ALL ABOUT LOVE ( Othello Season 2 )

All About Love Poster

.

By tmarionlie

.

ChanBaek  |  ChanLu  |  KrisBaek

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


WARNING!!

Karakter semua tokoh dalam FF ini akan sangat menjijikkan dan memuakkan. Bagi ChanBaek hardshipper yang tidak mampu membedakan antara Fiksi dan Real, yang tidak suka jika biasnya dinistakan di dalam FF, harap CLOSE FF INI DENGAN SEGERA agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Author ( saya ). Thanks!


CHAPTER 9




Chanyeol melemparkan tas sekolahnya begitu saja ke lantai setelah ia sampai di rumah. Pria tinggi itu langsung berlari-lari kecil menaiki tangga menuju kelantai atas. Tujuannya kini hanya satu, ingin segera bertemu dan meminta maaf pada Baekhyun. Pintu kamar Baekhyun ia buka dengan kasar, dan matanya langsung menemukan pemuda mungil yang sedang menangis sambil memeluk lutut diatas ranjang. Kepala pemuda itu tersembunyi dalam lututnya sendiri, dan punggungnya tampak terguncang-guncang. Hati Chanyeol mencelos. Tanpa membuang waktu lagi Chanyeol melangkah cepat, menghampiri pria itu.

 

“Baek…”

 

“…..”

 

“Baekkie, maafkan aku…Aku tak sengaja memukulmu…”

 

“…..”

 

Chanyeol mengulurkan tangannya, mengelus kepala Baekhyun. Dia angkat kepala pria itu, memaksa Baekhyun agar mendongak menatapnya. Wajah Baekhyun sangat basah oleh airmata, dan bercak darah yang sudah mengering masih menghiasi sudut bibir tipis yang robek itu. Pipi putihnya terlihat lebam, tampak memar membiru, membuat Chanyeol merasa jika hatinya telah remuk dalam sekejap. Dia usap pipi Baekhyun yang basah, dan dielusnya lembut luka memar serta luka sobek itu.

 

“Maafkan aku….”

 

Baekhyun tak menjawab. Matanya bergerak kearah lain, tak mau menatap Chanyeol.

 

“Kumohon maafkan aku….”

 

Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dan mengecup kening itu agak lama, lalu bibirnya bergerak turun mengecup hidung mancung Baekhyun. “Maaf….” bisik Chanyeol tepat di depan bibir tipis yang sobek itu, menghadiahkan satu kecupan lembut pada permukaannya, tapi–

 

“Pergi.”

 

Baekhyun mengusir pria tinggi itu sambil mendorong dada Chanyeol agar menjauh, namun Chanyeol meraih jemari lentik yang menempel didadanya itu dan menggenggamnya erat-erat.

 

 

“Jangan begini Baek, aku bersalah, maafkan aku. Aku sungguh-sungguh tak bermaksud memukulmu, aku hanya–”

 

“Pergi!” potong Baekhyun, mematahkan segala apapun yang coba dijelaskan oleh Chanyeol padanya. Chanyeol tertegun hingga beberapa lama. Dadanya terasa nyeri, namun akhirnya ia lepaskan jemari Baekhyun dengan terpaksa, lalu ia bangkit dari posisi duduknya.

 

 

“Maafkan aku…” katanya entah sudah untuk yang kesekian kalinya, lalu dengan berat hati ia beranjak pergi dari kamar pria mungil itu.

.

.

.

.

.

Dua minggu telah berlalu, tapi keadaan tak menjadi semakin baik, justru malah semakin memburuk. Baekhyun tak pernah lagi berbicara pada Chanyeol, apalagi pada Luhan. Dan Luhan juga sama saja, tingkahnya menjadi aneh. Kedua pria mungil itu membuat Chanyeol merasa frustasi hingga ia mengalami stress. Baekhyun mendiamkannya, sedangkan Luhan memilih menjauh. Keadaan seperti ini sangat tak menguntungkan bagi Chanyeol. Hidupnya jadi terasa hampa. Kedua pria mungil itu adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya, dan ketika keduanya menjauh, ia benar-benar merasa kosong. Berkali-kali ia mencoba memikirkan sikap apa yang harus dia ambil, namun pikirannya akan selalu buntu pada akhirnya. Baekhyun dan Luhan sama-sama penting, dan ia tak bisa memilih salah satu di antara keduanya. Setiap ia mulai memikirkan keduanya, kepalanya akan langsung terasa sangat sakit dalam sekejap, lalu pada akhirnya ia akan memilih menyerah dan membuang segala pikirannya itu.

