari-lari menghampiriku sambil membungkuk serta mengucapkan kata maaf hingga berkali-kali. Aku tak mengerti mengapa, tapi dadaku berdesir ketika aku menatapnya. Rahang tegas, kulit pucat, bibir tipis dan pancaran matanya yang tajam itu seolah membawaku ke dunia lain yang belum pernah kusinggahi. Senyumnya melumpuhkan syaraf-syaraf otakku, menghantarkan jiwaku melambung tinggi hingga ke atas langit. Aku menyukainya dalam sekali pandang. Ah, bukan. Tapi aku mencintainya. Cinta pada pandangan pertama.

 

 

Hari-hari setelahnya kami menjadi sering bertemu, menghabiskan waktu berlama-lama hanya untuk bercanda, sesekali ia menyuruhku membantunya mengerjakan tugasnya. Sehun memang juniorku di sekolah. Dia berada di kelas yang lebih rendah satu tingkat di bawahku, tapi tubuhnya lebih tinggi dariku. Kami sangat dekat, dan seiring waktu yang terus bergulir, perasaan cintaku padanya semakin tumbuh dan semakin besar, semakin banyak seperti kelopak bunga yang bertebaran di musim semi.

 

 

Namun segala kedekatan itu lenyap setelah ia memperkenalkanku dengan sepupunya yang baru tiba dari LA, Kim Jongin. Pria eksotis itu menyukaiku tanpa kuduga-duga. Kami baru saja berkenalan selama beberapa minggu, dan Jongin langsung menyatakan perasaannya padaku. Pernyataan cintanya membuatku bingung, namun Sehun mendorongku untuk segera menerima cinta sepupunya itu, membuatku merasa sesak. Kupikir Sehun juga menyukaiku, tapi ternyata tidak. Dia normal. Dia masih menyukai gadis-gadis. Setelah kedatangan Jongin, Sehun seolah menjauh. Beberapa kali aku berusaha menemukannya untuk bicara, namun selalu gagal. Dan hatiku langsung robek menjadi serpihan-serpihan kecil ketika aku melihat ia mencium Park Jiyeon, gadis terpopuler di sekolah kami. Rasanya begitu hancur, begitu sakit, begitu sesak, kemudian mati rasa.

 

 

Aku tak bisa melakukan apapun, aku terpuruk. Dan ketika itulah Jongin selalu datang, selalu memberikan perhatian dan kasih sayangnya untukku. Dia membuatku merasa hangat, dan aku tak ingin mengecewakannya. Aku menerima cintanya setelahnya, kemudian sejak saat itu kami menjalin hubungan hingga sekarang. Aku tak mengerti apa yang kurasakan pada Jongin. Awalnya aku hanya tak ingin mengecewakannya, namun semakin lama aku menjadi semakin bergantung padanya. Aku membutuhkan ia disisiku. Aku tak bisa tanpanya. Dan semakin banyak hari yang kulewati, aku menjadi semakin yakin jika aku telah jatuh cinta padanya ‘juga’. Aku masih mencintai Sehun, tapi aku juga mencintai Jongin. Aku mencintai keduanya tanpa bisa kucegah. Aku tak bisa menahan perasaanku. Segalanya berada di luar pemahamanku, membingungkan, dan membuatku sakit kepala.  Aku mencintai mereka berdua.

 

 

“Luhan…”

 

 

Aku tersentak dari lamunan ketika suara Jongin masuk ke dalam telingaku. Aku langsung menoleh padanya, dan ia menatapku dengan raut wajah yang sangat sulit untuk dibaca.

 

 

“Ya?” tanyaku padanya, namun ia hanya diam. Dia menunduk hingga beberapa saat, lalu ia kembali mendongak dan menatapku sambil tersenyum.

 

 

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.

 

 

Aku tersentak bingung, dan aku hanya diam sambil menggigiti bibirku sendiri. Apa yang harus kukatakan padanya?

 

 

Kupaksakan senyumanku, kemudian aku mendekat padanya, menyandarkan kepalaku di dadanya. “Aku sedang memikirkanmu,” jawabku. Aku tak bohong kan? Jongin adalah salah satu dari orang yang kupikirkan sejak tadi.

 

 

Dia memelukku, mendaratkan kecupan lembutnya pada keningku. “Jangan terlalu banyak pikiran sayang, nanti kepalamu sakit,” katanya.

 

 

“Hmm…” gumamku sebagai jawaban, mengiyakan.

 

 

Tangan kanannya mengelus lenganku dengan lembut, dan lagi-lagi ia mengecup keningku. Aku hanya diam menatapnya, merasa bersalah karena aku tak bisa mencintai ia sepenuhnya. Cintaku terbagi dua, dan aku merasa sangat berdosa. Tapi apa dayaku?

 

 

Kami bertatapan hingga beberapa detik yang hening, kemudian dengan segala perasaan bersalah yang begitu besar, aku menarik kedua rahangnya. Kukecup bibirnya dengan lembut, lalu kugerakkan bibirku dengan penuh perasaan. Dia mengelus punggungku, dan ia membalas ciumanku dengan hangat. Baru sebentar, suara deheman merusak moment indah yang sedang kuciptakan dengan Jongin. Kami memisahkan diri, lalu sama-sama melihat ke sumber suara itu.

