ALL ABOUT LOVE ( Othello Season 2 )


All About Love Poster
.

By tmarionlie

.

Poster By L.E Design

.

Main Pair : ChanBaek

Other : Luhan & Kris

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


WARNING!!

Karakter semua tokoh dalam FF ini akan sangat menjijikkan dan memuakkan. Bagi ChanBaek hardshipper yang tidak mampu membedakan antara Fiksi dan Real, yang tidak suka jika biasnya dinistakan di dalam FF, harap CLOSE FF INI DENGAN SEGERA agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Author ( saya ). Thanks!


CHAPTER 8


Sudah berulang kali Chanyeol memencet rumah Luhan hingga akhirnya wanita yang sangat cantik –ibu tirinya Luhan–membukakan pintu untuknya. Dengusan muak dikeluarkan oleh Chanyeol ketika ia melihat wanita itu.

 

“Dimana Luhan?” tanyanya ketus.

 

Wanita itu tersenyum, tapi entah mengapa senyumannya tetap saja terlihat licik. Meskipun tak suka Chanyeol datang, tapi wanita itu tetap membiarkan Chanyeol masuk ke dalam rumahnya.

 

“Anak itu ada dikamarnya. Tch, pasti dia sangat kacau, masuk saja jika kau ingin menemuinya.”kata wanita itu sambil mencibir.

 

Chanyeol tak mengatakan apapun lagi, hanya diam sambil membawa kaki panjanganya masuk ke dalam rumah mewah itu. Dia berputar-putar dilantai atas dan berhenti didepan sebuah pintu kamar yang dia yakini adalah kamar Luhan. Dia ketuk pintu itu beberapa kali, namun tak ada jawaban. Chanyeol menghembuskan nafas beratnya sebelum ia putar kenop pintu kamar itu dan ia  masuk begitu saja kedalamnya. Matanya terlihat sendu begitu ia menemukan sosok Luhan yang sedang duduk diatas ranjang sambil menelungkupkan kepala diatas lututnya sendiri.

 

“Luhannie…”

 

Luhan mendongak dan langsung tersenyum saat melihat Chanyeol ada dihadapannya meskipun wajahnya sudah basah oleh airmatanya sendiri. Chanyeol langsung melangkah cepat menghampiri pria cantik itu dan ia peluk tubuh Luhan erat-erat. Tangan besarnya menghapus airmata yang masih saja mengalir di pipi Luhan, dengan ekspresi wajah yang meringis karena ia mengerti bagaimana rasanya kehilangan itu. Chanyeol telah mengalaminya lebih dulu ketika ia masih kecil.

 

 

“Jangan menangis lagi….” bujuk Chanyeol.

 

Luhan hanya diam, dan tetap  begitu hingga beberapa lama. Keningnya berkerut dalam, tampak seperti sedang berfikir keras.

“Luhan…” tegur Chanyeol, memecah pikiran pemuda berambut merah itu.

 

Luhan menoleh, lalu melemparkan senyumannya pada Chanyeol.

 

“Benarkah Xiao Huo Hyung dan Eomma sudah meninggal?” tanya Luhan dengan getaran samar pada suaranya, dan tanpa bisa ia tahan, airmatanya kembali jatuh.

 

Chanyeol kembali meringis dan hanya bisa menatap Luhan dengan raut wajah sedihnya.

 

“Luhannie, sudahlah…mereka sudah tenang….relakan sa–”

 

“Tidak Chan, itu pasti bukan mereka…Mereka pasti masih hidup, benar kan?”

 

“Luhan….”

 

“Haha….Ya, kau benar, sudahlah…Lagipula aku tak perduli, toh aku membenci mereka.”

 

 

“…..”

 

 

“…..”

 

 

“…..”

 

 

“Mereka meninggalkanku Chan, mereka membuangku. Mereka pantas mati.” kata Luhan dengan nada sedingin es, namun airmatanya tetap saja berjatuhan.

 

 

Kata-kata yang dilontarkan oleh pria itu mau tak mau membuat Chanyeol tercekat. Chanyeol sangat mengerti mengapa Luhan menjadi sangat terpuruk seperti ini. Sejak kecil ditinggalkan oleh Ibu dan kakaknya, ditambah tekanan bathin yang selalu ia dapat selama bertahun-tahun dari Ibu tirinya, Luhan tentu saja merasa sangat tersiksa. Namun Chanyeol tak menyangka jika kepribadian temannya bisa berubah menjadi dingin seperti sekarang. Sejak awal mereka bertemu lagi setelah sekian tahun berpisah, Luhan juga sudah menunjukkan perubahannya itu, namun Chanyeol tak begitu menyadarinya. Luhan, teman kecilnya yang dulu baik, ceria dan ramah telah menghilang. Entah kapan temannya itu akan kembali seperti dulu lagi.