 

 

Situasi di sekolah memang menjadi kacau setelah kejadian tempo hari. Jika memikirkannya, Chanyeol menjadi semakin sakit kepala saja. Keadaan Baekhyun memang buruk. Baekhyun bahkan tak pergi kesekolah selama dua minggu terakhir. Namun Luhan jauh lebih buruk lagi. Akibat ucapan Baekhyun dua minggu yang lalu, kini setiap harinya Luhan selalu di bully di sekolah. Bahkan siswi-siswi bermulut pedas dengan terang-terangan mengatainya dengan sebutan ‘Pelacur jalang dan murahan’, seperti apa yang diucapkan Baekhyun untuk Luhan dua minggu yang lalu. Padahal sebelum krisi itu terjadi, Luhan adalah primadona di sekolah ini. Hal itu membuat Chanyeol menjadi merasa sangat bersalah karena ia penyebab segala kekacauan ini. Seringkali ia menemukan Luhan terdiam sambil menjambaki rambut merahnya sendiri, pasti pria cantik itu merasa sangat stress, membuat hati Chanyeol terkoyak-koyak perih. Dia sangat ingin memeluk Luhan, ingin meminta maaf dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Chanyeol sangat ingin melindungi pria cantik itu, namun selalu ia urungkan niat itu karena ia memang tak bisa melakukannya. Posisinya serba salah, dan ia tak tahu sikap apa yang harus ia ambil dalam keadaan seperti ini.

 

Baekhyun. Luhan. Keduanya adalah pria yang sangat ia sayangi. Chanyeol mencintai Luhan, tapi dirinya adalah kekasih Baekhyun. Situasi ini benar-benar membuat Chanyeol menjadi gila.

 

.

.

.

.

.

Bel pulang sekolah yang berbunyi nyaring membuyarkan segala pikiran Chanyeol yang telah menari-nari di dalam kepalanya sejak berjam-jam yang lalu. Dia bereskan peralatan belajarnya kemudian ia bergegas meninggalkan ruangan kelasnya dengan langkah yang payah. Ketika langkahnya melewati pilar besar di seberang ruang perpustakaan, samar-samar ia mendengar suara pria yang amat dikenalnya. Dengan refleks ia menoleh dan ia menemukan Luhan sedang mengobrol bersama pria tinggi bersurai blonde yang saat ini sedang menyandar pada pilar yang berada di paling ujung. Chanyeol tahu siapa pria tinggi itu. Dia adalah senior mereka yang saat ini sudah duduk di kelas tiga. Dia adalah senior paling populer di sekolah mereka karena wajahnya sangat tampan dan nilai akademiknya selalu bagus. Chanyeol berpikir hingga beberapa lama sebelum akhirnya memutuskan untuk mengamati dua orang itu. Dia sembunyikan dirinya di balik pilar yang satunya, dan ia memutuskan untuk menguping dari sana.

 

 

“Gege jadi menjual Apartemen itu untukku kan?” –Itu suara Luhan.

 

 

“Hmm…kujual murah untukmu. Lagipula Daddy menyuruhku melanjutkan studiku ke Kanada. Aku akan berangkat segera setelah hari kelulusan.”

 

 

“Lalu kalau kau pergi, siapa lagi yang akan mengajariku fotografi?”

 

 

“Haha…tak usah belajar lagi. Lagipula aku ini masih amatiran Lu…Jika kau ingin belajar, kau harus menungguku hingga aku benar-benar menjadi fotografer professional, baru aku akan merasa percaya diri untuk mengajarimu. Kau mau kan menungguku sampai aku sukses?”

 

 

“Tentu saja! Kau yang terbaik Kris Ge, aku pasti akan langsung merindukanmu begitu pesawatmu lepas landas nanti.”

 

 

“Ck, jangan berlebihan rusa kecil!”

 

 

Chanyeol mendengar keduanya tertawa, lalu suasana kembali hening. Chanyeol hanya diam, menunggu di tempatnya.

 

 

“Jadi kau memutuskan menerimanya?” –Itu adalah suara pria yang bersurai blonde.

 

 

Tak ada jawaban. Chanyeol tak tahu apa yang dilakukan oleh Luhan. Bisa jadi pria mungil itu saat ini sedang berpikir, bisa pula mengangguk. Hening hingga beberapa saat, hingga akhirnya suara Luhan terdengar.

 

“Kau tahu? Aku sebenarnya tak ingin pergi kesana, tapi aku tak punya pilihan. Sekolah ini sudah tak bisa menerima keberadaanku lagi.

 

 

Chanyeol mengeluarkan nafas beratnya. Kata-kata Luhan membuat rasa bersalahnya menjadi berkali-kali lipat sekarang. Dan ia dapat menyimpulkan apa maksud obrolan dua orang yang ia intai itu. Luhan pasti telah memutuskan pergi dan pindah ke sekolah dimana ia akan di transfer, ke XOXO High School, tempat dimana Siyan juga pernah bersekolah. Chanyeol mengintip sedikit, dan saat ini ia melihat jika pria tinggi itu sedang mengelus kepala Luhan, membuatnya bertanya-tanya tentang hubungan seperti apa yang mereka miliki?