 

 

Sehun di sana, dengan kekasihnya. Saling bergandengan tangan, dan ia sedang tersenyum pada kami. Dadaku sesak, dan aku melemparkan pandanganku ke arah lain. Aku tak ingin melihatnya. Aku cemburu.

 

 

“Kai, Luhan Hyung, aku akan pergi dengan Jiyeon ke Bioskop. Kalian mau ikut?” tanyanya pada kami.

 

 

Jongin menggenggam erat tanganku, kemudian ia menatapku, meminta pendapat. “Kau mau ikut sayang?” tanyanya padaku.

 

 

Kulirik Sehun dan Jiyeon hingga beberapa detik, lalu aku menggeleng. “Tidak. Aku ingin menghabiskan waktuku berdua saja dengamu–di sini…” jawabku, kemudian aku kembali mengalihkan tatapanku ke arah lain.

 

 

“Kau dengar itu? Kekasihku ingin menghabiskan waktunya berdua saja denganku Oh Sehun,” kata Jongin sambil terkekeh.

 

 

“Oh. Ya sudah…kalau begitu kami pergi dulu ya. Jaga rumah, oke? Dan Luhan Hyung, hati-hati dengan si hitam ini, kadang-kadang ia berbahaya kalau kutinggalkan sendiri,” kata Sehun sambil tertawa, kemudian ia merangkul kekasihnya -Jiyeon- dan menariknya pergi, setelah sempat mencium pipi gadis itu dengan gemas di hadapan kami.

 

 

Jongin mengeluarkan segala sumpah serapah untuk sepupunya itu, tapi aku hanya diam sambil menunduk. Mataku memanas, aku ingin menangis. Entah mengapa aku selalu begini jika aku melihat Sehun bersama Jiyeon. Padahal aku sudah sering melihat kemesraan mereka, tapi tetap saja terasa menyakitkan. Aku memang sangat buruk.

 

 

“Sayang?”

 

 

Lagi-lagi aku terkesiap ketika sebuah suara serta elusan di lengan menyapaku. Aku mengedipkan mata hingga beberapa kali untuk menahan diri agar airmataku tak jatuh, kemudian aku menatap Jongin dan memaksakan senyumku.

 

 

“Ya?”

 

 

“Memikirkan apa lagi, hmm?”

 

 

“Tak ada…” jawabku berbohong.

 

 

Diam.

 

 

Kami terdiam dalam suasana yang aneh, kemudian Jongin melepaskan pelukannya dan beranjak dari posisi duduknya. “Aku ke kamar dulu ya…” katanya dengan nada suara yang aneh.

 

 

“Jongin….” Aku menahan pergelangan tangannya dengan cepat, dan ia berbalik. Ia menatapku dengan wajah yang entah menunjukkan ekspresi apa, tapi sekejap saja ia telah tersenyum.

 

 

“Hmm?” katanya padaku.

 

 

“Kau…marah?” tanyaku. Aku tak mengerti mengapa aku menanyakan hal ini, tapi aku merasa jika ia marah padaku.

 

 

“Marah? kenapa aku harus marah padamu?” katanya, balik bertanya.

 

 

Aku hanya diam, menggigiti bibir sambil menunduk. Jongin kembali duduk di sampingku, dan ia mengelus rambutku dengan lembut. “Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau mengira aku marah padamu, hmm?”

 

 

Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.

 

 

Kami terdiam hingga beberapa lama, hingga akhrinya Jongin kembali bersuara, melemparkan satu pertanyaan yang membuat sendi tulangku langsung terasa lemas dalam seketika. Membuat aliran darahku seolah berhenti secara mendadak.

 

 

“Lu…apa kau mencintaiku?”

 

 

Apa yang harus kujawab?

 

 

Aku tak bergeming hingga beberapa detik yang begitu panjang, lalu…

 

 

“Ya. Tentu saja aku mencintaimu…” jawabku.

 

 

Dia menatapku hingga beberapa waktu yang begitu lama. Ekspresinya tak mampu kubaca dengan jelas, tapi debaran jantungku yang menggila menjadi setenang aliran sungai yang dalam saat ia tersenyum dan menghadiahkan satu keucpan sayang pada keningku. Dia mengecupku begitu lama, hingga aku dapat merasakan helaan nafasnya hingga beberapa kali di tempat yang sama. Aku masih meresapi segala romantisme yang ada, tapi tiba-tiba saja menjadi tersentak ketika Jongin menyambar bibirku dengan tanpa kuduga-duga. Ciumannya liar penuh nafsu, dengan nafas tersengal seolah ia tengah meluapkan emosinya, membuatku tak nyaman. Kudorong ia sekuat tenaga, namun ia menatapku dengan tatapan yang begitu terluka.

 

 

“Kau mencintaiku kan?” katanya lemah.

 

 

Aku terhenyak. Pikiranku semakin kusut hingga aku tak mampu mengurainya lagi. Dalam kebimbangan, kubawa jemariku menyusuri rahangnya. Kukecup bibirnya satu kali, lalu kupaksakan untuk tersenyum.

 

 

“Tentu saja aku mencintaimu Jongin…”jawabku penuh keikhlasan.