 

“Luhannie, aku–”

 

Tenggorokan Chanyeol lagi-lagi tercekat. Chanyeol bingung harus mengatakan apa saat ini.

 

Tanpa memperdulikan ucapan Chanyeol, Luhan beranjak turun dari ranjangnya, melepaskan pakaian hitam-hitam yang dia kenakan begitu saja di hadapan Chanyeol tanpa merasa malu, lalu berjalan kesana kemari dengan hanya mengenakan panty hitamnya. Dia buka lemarinya dan ia mengambil sebuah T-shirt berwarna merah menyala serta celana kasual yang juga berwarna merah. Luhan memakai kaus dan celana pendek selutut itu sambil sesekali menghapus airmatanya, lalu ia bergerak kearah kamar mandi untuk membasuh wajahnya sendiri. Chanyeol hanya diam memperhatikan gerakan Luhan yang kini sudah berdiri di depan cermin. Pemuda itu menyemprotkan hairspray pada rambut merahnya dan menatanya, kemudian ia memakai parfum tanpa terkendali, menyebabkan kamar itu terasa sesak oleh wangi parfum pria itu. Setelah merasa cukup, Luhan membalikkan posisi berdirinya menghadap Chanyeol. Pemuda itu tersenyum, meskipun terlihat sangat jelas jika senyumnya itu dipaksakan.

 

“Bagaimana penampilanku?” tanyanya pada Chanyeol, membuat kening Chanyeol berkerut sangat dalam.

 

“Kau mau kemana?” tanya Chanyeol.

 

“Ke Pemakaman, tentu saja.” jawab Luhan.

 

Mata Chanyeol melebar sempurna ketika ia mendengar ucapan pria itu. Apa yang dipikirkan oleh Luhan? Mengenakan pakaian pendek dengan warna yang sangat mencolok seperti itu di Pemakaman? Apa-apaan?

 

“Lu-Luhannie, tap–”

 

“Antarkan aku kesana Chanyeollie, sekarang!” kata Luhan sambil menyambar kacamata hitamnya dan memakainya.

 

 

 .

.

.

.

.

Chanyeol berdiri agak menjauh dari Luhan yang berdiri di sebelah lubang yang akan digunakan untuk mengubur jenazah Ibunya dan jenazah Siyan. Chanyeol hanya akan menunggu acara pemakaman itu selesai dari posisi berdirinya sekarang. Pria jangkung itu sejak tadi berpikir. Dia tak mengerti dengan jalan pikiran Luhan. Memakai pakaian serba merah di pemakaman seperti ini pasti sangat mencolok dan tentu saja tidak sopan, apalagi pemuda mungil itu mengenakan celana pendek. Sejak tadi Chanyeol menghabiskan waktunya untuk memandangi wajah Luhan yang tampak sangat datar, padahal sebelum berada di sini tadi pemuda itu terus-menerus menangis.

 

 

Tak jauh berbeda dengan Chanyeol, sejak tadi orang-orang di pemakaman juga terus memperhatikan Luhan, tapi pria berambut merah itu tampak tak perduli dengan seluruh tatapan yang diarahkan padanya. Dia hanya diam dengan ekspresi dinginnya, bahkan ia mengabaikan beberapa orang yang jelas-jelas saling berbisik-bisik saat ia melepaskan kacamata hitamnya. Entah apa yang dikatakan oleh orang-orang di pemakaman tentang Luhan. Mungkin mereka tak menyangka bahwa Xi Huo Siyan, seorang Pianis muda yang terkenal dengan image cool-nya itu ternyata memiliki saudara kembar identik yang bergaya funky seperti Luhan.

 

Chanyeol menyipitkan matanya ketika melihat Pendeta yang berada dipemakaman mengelus bahu sempit Luhan. Dia mencoba membaca ekspresi wajah temannya itu, tapi wajah Luhan tetap tak berubah. Ekspresinya tetap saja datar.

 

“Apa kau mau melihat Ibu dan saudara kembarmu sekali lagi nak? Kau boleh memberikan penghormatan ter–”

 

“TIDAK!!” tolak Luhan setengah berteriak hingga membuat Pendeta itu terkejut.

 

 

Chanyeol meringis sambil mengedarkan tatapannya ke sekitar pemakaman itu, dan sesuai dengan apa yang ia pikirkan, semua tatapan saat ini mengarah pada Luhan dengan ekspresi yang berbeda-beda. Chanyeol kembali menatap Luhan dan kali ini ia menangkap ekpresi gugup pada wajah temannya itu.

 

“Mak-maksudku ti-tidak perlu…”

 

 

Chanyeol mengeluarkan nafas beratnya satu kali ketika mendengar ucapan Luhan itu, kemudian ia hanya diam dengan tangan yang bersedekap di depan dadanya sendiri.