 

 

“Aku tak ingin ke sana Ge…Aku tak ingin pergi ke tempat dimanapun Eomma dan Hyung pernah berada. Aku–”

 

 

Chanyeol tertegun saat matanya melihat Luhan menggumamkan kata-kata itu sambil menunduk. Meskipun pria itu berusaha sangat keras menyembunyikannya, Chanyeol tahu jika Luhan sudah menangis. Chanyeol hanya mampu diam pada posisinya saat ia melihat pria bersurai blonde itu memeluk tubuh mungil Luhan.

 

“Sudahlah, kau pasti bisa Lu…Kau itu hebat. Kau bisa mengatasi segalanya hingga sejauh ini. Kali inipun Gege yakin kau pasti bisa mengatasinya…”

 

 

Chanyeol beranjak pergi dengan lemah setelah ia mendengar suara pria tinggi itu. Dia tak bisa merasakan apapun lagi saat ini. Perasaannya benar-benar campur aduk, kacau.

 

.

.

.

.

.

Pagi kembali berulang. Baekhyun menggeliat kecil sebelum ia buka mata sipitnya. Dia bawa tubuhnya duduk pada permukaan ranjang, lalu ia turunkan kakinya menapak pada lantai kamar. Baekhyun bangkit, kemudian ia berdiri didepan cermin, menatap bayangan wajahnya sendiri. Warna lebam membiru di sekitar bibir dan pipinya sudah tak lagi terlihat, hanya menyisakan bekas memar yang sudah menguning dan pasti akan langsung terlihat samar jika ia bubuhkan sedikit foundation di bagian itu. Seharusnya tak ada masalah lagi sekarang. Dia seharusnya sudah bisa pergi ke sekolah hari ini. Sudah terlalu banyak yang ia lewatkan di sekolah sejak masa hibernasinya selama dua minggu terakhir, dan ia sudah merasa lelah duluan jika membayangkan seberapa banyak mata pelajaran yang harus ia kejar. Ugh, pasti sangat melelahkan sekali.

 

 

Baekhyun mandi dengan waktu yang tak begitu lama, kemudian ia pakai seragamnya dengan cepat. Peralatan sekolahnya sudah tersusun rapi dalam tasnya, dan ia langsung melangkah keluar dari kamar sambil menjinjing tas itu di tangan kanan. Baekhyun sedang berpijak di tiga anak tangga terakhir ketika ia menemukan Chanyeol sedang duduk diam di salah satu kursi meja makan. Pemuda itu menoleh karena suara langkah kaki Baekhyun, namun Baekhyun membuang wajah kearah lain dengan cepat bahkan sebelum tatapan mereka sempat bertemu.

 

 

Keduanya diam. Beberapa saat Baekhyun hanya berdiri mematung di tangga, hingga akhirnya ia merasa lelah dan ia bawa langkahnya turun, kemudian berjalan menuju ruang tamu.

 

“Baek, kau kesekolah hari ini?”

 

Baekhyun menghentikan langkahnya ketika suara Chanyeol terdengar, tapi ia tak menjawab pertanyaan –tak penting– itu. Kakinya kembali berayun menuju pintu setelah ia diam hingga beberapa lama, namun lagi-lagi suara Chanyeol membuat langkahnya terhenti.

 

 

“Sarapan dulu Baekkie…”

 

Baekhyun mendengus, “aku tak lapar,” jawabnya malas, kemudian ia seret langkah kakinya keluar rumah.

 

 

Baekhyun memutuskan untuk berangkat ke sekolah dengan menaiki bus umum saja hari ini, namun ketika ia baru saja mencapai pagar, pergelangan tangannya telah digenggam erat oleh seseorang dan tubuhnya diseret paksa menuju mobil Chanyeol.

 

 

“Lepaskan aku, brengsek!” maki Baekhyun, namun Chanyeol menulikan pendengarannya dan mendesak tubuh kecil itu masuk ke dalam mobil.

 

 

“Aku tahu kau masih marah padaku, tapi aku tak akan membiarkanmu pergi kemanapun tanpa aku Baek…aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu dan aku takada di sana ketika kau membutuhkanku,” kata Chanyeol.

 

“Diamlah, dasar munafik!” umpat Baekhyun muak. Tapi ia hanya diam saja ketika Chanyeol memasangkan seatbelt pada tubuhnya, dan tetap diam setelahnya. Mood-nya memang masih sangat buruk, dan Chanyeol memutuskan untuk tak mengatakan apapun lagi sampai mereka tiba di sekolah.

 

 

.

.

.

.

.