 

 

Dia tersenyum lelah, tapi ia kembali mendekat, membawaku kembali ke dalam satu ciuman panas yang penuh gairah. Kubiarkan saja ia melakukan apapun padaku, aku pasrah. Akan kuberikan apapun yang ia inginkan. Aku tak ingin mengecewakannya. Dia membawaku ke dalam kamarnya, kamar kami. Kami memang tak pernah menikah, tapi kami telah hidup bersama, bertiga dengan Sehun. Jongin mencumbuiku, melepaskan seluruh pakaian yang kukenakan dan menyatukan dirinya denganku tanpa ampun. Kuberikan segalanya untuknya, untuk Jonginku, dan aku tak akan menyesal melakukannya karena aku juga mencintainya.

 

 

.

.

.

.

-ECLIPSE-

.

.

.

.

Lalu-lalang manusia memadati Bandara Incheon, begitu bising, begitu hiruk-pikuk. Dan seperti orang tolol, aku disini, menangisi Jonginku yang akan kembali ke LA.

 

 

“Jongin, jangan pergi…” kataku sambil terisak seperti anak kecil. Kugenggam lengannya kuat-kuat, menahannya agar ia tak pergi meninggalkanku. Dan lagi-lagi ia mengusap airmataku sambil mengucapkan kata-kata manis untuk menenangkan.

 

 

“Jangan menangis sayang…Aku pergi hanya untuk satu tahun saja, setelah itu aku akan selamanya bersamamu, hmm?”

 

 

“Setahun itu sangat lama Jongin…apa yang bisa kulakukan selama waktu itu jika kau tak ada di sisiku? Aku tak bisa tanpa kau…” kataku menghiba.

 

 

Jongin tersenyum miris. “Sehun akan menjagamu Lu…kau akan baik-baik saja tanpaku…” katanya sambil mengusap kepalaku.

 

 

Kulirik pemuda pucat yang berdiri beberapa langkah dari posisi berdiri kami. Dia hanya diam, menatap kami berdua dan ia tersenyum kecil ketika aku menoleh padanya.

 

 

“Kau akan baik-baik saja sayang…percayalah….” Kata Jongin lagi, dan aku hanya diam, terisak lemah di hadapannya.

 

 

Jongin menangkup kedua pipiku dan kembali mengusap lelehan airmataku. Dia tersenyum sekilas, lalu ia mengecup bibirku dalam-dalam setelahnya. Hanya sekejap, dan ia menarikku ke dalam pelukannya. Dia dekap tubuhku erat-erat, dan aku bisa merasakan getaran halus pada tubuhnya.

 

 

“Maafkan aku…maafkan aku…” katanya, entah mengapa.

 

 

Kami hanya diam sambil berpelukan hingga beberapa waktu yang panjang sebelum Jongin melepaskanku pada akhirnya. Aku menatapnya penuh harap, tapi ia memberikan senyuman untuk menenangkanku. Dia menoleh pada Sehun, dan ia memanggil sepupunya itu dengan isyarat tangan. Kulihat Sehun menghela nafas beratnya satu kali, lalu ia berjalan menghampiri kami.

 

 

“Kau akan menjaga kekasihku kan? Ku sudah janji,” kata Jongin pada Sehun, lalu Sehun hanya mengangguk mengiyakan, dan tetap diam.

 

 

Jongin menatapku kembali, dan senyumannya lebih lepas kali ini. “Aku harus pergi sekarang sayang. Jaga dirimu baik-baik ya…Jangan telat makan, jangan tidur terlalu malam, dan yang paling penting…jangan melupakanku…” katanya dengan nada yang begitu getir.

 

 

Dengan perasaan yang entah bagaimana, aku mengangguk lemah. Aku tak berdaya. Aku telah melakukan apapun untuk menahannya, tapi semuanya sia-sia. Aku tersentak kecil ketika Jongin menarik tanganku dan menyerahkannya pada Sehun. Aku ingin menolak, tapi tanpa kuduga Sehun meraih tanganku, menautkan jemarinya ke sela-sela jemariku, menggenggamnya begitu erat. Aku tak mengerti apa artinya semua ini, tapi aku berani bersumpah jika aku melihat Jongin terdiam dengan tatapan yang begitu terluka ketika ia melihat tangan kami yang saling bertautan. Namun meskipun begitu, ia tetap tersenyum setelahnya.

 

 

“Aku sudah harus pergi. Sehun, jaga kekasihku ya. Jangan biarkan dia terlalu lelah, ingatkan dia untuk selalu meminum vitaminnya, dan yang paling penting, jangan pernah melukainya. Aku bergantung padamu.”

 

 

“Hmm, aku pasti akan menjaganya Kai, kau bisa mengandalkanku,” jawab Sehun, dan kurasakan jemarinya semakin erat menggenggam tanganku.

 

 

Dan ia pergi.

 

 

Aku hanya bisa terisak kuat ketika punggung Jongin menghilang diantara tubuh-tubuh manusia lainnya. Separuh nyawaku seolah terbang entah kemana. Aku benar-benar sedih.

 

 

Diantara kekalutan pikiran yang memenuhi kepalaku, tubuhku disentak kuat lalu sekejap kemudian aku telah terjebak kedalam pelukan Sehun. Dia memelukku sangat erat, menghirup aromaku dalam-dalam, dan aku hanya diam seperti orang tolol di dalam pelukannya. Aku tak bisa mengurai segala hal yang terjadi hari ini. Segalanya berada di luar pemahaman logikaku. Aku hanya mampu menatap lemah ketika Sehun melepaskanku dari pelukannya. Ia mengelus kepalaku dan ia memberikan senyuman hangatnya untukku.

