I’m Abnormal!

IM AMNORM

By tmarionlie

.

HunHan & ChanBaek

.

Yaoi | Fluff Romance | Oneshoot | Rate T

 


 

 

Lagi-lagi Luhan mencibir ketika ia melihat pasangan abnormal –gay– Park Chanyeol  dan Byun Baekhyun yang saat ini terlihat sedang berbisik-bisik mesra dengan jari-jemari yang saling bertaut secara terang-terangan di hadapannya. Segala pemandangan itu membuat Luhan tak dapat berhenti mencebik ataupun mendengus sinis kearah dua manusia –yang menurutnya– tak tahu malu itu, namun pasangan konyol itu selalu menganggap bahwa Luhan bertingkah seperti itu hanya karena ia merasa cemburu.

“Ck, ayolah…masih ada pria normal disini. Asal kalian tahu, aku merasa sangat mual melihat tingkah kalian,” umpat Luhan, lalu kembali menyibukkan diri dengan lego puzzle yang tergeletak tak beraturan di hadapannya.

Chanyeol pura-pura tuli, malah sengaja menarik pipi kekasihnya –Byun Baekhyun- lalu mencium bibir tipis nan mungil milik Baekhyun dalam-dalam, membuat mata rusa Luhan langsung melotot karenanya.

“Hei!” protes Luhan, risih.

Chanyeol tersenyum geli disela-sela ciumannya, lalu dengan sengaja ia mencolek pinggang Baekhyun untuk memberikan kode. Baekhyun yang mengerti dengan ‘kode gila’ kekasihnya itu kini sudah mengangkat kedua tangan dan menarik tengkuk Chanyeol hingga bibir mereka saling menekan kuat, lalu kedua pria gay itu sudah saling melumat bibir dengan intens dan sengaja menciptakan suara-suara erangan erotis yang membuat air liur Luhan hampir saja terjatuh karena mulutnya menganga sejak tadi.

 

Mencoba menguasai diri, Luhan menutup mulutnya dengan cepat kemudian ia kembali mendengus. Tubuh mungilnya sudah beranjak dari posisi duduknya, lalu ia mulai mendekat kearah dua teman ‘mesum’ yang asyik berciuman di depannya itu. Dia tarik paksa tubuh pemuda yang lebih pendek –si uke imut Byun Baekhyun–hingga tautan bibir sepasang gay itu terlepas dengan paksa, kemudian tanpa perasaan Luhan duduk dengan santai diantara mereka, mengabaikan teriakan kesakitan yang mengalun dengan merdu dari bibir Chanyeol karena kakinya yang terjepit oleh bokong Luhan. Luhan malah menyilangkan kedua tangannya didepan dada lalu ( lagi-lagi ) ia mendengus.

“Kita disini untuk mengerjakan tugas, tapi kenapa kalian malah sibuk berciuman dan aku malah sibuk menyusun puzzle?” kata Luhan jengkel.

Chanyeol tertawa. “Ayolah Lu, kami juga butuh bersenang-senang.”

Luhan berdecak. “Tapi bukan berarti kau harus brciuman panas dengan Baekhyun di hadapanku, idiot!” umpat Luhan.

“Apa kau merasa kepanasan saat melihat kami berciuman?” tanya Baekhyun dengan wajah sok polos tanpa dosanya, membuat Luhan ingin sekali menenggelamkan setan kecil itu ke sungai Han.

“Aku bukan kepanasan, tapi aku mau muntah!” kata Luhan.

“Ah, yang benar?” goda Chanyeol.

“Kau hanya perlu menerima cinta si Oh Sehun jika kau iri pada kami Lu,” tambah Baekhyun.

Luhan cemberut. “Jangan bicara sembarangan dan berhentilah membahas tentang bocah albino itu!” sungut Luhan.

“Memangnya kenapa? Sehun tampan, dan juga sangat populer. Kau sangat beruntung karena mendapat pernyataan cinta darinya,” kata Chanyeol, tapi ia malah mendapatkan satu jitakan dari Luhan.

“Aku ini normal, bodoh. Aku bukan gay seperti kau, ck!” kata Luhan kesal.

“Hhh, ayolah Lu. Kau sudah bukan straight lagi. Aku tahu kau juga menyukai bocah albino itu, mengaku saja,” kata Baekhyun dengan nada bosan.

“Tidak, aku tidak menyukai Sehun!” pekik Luhan sambil menutup telinganya.

“Hhh, kau pasti akan menyesali ucapanmu itu Lu. Jika kau masih ngotot mempertahankan kenormalan-mu itu aku yakin kau akan banyak menangis dalam beberapa waktu kedepan,” kata Chanyeol.

“Ya. Dan kau harus tahu, Sehun baru saja mendapatkan pernyataan cinta dari Da Eun, siswi paling populer di sekolah kita,” tambah Baekhyun.

“Tch! Dia kan menyukaiku sampai setengah mati, tak mungkin dia menerima cinta gadis itu,” kata Luhan meremehkan.

