ALL ABOUT LOVE ( Othello Season 2 )

All About Love Poster

.

By tmarionlie

.

Poster By L.E Design

.

Main Pair : ChanBaek

Other : Luhan & Kris

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


WARNING!!

Karakter semua tokoh dalam FF ini akan sangat menjijikkan dan memuakkan. Bagi ChanBaek hardshipper yang tidak mampu membedakan antara Fiksi dan Real, yang tidak suka jika biasnya dinistakan di dalam FF, harap CLOSE FF INI DENGAN SEGERA agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Author ( saya ). Thanks!


CHAPTER 7


Pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Jika bisanya Baekhyun akan diam sepanjang acara sarapan karena memikirkan bahwa dirinya akan kehilangan Chanyeol, kali ini justru terus-menerus menampilkan senyumnya. Apalagi sikap Chanyeol menjadi semakin manis padanya.

 

Yeah, hubungan mereka memang sudah tak sama seperti dulu. Bukankah mereka kini adalah sepasang kekasih? Dahi Baekhyun langsung berkerut jika memikirkannya. Secuil hatinya masih meragukan hubungan seperti itu, namun Baekhyun menikmatinya karena satu langkah lebih dekat dengan Chanyeol rasanya sangat menyenangkan.

 

“Baek, buka mulutmu.”

 

Baekhyun tertegun saat Chanyeol menyodorkan sumpit yang menjepit makanan kemulutnya. Oh, sikap Chanyeol benar-benar menjadi super duper manis padanya.

 

Baekhyun membuka mulutnya dan menyambut makanan itu dengan senyum manisnya. Chanyeol juga tersenyum. Mereka sudah selesai sarapan dan sudah sama-sama berjalan kearah sofa tempat mereka meletakkan tas sekolah mereka. Baekhyun tertegun sekali lagi. Biasanya dia akan membwa sendiri tas

sekolahnya, tapi kini Chanyeol mengambil alih membawakannya.

 

“Yeol, aku bisa membawanya sendiri.”

 

“Biarkan aku yang membawanya. Mulai sekarang aku tak akan membiarkan kau membawa beban terlalu berat. Aku tak mau kekasihku semakin bertambah pendek.”

 

Bibir mungil Baekhyun langsung terpout beberapa senti saat mendengar ucapan Chanyeol itu hingga membuat Chanyeol tak tahan untuk tak mengecupnya. Baekhyun langsung menunjukkan wajah imut menggemaskannya setelah Chanyeol mencuri satu kecupan dibibirnya.

 

“Dasar pencuri!” protes Baekhyun, tapi Chanyeol malah tertawa dan mencubiti pipi Baekhyun.

 

“Jangan majukan bibirmu lagi jika tak ingin kucium.” katanya sambil meraih jemari mungil Baekhyun dan menariknya menuju mobil.

 

 

 

 .

.

.

.

.

Pasangan baru itu berjalan bergandengan tangan menuju ke kelas Baekhyun. Tak  ada yang tahu kalau hubungan mereka sekarang sudah berbeda dari hubungan yang sebelumnya karena setiap hari mereka memang selalu bergandengan tangan seperti itu. Tapi tidak dengan Luhan. Pemuda berambut merah itu bisa menebak dengan sangat jelas apa hubungan Chanyeol dan Baekhyun saat ini. Luhan bisa membaca segalanya hanya dengan melihat bagaimana Chanyeol tetap menggandeng Baekhyun sampai ke mejanya, saat melihat Chanyeol membawakan tas sekolah Baekhyun, dan saat Chanyeol mengusap kepala Baekhyun sebelum kembali kekelasnya sendiri. Semua tampak sangat jelas oleh penglihatan Luhan, yang membuatnya tak bisa berhenti tersenyum karena melihat kemesraan dua temannya itu.

 

“Syukurlah…” gumam Luhan karena merasa lega.

 

.

.

.

.

.

Jepret!

 

Jepret!

 

Lagi-lagi Kris sibuk memotret objek-objek yang di anggapnya menarik di lingkungan sekolah. Kali ini dia memotret taman berisi pohon-pohon rindang yang terletak jauh dari gedung sekolah mereka, tapi masih berada di dalam area sekolah yang memang sangat luas itu.

 

Kris berjalan lambat sambil membidikkan kamera polaroidnya ke sana ke mari. Suara cicitan burung membuatnya mendongak ke atas pohon, dan kameranya langsung menangkap seekor burung kecil berwarna biru sedang bertengger di salah satu ranting pohon.

 

Jepret!

