Bagiku ingatan itu seperti kotak-kotak kardus yang berserakan….

 

 

Seperti laci-laci penyimpan kenangan….

 

 

Meskipun telah beribu malam yang pekat telah terlalui oleh guratan waktu….

 

 

Kenangan tentangmu tetap membekas dalam ingatanku….

 

 

Black House….Blue Rose….dan….Oh Sehun….


 

blue rose

.

.

Black House, Blue Rose, And Memory

 

 

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

.

Yaoi | Fantasy | Horror | Mystery | Romance | Rating T

.

.


PART 2


Jariku terus bergerak, menggesekkan kuas bercat hitam pada kanvas putih di hadapanku, menorehkan sebuah garis panjang lurus pada permukaan lembar kanvas putih. Sudah 8 tahun berlalu, dan inilah jadinya aku.

 

 

Xi Luhan, pemuda bisu. Pelukis muda yang terkenal karena lukisan anehnya yang berjudul Black House, Blue Rose, And Memory itu. Orang tuaku yang awalnya mengecam kebiasaan anehku menggambar objek aneh yang terlihat seperti rumah bercat kelam sejak 8 tahun lalu itu, kini tak lagi mempermasalahkannya. Tch! Tentu saja mereka tak akan protes lagi, bukankah mereka beruntung karena mereka dapat mengumpulkan uang-uang dari lukisan-lukisan hasil guratan tangan-tanganku yang dulu mereka sebut ‘menyeramkan’ itu?

 

 

Padahal setiap tahun yang terlewati –dulu– selalu mereka gunakan untuk mendecih ketika jari-jariku mulai menggambarkan lagi pola-pola aneh berwujud rumah berwarna hitam pekat di perbukitan berkabut itu, karena menganggap lukisanku itu adalah lukisan yang (ehm) ‘horror’. Tapi sudahlah, toh mereka kini tak ribut lagi, jadi akupun tak perlu kesal lagi dengan keadaan itu. Tak ada gunanya mendendam. Toh hidup itu seperti komposisi, seperti lukisan-lukisan yang kubuat ini. Kadang aku tak tau kenapa sebagian kanvas kuisi dengan tinta hitam, sedang bagian lainnya tetap kubiakan kosong. Aku hanya akan menjalani hidupku seperti kuas yang kupegang ini, yang tak perduli kemana dirinya akan dicelupkan, ke tinta cerah, atau ke tinta yang gelap. Yang dia tau hanyalah dia harus dicelupkan dan dioleskan. Dia hanya tau jika tugasnya adalah membawa warna dan menuruti kehendak pelukisnya. Begitupun aku. Aku hanya akan menjalani hidupku sesuai dengan guratan takdir yang dituliskan oleh Tuhan untukku. Sudah, begitu saja. Tamat. End.

 

 

Hufffttt…..

 

 

Aku mengambil kuas baru, lalu kucelupkan ke tinta berwarna biru gelap. Aku mulai lagi…Hhhh…Akupun tak tau kenapa tanganku tak bisa berhenti melukiskan objek yang satu ini. Rumah bercat hitam, dengan rimbunan mawar berwarna biru di pekarangannya. Aku suka…aku kecanduan, karena ketika melukiskan objek ini, aku akan selalu teringat tentang dia…

 

 

Aku tak tahu sejak kapan perasaan aneh ini muncul, hanya saja aku mulai memikirkan hal-hal aneh tentang ‘dia’ dalam kurun waktu beberapa tahun ini, tepatnya ketika aku mengalami masa puberku untuk yang pertama kali. Huh? Kalian bilang apa? Hey! Aku memang bisu, memang anti sosial, memang aneh. Tak perlu kalian ingatkan, bahkan sikap semua orang padaku juga selalu mengingatkan padaku jika aku itu ‘menyeramkan’. Tapi bukan berarti aku tak mengalami ‘fase penting’ itu. Lupakan soal keanehanku, okey?

 

 

Kembali pada topik. Aku mulai memikirkan ‘pria pucat’ itu sejak aku menginjak usia 16. Ketika itu aku bermimpi tentangnya. Dan dalam mimpi itu, aku….

 

 

.

-Flashback-

Hujan turun dengan lebat. Aku kembali berlari-lari dan menuju dengan pasti ke satu arah. Black House. Rumah hitam pekat yang selalu menjadi tujuanku ketika hujan turun. Aku berdiam di serambi rumah hitam itu, menggigil, gemetaran. Seluruh bajuku sudah basah. Rambutku, pipiku, bahkan alisku pun sudah ikut meneteskan air. Dalam ketermanguanku pria itu kembali muncul, dengan setangkai mawar biru di tangannya.

“Sehun?” panggilku.

