LIAR

LIAR CANYOL

By tmarionlie

.

ChanBaek

.

Y
aoi | School Life | Fluff Romance | Shortfict | Rate T

.

 


Baekhyun membawa kaki-kaki mungilnya berjalan melewati lorong-lorong kelas. Sedikit lagi kelasnya sampai. “Aishh, kaki sialan!” gerutunya, mengutuk kakinya sendiri mengapa bisa berukuran pendek. Perjalanan ke kelas saja terasa sangat panjang. Akhirnya ia hampir sampai juga di ambang pintu kelasnya. Tinggal 4 langkah lagi saja, namun kaki-kaki pendeknya mendadak berhenti saat melihat ‘orang itu’.

“Hai cantik,” kata ‘dia’ sambil melambai konyol kearah Baekhyun.

Baekhyun mendengus keras. Cengiran lebar itu, Baekhyun tak menyukainya. Dengan perasaan jengkel pria mungil ini masuk ke dalam kelasnya dan melewati pria tinggi tadi begitu saja. Tapi pria tinggi tadi menariknya hingga tubuh mungil Baekhyun terjatuh dalam pelukannya. Baekhyun berontak sampai akhirnya terbebas, lalu ia menginjak kuat-kuat kaki si tinggi tadi.

“Aww-Aww…sakit Baek!”

“Rasakan!”

Baekhyun menghampiri mejanya dengan cepat, lalu duduk ke kursinya sendiri. Sedangkan si tinggi itu mengekor dengan cepat de belakangnya.

“Baek, nanti kita kencan yuk!”

“Aishh…Park Chanyeol, bisakah kau tak menggangguku satu hariiiiiiiiiii saja?” kata Baekhyun sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan hidungnya sendiri.

Chanyeol mengacungkan telunjuknya juga, menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan bergantian. “No-no-no…Tidak bisa Baekhyun, aku suka mengganggumu.”

Baekhyun cemberut, lalu menarik rambut Chanyeol yang keriting, menjambaknya.

“Awww…..Ya! Jangan menyiksaku terus-menerus kenapa sih? Dasar anarkis!”

Baekhyun tak mengeluarkan sepatah katapun, malah menjulurkan lidahnya.

“Dasar jelek!” kata Chanyeol.

“Tch, baru 5 menit yang lalu memanggilku cantik, sekarang bilang aku jelek. Dasar labil!”

“Kau cantik kalau kau mau jadi kekasihku.”

“Apa kau sudah gila? Aku ini pria, bodoh!”

“Benarkah? Tapi wajahmu meragukan.”

“YAK!”

“Haha, aku hanya bercanda. Begitu saja marah.”

“Sudahlah, pergi sana!” usir Baekhyun.

Chanyeol baru mau menyanggah ucapan Baekhyun, tapi bel keburu berbunyi, hingga mau tak mau Chanyeol terpaksa pergi ke kelasnya sendiri. Untung saja ia telah berhasil mencubit pipi Baekhyun satu kali sebelum ia kabur dengan cepat sambil tertawa-tawa geli karena Baekhyun berteriak seperti wanita karena cubitannya tadi.

.

 

.

 

.

“Aduh, panasnya…” keluh Baekhyun. Pria pendek ini berjalan sambil tak henti-henti mengusap peluhnya sendiri menggunakan sapu tangan berwarna pink bermotif stroberi miliknya. Bibir tipisnya sejak tadi mengutuk-ngutuk matahari yang bersinar sangat terik saat ini, dan oh, jangan heran, mengutuk adalah hobi Baekhyun.

Baekhyun masih berjalan sambil memperbaiki letak tas ranselnya berulang kali, lalu tiba-tiba saja matahari meredup, membuatnya mengernyit bingung dan langsung mendongak ke atas.

Eh??

Ternyata bukan matahari yang meredup, tapi sebuah payung bermotif pelangi sedang melayang di atas kepalanya saat ini. Baekhyun menoleh ke samping, dan tepat seperti dugaannya, si Tiang Listrik pengganggu itu sudah berada di sana, dengan cengiran lebarnya.

“Kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Baekhyun.

Chanyeol mengedikkan bahunya sekali.

“Dan kenapa kau bisa membawa payung?”

Chanyeol lagi-lagi mengedikkan bahunya.

“Hei, kau itu–”

“Jangan cerewet!” potong Chanyeol.

Baekhyun mendengus keras, lalu hanya diam sambil berjalan beriringan dengan Chanyeol.

.

 

.

 

.

Zrasshhhhhhhh….

“Yahhhh…hujan. Aishhhhhhh!!!!!”

Seperti biasa, Baekhyun mengutuk-ngutuk cuaca, hobinya. Pasti pria ini akan masuk neraka nanti karena selalu mengutuk apapun yang diberikan Tuhan pada alam tempat dia hidup.

