“Tak peduli seberapa jauh pun aku pergi, pada akhirnya aku tetap akan kembali padamu...”
 
 

…………….HunHan……………

supra-tk-society-red-leather-2-570x456

 

..

..

RED SNEAKERS

..

By tmarionlie

.

HunHan

.

Yaoi | Fluff | Romance
.

.


 

23 Juni 2013….

Kupandangi langit melalui balkon kamar Apartemen mewahku, menatap warnanya yang tampak cerah. Aroma udara terasa manis, terasa seperti kayu basah karena suhu udara begitu lembab meskipun cuaca sangat cerah untuk hari ini. Aku tersenyum ketika mataku menangkap gerakan mobil berwarna merah yang semakin lama semakin mendekat ke arah Apartemen yang kutinggali. Bibirku langsung menukik, membentuk sebuah senyuman manis untuk seseorang yang berada di dalam mobil itu. Aku melambai padanya, dan ia melemparkan senyuman tampannya untukku. Kemudian tanpa membuang banyak waktu lagi, aku melangkah cepat setengah berlari menuju ke lantai bawah. Kukeluarkan sneakers merah kesayanganku, lalu aku mulai melangkah cepat menuju luar Apartemen dan langsung memakainya.

Diluar, kekasihku -Oh Sehun- tengah menyandarkan bokongnya pada kap mobilnya sendiri dan langsung tersenyum hangat ketika ia melihatku. Aku berlari kearahnya dan ia menyambutku dengan pelukan hangatnya. Ku pejamkan mataku ketika tubuhku telah sepenuhnya berada di dalam pelukannya. Kuhirup aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya, dan sesekali kepalaku diciumi olehnya.

“Hei, aku belum keramas Sehunnie,” kataku sambil tertawa.

“Huh? tapi rambutmu sangat wangi sayang,” katanya sambil menciumi kepalaku lagi berkali-kali.

“Tentu saja. Shampoo yang kugunakan sangat mahal, jadi wanginya bertahan lebih lama.”

Dia menatapku sambil memicingkan mata, menunjukkan bahwa ia tak percaya sama sekali dengan apa yang kuucapkan. “Tch, lalu kenapa rambutmu masih terasa lembab?” tanyanya.

“Tentu saja karena aku berkeringat,” jawabku.

Dia masih tetap pada pose ragunya, membuatku terkikik geli setelahnya. “Baiklah, kau menang. Aku berbohong.”

Sehun ikut tertawa, kemudian ia kecup keningku sekilas. Sudut bibirku langsung terangkat ketika mataku melihat dia memakainya juga. Sepatu sneakers merah, sama seperti yang kugunakan. Aku yang memilih sneakers merah itu saat kami berdiskusi tentang benda couple apa yang sebaiknya kami miliki.  Aku tak tahu mengapa aku begitu menginginkan benda-benda couple dan semacamnya. Aku hanya ingin seperti teman-temanku, yang hampir seluruhnya menggunakan benda-benda couple semacam cincin dan kalung, untuk menunjukkan bahwa mereka dan pasangannya memiliki ikatan, -ehm- tentu saja mereka semua itu straight. Saat itu aku merengek pada Sehun agar kami membeli benda couple semacam itu untuk menunjukkan bahwa kami juga memiliki ikatan –meskipun tersembunyi– lalu pilihanku jatuh begitu saja pada sneakers merah ini. Aku memilihnya, dan Sehun yang membeli dengan uangnya.

“Kau memakainya juga?” kataku sambil menunjuk sneakers-nya melalui daguku, lalu aku tersenyum lebar.

“Ya, tentu saja.”

“Kukira kau tak akan pernah mau memakainya”

“Ck, omong kosong. Sneakres ini adalah benda couple kesayanganku…” katanya sambil mencolek daguku, menggoda.

“Oh ya?”

“Ya. Meskipun aku tak tahu kenapa kau memintaku membeli benda couple yang aneh seperti ini, tapi aku menyukainya,” –Sehun menarik pinggangku merapat– “aku menyukai apapun yang kau suka sayang,” lanjutnya sebelum bibirnya menempel dibibirku.

