INTO A DANGEROUS MIND

Into A Dangerous Mind Poster

 

.


.

 

By tmarionlie

.

.

HunHan Ft ChanBaek



.



O
ther : The Reaper

.

.

Yaoi | Supernatural | Mystery | Romance | Mature

.

.

-Inspirated : ‘Into A Dangerous MindBy Tina Gerow, Twilight Saga By Stephenie Meyer-



.



.



.



WARNING! Mature Content and Explicit Scene, Harsh Words, Typo (s).

.

.


-PROLOG-



 

Aroma asin air laut memenuhi udara. Langit gelap, bersiap menumpahkan hujan lebat yang ia tahu kelak akan menyapu bumi malam itu. Rambut cokelat madunya berterbangan, berdansa karena dimainkan oleh tiupan angin yang bersumber dari bebatuan karang tinggi yang mahsyur–berwarna hitam pekat berbias jingga di bawah sinar bulan.

 

 

Dia belum menjatuhkan ekor lobster di bagian depan kemeja hitamnya, ataupun memuntahkan escargot pada acara kencannya. Sejauh ini segalanya masih baik-baik saja. Dia melangkah terpisah di Top Of The Rock Resort, menjauh dulu beberapa menit sementara ‘pria’ yang menjadi teman kencannya membayar tagihan.  Balairung kosong yang berada di belakangnya tampak gelap dan senyap, yang membuat beranda itu menjadi sunyi dan sepi, berbanding terbalik dari cahaya-cahaya terang dan kebisingan restoran di lantai bawah.

 

 

Menyandarkan lengan berkulit lembutnya pada pagar beranda setinggi pinggang, ia menatap ke arah langit pada bintang-bintang berpendar yang menyatu membentuk antropoid berlekuk seksi sambil bertanya-tanya dalam hati tentang mengapa orang-orang tak menetap di tempat menakjubkan ini. Udara beraroma asin itu terasa menyengat kulit, membuat antusiasme dalam dirinya mengubah gejolak darah menjadi panas hingga ia kegerahan.

 

 

Menatap bayangan dirinya sendiri pada pantulan etalase beranda Resort, ia memastikan sekali lagi bahwa ia tidak memalukan malam ini. Tak ada yang salah. Dia telah menghabiskan beberapa jam paling membosankan dalam hidup hanya untuk berbenah diri, dan hasilnya adalah sempurna. Dia tampak elegan dan santun, sangat siap untuk menciptakan satu acara kencan yang intim dan romantis.

 

 

Wajahnya meringis ketika rasa malu akibat gagal kencan ‘yang lama itu’ menyerangnya. Dia tak pernah berhenti berdoa agar ia tak akan mengacaukan segala sesuatunya malam ini, jangan lagi. Entah karena kutukan atau apa, tetapi acara kencannya sejak pertama kali ia mengalami masa pubertas dulu memang tak pernah berjalan mulus. Bahkan beberapa gadis pernah secara terang-terangan menolaknya hingga ia merasa takut untuk mengencani gadis-gadis lagi setelahnya. Well, memang kedengannya sangat konyol.

 

 

“Hhhh…apa yang salah dengan diriku?” gumamnya miris.

 

 

Mencoba mengabaikan pertanyaan itu, ia menarik nafas dalam-dalam dan meniupkannya sedikit untuk mencari sebuah kelegaan. Tapi ingatan-ingatan ‘dulu’ merasuk kembali dengan cepat hingga membuat wajah dan tatapan matanya tampak kosong. Terlalu tenggelam dalam pikiran, tubuhnya bergetar halus ketika Kris Wu–teman kencannya malam ini–mendekat di belakang tubuhnya. Dua buah lengan melingkar erat di perutnya dan nafas hangat terasa lembut membelai tengkuknya.

 

 

Membalikkan tubuh dalam pelukan Kris, ia mencium aroma cologne mahal ketika Kris melengkungkan tangan di belakang lehernya dan membungkuk ke arahnya, jelas sekali jika gesture itu adalah tindakan untuk mencuri ciuman dari bibir plum miliknya. Ia sempat berpikir untuk menarik diri, namun ia kemudian berpikir tentang apabila Kris belum mengajaknya untuk ‘tidur’ pada kencan kedua nanti, semuanya mungkin akan baik-baik saja. Well, sekedar ciuman bibir saja sepertinya bukanlah masalah.

