ALL ABOUT LOVE ( Othello Season 2 )

All About Love Poster

.

By tmarionlie

.

ChanBaek | ChanLu | KrisBaek

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


WARNING!!

Karakter semua tokoh dalam FF ini akan sangat menjijikkan dan memuakkan. Bagi ChanBaek hardshipper yang tidak mampu membedakan antara Fiksi dan Real, yang tidak suka jika biasnya dinistakan di dalam FF, harap CLOSE FF INI DENGAN SEGERA agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Author ( saya ). Thanks!


-Previous Story-

 

 

Dengan penuh kebencian kuhentakkan tangan kananku hingga genggaman tangan Chanyeol terlepas. Kemudian dengan langkah cepat aku menghampiri pria blonde yang berjalan beberapa langkah di depanku itu. Dia tak tahu kehadiranku, tapi aku tak peduli. Tanpa mengatakan apapun kutarik kerah baju pria itu, membuatnya sedikit tersentak karena terkejut dengan kemunculanku yang tiba-tiba, tapi lagi-lagi aku tak peduli.

 

 

“Kris….” panggilku, dalam keputus-asaan yang begitu hebat dalam diriku.

 

 

“Baek, kenapa menangis?” tanyanya panik saat ia melihat wajahku yang basah.

 

 

Tanpa menghiraukan pertanyaannya, kupeluk lehernya erat-erat.

 

 

“Kris…kau mencintaiku kan?” tanyaku, dengan segala keputus-asaan yang begitu besar itu.

 

 

Kris menatap bingung padaku, lalu ia berusaha menghapus airmataku dengan ibu jarinya, tapi kutahan tangannya dengan cepat.

 

 

“Kau mencintaiku atau tidak?” kataku lagi, tak sabaran. Kulihat Kris terdiam hingga beberapa saat. Matanya hanya fokus pada wajahku, lalu dia mengangguk kecil, mengiyakan. Dia tangkup kedua pipiku dengan tangannya, lalu ia mengelus pipiku pelan-pelan.

 

“Baekhyun, kenapa kau tiba-tiba saja–“

 

 

Aku tak memberinya kesempatan bicara. Kutarik kerah seragamnya, lalu kuraih bibirnya dan kutekan dalam-dalam dengan bibirku. Kurasakan tubuh Kris menegang, tapi ia hanya diam saja. Dengan perasaan sakit dan keputus-asaan yang besar itu, kugerakkan bibirku di atas bibirnya. Aku mendominasi ciuman hingga beberapa detik, lalu kurasakan sepasang lengan melingkari pinggangku dan menarik tubuhku merapat pada tubuh pemilik lengan itu. Kris akhirnya ikut menggerakkan bibirnya, membalas ciumanku dengan ciuman yang lebih hangat dan basah. Baru sebentar, tiba-tiba saja kurasakan tubuhku tersentak kuat lalu melayang cepat hingga menjauh dari tubuh Kris. Tubuhku dibalik dengan kasar, dan berakhir dengan berdiri berhadapan dengan dia, Park Chanyeol.

 

 

“APA-APAAN KAU!!!” teriaknya tepat di depan wajahku.

 

 

Aku menatap tajam padanya, lalu kutarik salah satu sudut bibirku hingga senyuman sinis terukir pada wajahku.

 

 

“Aku mencintai Kris. Aku ingin bersamanya, jadi lepaskan saja aku, Park Chanyeol,” kataku tajam.

 

 


CHAPTER 10


 

 

 

Canggung. Kedua pria itu masih sama-sama diam. Pria yang lebih mungil meremas kepalan tangannya sendiri sambil menatap sneakers yang ia pakai dengan tatapan kosong, sedang pria blonde yang duduk di sampingnya hanya diam sambil memandangi wajah tirus si mungil itu.

 

 

Pria mungil itu, Byun Baekhyun, lagi-lagi menghapus bulir-bulir airmatanya–entah sudah untuk yang kesekian kalinya. Setelahnya ia hanya akan kembali diam. Bibirnya yang tipis sejak tadi tak mengeluarkan sepatah katapun, begitu pula pria yang di sampingnya –tadinya. Namun keheningan yang begitu panjang itu membuat si blonde–Kris–mulai merasa jengah.

 

 

“Baekhyun…” panggilnya lembut, sambil mengulurkan tangan untuk mengelus surai karamel pemuda yang lebih kecil dengan hati-hati.

 

 

Baekhyun terkesiap. Ia hapus airmatanya–lagi–kemudian ia menoleh. “Ya?” jawabnya.

 

 

Kris menatapnya dengan tatapan mata yang entah mengandung makna apa, tapi lagi-lagi ia mengelus kepala Baekhyun dengan lembut.

 

 

“Sakit?” tanya Kris dengan nada pahit dalam suaranya. Dia tidak bodoh. Dia tahu jika pemuda kecil itu menyukai Chanyeol, membuatnya menyadari bagaimana posisinya dalam masalah ini. Dia sadar jika ia hanya dimanfaatkan oleh Baekhyun, tapi toh ia tak peduli pada hal itu. Baekhyun adalah yang terpenting baginya.

 

 

Baekhyun masih menatap Kris dalam-dalam, kemudian ia kembali mengalihkan tatapannya kearah sepatunya lagi dengan rahang yang mengeras, sangat jelas sekali jika pemuda kecil ini sedang sangat kesal.

 

 

“Kenapa kau menanyakan tentang perasaanku Kris? Jika kau ingin tahu, disini rasanya –sangat sakit,” jawabnya sambil meremas seragam di bagian dadanya sendiri.