 

Dengan cepat Kris membidiknya, lalu tersenyum puas saat mendapatkan objek sempurna itu. Pria berambut pirang itu kembali berjalan, masih tetap dengan menempelkan kameranya di depan matanya. Keningnya berkerut saat kameranya menangkap sesosok mungil pria berambut karamel yang sedang memejamkan matanya di salah satu kursi panjang yang berada di bawah pohon dengan headset putih yang terpasang di telinganya, sedang mendengarkan lagu melalui ponselnya itu. Bibir tipis pria mungil itu bergerak-gerak, mengikuti lirik lagu yang sedang di dengarnya saat ini. Kris menurunkan kameranya dan tersenyum melihat pria mungil itu.

 

“Wow, itu si cantik Baekhyun. How lucky I’am…”

 

Kris tersenyum lebar saat menyadari siapa sosok mungil itu, lalu melepaskan kameranya sejenak, membiarkannya tergantung di lehernya. Pria itu merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponselnya dari sana.

 

Kris berjalan mendekat beberapa langkah, lalu berlutut beberapa meter di depan Baekhyun dan mengarahkan kamera ponselnya ke arah pria mungil itu.

 

Klik!

 

Kris tersenyum ketika dirinya berhasil mendapatkan foto si mungil itu di ponselnya. Lagi-lagi Kris tersenyum lebar, lalu kembali mengambil kameranya dan membidik pria mungil itu.

 

 

Jepret!

 

Jepret!

 

Jepret!

 

“Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa memotretku diam-diam?”

 

Kris menurunkan kamera polaroidnya dan bangkit berdiri dari posisinya sambil tersenyum.

 

“Hai cantik! Kau baru sadar? Padahal sudah sejak tadi aku memotretmu.” kata Kris sambil berjalan menghampiri pria mungil itu dan duduk di sebelahnya.

 

“Aku tidak cantik, Sunbae!” dengus Baekhyun.

 

“Ouwh, kau cantik Baekhyun, haha. Oh ya, aku belum menyapamu, Hai Baekhyun!” kata Kris sambil mengangkat tangannya dan melambaikannya dari samping Baekhyun.

 

Baekhyun tertawa kecil.

 

“Oh God!! So beautiful…” puji Kris.

 

Tawa Baekhyun lenyap dan bibirnya kini sudah kembali cemberut.

 

“Sudah kubilang aku tidak cantik. Aku ini pria Sunbae!

 

Kris memutar bola matanya.

 

“Jangan memanggilku ‘Sunbae’, Ya Tuhan! Lalu kalau bukan cantik menurutmu kau apa? Tampan?”

 

Well, ye-yeah…mungkin?” jawab Baekhyun ragu.

 

Kris menahan tawanya.

 

“Bahkan kau tak yakin kalau kau tampan. Hei, panggil aku Kris saja, okey?”

 

“Huh? Yeah, oke.”

 

“Apa yang kau lakukan disini?”tanya Kris memulai percakapan.

 

“Perlukah di jawab?”

 

Well –sebenarnya tidak perlu sih.”

 

Mereka sama-sama diam, lalu sama-sama tertawa.

 

“Baekhyun?”

 

“Hmm?”

 

“…..”

 

“Ada apa Kris?” tanya Baekhyun sambil memandangi wajah Kris dengan tatapan herannya, tapi Kris hanya diam.

 

Beberapa detik berlalu, dan Kris kembali tertawa.

 

“Apa yang lucu?” tanya Baekhyun heran.

 

“Kau Baekhyun, kau terlihat sangat imut dan lucu.”

 

Baekhyun meniup poninya, kemudian menepuk lengan Kris. “Dasar!”

 

“…..”

 

“…..”

 

“Baekhyun?”

 

“Ya?”

 

“Baekhyun?”

 

“Aku tak akan tertipu lagi Kris.”

 

“Kali ini aku serius.”

 

Baekhyun menoleh, dan menaikkan kedua alisnya sebagai ganti dari meminta penjelasan melalui isyarat matanya.

 

“Sepertinya aku menyukaimu.”

 

“Huh?”

 

“Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di perpustakaan tempo hari.”

 

“Mak –maksudnya kau…”

 

 

“Aku jatuh cinta padamu –Baekhyun.”

 

Baekhyun melebarkan mata sipitnya ketika kata-kata itu keluar dari pria yang bahkan baru bertemu beberapa kali dengannya.

 

~Apa-apaan ini? Baru saja aku berpacaran dengan Chanyeol dan sekarang seorang pria asing sedang menyatakan cinta padaku? Kenapa aku harus terjebak dengan pria-pria penyuka sesama jenis seperti Chanyeol dan Kris? Ya Tuhan…bisakah aku tetap menjadi pria normal setelah ini?~

 

 .

.

.

.

.

“Jadi kau sudah resmi berpacaran dengan Baekhyun?” tanya Luhan sambil menaik-turunkan alisnya, menggoda Chanyeol.

 

“Engg…yeah, begitulah.” jawab Chanyeol sambil tersenyum kikuk.

