WARNING! 

Chapter ini mengandung Explicit Sex Scene! Anak-anak dilarang baca kecuali kepepet, XDDD. Happy reading!


-Previous Story-


 

“Maaf Yeol…” rengek Baekhyun sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Chanyeol.

 

 

“Hmm…aku tak marah. Aku hanya stress. Aku sangat menyayangimu, kau tahu? Aku hampir saja ingin bunuh diri saat mendengar kau mengalami kecelakaan mengerikan itu. Ini salahku Princess, maafkan aku…maafkan aku, maaf…”

 

 

Hening hingga beberapa saat. Baekhyun tertegun mendengar ucapan pria tinggi itu. Yah, tentu saja Chanyeol sangat menyayanginya, tapi entah mengapa kata-kata itu terdengar sangat menyakitkan untuk saat ini. Baekhyun meremas kemeja Chanyeol kuat-kuat, kemudian ia melepaskan dirinya dari pelukan pemuda itu. Baekhyun masih menunduk, berpikir sambil menggigit bibirnya sendiri. Tangannya terkepal, lalu ia mengangkat dagunya, memberanikan diri menatap adiknya.

 

 

“Yeol…aku janji aku akan berubah. Aku tak akan mengganggumu lagi, jadi bisakah kau tetap berada di sisiku?”

 

 

Chanyeol mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia tatap mata Baekhyun lekat-lekat, dan ia mulai merasa tak enak. Situasinya sepertinya tak akan menguntungkan baginya. Chanyeol gelisah.

 

 

“Baek, ap–“

 

 

“Mari kita lupakan masa lalu, aku akan mulai membiasakan diriku untuk menganggap kau sebagai adik kandungku.  Aku sangat mencin –tidak, maksudku aku juga sangat sayang padamu Yeol, jadi–“

 

 

Baekhyun meremas kemeja Chanyeol erat-erat dan menumpahkan lagi airmatanya, “–j-jadi mari kita menjadi kakak adik yang sesungguhnya.”

 

 

“Ap –apa? B –Baek, apa maksud–”

 

 

“Panggil aku Hyung…Aku ini Hyung-mu Yeollie…” potong Baekhyun sambil tersenyum miris.

 

 

Chanyeol mencelos. Jantungnya terasa diremas kuat lalu dikorek dengan sadis hingga hancur berkeping-keping. Tubuhnya mati rasa, hatinya juga. Chanyeol membeku seperti orang tolol dalam posisi berdirinya. Dia tak merubah posisinya bahkan ketika Baekhyun melepaskan cengkraman pada kemejanya dan melangkah mundur. Mata Chanyeol menatap Baekhyun, dan ia merasa pemuda mungil itu terasa sangat jauh meskipun mereka hanya dipisahkan oleh jarak beberapa langkah. Tubuh Chanyeol bergetar. Tidak! Dia tak menginginkan ini!

 


TROUBLE MARRIAGE

download

Story By tmarionlie  |  Poster By L.E Design

.

Exo Couple | HunHan | ChanBaek | KaiSoo | KrisTaoLay

.

Y
aoi | Marriage Life | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


CHAPTER 14


 

Chanyeol mengepalkan tangannya. Wajah Baekhyun yang sedang tersenyum lembut dengan airmata yang masih menetes-netes itu membuatnya emosi dalam sekejap. Giginya bergemeretak, kemudian dengan pasti ia melangkah maju. Dia tarik kasar tubuh mungil itu kembali ke dalam pelukannya, lalu ia tekan bibirnya dalam-dalam ke bibir tipis yang sejak tadi mengukir senyuman palsu itu. Dia tak perduli meskipun pemuda yang lebih kecil berusaha mendorongnya. Chanyeol hanya ingin Baekhyun tahu jika ia juga merasakan hal yang sama, bahkan cintanya jauh lebih besar. Chanyeol melepaskan kecupannya saat ia merasa jika tubuh Baekhyun mulai melemah. Dia tatap wajah mungil itu dengan hidung-hidung yang masih saling bersentuhan, dan ia elus pipi tirus itu teramat pelan.

 

 

“Dasar bodoh! Jangan mencoba membohongiku lagi…”

 

 

“Yeol…aku–“

 

 

“Aku mencintaimu Princess.”

 

 

Hening. Baekhyun tercekat. Tubuh mungilnya membeku. Dunianya seolah terhenti saat itu juga. Baekhyun terdiam dengan tatapan kosong. Matanya menatap lurus pada mata Chanyeol, dan ruhnya seolah terhisap ke dalam mata itu. ‘Mimpikah?’ –pikirnya kalut. Tapi tidak, karena sedetik kemudian ia merasakan satu kecupan mendarat lagi di permukaan bibirnya.

 

 

“Aku –sangat mencintaimu Byun Baekhyun…” bisik Chanyeol sekali lagi, dan kali ini Baekhyun benar-benar tersadar sepenuhnya, membuat matanya langsung melebar saking terkejutnya.

 

 

“Ye–Yeol, barusan kau bilang apa? K-kau–mencintaiku?”

 

 

Baekhyun gemetaran. Dia menelan ludahnya dengan susah payah, nafasnya memburu tak terkendali, lalu ia mengulurkan tangannya untuk meraih kemeja Chanyeol, meremasnya sekuat yang ia bisa dengan jari-jarinya yang bergetar. “Bi-bisakah kau mengatakannya satu kali lagi? Benarkah kau mencintaiku? Kau tak bohong kan? Yeol, kau–“

 

 

Suara Baekhyun lenyap di dalam sebuah kecupan yang dalam, membuat tubuhnya bergetar. Tangannya digenggam erat oleh Chanyeol, kemudian diangkat dan dituntun untuk melingkar di leher pemuda itu. Baekhyun terkejut dengan ciuman Chanyeol yang tiba-tiba, namun ia tak memberontak. Dia kalungkan tangannya melingkari leher pemuda tinggi itu dengan patuh, lalu ia hanya diam saja menerima setiap kecupan yang diberikan oleh Chanyeol hingga akhirnya ia ikut terhanyut dalam kecupan-kecupan lembut itu. Baekhyun benar-benar yakin sekarang jika ini bukanlah mimpi. Ini kenyataan. Dia tak sedang berhalusinasi saat ini. Pinggangnya ditarik merapat, kemudian Chanyeol mulai memanjakan bibirnya dengan sebuah ciuman yang lembut dan semakin dalam. Kepalanya bergerak berlawanan arah dengan pemuda tinggi itu, dan mereka habiskan beberapa menit untuk saling berbagi sesi menyenangkan itu diiringi dengan letupan-letupan bahagia dari hati masing-masing.

 

 

Chanyeol melepaskan bibir tipis itu setelah beberapa waktu panjang yang cukup membuat bibir mereka kelelahan karena saling menyerang. Dia usap lelehan saliva di sekitar bibir tipis pemuda kecilnya, lalu ia tatap lembut mata sipit pria mungil pujaannya itu sambil menyeka airmata pemuda itu sesekali. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir keduanya hingga beberapa lama, hingga tangan Chanyeol mulai bergerak, merogoh sesuatu dari saku celananya dan menunjukkannya tepat di depan wajah Baekhyun. Chanyeol tak bisa menahannya lagi. Baekhyun harus menjadi miliknya secepatnya. Dia tak akan sanggup kehilangan pemuda mungil itu lagi.

 

 

Princess…maukah kau menikah denganku?”

 

 

“Huh?”

 

 

Untuk yang kesekian kalinya, tubuh Baekhyun kembali membeku seperti patung. Matanya membelalak lebar ketika Chanyeol menjatuhkan lututnya sendiri di hadapannya, masih tetap mengulurkan cincin yang ia pegang.

 

 

“Byun Baekhyun…menikahlah denganku, kumohon…aku janji, aku akan membahagiakanmu. Kau mau kan?” tanya Chanyeol, sambil menatap wajah Baekhyun dengan tatapan penuh harapnya.

 

 

Baekhyun tak mampu mengatakan apapun. Bibirnya terkatup rapat, namun sedikit bergetar. Kepribadiannya yang teramat cengeng membuat airmatanya kembali jatuh, hingga upaya Chanyeol yang menyeka airmatanya tadi menjadi sia-sia.

 

 

Princess…kau mau kan? Mau ya? Please…Aku tak bisa kehilanganmu lagi Baek…”

 

 

Chanyeol masih bertahan pada posisinya, mengabaikan tangannya yang mulai terasa lelah. Dia masih tetap berlutut sambil mengulurkan kotak beludru biru itu pada Baekhyun. Chanyeol masih menunggu dengan tatapan penuh harapnya. Namun penantiannya itu berakhir saat Baekhyun menghapus airmatanya sendiri dan mengulurkan tangan kanan tepat di depan wajahnya.

 

 

“Ya…”

 

 

Seperti baru saja terbebas dari gejala sesak nafas berkepanjangan, Chanyeol menarik nafas lega. Senyumnya mengembang, lalu dengan gerakan cepat ia tarik salah satu cincin dari dalam kotak biru itu dan ia raih jari manis milik Baekhyun. Chanyeol mengeluarkan desahan leganya saat ia telah berhasil melingkarkan cincin itu ke jari Baekhyun. Ia tatap jari itu hingga beberapa lama lalu ia kecup dengan penuh perasaan.