 

 

Hening.

 

 

Kris menghela nafas berat hingga berkali-kali, kemudian ia juga ikut-ikutan menatap sepatunya sendiri. “Apa kau sangat mencintai dia?” tanyanya getir.

 

 

Baekhyun mendecih satu kali, kemudian terkekeh miris. “Sangat. Aku tolol kan?” jawabnya tanpa memikirkan perasaan si blonde.

 

 

Keduanya kembali terdiam. Angin menerbangkan helaian rambut mereka, dan suara gesekan dedaunan menjadi backsound obrolan menyakitkan itu.

 

 

“Cinta terkadang memang membuat kita menjadi sangat bodoh,” –Kris membuang nafas satu kali –“kukira kau serius ketika kau mengatakan pada pria itu kalau kau mencintaiku,” lanjutnya.

 

 

Baekhyun terdiam hingga beberapa detik, kemudian –“maaf”, jawabnya singkat.

 

 

Kris terkekeh kecil, kemudian kembali mengusap kepala pemuda kecil itu. “Tak apa. Aku baik-baik saja.”

 

 

Baekhyun kembali menoleh, lalu hanya diam sambil memandangi wajah pria setengah bule itu lekat-lekat. ‘Kris sangat tampan, dan baik’ –pikirnya. Dengan memikirkan hal itu, sebuah senyuman kecil menghiasi bibir tipis Baekhyun. Airmatanya telah berhenti, dan ia membuang nafasnya hingga berkali-kali agar ia merasa sedikit lega.

 

 

“Kris?”

 

 

“Hmm?”

 

 

“Apa kau…benar-benar menyukaiku?”

 

 

Kris tertawa kecil. “Ya…aku bodoh kan?” katanya, bercanda. Dia kembali tertawa karena Baekhyun juga tertawa.

 

 

“Ya, kau sangat bodoh,” kata Baekhyun sebelum kembali menatap ke arah depan, lagi-lagi terdiam, merenung. Beberapa menit berlalu, dan Baekhyun kembali menatap pemuda blonde itu. Dengan senyuman lembut ia raih jemari Kris, lalu ia genggam erat-erat. “Maafkan aku. Berikan aku waktu, Kris. Aku ingin melupakan Chanyeol. Aku tak akan mengecewakanmu…Kau–boleh memilikiku sekarang,” kata Baekhyun, menyerah pada keadaan.

 

 

“Kau tak harus memaksakan diri begitu Baek…Aku bisa melihat dengan sangat jelas, kau mencintainya…” jawab Kris.

 

 

Baekhyun tertawa hambar. “Ya, aku mencintainya. Tapi dia tak mencintaiku. Dia mencintai Luhan…”jawabnya perih, lalu lagi-lagi airmata jatuh menetes ke pipinya. “Aku ingin menyerah, Kris. Sejak awal aku memang terlalu memaksa Chanyeol agar hanya menatapku. Aku yang salah. Aku sengaja memerangkapnya dalam sangkar yang kubuat dan melarang ia melakukan apapun yang ia suka. Sejak awal Chanyeol memang hanya menyukai Luhan. Aku yang masuk ke kehidupan mereka dan merusak hubungan mereka, segalanya. Luhan benar, aku memang tak tahu diri. Aku menyakitinya, aku –menyakiti mereka.”

 

 

Kris menatap prihatin pada pemuda kecil itu, kemudian ia belai pipi Baekhyun dengan buku jari tangannya. “Aku tak tahu apa masalah yang membuat kau dan Luhan bermusuhan, tapi aku tahu kau tak seburuk itu.” –Kris mengangkat dagu Baekhyun, dan memaksa pemuda itu menatapnya– “jika kau mencintai dia, maka berjuanglah. Jangan pikirkan aku, aku akan baik-baik saja. Aku sangat mengenal Luhan. Dia tak pernah serius menyukai seseorang, jadi kau harus mengambil Chanyeol darinya sebelum ia patah hati karena di campakkan oleh Luhan.”

 

 

Baekhyun tertawa kecil, kemudian menggeleng. “Tidak. Aku ingin melupakan Chanyeol.” –Baekhyun menggenggam jemari Kris yang masih menempel pada pipinya, dan tersenyum lembut –“Aku memilihmu Kris. Aku akan berusaha mencintaimu, jadi bantu aku melupakan Chanyeol,” katanya memutuskan.

 

 

Kris tersenyum, kemudian ia bawa bibirnya untuk mendarat di kening Baekhyun.

 

“Aku akan merebut hatimu darinya, jadi bersiaplah.”

 

Baekhyun mengangguk dan balas tersenyum.

 

“Jadi bisakah aku memulainya dari sini?” tanya Kris, meminta izin.

 

Lagi-lagi, Baekhyun mengangguk, membuat hati Kris menghangat. Dia raih kedua pipi pemuda mungil itu, kemudian ia elus pipi-pipi itu dengan ibu jarinya. Kris tersenyum sekali lagi, dan –“aku mencintaimu…”bisiknya sebelum ia mendekat dan meraih bibir Baekhyun. Keduanya saling kecup, kemudian melanjutkannya dengan ciuman basah yang dalam. Kris meraih pinggang Baekhyun agar merapat ke tubuhnya, dan Baekhyun memeluk leher pria tinggi itu sambil memejamkan mata. Baekhyun membalas ciuman Kris dengan perasaan yang berkecamuk. Ia bisa merasakan tetesan airmatanya kembali jatuh, tapi yang ia lakukan adalah melumat bibir Kris dengan sedikit kasar untuk meluapkan emosinya. Kris tak tahu jika pemuda itu merasa sangat kesakitan saat ini. Baekhyun terlalu pintar memanjakan bibirnya hingga ia tak menyadari jika pria mungil itu telah menangis pilu dalam dekapannya.