Baekhyun mengumpat-umpat kesal sambil berkacak pinggang. Tak ada lagi siswa yang tinggal, hanya dirinya sendiri yang tersisa karena tadi dia harus membersihkan ruang Kepala Sekolah, hukuman yang di dapatnya dari Guru matematika karena tadi ia tertidur di dalam kelas saat jam belajar masih berlangsung.

Plukkk’

Baekhyun menarik sesuatu yang tiba-tiba terjatuh ke atas kepalanya dan menemukan sebuah rain coat dalam genggamannya. Dia menoleh dengan cepat, dan tak salah lagi, Chanyeol sudah tersenyum lebar di belakangnya.

“Kenapa kau masih disini?” tanyanya heran pada sosok tinggi itu.

“Aku menunggumu.”

Baekhyun menatap rain coat itu dan Chanyeol berganti-gantian, lalu Baekhyun mendecih. “Dasar pengganggu!” kata Baekhyun, lalu ia tersenyum sangat manis pada Chanyeol membuat Chanyeol membeku. Bagaimana tidak? Baru kali ini Baekhyun melemparkan senyum yang teramat cantik untuknya.

“Hei!” panggil Baekhyun sambil mengibas-ngibaskan tangan berjari lentiknya di depan mata Chanyeol yang terlihat kosong, yang langsung membuat Chanyeol terkesiap. “Ayo pulang!” kata Baekhyun. Tubuhnya sudah tenggelam dalam rain coat milik Chanyeol, membuat Chanyeol tersenyum geli karenanya.

“Ayo!” kata Chanyeol sambil menarik tangan Baekhyun, tapi…

“Eh tunggu!” kata Baekhyun tiba-tiba.

Chanyeol berhenti.

“Kau tidak memakai apa-apa? Tak ada rain coat lainnya?”

Chanyeol menggeleng. “Kan sudah kuberikan padamu.”

“Tapi nanti kau basah.”

“Ya pasti basah.”

“Bagaimana kalau kau sakit?” tanya Baekhyun dengan ekspresi wajah yang entah bagaimana, membuat Chanyeol langsung tersenyum lebar.

“Apa kau sedang mengkhawatirkan aku? goda Chanyeol.

“Tidak!” jawab Baekhyun, lalu ia mulai menggerutu tak jelas.

.

 

.

 

.
Baekhyun celingukan ke sana-kemari. Chanyeol tak tampak di manapun. Padahal biasanya pria tinggi itu akan terus-menerus menempel padanya. Baekhyun mendatangi kelas Chanyeol dan bertanya pada salah satu siswa.

“Apa Chanyeol ada di dalam?” tanyanya.

Siswa itu menggeleng. “Sudah 3 hari dia tak masuk sekolah.”

“Huh? memangnya ke mana dia?”

“Sakit.”

Baekhyun membeku di tempatnya.

‘Chanyeol sakit? –batinnya.

“Apa ada lagi yang mau kau tanyakan?” tanya siswa itu.

Baekhyun hanya diam, masih berpikir dengan kening yang mengerut dalam.

“Hei!” tegur siswa tadi.

Baekhyun terkesiap. “Ah, ya…kau tau di mana rumah Chanyeol?”
.

 

.

 

.

Baekhyun memperbaiki letak ranselnya, lalu berjalan mantap ke arah pagar rumah itu. Pagarnya pendek, hanya sebatas dada Baekhyun. Maka dengan mudah Baekhyun membuka pengait pagar dan masuk ke dalamnya.

Tingtong-Tingtong!

Baekhyun memencet bel rumah itu berkali-kali, dan tak lama pria tinggi dengan wajah pucat dan rambut yang acak-acakan membuka pintunya.

“Baekhyun?” kata Chanyeol tak percaya.

Baekhyun meniup poninya, lalu mendorong paksa tubuh Chanyeol dan masuk ke dalam. Baekhyun mendudukkan Chanyeol di kursinya sendiri dan menempelkan telapak tangannya pada kening Chanyeol.

“Jadi kau sakit?” tanya Baekhyun dengan nada ketus, seperti biasanya.

Chanyeol tersenyum lebar. Lagi-lagi.

“Aku tak menyuruhmu tersenyum!”

“Kau mengkhawatirkanku?”

“Tidak!”

“Lalu untuk apa kau datang?”

“Aku mau….eungg…Ah, aku mau mengembalikan rain coat milikmu.”

Chanyeol menadahkan tangannya.

 

“Mana?”

Baekhyun menggaruk tengkuknya.

 

“Tapi aku lupa membawanya.”

Chanyeol terkekeh.

 

“Bilang saja kalau kau mengkhawatirkanku.”