 

 

“Terima kasih…” ucapnya, lalu ia bangkit berdiri dari posisi berlututnya dan membawa tubuh Baekhyun kedalam pelukan hangat yang panjang.

 

 

“Terima kasih sayang…” ulangnya sekali lagi sebelum akhirnya ia lepaskan pelukannya.

 

 

Chanyeol terkekeh saat melihat pemuda yang lebih pendek menundukkan kepalanya. Baekhyun sedang berusaha menyembunyikan rona merah dipipinya namun sayang Chanyeol dapat melihatnya dengan jelas meskipun Baekhyun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Chanyeol menyodorkan cincin yang tersisa pada Baekhyun, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pemuda kecil itu. “Kau mau kan membantuku memakaikan cincin yang satunya?” bisik Chanyeol dengan suara yang menggoda.

 

 

Baekhyun menggigit bibirnya sendiri, lalu ia raih cincin itu dan melingkarkannya dengan cepat ke jari milik Chanyeol, lalu ia hanya diam setelahnya. Baekhyun terkesiap saat lagi-lagi wajah Chanyeol mendekat ke lehernya. Bibir pemuda itu menggesek permukaan kulit lehernya lalu menjalarkannya ke atas, lagi-lagi ke telinganya.

 

 

“Aku merindukanmu Princess…” bisik Chanyeol, dan satu gigitan lembut di telinga membuat tubuh Baekhyun bergetar halus dengan sendirinya.

 

 

Baekhyun menggigit bibirnya sendiri saat ia merasakan lidah Chanyeol bermain-main dengan lincah di cuping telinganya, membuat telinganya menjadi basah. Nafas pemuda tinggi itu memburu, membuat gairah Baekhyun jadi ikut terbakar. Baekhyun mencengkram pinggang Chanyeol erat-erat saat Chanyeol mencumbui lehernya. Tubuh Chanyeol terasa berat, membuat Baekhyun terjatuh ke atas ranjang yang berada di belakang tubuhnya dengan tubuh Chanyeol yang menindihnya. Chanyeol terkekeh sekejap sedangkan Baekhyun hanya tersenyum malu lalu menggigit bibirnya sendiri ketika satu kecupan lembut mendarat di keningnya.

 

 

Saranghae…” bisik Chanyeol, kemudian menggesekkan hidung-hidung mereka, membuat Baekhyun kembali merona.

 

 

Baekhyun menggapai tengkuk Chanyeol dan memberanikan dirinya mengecup bibir Chanyeol sekejap sebelum  ia jawab ungkapan cinta kekasihnya itu.

 

 

“Aku juga mencintaimu…”

 

 

Keduanya terdiam dengan mata yang saling menatap dalam satu dengan lainnya, sebelum akhirnya sama-sama tersenyum dan kembali saling kecup, dilanjutkan dengan saling melumat basah bibir pasangannya. Tubuh Chanyeol menekan rapat tubuh mungil Baekhyun di bawah himpitan tubuhnya. Tangan kirinya bergerak turun, mengelus jakun Baekhyun, menjalar ke tulang selangka, dada, dan berakhir pada kancing kemeja yang dipakai pemuda mungil itu. Dengan cekatan Chanyeol menggerakkan jari-jarinya dengan cepat, membuka satu-persatu kancing-kancing kemeja itu hingga kancing yang paling akhir dan menyibakkan salah satu sisi kemeja ke samping, membuat sebagian tubuh mulus Baekhyun terlihat jelas.

 

 

Baekhyun mengerang saat merasakan sensasi dingin dan geli di bagian perutnya. Sebuah telapak tangan berukuran besar merayap sensual di sana, memaksa Baekhyun melepaskan ciumannya hanya untuk mendesah halus. Wajah merah dengan bibir yang terbuka basah itu membuat mata Chanyeol berkabut.

 

 

“Cantik…sangat cantik…” gumamnya memuja, kemudian ia kembali menunduk untuk mencumbui tubuh mungil itu. Bibirnya mengecupi setiap jengkal kulit tubuh yang terasa halus itu, sesekali menyesapnya dan meninggalkan bercak merah disana-sini. Wajahnya terus bergerak turun, melewati dada dan perut hingga matanya melihat V-line Baekhyun yang menggoda. Hasratnya meluap, membuatnya menjadi tak sabar untuk melihat tubuh Baekhyun secara keseluruhan lagi, seperti waktu itu. Chanyeol sangat merindukannya. Karena itu ia membenamkan wajahnya sendiri di atas gundukan menggoda itu dan menghirup aromanya dalam-dalam. Telapak tangannya yang berukuran besar menekan gundukan itu dan ia memutar-mutarnya dengan gerakan sensual, membuat tubuh pemuda yang lebih mungil bergetar halus.

 

 

“Ngghh…nghh…Yeol…”

 

 

Oh tidak! Erangan Baekhyun membuat darah Chanyeol mendidih. Gairahnya benar-benar terbakar hingga ia merasa gerah. Dengan tak sabaran Chanyeol membuka pengait celana Baekhyun, menurunkan resletingnya dan menarik turun celana itu lalu ia buang begitu saja ke lantai. Jakunnya naik-turun ketika tubuh polos pemuda mungil itu terpampang jelas di depan matanya. Nafas Chanyeol memburu dan ia sudah tak tahan lagi. Dia lepaskan pakaiannya sendiri dengan terburu-buru kemudian ia kembali menindih tubuh mungil itu rapat-rapat hingga tak ada celah lagi di antara mereka. Kulit-kulit tubuh yang saling bergesekan membuat keduanya mengerang dalam, lalu keduanya memulai lagi ciuman penuh hasrat itu untuk kesekian kalinya.

 

 

Baekhyun mendesah halus saat bibir Chanyeol kembali menjelajahi kulit lehernya. Dia bawa jemari lentiknya untuk menjambaki rambut cokelat Chanyeol hingga rambut pemuda tinggi itu berantakan. Erangan-erangan erotis terlepas dari bibirnya yang tipis, membuat pemuda yang menghimpitnya menggila. Chanyeol semakin menjadi-jadi. Tangannya bergerak kesana-kemari, mengelus setiap kulit tubuh Baekhyun dan meremas bagian-bagian tertentu yang menggoda hasrat seksualnya, hingga beberapa kali Baekhyun mendesah keras akibat ulahnya. Seluruh aksinya terhenti pada satu bagian favoritnya, benda panjang berurat milik Baekhyun yang telah menegang sejak tadi. Dengan gemas ia genggam benda itu lalu ia meremasnya pelan-pelan, sesekali ia menggelitiknya dengan jari-jarinya yang panjang.

 

 

“Ugh,” Baekhyun menahan nafasnya ketika Chanyeol mulai menggerakkan tangannya naik-turun secara lambat.

 

 

“Kau suka sayang?” tanya Chanyeol menggoda, dan hanya dijawab dengan erangan halus oleh Baekhyun.

 

 

Chanyeol mempercepat gerakan tangannya, dan bibirnya mengulas seringaian mesum ketika matanya menangkap raut tersiksa dari wajah kekasihnya. Wajah cantik itu memerah, dengan mata sipit yang terpejam dan bibir basah yang terbuka, memancing hasratnya untuk melumat bibir itu lagi.

 

 

“Mmm…mmhh…” Baekhyun mengerang tertahan di sela-sela ciuman dalam mereka. Tangan kanannya meremas-remas rambut Chanyeol, sedang bibirnya berusaha mengimbangi lumatan Chanyeol yang menggila. Tangan kiri Baekhyun mengelus punggung Chanyeol sesekali, lalu ia mencakarnya kuat-kuat saat kejantanannya terasa seakan ingin meledak di bawah sana. Baekhyun menahan nafas dan menghentikan gerakan bibirnya sesaat ketika spema pertamanya berlomba-lomba keluar di antara pijatan tangan Chanyeol. Dia biarkan Chanyeol tetap menjelajahi bibirnya, sedangkan dia berusaha menikmati orgasmenya hingga selesai.

 

 

Baekhyun membuka matanya ketika Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka dan mengangkat kepalanya. Pipinya kembali merona saat ia melihat tatapan lembut Chanyeol yang diarahkan padanya. Dia gigit bibirnya sendiri. Entah mengapa setiap apapun yang ada pada diri Chanyeol membuatnya jatuh cinta hingga berkali-kali. Pemuda tinggi itu memang begitu lembut, romantis dan penyayang, membuatnya tak ingin berpaling darinya. Apapun dalam diri Chanyeol membuatnya tergila-gila, hingga ia rela merana demi mendapatkan cinta pemuda itu.

 

 

“Kau sangat cantik Princess…”

 

 

Baekhyun menggigit bibirnya lagi saat pujian memuja itu terlepas begitu saja dari bibir Chanyeol. Dengan perlahan, ia raih tengkuk Chanyeol dan ia kecup dalam-dalam bibir pemuda itu, dilanjutkan dengan beberapa lumatan kecil sebelum ia melepasnya dan kembali menghempaskan kepalanya lagi ke permukaan bantal.

 

 

“Aku mencintaimu…” bisik Baekhyun, membuat Chanyeol tersenyum.