“Lihat saja nanti, kau pasti menangis darah Xi Luhan,” kata Chanyeol, lalu pemuda tinggi itu beranjak, menggandeng kekasih cantiknya pergi dari hadapan Luhan yang terlihat berpikir keras saat ini.

“Apakah aku memang menyukai Oh Sehun? Tch, mana mungkin. Aku ini normal!” monolog Luhan. Pikirannya menerawang kemana-mana, lalu entah mengapa tiba-tiba saja mendarat pada sosok pemuda pucat itu. Luhan tersenyum ketika ia membayangkan wajah pemuda itu, namun sekejap kemudian ia segera tersadar dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Aishh! Kenapa aku jadi memikirkan bocah itu sih?” keluhnya.

Luhan menutup matanya, dan membayangkan lagi kejadian beberapa waktu lalu. Membayangkan ketika Oh Sehun, pria paling populer di sekola  datang padanya lalu menyatakan cinta padanya di atap sekolah.

.

 

.

 

-Flashback-

“Luhan Hyung, aku menyukaimu Hyung,” kata Sehun secara tiba-tiba.

 

Luhan melebarkan matanya. Untuk sekejap, pemuda cantik itu hanya terdiam pada posisi tubuhnya yang mematung sempurna. Lalu sekejap kemudian ia tersadar dan dengan gugup ia mengusap tengkuknya sendiri.
“K–kau menyukaiku?” Luhan berdehem-dehem, lalu ia terkekeh meskipun ia sebenarnya merasa sangat kacau dan gugup. “Ya tidak heran sih kalau kau menyukaiku. Aku ini imut, wajar  saja kalau kau menyukaiku, haha” katanya hambar.

“Hmm..kau memang sangat imut Hyung,” kata Sehun, lalu mereka sama-sama diam. Luhan menatap ke segala arah. Entah mengapa, tapi ia benar-benar gugup sekarang.

“Jadi, kau mau kan jadi pacarku Hyung?”tanya Sehun tiba-tiba, membuat Luhan terlonjak karena ia tadi sedang melamun tanpa ia sadari.

“Huh? Pa–pacar?” tanyanya, dan Sehun mengangguk.

Luhan mengusap keringat yang jatuh ke pelipisnya sendiri, lalu ia meremas-remas jemarinya saking gugupnya. Luhan memikirkan tentang banyak hal dan membiarkan Sehun menunggunya bicara. Dia memikirkan tentang bagaimana jika nanti ia dan Sehun menjalin hubungan? Apa reaksi orang-orang di sekitar mereka? Lalu bagimana jika begini, bagaimana jika begitu? Dan banyak sekali berbagai macam ini-itu yang singgah ke otaknya, hingga ia merasa kepalanya berdenyut secara mendadak. Namun lagi-lagi ia terkesiap dan segala pikirannya buyar ketika ia merasakan jemarinya digenggam oleh tangan berjari panjang yang terasa hangat. Ia mendongak dan menemukan wajah Sehun yang tampak memancarkan harapan besar untuk mendapatkan jawaban ‘ya’ darinya.

 

“Bagaimana Hyung?” tanya Sehun, namun Luhan hanya diam sambil menggaruk tengkuknya.

 

“Hyung?”

 

“Ehm, bagaimana ya Sehun..Aku…umm…”

 

“Aku mencintaimu Hyung…” kata Sehun, dan sekejap saja kepala Luhan bagai tersiram air es di musim salju.

 

 

Luhan hampir saja menjawab ‘ya’, tapi kemudian bayangan tentang bagaimana nasib pasangan Chanyeol dan Baekhyun yang di bully habis-habisan oleh seluruh penghuni sekolah ketika hubungan percintaan homo mereka dulu terbongkar, membuat otak Luhan menjadi kusut dalam sekejap. Tiba-tiba ia merasa ngeri, dan tubuhnya merinding. Luhan menarik tangannya dengan cepat dari genggaman Sehun, membuat pemuda pucat itu terkejut.

 

“H -Hyung?”  

 

“Aku bukan gay, Sehun…” kata Luhan lantang, kemudian ia menggigit bibirnya sendiri. Luhan juga tak tahu bagaimana perasaannya. Dia juga tak tahu apakah ia menyukai Sehun atau tidak, tapi ia tak mau mendapatkan nasib yang sama seperti pasangan ChanBaek, tidak!

 

“Hyung, tak peduli gay atau tidak, tapi aku menyukaimu. Lagipula kau tak harus menjadi gay untuk menyukaiku,” kata Sehun pantang menyerah.

 

Luhan mendengus, kemudian ia menatap Sehun dengan berani. “Tapi aku tak menyukaimu, Oh Sehun!” katanya tanpa perasaan. Sejujurnya ia merasa menyesal dengan ucapannya  sendiri, tapi egonya memaksanya untuk memasang wajah se-meyakinkan mungkin agar Sehun percaya dengan kata-katanya. Luhan mencelos ketika mendapatkan raut kekecewaan dari wajah tampan Sehun.