 

 

Yeol…Yeollie…tolong aku….’ –jerit Baekhyun dalam hati.

 

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

-All About Love-

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

Chanyeol memandangi wajah pucat pemuda cantik itu, sesekali mengusap keningnya. Matanya memang menatap lekat pada pemuda bersurai merah yang tertidur karena sedang sakit itu, tapi sebenarnya pikirannya sedang mengarah pada pemuda cantik lainnya, kekasihnya yang mungil. Dadanya terasa nyeri saat ia memikirkan pria kecil itu, dan hatinya semakin terkoyak-koyak perih saat ia teringat dengan kata-kata kekasih mungilnya itu tadi siang.

 

 

‘Aku mencintai Kris. Aku ingin bersamanya, jadi lepaskan saja aku, Park Chanyeol’

 

 

Chanyeol meremas celananya dengan geram. Wajah sinis pemuda mungil itu menghantui pikirannya, dan kata-kata menyakitkan lainnya itu–

 

 

‘Kita putus saja Yeol. Aku lelah…’

 

 

Chanyeol bisa merasakan nada keputus-asaan dalam kalimat yang diucapkan oleh Baekhyun. Dia masih mengingatnya. Dia masih ingat jika ia juga tak menyerah begitu saja tadi siang. Dia masih sempat menggenggam jemari Baekhyun, lalu menolak keinginan pemuda kecil itu untuk berpisah. Tapi–

 

 

‘Lebih baik kita berpisah Yeollie…hubungan kita adalah omong kosong, tak ada cinta di dalamnya…’

 

 

Chanyeol merasakan setetes airmata jatuh ke pipinya, dan cepat-cepat ia hapus airmata itu. Dia sudah berusaha melakukan segalanya. Dia sudah mengatakan semua yang ia rasakan.

 

 

‘Baekkie, aku sangat menyayangimu, kau tahu kan?’

 

 

‘Ya, aku tahu. Tapi kau tak pernah menganggapku berarti. Aku tak pernah menjadi yang terpenting untukmu, aku lelah Yeol…jadi lebih baik kita putus saja…aku ingin mencintai Kris…’

 

 

Dan semakin ia mengingat semua ucapan kekasih mungilnya itu, semakin banyak darah yang keluar dari luka di hatinya. Siapa yang salah? Chanyeol juga tak mengerti mengapa keadaannya bisa menjadi serumit ini. Dia ingin menarik tubuh Baekhyun tadi siang, ingin memerangkap pemuda mungil itu ke dalam dekapannya dan memaksa pemuda itu agar bertahan untuknya. Dia tak ingin berpisah dengan Baekhyun, tidak. Tapi ketika ia ingin melakukannya, tiba-tiba saja tubuh Luhan terjatuh di belakangnya. Chanyeol juga tak tahu mengapa otaknya menjadi begitu kosong saat melihat Luhan yang jatuh pingsan. Yang ia tahu saat itu ia berlari cepat untuk mendekati Luhan. Ia merasakan jika kulit Luhan mendingin dan wajah sahabat kecilnya itu sangat pucat dengan bibir yang tak memiliki warna. Lalu semuanya terasa begitu menyakitkan.

 

 

Dia sedang memeluk tubuh Luhan yang tak berdaya saat ia melihat raut kesakitan pada wajah kekasihnya. Pria mungil itu jelas-jelas menangis sambil menatapnya dengan tatapan yang begitu terluka, tapi Chanyeol tak mampu melakukan apapun karena Luhan membutuhkannya. Yang ia tahu sekejap kemudian kekasih mungilnya itu telah menghapus airmatanya sendiri, lalu mendecih sinis padanya.

 

 

‘Lihatlah…Luhan adalah yang terpenting dalam hidupmu Park Chanyeol. Luhan, bukan aku …’

 

 

Dan setelahnya Baekhyun berbalik pergi sambil menggenggam tangan pemuda tinggi yang ia cium tadi agar ikut pergi bersamanya. Chanyeol ingat jika ia menjerit memanggil Baekhyun. Ia bahkan yakin jika ia telah berteriak seperti orang sinting agar Baekhyun tak pergi dari hadapannya. Ia sangat yakin jika ia telah merengek dan berteriak–

 

 

‘Baekkie, jangan tinggalkan aku! Aku tak mau berpisah denganmu. Aku tak akan melepaskanmu untuknya, kau dengar itu?’

 

 

Tapi sayangnya pemuda mungil itu tetap melangkah pergi, membiarkan ia merasakan sesak sendirian tanpa bisa melakukan apapun lagi untuk mencegahnya.

 

 

Chanyeol menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi ketika ia mengingat moment menyakitkan itu. Dia tak sadar jika pemuda yang sedang terbaring sakit saat ini sudah terbangun, sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu dingin. Chanyeol baru saja mengerang kesal ketika–

 

 

“Kau kenapa?”

 

 

Dia terkesiap ketika ia mendengar suara itu. Chanyeol menoleh dengan cepat, dan ia menemukan Luhan yang telah terbangun dari tidurnya.

 

 

“Luhannie, kau baik-baik saja?” tanyanya sambil menggeser duduknya sendiri, lebih dekat pada Luhan.

