Kenangan seperti lumpur yang mengendap di dasar sungai…..

Mengerak, lalu menanti hujan turun agar bisa menyatu dengan air dan kembali menjadi lumpur…..

Black House…..

Di rumah itulah aku bertemu denganmu pertama kali…..

Saat kau memberikan setangkai mawar berwarna biru untukku…..


43d1dce86f2da6454acb01753733c280

.

.

Black House, Blue Rose, And Memory

( Romantic Gothic Story )

.

.

By tmarionlie

.

HunHan

.

.

Yaoi | Horror | Romance | Rating T

.

.


PART 1


Hitam, pekat….itulah yang kuingat tentang wujud dari rumah itu.

 

 

Sosok rumah ‘aneh’ itu telah lama berada di atas perbukitan yang berada persis di belakang rumah kakekku. Aku hampir sering berkunjung, ah, bukan…tapi aku memang lebih sering menginap di rumah kakek daripada di ‘rumah’. Sejak aku balita, setiap harinya aku dititipkan di rumah ini karena kesibukan kedua orang tuaku. Tch, sebenarnya bukan hanya itu alasannya. Mereka –kedua orang tuaku– selalu menitipkanku ke rumah ini karena alasan ‘yang satunya lagi’. Kalian ingin tau? Ck! Ini menyedihkan untuk di bahas, tapi aku akan memberitahu kalian.

 

 

Aku, Xi Luhan, sudah sejak kecil diklaim dengan julukan ‘bocah aneh dan menyeramkan‘ oleh orang-orang, mirisnya ayah dan ibu juga.

 

 

Hah? Apa kalian sedang bertanya ‘apa alasannya?’. Aku akan bercerita, sabar.

 

 

Dulu….saat aku balita, aku tak bisa bicara sama sekali. Mereka pikir aku bisu, karena itu mereka menitipkanku pada kakek yang seorang psikolog dengan dalih agar kakek dapat menyadarkan aku. Jika sekarang, aku bisa mengerti makna dari kata ‘menyadarkan’ itu sebenarnya lebih menjurus ke arah ‘menyembuhkan’. Aku tak mengerti –pada saat itu– kenapa aku harus di sembuhkan. Aku merasa sehat, aku merasa baik-baik saja, aku tidak sakit. Hanya karena tak bisa bicara hingga aku berusia 4 tahun, orangtuaku sudah menganggapku bisu, kejam sekali. Tapi aku tak perduli. Aku hanyalah seorang anak yang harus patuh pada kehendak mereka, bukan begitu?

 

 

Yang aku ingat, dulu, kakek hanya memberikanku buku polos dan pensil warna, setiap harinya. Aku dengan senang hati menerimanya. Bahkan aku sangat senang. Setiap harinya aku mencari objek-objek yang menarik, lalu kutuangkan ke dalam kertas gambarku. Terkadang kakek mengajakku berkeliling ke rumah-rumah tetangga. Tapi aku tak suka. Tatapan ‘mereka’ yang ditujukan ke arahku itu, membuatku muak. Entahlah….itu seperti –underestimate.

 

 

Aku lebih suka mencari objek unik di perbukitan di belakang rumah kakek. Menggambar apapun yang kusukai, rumput, bunga, serangga, apapun itu. Semakin tinggi tubuhku, kakek semakin memberikanku kebebasan untuk mencari objek-objek yang kusukai dan menggambarnya ke buku yang selalu kubawa. Jika dihitung, selama bertahun-tahun, sudah tak terhitung berapa objek yang sudah kugambar dalam kertas gambarku.

 

 

Semakin aku besar aku sudah tak menggunakan pensil yang berwarna lagi, melainkan pensil biasa dengan warna abu-abu yang membosankan. Ah, aku tak perduli, lagipula aku sudah tak tertarik pada warna-warna lagi seperti saat aku balita ‘dulu’. Aku lebih menikmati dengan objek gambarku daripada warnanya.