 

“Begitu ya…baiklah, aku mengerti Hyung. Maaf jika aku mengganggumu, umm… lupakan saja kata-kataku tadi.” kata Sehun lemah.

 

Sehun sudah berbalik dan sudah mulai melangkah pergi, namun entah mengapa Luhan merasa jika sebagian hatinya tak rela jika pemuda itu pergi begitu saja dari hadapannya. Ini tak adil. Luhan tak benar-benar yakin dengan jawaban yang ia berikan tadi, dan lagipula Sehun menyatakan cinta dengan sangat mendadak, membuatnya menjadi mual dan pusing hingga ia tak mampu berpikir secara jernih. Punggung yang mulai menjauh itu membuat Luhan semakin mual. Perasaannya tak enak, dan ia sangat yakin jika ia baru saja menginginkan Sehun kembali untuk menggenggam jemarinya lagi. Luhan tak yakin dengan refleks tubuhnya, tapi tangannya terkepal dan dalam sekejap saja suaranya telah keluar dari tenggorokannya tanpa ia sadari.

 

“Sehun!” pekik Luhan, lalu ia terlonjak gugup saat Sehun menoleh dan berbalik menghadapnya.

“Ya?” jawab Sehun dengan kening yang berkerut bingung.

Luhan menggigit bibirnya. Ia merasa ragu, tapi…

“A-aku akan memikirkannya. Berikan waktu untukku,” kata Luhan gugup.

Sehun menatap Luhan sangat lama, tapi kemudian ia tersenyum. “Baiklah, aku akan menunggu jawabanmu Hyung…” kata Sehun pada akhirnya.

-End Flashback-

Luhan mengacak rambutnya dengan frustasi ketika ia mengingat saat-saat itu hingga tatanan rambutnya tampak seperti habis dijambaki oleh seekor kera liar. Bahkan sudah berlalu sebulan lamanya sejak Sehun menyatakan cinta padanya, dan Luhan belum menjawabnya sama sekali karena ia juga tak tahu harus menjawab apa. Luhan masih tak yakin dengan perasaannya sendiri. Banyak hal yang mengganggu pikirannya belakangan ini, dan yang paling membuatnya sering bertanya-tanya adalah tentang mengapa Sehun tak pernah berusaha menagih jawaban darinya. Hal itu membuat Luhan merasa bingung harus melakukan apa. Mereka bahkan tak saling bicara di sekolah karena memang jarang bertemu. Luhan jadi bingung dalam mengambil sikap. Dia tak tahu apakah Sehun masih menunggu atau tidak.

“Kenapa bocah itu tak menanyakan jawabanku lagi ya? Apa dia masih menunggu? Atau jangan-jangan dia sudah tak membutuhkan jawabannya lagi? Ugh, menyebalkan!” monolog Luhan sambil memegangi kedua pipinya.

Entah untuk alasan apa, Luhan juga tak mengerti mengapa ia menjadi kesal secara mendadak. Memikirkan sikap Sehun yang datang menyatakan cinta padanya tapi kemudian menghilang itu tiba-tiba saja membuatnya menjadi jengkel setengah mati. Dia merasa tak rela.

 

Luhan mendengus satu kali, tapi sekejap kemudian ia sudah menelengkan kepalanya sendiri dan mulai berpikir tentang apa alasan dirinya tak rela jika Sehun pada kenyataannya memang tak menginginkan jawaban darinya lagi? Otaknya terasa sangat kusut, dan ketika ia mencoba mengurainya, ia mendapatkan satu jawaban yang ia tak tahu benar atau tidak, tapi sejujurnya ia menyakininya.

 

“Sepertinya aku memang menyukai Oh Sehun,” gumamnya pelan.
.

 

.

 

.

Sehun mengecek tanggal di layar ponselnya, lalu dagunya terasa terjatuh begitu saja. Ia merasa lemas, dan pikirannya menjadi semakin kusut sekusut wajahnya saat ini. “Hhh…sudah 34 hari berlalu dan Luhan masih belum juga memberikan jawabannya. Apa aku menyerah saja ya?” katanya pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba saja sebatang cokelat muncul di hadapannya, membuatnya mendongak dalam sekejap. Sehun menemukan seorang gadis berparas cantik yang saat ini sedang tersenyum padanya. Sehun tersenyum juga, lalu ia sambut cokelat yang diberikan oleh gadis itu. “Terima kasih, Da Eun…” katanya sambil membuka bungkusan cokelat itu dan memakannya.

 

Gadis cantik bernama Da Eun itu terkekeh, lalu ia duduk di samping Sehun. “Kau kenapa? sedang patah hati?” tanya gadis itu.

Sehun mendesah. “Sayangnya keadaanku jauh lebih buruk dari itu. Cintaku digantung tanpa kejelasan,” jawabnya.

Gadis itu tertawa. “Luhan?” tanyanya, dan Sehun mengangguk mengiyakan. “Dia belum membalas cintamu juga ya?” tanya gadis itu lagi, dan Sehun lagi-lagi mengiyakan.