 

 

Orang-orang kembali berbisik-bisik dan menatap aneh pada Luhan, membuat tatapan Chanyeol lagi-lagi beredar untuk memperhatikan ekspresi orang-orang di pemakaman satu persatu. Tatapan mata pria jangkung itu lagi-lagi mendarat pada pria berkulit sangat putih dan berambut pelangi yang berdiri disebelahnya. Entah mengapa pemuda pucat itu begitu menarik perhatian Chanyeol. Bukan karena apa-apa, tapi Chanyeol sangat yakin jika pemuda pucat itu sejak tadi terus-menerus menatap Luhan tanpa pernah sedikitpun mengalihkan tatapannya dari temannya itu. Chanyeol tak tahu siapa pria itu, namun ia tak mau capek-capek memikirkannya.

 

 

 

Mungkin saja pria ini adalah teman Luhan juga –pikir Chanyeol.

 

 

 

Akhirnya peti jenazah dimasukkan kedalam lubang. Luhan menatap kosong pada peti-peti itu. Entah apa yang dia pikirkan, namun keningnya berkerut sangat dalam. Chanyeol menatap lurus pada pemuda berambut merah itu ketika tanah mulai dilemparkan keatas peti-peti yang telah berada di dalam lubang. Wajahnya lagi-lagi meringis ketika matanya melihat Luhan kembali memakai kaca mata hitam besarnya dengan tangan yang bergetar. Chanyeol sangat yakin jika temannya itu pasti sedang menangis namun bersikeras menyembunyikannya di balik kacamata hitam besar miliknya itu.

 

Acara selesai, dan Luhan cepat-cepat menarik tangan Chanyeol dan menyeret pria jangkung itu pergi menuju mobil. Dia melepas kacamatanya ketika pintu mobil telah tertutup rapat, dan tepat seperti dugaan Chanyeol, Luhan sedang menangis. Wajah pria cantik itu sudah sangat basah hingga tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, Chanyeol menarik bahunya dan membawa pria cantik itu ke dalam pelukannya.

 

 

“Jangan menangis lagi Lu…Sudah cukup…” bujuk Chanyeol sambil mengelus lembut rambut merah pemuda itu.

 

 .

.

.

“Luhannie, sudah ya…kau sudah mabuk.” Bujuk Chanyeol, sudah untuk yang kesekian kalinya sambil mencoba merebut gelas minuman yang ada di genggaman Luhan. Untung saja kali ini Luhan tak berontak seperti tadi.

 

“Kenapa mereka meninggalkanku lagi? Kenapa mereka pergi?” racau Luhan dalam pose setengah sadarnya.

 

“Luhan, sudahlah…Mereka sudah tenang, relakan saja mereka….” bujuk Chanyeol lagi. Chanyeol tak perduli Luhan akan mendengarkannya atau tidak. Pria jangkung itu hanya ingin menenangkan temannya itu.

 

Luhan terbatuk-batuk dengan keras, membuat Chanyeol panik. Dia tepuk-tepuk punggung pria cantik itu, tapi Luhan malah menangis, membuat Chanyeol menjadi semakin panik.

 

 

“Luhan, jangan menangis lagi…sudahlah…” kata Chanyeol frustasi. Untung saja saat ini mereka sedang berada di dalam sebuah klab malam yang sangat berisik, jadi suara tangisan Luhan tak begitu terdengar jelas. Tak ada orang yang akan perduli pada mereka ditempat ramai ini.

 

“Kau tahu? Aku sudah membiarkan mereka membuangku. Aku tak apa-apa asal mereka bahagia, setidaknya aku masih bisa melihat Xiao Huo Hyung di TV. Tapi sekarang mereka sudah tak ada lagi di dunia Park Chanyeol…Aku tak bisa lagi melihat mereka sampai kapanpun….Aku tak memiliki siapapun lagi…”

 

Luhan masih terus meracau, tapi akhirnya tangannya terangkat dan menghapus airmatanya.

 

“Air mata bodoh! Untuk apa lagi menangisi mereka, lagipula aku membenci mereka.” Kata Luhan lagi.

 

 

Chanyeol tak mengatakan apapun. Dia biarkan saja temannya itu mengeluarkan seluruh emosinya. Chanyeol memilih untuk diam.  Beberapa menit dihabiskan Chanyeol hanya dengan diam sambil menepuk-nepuk punggung Luhan, hingga akhirnya Luhan turun dari kursi tinggi yang didudukinya dan mencengkram tangan Chanyeol erat-erat.

 

 

 

“Chan, ayo kita pergi….” katanya sambil berdiri dengan terhuyung-huyung. Hampir saja Luhan terjatuh jika saja Chanyeol tak sigap menangkap tubuhnya.

 

“Hati-hati Lu…” bisik Chanyeol di telinga pria itu.

 

Chanyeol memapah tubuh Luhan menuju mobil. Dia dudukkan pemuda berambut merah itu di jok belakang mobilnya, lalu ia memutar menuju jok depan.