 

 

Bibir Kris menyapu bibirnya dengan lembut. Beberapa lumatan penghantar hasrat melenakan ia rasakan, lalu tiba-tiba saja lidah Kris memaksa masuk ke dalam mulutnya. Ia masih sempat merasakan bagaimana rasa manis dan menyenangkan itu merasuk ke dalam dirinya –sensasinya bukan seperti darah mendidih yang penuh nafsu, hanya perasaan nyaman dan kebahagiaan yang meletup-letup aneh. Ia bersandar gemulai pada tubuh Kris dalam sentuhannya, menikmati bagaimana esensi ketika berada dalam pelukan seorang lelaki –ehm, yang baru kali ini ia coba dan rasakan –dan ia berharap jika rasanya itu seperti ketika kau berada di rumah.

 

Namun di luar dugaan, bulu kuduknya tiba-tiba saja meremang, dan perasaan takut menyerang perasaannya hingga perutnya terasa mual dalam seketika. Belum sempat ia memberikan reaksi pada gejala-gejala aneh yang menyerang tubuhnya itu, Kris Wu telah meningkatkan intensitas ciumannya dan mendesak tubuhnya hingga menabrak pagar beranda. Nafas Kris memburu dan ia merasakan jambakan menyengat menyakiti kulit kepalanya. Tangan Kris menjelajah, menggerayangi seluruh tubuhnya tanpa ampun, hingga peringatan akan bahaya meningkat begitu saja di dalam otaknya.

 

 

Ia melawan. Ia berjuang untuk melepaskan diri dari ciuman liar itu namun kejantanannya tiba-tiba saja di serang oleh Kris, diremas dengan penuh nafsu hingga ia merasa shock dan memalingkan wajah secara refleks ke arah samping kanan.

 

 

“Kris, stop!” sentaknya marah.

 

 

Ia mendaratkan satu pukulan pada wajah Kris, lalu ia merasakan gelombang ketakutan merayap cepat pada dirinya ketika ia menatap mata pemuda blonde yang terlihat bak pemangsa itu. Pria blonde itu kembali menyerangnya, dan ia dapat merasakan jika kejantanan pria blonde yang menempel di pusarnya itu menegang, keras seperti batu. Jantungnya terasa berdebar menyakitkan saat Kris melumat kasar bibirnya kembali. Ia kembali berjuang untuk melawan seiring nalurinya berteriak untuk segera melarikan diri. Namun tiba-tiba saja, rasa sakit membakar hebat di dalam kepalanya hingga ia sempat terhuyung-huyung sedikit dan tak berdaya untuk melawan Kris. Rasa takut dan adrenalin mengalir kencang dalam tubuhnya, tapi ia bersumpah bahwa ia tak akan pernah berhenti untuk melakukan apapun demi menyelamatkan diri. Ia mendorong kasar tubuh Kris lalu bergerak mundur, tapi Kris menariknya kembali dan lagi-lagi menyerang ganas bibirnya.

 

 

Dengan mengumpulkan keberanian, ia cakar leher Kris. Airmata menggenang pada pelupuk matanya saat ia menyadari aliran darah hangat mengalir dari kerut bekas cakarannya, tapi Kris bersikeras tetap mencengkram lengannya. Telinganya berdengung, kemudian sebuah cahaya terang menari-nari dalam penglihatannya. Oh tidak, ia tak boleh pingsan sekarang!

 

 

Ia merosot jatuh. Tubuhnya terasa amat lemas, namun pikiriannya tetap menyuruhnya untuk segera melarikan diri, memecah kepanikannya ketika gelombang adrenalin segar menyembur di seluruh tubuh. Dengan lemah ia bangkit, kemudian dengan mengumpulkan keberanian, ia menyikut sisi tubuh Kris yang tadi hendak meraihnya. Pemuda blonde itu terhuyung sedikit ke belakang, dan kesempatan itu ia gunakan untuk menyerang selangkangan Kris tanpa ampun. Lalu rasa sakit dalam kepalanya terhenti dalam seketika.

 

 

Ia sempat menatap Kris yang mengerang kesakitan sambil memegangi kejantanannya sendiri, lalu tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, ia lari dengan cepat meskipun kepalanya masih terasa pusing akibat sakit hebat yang menyerangnya tadi.

 

 

“Dasar pria jalang! Kau akan menerima akibat dari perbuatanmu ini!” Kris berteriak marah –dalam kepalanya –, namun ia abaikan teriakan berisi ancaman itu dan hanya berusaha lari secepat mungkin dari sana.

 

 

Sebenarnya sejak tadi bibir Kris bahkan tak bergerak sama sekali. Nyatanya, pria blonde itu masih mengerang kesakitan, tapi ia bisa mendengar dengan jelas suara Kris di dalam kepalanya. Ia mendengar pria itu mengucapkan supah serapah seperti ‘fuck, damn dan kata-kata sampah lain’ untuk memakinya meskipun jarak mereka sudah teramat jauh. Dan saat itu juga ia berpikir jika ia benar-benar memiliki kanker otak karena beberapa waktu belakangan ini ia juga selalu mendengar suara-suara pria lain yang berbisik-bisik dan menganggu mekanisme otaknya.