 

 

Luhan membawa tubuhnya untuk duduk. Kemudian ia hanya diam, menatap Chanyeol dengan tatapan yang begitu dingin. “Kenapa kau berada di sini?” tanyanya sarkastik.

 

 

Chanyeol membuang nafas beratnya, kemudian memaksakan tersenyum. “Tadi kau pingsan, karena itu aku membawamu ke UKS agar kau bisa istirahat dengan nyaman.”

 

 

“Jangan lakukan itu Chan, aku tak butuh!”

 

 

“Lu–“

 

 

“Jangan pedulikan aku!” potong Luhan, emosi.

 

 

Chanyeol terdiam, tapi lagi-lagi ia memaksakan senyumnya. “Kau temanku Lu, mana mungkin aku membiarkan kau sendiri saat kau–“

 

 

Stop, Park Chanyeol! Hentikan!” potong Luhan, lagi-lagi.

 

 

Chanyeol menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan terluka, tapi ia hanya diam, bingung.

 

 

“Lebih baik kita tak usah berteman lagi, Chan. Baekhyun tak suka melihat kau berteman denganku,” kata Luhan dengan nada getir dalam suaranya.

 

 

Chanyeol terdiam hingga beberapa lama, kemudian ia raih jemari Luhan. “Lu, kau temanku. Aku menyayangimu, kau tahu kan? Jadi aku tak bisa melakukannya, maaf.”

 

 

Luhan mendengus, lalu ia diam. Tapi beberapa saat kemudian bibirnya telah tersenyum, ehm –menyeringai.

 

 

“Park Chanyeol, apa kau masih menyukaiku?”

 

 

Chanyeol tercekat, lalu ia hanya diam. Chanyeol terkesiap ketika Luhan tiba-tiba saja bergeser dan bertengger gemulai di atas pahanya. Jari-jemari Luhan membelai lembut pada tengkuknya, tapi raut sinis tak pernah hilang dari wajah cantik itu.

 

 

“Apa kau tahu? Aku–sudah tak peduli lagi pada perasaan kekasihmu itu, Park Chanyeol. Aku tak menyangka jika ia seperti racun. Kecil, tapi mematikan. Baekhyun sangat hebat. Dia bahkan mampu membuatku tak bisa merasakan apapun lagi. Cinta, kasih sayang, semuanya adalah bullshit. Dia membuatku mati rasa,” kata Luhan.

 

 

Pemuda cantik itu membuang tatapannya ke arah lain, lalu menggigit bibirnya sendiri sebelum kembali menatap Chanyeol dengan tatapan tajam menusuk.

 

 

“Kuberi kau dua pilihan. Pergi dari hidupku, dan lupakan jika kita pernah berteman, atau–tetap tinggal dan aku tak akan melarangmu untuk menyukaiku. Kau boleh memilikiku Chan, tapi jangan berharap agar aku membalasnya. Aku tak bisa menyukaimu karena perasaanku telah mati. Aku tak akan menjadi terlalu dungu seperti dulu dengan berusaha menjaga perasaan Baekhyun seperti seorang idiot tolol. Aku tak akan peduli lagi pada apa yang ia rasakan, karena mulai dari sini dan seterusnya, aku akan membencinya.”

 

 

Setelah mengatakan itu, Luhan bergerak bangkit dari pangkuan Chanyeol. Dia masih sempat mendengus sekali lagi sebelum melangkah lemah menuju pintu keluar, meninggalkan Chanyeol sendiri dengan segala kecamuk batinnya.

 

 

“Apa ini? Mengapa segalanya jadi begitu rumit?” keluh Chanyeol.

 

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

-All About Love-

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

Baekhyun masih belum beranjak dari duduknya. Matanya masih menatap rumah besar itu dari jendela mobil sebelah kirinya. Pikirannya masih berkecamuk, memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti di dalam jika ia bertemu dengan Chanyeol. Baekhyun tersentak dan langsung menatap tangan kanannya sendiri saat dia merasakan jari-jarinya diremas lembut oleh seseorang.

 

 

“Masuklah…siap atau tidak, kalian tetap harus bertemu dan menyelesaikan segalanya.”

 

 

 

Baekhyun tersenyum, lalu mengangguk. “Ya, terima kasih Kris.”

 

 

 

Kris mengangguk, lalu ia arahkan tangannya ke atas untuk mengelus kepala Baekhyun. Tubuhnya mendekat, lalu ia memberikan kecupan kecil di kening Baekhyun. “Masuklah…” katanya sekali lagi.

 

 

 

“Ya.”

 

 

 

Baekhyun bergegas turun dari mobil itu, dan ia masih sempat melambai pada Kris saat mobil itu mulai bergerak menjauh. Dia mengatur nafas, lalu mulai memantapkan mental dan membawa langkahnya masuk ke dalam rumah. Baru saja memasuki pintu utama, Baekhyun sudah bertemu dengan Chanyeol yang entah mengapa sudah berdiri tepat di depan pintu, menunggunya. Mereka saling bertatapan, tapi salah satunya tak ada yang berkata-kata. Mereka hanya diam hingga beberapa lama.

 

 

 

Baekhyun memutuskan kontak mata lebih dulu, lalu ia memutuskan melangkah menjauh. Ia berjalan melewati Chanyeol begitu saja, namun langkahnya terhenti dalam sekejap karena Chanyeol menarik tubuhnya berbalik dan langsung memeluknya erat-erat.

 

 

“Maaf…maafkan aku…” kata Chanyeol menyesal. “Jangan tinggalkan aku Baek, aku tak mau berpisah denganmu…” katanya sambil mengeratkan pelukannya, namun Baekhyun tak bergeming.