 

 

“Aku akan mengantarmu pulang” kata Chanyeol sambil menyalakan mesin mobilnya sendiri.

 

“Aku tak mau pulang Chanyeol…” tolak Luhan.

 

“Lalu aku harus membawamu kemana?”

 

“Kemana saja, selain neraka yang disebut rumah itu.”

 

Chanyeol meniup poninya, lalu memijit pelipisnya sendiri. Kepalanya terasa sedikit pusing, padahal tadi ia hanya menenggak sedikit alkohol saja. Chanyeol bingung harus membawa Luhan kemana, namun ia memutuskan untuk membawa Luhan ke Hotel saja pada akhirnya.

 

Mungkin Luhan butuh waktu sendirian agar lebih tenang –pikir Chanyeol.

.

.

.

Chanyeol membaringkan tubuh Luhan di atas ranjang Hotel dengan gerakan hati-hati. Pemuda mungil itu sudah tertidur sejak tadi, dan Chanyeol tak ingin mengusiknya. Dia hempaskan bokongnya di tepian ranjang, dan Chanyeol hanya diam sambil memandangi wajah Luhan yang tampak tenang. Chanyeol mengeluarkan desahan berat satu kali, kemudian ia bawa tangan kirinya untuk membelai pipi Luhan dengan wajah sedihnya.

 

“Aku masih menyukaimu Lu…” bisiknya dengan suara yang sangat pelan.

 

 

Chanyeol diam hingga beberapa lama. Kening pria jangkung itu berkerut sangat dalam. Dia sedang menimbang-nimbang, berperang dengan pikirannya sendiri hingga akhirnya ia tahu jika ia kalah berdebat dengan isi otaknya itu. Chanyeol menghela nafas beratnya hingga beberapa kali, kemudian ia menurunkan punggungnya. Dengan kedua tangan, ia menangkup pipi-pipi Luhan, lalu kepalanya ikut turun dan bibirnya mendarat pada kening pria yang masih terpejam itu.

 

 

Kecupan itu membuat mata Luhan terbuka, namun Chanyeol tak mengubah posisinya meskipun pria yang terbaring diatas ranjang telah terbangun. Jarak wajah yang begitu dekat membuat mereka bisa saling merasakan terpaan nafas mereka masing-masing. Chanyeol menatap dalam-dalam ke iris cokelat Luhan, begitupun sebaliknya. Mereka hanya bertatapan dalam diam hingga beberapa lama hingga Chanyeol bergerak lebih dulu, kembali menurunkan wajahnya dan kali ini ia kecup bibir Luhan dalam-dalam dengan mata yang terpejam. Chanyeol menunggu hingga beberapa lama karena ia yakin Luhan pasti akan menolaknya, namun pria cantik itu hanya diam menerima ciuman darinya, yang membuatnya menjadi lepas kendali. Bibirnya mengecup bibir Luhan hingga beberapa kali sebelum akhirnya berubah menjadi lumatan yang begitu dalam. Lenguhan pria cantik yang dia himpit di bawah tubuhnya membuat otak Chanyeol tak mampu memikirkan apapun lagi. Dengan perasaan campur aduk Chanyeol terus-menerus meraup bibir itu dengan rakus sebelum menjalarkan ciumannya menuju leher Luhan. Dia tinggalkan beberapa kissmark di leher putih pria cantik itu dan tangan kanannya telah menelusup masuk ke kaus merah Luhan, meraba perut pria berambut merah itu. Baru saja ia mencengkram kaus merah Luhan dan berniat melepaskannya, namun pemuda yang ia himpit itu menahan tangannya dengan cepat.

 

 

 

“Jangan Chan….” kata Luhan sambil menggelengkan kepalanya dengan nafas yang terengah-engah.

 

 

“Kenapa?” tanya Chanyeol tanpa melepaskan cengkraman tangannya dari kaus Luhan.

 

Luhan menarik nafas hingga beberapa kali, kemudian menyingkirkan paksa tangan Chanyeol dari kausnya. “Ini tidak benar Chanyeollie…Hentikan, kau menghianati Baekhyun….” kata Luhan mengingatkan, yang membuat tubuh Chanyeol langsung membeku dalam sekejap.

 

 

“Baekhyun?” katanya kaku, baru ingat jika ia meninggalkan kekasihnya itu dalam keadaan yang kurang baik tadi sore. Mata pria jangkung itu menatap nanar ke sekitar dengan wajah yang menegang, dan ketika ia sadar sepenuhnya, ia langsung berdiri dari posisinya dan menatap Luhan entah dengan ekpresi apa.

 

“Luhannie, aku harus pulang…maaf aku tak bisa menjagamu….” Kata Chanyeol.

 

 

Luhan terdiam hingga beberapa lama, tapi kemudian pemuda itu tersenyum dan mengangguk.