-Baekhyun Pov-

 

 

Aku tak melihat Luhan dikelas hari ini. Kemana dia? Entah apa yang terjadi, tapi aku tak bisa berhenti memikirkan namja jalang itu. Sudah berkali-kali dalam satu hari ini, aku membuang waktuku hanya untuk melirik mejanya yang kosong, mengabaikan segala ucapan Guru yang mengajar di dalam kelas. Aku tak tahu untuk apa aku memikirkannya. Hanya saja setelah dua minggu aku tak bertemu dengannya, rasanya memang agak sedikit aneh. Entahlah…aku sangat membenci Luhan, tapi –

 

 

–aku juga merindukannya.

 

 

Ketiadaannya di dalam kelas seharian ini membuatku agak sedikit gelisah, entah mengapa. Dua minggu ini aku benar-benar sendirian. Tak ada Chanyeol, tak ada Luhan, tak ada siapapun. Sangat menjengkelkan saat perasaan kesepian datang menghantui, tapi aku tak bisa berbuat apapun karena aku sendiri yang memilih itu. Aku menjauhkan diriku dari Chanyeol karena aku merasa sakit. Sikapnya membuatku sangat marah, merasa rendah diri dan aku juga mengalami stress. Aku tak suka keadaan seperti itu. Aku benci di abaikan. Aku benci menjadi pihak yang selalu terbuang. Aku benci pada semua itu!.

 

 

Kelas ini membuatku benar-benar merasa bosan. Aku ingin pikiranku menjadi rileks. Beberapa minggu terakhir adalah minggu-minggu terberat dalam hidupku, dan sepertinya sudah saatnya aku menenangkan diri. Memang menyedihkan sekali menjadi seseorang sepertiku. Tak ada teman. Aku tak memiliki siapapun, ck, menjengkelkan!.

 

 

Aku melangkah lemah ke tempat favoritku, taman kecil di sebelah Timur yang berada agak jauh dari gedung sekolah. Di depan sana pohon-pohon sudah mulai terlihat, membuat kepalaku agak sedikit mendingin. Kukeluarkan IPod-ku, kemudian aku memilih-milih lagu sambil berjalan menuju kursi panjang tempat dimana aku biasa duduk. Baru saja aku meletakkan salah satu headset di telinga kiri dan menatap kursi itu, otakku kembali kusut dalam sekejap. Seseorang telah berada di sana. Dan orang itu adalah salah satu dari sekian banyak orang-orang yang tak ingin kutemui, terlebih untuk saat ini. Aku berdiri mematung pada posisiku, hanya memperhatikan pria blonde yang terlihat sibuk mengutak-atik kamera itu. Aku mendengus sekilas, kemudian aku memutar kakiku. Aku ingin pergi saja dan kembali ke kelas. Tapi–

 

 

“Baekhyun?”

 

 

Aku berhenti melangkah, lalu aku berbalik dan menatapnya. Dia tersenyum tampan, tapi entah mengapa tampak memuakkan bagiku.

 

 

“Apa yang kau lakukan disana? Ayo kesini!” katanya.

 

 

Aku menimbang-nimbang sebentar, tapi kemudian aku kembali berbalik dan melangkah ke arahnya. “Hai Kris,” sapaku malas, lalu aku berjalan menghampirinya dan meletakkan bokongku di permukaan kursi di sebelah kanannya.

 

 

Aku memutuskan untuk mengabaikan namja ini, dan aku hanya akan menikmati waktuku sendirian dengan menikmati lagu-lagu kesukaanku saja. Biarlah aku berbagi kursi dengannya kali ini, yang penting dia tak menggangguku. Kuletakkan sebelah headset yang tersisa ditelinga kananku, lalu aku hanya diam sambil mendengarkan musik dengan mata yang terpejam. Baru beberapa detik menikmati alunan lagu ballad kesayanganku, mendadak pipiku terasa hangat. Sebuah udara hangat membelai kulitku, memaksaku membuka mata dan menoleh ke kiri. Namun apa yang kulakukan membuatku shock setengah mati karena tanpa sengaja bibirku bersentuhan dengan bibir Kris saat aku menoleh dengan cepat kearahnya. Kutarik kepalaku gugup, kemudian aku cepat-cepat membuang wajah ke arah lain. Sial! Jantungku mau copot sekarang!

 

 

“Ma-maaf Baekhyun.., Tadi aku memanggilmu berulang kali tapi k-kau terlalu larut dalam duniamu sampai aku mengira kau tertidur, jadi–”

 

“Aku tak apa-apa!” potongku cepat-cepat. “A –aku baik-baik saja, maafkan aku juga,” lanjutku tanpa menatap padanya. Aku merasa sangat gugup sekarang, sialan!