 

 

Chanyeol membenamkan wajahnya ke lekuk leher Baekhyun, memberikan beberapa jilatan basah di sana sementara tangannya memeluk tubuh mungil itu erat-erat. “Bolehkan aku memulainya?” bisik Chanyeol di telinga Baekhyun. Dan ketika Baekhyun menggumamkan kata ‘ya’, Chanyeol langsung melebarkan kaki-kaki Baekhyun dengan kakinya sendiri. Dia pijat penisnya beberapa kali, lalu ia arahkan ujungnya ke lubang basah milik Baekhyun.

 

 

Baekhyun meringis saat ujung penis itu berhasil menerobos tubuhnya. Tangannya memeluk punggung Chanyeol erat-erat sementara bibirnya merintih di setiap tekanan yang diberikan oleh Chanyeol. Baekhyun melenguh saat lubangnya terasa amat penuh, sedangkan Chanyeol malah mendesis nikmat di atasnya. Tubuh Chanyeol bergetar halus saat ia kembali merasakan kehangatan menyelimuti kejantanannya. Bibirnya masih sempat menjamah bibir Baekhyun hingga beberapa detik sebelum ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan lambat.

 

 

“Nghh…nghh…ahh…” Baekhyun mendesah halus saat penis Chanyeol menusuk-nusuk bagian selatan tubuhnya. Matanya terpejam, dan bibirnya terbuka. Tangannya meremas-remas rambut dan punggung telanjang Chanyeol, sedangkan kakinya ia buka lebar-lebar agar Chanyeol mendapatkan akses yang mulus untuk menuju bagian terdalam dari tubuhnya.

 

 

“Akh!” Baekhyun memekik ketika ujung penis Chanyeol menyentuh prostatnya. Tubuhnya menggelinjang dan wajahnya menjadi semakin memerah. Baekhyun menjadi begitu terangsang hingga berkali-kali lipat. Beberapa tusukan di tempat yang sama membuat Baekhyun seolah tersengat listrik hingga beribu voltase. Ia mencengkram punggung Chanyeol kuat-kuat, kemudian ia mencari-cari bibir Chanyeol untuk melampiaskan kenikmatan yang ia rasakan. Pinggulnya ikut bergoyang berlawanan arah dengan pinggul Chanyeol, dan keduanya mengerang dalam diantara ciuman liar yang mereka lakukan.

 

 

“Mmhh…akh!” Baekhyun kembali memekik saat satu tusukan kuat menghajar prostatnya tanpa ampun. Dia mendongak dan membiarkan Chanyeol menggigiti kulit lehernya, sementara ia mengerang putus asa sambil ikut menghentak-hentakkan pinggulnya berlawanan arah.

 

 

“Ahh..ahh..Yeolliehh…”

 

 

Baekhyun semakin putus asa. Dia cengkram kuat bahu Chanyeol, lalu ia tarik kepala pemuda tinggi itu dan mencari-cari bibir pemuda itu lagi. Baekhyun melumat kasar bibir Chanyeol, menggigiti bibir itu dan membuka mulutnya, mengundang lidah Chanyeol untuk bermain di dalamnya. Lidah mereka bertemu dan saling membelit nikmat di antara erangan-erangan penuh nafsu dari keduanya. Liur sudah saling bertukar, dan gerakan pinggul mereka semakin menggila. Chanyeol menyelipkan tangannya ke punggung Baekhyun dan dengan sekali gerakan tubuh mereka telah bertukar posisi. Baekhyun menggeram ketika tubuhnya berganti posisi menjadi menindih Chanyeol. Posisi itu membuat ujung penis Chanyeol semakin dalam menekan prostatnya. Dia lepaskan tautan bibir mereka dan Baekhyun mulai menggeliat gemulai di atas tubuh Chanyeol. Tangannya menjepit kedua puting Chanyeol hingga beberapa kali kemudian ia mulai bergerak naik-turun seperti seorang bitch di atas tubuh Chanyeol.

 

 

Baekhyun mendongak nikmat sambil mendesis-desis liar di setiap gerakan yang ia lakukan. Perutnya terasa sangat geli, dan Baekhyun merasa jika seks mereka kali ini jauh lebih hebat dari seks pertama mereka yang mengenaskan. Disini hanya ada cinta, dibumbui oleh nafsu yang berkobar hingga tubuh mereka terasa terbakar karenanya.

 

 

Hampir saja Baekhyun sampai, namun menjadi tertunda karena Chanyeol bangkit dan menghempaskan tubuh Baekhyun lagi di bawahnya dengan gerakan kasar yang penuh gairah. Chanyeol menjilati bibir Baekhyun lagi dan melumatnya dengan tergesa-gesa, lalu ia menjalarkan bibirnya menuju puting-puting Baekhyun yang belum sempat ia jamah sejak tadi. Tangannya kembali meremas penis Baekhyun, sedang bibirnya sibuk menjilati kedua puting menggoda itu berganti-gantian.

 

 

“Yeol, ahh…kumohon, lakukan sekarang Yeollie…aku sudah tak bisa menahannya…” rengek Baekhyun, namun Chanyeol tak mengabulkan.

 

 

Dengan teganya Chanyeol malah melepaskan cumbuannya pada dada Baekhyun, dan juga melepaskan penis Baekhyun yang sudah ingin meledak sejak tadi, membuat Baekhyun mengerang frustasi. Tanpa tahu malu Baekhyun menyambar tangan Chanyeol dan mengarahkan tangan itu kembali ke kejantanannya, namun Chanyeol hanya memberikan pijatan beberapa kali dan lagi-lagi melepaskannya.

 

 

“Yeol…please…” rengek Baekhyun, membuat Chanyeol menjadi tak tega.

 

 

Chanyeol tersenyum lembut, lalu ia kembali melumat bibir Baekhyun dengan bergairah. Ciumannya merambat turun perlahan-lahan, melewati dada dan pusar Baekhyun, hingga akhirnya terhenti pada bagian tersensitif pada tubuh mungil itu. Chanyeol mengecupi kulit penis itu beberapa kali sebelum akhirnya memanjakannya dengan kuluman basah dan belaian lidahnya yang lincah.

 

 

“Ngghh…” Baekhyun meremas-remas rambut Chanyeol sambil mendesah-desah nikmat. Matanya berkabut, dan ia menggeliat-geliat sensual sambil menggumamkan nama Chanyeol hingga beberapa kali. Dia ingin melepaskan hasratnya di dalam balutan mulut hangat Chanyeol, namun Chanyeol tak mengizinkannya. Tubuhnya malah dibalik paksa dan perutnya diangkat oleh Chanyeol, hingga ia terpaksa bertumpu dengan telapak tangan dan lututnya sendiri. Baekhyun menungging dengan lelah.

 

 

Dia memekik dalam ketika lubangnya lagi-lagi diterobos paksa oleh Chanyeol dengan satu hentakan kuat. Dia merengek sakit, namun Chanyeol menenangkannya dengan ucapan maaf dan memberikan belaian lembut serta kecupan-kecupan penuh cinta pada tengkuknya. Tubuhnya terhentak-hentak kuat kearah depan, dan lubangnya sudah terasa panas terbakar. Dia merasa lecet namun Chanyeol terus menghajar prostatnya tanpa ampun, membuatnya melupakan rasa terbakar itu karena kenikmatan yang ia rasakan jauh lebih besar. Bibirnya mendesah kuat ketika Chanyeol mulai memompa penisnya lagi, dan lututnya melemas karena ia begitu gila oleh kenikmatan yang menyelimuti dua bagian tubuh tersensitifnya.

 

 

“Akh…akh…akh…Yeol…aku hampir klimaks…”

 

 

 

Chanyeol bergerak semakin liar, menggerakkan pinggulnya maju-mundur dengan tempo yang sangat cepat hingga suara decitan becek dari kedua organ intim yang bergesekan itu terdengar nyaring di dalam ruangan kamar. Keringat mereka sudah saling menetes membanjiri kulit tubuh masing-masing. Hawa kamar menjadi semakin panas dan panas di setiap detiknya, tapi keduanya masih bergerak dengan semangat untuk menjemput orgasme mereka.

 

 

Chanyeol menggeram ketika tangannya terasa basah oleh cairan sperma milik Baekhyun. Dia pijat penis Baekhyun hingga beberapa kali untuk membantu Baekhyun mengeluarkan seluruh cairannya sebelum akhirnya ia lepaskan penis yang hampir terkulai itu. Tangannya beralih mencengkram pinggul Baekhyun erat-erat lalu ia menusuk prostat Baekhyun kuat-kuat hingga pemuda mungil itu menjerit-jerit fustasi namun ia tak perduli. Chanyeol semakin liar memompa lubang itu sambil mendongak nikmat, hingga akhirnya penisnya bergejolak dan cairan cintanya meledak di dalam tubuh Baekhyun.

 

 

“Ahh…ahh…” keduanya mendesah puas, lalu sama-sama ambruk dengan posisi saling bertindihan di atas pemukaan ranjang. Chanyeol menciumi tengkuk Baekhyun hingga beberapa kali sebelum akhirnya menarik dirinya sendiri dari atas punggung Baekhyun dan berbaring telentang di sebelah tubuh kekasihnya. Dia menarik nafas hingga beberapa kali, lalu ia raih tubuh Baekhyun yang masih tengkurap agar berbalik dan merapat ke tubuhnya. Bibirnya masih sempat mengecupi seluruh wajah mungil itu, sebelum akhirnya ia membenamkan wajah Baekhyun kedadanya.

