diamond-engagement-ring-round-ice-cream-sunday-photography-e-session-full

 

 

 


-Mr. Ice Cream & Wedding Ring-


Dua mangkuk es krim sudah ku habiskan sejak aku duduk selama 1 jam di kedai es krim ini. Entahlah…kepalaku sedang pusing, aku benar-benar sedang dalam keadaan tak baik saat ini. Pelayan cantik berambut cokelat ikal berkuncir kuda sejak tadi memperhatikanku sambil membereskan meja-meja yang kotor. Mungkin dia berpikir jika aku gila. Mungkin saja. Ini bulan Januari, salju masih jatuh setiap hari dari langit dan membeku di atas jalanan sepanjang kota Seoul. Tapi aku disini, menikmati es krim dengan penuh penghayatan bahkan sudah menghabiskan dua mangkuk. Oh, aku tak perduli. Aku bahkan akan memesan mangkuk ketiga, ke-empat, bahkan kelima bila perlu.

Sambil menikmati tekstur es krim yang melumer di lidahku, tatapanku kosong dan hanya terpaku pada satu titik sembarang di sudut kedai es krim itu. Kenangan demi kenangan terputar di pelupuk mataku seperti slide show, menampilkan scene demi scene setiap moment yang pernah kulalui dengan ‘dia’.

.

.

.

Wajahnya tampan. Rambut hitam legam berpotongan seperti tokoh-tokoh dalam anime yang sering kutonton di televisi. Dagu runcing, bibir tipis merah merekah, alis tegas, dan tatapan matanya tajam namun lembut. Begitulah gambaran tentang wajah Sehun, –kekasihku. Hobinya? Makan es krim di kedai ini.

 

Kutatap wajahnya yang sedang asyik menikmati sesuap demi sesuap es krim vanilla kesukaannya. Vanilla? mengapa harus? Menurutku rasa cokelat lebih nikmat.

 

“Hei Lu, kau tak mau?” tanyanya sambil menawarkan sesendok es krim vanillanya ke mulutku.

 

Aku menggeleng, dia mengedikkan bahunya. Aku hanya menatapnya saja dengan bertopang dagu.

 

“Kupikir rasa cokelat lebih enak,” kataku.

 

“Rasa cokelat itu membuat tenggorokan gatal Lu…” jawabnya.

 

“Tapi rasa vanilla itu sangat manis,” kataku lagi.

 

“Ya, aku suka yang manis-manis…seperti kau.” jawabnya.

 

Aku berdecih, lalu mencubit pipinya. Bibirnya mengerucut, tidak pantas sama sekali.

 

“Kau harus mencoba rasa lainnya, karena tak selamanya segala hal memiliki rasa manis.” kataku.

 

“Ya, aku tahu. Tapi hidup itu pilihan, dan aku hanya akan memilih segala hal yang manis saja untukku.” katanya.

 

“Kalau kau begitu, kau akan terkejut jika suatu saat menemukan rasa lain karena kau tak pernah mencobanya,” kataku lagi.

 

“Aku tak akan mencoba rasa lainnya,” jawabnya ringan.

 

“Bagaimana dengan hidup? Tak selamanya hidup yang kau jalani manis seperti yang kau harapkan,” kataku.

 

“Aku hanya akan memilih jalan hidup yang paling manis untukku saja sayang…”

 

Tch!

 

Diam.

 

Diam.

 

“Hei, kenapa diam?” ia bertanya.

 

“Tak apa. Aku malas bicara denganmu,” jawabku bercanda.

 

“Kenapa malas bicara denganku?” ia merengek, seperti bocah lima tahun.

 

“Karena ucapanmu dari tadi berputar-putar di situ-situ terus, kepalaku pusing Sehuna. Apapun yang kutanya, jawabanmu selalu mengarah ke satu topik yang sama.”

 

Dia tertawa. Tampannya…

 

“Ya sudah, jangan bicara lagi,” katanya.

 

“Ya sudah!” jawabku.

 

*****

Aku tekejut ketika pintu apartemenku berbunyi. Kueratkan ikatan tali bathrobe milikku –aku baru saja selesai mandi- lalu aku bergegas membuka pintu.

 

“Hai!”

 

Senyum cerah itu.

 

“Kenapa kau hujan-hujanan sih?” kataku jengkel ketika aku melihat seluruh tubuh basahnya, kehujanan.

 

“Aku membeli es krim, lalu kehujanan,” katanya, dan ia terkekeh aneh.

 

Ku putar bola mataku, lalu kuambilkan handuk bersih untuk mengeringkan rambutnya. Dia meletakkan bungkusan plastik berwarna putih ke dalam freezer. Pasti itu adalah…

 

“Titip es krimnya di sini ya sayang. Aku akan memakannya nanti. Sekarang masih sangat dingin,” katanya sambil menggigil.

 

Aku hanya diam, lalu kubantu dia melepaskan kaus basahnya. Kuusap seluruh air yang menempel di tubuhnya, dan…

 

Aku mendongak menatapnya. Tanganku dicengkramnya kuat, dan dia menarikku ke dalam pelukannya.

 

“Dingin Lu…” rengeknya.

 

“Lalu?”

 

“Peluk aku..”

 

“Kan sudah…”

 

“Cium aku…”

 

“Tcih!”

 

Dia terkekeh, lalu sekejap saja tengkukku sudah di tariknya. Ciuman hangatnya sudah menyapa bibirku, membuatku terlena dan hanya bisa memejamkan mataku untuk merasakan sensasinya.

*****

Sore yang dingin. Rintik-rintik hujan masih mentes-netes kecil dari langit. Aku sedang bersantai di apartemen sambil menonton serial kartun favoritku, dan Mr. Ice Cream itu tiba-tiba saja datang mengganggu.

