ibp0Qyn0C7iZEf

.

QUEER & PROUD

..

..

Story By Lynn_Star

.

T
ranslate By tmarionlie

 

.

.

HunHan | ChanBaek | KaiSoo | ChenMin

.

.

Y
aoi | Friendship | Fluff Romance

.

.


CHAPTER 5 – STARSTRUCK


Ketika Sehun dan Luhan tiba di Blok pertama, mereka berdua menemukan begitu banyak siswa yang telah terbangun dan telah berlalu-lalang menyusuri lorong-lorong sekolah ; beberapa terlihat asyik mengobrol bersama teman-teman mereka, beberapa terlihat berdandan seperlunya, beberapa lainnya malah saling menendang dan menjahili satu sama lain.

 

Sehun berdehem canggung setiap kali Luhan melambai pada siswa-siswa yang mereka lewati, bahkan mereka berdua beberapa kali harus berhenti hanya untuk melakukan salam singkat pada teman-teman Luhan. Pemuda cantik itu tak pernah lupa memperkenalkan Sehun pada semua orang yang mereka temui, sampai-sampai Sehun merasa kelelahan karena harus selalu menunjukkan senyuman palsunya serta menjabat tangan semua orang untuk meninggalkan kesan bahwa ia adalah pria yang sopan.

 

 

“Dan sekarang di sinilah kita,” kata Luhan ketika mereka telah tiba di depan sebuah pintu geser otomatis berukuran besar. “Biasanya para guru akan terlambat memasuki kelas setidaknya selama 5 menit, jadi kita masih memiliki banyak waktu untuk bersantai-santai. Ayo!”

 

 

Sehun mengangguk dan langsung mengikuti langkah Luhan memasuki kelas. Ruangan kelas itu sudah terlihat hampir penuh. Seluruh siswa tak berada di kursi mereka masing-masing, tapi malah berkeliaran di sekitar kelas sambil bercanda satu sama lain. Beberapa siswa menoleh ketika mereka melangkah memasuki ruangan kelas, dan raut wajah mereka langsung terlihat cerah saat mereka melihat Luhan.

 

 

“Yo, Luhan!”

 

 

Seorang siswa bersuara berat menyapa Luhan sambil berlari kecil menghampiri mereka berdua. Tatapan mata siswa bersuara berat itu langsung beralih ketika ia melihat Sehun, kemudian ia berjalan memutari tubuh Sehun, masih tetap menatap Sehun dengan tatapan yang begitu intens. “Kau anak baru ya?” tanyanya.

 

 

Sehun mendongak cepat lalu mengangguk, dan pria bersuara berat itu langsung berkedip-kedip kemudian memiringkan kepalanya. “Kurasa kau lebih terlihat seperti siswa tahun kedua,” katanya.

 

 

“Si Sehun ini secara kebetulan sangat jenius dalam mata pelajaran Sejarah, makanya khusus kelas Sejarah ia akan berada di kelas yang sama dengan kita,” sahut Luhan dengan nada suara yang sedikit menggoda, kemudian ia melemparkan senyum nakalnya pada Sehun.

 

 

“Oh, jadi kau ini seorang jenius di bidang Sejarah ya, huh?” kata siswa pria tadi dan dilanjutkan dengan tertawa, membuat Sehun langsung memicingkan matanya dengan sengit. Jika ada hal yang paling dibenci oleh Sehun di dunia ini, maka itu adalah ditertawakan.

 

 

Siswa bersuara berat itu tampaknya langsung menyadari ekspresi ketidak-sukaan yang ditunjukkan oleh Sehun, karena itu ia langsung menampilkan senyuman lembutnya sambil menepuk-nepuk punggung pemuda pucat itu.

 

 

“Santai, Dude. Aku bukan menertawakanmu, jadi kau tak perlu menunjukkan wajah menyeramkan seperti itu padaku.”

 

 

“Jangan mengganggunya, Yifan! –seseorang lainnya berbicara, dan seseorang itu langsung berjalan menuju Luhan, Sehun, dan Yifan– “Kau tak mau di cap menyebalkan oleh siswa baru ini kan?”

 

 

“Ouwh, ayolah Yixing. Dia ini menyukaiku kok,” kata Yifan sambil merangkul Sehun. Tapi sayangnya pemuda yang dirangkul itu malah mengerutkan keningnya tak senang, kemudian langsung menyingkirkan lengan Yifan dari bahunya hingga lengan Yifan jatuh terkulai begitu saja.

 

 

Well, aku meragukan itu,” kata Yixing geli. Pemuda itu menatap Sehun sambil melemparkan senyuman lembutnya, kemudian ia mengulurkan tangan, mengajak Sehun berkenalan. “Hai. Namaku Zhang Yixing.”