 

 

“Terima kasih…Saranghae–My Princess…” gumamnya, dan ia tersenyum ketika ia merasakan kecupan lembut mendarat di jakunnya dengan iringan jawaban balasan berembel-embel ‘My Prince’ dari bibir tipis pria mungil pujaannya itu, membuatnya geli sendiri.

 

.

.

.

-Trouble Marriage-

.

.

.

Luhan mondar-manir kesana-kemari, menyambar pakaian, segala apapun yang ia butuhkan dan melemparnya secara sembarangan kedalam kopernya. Dia harus cepat-cepat terbang ke London. Dia butuh berada di negara itu secepatnya. Pamannya sedang membutuhkannya, dan ia harus menyiapkan segala hal secepat mungkin, memangkas waktu agar ia cepat berada di sana untuk membantu mengatasi masalah yang terjadi di perusahaan Ayahnya.

 

 

Mengabaikan tubuhnya yang baru saja sembuh dari demam, Luhan melangkah cepat menuju kamar mandi. Dia mandi secepat yang ia bisa, lalu ia berpakaian dengan terburu-buru. Kamarnya acak-acakan, dan ia abaikan semua itu. Daripada memikirkan kamarnya yang berantakan, Luhan memilih menyeret kopernya cepat-cepat menuju pintu utama Apartemen. Sejenak, ia teringat pada Sehun. Dia keluarkan ponselnya untuk mengabari suaminya itu, namun ketika ia telah hampir berniat menelepon, ia baru sadar jika mereka tak pernah berbagi nomor ponsel sejak mereka saling mengenal. Hal itu membuatnya menjadi murung dalam sekejap, padahal baru saja ia merasa sedikit bahagia oleh perhatian yang diberikan oleh Sehun beberapa waktu belakangan ini.

 

 

Luhan membuang nafas beratnya, kemudian ia memutuskan untuk menghubungi Kai. Beberapa kali ia menelepon pemuda eksotis itu, namun tak ada satupun yang dijawab oleh Kai. Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Bibinya dan juga Ibu mertuanya. Bagaimanapun ia tak bisa pergi begitu saja tanpa kabar.

 

 

Luhan bernafas lega saat ia selesai berpamitan pada kedua orang yang dia anggap Ibu itu. Dia mengedarkan tatapannya sekilas kesekeliling Apartemen, kemudian ia melangkah pasti menuju lemari pendingin di ruang makan. Luhan menyambar nota yang berada di sisi lemari es itu, mencatat sesuatu di sana untuk Sehun –hanya ucapan terima kasih secara singkat dan mengatakan kemana ia pergi -sambil berharap jika Sehun akan membacanya nanti ketika pemuda itu pulang. Dia menempelkan nota itu di bagian depan lemari es agar Sehun mudah menemukannya. Setelahnya, Luhan berjalan dengan tergesa-gesa kearah pintu lalu menyeret kopernya pergi.

 

 

.

.

.

-Trouble Marriage-

.

.

.

Kyungsoo membuka mata dan paginya disambut oleh nyeri-nyeri pada bokongnya. Bibirnya mendesis dan wajahnya meringis, tapi ia memaksakan dirinya untuk duduk.

 

“Ugh.”

 

Kyungsoo kembali mengeluh sambil memegangi pinggulnya yang seolah ingin patah, namun ketika matanya menangkap seraut wajah polos yang masih pulas di sisi kanannya, ringisan kesakitannya berubah menjadi senyum dalam seketika. Dia angkat tangan kanannya untuk membelai wajah itu, sedikit merapikan poni Kai yang menjuntai lalu ia raba dahi Kai dengan jari telunjuknya. Kyungsoo menggigit bibirnya saat Kai bergerak sedikit dan membuka mata. Tatapan mata mereka bertemu beberapa saat lalu sebuah senyuman tampan di dapatkan oleh Kyungsoo. Yeah, sambutan pagi yang sangat bagus untuk memulai hari pertama hubungan mereka.

 

 

Kyungsoo masih saja mengagumi si tampan itu lalu ia terpekik kecil saat tubuhnya tiba-tiba saja ditarik hingga kini bertengger dengan manis di atas tubuh Kai. Wajahnya mendapatkan kecupan bertubi-tubi dari kekasih tampannya dan Kyungsoo hanya menerimanya dengan tawa. Kecupan-kecupan lembut diberikan oleh Kai di permukaan bibir penuh itu, lalu berlanjut pada ciuman dalam pemancing gairah. Kyungsoo membuka bibirnya dengan pasrah ketika lidah Kai menggoda, meminta akses untuk masuk lebih dalam lagi, dan Kyungsoo tentu saja akan dengan senang hati memberikan izin padanya.

 

 

Kulit mereka yang masih belum terbalut oleh apapun bergesekan, memberikan sengatan-sengatan geli pada tubuh masing-masing. Morning erection yang selalu hampir dialami oleh setiap pria ketika terbangun dari tidur membuat gairah keduanya berkobar, apalagi Kai. Semalam saja belum cukup, padahal mereka telah menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk melakukan seks. Kai mengerang tertahan saat kulit penisnya bergesekan dengan milik Kyungsoo, kemudian dengan gemas ia gigit kecil heartlips favoritnya itu. Tangannya yang nakal bergerak turun, meremas bokong Kyungsoo dengan gemas, tapi–

 

 

“Arghh!”

 

 

–langsung ia lepas karena Kyungsoo menjerit kesakitan. Kai menatap wajah manis itu dengan raut khawatirnya. Dia usap pipi Kyungsoo yang memerah dan ia perhatikan wajah yang masih meringis kesakitan itu.

 

 

“Sangat sakit kah?”tanya Kai khawatir, dan Kyungsoo menjawabnya dengan anggukan kecil dengan bibir yang sedikit melengkung kebawah. “Maafkan aku sayang…aku tak bisa mengendalikan diriku semalam,” kata Kai penuh penyesalan, namun Kyungsoo malah terkekeh, membuat alis Kai langsung bertaut heran. “Kenapa?” tanyanya, dan bukannya jawaban yang ia dapatkan, justru Kyungsoo membuat sesi ciuman panas mereka kembali berlanjut dan menjadi lebih panjang.

 

 

Kai kembali menggeram ketika Kyungsoo menolak melepaskan bibirnya. Dia sudah sangat tersiksa oleh sesuatu di bawah sana yang ingin meminta lebih namun ia tak ingin menyakiti Kyungsoo.

 

 

“Sayang, hentikan…” kata Kai setelah melepaskan diri dengan paksa dari Kyungsoo. Pria yang lebih manis tersenyum, lalu menunduk untuk menggapai leher Kai, menggoda.

 

 

“Ugh…Kyungie, cukup Baby…” erang Kai frustasi.

 

 

Kyungsoo menarik kepalanya, lalu menatap wajah Kai dengan tatapan polosnya. “Kenapa?” tanyanya, membuat Kai menjadi gemas.

 

 

“Kau menyiksaku. Jangan cumbui aku lagi atau aku akan lepas kendali dan kembali menyerangmu seperti kemarin,” jawab Kai terus terang.

 

 

Kyungsoo terkekeh, kemudian membelai dada Kai menggunakan jari telunjuknya, menciptakan pola-pola abstrak yang tak terlihat. “Kau masih menginginkannya? Aku tak keberatan untuk melayanimu lagi seperti kemarin Tuan…” kata Kyungsoo, lalu ia mengedipkan mata bulatnya dengan genit pada kekasih barunya itu.

 

 

“Jangan menggodaku…Dan astaga! hentikan itu sayang, kau terlihat sedikit binal, rawwrrr…” kata Kai, lalu terkekeh setelah mengatakannya.

 

 

Kyungsoo juga tertawa, lalu ia meletakkan pipinya di dada Kai, mendengarkan detak jantung kekasihnya sambil memejamkan mata. Dia merasakan telapak tangan Kai mengelus helaian rambutnya dengan lembut, membuat bibirnya tak bisa berhenti tersenyum. Dia bahkan ingin berada di waktu ini selamanya. Entahlah, adegan yang terjadi saat ini adalah adegan favoritnya, tch!

 

 

“Jantungmu berdetak sangat cepat Kai…”

 

 

“Hmm…itu karena kau berada di dekatku,” jawab Kai, kemudian terkekeh.

 

 

“Hei, sesuatu di bawah sana masih saja sekeras batu, dan dia menusuk pusarku sekarang,” kata Kyungsoo, dan pemuda manis ini tertawa ketika ia mendengar Kai menggeram kesal.

 

 

“Bisakah kau tidak membahas soal penisku? Abaikan saja dia, kau adalah yang terpenting. Aku tak ingin menyakitimu,” jawab Kai.

 

 

Kyungsoo tertawa kecil, kemudian mengangkat kepalanya dan mensejajarkannya dengan wajah Kai. Dia kecup bibir pemuda itu satu kali, lalu ia meraih penis Kai tanpa perasaan, membuat pemiliknya sesak nafas akibat perbuatannya.