.

.

.

-HunHan-

.

.

.

 3 November 2013….

Aku mengikuti langkah managerku, yang membawaku ke dalam sebuah studio yang akan digunakan untuk pemotretan. Oh, apakah aku lupa menyebutkannya? Aku adalah, -ehm- seorang penyanyi yang cukup terkenal. Jadwalku begitu padat, namun akhir-akhir ini menjadi semakin parah hingga aku tak bisa bernafas. Tawaran pekerjaan untukku datang dengan begitu banyaknya, membuat jadwalku menjadi kacau. Aku bahkan sudah tak memiliki cukup waktu untuk sekedar tidur akhir-akhir ini. Pekerjaan ini cukup menguras tenaga dan pikiranku. Tenagaku habis kugunakan untuk melakukan show kesana-sini, melakukan pemotretan, dan kegiatan ini-itu lainnya yang cukup melelahkan. Dan pikiranku juga menjadi sedikit tak menentu karena pekerjaan ini.

Sudah 4 bulan berlalu, dan selama itu pula aku belum bertemu dengan Sehunku. Terakhir kali kami bertemu adalah kencan kami pada bulan Juni yang lalu, ketika kami berkencan dengan menggunakan sepatu couple kami. Ah, aku sangat merindukannya. Kapan aku bisa bertemu dengan Sehunku?

Kami memang masih berhubungan intens, err…maksudku berhubungan melalui ponsel. Kami masih mengobrol setiap hari sepanjang malam, masih saling merayu, masih saling melemparkan lelucon-lelucon lucu, dan terkadang pembicaraan kami menjurus ke hal-hal yang berbau mesum. Kekasihku itu memang sedikit pervert, tapi aku menyukainya. Mungkin karena aku  sebenarnya lebih pervert darinya? Haha, entahlah. Bagaimanapun aku dan bagaimanapun dia, yang terpenting adalah kami saling mencintai.

Sehun adalah kekasih yang sangat pengertian, bahkan dia tak pernah merengek-rengek padaku untuk bertemu meskipun dia jauh lebih muda dariku. Ketika aku mengatakan maaf berkali-kali karena aku tak bisa menemuinya akibat dari kesibukanku yang tak menentu, dia hanya akan berkata;

‘Tak apa, aku baik-baik saja sayang, take care Luhannie, aku mencintaimu…’

Bahkan dia selalu mengingatkanku akan ini itu yang terkadang kulupakan. Perhatian-perhatian kecil seperti ucapan ; ‘jangan lupa minum vitaminmu,’ dan hal-hal lain semacam itu,  membuatku merasa jika dia selalu ada didekatku meskipun kami tak pernah bertemu. Aku tak tahu mengapa dia bisa bertahan dengan pria yang super sibuk sepertiku. Tapi itulah dia, dan itulah alasan mengapa aku sangat mencintainya. Sehunku…

.

.

.

HunHan

.

.

.

15 February 2014….

Hari ini aku free job, membuatku menjadi begitu bersemangat. Meskipun aku hanya diberi waktu libur hingga 3 hari ke depan, aku merasa cukup senang. Ya, tentu saja aku sangat senang, karena aku bisa menemui kekasihku. Aku mengambil ponselku, kemudian aku cepat-cepat menghubunginya, Sehunku.

“Halo…Sehunnie, hari ini aku free job. Datanglah sayang, aku merindukanmu,” rengekku manja. Entahlah, aku juga tak tahu mengapa aku bisa berubah menjadi seperti anak kecil jika berbicara dengannya.

‘Benarkah? Assa! Baiklah, aku akan datang secepatnya. Tunggu aku sayang…’ jawabnya dari seberang sana, membuatku geli.

Setelah saluran telepon kami terputus, aku cepat-cepat mandi dan merapikan diriku sebelum dia tiba. Aku ingin terlihat tampan, err…cantik dimatanya. Baru saja selesai memakai potongan kaus terakhir, kekasihku itu sudah datang. Dia berdiri di depan pintu Apartemenku, dan menatapku dengan tatapan penuh kerinduan.