 

 

 

“Aku tak mau kehilanganmu, Baekkie…” kata Chanyeol lagi. Kepalanya mulai bergerak, dan bibirnya mulai menekan lembut pada bahu Baekhyun. Dia kecup bahu itu hingga beberapa kali, sebelum akhirnya ia menjalarkan bibirnya menuju leher pemuda mungil itu. Dia menggesek-gesekkan hidungnya hingga beberapa kali di kulit leher Baekhyun, lalu bibirnya naik untuk mengecupi jakun Baekhyun. Chanyeol bertahan hingga beberapa lama disana, dan kembali menggerakkan bibirnya keatas menuju dagu, hingga akhirnya ia mendapatkan bibir tipis pemuda mungilnya. Chanyeol bergerak lembut, melumat bibir itu hati-hati. Baekhyun hanya diam. Ciuman lembut itu sempat membuatnya terlena. Baekhyun sudah sempat memejamkan matanya untuk menikmati ciuman memabukkan itu, tapi pada akhirnya ia tersadar dan ia dorong tubuh Chanyeol dengan kasar agar menjauh darinya, namun pemuda tinggi itu mencengkram pinggangnya dengan kuat.

 

 

 

“Jangan sentuh aku lagi Brengsek! Aku membencimu!” desisnya tajam, penuh penekanan di kalimat paling akhir. Tangannya bergerak cepat ke pinggangnya sendiri, memaksa tangan Chanyeol agar melepaskan pinggangnya. Dia masih sempat mendengus dan berbalik untuk pergi, Tapi–

 

 

 

“Luhan benar!” kata Chanyeol tiba-tiba. “Kau mengacaukan segalanya Baek. Kenapa kau harus muncul dalam hidupku? Kau membuatku hancur dan hampir gila.”

 

 

 

Bagaikan ditusuk dengan sebilah pisau, hati Baekhyun berdarah mendengarnya. Dia sudah ingin menangis, tapi ia tahan kuat-kuat. Yang dia lakukan setelahnya adalah kembali berbalik. Dia melemparkan senyuman sinis pada Chanyeol meskipun hatinya terluka.

 

 

 

“Benar, aku melakukannya,” katanya dengan suara yang agak bergetar. “Aku mengacaukan segalanya, dan itu kulakukan dengan sengaja. Tapi jangan khawatir, aku akan berhenti. Aku tak akan melakukannya lagi, Park Chanyeol. Aku memiliki Kris sekarang, kau tak berarti bagiku. Lakukan sesukamu. Kau mencintai Luhan kan? Aku tak akan memaksamu lagi untuk tetap berada di sisiku, jadi pergilah. Kita sudah selesai Yeol, jangan usik aku lagi.”

 

 

 

Baekhyun kembali berbalik, tapi lagi-lagi harus berhenti karena Chanyeol menahan pergelangan tangannya. “Kau bohong…kau bohong kan? Apa yang kau katakan tadi siang itu adalah sebuah kebohongan. Tak ada cinta dalam hubungan kita? Tch, omong kosong Byun Baekhyun. Kau jelas-jelas mencintaiku…”

 

 

 

Baekhyun tersenyum miris. “Hubungan kita bukanlah tentang aku sendiri, Park Chanyeol. Aku tak bisa mencintaimu secara sepihak terus-menerus sementara kau mencintai orang lain. Aku tak sanggup bertahan, maaf. Kita akhiri saja, dan kau bebas mencintai Luhan. Jangan pedulikan aku, aku akan baik-baik saja…” kata Baekhyun, mengusap setetes airmata yang jatuh ke pipinya dan menarik tangannya dari genggaman Chanyeol. Dia ingin segera pergi. Berada di dekat Chanyeol sangat menyakitkan. Ia tak mau lagi.

 

 

 

“Tapi aku tak suka melihatmu bersamanya…”

 

 

 

Baekhyun kembali berhenti ketika ia mendengar nada lirih itu. Setelahnya ia hanya mematung sambil memunggungi Chanyeol.

 

 

“Aku benci melihat kau menggenggam tangannya…aku marah melihat kau menciumnya…Aku–sakit melihatnya….”

 

 

 

Baekhyun tercekat, lalu airmatanya lagi-lagi terjatuh.

 

 

 

“Menurutmu apa artinya semua itu, Byun Baekhyun?”

 

 

 

“…..”

 

 

 

“Aku memikirkannya berulang kali, dan aku selalu berakhir pada jawaban yang sama. Baekkie, aku mencintaimu…Kau, Byun Baekhyun. Bukan Luhan…Bukan Luhan….

 

 

 

Baekhyun benar-benar terisak sekarang. Apa ini? Mengapa jadi begini? Semuanya terasa sangat menyakitkan. Dia sudah terlanjur berjanji akan mencintai Kris. Dia tak boleh menyakiti pemuda baik itu. Baekhyun mengepalkan tangannya sendiri. Bukankah ia sudah memutuskan? Karena itu–

 

 

 

“Hentikan Yeol, semuanya sudah terlambat. Maaf, tapi aku tak ingin kembali padamu. Aku menyukai Kris. Dia baik, dan yang terpenting, dia mencintaiku. Kita putus saja, itu lebih baik.”

 

 

 

Rahang Chanyeol mengeras ketika ia mendengar Baekhyun menyebut-nyebut nama Kris. Dia tak menyukainya, dan ia bersumpah tak akan pernah melepaskan Baekhyun untuk pemuda itu.

 

 

 

“Kau milikku Baek! Aku tak akan melepaskanmu begitu saja untuknya, kau mengerti?” katanya egois.