Setelahnya kami sama-sama diam hingga waktu yang sangat lama. Situasi canggung ini membuatku merasa tak nyaman, lalu aku memutuskan untuk kabur saja dari situasi mengerikan ini. Baru saja aku berdiri, Kris sudah menarikku hingga mau tak mau aku kembali duduk di sampingnya. Kulirik ia dengan canggung, tapi ia hanya diam sambil menatapku.

 

“K –kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyaku gugup, lalu aku menggaruk tengkukku sendiri yang sebenarnya tak gatal dengan sebelah tanganku yang bebas.

 

Kulihat ia mendesah, kemudian ia menunduk. Dia menatap tangannya yang masih mencengkram pergelangan tanganku, lalu ia menggerakkan tangannya, dan dalam sekejap saja jari jemarinya sudah bertaut dengan milikku, membuatku tertegun.
“Apa kau sudah memutuskan jawabannya?” tanyanya padaku, membuat keningku berkerut.

 

“Ja-jawaban?”

 

“Hmm…jawaban atas pernyataan cintaku tempo hari….” Jelasnya, membuatku merasa tercekat.

 

Pernyataan cintanya? Jadi dia serius saat mengatakannya? Kupikir ia hanya –astaga!

 

Kata-kata yang ia ucapkan tiba-tiba saja membuatku teringat akan hal itu, dan aku jadi salah tingkah sekarang. Kutatap tautan jari jemari kami, lalu aku mengalihkan tatapanku lagi padanya.

 

 

“Jadi kau…serius?” tanyaku.

 

“Tentu saja. Jadi apa jawabanmu?” tanyanya.

 

 

Aku kembali terdiam. Apa dia sedang menagih jawaban padaku? Apa yang harus kujawab?

 

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan, jadi aku hanya diam. Kubiarkan saja ia tetap menggengam jemariku, sedang aku sedang fokus pada banyak sekali pikiran yang menari-nari di dalam otakku. Sesuatu di antaranya adalah tentang Luhan, dan kedekatan Kris dengan namja itu kemarin mendadak membuatku penasaran. Aku ingin tahu hubungan seperti apa yang ada di antara mereka.

 

“Kris, apa kau –mengenal Luhan?” tanyaku, mencari jawaban sekaligus mengalihkan topik yang sedang tak ingin kubahas.

 

Kulihat Kris mengerutkan keningnya sambil menatapku. “Luhan? kau mengenalnya juga?”

 

Eighh….bukannya menjawab, dia malah bertanya balik padaku. Tentu saja aku mengenal namja jalang itu bodoh! –rutukku dalam hati.

 

“Kami satu kelas…” jawabku tanpa minat.

 

Kris tersenyum. “Luhan adalah sahabatku,” jawabnya.

 

“Sahabat?” tanyaku heran.

 

“Ya…Luhan itu adalah temanku sejak kecil, dan sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Dia itu adalah anak tetangga sebelah rumah. Saat itu tetanggaku, Aunty Lee, memutuskan menikah lagi setelah enam bulan perceraiannya dengan Uncle Oh Sen Woo. Aunty Lee kemudian memutuskan menikah lagi dengan seorang pria yang berkewarga-negaraan China. Pria itu bermarga Xi. Saat menikah dengan Aunty Lee, pria itu membawa satu orang putera, anak itu adalah Luhan. Waktu itu umurku sudah 13 tahun, dan Luhan masih sangat kecil, dia masih berusia 10 tahun ketika aku mengenalnya” jelas Kris, dan aku hanya diam, mendengarkan.

 

“Kenapa kau menanyakan tentang Luhan?” tanyanya, tapi aku mengabaikan pertanyaannya itu dan malah melemparkan pertanyaan baru ke arahnya.

 

“Apa hubungan kalian sangat dekat? Maksudku –apa kalian memang hanya bersahabat?” tanyaku lagi, membuat Kris tertawa.

 

“Ya, hubungan kami hanya sebatas itu. Luhan itu sangat pendiam saat aku mengenalnya, sepertinya dia memiliki banyak masalah dalam hidupnya.”

 

“Luhan pendiam?” tanyaku heran, karena Luhan yang kukenal saat kecil dulu adalah anak yang ceria, bukan anak yang pendiam seperti yang Kris bilang barusan.

 

Kris menjawabku dengan sebuah anggukan. “Hmm…saat aku mengenalnya, dia tak pernah mau berbicara padaku. Aku bahkan sempat mengira kalau bocah itu membenciku. Aku telah mencoba segala cara untuk mendekatinya, tapi ia sepertinya merasa terganggu dengan apapun yang kulakukan. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya, tapi kupikir ia sedang mengalami banyak trauma, mungkin karena perceraian kedua orangtuanya dan ayahnya yang memutuskan menikah lagi. Dia benar-benar terlihat membenciku, tapi saat dia tahu aku suka fotografi, dia berubah. Sepertinya dia sangat tertarik pada hal-hal yang menyangkut fotografi. Itulah yang akhirnya membuat kami menjadi dekat hingga sekarang.”