 

Da Eun membuang nafasnya, kemudian ia memajukan bibirnya sendiri, cemberut. “Daripada kau menunggunya terus-menerus, lebih baik kau menerima cintaku saja,” kata gadis itu, tapi Sehun malah terkekeh. “Haruskah aku melakukannya?” tanya Sehun, lalu ia mencubit hidung gadis itu sambil tertawa.

Gadis itu menggosok hidungnya, lalu berdecih. “Yeah, kalau kau mau denganku sih. Aku juga tak bisa memaksamu menerima cintaku. Kalu aku sih mau-mau saja jadi pacarmu.”
“Tanpa cinta?” tanya Sehun.

“Aku sih tak apa-apa asal kau jadi milikku, hehe” kata gadis itu sambil menunjukkan cengiran lebarnya.

“Kau hanya terobsesi padaku Da Eun. Hentikan itu,” kata Sehun, lalu ia terkekeh.

Gadis itu lemas, dan lagi-lagi ia cemberut. “Yah, apa boleh buat. Lagipula aku juga sudah capek mengejar-ngejarmu. Kau hanya bisa menatap senior cantik itu –ugh, aku iri padanya. Dia itu kan pria,” sungut gadis itu, membuat Sehun tergelak karena merasa sangat geli. Da Eun juga tertawa geli, “baiklah, aku akan menyerah saja Oh Sehun, tapi kita tetap bersahabat kan?” kata gadis itu sambil menatap serius pada Sehun.

 

Sehun melemparkan senyuman pada gadis itu, kemudian ia sudah mengacak rambut panjang berwarna cokelat itu dengan gemas, “tentu saja” jawabnya.

“Padahal aku sangat menyukaimu,” kata Da Eun sambil menggembungkan pipinya.

“Kau berhak mendapatkan yang lebih baik. Kau cantik dan sangat baik, pasti banyak pria yang mengantri untukmu. Kau tak harus mengharapkan cinta dari pria gay sepertiku,” kata Sehun, lalu ia menggigit cokelatnya lagi.

“Ya, aku mengerti. Lagipula kan tadi aku sudah bilang kalau aku akan menyerah.”

Lagi-lagi Sehun mengacak rambut gadis itu dengan gemas sambil tertawa, tak terlalu fokus pada tatapan gadis itu yang sudah menatapnya penuh arti saat ini. Sehun terkesiap ketika gadis itu menangkap tangannya, membuatnya membeku dalam sekejap ketika ia menemukan tatapan penuh makna yang diberikan oleh gadis itu untuknya.

 

“Aku benar-benar akan menyerah Sehun, tapi aku sudah berjuang sangat keras selama ini. Jadi bisakah kau memberikan hadiah atas upaya kerasku mengejar-ngejarmu?” tanya gadis itu, lalu ia membawa tangan Sehun ke pipinya sendiri.
Sehun terdiam hingga beberapa lama, tapi kemudian ia tersenyum. Sehun mengusap pipi gadis itu dengan lembut, “hadiah seperti apa?” tanyanya.

Da Eun menggigit bibirnya satu kali, lalu –”cium aku.”

Sehun tercekat dan kembali membeku hingga beberapa detik,  tapi kemudian ia mencoba memaksakan senyumannya lagi di depan gadis itu. Sehun merasa enggan, tapi– “Apa setelah itu kau akan berhenti menyukaiku?” tanyanya, dan–

“Ya” jawab gadis itu yakin.

Sehun menatap gadis itu lama, kemudian ia mendesah. “Baiklah,” katanya, kemudian ia menarik wajah gadis itu dan mendaratkan bibirnya pada permukaan bibir Da Eun yang lembut. Bibir itu baru menempel selama beberapa detik ketika sebuah suara bernada sarkastik tiba-tiba saja menginterupsi kegiatan mereka.

 

“Dasar labil, tch!”

Sehun melepaskan kecupannya dengan terkejut, kemudian ia menoleh kearah suara itu, dan dalam sekejap saja mata sipit pemuda itu membelalak ketika ia tahu siapa orang itu. “Luhan Hyung?” katanya shock. Cepat-cepat ia lepaskan wajah Da Eun, lalu ia berbalik hingga tubuhnya berhadapan dengan Luhan yang sekarang telah menatap malas padanya.

“Jadi sekarang kau sudah menjalin hubungan dengan gadis ini? Baguslah, berarti aku tak perlu susah-susah lagi memikirkan jawaban apa yang harus kuberikan untukmu,” kata Luhan sinis.

 

Luhan berbalik, ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu, namun Sehun sudah menarik pergelangan tangannya dengan cepat. “Hyung, aku masih menunggu,” kata Sehun, namun Luhan malah menghentakkan tangannya dengan kasar. Entah mengapa, tapi Luhan merasa sangat emosi saat ini. “Tak usah menunggu lagi. Aku tak mau jadi kekasihmu Oh Sehun! Kau, k-kau pa-pacaran saja de-dengan dia,” kata Luhan susah payah, menahan airmatanya yang hampir jatuh.