 

 

Sehun menyambut uluran tangan pemuda itu. “Oh Sehun,” –ia memiringkan kepalanya sekilas– “atau seperti kata orang-orang, aku ini ‘anak baru’.”

 

 

Yixing tertawa keras. “Well –yeah, jangan menyalahkan mereka. Kau ini akan menjadi selebriti dadakan di sekolah hingga beberapa waktu ke depan, jadi nikmati saja,” katanya.

 

 

“Ya, sepertinya begitu,” gumam Sehun.

 

 

Tiba-tiba saja, pintu yang berada di belakang mereka menjeblak terbuka, kemudian seorang Guru wanita yang tampak masih muda melangkah memasuki ruangan kelas. Guru wanita itu menatap keempat siswa yang sedang mengobrol di dekat pintu sekilas, lalu ia tampak terkejut.  “Kau berada di kelas ini juga?” tanyanya pada siswa yang paling muda –Oh Sehun–di antara keempat siswa yang ada. “Kau bukannya siswa tahun kedua ya?” tanya Guru itu lagi.

 

 

“Aku ditempatkan di kelas ini juga, Ma’am. Aku telah menyelesaikan seluruh rangkaian mata pelajaran lainnya tahun lalu,” jawab Sehun.

 

 

“Oh,” kata Guru wanita itu, lalu ia melirik singkat pada clipboard yang ia pegang. “Oh ya, ternyata kau benar. Terima kasih. Namamu Sehun, benar?”

 

 

“Ya.”

 

 

“Baiklah. Sepertinya aku harus mencarikan tempat duduk untukmu,” kata Guru itu sambil melangkah menuju tengah ruangan. Siswa lainnya juga langsung menuju ke kursi mereka masing-masing, tetapi Luhan malah tetap berdiri mematung di samping Sehun. Luhan merasa sangat enggan berpisah dengan Sehun, tapi tatapan tajam Guru wanita yang berdiri di tengah kelas membuatnya terpaksa melangkah lemas menuju kursi kosong yang berada di depan Yixing.

 

 

“Oke Guys. Seperti yang kalian lihat, kita memiliki siswa baru di kelas ini, dan dia adalah junior dari kelas yang berada satu tingkat lebih rendah dari kelas kalian. Tapi asal kalian tahu, jika Saya menangkap kalian sedang mem-bully siswa baru ini, maka Saya akan langsung mencekik leher kalian tanpa ampun, mengerti?” ancam Guru wanita itu.

 

 

Seluruh siswa langsung terdiam, dan Sehun juga tak bisa melakukan apapun selain hanya ikut diam karena mendengar ancaman Guru wanita itu. Jika Sehun dalam keadaan normal, pasti sejak tadi ia sudah akan tertawa terpingkal-pingkal, tapi sayangnya ekspresi serius setengah mati yang ditunjukkan oleh Guru wanita itu memaksanya tetap diam pada posisi berdirinya tanpa berani mengucapkan  sepatah katapun.

 

 

“Baiklah Oh Sehun,” Guru itu melambai pada Sehun, menyuruh Sehun mendekat padanya. Tanpa membuang waktu Sehun langsung melangkah cepat ke arah Guru wanita itu sebelum ia dimarahi.

 

 

Lets see…dimanakah kau bisa duduk…” kata Guru itu sambil memeriksa ke sekitar kelas, lalu…

 

 

“Ms. Park!” Sebuah suara terdengar lalu sebuah tangan terangkat ke udara, membuat Guru wanita itu langsung menoleh, dan Guru itu menemukan Luhan sedang melemparkan senyuman penuh arti padanya. Seluruh siswa yang berada di dalam ruangan kelas langsung melongo melihat keberanian Luhan memanggil Guru yang terkenal galak itu.

 

 

“Ya, Luhan?” jawab Guru itu.

 

 

Well, Anda tahu kan kalau Sehun itu adalah roommate Saya? Saya pikir Sehun tak akan merasa nyaman jika ia duduk dengan anak lain di kelas ini. Jadi karena Saya mengenal Sehun lebih baik ketimbang anak-anak lainnya, sepertinya sangat bagus kalau Anda menempatkan Sehun untuk duduk di samping Saya, bisakah?” kata Luhan, membuat siswa yang duduk di sampingnya sontak berbalik dan menatap Luhan dengan mulut yang terbuka tak percaya.