 

 

 

Chanyeol melangkah lebar, meraih lengan Baekhyun dan menarik paksa pemuda itu hingga jatuh ke dalam pelukannya. “Jangan lakukan itu. Jangan berbohong Baek….kau mencintaiku…kau mencintaiku…”

 

 

 

Baekhyun mendorong Chanyeol, tapi pemuda tinggi itu malah mengeratkan cengkraman tangannya, membuat Baekhyun merasa tak nyaman.

 

 

 

“Lepaskan aku Yeol…” kata Baekhyun sambil berusaha menjauhkan tubuh Chanyeol darinya, tapi ia tak pernah berhasil.

 

 

 

“Tidak akan. Aku tak akan melepaskanmu. Kau milikku!” kata Chanyeol. Dia menarik wajah Baekhyun, lalu dengan paksa ia mendekat untuk mencium Baekhyun lagi, sayangnya Baekhyun menolak.

 

 

 

“Lepaskan aku…lepaskan!” kata Baekhyun setengah berteriak.

 

 

 

“Tak akan! Kau milikku!”

 

 

 

“Tidak! Lepaskan aku, Brengsek!” teriak Baekhyun marah. Ia mendorong dada Chanyeol sekeras yang ia bisa, tapi pemuda itu malah mendesaknya ke arah tembok. Chanyeol menyambar bibirnya dengan paksa, lalu melumatnya dengan kasar. Beberapa gigitan ia berikan pada bibir Baekhyun karena pria kecil itu tak mau berhenti memberontak. Chanyeol memasukkan lidahnya dengan paksa ke dalam mulut Baekhyun dan membelai lidah Baekhyun dengan lidahnya sendiri, mengabaikan erangan marah yang keluar dari tenggorokan pria yang satunya.

 

 

 

Tangan Chanyeol masih menekan kuat-kuat kedua lengan Baekhyun di sisi tubuh pemuda mungil itu sendiri, dan Baekhyun memberontak tak terkendali dalam himpitan tubuhnya.

 

 

 

“Hentikan! Lepaskan aku, sialan!” maki Baekhyun ketika ia berhasil melepaskan bibirnya dari Chanyeol, namun suaranya kembali teredam oleh ciuman liar pria tinggi itu.

 

 

 

Chanyeol melepaskan cengkramannya pada lengan Baekhyun, membuat pemuda itu langsung memukul-mukul dadanya dengan brutal, tapi Chanyeol tak berhenti. Ia mengecupi leher Baekhyun, menjilat dan menghisapnya kuat-kuat agar Baekhyun tahu dia milik siapa. Chanyeol dibutakan oleh amarahnya sendiri, hingga ia tak tahu jika Baekhyun telah menangis karena pelecehan yang ia lakukan. Tangan kanannya menelusup dan menggerayang cepat di perut Baekhyun, lalu membelai puting- puting pria mungil itu dengan kasar. Gerakan tubuh Baekhyun dan penolakan-penolakan yang dilakukan oleh pemuda itu membuat emosinya semakin bertambah di setiap detiknya hingga akhirnya ia lepas kendali. Dia lumat kasar bibir Baekhyun, dan ia remas-remas kejantanan pemuda mungil itu dari luar celananya, lalu dalam sekejap saja Baekhyun membeku. Chanyeol masih sempat melumat bibir Baekhyun hingga beberapa kali hingga akhirnya ia berhenti saat ia menyadari jika tubuh mungil yang ia dekap telah tak bergerak. Dia jauhkan wajahnya, dan hatinya langsung mencelos saat ia menemukan Baekhyun yang terdiam sambil menatap kosong ke arah samping. Pria mungil itu menangis tanpa suara.

 

 

 

“B–Baek, maaf…maafkan aku.”

 

 

 

Chanyeol mengusap bahu Baekhyun, dan pria mungil itu langsung menunduk di hadapannya.

 

 

 

“B–Brengsek…Aku  membencimu…” kata Baekhyun dengan suara yang bergetar, lalu ia mendorong lemah tubuh Chanyeol dan melangkah terhuyung-huyung ke arah tangga.

 

 

 

“Baek, kumohon jangan begini…maafkan aku…” kata Chanyeol, tapi Baekhyun tetap melangkah lemah menuju kamarnya sendiri.

 

 

 

“Maafkan aku…” gumam Chanyeol sekali lagi dengan nada menyesal, dan ia jatuh terduduk lalu menyembunyikan wajah di antara lututnya sendiri setelah pemuda mungil itu lenyap dari pandangannya.

 

 

.

 

 

.

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

-All About Love-

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

Waktu cepat sekali berlalu. Luhan sudah benar-benar tak muncul lagi di sekolah. Pria itu sudah berhenti bersekolah di SM High School sejak 3 hari yang lalu. Luhan memutuskan tetap pindah ke sekolah kakak kembarnya, XOXO High School. Chanyeol terdiam, duduk sendirian di mejanya. Jam istirahat baru saja dimulai, tapi Chanyeol merasa tak bersemangat sama sekali. Dia merasa kehilangan. Dia kehilangan dua pria sekaligus, membuatnya hampir gila. Dia bahkan belum bisa percaya jika Baekhyun benar-benar serius dengan keputusannya. Mereka berakhir. Sad Ending. Dalam keadaan ini ia baru menyadari kemana hatinya mengarah selama ini. Dia tak bimbang lagi. Dia benar-benar yakin sekarang jika ia mencintai Baekhyun.