 

 

Dia tersenyum, lalu tanpa kata-kata menarik tanganku masuk ke dalam rumah. Dia desak aku ke sudut ruangan. Punggungku menempel pada tembok bercat hitam pekat. Dia mendekat, wajahnya mendekat, semakin dekat hingga aku dapat merasakan nafasnya yang sejuk. Tanpa bisa kucerna yang terjadi, sesuatu telah mendarat di bibirku. Lembut, basah. Dia bergerak, menghisap bibirku pelan-pelan. Aku tak mengerti, aku masih buta tentang hal ini. Yang kulakukan hanya diam, memejamkan mata.

 

 

 

Tak sampai di situ saja, bibir Sehun mulai menjalar, menghirup aroma leherku dalam-dalam, lalu menjilatnya sampai basah. Kedua tangannya merengkuh pinggangku dan mencengkramnya dengan erat, lalu dia mengecupi leherku beberapa kali. Kepalanya bergerak sedikit, dan bibirnya menuju ke telingaku.

 

 

“Kau sudah terikat denganku Luhan…Aku sudah pernah merasakan darahmu…Kau milikku…Sejauh apapun kau pergi, kau pasti akan kembali padaku”

 

 

Selanjutnya yang terjadi benar-benar di luar kendali tubuhku. Aku terhimpit, terkungkung di bawah tubuh polosnya yang pucat, dengan tubuh yang sama polos. Desahanku mengalun merdu dalam ruangan, dan ketika mencapai puncak, aku tiba-tiba tersentak. Aku membuka mataku, tapi Sehun telah lenyap.  Sisanya hanya kamarku yang membosankan, tak ada hujan, tak ada Sehun. Tapi celanaku basah, dan sesuatu yang mengotori celanaku itu aromanya sangat aneh dan memuakkan.

 

-End Flashback-

.

Bibirku mengulas senyum ketika aku mengingat mimpi itu. Saat itu aku tak tau itu apa. Tapi aku sering mendengar tentang mimpi basah yang sering terjadi pada remaja seperti yang terjadi padaku saat itu. Anehnya, kenapa harus Sehun yang hadir dalam mimpiku? Aku bahkan baru satu kali bertemu dengannya. Aneh…Tapi aku suka. Sejak saat itu aku tak pernah berhenti memikirkannya. Aku merindukan sosoknya yang tampan. Akankah aku kembali bertemu dengannya?

 

.

.

.

.

.

-HunHan-

.

.

.

.

.

Aku baru saja menghempaskan bokongku ke kursi dan duduk menghadap pada kanvasku, seperti biasanya. Tiba-tiba saja Ibu masuk dengan langkah gemetaran dan menangis. Aku menelengkan kepalaku dan mengerutkan dahi, menujukkan ekspresi heran sebagai ganti untuk pertanyaan ‘Mama, apa yang terjadi?’ dan dalam sekejap saja Ibuku sudah memelukku erat-erat. Ada apa?

 

 

“Luhan…Kakekmu meninggal…Digigit hewan buas”

 

 

Jantungku seperti terhenti mendadak. Kakekku? Orang yang kusayangi? Yang selalu kurindukan selama ini? Sudah meninggal?

 

 

Air mataku jatuh, dan aku benar-benar menangis. Bahkan aku sesenggukan.

 

 

“Kita akan berangkat ke desa, Kakekmu meninggalkan surat wasiat pembagian warisan, dan kita harus kesana Luhan. Aku yakin Kakekmu pasti meninggalkan sesuatu untukmu”

 

 

Aku mengutuk dalam hati. Kenapa saat keadaan seperti inipun Ibuku masih sempat memikirkan soal warisan? Dasar mata duitan!

 

.

.

.

.

.

-HunHan-

.

.

.

.

.

Senja mulai membentangkan cahaya pucat matahari. Aku memutuskan keluar dari lingkaran orang-orang tua yang saling membicarakan pembagian warisan di dalam rumah almarhum kakek. Aku tak tertarik dengan pembicaraan mengenai harta warisan. Aku lebih penasaran untuk mendaki perbukitan dan mencari keberadaan Black House yang selalu terpahat apik dalam ingatanku. Kakiku menapak berganti-gantian menyusuri jalanan yang menanjak naik. Aku baru sadar jika langkahku kini teramat sangat ringan, sama sekali tak terasa berat seperti saat aku mendaki perbukitan ini ketika aku masih berusia 12 tahun dulu. Nafasku tak sampai terengah ketika aku sampai di sebuah pohon berlumut yang posisinya sudah tak lurus lagi, sudah agak membungkuk kini. Memoriku melayang ketika aku melihat pohon itu. Aku masih ingat jika waktu itu aku sedang menggambar seekor bunglon yang menempel pada batang pohon ini sebelum hujan turun. Sudah lama sekali ya?