 

 

Sehun merasa agak familiar dengan siswa yang duduk di sebelah Luhan itu, dan sekejap kemudian ia ingat jika siswa itu adalah salah satu anak yang ikut duduk di meja kafetaria yang sama ketika mereka makan siang tempo hari.

 

 

“Luhan…apa yang kau lakukan?” rengek anak itu sambil menggoyangkan lengan Luhan. Mata anak itu bahkan sudah terlihat putus asa.

 

 

Sorry,  Minseok. Tapi aku adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengan Sehun, jadi aku tak bisa membiarkan dia sendirian,” kata Luhan. Ia kembali mengalihkan tatapannya kearah Ms. Park, lalu ia tersenyum sopan. “Please, Ma’am?” mohonnya.

 

 

Ms. Park memicingkan matanya dan menatap Luhan dalam-dalam, mencari tahu apakah Luhan memiliki motif tersembunyi atau tidak. Tapi wajah Luhan tampak begitu polos, karena itu ia mengangguk juga pada akhirnya. “Baiklah, kurasa ide itu bagus juga,” katanya. Tatapannya kemudian beralih ke arah Minseok yang kelihatannya sudah hampir menangis sekarang. “Oke Minseok, silahkan kumpulkan barang-barang Anda dan pindah ke bagian belakang kelas,” titahnya.

 

 

“Ta–tapi…”

 

 

“Welcome Baby!”

 

 

Minseok menoleh ke belakang, dan ia langsung melihat Jongdae yang saat ini sedang tersenyum lebar padanya, membuat Ms. Park langsung memicingkan mata tak senang.

 

 

“Minseok. Sekarang!” desak Ms. Park, dan dengan terpaksa Minseok mengumpulkan semua barang-barangnya kemudian ia pindah ke bagian belakang kelas. Minseok menghempaskan bokongnya di samping Jongdae, dan Jongdae langsung merangkul bahunya, masih sambil tersenyum konyol.

 

 

“Oh Sehun. Anda bisa duduk di kursi Anda sekarang,” kata Ms. Park.

 

 

Sehun mengangguk patuh, kemudian ia melangkah menuju Luhan dan duduk di samping pemuda itu. Tentu saja Luhan langsung menyambutnya dengan wajah yang berseri-seri cerah. Luhan mendorong bukunya yang terbuka ke tengah-tengah meja, lalu ia menunjuk halaman buku itu. “Ini, kita berbagi buku saja sampai kau mendapatkan bukumu sendiri,” katanya pada Sehun.

 

 

Sehun mengucapkan terima kasih dengan suara pelan, lalu ia kembali menatap Ms. Park yang saat ini sudah berdiri menghadap whiteboard, menuliskan sesuatu di sana.

 

 

“Ms. Park adalah salah satu Guru yang paling menyeramkan di sekolah ini,” bisik Luhan. “Dan aku punya saran untukmu; jangan sampai kau memancing keluar sisi buruk yang ada dalam dirinya,” lanjutnya.

 

 

Sehun menatap ke arah bawah dan ia lihat Luhan sudah mulai membuat corat-coret pada permukaan buku catatannya sendiri. Ms Park terlalu asyik menerangkan materi pelajaran di depan sana, jadi Guru galak itu tak sempat memperhatikan tingkah Luhan.

 

 

Sehun menyangga kepalanya dengan tangan, menatap coretan-coretan yang di buat oleh Luhan. “Apa itu?” tanyanya sambil menunjuk objek yang di sketsakan oleh Luhan. “Bentuknya terlihat seperti Meatloaf.”

 

 

Luhan terkikik aneh, dan Yixing langsung menendang kursinya dari belakang. “Ini Ms. Park,” jawabnya nakal, kemudian ia  tersenyum konyol setelah mengatakannya.

 

 

Sehun menunduk sedikit agar ia dapat melihat sketsa itu dengan lebih jelas, dan ia tersenyum tipis setelahnya. “Ini akan benar-benar terlihat seperti Ms. Park kalau dilihat dari sisi sebelah sini,” katanya sambil memutar posisi buku catatan itu. “See?”

 

 

Luhan menggigit bibirnya kuat-kuat agar ia tak meledakan tawanya. “Oh My God, benar-benar mirip!” katanya geli.

 

 

Sehun menghadap ke arah depan kembali dan ia lihat Ms. Park telah berbalik dari posisi berdirinya, mengedarkan tatapannya ke seluruh kelas dengan wajah cemberutnya itu. Tatapan Ms. Park terjatuh padanya, dan meskipun Guru itu baru menatapnya dalam beberapa detik, Sehun merasa jika ia sudah ditatap selama satu jam. Ia menegakkan posisi duduknya agar Guru galak itu yakin bahwa ia sejak tadi benar-benar memperhatikan pelajaran.