Sehun terdiam, dan Luhan kembali melangkah.

“Aku menyukaimu! Aku mencintaimu Lu. Kau, bukan Da Eun…” kata Sehun, mengabaikan gadis yang berada di sekitar mereka. Dia tak peduli. Dia hanya perlu memberikan penjelasan pada Luhan. Dia hanya ingin Luhan tahu jika perasaannya tak pernah berubah.

Luhan terdiam, dan langkahnya terhenti. Hening hingga beberapa lama, dan Luhan yakin jika airmatanya telah jatuh setetes sekarang. Cepat-cepat ia hapus airmatanya itu, lalu ia mengepalkan tangannya sendiri.  “Tapi aku tak menyukaimu Sehun. Itu jawaban yang ingin kuberikan padamu, jadi lupakan aku!” katanya, lalu ia cepat-cepat pergi dari tempat itu dengan setengah berlari, meninggalkan Sehun dan Da Eun begitu saja.

Sehun hanya bisa menatap punggung Luhan yang terlihat semakin menjauh itu dengan kecewa, kemudian ia mengalihkan tatapannya kearah sepatunya sendiri dengan tatapan lemahnya. “Jadi aku sudah ditolak ya?” tanyanya entah pada siapa.

Gadis yang berdiri di belakangnya mendengus, kemudian melangkah maju dan menepuk bahunya. “Jangan sedih begitu. Dia itu menyukaimu, Oh Sehun.”
Sehun tersenyum miris. “Tidak. Kau dengar sendiri kan? Dia tak menyukaiku, Da Eun…” katanya lemah.

“Dia berbohong, ck!” umpat Da Eun jengkel. “Tak kusangka percintaan antara sesama jenis juga sama merepotkannya dengan pasangan normal lainnya. Pria cantikmu itu hanya cemburu Sehun, percayalah.”
Sehun menatap gadis cantik itu dengan raut bingung. “Cemburu?”

 

Da Eun mengangguk. “Ya, dan aku bisa jamin jika dia itu sebenarnya menyukaimu juga. Tingkahnya jadi begitu karena ia kesal melihat kita berciuman tadi. Ah, Ya Tuhan…kalian menyebalkan. Jika kalian saling menyukai begini, aku bisa apa? Sepertinya aku memang harus benar-benar mengaku kalah.”

 

Sehun menelan ludahnya dengan susah payah. Tiba-tiba saja ia merasa kegerahan mendengar ucapan gadis cantik di sampingnya ini. “Be-benarkah Luhan Hyung menyukaiku juga?” tanyanya ragu.

Gadis itu mengangguk yakin. “Ya, aku sangat yakin. Karena itu cepat kejar dia dan jelaskan padanya kalau tadi itu hanya kesalahpahaman,”kata Da Eun, memberi semangat pada Sehun.

Sehun terdiam, berpikir. Pemuda itu memikirkan banyak hal, kemudian tiba-tiba saja ia tersenyum miris dan menggeleng lemah. “Tak perlu Da Eun. Aku sudah menunggu terlalu lama untuknya dan dia sudah memberikan jawabanya tadi. Dia bilang kalau ia tak menyukaiku, jadi aku akan menyerah. Aku tak ingin memaksanya,” kata Sehun, tak yakin sebenarnya pada ucapannya sendiri.

Da Eun menepuk jidatnya, frustasi. “Ternyata kalian sama-sama keras kepala, kalian cocok. Baiklah jika kau tak mau mengejarnya lagi, kali ini aku yang akan membuat Luhan mengejar-ngejarmu,” kata Da Eun, lalu gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Sehun yang tampak bingung dengan ucapannya.

.

 

.

 

.

“Astaga Luhan! Sudahlah, berhenti menangis…” bujuk Baekhyun sambil mengusap-usap punggung Luhan.

Luhan tak menjawab, masih sibuk dengan tangisannya. Kepalanya tersembunyi diantara lengan dan mejanya, dan punggungnya bergetar karena terisak-isak.

“Hhh…kan aku sudah bilang, jangan terlalu memaksakan egomu. Kau keras kepala sih” kata Chanyeol, membuat isakan Luhan jadi makin kuat.

“Sudahlah Yeol, jangan membuatnya menjadi semakin kacau,” kata Baekhyun.

“Aku yakin ingusmu pasti sudah meleleh kemana- mana. Luhan…Luhan, ckckck!” kata Chanyeol miris.

“Tch! dasar kepala batu!” umpat seseorang, membuat Chanyeol dan Baekhyun langsung menoleh cepat kearah gadis itu, Luhan juga ikut mendongak.

“Jung Da Eun,” kata Chanyeol datar.

“Mau apa kau kesini?” tanya Baekhyun ketus.

Da Eun mengabaikan dua orang itu, dan ia menghampiri Luhan dengan cepat. “Kau jangan salah paham. Sehun dan aku tak ada hubungan apa-apa.”