 

“Sudah kuduga. Kurasa Baekhyun sudah menyukaimu sejak lama Chan, sikapnya sangat protektif jika menyangkut dirimu, terutama jika kau dekat denganku”

 

“Menurutmu begitu? Aku bahkan tak pernah berpikir akan berpacaran dengannya. Yeah….aku sangat menyayanginya tentu saja, tapi sejujurnya –aku  masih  menyukaimu Lu.”

 

Luhan meringis, kemudian membuang nafas beratnya.

 

“Kukira kau sudah move on.” kata Luhan tanpa menatap Chanyeol.

 

“Ya, aku juga berharap bisa move on secepatnya, toh aku tak berhak memaksamu menjadi milikku.” Kata Chanyeol dengan nada pahitnya.

 

 

Keduanya terdiam.

 

“Chan, kau jangan menyakiti Baekhyun. Aku tahu kau sulit menerima ucapanku kemarin malam, dan meskipun kau sangat yakin jika Baekhyun menyukaimu, tapi kau tak boleh menjadikannya pelampiasan kekecewaanmu.” kata Luhan.

 

Chanyeol terdiam mendengar ucapan Luhan.

 

“Luhannie, kau sangat baik, padahal Baekhyun tak pernah bersikap baik padamu. Kupikir kau membencinya.”

 

Luhan tertawa kecil.

 

“Tidak juga. Entahlah, hanya saja kupikir Baekhyun sebenarnya tak benar-benar membenciku, haha. Mungkin ini hanya pikiran konyol yang muncul dari dalam otakku, abaikan saja. Aku tipe yang tak terlalu perduli dengan hal-hal semacam itu. Sikap Baekhyun tak begitu menggangguku, jadi santai saja.”

 

Chanyeol meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat.

 

“Aku menyayangimu Lu.” kata Chanyeol tulus.

 

“Hmm, aku juga sayang padamu.” jawab Luhan.

 

“Luhan-ssi!”

 

Luhan dan Chanyeol sama-sama menoleh ke arah suara itu. Seorang siswa berpenampilan nerd berjalan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

 

“Luhan-ssi, Kepala Sekolah menyuruhmu mengunjungi ruangannya sekarang…”kata siswa itu.

 

“Memanggilku?”

 

Siswa itu mengangguk.

 

“Memangnya ada apa? Sepertinya aku tak melakukan kesalahan apapun.” kata Luhan bingung.

 

“Kalau soal itu aku tak tahu. Aku dan beberapa anak lainnya hanya dipesankan agar menyampaikannya jika melihatmu.”jelas siswa itu.

 

“Ya, aku mengerti. Terima kasih.” kata Luhan sambil membungkuk pada siswa itu.

 

Luhan mengerutkan kening herannya saat siswa itu pergi.

 

“Kenapa Kepala Sekolah memanggilmu?” tanya Chanyeol heran.

 

Luhan menggeleng. “Entahlah.”

 

“Kau mau kutemani menemui Kepala Sekolah?” kata Chanyeol menawarkan.

 

“Umm, tidak usah. Aku bisa mengatasinya sendiri.” Tolak Luhan.

 

 

“Baiklah, jangan lupa kabari aku nanti.”

 

 

“Ya, oke.”

 

 .

.

.

.

.

“Apa? Kau akan di transfer ke sekolah lain??” kata Chanyeol terkejut.

 

Luhan mengangguk tanpa semangat.

 

“Tapi kenapa?” tanya Chanyeol heran.

 

“Entahlah Chan, akupun tak tahu. Kepala Sekolah hanya bilang aku akan di pindahkan ke XOXO High School, jika aku menyetujuinya.”

 

“Lalu kau bilang apa? Apa kau sudah menyetujuinya?”

 

Luhan menggeleng.

 

“Belum, aku bilang aku akan memikirkannya dulu.”

 

Chanyeol bernafas lega.

 

“Hhh, tolak saja Lu! Lagipula belum tentu kau akan betah bersekolah di sana.”

 

Luhan tertawa. “Kita lihat saja nanti. Yang pasti aku belum memiliki keinginan untuk pindah ke sekolah itu.” Kata Luhan dengan senyuman, namun sekejap saja keningnya kembali berkerut, berpikir.

 

.

.

.

.

.

“Baekkie…”

 

Baekhyun tersentak saat Chanyeol memanggilnya. Sejak tadi Baekhyun memang sedang melamun tanpa dia sadari. Banyak hal yang dia pikirkan, dan yang paling menyita pikiran adalah kata-kata Kris tadi siang. Baekhyun sedang memikirkan apakah pria bule itu serius menyatakan cinta padanya atau hanya bercanda saja. Lagipula Baekhyun tak percaya dengan kalimat ‘cinta pada pandangan pertama.’ Ah, kepala Baekhyun jadi pusing memikirkannya.

 

“Baekhyun…” lagi-lagi Chanyeol memanggilnya.