 

“Jadi kau –bukan salah satu dari kekasih Luhan?” tanyaku hati-hati.

 

Kris menatapku aneh. “Salah satu? Errr….aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi hubunganku dan Luhan memang hanya sebatas itu. Dia temanku, dan dia sudah seperti adik untukku. Well –begitulah,” jelas Kris.

 

Aku terdiam, berpikir. Sebenarnya Luhan memiliki masalah apa dalam hidupnya?

 

 

.

.

.

.

.

Bel sekolah kembali berbunyi. Kali ini bel menunjukkan tanda bahwa pelajaran telah berakhir. Dengan cepat kubereskan peralatan belajarku dan segera bergegas keluar dari kelas ini. Aku tak ingin pulang bersama Chanyeol. Konyol memang, mengingat kami tinggal dalam satu rumah yang sama, tapi yeah…setidaknya aku tak perlu sering-sering bertemu dengannya.

 

Baru saja aku keluar kelas, aku berpapasan dengan Luhan di ambang pintu, membuatku melebarkan mataku karena terkejut melihat kemunculannya yang tiba-tiba. Bukankah ia tak masuk sekolah hari ini? Kenapa ia malah muncul saat kelas baru saja berakhir?

 

“Minggir kau!” katanya ketus, menyuruhku menyingkir dari pintu.

 

“Kenapa kau tak masuk sekolah?” tanyaku. Entah aku bodoh atau apa, tapi sejujurnya saat tak melihatnya seharian ini, aku merasa agak gelisah.

 

“Bukan urusanmu!” jawabnya setengah membentak.

 

Aku hanya diam, lalu kulihat Luhan dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Luhan tampak aneh. Dia tak mengenakan seragamnya hari ini, dan kondisinya sepertinya sedang tak sehat. Wajahnya terlihat pucat dan kantung matanya menghitam. Apa dia kurang tidur?

 

“Cepat minggir dari pintu, aku mau lewat!” katanya lagi.

 

“Wajahmu pucat. Apa kau sakit?” tanyaku lagi, mengabaikan ucapannya yang menyuruhku menyingkir dari pintu.

 

“Sudah kubilang minggir!” katanya setengah berteriak sambil menubruk bahuku dengan kasar. Dia masuk kedalam kelas kami, mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya dan keluar lagi dari kelas. Aku hanya diam saja memperhatikan segala gerak-geriknya dari posisi berdiriku.

 

Dia melewatiku tanpa menoleh. Aku hanya diam, menatap punggung sempitnya dari belakang, tapi tanpa kuduga, ia tiba-tiba saja menoleh padaku. Dia berbalik menghadapku dan menyedekapkan lengannya di dadanya sendiri. Dia menarik salah satu sudut bibirnya, menunjukkan senyum miringnya padaku.

 

“Jaga kekasihmu dengan baik, Byun Baekhyun. Katakan padanya agar tak berusaha menemuiku lagi,” katanya padaku, membuatku mengernyitkan dahiku dalam-dalam.

 

Jadi mereka masih sering bertemu selama aku tak bersekolah dua minggu ini? Shit!

 

“Kenapa Chanyeol masih saja menemuimu?” tanyaku, frustasi.

 

Luhan semakin tersenyum sinis dan sekarang ia mulai berjalan mendekatiku, lalu memegang bahuku dengan tangan kirinya dan berbisik ditelingaku.

 

“Entahlah…Apa mungkin Chanyeol masih mencintaiku ya, Byun Baekhyun? Kau tahu sendiri kan, aku ini jalang…jadi jaga kekasihmu itu baik-baik sebelum dia benar-benar jatuh padaku,” bisiknya, diakhiri dengan kekehan menyebalkan di akhir kalimatnya, membuat emosiku mendadak naik.

 

Aku menatapnya tajam saat dia melepaskan bahuku dan berdiri dihadapanku dengan senyuman mengejeknya yang menyebalkan itu.

 

“Jangan ganggu Chanyeol, dia milikku!” desisku tajam, tapi Luhan kembali tertawa, mengejek.

 

“Hei Baekhyun, apa kau tak memiliki cermin? Sejak kecil aku dan Chanyeol sudah berteman, bahkan kami sangat akrab. Tapi semenjak kau hadir diantara kami, segalanya perlahan menjadi buruk. Kau merusak segalanya, sialan! Jika bukan karena memikirkan perasaanmu mungkin sejak awal aku sudah menerima cinta Chanyeol dan menjadikannya kekasihku. Dasar tak tau diri!” umpatnya padaku.