 

 

“Ugh Kyungie…hentikan,” erang Kai sambil menyingkirkan tangan Kyungsoo dari miliknya.

 

 

Kyungsoo cemberut. “Kenapa? Bukankah kau sudah sangat terangsang? Aku hanya tak ingin melihat kau tersiksa,” kata Kyungsoo.

 

 

Kai membelai rambut Kyungsoo pelan-pelan. “Hmm, aku merasa tersiksa, tapi aku tak ingin menyakitimu.”

 

 

“Aku bisa melayanimu–tanpa bokong,” jawab Kyungsoo, membuat Kai terdiam untuk berpikir.

 

 

‘Benar juga’ –pikir Kai. Lalu dalam sekejap saja sejumlah adegan mesum langsung melintas di dalam otaknya, menciptakan satu seringaian di wajahnya yang tampan. “Kalau begitu…bisakah kau melakukannya untukku Baby?” kata Kai sambil menggigit kecil bahu Kyungsoo, membuat Kyungsoo terkekeh geli.

 

“Tentu saja Tuan…” jawab Kyungsoo, kemudian meraih batang berurat itu kembali ke dalam genggamannya. Dia pijat penis Kai hingga beberapa kali dengan lambat, kemudian secara perlahan ia mempercepat gerakan tangannya, membuat bibir Kai merintih-nikmat karena perbuatannya.

 

 

Kyungsoo bergerak turun. Dia kecup kejantanan Kai hingga beberapa kali, kemudian ia mulai mengulum benda itu ke dalam mulutnya. Gerakan lidahnya lincah, membuat Kai mengerang-ngerang frustasi.

 

 

“Ahhh…” Kai mendesah kuat ketika merasakan bagaimana tekstur lembut lidah Kyungsoo yang menggelitik setiap inci kulit penisnya. Sesekali ia menggeram ketika Kyungsoo menghisap miliknya dengan sengaja. Beberapa waktu hanya ia habiskan dengan mendesah-desah kuat, hingga akhirnya tubuhnya bergetar saat ia meledakkan cairan cintanya di mulut Kyungsoo.

 

 

“Hhhhhhh….” Kai menghela nafas lega. Kekehannya langsung terdengar ketika melihat Kyungsoo meringis kearahnya sambil menyeka lelehan sperma yang mengotori sudut bibirnya. Kai menarik tubuh mungil itu hingga kembali terperangkap kedalam pelukannya. “Terima kasih,” ucapnya, dan Kyungsoo hanya menjawabnya dengan gembungan imut di pipinya yang bulat.

 

 

Beberapa waktu yang panjang mereka habiskan hanya dengan saling diam. Kai berpikir sambil mengelus-elus surai Kyungsoo yang kemerahan, sedangkan Kyungsoo hanya diam sambil berpikir. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga akhirnya Kyungsoo membuka suaranya untuk yang pertama kali.

 

 

“Maafkan aku…” kata Kyungsoo, membuat tatapan Kai yang sejak tadi terpaku pada langit-langit langsung beralih padanya.

 

 

“Aku juga seharusnya meminta maaf padamu. Maafkan aku Kyungie,” jawab Kai, lalu ia mengecup kening Kyungsoo satu kali.

 

 

Kyungsoo membuang nafas beratnya. “Tidak Kai, semuanya dimulai dari kami, aku dan Kris. Segalanya telah direncanakan. Kau hanyalah korban.”

 

 

Kai ikut membuang nafas, lalu ia berbaring menghadap Kyungsoo, menatap dalam-dalam pada mata bulat itu. “Bisakah kau menjelaskannya padaku?” pintanya.

 

 

Kyungsoo menggigit bibirnya. “Semuanya adalah rekayasa. Pertemuan kita di dalam klab, pertemuan kita di Bridal waktu itu, dan juga di pesta pernikahan Luhan, segalanya telah diatur oleh Kris. Kau ingat ketika aku mengumpat di dalam klab waktu itu? Itu bukan karena mobil yang menjemputku mogok, hanya saja Kris mengirimiku SMS, menekanku agar aku melakukan yang terbaik untuk memerangkapmu, sayangnya aku sudah terlalu kalut dan emosi padanya hingga aku bersikap–kau tahu maksudku kan?” kata Kyungsoo, dan Kai terkekeh.

 

 

“Jadi maksudmu kau sebenarnya tak bermaksud bersikap ketus padaku seperti itu pada awalnya dan reaksimu itu adalah karena tekanan yang diberikan oleh Kris, begitu? Kris bilang kau adalah pria yang arogan, jadi kupikir sangat wajar jika kau bersikap seburuk itu padaku.”

 

 

Kyungsoo cemberut. “Yah, kuakui aku memang agak–begitu,” katanya, membuat Kai tertawa. “Tak apa, aku menyukaimu apa adanya,” kata Kai menenangkan.

 

 

Kyungsoo tersenyum, kemudian mengecup bibir Kai satu kali. “Aku juga sengaja meninggalkan ponselku waktu itu agar kau datang mengembalikannya,” lanjutnya lagi, dan Kai mengerutkan keningnya dalam sekejap.

 

 

“Waktu aku mengambil pakaian pengantin milik Sehun-Luhan?” tanyanya, dan Kyungsoo menjawabnya dengan anggukan.

 

 

“Ya, saat itu aku sengaja meninggalkannya, sesuai perintah Kris.”

 

 

Mereka sama-sama diam setelahnya, tapi kemudian Kai terkekeh geli. “Jadi segalanya sudah kalian rencanakan dengan baik ya? Apakah termasuk kehadiranmu di pesta pernikahan Luhan juga?” –Kyungsoo mengangguk– “Luhan bukan temanku. Aku tak mengenal sepupumu itu, Kai.”

 

 

Kai mengangguk-angguk mengerti. “Kalian hebat,” katanya, entahlah itu pujian atau apa, tapi Kai memang benar-benar salut pada dua orang itu. “Aku sebenarnya masih tak mengerti kenapa kalian menjebakku. Aku tak tahu apa motif kalian, tapi aku benar-benar merasa hancur ketika mengetahui kau dan Kris bersekongkol di belakangku untuk alasan tertentu. Aku sudah terpikat padamu sejak pertama kali kita saling mengenal, dan setelah berpikir sekian kali, aku sadar kalau aku memang menyukaimu, padahal sebelumnya aku telah menyukai Luhan hingga bertahun-tahun lamanya,” kata Kai, lalu membuang nafasnya satu kali. Namun ucapannya itu membuat raut wajah Kyungsoo sedikit berubah murung. “Kau pernah menyukai Luhan untuk waktu yang begitu lama?” tanyanya lirih, kemudian ia mengangguk-angguk mengerti, “ya tentu saja, sepupumu itu sangat cantik,” lanjutnya, kemudian ia melepaskan dirinya dari pelukan Kai.

 

 

Kai kembali menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya. “Jangan begitu, yang terpenting sekarang aku hanya menyukaimu…” katanya menenangkan, dan Kyungsoo hanya diam.

 

 

“Lalu bisakah kau jelaskan padaku tentang mengapa Kris melakukan semua ini? Apa hubunganmu dengannya?” tanya Kai serius.

 

 

Kyungsoo menggigit bibirnya, kemudian ia membenamkan wajahnya dalam-dalam di dada Kai. Kyungsoo menghabiskan beberapa detik dalam diam sebelum akhirnya menjawab,”Kris pikir kau adalah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Lay,” katanya, dan ucapannya itu sukses membuat satu kerutan yang dalam di kening Kai.

 

 

“Kecelakaan? Lay? Siapa?” tanyanya bingung.

 

 

Kyungsoo menatap Kai dalam-dalam. “Lay, tunangannya Kris. Mereka sudah hampir menikah, tapi sebuah kecelakaan merenggut kesadaran Lay hingga ia koma selama bertahun-tahun,” jelas Kyungsoo. Pria mungil itu menarik nafas satu kali, “dan Kris menemukan jika kau terlibat dalam kecelakaan itu. Dia menemukan namamu dari kepolisian yang menangani kasusnya, dan sejak itu dia memburumu. Dia mempelajari apapun tentangmu secara diam-diam, dan dia mendapatkanmu–dengan memanfaatkanku…” lanjut Kyungsoo dengan suara yang mulai bergetar.

 

 

Kai berpikir keras sampai keningnya berkerut sangat dalam. “Aku tak mengerti. Aku tak bisa mengingat apapun. Seingatku, aku tak pernah terlibat dalam kecelakaan apapun,” katanya.

 

 

Kyungsoo terdiam. Pemuda itu juga sedang berpikir.

 

 

“Kecelakaan apa maksudnya? Aku benar-benar tak pernah terlibat dalam kecelakaan apapun Kyungie, aku berani bersumpah!” kata Kai bersikeras.

 

 

“Entahlah, aku juga tak mengerti. Mungkin kita harus mencari tahu lebih jauh tentang kasus ini. Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi, aku hanya boneka yang diutus Kris untuk memerangkapmu, hanya itu,” kata Kyungsoo.

 

 

Kai mengangguk mengerti, lalu ia kembali membawa Kyungsoo ke dalam pelukannya. “Lalu apa hubunganmu dengan Kris sebenarnya? Apa kalian adalah sepasang kekasih?” tanya Kai dengan nada pahit dan ia meringis ketika ia mengingat ‘saat itu’.