 

 

“Ya, pulanglah…aku baik-baik saja, jangan khawatir.” Kata Luhan, dan tanpa mengatakan apapun lagi Chanyeol langsung berlari menuju pintu dan keluar dari kamar Hotel itu, pulang menuju ke rumah.

.

.

.

Chanyeol berlari-lari  kedalam rumah secepat yang ia bisa. Kaki-kaki panjangnya bergerak secepat bayangan menuju kamar Baekhyun. Pria jangkung itu kalut dan benar-benar merasa seperti seorang brengsek saat ini. Padahal sudah sangat jelas jika Luhan sedang menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya, malah ia bisa-bisanya mencumbui Luhan seperti tadi. Dan yang lebih brengsek lagi, dia juga meninggalkan kekasihnya sendiri dan melupakannya begitu saja. Chanyeol merasa sangat beruntung karena Luhan mengingatkannya tentang Baekhyun meskipun pria cantik itu tak sadar sepenuhnya karena alkohol. Jika saja Luhan tak menolaknya, sudah pasti mereka akan…Ah, entah apa jadinya!

 

 

Chanyeol masih sempat menetralkan nafas dan detak jantungnya sendiri sebelum ia membuka pintu kamar Baekhyun. Matanya menangkap sosok mungil kekasihnya yang berbaring miring menghadap tembok, membelakanginya. Chanyeol merangkak naik ke atas ranjang dan langsung berbaring ditempat yang kosong dibelakang punggung Baekhyun. Dia usap punggung sempit itu beberapa kali, kemudian ia melingkarkan tangannya sendiri ke perut ramping kekasihnya. Bibirnya menekan tengkuk Baekhyun, mengecupinya beberapa kali.

 

 

“Maafkan aku Baekkie….” bisik Chanyeol dengan suara lembutnya.

 

-Baekhyun Pov-

Apa yang terjadi pada diriku sebenarnya? Chanyeol benar-benar pergi meninggalkanku.

 

Demi Luhan.

 

Aku tak tahu apa yang terjadi pada Luhan, tapi tak bisakah dia menjelaskannya padaku? Aku tak suka dia meninggalkanku begitu saja tanpa alasan apapun seperti tadi sore, bahkan dia tak melirikku sama sekali saat Luhan memanggilnya datang. Apa aku tak berarti baginya? Kenapa rasanya sangat sakit? Bahkan ini sudah berlalu beberapa jam, dan aku masih juga menangisi Chanyeol. Tidakkah ini gila?

 

Sejak tadi aku sudah memikirkan ribuan kali kenapa aku begini. Dan aku tetap berakhir pada jawaban yang sama hingga berulang-ulang.

 

Aku gay, dan aku mencintai Chanyeol.

 

Ini sangat gila, tapi aku tak memiliki jawaban lain selain 2 hal itu. Dan untuk alasan kedua, aku telah benar-benar meyakininya. Aku benar-benar mencintai Chanyeol, aku sangat yakin! Aku bisa mati kalau aku tak mendapatkan cintanya!

 

 

Kudengar suara pintu kamarku terbuka. Itu pasti Chanyeol. Cepat-cepat kupejamkan mataku ketika suara langkah kakinya mendekat. Kurasakan ranjangku bergoyang. Sebuah tangan mengelus punggungku beberapa kali lalu tangan itu melingkari perutku. Chanyeol memelukku sangat erat. Dia hirup tengkukku, kemudian bibirnya mengecup beberapa kali di sana, membuatku membeku.

Aku sangat ingin berontak dan mendorongnya menjauh, aku masih ingin marah padanya. Tapi aku tak bisa melakukan itu. Tubuhku tak mau menurut dengan isi otakku sendiri. Aku merasa nyaman dalam pelukan Chanyeol. Tubuhku rasanya lemas.

 

“Maafkan aku Baekkie….” bisiknya ditelingaku dengan suara yang teramat lembut.

 

Aku tak tahu kenapa, tapi aku ingin menangis lagi. Aku benar-benar ingin menahannya,  tapi pada akhirnya airmataku tetap keluar juga, membuat pelukan Chanyeol semakin mengerat pada tubuhku.

 

“Maafkan aku sayang…” katanya lagi.

 

 

Tanpa bisa kutahan, kubalikkan posisi berbaringku menghadapnya dan kupeluk tubuhnya erat-erat. Kusimpan wajahku di dadanya, dan kurasakan tangan besarnya mengelus-elus rambutku. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku akan memproteksi Chanyeol dan hanya menjadikannya milikku saja. Chanyeol milikku! Aku tak akan membiarkan kekasihku memberikan perhatiannya pada siapapun selain padaku, terutama untuk Luhan. Aku tak akan membiarkan Chanyeol melakukannya lagi, sudah cukup kali ini dan aku bersumpah ini adalah terakhir kali Chanyeol melakukannya! Dia hanya boleh menatapku saja!

 

 

Byun Baekhyun, bukan Luhan.