Luhan hanya diam, dan memilih untuk membuang tatapannya kearah lain, membuat gadis itu berdecak kesal. “Sehun itu menyukaimu Xi Luhan. Aku sudah lelah mengejar-ngejarnya, tapi matanya hanya melihatmu. Dia bahkan rela menunggu sebulan lebih hanya untuk menunggu jawabanmu, ck! Tega sekali kau menggantung cintanya selama itu!” kata Da Eun gemas.

Luhan mengedipkan matanya beberapa kali.” Dia benar-benar masih menunggu?” tanya Luhan.

“Tentu saja, bodoh!” jawab Da Eun ketus.

Darah Luhan berdesir ketika ia mendengar ucapan gadis itu, tapi insiden ciuman tadi membuat otaknya kembali kusut dalam seketika. “Kenapa kau mengatakan hal ini padaku? Aku melihat kalian berciuman tadi…” katanya lemah. Luhan menarik nafasnya, “lagipula kukira dia sudah tak butuh jawaban lagi. Dia bahkan tak pernah menagih jawabannya meskipun aku tak memberikan jawaban hingga sebulan lamanya.”

Da Eun mendengus kuat. “Soal ciuman tadi, jangan menyalahkannya. Aku yang memaksa Sehun menciumku. Lagipula kau ini aneh sekali. Jelas-jelas Sehun bilang jika ia akan menunggu, tapi kau malah berharap ia akan menagih jawaban padamu. Aku sangat yakin sekali jika si bodoh itu rela menunggu lebih lama lagi sampai kau memberikan jawabannya. Aishh, kalian berdua itu menyebalkan, terutama kau, tahu tidak?” umpat gadis itu jengkel.

 

Luhan terdiam, lalu menggigit bibirnya sendiri, “aku sudah terlanjur menolaknya tadi,” kata Luhan menyesal.

“Ya sudah, jelaskan saja padanya kalau kau tak bersungguh-sungguh menolaknya!” kata Baekhyun memberi semangat.

“Baekhyun benar. Makanya jangan sok normal Luhan. Sudah kukatakan sejak awal kan kalau kau itu menyukai Sehun, tapi kau bersikeras bahwa kau itu straight dan lihat apa yang terjadi? Sejak awal aku sudah tahu kalau suatu saat kau akan menangisi pemuda albino itu, dan see? Aku benar kan?” tambah Chanyeol.
Luhan mendengus, kemudian menautkan alisnya, berpikir.

“Percuma saja kau berusaha menjelaskan semua itu padanya,” kata Da Eun tiba-tiba. “Sehun bilang dia sudah lelah menunggumu, dan dia juga bilang kalau dia ingin move on,” lanjutnya, kemudian ia tersenyum meremehkan pada Luhan.

Luhan menjatuhkan dagunya, lemas. Chanyeol dan Baekhyun juga lemas.

“Kecuali jika kau mau berusaha mendapatkan cintanya lagi, mungkin kau masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan,” kata gadis itu lagi, “lagipula Sehun mengatakannya baru beberapa menit yang lalu, tak mungkin kan dia move on secepat itu?” kata gadis cantik itu.

Luhan menggigit bibirnya sendiri, bimbang.

“Sudah sana, jelaskan padanya sebelum terlambat!” kata Baekhyun dengan penuh semangat.

“Ta –tapi bagaimana jika dia menolakku?” tanya Luhan.
“Usaha dulu Lu, jangan menyerah duluan sebelum berperang,” kata Chanyeol kesal.

“Y- ya, baiklah…aku akan menemui Sehun sekarang,” kata Luhan, lalu ia cepat-cepat berdiri dari posisi duduknya dan mulai melangkah kearah pintu keluar.

“Hei, lap dulu airmata dan ingusmu itu, ihh!” kata Da Eun sebelum Luhan menghilang di pintu. Dia mengeluarkan tissue basah dari sakunya lalu ia melemparkannya pada Luhan yang langsung menyambutnya.

“Terima kasih, Da Eun…” kata Luhan, lalu ia berlari cepat keluar dari kelas itu.

Da Eun memijit pelipisnya, stress. “Merepotkan!” katanya, lalu ia pergi begitu saja dari kelas itu, meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun berdua saja di sana.

“Semoga Luhan berhasil” gumam Baekhyun.

“Hmm…semoga berhasil.” Kata Chanyeol, lalu ia menoleh untuk menatap kekasihnya yang mungil itu dari samping, dan dalam sekejap saja seringaian mesum telah menghiasi wajahnya.

“Baekkie….”

“Hmm?” jawab Baekhyun tanpa menoleh.

“Disini tinggal kita berdua saja.”

Baekhyun menoleh dan menatap wajah kekasihnya sambil memicingkan mata.

 

“Lalu?”

Kiss me Baby….”

“Ck!”

“Ayolah….”

“…..”