 

 

“Jangan menangis lagi. Mulai sekarang aku yang akan menjagamu…” katanya padaku, membuat hatiku menghangat karena janji yang ia ucapkan itu.

 

 

.

.

.

.

-ECLIPSE-

.

.

.

.

Jongin mengingkari janjinya. Dia mengatakan jika ia hanya pergi untuk waktu setahun saja, tapi dua tahun telah berlalu dan ia tak juga kembali. Segalanya menjadi aneh dan memuakkan. Sejak 6 bulan yang lalu Sehun selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku menanyakan mengapa Jongin tak kunjung kembali. Sekarang ia malah tak mau menjawab sama sekali jika aku menanyakan hal yang sama. Sehun menjadi aneh dan menyebalkan, membuatku kesal. Aku merindukan Jonginku, tapi mengapa segalanya seolah menyembunyikan keberadaannya dariku? Kapan ia akan kembali? Aku ingin bertemu dengannya.

 

 

Hari-hari yang kulewati setelah kepergian Jongin sangat berat dan penuh beban. Setiap hari aku hanya akan melihat Sehun. Setiap bangun tidur hanya ia yang bisa kutemukan. Begitu pula siangnya, malamnya, dan keesokan paginya lagi. Ini sangat berbahaya. Setiap detik yang bergulir membuat perasaan cintaku tumbuh semakin banyak untuknya. Kepergian Jongin membuatnya berubah. Ia menjadi sangat perhatian, tapi aku menolaknya sekuat tenaga. Aku telah bersumpah untuk hanya setia pada Jonginku saja, tapi ternyata sangat sulit. Karena itu perasaan resahku bertambah berkali-kali lipat setiap aku melihat matahari pagi. Aku takut perasaanku menjadi bulat dan utuh. Aku takut jika cintaku hanya mengarah ke Sehun saja. Aku harus berjuang menolaknya. Aku adalah milik Jongin.

 

 

.

.

.

.

-ECLIPSE-

.

.

.

.

Makan malam selalu seperti ini setiap harinya. Hening, dan menyebalkan. Bukan tanpa alasan, tapi aku memang sengaja menghindari bertatapan lebih dari 5 detik dengan Sehun. Aku juga menghindari bicara lebih dari sekedar beberapa kalimat penting padanya. Kami memang sudah jarang bicara sekarang selain hanya membahas topik tentang Jongin meskipun kami tinggal di rumah yang sama. Ya, kami telah lama tinggal bersama, tepatnya semenjak aku resmi menjadi kekasih Jongin. Sehun yang dulu tidur bersama Jongin, mengalah dan pindah ke kamar yang berada di lantai atas saat Jongin membawaku untuk tinggal bersama mereka.

 

 

Aku masih mengaduk-aduk makananku dengan tak bergairah. Sesekali aku melirik pada Sehun yang tampak sangat santai menyantap menu makan malamnya. Aku sangat ingin bertanya padanya, tapi aku takut dia mengabaikan pertanyaanku lagi. Aku sangat ingin mengetahui kabar tentang Jongin, tapi Sehun pasti akan menolak membahasnya. Meskipun aku tak mengerti apa alasan yang membuatnya selalu berkelit dari obrolan itu, tapi aku tak bisa mencari tahu karena aku takut bicara berlama-lama dengan Sehun. Aku takut goyah, dan pada akhirnya akan menghianati Jonginku. Tidak, aku tak akan pernah menyakiti kekasihku. Aku akan tetap mencintainya sampai akhir, meskipun aku ragu. Aku berusaha untuk bertahan dan tak bertanya, lalu aku akan tidur dengan damai di kamarku–kamar Jongin–tapi ternyata aku gagal. Aku tak bisa menahannya. Gumpalan pertanyaan itu telah sampai di tenggorokanku, dan setiap detiknya terus memberontak minta dikeluarkan. Aku menyerah. Pada akhirnya aku mengumpulkan keberanianku, lalu aku memutuskan untuk kembali menanyakannya. Topik yang sama, setiap harinya.

 

 

“Sehun…kapan Jongin pulang?” tanyaku dengan suara yang begitu rendah.

 

 

Kulihat Sehun menghentikan gerakan tangannya untuk sekejap, tapi kemudian ia kembali menyantap makanannya dengan tenang, dan tetap diam. Lagi-lagi ia mengabaikan pertanyaanku.

 

 

“Sehunnie….” Aku mendesaknya, tapi ia tetap tak bergeming.

 

 

“Sehun, apakah Jongin akan segera pulang? Kapan ia pulang? Apakah masih lama?” tanyaku, tak mau menyerah. Tapi seperti sebelum-sebelumnya , Sehun tetap membisu.

 

 

Perasaanku mulai berkecamuk. Sakit, dan memuakkan.

 

 

“Aku merindukannya….Aku ingin bertemu dengannya Sehun…” kataku lemah.

 

 

Aku masih ingin melanjutkan ucapanku. Aku ingin Sehun tahu seberapa besar aku merindukan Jongin. Tapi sebuah suara keras mengagetkanku, membuatku terkejut dan langsung terdiam. Tanpa kuduga-duga, Sehun membanting sendoknya dengan kasar di permukaan piringnya,  dan ia menatapku dengan tatapan tajam menusuk yang sebelumnya tak pernah kulihat. Tatapannya itu membuatku takut hingga tanganku terasa amat dingin. Kurasa wajahku juga sudah pucat sekarang.