 

.

.

.

Pagi ini berjalan seperti biasanya. Aku sudah bisa menujukkan senyumanku pada Chanyeol. Aku tak ingin marah lama-lama padanya. Mulutku kututup rapat-rapat. Aku tak akan mengungkit-ngungkit lagi masalah semalam. Aku tak mau membiarkannya muak padaku, karena itu aku akan mengurangi keras kepalaku mulai dari sekarang. Aku hanya ingin membuat Chanyeol mencintaiku sepenuhnya.

 

 

“Aku sudah selesai Yeol…” kataku setelah aku menghabiskan sarapanku.

 

Chanyeol menyodorkan air kebibirku dan aku meminumnya dengan cepat, lalu aku melemparkan senyumanku padanya. Chanyeol menyeka mulutku dengan tissue, lalu menarikku agar berdiri dihadapannya. Tangannya membelai kepalaku dan ia cium keningku sekilas.

 

“Maaf…..” katanya lagi padaku entah sudah keberapa kalinya.

 

Aku kembali tersenyum, dan kupeluk erat tubuhnya.

 

“Hentikan…aku sudah tak apa-apa Yeollie…” kataku.

 

 .

.

.

Aku berjalan sendirian di jalanan ini. Baru saja aku membeli beberapa bahan makanan di Market kecil di daerah pinggiran kota setelah berjalan-jalan dengan Chanyeol, dan kini kekasihku itu sedang menungguku di seberang sana. Aku sedang melangkah kecil-kecil menuju mobil Chanyeol ketika mataku menangkap sesosok pria cantik berambut merah yang sangat kukenal. Tidak salah lagi, itu Luhan.

 

Pria itu kini sedang berjalan sambil berangkulan mesra dengan seorang pria lainnya yang terlihat sexy. Pria yang bersama Luhan itu berkulit gelap, dan wajahnya juga tampan. Entah apa yang ada diotakku, tapi mataku tak bisa lepas dari mereka. Mata sipitku melebar ketika aku melihat dua pria itu berciuman dengan intens. Belum lagi rasa terkejutku hilang, tak lama seorang pria lainnya yang berpipi chubby dengan wajah yang sangat imut juga menghampiri mereka. Dan pria chubby itu….

 

Astaga! Apa ini? Luhan berciuman dengannya juga? Di hadapan pria eksotis yang baru saja berciuman dengannya barusan?

 

Aku tak bisa berpikir jernih saat melihat pemandangan ini.

 

Apa Luhan sudah gila? Atau…apa mungkin dia memang tipe pria nakal seperti itu??

 

Aku tak tau apa yang terjadi padanya, namun yang kupikirkan tentang Luhan saat ini hanya satu.

 

Jalang.

 

 

.

.

.

Aku sedang berjalan di koridor sekolah dari sisi kiri gedung ketika tanpa sengaja aku melihat Kris sedang berjalan dari arah yang berlawanan denganku. Tanpa berpikir panjang aku cepat-cepat bersembunyi di balik pilar besar penyangga gedung sekolah hingga Kris melewatiku tanpa menyadari keberadaanku. Baru saja aku hendak menuju ruang perpustakaan tempat favoritku dan hampir mencapai pintu perpustakaan itu, namun niat itu langsung urung karena Kris juga ingin masuk ke dalam ruang perpustakaan. Aku belum berani bertemu dengannya setelah penyataan cintanya yang aneh tempo hari.

 

Aku baru saja hendak berbalik pergi dan hendak kembali menuju kelasku, tapi kulihat Kris berhenti di ambang pintu perpustakaan dan terlihat sedang berbicara dengan seseorang.

 

 

Bicara dengan siapa?

 

 

Tak lama pria jangkung itu malah urung masuk ke perpustakaan dan berbalik arah sambil berjalan beriringan dengan seorang pria berambut merah yang berpostur lebih pendek darinya.

 

Tunggu! Rambut merah?

 

 

Kupicingkan mataku agar aku dapat melihat jelas, dan sesuai dengan ekspetasiku, pria berambut merah itu adalah Luhan! Aku membelalakkan mataku saat menyadari hal itu. Kuperhatikan terus gerak-gerik mereka dan saat ini aku melihat Kris sedang merangkul pundak Luhan sambil tertawa-tawa. Mereka saling melempar candaan satu sama lainnya dan tak segan untuk saling mengacak rambut, mencubit pipi, atau apapun yang membuatku tak ragu untuk berpikir kalau Kris dan Luhan itu pasti memiliki hubungan yang sangat akrab sekali.

 

Atau jangan-jangan Kris juga adalah salah satu teman kencannya Luhan? Ya Tuhan….Luhan benar-benar jalang!

 

Padahal baru tadi malam aku melihatnya bermesraan dengan dua orang pria sekaligus. Bahkan aku mengikuti mereka hingga mereka menghilang kedalam sebuah Hotel sampai Chanyeol panik mencariku.