 

Aku terdiam sambil menatap shock pada Luhan. Baru kali ini aku melihat Luhan seperti ini. Biasanya dia hanya akan diam dan bersikap tak perduli saat aku bersikap buruk padanya, tapi sekarang kenapa dia berbalik menyerangku? Apa dia berniat balas dendam padaku? Apa karena pertengkaran kami beberapa minggu yang lalu?

 

 

Tapi ini juga bukan sepenuhnya salahku! Aku mencintai Chanyeol dan Chanyeol masih mencintai Luhan. Chanyeol adalah kekasihku, jadi seharusnya Chanyeol hanya boleh menjadi milikku, tapi Luhan membuat hubungan kami menjadi tak baik. Semua yang kulakukan hingga sekarang adalah sebagai bentuk dari usahaku untuk menjadikan Chanyeol hanya melihatku, apa aku salah?

 

Aku tak tahu mengapa Luhan berubah, dan entah mengapa saat ini aku hanya bisa diam. Aku tak ingin kalah dengannya, sama sekali tak sudi kalah darinya, namun aku tak tahu mengapa aku tak bisa membalas segala ucapannya. Lidahku benar-benar kelu. Aku hanya bisa diam. Kami hanya diam, hingga beberapa detik terlewati dalam kesia-siaan. Kami saling bertatapan, sama-sama sedang berpikir dengan raut wajah yang sama-sama mengeras. Tapi beberapa detik kemudian, raut wajahnya terlihat melunak dan ia menatapku dengan tatapan –terluka?

 

“Aku akan pindah sekolah. Kau senang?” katanya dengan suara yang bergetar.

 

Aku membelalakkan mataku, dan menatapnya terkejut. “Pin…dah? Ta–tapi  kenapa?” tanyaku. Entah apa yang terjadi padaku, tapi tiba-tiba saja aku merasa gelisah. Kutatap Luhan dalam-dalam, menuntut jawaban darinya dengan tatapan mataku. Kulihat rahangnya mengeras, hingga gigi-giginya bergemeretak kencang.

 

“Kau pikir kenapa? Apa setelah seluruh sekolah mendengar dari mulutmu tentang bagaimana sikap ‘menjijikanku’ diluar sana aku masih bisa bertahan disekolah ini? Karena kau, setiap hari mereka menatap sinis padaku. Karena ucapanmu, mereka mengataiku pelacur jalang! Kau puas?” katanya geram, lalu ia membuang wajahnya kearah lain. Tubuh Luhan bergetar, lalu airmatanya terjatuh, dan aku bisa melihatnya dengan sangat jelas.

 

 

Tenggorokanku tercekat. Jadi karena ucapanku waktu itu? A –aku…..apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku meminta maaf padanya?

 

Luhan mulai terisak di hadapanku, membuat tubuhku terasa lemas dalam sekejap. Kukepalkan tanganku, lalu aku–

 

“L –Luhan…A –aku minta ma–”

 

“LUHAN!”

 

Aku menoleh secara refleks pada sumber suara teriakan yang mengejutkan itu, lalu dalam sekejap saja mataku sudah membulat sempurna.

 

 

Chanyeol?

 

Chanyeol berlari-lari dengan cepat ke arah kami, lalu dia menubruk tubuh Luhan dengan begitu cepatnya bahkan sebelum aku bisa mencerna situasi ini secara jelas.  Jantungku terasa remuk dalam sekejap. Hatiku terasa di cabik-cabik hingga hancur berantakan.

 

 

Chanyeol….dia….memeluk Luhan dengan pelukan yang sangat erat –

 

 

–di depanku?

 

 

“Luhannie, jangan pergi…Jangan pergi ya, jangan pindah Luhan…tetaplah di sisiku, kumohon…” Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Chanyeol–

 

 

–kekasihku…

 

 

“Jangan pergi Luhan, kumohon…” katanya lagi dihadapanku.

 

Aku lemas. Dan airmataku lagi-lagi jatuh.

 

Aku masih disini Yeol…Apa kau tak bisa melihatku? –jeritku dalam hati. Ini sangat menyakitkan, sungguh!

 

Ku-ulurkan tanganku kearahnya, lalu kucengkram ujung seragamnya erat-erat dan menariknya kuat, berusaha menyadarkannya kalau aku ada di sini. Aku, Byun Baekhyun, masih berada di sini, di samping mereka. Usahaku tak sia-sia. Sentakanku pada seragam Chanyeol berhasil menarik perhatiannya. Chanyeol menoleh padaku, dia jela-jelas menatapku, tapi dia hanya diam.  Dia bahkan mengabaikanku yang sekarang sedang menangisinya, menangisi sikap tak perdulinya padaku.