 

 

“Bisakah kau diam dan berhenti menanyakan tentang dia? Aku muak mendengar kau menanyakan tentangnya setiap hari, Luhan! Kai tak akan pernah kembali lagi, jadi berhenti menanyakannya!” kata Sehun padaku, lalu ia beranjak dari posisi duduknya dan meninggalkanku begitu saja.

 

 

Apakah ia marah? Kenapa ia marah padaku?

 

 

Kejam. Ucapannya sangat kejam. Aku tak bisa menahannya lagi. Airmataku jatuh begitu saja, dan tubuhku mati rasa, perasaanku juga. Benarkah Jongin tak akan kembali lagi? Apakah dia telah melupakanku? Dan mengapa Sehun memarahiku? Aku hanya menanyakan tentang kekasihku, tapi ia membentakku dengan begitu teganya.

 

 

Aku pusing. Dengan tak bertenaga aku bangkit dari posisi dudukku, lalu aku berjalan lemas menuju kamar. Kuhempaskan tubuhku sendiri di atas ranjangku –ranjang Jongin– lalu aku mengelus permukaannya dengan perasaan campur aduk tak menentu. Aku hanya diam, dan menangis tanpa suara. Ini tak adil. Semuanya membuatku merasa begitu sakit. Rasanya aku ingin kabur saja dari rumah ini. Toh Jongin tak akan kembali lagi padaku kan?

 

 

Suara pintu kamar yang terbuka membuat segla pikiranku buyar entah kemana. Kuarahkan bola mataku yang basah ke arah pintu, dan dia disana. Dia menatapku dengan tatapan menyesal, dan aku hanya diam.

 

 

“Luhan, maafkan aku…Aku tak bermaksud membentakmu, sungguh…”

 

 

Aku bangkit dari posisi berbaringku dan duduk di permukaan ranjang. Kuusap airmataku, dan kupaksakan senyumku untuknya.

 

 

“Ya, tak apa-apa Sehun. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu marah…” kataku, lalu aku menunduk.

 

 

Aku tak tahu apa yang terjadi. Segalanya begitu cepat. Hanya beberapa detik terlewati, lalu tiba-tiba saja tanganku ditarik hingga aku terpaksa berdiri dari posisi dudukku dan dalam sekejap saja tubuhku telah terjebak di dalam pelukan Sehun.

 

 

“Maafkan aku…maaf Luhan. Jangan menanyakan dia lagi, kumohon…Lihat aku saja Lu. Oh Sehun, bukan Kim Jongin.”

 

 

Apa maksudnya?

 

 

Sehun melepaskanku, membuatku bisa melihat wajahnya dengan lebih leluasa. Dia menatapku dengan tatapan terlukanya, lalu tiba-tiba saja bibirnya telah menyapu permukaan bibirku dengan lembut. Sendi-sendiku rasanya melemah. Aku hanya diam seperti orang tolol, mematung sambil berusaha menghentikan getar-getar aneh yang merayapi seluruh tubuh. Mataku terpejam begitu saja seiring naluriku yang menyuruhku hanya diam dan menikmati ciuman memabukkan itu, tapi ciuman itu malah berakhir. Dengan mata yang terpejam, dapat kurasakan hangat nafas Sehun yang membelai kulit wajahku. Keningnya menempel pada keningku, dan ibu jarinya membelai kedua pipiku dengan begitu lembut.

 

 

“Aku mencintaimu.”

 

 

Dan duniaku berhenti berputar. Kubuka mataku dengan terkejut, tapi ciuman yang sempat terhenti tadi kembali berlanjut, hanya sekejap, dan Sehun melepaskan bibirku lagi.

 

 

“Aku mencintaimu Luhan. Setiap hari, setiap detik. Aku mencintaimu setengah mati.”

 

 

Aku lemas. Seperti orang bodoh, airmataku kembali terjatuh. Perasaanku aneh, seperti lega, tapi juga sakit. Apa yang bisa kulakukan jika sudah begini? Bisakah aku bertahan untuk tetap setia pada Jongin jika ternyata Sehun juga mencintaiku? Aku tak bisa menahan perasaanku padanya lagi jika keadaannya seperti ini. Mengapa ini harus terjadi padaku? Mengapa harus aku?

 

 

“Sehunnie…Sehun…”

 

 

Aku tak bisa mengatakan apapun, hanya bisa menangis sambil memanggil namanya saja. Kucengkram kausnya kuat-kuat, dan ia hanya tersenyum lemah sambil mengusap lelehan airmataku.

 

 

“Kau masih mencintaiku kan, Luhan?” tanyanya padaku, membuat isakanku terhenti. Jadi selama ini dia tahu kalau aku mencintainya juga?

 

 

“Se–Sehun, k–kau tahu?”

 

 

Dia kembali tersenyum, dan ia kecup keningku. “Ya, aku tahu. Dan aku juga mencintaimu Lu…maaf karena telah menyakitimu hingga begitu lama, tapi aku tak bisa melakukan apapun. Kai menyukaimu juga, dan aku–” Sehun membuang tatapannya, menggigit bibirnya sendiri, “aku harus mengalah…” lanjutnya, membuatku bingung.