 

Kubuang nafasku dengan berat.

 

Kris?? Bukankah dia bilang kalau dia menyukaiku??

 

Tapi sudahlah….Kurasa ini lebih baik, lagipula aku masih memiliki Chanyeol di sisiku. Kehilangan seorang teman seperti Kris tak akan berarti apa-apa bagiku karena selama ini toh aku memang tak pernah memiliki teman.

 

.

.

.

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Kubereskan peralatan belajarku dan entah mengapa mataku sempat-sempatnya melirik kearah Luhan. Kulihat Luhan melemparkan senyumannya padaku, tapi aku berdecih sinis dan cepat-cepat membuang muka kearah lain. Pria menjijikkan itu mengedikkan bahunya, lalu ia melangkah keluar ruangan tanpa melihatku lagi, dan aku hanya memperhatikan gerak-geriknya melalui ekor mataku. Aku kembali memasukkan buku-bukuku kedalam tas dan membereskannya sampai tak bersisa, lalu aku hanya duduk manis di kursiku, menunggu Chanyeol datang.

 

Aku sudah menunggu lama, tapi Chanyeol belum juga muncul. Aku sudah lelah menunggunya di sini, tapi kemana dia?

 

 

Kutiup poniku dengan kesal, lalu aku berdiri. Kusampirkan tasku kepunggung dan aku mulai melangkah keluar kelas. Hatiku langsung memanas saat kulihat Chanyeol dan Luhan sedang mengobrol sambil tertawa-tawa dibawah pilar penyangga gedung sekolah. Pantas saja Chanyeol sangat lama, ternyata dia ada disini!

 

Aku berjalan cepat menghampiri mereka dengan tangan yang terkepal. Aku sangat geram, sungguh! Apa Chanyeol tak tahu kalau aku sangat benci melihatnya berdekatan dengan pria menjijikkan itu?

 

 

Kulihat Chanyeol langsung tersenyum saat ia melihatku, tapi aku hanya diam dan menatap tajam pada Luhan saat aku sudah berdiri di hadapan mereka berdua.

 

“Hai Baek…” sapa Luhan –sok– ramah padaku. Wajah malaikatnya yang sedang tersenyum padaku itu, benar-benar membuatku muak. Aku mengepalkan tanganku dengan kuat sambil menatap marah padanya.

 

Luhan sepertinya mengerti keadaan. Dia tegakkan tubuhnya yang sedari tadi menyandar pada pilar dan ia rapikan letak tas yang ia gendong di punggungnya.

 

“Chanyeollie, sebaiknya aku pergi…” katanya sambil menepuk bahu kekasihku.

 

Plakk!!!

 

“Jangan sentuh kekasihku!!” kataku tajam sambil menepis tangannya yang menepuk bahu Chanyeol dengan kasar.

 

Luhan hanya diam.

 

“Baekkie, kau kenapa? Jangan kasar pada Luhan….” kata Chanyeol sambil meraih jemariku, tapi aku tak perduli.

 

“Pergi kau, dan jauhi Chanyeol!” usirku pada Luhan, tapi pria menjijikkan itu malah terkekeh sambil menatap geli padaku.

 

“Santai saja Baekhyunnie….Lagipula aku dan Chanyeol hanya berteman” katanya padaku.

 

 

Aku mendengus keras, lalu aku membuang muka, tapi tetap meliriknya melalui sudut mataku.

 

“Baekkie, ayo kita pulang….Luhannie, kami pulang dulu…Kau hati-hati ya…” kata Chanyeol sambil menepuk kepala Luhan, membuatku sontak naik darah.

 

Dengan perasaan kesal yang meluap-luap, kudorong kasar tubuh Luhan hingga punggungnya membentur pilar, membuatnya langsung memekik kesakitan.

 

 

“Baekhyun! Apa yang kau lakukan?” kata Chanyeol sambil menolong Luhan.

 

Kulihat beberapa siswa yang masih berada disekitar langsung ramai disekeliling kami.

 

“Aku tak suka kau berdekatan dengan namja jalang ini Yeol!” kataku geram.

 

Luhan menatapku sambil mengerutkan keningnya.

 

“Jalang? Apa maksudmu?” tanya Luhan padaku.

 

Kutunjukkan senyuman sinisku padanya dan kusedekapkan tanganku di depan dadaku sendiri. Kuangkat daguku dengan gaya yang sangat arogan.

 

 

“Kenapa? Memangnya tidak? Berciuman dan bercinta di Hotel dengan 2 namja sekaligus, apa itu namanya jika bukan jalang, eoh?”

 

“Baekhyun!!” bentak Chanyeol padaku, tapi aku tak memperdulikannya.