“Tidak.”

“Iya!”

“Tidak!”

“Iya!”

“Terserahlah!”

“Haha.”

.

 

.

 

.

 

Baekhyun menggerutu (lagi-lagi) saat bel rumahnya berbunyi. Dengan langkah menghentak-hentak Baekhyun berjalan menuju pintu keluar. Tak ada siapapun di rumah, jadi mau tak mau Baekhyun harus membukakan pintu untuk ‘tamunya’ itu.

“Hhh…padahal aku sudah sangat mengantuk,” keluhnya.

Cklekk’

Mata Baekhyun membulat sempurna ketika ia melihat ‘seekor’ Teddy Bear berbulu cokelat berukuran besar muncul di depan pintu.

“Hallo Baekhyun” kata seseorang di balik Teddy Bear itu dengan suara yang dibuat-buat.

Baekhyun mendecih. Dia tahu itu siapa.

“Chanyeol, kau mengganggu waktu istirahatku, ck!”

Chanyeol memunculkan wajahnya dan tersenyum lebar.

“Kenapa kau berada di sini? Bukankah kau sakit?” tanya Baekhyun.

“Kau periksa sendiri saja aku masih sakit atau tidak,” kata Chanyeol.

Baekhyun merebut Teddy Bear itu dari genggaman tangan Chanyeol dan langsung memeluknya, lalu mengarahkan tangannya sendiri ke pipi Chanyeol.

Hangat…

“Kau masih demam Yeol…”

Chanyeol mengedikkan bahunya tak peduli.

“Masuklah…” kata Baekhyun sambil menarik tangan Chanyeol ke dalam.

.

 

.

 

.

 

 

Awkward….

Kedua pria itu hanya diam. Baekhyun memain-mainkan telinga beruang cokelat itu sedang Chanyeol hanya duduk diam sambil menatap Baekhyun.

“Berhenti menatapiku seperti itu!” tegur Baekhyun.

Chanyeol tertawa. “Kau cantik.”

Baekhyun mendengus.

Diam.

“Chanyeol…”

“Hm?”

“Kenapa kau selalu menempel terus padaku? Kau itu menggangguku, tahu tidak?”

“Tidak.”

“Ck! Aku serius Park Chanyeol!”

“Aku menyukaimu, makanya selalu menempel padamu. Kau suka atau tidak aku tak peduli,” kata Chanyeol cuek.

“Apa kau gay?”

“Ya.”

“Tapi aku bukan gay.”

“Terserah.”

Baekhyun membuang nafasnya sekali.

“Jadi maumu apa?”

Chanyeol tersenyum menyebalkan lagi.

“Aku mau kau jadi pacarku Baek.”

“Apa kau gila? Aku tak mau!”

Chanyeol memijit pelipisnya, tapi kemudian menyeringai aneh.

“Jangan menolak Baek, nanti kau menyesal,” kata Chanyeol.

“Cihh, yang benar saja!” cibir Baekhyun.

Chanyeol membuang nafasnya lagi. “Kau kenal Luhan?”tanyanya.

“Ya.”

“Dia cantik kan?”

“Biasa saja.”

Chanyeol terkekeh.

“Menurutku dia cantik…lebih cantik dari kau malah.”

“Ap-apa katamu? Yak! Jangan membanding-bandingkanku dengan dia. Kau menyebalkan!” kutuk Baekhyun tak terima.

“Dia menyukaiku Baek…” kata Chanyeol, membuat Baekhyun membeku.

“La-lalu?” tanya Baekhyun cemas.

“Ya kalau kau tak mau denganku, aku berencana menerima cintanya.”

“APA?!” teriak Baekhyun sambil berdiri dari posisi duduknya.

Chanyeol tertawa dalam hati.

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol dengan tampang -sok- polosnya.

Baekhyun kembali duduk.

“Hah? Aku kenapa? A–aku tidak apa-apa kok!” jawab Baekhyun salah tingkah.

“Oh ya, kau tak mau mengucapkan terima kasih?” tanya Chanyeol.

“Untuk apa?”

“Aku memberimu beruang besar ini.”

Baekhyun merengut. “Aku tak butuh boneka ini. Nih,ambil kembali!” kata Baekhyun sambil menyodorkan boneka itu ke Chanyeol.

Chanyeol mengambilnya tanpa perasaan.

“Ya sudah kalau tak mau. Akan kuberikan pada Luhan besok”

Dengan secepat bayangan Baekhyun merebut bonekanya kembali.

“Aku ambil hadiahnya, terima kasih!” kata Baekhyun ketus, membuat Chanyeol tertawa.

“Aku pulang ya,” kata Chanyeol tiba-tiba.

“Huh? Pu-pulang?” tanya Baekhyun bingung.