 

“Ye –Yeollie…aku masih disini Yeol…Kenapa kau harus meminta pada Luhan…Aku disini Yeollie…aku–”

 

Chanyeol mengalihkan tatapannya kembali pada Luhan, bahkan sebelum aku selesai dengan ucapanku.

 

“Luhan, jangan pindah sekolah ya…Jangan tinggalkan aku Lu…” kata Chanyeol sambil menangkup wajah Luhan di hadapanku. Mulutnya terus-menerus berusaha membujuk Luhan agar tidak pergi, dan tatapannya pada Luhan sangat lembut.

 

Aku–

 

–seperti sampah…

 

Lagi-lagi aku diabaikan, dibuang…Aku memang sampah yang tak berguna…

 

Ini sangat sakit. Aku tak tahan lagi, lebih baik aku pergi…

 

Dengan terseok, aku mulai menjauh, tapi tanganku ditahan. Aku menoleh lemah, dan kulihat tangan kanan Chanyeol menggenggam pergelangan tanganku, sedang tangannya yang sebelah kiri masih bertengger manis di pipi kanan Luhan.

 

Untuk apa lagi dia memegang tanganku, sampah yang menjijikkan ini?

 

“Tunggu sebentar Baek, kita pulang bersama” katanya, dan aku hanya diam sambil menunduk dengan wajahku yang basah.

 

“Pulanglah Chanyeollie….” –itu suara Luhan.

 

Aku menaikkan kepalaku yang tadi tertunduk, dan mataku langsung terpaku pada satu sosok tampan bersurai blonde yang baru saja keluar dari ruangan perpustakaan. Pria itu sedang berjalan sambil membolak-balik halaman buku yang ia pegang tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya, dan kemunculannya itu tiba-tiba saja membuat rasa benciku pada Chanyeol dan Luhan kembali meluap-luap. Semangatku untuk membalas dendam begitu membuncah, hingga tubuhku yang tadinya lemas seolah mendapatkan kekuatan kembali dalam sekejap.

 

 

Dengan penuh kebencian kuhentakkan tangan kananku hingga genggaman tangan Chanyeol terlepas. Kemudian dengan langkah cepat aku menghampiri pria blonde yang berjalan beberapa langkah di depanku itu. Dia tak tahu kehadiranku, tapi aku tak perduli. Tanpa mengatakan apapun kutarik kerah baju pria itu, membuatnya sedikit tersentak karena terkejut dengan kemunculanku yang tiba-tiba, tapi lagi-lagi aku tak perduli.

 

 

“Kris….” panggilku, dalam keputus-asaan yang begitu hebat dalam diriku.

 

 

“Baek, kenapa menangis?” tanyanya panik saat ia melihat wajahku yang basah.

 

 

Tanpa menghiraukan pertanyaannya, kupeluk lehernya erat-erat.

 

 

“Kris…kau mencintaiku kan?” tanyaku, dengan segala keputus-asaan yang begitu besar itu.

 

 

Kris menatap bingung padaku, lalu ia berusaha menghapus airmataku dengan ibu jarinya, tapi kutahan tangannya dengan cepat.

 

 

“Kau mencintaiku atau tidak?” kataku lagi, tak sabaran. Kulihat Kris terdiam hingga beberapa saat. Matanya hanya fokus pada wajahku, lalu dia mengangguk kecil, mengiyakan. Dia tangkup kedua pipiku dengan tangannya, lalu ia mengelus pipiku pelan-pelan.

 

“Baekhyun, kenapa kau tiba-tiba saja–“

 

 

Aku tak memberinya kesempatan bicara. Kutarik kerah seragamnya, lalu kuraih bibirnya dan kutekan dalam-dalam dengan bibirku. Kurasakan tubuh Kris menegang, tapi ia hanya diam saja. Dengan perasaan sakit dan keputus-asaan yang besar itu, kugerakkan bibirku di atas bibirnya. Aku mendominasi ciuman hingga beberapa detik, lalu kurasakan sepasang lengan melingkari pinggangku dan menarik tubuhku merapat pada tubuh pemilik lengan itu. Kris akhirnya ikut menggerakkan bibirnya, membalas ciumanku dengan ciuman yang lebih hangat dan basah. Baru sebentar, tiba-tiba saja kurasakan tubuhku tersentak kuat lalu melayang cepat hingga menjauh dari tubuh Kris. Tubuhku dibalik dengan kasar, dan berakhir dengan berdiri berhadapan dengan dia, Park Chanyeol.

 

 

“APA-APAAN KAU!!!” teriaknya tepat di depan wajahku.

 

 

Aku menatap tajam padanya, lalu kutarik salah satu sudut bibirku hingga senyuman sinis terukir pada wajahku.

 

 

“Aku mencintai Kris. Aku ingin bersamanya, jadi lepaskan saja aku, Park Chanyeol,” kataku tajam.


 

To Be Continued


Advertisements