 

 

“Oh Sehun,” panggil Ms. Park, dan tatapan seluruh siswa langsung mengarah ke Sehun dalam sekejap. “Bisakah kau katakan padaku Kejatuhan Bastille terjadi pada periode berapa?”

 

 

Sehun berkedip satu kali, kemudian ia tersenyum sopan pada Ms Park. “Kalau Saya tidak salah ingat, itu terjadi pada bulan Juli 1789,” jawabnya.

 

 

Ms. Park memicingkan matanya, dan setelah keheningan yang cukup panjang, Guru itu mengangguk kecil, “jawabanmu benar,” katanya singkat, kemudian ia kembali berbalik menghadap whiteboard.

 

 

Sehun menarik nafas lega, lalu ia tertawa kecil saat Luhan menatapnya kagum sambil mengacungkan ibu jari. “Kau benar-benar hebat. Kami semua bahkan belum pernah ada yang berhasil menjawab pertanyaannya,” bisik Luhan.

 

 

Sehun meraih lengan Luhan, kemudian memaksanya duduk diam dan mengarahkan wajah Luhan ke buku pelajaran yang berada di atas meja. “Perhatikan pelajaran atau kau akan membuat kita berada dalam masalah,” bisiknya, lalu ia melihat Luhan cemberut melalui sudut matanya, membuatnya tersenyum geli.

 

 

“Jahatnya…”rengek Luhan, tapi pemuda cantik itu tetap menatap buku pelajarannya dengan patuh dan tanpa protes lagi, sedangkan Sehun menyangga lengan sambil memperhatikan Ms. Park selama sisa jam pelajaran berlangsung.

 

.

.

.

.

.

Baekhyun melangkah menyusuri lorong sekolah secepat yang ia bisa. Ia sedang tak ada kelas sekarang, dan seperti biasanya ia akan menggunakan waktu-waktu seperti ini untuk mengunjungi Baskin Robbins dan membeli beberapa es krim. Baekhyun memang pecinta es krim. Ah, tidak-tidak! Dia bukan hanya benar-benar cinta pada es krim, tapi ia sudah terobsesi padanya. Setiap hari ia tak bisa hidup tenang karena Jongin yang terus-menerus merengek tentang cinta tak terbalasnya setiap hitungan detik, dan mulai sekarang Baekhyun telah bertekad jika ia tak akan pernah lagi menyia-nyiakan moment seperti itu dan akan mengambil keuntungan dengan memaksa Jongin membelikan es krim untuknya.

 

 

Baekhyun mendorong pintu utama dengan terburu-buru kemudian ia segera berlari cepat melintasi halaman depan. Kedai es krim yang ia tuju letaknya tak begitu jauh dari sekolah –hanya butuh beberapa menit bagi Baekhyun jika ia berjalan kaki, dan sekarang ia telah sampai di tempat itu. Baekhyun mendorong pintu utama kedai es krimnya, kemudian ia langsung melangkah masuk ke dalam ‘Surga’ itu.

 

 

Finally…” erangnya, kemudian ia langsung melangkah cepat menuju display bar. Dia sedang mengamati bermacam-macam es krim sambil berkomat-kamit sendiri tentang rasa apa yang seharusnya ia pilih ketika tiba-tiba seseorang dengan suara bariton serak berbicara padanya.

 

 

“Yang satu ini benar-benar enak loh,” kata pria itu.

 

 

Baekhyun terkesiap dan ia mendongakkan kepala, lalu ia langsung menemukan mata berwarna cokelat yang saat ini sedang menatap padanya. Hal pertama yang ia rekam tentang pria itu adalah tubuhnya yang besar. Pria itu juga jauh lebih tinggi dari dirinya. Senyuman lebar yang ditunjukkan oleh pria itu membuat Baekhyun terpesona hingga ia tercekat dengan mulut yang terbuka.

 

 

“Wow…” kata Baekhyun kagum, membuat pria tinggi itu berkedip-kedip heran karena merasa bingung dengan sikap yang ditunjukkan Baekhyun padanya.

 

 

“Maaf?”

 

 

Baekhyun terus menatap pemuda itu tanpa malu-malu. Isi kepalanya terlalu campur aduk hingga ia tak bisa memilah-milah pikiran logisnya saat ini.

 

 

“Hei, apa kau baik-baik saja?” tanya pria tinggi itu. Suara husky-nya membuat Baekhyun merinding. “Kau tampak tak sehat,” kata pemuda itu lagi.