 

 

Aku ingat, saat itu aku berusia 12 tahun –saat aku bertemu ‘dengannya’ untuk yang pertama kalinya…

 

 

Aku sedang asyik menggambar seekor bunglon yang menempel arogan pada sebatang pohon berlumut di perbukitan, lalu tiba-tiba saja hujan turun dari langit seperti air dituangkan dari ember raksasa dari atas sana. Hujannya deras, berisik, dan melumatkan kerak-kerak lumpur hingga lumpur yang terlihat retak-retak itu kembali menyatu dengan air dan menjadi lumpur dalam wujud ‘sesungguhnya’ seperti bagaimana orang-orang mengenalnya. Kulindungi kepalaku dengan buku gambarku, namun tak membantu. Dalam pandangan berkabut karena hujan, samar-samar aku melihat ‘bayangan hitam’ beberapa meter di hadapanku. Aku memicingkan mataku untuk memperjelas ‘objek apa’ yang tertangkap samar oleh penglihatanku itu. Semakin lama aku meyakini jika itu adalah sebuah rumah….

 

 

Aku berlari-lari cepat ke arah rumah itu, membuka pagarnya terburu-buru lalu berteduh di serambinya. Kutolehkan kepalaku kesana-kesini, melihat bentuk rumah yang seluruh catnya berwarna hitam pekat itu. Aku sedikit heran. Beberapa tahun aku mengelilingi perbukitan ini, tapi baru kali ini aku melihat rumah ini. Di dorong rasa penasaran, aku melangkahkan kakiku menuju jendela kaca rumah dan mengintip ke dalam. Tak ada yang menarik, hanya perabot tua tapi terkesan ‘antik’ yang tersebar di sana-sini disudut-sudut dalam rumah.

 

 

Aku membuang nafasku, lalu mengusap-usap lenganku karena aku sedikit kedinginan dan menggigil.

 

 

Krieeeeeetttttt….

 

 

Aku tersentak dari lamunan dan terkejut setengah mati saat ku dengar pintu rumah yang terbuka. Kutolehkan kepalaku ke arah pintu dan sontak kurasakan jantungku berhenti berdetak, nyawaku serasa melayang jauh menembus awan-awan langit. Apa yang tertangkap oleh mataku adalah sesuatu yang belum pernah kulihat seumur hidupku.

 

 

Objek yang sangat sempurna.

 

 

Seorang pria sangat pucat, mungkin beberapa tahun lebih tua dariku –well, karena dia lebih tinggi daripada remaja berusia 12 tahun sepertiku- berdiri di ambang pintu, menatap lembut ke arahku. Dalam dekapannya terkumpul beberapa tangkai bunga mawar yang berwarna……biru?

 

 

Aku menatap kikuk ke arahnya, tapi dia malah melemparkan senyum padaku.

 

 

“Hai,” sapanya.

 

 

Aku meneguk ludahku sekali, lalu memaksakan tersenyum dan hanya mengaggukkan kepalaku untuk menjawabnya. Aku bisu, ingat?

 

 

Dia mendekat, lalu menatapku lekat.

 

 

“Kau kedinginan?” tanyanya lagi.

 

 

Aku mengangguk ragu.

 

 

“Masuklah, aku akan memberikanmu minuman hangat,” tawarnya.

 

 

Aku hanya mematung di tempatku. Dia sepertinya dapat menangkap keragu-raguan dalam sikapku, karena itu dia tersenyum, meletakkan mawar-mawar biru itu di kursi teras, lalu menarik pergelangan tanganku. Tangannya terasa amat lembut, namun sangat dingin.

 

 

Dia mendudukkanku di kursi kayu berukiran unik di ruang tengah, lalu mengambil selimut dan menutupi tubuhku dengan selimut itu. Selanjutnya dia menyodorkan secangkir cokelat hangat padaku.

 

 

“Siapa namamu?” tanyanya setelah dia duduk di hadapanku.