 

 

“Apa yang kau bicarakan?” tanyaku.

 

 

Sehun mengusap kepalaku dengan lembut, dan entah mengapa ia menangis juga.

 

 

“Kai sakit, dan sakitnya sangat parah.”

 

 

Aku membeku.

 

 

“Kanker otak, stadium akhir. Kai tak akan kembali Luhan, dia tak akan pernah kembali lagi, jadi berhentilah menunggunya.”

 

 

Tangisku pecah. “Apa maksudmu Sehunnie? Jangan katakan hal konyol seperti itu…Jongin akan kembali kan? Dia akan kembali padaku kan? Dia berjanji akan kembali padaku Oh Sehun. Dia akan memenuhi janjinya kan? Katakan kalau dia akan kembali padaku Sehun…” kataku egois, tapi aku tak mendapatkan jawaban apapun selain hanya pelukan erat dan bahu yang basah. Sehun menangis juga, menemaniku menangisi Jongin.

 

 

Jongin pergi. Dia mengingkari janjinya padaku. Dia benar-benar ingkar. Aku belum mengaku padanya. Aku belum mengakui kesalahanku padanya. Bagaimana bisa aku mengatakan jika aku setia padanya jika saat ia berada di sisiku saja aku telah menghianatinya? Meskipun aku tak menghianati dengan perbuatan, tapi aku berkhianat dengan perasaanku sendiri. Aku ingin meminta maaf karena aku tak pernah benar-benar mencintainya dengan hati yang utuh, tapi aku sudah tak bisa melakukannya lagi kan? Dia telah pergi meninggalkanku untuk selamanya, dan ia membiarkanku merana sendirian dengan perasaan bersalah ini.

 

 

Seandainya aku tak bertemu Sehun lebih dulu, pasti aku hanya akan mencintainya saja. Seandainya aku tak mencintai Sehun lebih dulu, pasti aku akan mempersembahkan cintaku secara utuh untuknya. Tapi semuanya sudah terlambat. Bahkan hingga sekarang perasaanku pada Sehun tak pernah berkurang, malah semakin bertambah di setiap detiknya. Aku tetap menghianatinya, bahkan hingga ia mati. Aku memang kejam, tapi apa dayaku? Siapa yang salah? Apakah ini semua salahku? Takdir yang mempermainkanku. Aku hanya korban. Benarkan?

 

 

.

.

.

.

ECLIPSE

.

.

.

.

“Jangan menangis lagi….” bujuk Sehun untuk yang kesekian kalinya. Dia manggenggam jemariku erat-erat, dan ia mengecup keningku hingga berkali-kali. “Jangan menangis lagi Luhannie…” katanya lembut, membuat hatiku menghangat.

 

 

“Aku menghianatinya Sehun. Aku benar-benar kejam,” kataku menyesal.

 

 

“Tidak Lu. Kita hanya korban. Kau tak salah…”

 

 

“Aku mencintainya Sehunnie, meskipun hanya setengah hati…”

 

 

“Ya, aku tahu. Aku tak akan melarangmu mencintainya,” kata Sehun dengan nada yang begitu pahit.

 

 

Aku memiringkan posisi berbaringku. “Tapi aku juga mencintaimu.”

 

 

Sehun ikut memiringkan tubuhnya dan ia tersenyum lembut untukku. “Ya, aku tahu.”

 

 

“Sejak kapan kau mengetahuinya?” tanyaku.

 

 

“Sejak lama. Sejak dulu. Sejak kau belum mengenal Jongin.”

 

 

Aku terdiam. Jadi?

 

 

Sehun mengusap keningku pelan-pelan. “Maaf. Ini semua adalah kesalahanku. Jika aku tak melepaskanmu untuk Kai, kau pasti tak akan kebingungan seperti ini. Jika aku bersikap egois sedikit saja, kau mungkin hanya akan mencintaiku.”

 

 

“Huh?” Aku tak mengerti. Aku bingung, dan aku butuh penjelasan.

 

 

Sehun menarik nafas beratnya, lalu ia menelentangkan tubuhnya dan menatap langi-langit kamar yang berada di atas kami. Aku hanya diam, menatap lekukan wajahnya yang sempurna. Tangan kami saling bertaut. Hangat, dan menenangkan.

 

 

“Aku sudah menyukaimu sejak lama Lu, sejak pertama kali aku melihatmu saat aku menjadi siswa baru di sekolahmu. Kau ingat ketika kita bertemu untuk pertama kali?”

 

 

“Saat pertama kali bertemu? Hmm…ya…” kataku mengiyakan. Tentu saja aku masih mengingatnya.

 

 

“Bola basket hitam itu, aku sengaja melemparkannya padamu.”

 

 

“Huh?”

 

 

Sehun terkekeh kecil, dan genggamannya pada tanganku menjadi semakin erat. “Ya, aku melakukannya dengan sengaja agar aku bisa berkenalan denganmu.” Dia menoleh padaku, dan aku hanya diam sambil mengangkat kedua alisku. Dia tersenyum, dan kembali menatap langi-langit. “Aku sengaja mendekatimu karena aku menyukaimu. Aku tak bisa menahan diriku ketika aku melihatmu. Perasaan yang begitu asing, tapi aku menyukainya. Aku mati-matian berusaha menahan-nahan agar  tak mengungkapkan cintaku karena aku takut kau menjauh. Aku takut kau membenciku karena aku menyukaimu, tapi ternyata aku salah. Aku menemukan Diary yang selalu kau bawa kemana-mana itu, dan aku akhirnya menemukan kalau kau juga menyukaiku.”