Baby~

“Baiklah-baiklah, dasar tiang listrik idiot, mesum!” umpat Baekhyun, tapi jemari lentiknya sudah menarik kerah baju Chanyeol dengan cepat dan langsung memerangkap bibir kekasihnya itu dengan bibir tipisnya sendiri, tentu saja Chanyeol langsung menyambutnya dengan penuh suka cita dan semangat yang menggebu-gebu. Tangan besarnya malah telah berhasil menelusup masuk ke dalam seragam sekolah Baekhyun hanya dalam waktu kurang dari 3 menit mereka berbagi sesi ciuman menyenangkan itu, membuat Baekhyun mengerang dalam.

 

“Dasar jerapah mesum, tapi aku mencintaimu’ –kata Baekhyun dalam hati di sela-sela ciuman mereka, lalu ia hanya pasrah saja menerima serangan kekasihnya itu meskipun seragamnya sudah menjadi acak-acakan setelahnya.

 

.

 

.

 

.

Sehun berdiri tak tegak sambil bertopang dagu di atap sekolah, hanya diam sambil menatap hamparan atap-atap rumah penduduk yang berwarna-warni. Rambut blonde miliknya melambai-lambai tertiup angin. Sehun sebenarnya sangat patah hati, tapi inilah Sehun. Entah mengapa warna wajah dan auranya tak pernah berubah meski apapun yang terjadi. Sehun adalah Sehun. Dingin. Datar.

“Sehun…”

Sehun menoleh saat namanya dipanggil seseorang, dan mata sipitnya langsung menemukan sosok Luhan yang sedang berdiri sambil menunduk beberapa meter di belakangnya.

“Luhan Hyung? Kenapa kau bisa berada disini?”

Luhan belum mau mengangkat wajahnya. Selain malu dengan wajahnya yang sembab, Luhan juga tak berani menatap Sehun. Luhan masih diam mematung ditempatnya.

Hyung?” panggil Sehun lagi.

Luhan masih diam.

“Luhan…”

Darah Luhan berdesir saat Sehun memanggil namanya dengan lembut.

Luhan mengangkat wajahnya, cukup membuat Sehun sedikit terkejut saat melihat wajah Luhan yang tampak kacau.

 

“Kau kenapa Hyung?” tanya Sehun, panik melihat wajah sembab Luhan.

Luhan menggigit bibirnya sendiri, lalu –”maafkan aku….” katanya.

Sehun terdiam.

“Maaf karena menggantung jawaban hingga selama itu. Aku hanya bingung Sehun, kukira aku straight, tapi–“

“Kenapa kau masih membahasnya lagi Hyung?” potong Sehun. “Lupakan saja, lagipula kau sudah menjawabnya tadi.”
“Tapi jawabanku tadi itu bohong!” sergah Luhan cepat-cepat, membuat alis Sehun langsung menukik naik.

Lagi-lagi Luhan menggigit bibir. “Aku, a-aku bukan pria normal lagi semenjak aku mengenalmu. Aku abnormal, emmm…mak-maksudku aku g-gay…Ah, bukan itu yang ingin kukatakan, ta-tapi i-itu..aku…ummm….” Luhan menggaruk pipinya. Luhan sangat gugup, dan kosa katanya tiba-tiba saja menjadi kacau. Dia kembali menunduk, lalu mulai mengutuk-ngutuk dirinya sendiri.  Bahkan ia tak menyadari jika pria pucat yang ada dihadapannya sudah berjalan mendekat kearahnya. Luhan baru sadar jika Sehun telah berada di hadapannya ketika dagunya diangkat hingga mata rusanya yang indah bertemu dengan mata sipit Sehun.

“Katakan pelan-pelan Hyung. Katakan saja intinya,” kata Sehun lembut.

Luhan mengedip beberapa kali. Hening. Suara angin saja bahkan dapat ditangkap oleh telinga Luhan. Mata mereka masih saling menatap, dan entah mengapa Luhan beribu-ribu kali lebih gugup saat ini. Mata sipit makhluk tampan di hadapannya seolah ingin menariknya lebih dalam pada pesona pria pucat itu.

“Sebenarnya aku –menyukaimu Sehun,” kata Luhan pada akhirnya, lalu ia lagi-lagi menggigit bibirnya sendiri.

“…..”

“…..”

“…..”

“Tapi aku sudah move on Hyung…” jawab Sehun sambil melepaskan dagu Luhan.

Luhan tercekat, menatap kecewa. Tanpa ia ingin, airmatanya kembali jatuh di pipinya yang kemerahan. “Baiklah, aku mengerti, maaf jika aku mengganggumu.” Katanya sebelum berbalik.

 

Luhan baru saja ingin melangkah pergi, namun tiba-tiba saja tubuhnya tersentak dengan kuat dan dibalikkan dengan paksa, lalu dalam sekejap saja ia telah terperangkap ke dalam pelukan Sehun. Beberapa saat berlalu dan Luhan hanya diam karena otaknya macet total secara mendadak. Dia bahkan tak sadar jika pemuda pucat itu telah mengecupi lekuk lehernya hingga beberapa kali. Dia baru tersadar ketika ia mendengar suara kekehan pemuda itu, membuatnya langsung menarik diri dan menatap Sehun dengan raut bingung.