 

 

 

Hubungannya dengan Baekhyun benar-benar buruk, bahkan sangat buruk. Mereka tak lagi saling bicara, bahkan sekedar sapa juga tak penah lagi mereka lakukan. Baekhyun yang antisosial, yang selama ini tak pernah keluar dari rumah, sekarang malah tak pernah berada di rumah. Pria itu tak pernah melewatkan seharipun tanpa Kris. Dia bahkan mengabaikan Chanyeol yang jelas-jelas menunggunya pulang setiap hari. Chanyeol merasa benar-benar dicampakkan oleh pria mungil itu. Dia merasa seperti sampah. Rasanya sakit dan memuakkan. Dia bahkan ingin sekali membunuh Kris jika saja dia bisa.

 

 

 

Chanyeol mengusap kasar wajahnya, lalu bergegas keluar dari kelasnya dan menuju keatap gedung sekolah. Di atas, ia hanya menatap kosong pada awan-awan dan pemandangan di sekitar sekolahnya sambil menikmati angin yang membelai kulit wajah dan memainkan anak-anak rambutnya yang kecokelatan. Chanyeol tersenyum, perasaannya sedikit nyaman berada di tempat sepi ini. Dia pejamkan matanya ketika angin menyapu kulit wajahnya.  Dia merasa bebannya agak sedikit berkurang.

 

 

 

Tapi sayang, ketika ia membuka mata dan menatap lurus ke arah bawah, sebuah pemandangan menyakitkan membuat senyumannya lenyap dalam seketika. Lagi. Chanyeol melihat pemandangan menyakitkan itu lagi. Baekhyunnya, saat ini duduk menyandar pada dada Kris di bawah sana, di taman yang berada di sebelah Timur gedung sekolah. Mereka terlihat sedang mendengarkan musik bersama sambil tertawa-tawa. Sesekali Kris mengecupi pipi Baekhyunnya, membuat dada Chanyeol sesak hingga kepalan tangannya menguat sampai buku-buku jarinya memutih.

 

 

 

‘Hentikan Kris. Jangan sentuh dia, kumohon…’ jeritnya dalam hati.

 

 

 

Chanyeol merasa sangat sesak. Dia telah mencoba meremas dadanya sendiri  dan menepuk-nepuknya, berusaha meringankan perasaan sesak itu, tapi semuanya tak membantu. Ia tak tahan lagi. Dengan cepat ia berbalik, kemudian ia melangkah pergi, menjauh dari tempat itu. Ia ingin melarikan diri secepatnya dari pemandangan menyakitkan itu. Tidak, ia tak mau melihatnya.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

-All About Love-

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

 

 

Sudah jam 8 malam, namun Chanyeol masih betah duduk di teras rumahnya. Bukan tanpa alasan, tapi Chanyeol ingin berbicara dengan Baekhyun, ingin meminta maaf. Sudah terlalu lama mereka saling diam, dan Chanyeol sudah mulai jengah. Ia merindukan pria mungil itu.

 

 

 

Chanyeol terkesiap dan langsung menatap lurus ke arah luar pagar saat ia melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan pagar rumahnya. Matanya menatap tajam ke arah mobil itu, tapi sekejap kemudian ia telah membuang pandangannya ke arah lain ketika ia melihat Kris mengecup bibir pria mungilnya. Chanyeol mencengkram pegangan kursi yang di dudukinya kuat-kuat sambil menggigit bibirnya dengan keras, mencoba menahan diri agar tak lepas kendali dan menghampiri dua orang itu lalu memukul salah satunya hingga babak belur. Ia langsung berdiri dan melangkah cepat ke arah pagar saat telinganya mendengar suara mobil itu menjauh. Matanya dapat melihat jika Baekhyun saat ini diam mematung di dekat pagar sambil menatap tajam padanya. Chanyeol mengabaikan tatapan tajam itu dan menarik tangan mungil Baekhyun hingga tubuh pria itu menabrak tubuhnya dengan keras. Dia dekap tubuh itu erat-erat, dan mencoba menahan airmatanya yang sejak tadi ingin terbebas dari pelupuknya.

 

 

 

“Baek, kumohon hentikan. Jangan siksa aku lagi. Aku tak sanggup melihatmu bersamanya, rasanya sangat sakit….”

 

 

 

Beberapa menit berlalu, dan Baekhyun hanya diam.

 

 

 

Chanyeol mulai menempelkan hidungnya pada lekukan leher Baekhyun, menghirup aroma tubuh yang ia rindukan itu dalam-dalam, tapi Baekhyun malah tertawa sinis untuknya. Pria mungil itu tak mendorong Chanyeol, tapi kata-katanya membuat hati Chanyeol bagai tertusuk ribuan duri.

 

 

 

“Sakit? Begitu juga yang kurasakan saat kau selalu mengabaikanku dan melihatmu terus-menerus menatap Luhan,” katanya tajam.

 

 

 

Mata Chanyeol mulai berair.

 

 

 

“Maafkan aku, maaf….kembalilah padaku Baek, kumohon…”

 

 

 

“Aku tak bisa Yeol, maaf…kita sudah berakhir. Jangan ganggu aku lagi.”

 

 

 

 

“Baek, aku–”

 

 

 

“Hentikan! Dan lepaskan aku, Park Chanyeol!” potong Baekhyun.

 

 

 

Chanyeol melepaskan pelukannya dan mengepalkan tangannya sendiri. Ia marah. Ia benar-benar marah, marah pada keadaan konyol ini.

 

 

 

“Jadi ini yang kau inginkan? Kau–ingin kita benar-benar berakhir?”