“Hai!” kataku sambil melambaikan tangan dan melemparkan senyum tercantikku.

Sehun tak menjawab, tapi ia langsung berlari dan menubruk tubuhku, memelukku dengan sangat erat sampai aku merasa sedikit sesak. “Aku merindukanmu,” bisiknya ditelingaku.

“Hmm…aku juga,” jawabku sambil memeluk pinggangnya, juga dengan sangat erat.

Beberapa menit berlalu dan kami masih merasa enggan melepaskan diri satu sama lain, tapi akhirnya Sehun menyerah dan ia lebih dulu melepaskan tubuhku dari pelukannya. Ia menangkup kedua pipiku, menatapku dengan tatapan yang begitu lembut. “Kau semakin cantik,” pujinya, membuat darah terkumpul cepat di kedua pipiku.

“Kau juga semakin tampan, dan astaga! kau semakin tinggi juga Sehunnie,” kataku, merasa terkejut dengan pertumbuhan tubuhnya yang begitu cepat.

Sehun tertawa, lalu ia menempelkan dahinya ke dahiku. “Aku mencintaimu, Pendek,” bisiknya jahil, dan aku cemberut.

“Aku tidak pendek. “kataku sedikit kesal, tapi sekejap kemudian aku telah tersenyum untuknya, “aku juga mencintaimu…” kataku kemudian, tentu saja.

Kami hanya terkekeh setelahnya, lalu Sehun memulainya. Ia mengelus  belahan bibir bawahku dengan lembut hingga beberapa kali, lalu sekejap kemudian bibir tipisnya telah menempel pada bibirku. Dia menyesap bibirku dengan lembut, menghisap bibir atas dan bawahku berganti-gantian, dan aku juga membalasnya dengan gerakan sebaliknya. Entah siapa yang memulai duluan, tapi saat ini kami sudah bergumul di atas ranjang dengan tubuh yang sama-sama polos, saling mencumbui satu sama lain. Mungkin ini adalah efek dari frekuensi pertemuan kami yang sangat jarang akhir-akhir ini. Mungkin juga akibat obrolan mesum yang kami lakukan setiap malam. Atau mungkin karena aku dan Sehun terlalu bernafsu, atau….mungkin kami pada dasarnya memang sama-sama pervert? Yang pasti  kami melakukannya dengan sangat bergairah, dan juga penuh cinta. Tentu saja Sehun yang lebih mendominasi kegiatan panas ini, errr…maksudku, Sehunlah yang memasukiku. Ah sudahlah, tak usah bahas hal yang ini lebih dalam lagi. Ini sangat memalukan, jadi biarkan aku dan Sehunku saja yang menikmatinya.

.

.

.

-HunHan-

.

.

.

20 February 2014….

Dunia entertaiment tiba-tiba saja gempar. Dan hampir seluruh stasiun televisi mengabarkan berita tentangku.

‘Xi Luhan adalah seorang gay!’

‘Xi Luhan bercinta dengan pasangan homo-nya di Apartemen pribadinya!’

‘Xi Luhan menjijikkan!’

Dan segala hujatan lainnya mengalir begitu saja, untukku. Aku benar-benar merasa terpuruk. Karirku hancur. Aku tak tahu bagaimana para ‘Papparazi gila’ itu menemukan hubunganku dengan Sehun. Bahkan mereka memiliki bukti rekaman saat Sehun memasuki Apartemenku, ketika aku bercinta dengan Sehunku 5 hari yang lalu.