Chanyeol mengangguk. “Iya, pulang. Kau kan sudah menolakku, jadi untuk apa lagi aku disini? Aku akan menyerah. Besok aku mau menerima cinta Luhan saja,” kata Chanyeol.

“Hah?” Baekhyun menjatuhkan rahangnya.

Bye-bye Baekkie…” kata Chanyeol sambil memberika flying kiss-nya pada Baekhyun.

“Eeee….Chanyeol, tunggu!!!!”

Chanyeol berhenti dan berbalik menghadap Baekhyun.

“Ka-kau bilang kau suka padaku….” kata Baekhyun, jarinya sudah memelintir bajunya sendiri, gugup.

“Ya, tapi kau tak suka padaku kan?”

“I-ituuuuu….eunngggg….”

“Ya sudah ya, bye Baekhyun!”

“YA! Park Chanyeol!!” panggil Baekhyun kesal.

“Apa sih?” tanya Chanyeol sambil menaik-naikkan dagunya.

“Jangan menerima cinta Luhan…pacaran denganku saja,” kata Baekhyun lalu menunduk, malu.

“Huh? Apa maksudnya?” tanya Chanyeol. Lagi-lagi sok polos.

Baekhyun cemberut. “Aku menyukaimu, idiot!” kata Baekhyun ketus.

“Tapi kau terlihat tak menyukaiku, kau terlihat marah…” kata Chanyeol.

“Isshhhh….kau menyebalkan!” umpat Baekhyun.

Chanyeol terkekeh. “Aku tak percaya. Bukankah kau bilang kau bukan gay?”

“Dan bukankah kau bilang kau tak peduli? Aku juga tak peduli aku gay atau bukan, yang penting kan aku menyukaimu!” sungut Baekhyun.

“Aku tetap tak percaya. Buktikan jika kau memang suka padaku,” tuntut Chanyeol.

“Caranya?”

“Cium aku –disini…” kata Chanyeol sambil menepuk-nepuk bibirnya.

“Kau licik!” umpat Baekhyun.

Chanyeol mengedikkan bahunya.

“Kalau tak mau ya sudah,” kata Chanyeol, lalu berancang-ancang pergi.

“Baiklah!” kata Baekhyun cepat.

Chanyeol tertawa dalam hati. Lalu ia menggerak-gerakkan jari telunjuknya, menyuruh Baekhyun mendekat. Baekhyun mendekat juga setelah (lagi-lagi) mengutuk-ngutuk dalam hati.

“Ayo cium aku,” kata Chanyeol sambil merendahkan tubuhnya sedikit.

Baekhyun menangkup kedua pipi tembem Chanyeol, lalu…

Chup!

“Sudah!” kata Baekhyun kesal.

Chanyeol tertawa, kemudian mengeluarkan sebuah kamera digital berukuran mini dari dalam saku hoodie yang dikenakannya.

“Kau mau melakukan apa?” tanya Baekhyun bingung.

“Foto-foto. Moment jadian kita harus diabadikan,” kata Chanyeol.

“Tch, kekanakan!”

“Jangan cerewet Baek,” kata Chanyeol, lalu ia mengutak-atik kameranya sebentar dan meletakkannya pada lemari yang berada di dinding sebelah kanan Chanyeol.

Chanyeol berlari cepat ke arah Baekhyun dan merangkul kekasihnya yang masih memeluk Teddy Bear cokelat pemberiannya itu.

“Baekhyun…say khimchi~~~”

Jepreeeettt!!!

Chanyeol mengambil kameranya dan melihat hasilnya.

“Wah, Chanyeol, wajahmu tampak idiot, haha.” ejek Baekhyun.

“YA! berani sekali kau mengataiku!”

“Kau jelek Yeol.”

“Diam!”

“Chanyeol jelek, idiot.”

“Diam!”

“Chanyeol jel-”

Chuppchuppchupp!

“Diam Baekyun…” kata Chanyeol setelah mengecup Baekhyun berkali-kali, membuat Baekhyun merona dan langsung terdiam.

Hening.

“Ngg…Yeol? Benarkah Luhan menyukaimu? Kupikir dia sedang menjalin hubungan dengan anak siswa tahun pertama yang sangat putih itu. Itu lho, si albino Oh Sehun.”

“Ya, memang.”

“Jadi mereka sudah putus atau belum?”

“Belum kok.”

“Tapi tadi kau bilang Luhan menyukaimu?”

“Oh, tadi aku cuma mengada-ada saja Baek,” kata Chanyeol santai.

“Maksudnya?” tanya Baekhyun dengan tampang yang sudah mulai masam.

“Aku berbohong sayang…sengaja ingin membuatmu cemburu saja.”

“YAKKK!!!!”


END


Advertisements