 

 

 

Baekhyun menatap mata Chanyeol dengan berani. “Ya, aku menginginkannya. Aku memiliki Kris, aku tak butuh kau lagi,” jawab Baekhyun dingin, lalu ia mulai melangkahkan kakinya melewati Chanyeol.

 

 

 

 

“Aku ingin kembali pada Luhan!” –Baekhyun berhenti melangkah –“aku akan kembali dengannya. Aku ingin kembali mencintainya, kau baik-baik saja dengan semua itu?” tantang Chanyeol, berusaha memancing emosi Baekhyun, tapi–

 

 

 

Pemuda mungil itu berbalik, lalu melemparkan senyuman sinis padanya.

 

 

 

 

“Begitu?  Kalau begitu bagus. Kembalilah padanya.” jawab Baekhyun datar.

 

 

 

 

“Baek, kau–” Chanyeol tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi. Chanyeol frustasi.

 

 

 

Baekhyun tertawa meremehkan. “Kembalilah padanya Yeol…mungkin kau pikir aku akan peduli, tapi sayangnya tidak. Aku tak peduli, jadi lakukan apapun yang ingin kau lakukan,” kata Baekhyun dengan nada yang sangat dingin.

 

 

 

 

Rahang Chanyeol mengeras.

 

 

 

 

“Sialan! Jadi kau benar-benar mencampakkanku? Baik, kita lihat saja nanti! Kau–pasti akan menyesali semua ini Byun Baekhyun. Dasar sampah tak tahu diri!” kata Chanyeol emosi, lalu ia berjalan ke arah luar pagar dan membanting pagar itu hingga menghasilkan suara yang sangat keras di tengah keheningan malam itu.

 

 

 

Tubuh mungil itu bergetar. Baekhyun meremas dadanya dengan kuat sambil menatap punggung Chanyeol yang mulai menjauh.

 

 

 

“Sampah? Ya…aku memang sampah…”  gumamnya perih, dan tanpa bisa ia tahan, akhirnya ia melepaskan isakannya tepat setelah tubuh Chanyeol menghilang dari pandangannya.

 

 

 

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

-All About Love-

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

Luhan baru saja keluar dari rumah Ibu tirinya. Pria funky itu sebenarnya berniat pergi melepaskan stress ke klab malam yang biasa dia kunjungi, namun langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang saat ini berdiri diam sambil menyender pada tembok di samping pagar besi rumahnya. Luhan menatap dingin pada pria itu, yang saat ini telah tersadar dari lamunannya dan mulai berjalan mendekat ke arahnya.

 

 

“Chanyeol, kenapa kau berada disini?” kata Luhan tanpa minat, tapi–

 

 

 

 

Luhan membeku. Pria tinggi itu memeluknya sangat erat, dan terisak di bahunya.

 

 

 

 

“Chanyeol, k-kau menangis?”

 

 

 

 

“Luhan…Luhan…tolong aku…” rintih Chanyeol.

 

 

 

Luhan tertegun. Ia tak bisa mengatakan apapun dan hanya diam. Chanyeol memeluk tubuhnya dengan sangat erat, membuat keningnya berkerut dalam, namun ia tak bertanya lagi. Ia angkat tangannya, dan ia peluk tubuh Chanyeol dengan ragu. Ia bisa merasakan jika bahunya basah, dan tubuh Chanyeol bergetar kuat dalam pelukannya. Ia tepuk-tepuk punggung pemuda itu untuk menenangkan.

 

 

 

“Chanyeol, tenanglah…” bisiknya.

 

 

 

Luhan langsung menarik dirinya saat ia merasakan pelukan Chanyeol mulai merenggang. Matanya menatap Chanyeol, tapi pemuda tinggi itu menunduk di hadapannya. Luhan mendaratkan tangannya di kedua bahu Chanyeol dan mengusap lembut disana.

 

 

 

“Ada apa? Apa sesuatu telah terjadi?”

 

 

 

Pertanyaan Luhan itu membuat Chanyeol menaikkan dagunya dan mulai menatap Luhan dengan tatapan sedih. Mereka bertatapan dan sama-sama diam.

 

 

 

“Chan…kenap–”

 

 

 

Lagi-lagi ucapan Luhan terhenti. Chanyeol membungkam kata-katanya dengan ciuman yang sangat kasar dan menuntut. Luhan mengerutkan keningnya bingung, namun ia hanya diam menerimanya. Luhan membiarkan saja bibir Chanyeol terus bergerak pada bibirnya sendiri. Ia juga membiarkan Chanyeol menarik pinggangnya agar tubuh mereka merapat tanpa celah.

 

 

 

Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Chanyeol berhenti, melepaskan ciumannya dan melepaskan pinggang Luhan. Ia mengangkat tangan kanannya, mengelus pipi Luhan dengan lembut dan tatapan matanya juga menjadi sangat lembut.

 

 

 

“Luhannie, aku memilih tetap tinggal. Aku ingin tetap bersamamu. Aku tak peduli apa kau akan mencintaiku atau tidak, tapi aku tetap ingin bersamamu…”

 

 

 

Luhan tercekat. “Hentikan Chan, Baekhyun–”

 

 

 

 

“Aku tak peduli padanya. Aku tak ingin peduli lagi padanya Lu. Aku akan melupakan dia. Bukankah kau membencinya? Jadi abaikan saja dia. Pedulikan aku saja Lu…”


To Be Continued


 

A/N : Jangan lupa tinggalkan kesan kalian setelah membaca chapter ini. Terima kasih sudah membaca, XD.

Advertisements