Keadaan Sehun lebih parah. Kini rumahnya, dan juga kedua orangtuanya setiap hari diteror oleh para Papparazi itu. Kasihan mereka, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku juga sulit. Orangtuaku memaksa untuk  membawaku ke Negara Dubai, tempat dimana mereka tinggal selama ini. Aku telah membicarakan hal ini pada Sehun, dan baru kali ini aku mendengar dia merengek padaku, menyuruhku agar tidak pergi meninggalkannya. Tapi yang bisa kulakukan hanya meminta maaf pada orangtuanya. Tidak, aku tidak meminta maaf pada Sehun, karena jika aku mengucapkannya, artinya aku akan benar-benar berpisah darinya. Aku meminta maaf pada orangtuanya untuk banyak hal, terutama karena telah membuat mereka terluka dan malu. Tapi tanpa kuduga orangtua Sehun sangat baik. Mereka bahkan memintaku tetap tinggal, demi puteranya. Bahkan mereka juga memelukku dengan pelukan yang sangat hangat, dan menyuruhku bersabar. Dan lagi-lagi yang dapat kulakukan adalah kembali meminta maaf karena aku akan tetap pergi.

Aku tak bisa merasakan lagi, seberapa besar hancur yang kurasakan ketika aku melihat Sehun mengeluarkan airmatanya untukku.  Dia memelukku dengan sangat erat, berusaha menahan agar aku tak pergi meninggalkannya. Dia sangat takut berpisah denganku. Ya Tuhan, dia sangat mencintaiku, dan jika kau ingin tahu, aku juga sangat-sangat-sangat mencintai Sehunku.  Ketika aku benar-benar akan  pergi, aku berkali-kali meyakinkannya bahwa aku pasti kembali padanya. Dia tak bisa mempercayaiku pada awalnya, tapi kemudian ia mengangguk pasrah. Dia melepaskanku meskipun aku tahu jika ia tak ingin melakukannya. Ah, aku juga masih sempat mengecup sekilas bibirnya dan mengatakan kalau aku sangat mencintainya, tak peduli bahwa orangtuanya masih disana dan menatap canggung pada apa yang kulakukan. Aku yakin mereka pasti maklum. Dan aku pergi. Kuharap aku bisa kembali secepatnya. Untuknya, untuk Sehunku.

.

.

.

-HunHan-

.

.

.

19 Maret 2014…

Harapanku terkabul. Aku berhasil memaksa orangtuaku agar membiarkanku kembali pada Sehun. Yeah, meskipun harus sedikit menakut-nakuti mereka dengan ancaman bunuh diri. Yang terpenting adalah, aku sekarang berada di sini, di depan rumah kekasihku. Sehun sudah tahu jika aku berhasil, tentu saja karena aku meneleponnya setiap hari. Baru sebulan berlalu, dan aku tak tahu apakah berita tentangku sudah mereda atau belum. Aku tak peduli, aku telah mundur dari dunia keartisanku. Aku mengetuk pintu rumah itu dengan tak sabaran, hingga akhirnya seseorang membukakan pintu rumahnya. Aku sudah terburu-buru masuk ke dalam, tapi aku hanya menemukan kedua orangtua Sehun. Mereka bilang Sehun telah menungguku di sana, di Apartemen yang sudah kutinggalkan selama satu bulan lamanya. Ah, sial! Seharusnya aku pulang ke sana dulu tadi. Seharusnya aku tak perlu membuang-buang waktuku untuk pergi ke rumah orangtuanya.

.

.

.

Aku berlari cepat dikoridor Apartemen. Sneakers merah kesayanganku membuat langkahku menjadi  lebih ringan, hingga akhirnya aku tiba dengan cepat disini. Nafasku memburu, aku merasa sesak karena berlari terus sejak tadi. Aku menyempatkan diri untuk mengatur nafasku  sebelum aku menekan passcode di intercom. Dan Assa!  Dia benar-benar disini. Sneakers merah miliknya tergeletak rapi di rak sepatu. Aku membuka sneakers merah milikku dengan sangat cepat, lalu meletakkannya sejajar dengan miliknya. Baru saja aku membalikkan tubuhku untuk mencarinya, tapi tubuh mungilku ini tiba-tiba saja sudah terperangkap di dalam pelukannya.

“Kau lama sekali sayang, sangat lama…aku hampir saja membenturkan kepalaku sendiri ke tembok, kau tahu?” keluhnya.