 

 

Aku mendekat ke arah pohon itu, lalu kupejamkan mataku, mencoba mengingat-ingat bagaimana posisiku ketika dulu aku melihat rumah itu.

 

 

Setetes air mendarat di pipiku. Kubuka mataku dan menatap langit. Mendung, dan….Hujan. Aku melindungi kepalaku dengan kedua tangan, namun tak membantu. Dan ketika itulah aku melihatnya. Ah, rumah hitam itu ada di sebelah sana rupanya. Padahal sepertinya tadi aku tak melihat apapun, tapi kini rumah itu hanya berada beberapa meter saja dari tempatku berdiri.

 

 

Dejavu.

 

 

Aku berlari-lari ke arah rumah itu. Kubuka pagarnya terburu-buru sampai menyebabkan bunyi berdentang yang sangat keras. Keadaan di rumah itu tak berubah sama sekali. Persis sama seperti saat aku melihatnya untuk kali pertama dan terakhir 8 tahun yang lalu, ketika umurku masih 12 tahun. Rimbunan bunga mawar berwarna biru masih bersemak di halaman. Warna bunga yang cantik, biru pekat, sama persis seperti warna mawar yang diberikan Sehun padaku saat itu. Sudut-sudut bibirku tersungging naik, aku senang berada di sini. Nyaman…

 

 

“Luhan?”

 

 

Aku hampir terlonjak ketika aku mendengar suara itu. Kuputar batang leherku dengan perlahan. Aku gugup. Dan dia ada disana…sedang menatapku dengan pancaran mata yang menyiratkan…err…kerinduan?

 

 

“Sehun?”

 

 

Ah, aku bisa bicara lagi!! Keanehan yang terjadi hanya saat aku berada dekat dengannya.

 

 

Dia tersenyum, lalu…

 

 

Nyaman…

 

 

Sehun memelukku dengan sangat erat, menyerukkan bibirnya pada lekuk leherku dan menghirup aroma tubuhku dalam-dalam. Kucengkram erat punggungnya, dan kuhirup juga aroma tubuhnya setajam mungkin.

 

 

“Sehun…bagaimana kau bisa tau jika ini aku?” tanyaku dengan mata terpejam, masih menghirup aroma lehernya yang harum.

 

 

Sehun membelai punggungku, lalu mengecup pipiku sekilas.

 

 

“Kau cantik…bentuk matamu indah…hanya kau yang memiliki wajah seperti itu, dan darahmu ini…memanggil-manggilku” katanya sambil menekan bagian leherku pelan-pelan.

 

 

Aku terdiam. Kutarik diriku dan kutatap matanya. Wajahnya masih sama. Tak ada yang berubah sedikitpun, padahal aku bertemu dengannya terakhir kali ketika aku masih anak-anak. Dan kemesraan yang terjadi ini? Ah…aku juga tak tau. Aku dan dia seperti memiliki ikatan yang transparan. Aku tak bisa mendeskripsikannya dengan untaian kata-kata. Yang pasti adalah, aku…mencintainya…

 

 

Dia tersenyum padaku, lalu menempelkan dahinya pada dahiku.

 

 

“Aku merindukanmu” katanya.

 

 

“Aku juga merindukanmu….aku memimpikanmu setiap malam” jawabku.

 

 

“Aku tau” katanya.

 

 

Dia tau?

 

 

Kami hanya diam. Saling tatap dengan pandangan mata redup. Dia mendekat, lalu terjadi begitu saja. Bibirnya menyentuh bibirku, dan aku memeluk tengkuknya yang kini sangat mudah untuk kugapai. Dulu tinggiku hanya sebatas perutnya, tapi kini tinggi kami sudah hampir sama. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, karena kami masih saling berpagut, namun segala sesuatu pasti ada akhirnya. Ciuman itu berakhir, dan Sehun kembali tersenyum padaku.

 

 

“Kau kedinginan?” tanyanya.

 

 

Aku mengangguk.

 

 

“Masuklah…” katanya.

 

 

Aku mengangguk kecil dan mengikuti langkahnya memasuki rumah.

 

 

“Luhan…”

 

 

Sebuah suara serak memanggil namaku, menghentikan langkahku. Aku menoleh cepat, dan…

 

 

“Kakek?!” pekikku.

 

 

Kakekku? Benarkah? Kakek?

 

 

Aku sudah berancang-ancang berlari untuk memeluk kakekku, tapi…

 

 

SRETT

 

 

Tanganku di tahan oleh Sehun.