 

 

DDiary?” kataku gugup. Jadi Sehun menemukannya dari sana? Memalukan sekali.

 

 

“Hmm…Diary itu. Aku sangat bersyukur ketika kau meninggalkannya saat kau membantuku mengerjakan tugas sore itu. Aku jadi bisa mengetahui perasaanmu karenanya. Bisakah kau bayangkan bagaimana aku saat aku membaca setiap kata yang tertulis di sana? Aku seperti orang tolol dan idiot. Aku begitu senang, hingga aku merasa jika apapun yang ada di dunia ini seolah lenyap dan hanya ada kau saja di dalamnya.”

 

 

Sehun menarik nafasnya satu kali, lalu tatapannya tiba-tiba saja berubah menjadi sendu. “Tapi segalanya menjadi rumit ketika Kai datang. Aku begitu senang saat ia kembali ke Korea karena aku sangat menyayanginya. Dia adalah sepupu terbaik yang kumiliki. Dia menghabiskan waktunya selama setahun lebih di LA untuk menjalani terapi pengobatan kankernya yang ketika itu masih berada di stadium awal, dan aku sangat berterima kasih pada Tuhan karena ia masih hidup dan bisa menemuiku lagi setelahnya. Kukira ia telah sembuh, tapi ia bilang jika ia tak pernah serius memakan obatnya selama ia berada di Negara itu kerena ia tak ingin bertahan hidup. Orangtua Kai tak pernah akur. Kai tak pernah bahagia selama hidupnya, karena itu ia sangat bersyukur Tuhan memberikan penyakit mematikan itu padanya. Ia memang tak berniat hidup sejak awal.”

 

 

Aku mencelos. Dan lagi-lagi aku menangis seperti idiot. Jonginku, semenderita itukah?

 

 

Sehun menoleh kembali padaku, menatapku begitu lama, dengan tatapan terlukanya. “Tapi ketika ia melihatmu, ia mengatakan jika ingin hidup untuk seribu tahun lagi, Luhan. Dia mencintaimu, bahkan sejak pandangan pertama. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku ketika aku mendengar ia mengatakannya? Aku hancur, tapi aku tak bisa melakukan apapun. Aku selalu bertanya-tanya, apa yang harus kulakukan? Aku mencintaimu, tapi bagaimana dengan dia? Aku tak bisa menyakitinya, karena itu aku–melepaskanmu untuknya.”

 

 

Sehun kembali membuang tatapannya kearah langit-langit kamar, “kupikir aku akan baik-baik saja melihat kalian bersama, tapi ternyata rasanya begitu sakit Luhan…Aku tahu kalau aku juga menyakitimu, tapi aku tak bisa melakukan apapun. Yang bisa kulakukan hanya terus-menerus menambah rasa sakitmu sampai kau benar-benar jera dan berhenti mencintaiku. Setiap hari aku terus menambah rasa sakitnya agar kau menjauh, dengan berpura-pura normal dan menjalin hubungan dengan Park Jiyeon,” kata Sehun. Ia melepaskan jemariku dan mengusap kasar wajahnya, kemudian ia hanya diam sambil menutupi matanya dengan lengan kanan.

 

 

Tenggorokanku tercekat. Jadi Sehun juga menderita? Mengapa semuanya begitu rumit? Jadi siapa yang salah?

 

 

Kami hanya diam hingga beberapa lama, lalu jemariku kembali menghangat. Sehun telah memiringkan posisi tubuhnya sambil menatapku dalam-dalam. Tangannya menggenggam jemariku erat-erat, dan aku hanya diam sambil menatap matanya juga.

 

 

“Kai meminta maaf padaku ketika kita mengantarkannya ke Bandara waktu itu. Dia meminta maaf karena telah merenggut kebahagianku dengan mengambilmu dariku. Kupikir dia tak tahu, tapi ternyata dia tahu kalau aku lebih dulu menyukaimu. Dia juga tahu kalau kau menyukaiku, jadi dia memutuskan pergi untuk berjuang Luhan…”

 

 

“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

 

 

“Kai. Dia kembali ke LA untuk menjalani terapi pengobatan kankernya dengan lebih bersungguh-sungguh. Dia bilang jika dia ingin melakukan operasi sesegera mungkin. Dia ingin hidup, dan ingin menjadikanmu miliknya secara utuh. Dia tak ingin menyerahkanmu begitu saja padaku, tapi ia akan menyerah jika ternyata Tuhan tak mengizinkannya hidup.”

 

 

Aku hanya diam, tak bisa mengatakan apapun. Aku hanya menangisi Jonginku seperti idiot tolol. Mengapa baru sekarang Sehun mengatakannya padaku? Mengapa harus setelah Jonginku pergi?

 

 

“Luhan…aku telah berjanji pada Kai untuk menjagamu dan membuatmu bahagia. Jadi mulai sekarang, bisakah kau hanya mencintaiku saja? Aku tak menyuruhmu melupakannya, tapi–bisakah kau hanya mencintaiku saja?”