 

 

“Tidak. Kami tak memiliki hubungan istimewa seperti itu. Kris–hanya sesosok malaikat penolong bagiku,” jawab Kyungsoo.

 

 

Kai terdiam.

 

 

Kyungsoo menarik nafas panjang, kemudian ia melanjutkan ucapannya, “aku adalah remaja yang malang saat itu. Ayah dan Ibuku meninggal, lalu mewariskan sejumlah hutang yang sangat besar padaku. Aku tak pernah melewatkan seharipun tanpa berlari kesana-kemari demi menyelamatkan diriku dari para penagih hutang itu, dan saat itulah aku bertemu dengannya. Kris menolongku keluar dari segala masalah, dan tak hanya itu, ia bahkan mengubahku menjadi sesosok pria populer seperti sekarang. Kris sebenarnya baik, tapi–entahlah, dia sedikit aneh semenjak kecelakaan itu terjadi, lebih tepatnya–setelah tunangannya tak bergerak,” jelas Kyungsoo.

 

 

Kai membuang nafas beratnya, kemudian ia mengangguk mengerti. “Mungkin aku harus bertemu dengannya dan membicarakan segalanya dengan kepala dingin,” kata Kai, tapi Kyungsoo menggeleng, “aku ragu dia bisa berbicara dengan kepala dingin,” katanya.

 

 

Kai kembali membuang nafasnya, “kalau begitu, aku akan berusaha mencari informasi dan mengumpulkan bukti-bukti bahwa aku tak bersalah,” katanya kemudian.

 

 

Kyungsoo menatapnya dalam-dalam, dan Kai terkekeh. “Tenanglah, aku pasti bisa mengatasi semuanya,” katanya menenangkan, lalu ia mengecup kening Kyungsoo satu kali.

 

 

“Kai…”

 

 

“Hmm?”

 

 

“Bagaimana kau bisa menemukan hubunganku dan Kris? Kau tahu? Kami sudah menyembunyikannya serapi mungkin dan berusaha tak saling mengenal satu sama lain di depanmu. Bagaimana kau bisa tahu jika aku dan dia bekerja sama untuk menghancurkanmu?”

 

 

Kai tersenyum, “aku melihat kalian berciuman ketika kau berakting sebagai kekasihku,” katanya dengan nada getir, membuat mata Kyungsoo melebar. Kyungsoo beringsut duduk, kemudian ia menjelaskan segalanya dengan gugup.

 

 

“K–Kai, aku hanya dimanfaatkan…aku bersumpah, aku tak pernah menginginkan ciuman–atau apapun dari Kris. Dia sakit Kai, dia kadang tak tahu apa yang dia lakukan, dan aku tak mampu melawannya. Aku–“

 

 

“Ssstttt, tak apa sayang. Yang penting sekarang kau hanya mencintaiku,” kata Kai sambil melemparkan senyuman lembutnya, membuat Kyungsoo mampu bernafas dengan lega.

 

 

Kyungsoo mengecup bibir Kai satu kali, “aku sangat mencintaimu, sungguh,” katanya, dan Kai kembali tersenyum. “Ya, aku tahu. Aku juga mencintaimu Kyungie…” kata Kai lembut.

 

.

.

.

-Trouble Marriage-

.

.

.

Sehun telah berada di depan pintu Apartemen jam tiga sore, padahal biasanya ia baru akan pulang setelah jarum jam mengarah ke angka lima. Sepanjang kegiatannya seharian ini, tak ada satupun yang bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok Luhan. Bayangan pemuda itu memenuhi seluruh bagian dalam otaknya hingga kepalanya terasa amat sakit. Seluruh ilmu yang diberikan oleh Dosen di Kampus juga tak ada yang mampu ia cerna satu bagian pun. Dia hanya diam sepanjang mata kuliah berlangsung sambil berusaha menghentikan debar-debar cemas yang merayapi dinding-dinding hatinya sejak ia mulai melangkah meninggalkan Apartemen dengan pemuda cantik yang masih pulas tertidur itu   tadi pagi.

 

 

Sehun memencet passcode dengan sangat cepat lalu masuk dengan tergesa-gesa ke dalam untuk mengecek kondisi Luhan, namun ia hanya menemukan kamar yang kosong tanpa penghuni cantiknya, dengan keadaan kamar yang entah mengapa terlihat begitu acak-acakan. Sehun mengerutkan keningnya, lalu dengan langkah ragu ia memutari seluruh bagian kamar itu bahkan hingga mengetuk pintu kamar mandi.

 

 

“Luhan?” panggilnya, namun tak ada jawaban dari dalam.

 

 

Tanpa perlu menunggu waktu yang lama kakinya telah melangkah lebar-lebar keluar dari kamar itu, menuju setiap sisi Apartemen untuk mencari pendamping hidupnya, namun lagi-lagi ia tak menemukannya dimanapun. Decakan kesal keluar dari bibir Sehun, lalu ia memutuskan berhenti mencari dan dengan cepat ia melangkah menuju lemari es untuk mengambil sebotol air dingin.

 

 

Tenggorokannya terasa amat sejuk ketika air dingin itu mengalir di dalamnya, dan bonusnya otaknya saat ini sudah terasa tak sekusut tadi. Dengan malas ia duduk di salah satu kursi meja makan, lalu tanpa menatap ke belakang, ia mengembalikan botol air dingin itu kedalam lemari es dan menutup pintunya dengan kasar. Setelahnya ia hanya terdiam sambil berpikir.

 

 

“Kemana dia? Apa dia memutuskan masuk kantor?’ –batin Sehun bertanya-tanya.

 

 

Setelah bergulat dengan segala pertanyaan yang melelahkan, Sehun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya dan melenggang dengan tubuh polos menuju kamar mandi. Dia ingin berendam hari ini, ingin melemaskan seluruh sistem tubuhnya yang sudah terasa sangat lelah saking banyaknya ia pakai untuk bergelut dengan pikirannya seharian. Dan semoga saja Luhan tak terlalu lama meninggalkan Apartemen. Dia ingin melihat rekan hidupnya yang cantik itu secepatnya.

 

 .

.

.

Sehun berjalan mondar-mandir di depan pintu Apartemen, cemas. Ini sudah jam 1 malam, dan Luhan belum muncul juga. Tak ada kabar apapun dari pria itu, sama sekali tak ada. Sehun mengerang frustasi saat ia lagi-lagi sadar bahwa mereka tak pernah bernagi nomor ponsel sejak mereka mengenal. Hal itu membuat kekesalannya semakin bertambah hingga berkali-kali lipat. Hampir saja ia membanting ponselnya sendiri tadi, tapi untungnya ia bisa mengendalikan keinginan gilanya itu. Dia tak tahu mengapa perasaannya jadi sekacau ini. Padahal baru seharian ini saja ia tak melihat Luhan.

 

 

Sejak tadi ia terus-menerus mengumpat dan mengutuki dirinya sendiri karena tampak seperti orang gila. Sayangnya ia tak mampu menahan kegilaannya itu hingga keadaannya menjadi sangat mengenaskan seperti sekarang. Dia malu mengakuinya, tapi ia benar-benar mencemaskan Luhan. Sejak tadi ia coba meyakinkan dirinya sendiri jika ia begitu hanya karena Luhan sakit. Dia mencoba yakin jika dirinya cemas hanya karena kondisi pemuda itu memang masih belum begitu sehat–setahunya. Tapi lagi-lagi ia harus mengakui jika ia bukan sekedar mencemaskan keadaan pemuda cantik itu, tapi dia–merindukan Luhan.

 

 

Shit!” umpatnya lagi-lagi, lalu ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam.

 

 

Sehun tak bisa menunggu lagi. Dia yakin jika Luhan pasti sedang lembur di kantor sekarang ini, karena itu ia memutuskan untuk menyambar jaket dan kunci mobilnya. Dia akan menyusul Luhan sekarang juga lalu ia akan meyeret paksa rekan hidupnya itu agar pulang ke Apartemen.

 

 .

.

.

-Trouble Marriage-

.

.

.

Keningnya masih berkerut dalam, dan alisnya saling bertautan, sudah sejak tadi.  Tao masih terlihat sibuk membaca dan mencari tahu tentang ‘sesuatu’ di depan layar notebook miliknya. Sesekali ia menoleh untuk melihat seseorang yang sedang tertidur pulas di salah satu Bed Stretcher yang berada di dalam ruang kerjanya dan berkali-kali ia membuang nafas beratnya karena pemuda itu belum terbangun juga. Tao sudah merasa jengah menunggu, lagipula jam kerjanya sudah selesai sejak berjam-jam yang lalu. Tapi untuk alasan tertentu, ia tak bisa meninggalkan sosok pemuda tinggi yang sedang tertidur itu, jadi dia memutuskan untuk menunggu.