 

 

Aku diam, bingung harus menjawab apa. Aku tak bisa bicara kan?

 

 

“Bicaralah….kau bisa,” katanya.

 

 

Entah mengapa, tapi tiba-tiba saja aku merasa aku mampu melakukannya. Dengan keyakinan yang amat besar, aku menggerakkan lidah dan mulutku, ingin mengeluarkan suara, dan….aku bisa!

 

 

“A-aku…Luhan” jawabku.

 

 

Huh? Aku bicara? Sungguh? Jangan bangunkan aku jika aku sedang bermimpi!

 

 

Dia tersenyum.

 

 

Sangat tampan…..

 

 

“Luhan….namamu cantik, seperti kau,” pujinya.

 

 

Aku tak tau apa, tapi darahku serasa mengalir secara bersamaan ke pipiku, terasa hangat di sana.

 

 

“Namaku Sehun,” katanya.

 

 

Aku hanya diam.

 

 

Saat ini, dia terlihat sibuk memotong-motong tangkai mawar biru yang dia petik tadi.

 

 

“Itu…mawar?” tanyaku ragu, tak yakin sebenarnya jika itu jenis bunga mawar. Mana ada mawar berwarna biru?

 

 

Dia tersenyum.

 

 

“Ya.”

 

 

Aku tertegun. Benarkah?

 

 

“Tapi warnanya–”

 

 

“Biru,” katanya, menyambung ucapanku.

 

 

“Ya…biru. Aneh….” sahutku.

 

 

“Aneh?”

 

 

Aku mengangguk.

 

 

“Baru kali ini aku melihatnya,” kataku terus terang.

 

 

Dia tersenyum lagi.

 

 

“Aku memiliki banyak di halaman rumah,” katanya.

 

 

Aku menatap mawar-mawar itu. Sangat cantik.

 

 

“Bolehkan aku meminta satu tangkai?” tanyaku.

 

 

Sehun menatapku lama, lalu tersenyum.

 

 

“Kau menyukai mawar ini? tanyanya.

 

 

“Ya, warnanya cantik,” kataku terus terang.

 

 

Dia mengangguk.

 

 

“Ya, tentu saja. Kau boleh membawa berapapun yang kau mau. Kembalilah kesini jika kau menginginkannya lagi,” katanya.

 

 

Dia menyodorkan satu tangkai padaku, lalu tersenyum tampan. Dengan semangat aku menyambut mawar itu, kubelai kelopak birunya yang indah, lalu kuhirup dalam-dalam aromanya yang segar. Tangisan hujan di luar mendayu-dayu di telingaku, berisik, tapi entah kenapa aku merasa lelah dan mengantuk. Akhirnya tanpa kutau yang selanjutnya terjadi, aku sudah kehilangan kesadaran. Sepertinya aku tertidur.

 

.

.

.

.

.

-HunHan-

.

.

.

.

.

Aku terkesiap. Tubuhku terasa lemas. Kubuka mataku dan kutatap sekeliling. Huh? Aku masih di rumah ber-cat suram ini.

 

 

“Sudah bangun?”

 

 

Aku menoleh cepat ke arah suara itu.

 

 

“Sehun? sudah berapa lama aku tertidur?” tanyaku.

 

 

“Tak lama…hanya setengah jam,” jawabnya sambil tersenyum.

 

 

“Oh, hujannya sudah berhenti” gumamku, saat tak kudengar lagi suara gemuruh hujan di luar sana.

 

 

“Kau sudah mau pergi?”

 

 

Aku mengangguk.

 

 

“Aku takut kakek marah padaku,” kataku jujur.

 

 

Sehun terkekeh, lalu tersenyum.

 

 

“Dia tak akan tahu,” katanya.

 

 

Entah apa maksud ucapannya, aku tak mengerti.