 

Anak-anak disekitar kami mulai berbisik-bisik, dan kulihat Luhan menatap mereka dengan wajah pucat, kemudian ia menundukan kepalanya. Aku tersenyum miring ketika melihat wajah pucatnya, dia pasti sangat malu sekarang. Rasakan! Aku puas mempermalukannya. Pria menjijikkan seperti dia pantas mendapatkannya!

 

“Ma –maaf…..” katanya terbata-bata sambil tetap menunduk, lalu ia mulai melangkahkan kakinya, hendak berjalan pergi. Tapi aku tak mau kalah cepat. Aku belum selesai.  Kutarik tangannya kuat-kuat dan kuhempaskan kembali tubuhnya hingga lagi-lagi membentur pilar.

 

“Mau kemana kau Pelacur jalang, aku masih belum selesai!” kataku kejam.

 

Kali ini dia tak mengerang kesakitan. Dia hanya menatapku saja. Airmatanya jatuh menetes-netes, membuatku mati rasa dalam sekejap. Aku membeku, dan tanpa kusadari cengkraman tanganku pada tangannya mengendur dan terlepas begitu saja. Sejujurnya, kini aku mulai merasa bersalah. Mengapa Luhan menangis? Apa aku sudah sangat menyakitinya? Aku masih memikirkan ini dan itu ketika kurasakan Chanyeol menarik kasar tubuhku dan memaksaku berdiri berhadapan dengannya.

 

“Baekhyun, kali ini kau benar-benar sudah keterlaluan! Kau tak tahu apa yang menimpa Luhan, jadi–”

 

“KENAPA??!! KENAPA KAU SELALU MEMBELANYA??!!!” teriakku marah. Aku kalut.

 

Chanyeol terkejut melihat reaksiku.

 

“Baek…”

 

Aku menepis tangan Chanyeol yang hendak menyentuh wajahku, lalu kembali menoleh pada si Jalang yang masih menunduk sambil menangis itu. Aku tertawa kecil, tawa kecewa. Kutatap Luhan dan Chanyeol berganti-gantian, dan hatiku semakin perih saat kulihat tatapan khawatir Chanyeol tampak sangat jelas ketika ia melihat Luhan.

 

 

“Kenapa kau selalu membelanya Yeollie?” tanyaku tanpa intonasi. Aku terluka. Chanyeol selalu membela Luhan. Aku tak berarti apa-apa untuknya.

 

“Baek, kau tak mengerti! Luhan sedang menghadapi masa-masa sulit. Hidupnya sedang kacau, jadi–”

 

“Benar, aku tak mengerti Yeol! Dan aku lebih tak mengerti lagi kenapa kau sangat memahami dia!  Lalu bagaimana denganku? Apa kau memahamiku Park Chanyeol?”

 

“Baek, aku–”

 

“Kau tidak memahamiku! Selalu Luhan, Luhan dan Luhan! Aku sudah muak!”

 

“Baek, hentikan!”

 

“Kenapa selalu dia yang terpenting bagimu Yeol? Kau masih mencintainya?”

 

“Baekkie, dengarkan dulu! Aku–”

 

“Apa aku tak berarti apa-apa untukmu?”

 

“Baekhyun, cukup!!”

 

“APA KAU JUGA SUDAH TIDUR DENGANNYA, HAH?” teriakku emosi, tapi…

 

PLAKKK!!!

 

Aku membelalakkan mataku. Pipiku sangat panas dan juga perih. Chanyeol memukulku? Demi Tuhan, ini sangat sakit! Kulihat Chanyeol melihatku shock sambil menatap tangannya sendiri yang kini masih mengambang di udara setelah ia menamparku dengan tamparan yang sangat keras.

 

“B-Baekkie….A-aku–” Chanyeol berusaha menyentuhku, tapi kutepis kasar tangannya, lalu kusentuh pipiku sendiri.

 

 

Pipiku terasa sangat panas, sakit, perih. Kurasakan sesuatu mengalir di sudut bibirku. Aku menyentuh disana, lalu menatap tanganku sendiri dan ‘sesuatu’ itu membuat mataku seperti hendak keluar dari kelopaknya.

 

Darah? Aku berdarah? Seberapa keras Chanyeol memukulku?

 

 

Tanpa bisa kutahan lagi, airmataku berjatuhan dan dalam sekejap saja aku sudah terisak-isak seperti anak kecil.

 

“B- Baekkie, maafkan aku….” kata Chanyeol menyesal. Lagi-lagi ia berusaha menyentuhku, tapi sama seperti sebelumnya, aku menepis kasar tangannya.

 

Aku tak mengatakan apapun lagi. Kuseka darah itu dengan jari-jariku dan aku membalikkan tubuhku. Aku melangkah terhuyung-huyung, aku menjauh dari mereka sambil menangis. Kudengar Chanyeol mengucapkan kata maaf padaku hingga berulang-ulang, tapi aku tak ingin menoleh.

 

 

Hatiku…Sakit…

 


To Be Continued


Advertisements