 

 

Capek menatap layar notebook terus-menerus, Tao beranjak dari posisi duduknya. Dengan langkah sepelan mungkin, ia berjalan menghampiri pria yang sedang tertidur itu. Semakin ia melihat wajah tampan itu dari dekat, semakin dalam kerutan di keningnya. Pemuda yang sedang tertidur itu berkeringat. Wajahnya tampak tersiksa, entah mengapa. Tao mendekatkan telinganya kearah bibir pemuda yang tertidur itu dan ia yakin jika pria itu sedang merintih meskipun suaranya nyaris tak terdengar. Tao kembali menjauhkan kepalanya sendiri dari wajah pria itu, kemudian ia hanya menatap pemuda tampan itu dengan prihatin. Dia ambil tissue yang tergeletak di atas meja, kemudian ia menyeka titik-titik keringat yang muncul berbintik-bintik di wajah tampan itu dengan lembut.

 

 

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu Kris?” Tao berbisik pelan masih sambil menatap wajah itu. Tangannya mengusap-usap bahu Kris pelan-pelan, yang semoga saja dapat membuat tidur pemuda itu menjadi lebih tenang. Tapi tidak, karena sekejap saja Kris tersentak bangun dan langsung terduduk, membuat Tao terkejut setengah mati. “Kris? Kau baik-baik saja?” tanyanya cemas saat matanya menatap raut tersiksa dari wajah tampan itu.

 

 

Kris tersengal-sengal, dengan wajah yang agak sedikit pucat dan keringat yang masih mengalir dengan deras. Setelahnya ia memegangi kepalanya sendiri, dan keluhan yang terdengar seperti ‘Ugh’, baru saja keluar dari mulutnya, membuat Tao menjadi semakin khawatir.

 

 

“Kepalamu sakit? Apa kau butuh beberapa Aspirin?” tanya Tao, dan kali ini Kris mengangkat dagu kemudian mulai menatap tajam padanya, yang membuat Tao sedikit berdebar ngeri. “K–kau…baik-baik saja?” tanya Tao hati-hati.

 

 

Kris hanya diam hingga beberapa lama, tapi kemudian mengalihkan tatapan mengintimidasinya dari Tao kearah lain. Pemuda tinggi itu terkesiap saat merasa tangannya digenggam dengan lembut, yang mau tak mau membuatnya kembali menatap wajah Tao dengan tatapan bingung.

 

 

“Apa yang kau rasakan? Kau mau menceritakannya padaku?” tanya Tao, berusaha membuat Kris senyaman mungkin.

 

 

Kris menatap tak suka pada Tao, lalu ia mengarahkan tatapannya ke sekeliling dengan ekspresi wajah  yang sulit ditebak. “Kenapa aku bisa berada disini?” tanyanya.

 

 

“Kemarin kau jatuh tertidur setelah kau menci–ah, maksudku kau terlihat tak baik-baik saja kemarin, dan kau juga mengantuk. Karena itu aku membawamu ke sini karena kupikir kau butuh tempat yang nyaman untuk beristirahat.” Tao mencoba menjelaskan, sedikit berusaha menutupi apa yang terjadi kemarin. Lagipula Tao yakin–sangat yakin–jika Kris tak akan mengingat insiden ciuman itu.

 

 

Hening menyelimuti hingga beberapa lama, lalu tiba-tiba saja Kris berdiri dari posisi duduknya, tapi kemudian ia kembali jatuh terduduk seperti tadi karena tubuhnya lemah.

 

 

“Ugh.”

 

 

Tao menatap cemas melihat pemuda itu kembali memegangi kepalanya yang sepertinya memang sakit. Dengan hati-hati Tao menyingkirkan tangan pemuda itu dari kepalanya sendiri lalu pelan-pelan ia tuntun pria itu agar kembali berbaring. Tao mengambil alih memijat kepala pemuda tampan itu, dan anehnya Kris hanya diam menurut kali ini. Pemuda tampan itu malah memejamkan matanya, dan hanya menikmati pijatan tangan Tao tanpa mengatakan apapun.

 

 

“Kris…”

 

 

Kris membuka mata ketika mendengar namanya disebut oleh Dokter itu. Dia menjawab dengan tatapan mata, berusaha meminta penjelasan mengapa Tao memanggilnya. Dokter muda itu membuang nafasnya satu kali, kemudian ia menghentikan gerakan tangannya dan menatap mata Kris lekat-lekat.

 

 

“Apa kau akhir-akhir ini sering merasa pusing seperti ini? Merasa sangat stress? Lelah? Mimpi buruk? Atau merasa kosong di waktu-waktu tertentu?” tanyanya.

 

 

Kris diam hingga beberapa lama, tapi kemudian pemuda itu mengangguk lemah sebagai jawaban.

 

 

Tao mengusap bahu Kris, kemudian menuntun pria itu agar kembali duduk, dan anehnya lagi-lagi Kris hanya diam menurut. Padahal biasanya, ia akan menunjukkan reaksi penolakan, atau akan langsung mendengus, atau akan berbicara ketus jika Tao memulai komunikasi dengannya. Sejujurnya, Kris memang tak menyukai Tao sejak awal. Dokter itu memiliki kepribadian yang menyebalkan–menurutnya. Tapi entahlah, kali ini Kris merasa nyaman bersama Tao.

 

 

“Kau ‘sakit’ Kris, dan sakitmu itu akan semakin bertambah parah jika kau tetap seperti ini. Kau tahu itu kan?” kata Tao lagi. Dokter funky itu menggigit bibirnya, dan ia meringis ketika melihat pemuda bersurai blonde itu menundukkan kepala.

 

 

Lagi-lagi mereka hanya diam, lalu tiba-tiba saja tubuh Kris bergetar. Beberapa tetes airmata jatuh ke permukaan celana jeans hitam yang ia kenakan, membuat Tao terkesiap karenanya.

 

 

“Kris?” panggil Tao berhati-hati, kemudian ia kembali mengusap bahu pemuda tampan itu. Tapi tanpa diduga-duga, Kris menarik tubuhnya, memeluknya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Tao dengan getaran tubuh yang semakin kuat. Tanpa bertanya-tanya lebih banyak Tao langsung mengangkat tangannya dan ia usap punggung pemuda tampan itu untuk menenangkan. Mereka hanya diam hingga beberapa lama, hingga akhirnya–

 

 

“Aku sakit…aku sakit…tolong aku…keluarkan aku dari keadaan ini….” Kris merintih diantara isakan kesakitannya, dan entah mengapa, entah apa yang terjadi, tapi airmata Tao juga ikut menetes. Tao tak tahu apa alasan dibalik nyeri yang menyerang jantungnya sekarang. Dia tak tahu perasaan apa itu. Dia hanya tahu jika pria yang sedang memeluknya saat ini sedang berada dalam masa-masa yang begitu sulit. Kris sangat rapuh, dan ia membutuhkan seseorang untuk menenangkannya. Tao memejamkan mata, lalu ia mengeratkan pelukannya pada tubuh pemuda blonde itu, berusaha membuat Kris merasa senyaman mungkin dalam pelukannya. Kris sedang sakit, dan sakitnya ini akan menjurus ke kategori parah jika keadaanya terus-menerus seperti ini.

 

 

Tao menarik dirinya setelah mereka berpelukan hingga cukup lama, lalu entah karena refleks tubuh atau apa, jari-jarinya malah sudah bertengger manis di kedua rahang Kris. Tatapan mereka bertemu hingga beberapa saat, semakin lama semakin redup hingga dahi-dahi mereka saling menempel satu sama lain.

 

 

“Tak apa-apa Kris, tenanglah…semuanya akan baik-baik saja…” bisik Tao lembut, lalu kejadian kemarin kembali berulang. Entah siapa yang memulai, bibir keduanya telah bertemu. Nafas mereka bertabrakan, menerpa kulit hidung masing-masing. Kris bergerak lebih dulu, memeluk tengkuk Tao dengan telapak tangannya yang besar sambil memiringkan kepalanya, dan Tao hanya diam, pasrah menerima semuanya. Dia hanya menurut dan ikut bergerak bersama Kris setelahnya.

 

.

.

.

-Trouble Marriage-

.

.

.

Pemuda pucat itu mengerang saat ia merasakan pusing-pusing yang mendera kepalanya. Gila. Sungguh gila. Sehun tak menyangka jika ia bisa bertingkah segila ini hanya karena ia tak dapat melihat Luhan. Demi Tuhan, ia tidak tidur semalaman. Tadi malam ia mengunjungi kantor Luhan untuk membawa rekan hidupnya itu pulang, tapi ia tak menemukan Luhan di sana. Sehun juga mencari keberadaan pria cantiknya itu melalui Kai, tapi usahanya sia-sia saja karena ponsel Kai sulit dihubungi.

 

 

Sehun berdiri dengan lemas dari sofa yang ia duduki, kemudian ia terdiam sambil menatap kondisi Apartemennya yang acak-acakan. Sehun baru menyadari jika pemuda cantik itu–Luhan –ternyata memiliki peranan yang sangat penting dalam kelangsungan hidupnya. Ini konyol, tapi–

 

 

“Aku tak bisa tanpanya…” gumamnya lirih, kecewa pada dirinya yang lemah. Dia tak tahu sejak kapan–dia benar-benar tak tahu. Sehun tak bisa membantahnya lagi sekarang. Dia tak sanggup untuk terus-menerus menolak perasaan aneh itu. Dia tak bisa. Sehun yakin sekarang jika dirinya–Oh Ya Tuhan! Dia kalah. Dia benar-benar telah dikalahkan oleh perasaannya sendiri.