 

 

“Aku pergi. Terima kasih mawarnya,” kataku sambil mengambil mawar biru pemberiannya tadi, tapi…

 

 

“Akh!” aku meringis, tanganku tertusuk duri.

 

 

Sehun menghampiriku dengan cepat, lalu meraih jariku dan menghisap darah yang keluar dari sana dengan cepat. Aku termangu menatap pipi pucatnya yang perlahan bersemu merah.

 

 

“Darahnya sudah berhenti,” katanya, memecahkan ketermanguanku.

 

 

Aku menarik tanganku dengan cepat.

 

 

Aneh….rasanya aneh…..hatiku berdesir dengan aneh…..apa ini?

 

 

“Ayo kuantar sampai melewati pagar, katanya.

 

 

Aku mengangguk, tapi lagi-lagi tertegun sat dia menggenggam erat pergelangan tanganku, menuntunku melangkah bersamanya. Kami berjalan bergandengan tangan sampai melewati pagar rumahnya. Meski hanya diam, aku yakin dia memahami jika aku sedang berdebar saat ini. Seperti yang kukatakan tadi. Ini aneh….

 

 

“Hati-hati ya, Luhan,” katanya.

 

 

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Aku berbalik dan berlari-lari kecil ke rumah kakekku. Sekejap aku sempat menoleh padanya, namun entah apa yang terjadi, dia lenyap, rumah itu juga lenyap. Padahal sepertinya baru beberapa langkah saja aku berlari.

 

 

Aku terpaku dan mematung bingung pada tempatku berdiri, namun lagi-lagi jariku tertusuk duri.

 

 

Tertusuk?

 

 

Aku melihat ke genggamanku. Masih ada….mawar biru itu masih ada di dalam genggamanku. Aku tak bermimpi! Sehun ada. Dia nyata!

 

 

Mungkin?

 

 

Aku tersenyum, dan kembali berlari ke rumah kakek dengan rambut yang lembab dan baju yang juga lembab karena air hujan.

 

.

.

.

.

.

-HunHan-

.

.

.

.

.

 

“Luhan? Kau dari mana saja?” sambut kakek, khawatir.

 

 

Aku tersenyum lebar, lalu hendak memamerkan padanya jika aku sudah bisa bicara, tapi….

 

 

Suaraku tak keluar, tak ada…..

 

 

Aku mencoba sekuat tenaga, tetap tak bisa.

 

 

Kenapa?

 

 

Tadi aku bisa mengobrol dengan Sehun. Tapi kenapa sekarang?

 

 

“Luhan?” tegur kakekku.

 

 

Aku mendongak lemah dan menatap kakek dengan keputus-asaanku. Kakek menarikku dan memelukku.

 

 

“Ayah dan Ibumu datang menjemputmu nak. Pergilah…sudah saatnya kau hidup dengan mereka.”

 

 

Aku terkesiap.

 

 

Tidak! Aku tak mau pergi!

 

 

Aku menggeleng keras-keras, berusaha menunjukkan pada kakek jika aku tak mau pergi. Banyak yang harus ku ceritakan pada kakek, soal kejadian tadi. Aku ingin mengatakan jika aku sudah memiliki teman, namanya Sehun, dia memberiku mawar biru ini. Tapi….

 

 

Mawar biru??

 

 

Aku menatap tanganku yang kosong. Tak ada mawar biru dalam genggamanku.

 

 

Kemana mawar itu? Bukankah tadi aku sedang memegangnya? Aku meletakkannya di mana?

 

 

Aku masih kebingungan, tapi sekejap kemudian yang aku tau Ayah dan Ibuku muncul, lalu meyeret tubuhku ke dalam mobil mewah mereka, membuat pandangan mataku hanya mampu menatap sosok kakek yang tengah melambai ke arahku dengan senyum keriputnya….

 

 


 

To Be Continued


A/N : FF jadul, terinspirasi dari berbagai cerpen bagus yang pernah aku baca. Sudah pernah di Share di mana-mana(?)

Advertisements