 

“Lu, aku ingin es krim…” ia merengek.

 

Es Krim lagi. Ku putar bola mataku, jengah. 

.

.

Bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua, kecuali gadis berambut cokelat dan berkuncir kuda itu. Kurasa kedai es krim langganan kekasihku ini sudah berdiri sejak jaman Korea belum merdeka. Mungkin kan?

 

Kekasihku itu memesan satu mangkuk es krim vanilla favoritnya, dan dia memesankan semangkuk rasa cokelat untukku.

 

“Enak?” tanyanya.

 

Aku memutar mata seolah berfikir serius, mendikripsikan sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, mencecap rasa es krimku seperti seorang tester sejati. Dia menatapku penuh tanda tanya.

 

“Kalau ingin tahu, cobalah!” kataku, lalu menyuapkan sesendok ke mulutnya.

 

“Pahit,” katanya.

 

Aku tertawa. “Bagus kan? Sekarang kau jadi tahu rasa lain selain manis,” kataku ringan.

 

Dia hanya diam, lalu termenung sambil mengaduk-aduk es krim vanilla miliknya.

 

“Kenapa diam saja?” tanyaku.

 

Dia menggeleng.

 

“Lalu kenapa wajahmu begitu?” tanyaku.

 

Dia menarik nafasnya satu kali, dan mengusap kepalaku.

 

“Aku hanya berpikir kalau kekasihku ini sangat pintar. Kau benar sayang, hidup itu tak selamanya manis.”

 

Aku terdiam. Mengapa tiba-tiba dia jadi berpikir ke pembicaraan yang sudah sangat lama itu?

*****

 

“Happy Birthday!!!”

 

Aku tertawa kecil ketika Sehun datang ke apartemen sambil membawakan satu cake berukuran sedang untukku. Kutiup lilinnya dan aku memanjatkan doa.

 

“Apa yang kau minta?” tanyanya.

 

“Rahasia,” jawabku.

 

Dia tertawa, mengecup pipiku sekilas. Sebuah kotak berukuran kecil dia berikan padaku. “Hadiah,” katanya singkat.

 

“Thanks…” kataku dengan senyuman terbaikku.

 

Dia menarikku, merengkuhku dalam dekapannya. Di tengah keremangan cahaya yang hanya berasal dari layar televisi, kami saling bertatapan. Tubuh kami saling merapat, dan jarak semakin menyempit. Dia kecup keningku, lalu merambat ke bibir. Eksistensinya semakin nyata pada tubuhku. Situasi romantis yang ada membawaku larut ke dalam pesonanya, hingga berakhir tubuhku yang berada dibawah himpitan tubuh berpeluhnya. Malam terasa amat panjang di hari ulang tahunku. Romantis, panas, bergairah.

 

.

.

.

Kubuka mata perlahan ketika sinar mentari menembus kelopaknya. Sendi-sendiku ngilu, tubuhku sangat pegal, dan bokongku perih. Aku menggeliat pelan dan menatap ke samping. Kosong. Sehun mungkin sudah pulang ke rumahnya. Aku duduk dan menyandar pada headboard. Kuraih kotak merah di nakas yang bersisian dengan ranjang, lalu kubuka isinya. Sebuah cincin emas putih berbentuk polos. Tak ada ukiran apapun, hanya ada pahatan namanya.

 

Oh Se Hoon.

 

 

Keningku berkerut. Cincin? Mungkinkah…

 

Kubuka lipatan kertas yang menyertai hadiah itu, dan membaca isinya. Aku tertegun beberapa lama, dan sekejap kemudian air mataku sudah tumpah membasahi pipi. Dia bukan melamarku, tapi memutuskan hubungan dan pergi. Kulirik nakas tempat kotak hadiah ini tadi terletak, dan baru menyadari jika sesuatu memang berada di sana, sejak  tadi tertindih kotak hadiah ini. Kubuka kartu itu, dan airmataku semakin mengalir deras.

 

 

Wedding Party : Oh Se Hoon & Vanessa Lie

**

Lu, maaf…

Maaf karena aku tak mengatakannya secara langsung padamu.

 

Aku akan menikah, aku di jodohkan. Maaf…

 

Aku pernah mengatakan jika aku hanya akan memilih seluruh hal yang manis dalam hidupku, tapi baru kusadari jika semua tak mampu ku kendalikan sesuai keinginanku.

 

Cincin yang kuhadiahkan, adalah cincin yang ingin kuberikan ketika aku melamarmu nanti, namun gagal.

 

Maaf…dan lupakan saja aku…

 

Aku mencintaimu, Luhan…

 

-Mr. Ice Cream-

*****

 

Aku memesan satu cup es krim lagi, kali ini aku menyuruh gadis berkuncir kuda itu untuk mencampurkan rasa vanilla dan cokelat menjadi satu. Kuaduk es krim itu dan memasukkannya ke dalam mulut, lalu menelannya. Begitu berkali-kali hingga es krim ke-tiga ini habis. Kuelus cincin yang melingkar di jari kiriku, dan kurasakan setetes air mata jatuh ke pipiku. Seperti es krim yang kupesan tadi, yang bercampur menjadi satu, begitu juga perasaanku, campur aduk, karena memikirkan Si Mr. Ice Cream itu.

*****

Tuhan…aku tahu ini salah, tapi kumohon izinkan Sehun tetap menjadi milikku. Aku mengerti jika ini sama sekali bukanlah hal yang benar, tapi biarkan aku tetap mencintainya, –birthday prayer.

***

 

 

“Apa yang kau minta?”

 

“Rahasia.”


END  


A/N : FF ini sudah saya editing sedemikian rupa. Original pair : Kris x Tao.

 

Advertisements