 

 

“Sial! Sialan!” Sehun kembali mengumpat kesal. “Aku menyukainya…Aku menyukai dia!” erangnya sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.

 

 

Sehun bergerak dengan secepat kilat, melangkah setengah berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya lagi. Mengabaikan pusing yang mendera kepalanya, ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Luhan yang ditinggali oleh Kai dan Ibunya sekarang. Dia tak mau repot-repot memikirkan kuliahnya–dan apapun lagi selain itu. Dia hanya membutuhkan Luhan untuk saat ini. Dia sangat berharap jika Luhan berada di sana, di rumah mewahnya, dalam keadaan yang baik-baik saja. Dia tak bisa menghentikan segala pikiran buruknya sejak kemarin, dia benar-benar cemas. Di tak bisa berpikir bagaimana dirinya jika saja ia tak menemukan rekan hidupnya itu disana nanti. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jika sampai terjadi apa-apa pada pemuda cantik itu. Tidak! Dia tak akan bisa melewati keadaan itu jika itu benar-benar terjadi.

 

 

Sehun berlari-lari kecil menuju pintu utama Apartemen agar ia cepat sampai ke rumah Luhan. Dia tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi. Dia benar-benar merindukan pria itu. Tapi tanpa ia duga ia malah bertemu dengan Ibu kandungnya sendiri di depan pintu Apartemen.  Dia sempat mengerang ketika menemukan Ibunya, tapi ia tak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan kemana ia akan pergi sekarang.

 

 

Eomma, maaf…aku harus pergi,” kata Sehun buru-buru, dan ia melangkah cepat, berniat pergi, tapi suara Ibunya menghentikan paksa langkah kakinya.

 

 

“Sehunnie, kau mau kemana? Apa kau baik-baik saja?” tanya Ibunya, heran melihat kondisi puteranya yang tampak kacau.

 

 

Sehun membuang nafasnya lalu ia menyempatkan diri berbalik untuk memeluk kilat Ibunya  kandungnya.  “Maaf Eomma, tapi aku harus buru-buru pergi. Aku akan menemui Eomma nanti, oke?” katanya. Lalu tanpa membuang waktu ia sudah mengayunkan kaki panjangnya untuk pergi, tapi lagi-lagi–

 

 

“Sehun, ini masih sangat pagi dan Eomma tak tahu apa yang membuatmu menjadi begitu terburu-buru, tapi setidaknya kau harus sarapan dulu. Luhan tak ada untuk mengurusmu, jadi Eomma sengaja datang untuk memastikan bahwa–“

 

 

Ucapan wanita setengah baya itu terhenti ketika putera kandungnya tiba-tiba saja berbalik, berlari cepat kearahnya dan mencengkram bahunya dengan kuat.

 

 

Eomma tahu Luhan dimana?” tanya Sehun dengan nafas yang memburu. Semangatnya muncul begitu saja hingga tubuhnya terasa begitu gerah. Dia merasa seperti baru saja terbebas dari sebuah labirin yang sangat gelap karena Ibunya ini tiba-tiba datang untuk memberikan secercah cahaya untuknya.

 

 

Sehun mengguncang kecil bahu Ibunya, menatap Ibunya itu dengan wajah penuh harap. “Dimana dia Eomma? Dimana Luhan? Cepat katakan padaku dimana dia!” katanya tak sabaran.

 

 

.

.

.

-Trouble Marriage-

.

.

.

Dokumen, ruangan kantor, dokumen. Sudah 3 hari Luhan bergelut dengan semua itu, dan tubuhnya sudah terasa amat lelah. Kondisinya tak begitu baik saat ia terbang ke negara ini 3 hari yang lalu demi menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang entah mengapa tiba-tiba saja menemukan masalah. Untung saja ia mampu menyelesaikan segala masalah yang ada meskipun belum sepenuhnya.

 

 

Luhan menepuk-nepuk bahunya, kemudian ia menatap kosong pada cahaya putih dari luar jendela ruangan kantornya.  Otaknya terasa penat, kusut, dan ia merasa hampa. Sudah tiga hari ia tak melihat suaminya. Hal itu membuat perasaannya menjadi tak begitu baik. Dia merindukan Sehun.

 

 

Memutuskan untuk menjernihkan pikirannya, Luhan keluar dari ruangan kantor yang mebosankan itu. Dia abaikan para karyawan yang menyapa hormat padanya, lalu ia memasuki pintu lift menuju ke bawah. Selama lift berjalan, ia hanya termenung sendirian. Pikirannya melayang-layang pada sosok suami yang ia cintai dan tiba-tiba saja ia teringat pada salah satu drama yang pernah ia tonton di televisi ketika ia memikirkan Sehun. Di dalam drama itu, pemeran wanitanya mengatakan sebuah mitos, yang katanya jika kita menahan nafas di dalam lift dan menghitung sampai tiga sambil memikirkan seseorang yang kita cintai, maka orang itu pasti akan muncul di hadapan kita.

 

 

Luhan terkekeh geli ketika ia memikirkan ide konyol itu namun entah mengapa ia sangat ingin mencobanya. Luhan merasa jika ini gila, tapi–

 

 

Dia memejamkan mata, lalu mulai menahan nafasnya sendiri. Dia memikirkan wajah suaminya sambil mulai menghitung di dalam hati.

 

 

‘Satu…’

 

 

‘Dua…’

 

 

‘Tiga…’

 

 

Sehunnie…aku merindukanmu….

 

 

Ting!

 

 

Pintu Apartemen itu terbuka. Luhan membuka matanya. Dia merasa geli sendiri pada kekonyolan yang baru saja ia lakukan. Dia menarik nafasnya, kemudian ia mulai melangkah dan mendongak, berniat keluar dari dalam lift itu. Tapi belum lagi niatnya ia laksanakan, tubuhnya telah membeku lebih dulu saat matanya menemukan seseorang yang berdiri di depan lift, yang tadinya tampak terburu-buru ingin memasuki lift yang ia tumpangi. Mata rusanya melebar, dan aliran darahnya kian cepat diiringi detakan jantung yang sontak menggila dalam sekejap. Pria yang berada di hadapannya itu menatapnya dengan tatapan yang entah mengandung makna apa. Tapi tatapan dari mata berkelopak sipit itu memerangkap bayangan dirinya lekat-lekat. Luhan berharap jika ini hanyalah halusinasi konyolnya saja, tapi–

 

 

“Lu…”

 

 

Luhan merasa jika jantungnya seolah berhenti berdetak ketika ia mendengar suara pemuda itu. Dia tak sedang bermimpi. Ini adalah kenyataan. Mantera ajaibnya yang konyol benar-benar membawa pria itu ke hadapannya.

 

 

“Se–Sehun…kenapa kau berada di sini?”

 

 

Diam.

 

 

Sehun tak mengatakan apapun, membiarkan Luhan bergelut dengan isi pikirannya sendiri. Mereka hanya saling mengadu tatapan hingga beberapa detik, dan terputus begitu saja ketika lift bergerak menutup. Untung Sehun segera menahannya dengan sigap, sedangkan Luhan hanya diam pada posisinya, masih memandangi wajah suaminya.

 

 

Lagi-lagi tatapan mereka bertemu. Sehun kembali menatap Luhan sambil menahan pintu lift. Dan hanya dalam sepersekian detik saja jantung Luhan langsung bertalu-talu tak terkendali. Entah sejak kapan, tiba-tiba saja ia mendapatkan tubuhnya terperangkap di dalam pelukan hangat dari seorang Oh Sehun. Pemuda itu memeluknya dengan sangat erat, menjebak tubuh Luhan rapat-rapat pada tubuhnya sendiri. Mata pemuda pucat itu terpejam, sedangkan Luhan masih dengan mata terbuka, hanya diam seperti patung di dalam pelukan suaminya.

 

 

Cahaya meredup ketika pintu lift kembali tertutup, membawa tubuh mereka naik lagi ke lantai atas. Mereka masih sama-sama diam, masih dengan tubuh yang saling merapat erat. Luhan merinding ketika merasakan bibir Sehun menekan lembut lekuk lehernya, dan ia berjengit geli saat merasakan hidung pemuda itu menghirup aroma lehernya dalam-dalam. Dia tak tahu ini mimpi atau bukan, tapi sepertinya Sehun baru saja mencium pelipisnya tadi.

 

 

Luhan hanya bisa menatap bingung pada Sehun ketika pemuda itu memisahkan diri darinya. Pipinya terasa hangat karena kedua telapak tangan suaminya berada di sana sekarang, menangkupnya dan membelai sedikit dengan ibu jarinya yang panjang. Wajah pemuda itu mendekat, dan tatapannya mengunci tatapan Luhan.

 

 

“Luhan, aku–“

 

 

Ting!

 

 

Keduanya terkesiap ketika pintu lift kembali terbuka. Lalu–

 

 

“Luhannie?”

 

 

Dan keduanya menoleh terkejut saat mendengar seseorang memanggil nama Luhan. Sehun menatap orang itu, lalu ia menoleh kearah Luhan. Selanjutnya ia mengerutkan kening saat ia menangkap ekspresi panik  pemuda cantiknya ketika menatap orang itu.


To Be Continue


 A/N : Jangan lupa tinggalkan kesan kalian setelah membaca Chapter ini, XD.

Advertisements