 

 

Aku hanya diam. Jawaban apa yang harus kuberikan padanya?

 

 

.

.

.

.

ECLIPSE

.

.

.

.

Dua tahun. Selama itulah aku menghabiskan waktuku bersama Sehun, menjalani hidup kami hanya berdua di dalam sebuah ikatan pernikahan tak normal yang sah. Setiap hari kami habiskan hanya untuk memupuk cinta kami saja. Tak ada Jongin lagi. Tak ada Park Jiyeon. Hanya ada kami berdua.

 

 

Bias oranye dari langit senja menyelimuti rerumputan di halaman belakang rumah kami. Aku hanya diam, menikmati segala hal indah itu dalam pangkuan suamiku, Sehunku. Tentu saja aku sangat mencintai Sehun. Aku miliknya sekarang. Tapi kau tahu? Sebagian otak picikku saat ini sedang mengenang Jongin meskipun mataku hanya menatap lurus pada rerumputan berbias oranye di halaman belakang. Aku memikirkan Jongin meskipun saat ini bibirku sedang tersenyum karena leherku dicumbui oleh suamiku tersayang.

 

 

Bertahun-tahun telah berlalu, dan aku telah menjadi milik Sehun seutuhnya. Tapi diluar dugaan, cintaku malah semakin berkembang untuk seseorang yang telah berada jauh dalam pangkuan Tuhan. Seiring waktu yang berlalu, selama waktu yang kuhabiskan berdua saja dengan Sehunku, aku malah manyadari jika aku sangat mencintai Jongin. Sejak dulu, hingga sekarang, cintaku tak pernah utuh hanya untuk satu nama saja. Cintaku tetap saja terbagi dua. Sehun dan Jongin, aku tetap mencintai keduanya.

 

 

Sehun masih mencumbuiku dengan begitu liar, mengecupi leher dan tangannya telah menjelajah di setiap kulit yang berada di balik kaus yang kukenakan. Dia membalikkan tubuhku dalam sekali gerakan hingga aku duduk berhadapan dengannya sekarang. Dia tersenyum lembut padaku, dan aku juga tersenyum untuknya. Dia mendekat, dan bibirnya menyapu bibirku dengan begitu lembut, dalam dan penuh perasaan. Jari-jarinya masih bergerak sensual di dalam kausku, dan aku terkikik geli ketika ia memainkan sesuatu yang berada di permukaan dadaku hingga aku terpaksa menggigit bibirnya dengan gemas.

 

 

Sehun melepaskanku, kemudian kami hanya saling tatap dengan senyuman yang tak pernah memudar dari wajah kami. Tangannya yang nakal masih menjelajah di dalam sana, dan aku hanya diam saja ketika ia melepaskan kausku lalu membuangnya begitu saja hingga kaus tak bersalah itu mendarat di atas lantai yang berdebu. Bibir kami kembali bertemu, dan tanpa bertanya padaku, ia telah mengangkat tubuhku dan membawa ciuman kami ke dalam rumah, lebih tepatnya ke dalam kamar kami –kamar Jongin. Dia rebahkan tubuhku di atas permukaan ranjang, dan ia melanjutkan cumbuannya di permukaan tubuhku dengan begitu khidmat. Sejenak, ia lepaskan cumbuannya, dan ia menatapku dalam-dalam.

 

 

“Luhannie…” dia memanggil namaku dengan begitu lembut, mengelus lelehan saliva yang membasahi bibirku yang terus-menerus diciumnya sejak tadi.

 

 

“Hmm?” Aku bergumam sebagai jawaban. Jemariku membelai helaian rambutnya yang sudah agak panjang, dan aku tersenyum manis untuknya.

 

 

“Sudah dua tahun berlalu sayang. Kau…sudah mencintaiku sepenuhnya kan?” tanyanya.

 

 

Senyumku memudar. Dia menatapku dengan penuh harap, dan aku sangat mengerti jawaban apa yang ia inginkan. Karena itulah…

 

 

“Ya, tentu saja Sehunnie…Aku sangat mencintaimu…hanya kau….hanya kau saja…” kataku tanpa rasa bersalah. Bahkan aku tersenyum sangat manis untuknya.

 

 

Sehun menatapku dengan tatapan yang begitu bahagia. Ia menatapku dengan tatapan yang begitu memuja.

 

 

‘Tak tahukah kau bahwa aku masih mencintai Jonginku, Oh Sehun?’ –suara hatiku mengerang di dalam kepala.

 

 

Tapi aku tetap tersenyum. Bibirku mengucapkan kata-kata cinta pada Sehun tanpa dosa. Aku bahkan merengek manja ketika ia kembali menggodaku dengan begitu mesra. Aku hanya mendesah nikmat ketika ia mencumbuiku dengan begitu liar. Aku memang mencintainya. Tapi aku juga mencintai Jongin. Hingga akhirpun aku tetap berkhianat pada mereka. Dan aku tak menyesal. Aku mencintai mereka. Sehunku…Jonginku…Aku mencintai keduanya.

 

 


END


A/N : Aku nggak tau kenapa tadi ini bisa pada ngilang spasinya, kayaknya doc FF-nya bermasalah. Ini udah aku perbaiki, semoga udah enak dibaca. Maaf kalo banyak typo yang bertebaran. Jangan lupa tinggalkan kesan kalian setelah membacanya ya! ^_^

Advertisements