 

 

Pipi Baekhyun sontak memanas, kemudian ia segera menutup mulutnya yang sejak tadi terbuka. Ia berdehem-dehem kikuk setelahnya. “Aku baik-baik saja, thanks,” katanya sebelum ia membuang tatapan dari pemuda tinggi itu. Ia tak peduli jika pria itu sekarang menatap aneh padanya.

 

 

“Kau yakin baik-baik saja?” tanya pria tinggi itu lagi, “mungkin kau harus segera pergi ke Rumah Sakit. Kau benar-benar terlihat ka-“

 

 

“Kubilang aku baik-baik saja!” bentak Baekhyun, kemudian ia langsung meringis ketika ia sadar dan ia ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding sekarang juga. Demi Tuhan, ia tak bermaksud bicara kasar seperti itu, tapi sikap pria tinggi itu tadi membuatnya merasa tak nyaman. Baekhyun mendongak dengan gugup, dan ia menunjukkan ekspresi menyesal pada wajahnya. “Ma–maafkan aku…”kata Baekhyun terbata-bata.

 

 

Baekhyun melihat alis pemuda tinggi itu saling bertaut, tapi kemudian ia tersenyum lembut pada Baekhyun. “Hei, tak masalah sama sekali,” candanya, “jadi, apa kau sudah memutuskan rasa es krimnya?”

 

 

“Aku….pesan rasa cokelat mint saja.”

 

 

Pria tinggi itu mengangguk, kemudian langsung mengambilkan es krim pesanan Baekhyun menggunakan scoop-nya dari gentong besar dan meletakkannya pada cup yang lebih kecil, lalu ia menyerahkan es krim itu pada Baekhyun.

 

 

“Terima kasih,” kata Baekhyun sambil membayar es krimnya, kemudian ia langsung berbalik untuk pergi keluar, tapi sesuatu menahan langkahnya, karena itu ia kembali berbalik untuk melihat pemuda tinggi tadi yang langsung menunjukkan senyum sopan padanya.

 

 

“Aku tak pernah melihatmu di sini sebelumnya,” kata Baekhyun, “apa kau karyawan baru?”

 

 

“Ya, aku baru bekerja di sini sejak dua hari yang lalu,” jawab pemuda tinggi itu. “Apa kau sering datang ke sini?” tanyanya.

 

 

Pipi Baekhyun merona ketika pria tinggi itu bertanya padanya, dan ia langsung mengangguk kecil. “Ya,” jawabnya singkat. Baekhyun membungkukkan badannya, lalu ia cepat-cepat melangkah keluar dari kedai es krim itu.

 

 

Setelah agak jauh dari kedai es krim, Baekhyun berjongkok di trotoar, lalu ia mengerang keras dan mulai memaki dirinya sendiri. “Byun Baekhyun, kau benar-benar idiot!” teriaknya frustasi. Ia menjambaki rambutnya sendiri lalu menggeleng-gelengkan kepala, menyesali kebodohannya. “Dasar tak punya otak! Tolol!, dan–“

 

 

“Ehem!”

 

 

Tiba-tiba saja suara deheman mengagetkan Baekhyun, membuatnya tersentak dan langsung berbalik ke arah sumber suara itu. Dan tubuhnya membeku. Wajah Baekhyun langsung memerah ketika ia melihat siapa orang itu, yang saat ini jelas-jelas terlihat sedang berusaha menahan dirinya agar tak tertawa di depan Baekhyun.

 

 

“Kau melupakan kembalianmu,” kata pemuda tinggi itu.

 

 

Baekhyun langsung berdiri dari posisi jongkoknya, kemudian ia ambil uang kembalian itu. “Terima kasih,” ucapnya tanpa berani menatap ke arah pemuda tinggi itu, lalu ia cepat-cepat berbalik dan kabur.

 

 

“Hei!”

 

 

Baekhyun berhenti melangkah, tapi ia tak berani berbalik. Ia terlalu malu, dan ia juga merasa takut jika pria itu langsung menertawakannnya saat ia berbalik nanti.

 

 

“Namaku Park Chanyeol, jika kau merasa tertarik untuk mengetahuinya.”

 

 

Untuk sekejap, Baekhyun lupa caranya bernafas. Matanya melebar, dan ia menoleh untuk mengintip pemuda yang berada di belakangnya itu. Pria tinggi itu masih berdiri pada posisinya, masih tersenyum hangat padanya dengan mata yang berbinar-binar. Baekhyun membeku sekali lagi ketika melihatnya, lalu tanpa menjawab apapun ia langsung berlari cepat, kembali menuju sekolah.

 


 

To Be Continued


A/N : Read the original story here.

Advertisements