“Aku salah jalan Sehunnie, aku tersesat ke rumahmu…” kataku sambil memajukan bibirku, membuatnya langsung tertawa.

“Apa kau membawa kabar baik?”tanyanya.

Aku mengangguk antusias. Tentu saja aku akan membawa kabar baik untuknya.

“Kalau begitu cepat ceritakan padaku!” pintanya.

Aku menarik nafas satu kali, kemudian aku menggaruk tengkukku sendiri. “Err…aku mengancam akan bunuh diri kalau mereka melarangku berhubungan denganmu,” kataku kikuk.

Sehun kembali tertawa. “Tch, dasar nakal! Jadi apa intinya, hmm?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum genit, kemudian kutempelkan bibirku di kulit lehernya. “Intinya adalah, aku milikmu sayang…” kataku sebelum mulai mencumbui leher super putihnya, membuatnya menggeliat resah karena ulahku.

“Lulu baby, hentikan sayang…ssshhh…ugh…”

Tawaku langsung meledak ketika aku mendengar desahannya itu, membuat hisapanku di lehernya terlepas secara otomatis.

“Jangan begitu, kau ini seperti Vampir saja,” keluhnya sambil mengelus kissmark yang baru saja kuciptakan di lehernya, membuatku terkikik geli.

“Ya. Aku ini Vampir. Dan aku ingin menggigitmu Sehunnie, roarrr…” kataku sambil menunjukkan cakar-cakarku padanya.

Sehun meledak dalam tawa, kemudian ia menarik pinggangku merapat pada tubuhnya. “Aku yang akan menggigitmu sayang,” katanya.

Dia mulai mendekat, mengecup dan melumat bibirku dengan lembut, dan aku membalasnya, tentu saja. Ah, gairah itu kembali muncul, lagi-lagi kami berakhir dengan making love di atas ranjangku. Sehun mendesahkan namaku berkali-kali dengan bibir tipisnya itu -ugghhh…so damn sexyreally!

Dan setelah bergelut hingga beberapa jam yang melelahkan, semuanya berakhir. Aku berakhir dengan terkulai lemah di dalam pelukannya, sedangkan dia mengelus-elus punggung telanjangku dengan jari-jemarinya yang pucat.

“Ugh, aku lelah…” keluhnya.

“Dan bokongku sangat perih…” kataku, ikut mengeluh.

Lalu kami sama-sama tertawa geli. Sehun meraih jemariku dan mengecupinya. “Terima kasih…” ucapnya.

“Terima kasih? Untuk?” tanyaku bingung.

Dia tersenyum lembut, dan lagi-lagi mengecupi tanganku dengan bibir tipisnya itu.

“Untuk kembali padaku…”jawabnya kemudian.

Aku juga tersenyum, lalu aku menyempatkan untuk mengecupi bibirnya hingga berkali-kali.

“Sepatunya berfungsi dengan baik Sehunnie…” kataku, membuat alisnya saling bertaut bingung.

“Sepatu?”

Aku mengangguk. “Sepatu couple itu. Aku sengaja memilihnya agar jika salah satu dari kita pergi, sepatu itu akan menunjukkan jalan untuk kita kembali…” –Aku memiringkan tubuhku ke arahnya– “Tak peduli seberapa jauh pun aku pergi, pada akhirnya aku tetap akan kembali padamu. I’ll always back to you, Love…” lanjutku.

Sehun menatapku sangat lama, kemudian ia terkekeh dan menggesekkan ujung hidungnya itu pada hidungku. “Astaga…aku jadi semakin cinta padamu Luhan…” katanya gemas.

“Kalau begitu bagus,” jawabku, tepat sedetik sebelum bibir tipisnya kembali menyerang bibirku.


END


Fluff gagal, T__T.  Ini FF jadulku, bahasanya masih sangat berantakan. Tapi jangan lupa tinggalkan kesan kalian setelah membacanya ya, maaf kalau banyak typo ^_^

Advertisements