 

 

“Jangan…kau tak bisa ke sana Luhan…Kakekmu berbeda denganmu…”

 

 

Aku mengerutkan dahiku.

 

 

“Aku tak melihat perbedaannya Sehun…Aku merindukan kakekku, Aku rindu padanya” kataku.

 

 

“Jangan…kau tidak boleh…nanti dia bisa membunuhmu…” kata Sehun.

 

Huh? Membunuhku?

 

 

Kulihat kakekku menatap tajam padaku di seberang pagar sana, tapi tak berani masuk ke dalam, entah kenapa. Matanya nyalang menatapku dan juga menatap Sehun, tapi Sehun hanya tersenyum.

 

 

“Kalian berbeda Luhan, kau siang, sedang kakekmu adalah malam”

 

 

Keningku berkerut dalam. Aku semakin tak mengerti.

 

 

“Tapi aku merindukan Kakekku Sehun…”

 

 

Sehun menoleh padaku, lalu tersenyum tampan.

 

 

“Kalau begitu, kau harus memilih…”

 

 

“Memilih?”

 

 

“Heum…pilih siang, atau malam” katanya.

 

 

Aku terdiam. Kuarahkan pandanganku ke arah kakekku. Hujan telah berhenti. Semburat senja cakrawala menerpa tubuh Kakek, menyisakan bayangan abu-abu di tanah. Kurasakan nafas Sehun menerpa telingaku, jarinya mengelus tengkukku. Tanpa sempat menentukan rasa di indera perabaku, kurasakan bibir tipisnya mencecap kulit leherku. Aku merinding. Jantungku panas, gerah, darahku bergejolak.

 

 

 

“Siang…atau malam Luhan?” bisiknya lembut.

 

 

Aku memejamkan mataku, dan menjawab.

 

 

“Malam”

 

 

Sehun mendesis pelan, lalu kembali mencecapi leherku, menjilat beberapa kali, dan…

 

 

Darahku mengalir deras menuju ke satu titik yang sedang di kecupnya. Sakit, tapi aku merasa ringan. Aku memejamkan mata. Di balik mata yang terpejam, kulihat semua kenangan-kenangan ketika aku kecil hingga sekarang. Segala kenangan itu terbang berhamburan meninggalkan diriku, mendesis, menguap, mengilang. Lalu aku merasa kosong.

 

 

Dalam hitungan beberapa detik, malam berubah menjadi terang dalam pandanganku. Bisa kulihat air yang menetes dari pucuk dedaunan yang berada jauh di ujung sana, bahkan aku dapat melihat gerakan seekor semut kecil yang sedang merayap cepat di sebatang pohon yang berjarak 3 meter dari posisi berdiriku.

 

 

Aku menoleh ke arah luar pagar, yang sepertinya beberapa saat lalu sangat ingin kudatangi. Namun keinginan itu tak ada lagi. Lenyap, menghilang…

 

 

Otakku kosong, tak ada kenangan apapun lagi di dalamnya. Aku seperti kardus kosong yang berserakan, seperti laci kosong yang tak memiliki isi. Segala ingatan dan kenanganku telah lenyap tak bersisa.

 

 

Sebuah pelukan erat merayapi tubuhku, dan sebuah kecupan mendarat di pipiku. Aku menoleh, dan aku melihat wajah tampannya. Tidak! Aku masih memiliki kenangan, buktinya aku masih mengingat siapa pria tampan ini, Sehunku…

 

 

“Selamat datang di kegelapan sayang” sambutnya padaku.

 

 

Aku tersenyum, lalu kembali memeluknya. Kukecupi jakunnya, lalu kuraih bibirnya.

 

 

“Aku mencintaimu” kataku tulus.

 

 

Dia tersenyum lembut, menggenggam erat tanganku, lalu membawaku ke arah rimbunan semak mawar biru di pekarangan. Dipetiknya setangkai mawar dan disodorkannya ke tanganku. Tangkai mawar itu penuh duri. Duri-durinya menusuk-nusuk jariku, tapi tak sakit sama sekali. Tak ada darah yang keluar.

 

 

“Aku juga mencintaimu Luhan” jawabnya, sebelum menarikku masuk ke dalam rumah.

 

 

Tubuh kami lenyap di balik pintu, dan sejak senja itu dan seterusnya aku berdiam di dalam Black House dengan waktu yang tak bertepi…

 


 

 

Hidup itu seperti komposisi…

 

 

Hanya diamlah, dan biarkan tubuhmu terseret arus takdir yang akan membawamu, meskipun takdir menuntunmu untuk mengakhiri hidupmu sebagai manusia…


END 


A/N : Terinspirasi dari berbagai cerpen bagus yang pernah aku baca dari berbagai sumber 

 

 

 

Advertisements