“Aku hanya bercanda,” kata Sehun geli.

Kedip.

Kedip.

“YA!!! KAU MENGERJAIKU!!!” kata Luhan jengkel, lalu memukul-mukul dada Sehun dengan brutal, tapi sekejap kemudian sudah memeluk tubuh Sehun erat-erat. Sehun juga sama, memeluk Luhan erat, mengabaikan rasa sakit pada dadanya akibat dipukuli oleh Luhan barusan.

“Maaf, aku hanya ingin mengujimu saja. Jadi kau serius kan Hyung?”
“Tentu saja aku serius, bodoh!” kata Luhan.

“Jadi kenapa tadi menolakku? Aku sudah terlajur patah hati, kau tahu?
Luhan melepaskan pelukannya. “Kau menyebalkan! Aku setiap hari bahkan tak pernah berhenti bertanya-tanya tentang apakah aku masih normal atau tidak gara-gara pernyataan cinta bodohmu itu, tapi saat aku ingin memastikannya kau malah mencium Jung Da Eun! Aku cemburu, jadi aku menolakmu!!” kata Luhan jengkel.

Sehun tertawa, lalu mengusap pipi Luhan yang sedikit basah. “Aku malah tersiksa karena kau menggantung jawabanmu hingga waktu yang sangat lama. Demi Tuhan, kau baru menjawabnya setelah sebulan lebih, Hyung.” kata Sehun.

“Itu karena aku yakin jika aku adalah pria normal makanya aku bimbang menjawabnya. Tapi sudahlah…aku tak peduli lagi apa aku normal atau tidak, yang pasti aku –menyukaimu…”

“Hmm, hanya suka?” goda Sehun sambil kembali mengecupi leher Luhan.

Luhan terkekeh, “tidak, tapi aku mencintaimu…”jawabnya yakin sekarang.

Sehun menangkup wajah Luhan, dan mengerutkan keningnya. “Apa sebelum menemuiku tadi kau sudah menangis? Matamu sembab,” kata Sehun.

Luhan menggembungkan pipinya. “Begitulah.”

“Dasar cengeng. Benarkah kau lebih tua dariku?”

“Entahlah. Yang jelas aku lebih imut dari kau.”

Sehun menggelengkan kepalanya. “Percaya diri sekali.”

“Tentu saja.” Jawab Luhan cuek.

Sehun terkekeh, lalu ia membelai kepala Luhan. “Jadi sekarang kau ini pacarku kan Hyung?”

“Menurutmu?”

 

“Kau pacarku Hyung…” kata Sehun.

 

Luhan memeluk Sehun erat-erat. “Baiklah, lagipula menjadi gay kurasa tak buruk juga. Setiap hari aku melihat Chanyeol dan Baekhyun mengumbar kemesraan, bahkan mereka sering berciuman panas di depanku. Mereka membuatku gerah.”

Sehun melepaskan pelukannya dan menaikkan satu alisnya. “Kau gerah saat melihat mereka berciuman?”

“Ya,” kata Luhan acuh, lalu ia menggembungkan pipinya sendiri.

 

Luhan menatap Sehun sambil  mengerutkan dahi saat melihat bola mata Sehun yang fokus menatap bibirnya. Dia lipat bibirnya kedalam mulutnya sendiri ketika ia menyadari apa maksud dari tatapan itu, membuat mata Sehun berpindah kemata Luhan.

“Kenapa kau menyembunyikannya?” protes Sehun.

Luhan mengeluarkan bibirnya lagi. “Tatapanmu membuatku ngeri. Apa yang kau pikirkan?” tanya Luhan.

Sehun terkekeh, lalu ia mengarahkan ibu jari kanannya ke bibir bawah Luhan, mengelusnya sekali. “Aku hanya penasaran. Jika hanya melihat Chanyeol dan Baekhyun berciuman saja kau sudah kegerahan, bagaimana jika aku menciummu?” kata Sehun, membuat Luhan langsung membelalak. “Ap-apa katamu?”

Sehun menarik pinggang Luhan merapat. “Ayo kita coba sayang. Aku ingin membuatmu kegerahan juga,” kata Sehun, mesum.

Luhan membeku. Matanya terbuka lebar, dan menangkap dengan jelas wajah Sehun yang semakin lama semakin dekat. Dia pejamkan matanya dengan panik ketika hidung Sehun menyentuh ujung hidungnya, lalu dalam sekejap saja tubuhnya langsung merinding ketika bibir tipis Sehun menempel lekat di permukaan bibirnya. Luhan hanya diam menerima ciuman itu, hingga akhirnya Sehun menarik bibirnya. “Aku mencintaimu, Hyung…” kata Sehun, lalu ia kembali meraih bibir Luhan lagi, menciumnya lebih dalam, membuat pemilik bibir itu mengerang nikmat karena ulahnya.


END


Advertisements