 

 

Apa ini? Apakah aku benar-benar terserang kanker otak? Ah, jangan-jangan aku sudah gila? Shit! –pikirnya sambil terus berlari menjauh.

 

 

“Jangan jatuh…jangan jatuh…” doanya berulang-ulang sambil berlari. Dia membelok di pojokan dan menuju kerumunan orang ramai di dekat pintu depan.

 

 

“Oh My, terima kasih untuk orang-orang ini. Seharusnya aku memang jangan pergi ke tempat terpencil seperti ini lain kali” –batinnya.

 

 

Seorang pria berseragam khaki mendekatinya, dan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. “Apakah Anda baik-baik saja Tuan?”

 

 

“Aku butuh taksi –tolong…” Ia mengeluarkan selembar uang kertas 100 ribu Won dan menyerahkannya pada pria tadi.

 

 

“Terima kasih Tuan, ayo ikuti saya…” kata pria itu, dan tanpa bicara apapun ia mengikuti pria tadi dengan patuh –dan terburu-buru.

 

 

Tangisan bahagia dan lega menyengat matanya ketika tubuhnya telah duduk di dalam jok penumpang taksi yang dipanggilkan oleh pria tadi.

 

 

‘Sayang sekali aku terlalu sibuk dengan The Reaper malam ini untuk menghapus kerutan di wajah cantiknya,’

 

 

‘The Reaper?’

 

 

Ia mengerang geram saat bisikan-bisikan ‘pria itu’ kembali menghantui isi pikirannya. Ia menjambak sedikit bagian rambut cokelat madunya lalu matanya langsung membelalak ketika ia melihat Kris berlari keluar dari pintu restoran dan menoleh ke sana-sini, mencarinya.

 

 

“Jalan sekarang, tolong!” katanya panik sambil memukul-mukul partisi transparan antara taksi dan supir yang duduk di depan. Taksi melesat dan gejolak mual dalam perutnya langsung berhenti memberontak.

 

 

‘Damn! Aku pasti akan menemukanmu!’

 

 

Ia kembali menangis ketika ia mendengar seruan Kris dalam kepalanya. Supir taksi yang berada di depan tersenyum simpul meskipun fokusnya masih mengarah pada jalan bebas hambatan di depan mereka.

 

 

‘Mungkin kisah cinta yang berakhir buruk. Dasar anak-anak muda jaman sekarang…’

 

 

Ia menatap tengkuk supir taksi itu dengan cepat –merasa tersinggung dan marah.

 

 

“Maaf? Apa Anda sedang mengejek saya?” katanya ketus.

 

 

Supir itu menatap shock dan panik padanya. “Maafkan saya, tapi saya tak bicara apa-apa Tuan…” kata supir taksi itu  hormat, kemudian menganggukan kepalanya satu kali.

 

 

Ia memicingkan mata. Keragu-raguan berputa-putar di dalam otaknya yang sudah kabur. Ia tak mengerti dengan semua ini. Segalanya menjadi tidak logis dan ia mengerang dalam hati. Menggelengkan kepala, ia mencoba meraih kembali gumpalan logika yang mengapung di luar pemahamannya, mencoba menyusun kembali apa yang terjadi, tetapi segalanya menjadi semakin membingungkan. Versi lebih ringan dari sakit yang tadi kembali menyerang kepalanya, membuatnya harus memijit-mijit pelipis agar sakitnya sedikit berkurang.

 

 

‘Seperti inikah rasanya memiliki kanker otak? Aku bisa membayangkan beritanya sekarang! Vocalist Exotic Band meninggal karena kanker otak di jok belakang taksi yang ia tumpangi, –atau, seorang pria lajang berusia 28 tahun mendapatkan kanker otak akibat stress karena mengalami acara kencan homo yang sangat buruk’ –erangnya dalam hati.

 

 

Sebuah suara kekehan mengejek dalam pikirannya, membuatnya kesal setengah mati.

 

‘Enyahlah dari pikiranku!’ makinya dalam hati, menyuruh suara itu pergi.

 

.

 

Dan hening.

 

.

 

Ia bernafas lega dan menyandarkan punggungnya pada jok sambil mengusap lelehan airmatanya. Dengan lemah ia menatap jalanan di sebelah kanan –hanya ilalang tak terawat berwarna kecoklatan –dengan tatapan kosong dan lemah.

 

 

‘Aku tak heran jika orang-orang menanyakan mengapa aku tak pernah berkencan hingga usia ini’ –erangnya dalam hati, dan lagi-lagi suara kekehan memenuhi kepalanya.

 


 

-Prolog End-


 A/N : Terima kasih sudah membaca, XD.

Advertisements