 

“Ya?” kali ini Baekhyun menjawab.

 

“Kau kenapa, hmm? Sejak tadi kau melamun.” kata Chanyeol sambil mengusap kepala kekasihnya itu.

 

“Aku tak apa-apa.” kata Baekhyun dengan senyuman diwajah imutnya.

 

“Mulai sekarang jangan menyembunyikan apapun dariku. Jika kau sedang ada masalah kau bisa menceritakannya padaku. Kau bisa mengandalkanku Baek, kau mengerti?”

 

Baekhyun mengangguk patuh.

 

Mereka sama-sama diam, menikmati tayangan televisi yang mereka tonton. Baekhyun menatap lurus kearah layar televisi, dan Chanyeol yang tadinya menatap layar televisi kini menoleh dan memandangi wajah Baekhyun. Pria jangkung itu sedang berpikir sambil menikmati lekuk-lekuk wajah saudara sekaligus kekasih barunya itu. Matanya mempelajari setiap bentuk wajah Baekhyun, membandingkannya dengan wajah Luhan. Chanyeol tersenyum ketika menemukan fakta bahwa baik Luhan maupun Baekhyun memiliki banyak kesamaan. Keduanya sama-sama cantik. Chanyeol mengangkat dua jari tangan kanannya dan mengelus pipi kemerahan pria mungil itu, tapi Baekhyun tersentak, membuat Chanyeol mengeluarkan nafas beratnya.

 

“Jangan melamun lagi.” Kata Chanyeol mengingatkan.

 

 

“Ya…maaf Yeol.”

 

 

Chanyeol menunjukkan senyuman lembutnya. Dia tarik bahu sempit Baekhyun dan menyandarkan tubuh mungil itu ke dadanya sendiri. Tangannya yang besar membelai-belai kulit wajah Baekhyun, membuat pria yang lebih mungil itu membeku.

 

“Aku sangat menyayangimu Baek…” kata Chanyeol tulus, dan Baekhyun tetap diam.

 

Keduanya tetap diam dengan tangan Chanyeol yang masih mengelus-ngelus pipi Baekhyun, dan sesekali bibirnya menciumi kepala Baekhyun.

 

“Yeol…”

 

“Hmm?”

 

“Apa kau masih menyukai Luhan?”

 

Chanyeol mendesah malas ketika diberi pertanyaan yang sama lagi oleh Baekhyun.

 

“Ya, sedikit. Sekarang aku lebih menyukaimu.” Kata Chanyeol meyakinkan Baekhyun, padahal sebenarnya pria jangkung itupun tak begitu yakin dengan ucapannya sendiri.

 

“Kenapa menanyakan hal itu terus?” tanya Chanyeol.

 

“Aku –hanya penasaran.” Jawab Baekhyun.

 

Chanyeol terdiam. Baekhyun juga diam.

 

“Aku akan melupakan perasaanku pada Luhan, Baekkie…” kata Chanyeol, lalu mengangkat dagu runcing Baekhyun agar menatapnya. “Percayalah, mulai sekarang aku hanya akan menjadi milikmu.” Kata Chanyeol, sebelum menarik dagu runcing Baekhyun mendekat dan mengecup bibir tipis pria mungil itu.

 

Kecupan itu sangat singkat, dan Chanyeol langsung melepaskannya. Dia pandangi wajah imut kekasihnya itu dari jarak yang sangat dekat. Jari tangannya membelai-belai bibir tipis Baekhyun, dan Baekhyun memejamkan mata sipitnya ketika menerima sentuhan Chanyeol. Tanpa membuang banyak waktu lagi, Chanyeol kembali mencium bibir pria mungil itu. Kali ini lebih dalam dan lebih intens, dan Baekhyun membalasnya, membuat Chanyeol langsung terselimuti oleh perasaan aneh yang terasa asing, entah perasaan apa itu. Yang pasti adalah Chanyeol merasa nyaman ketika mencium Baekhyun seperti ini.

 

 

Ciuman mereka berlangsung sangat lambat. Chanyeol bahkan berpikir jika mereka bisa berciuman selama 2 jam tanpa jeda jika mengingat cara berciuman mereka yang cukup memberi mereka banyak ruang untuk bernafas seperti sekarang ini. Tapi tiba-tiba saja suara ponsel merusak moment intim mereka. Chanyeol yang melepaskan ciuman itu pertama kali. Dia bersihkan lelehan saliva di sekitar bibir tipis kekasihnya sambil tersenyum.

 

“Tunggu sebentar ya sayang…” Kata Chanyeol, dan Baekhyun mengangguk patuh. Chanyeol masih sempat mengecup Baekhyun sekali lagi sebelum beranjak untuk menjawab panggilan di ponselnya.

 

 

-Chanyeol Pov-

Entah siapa yang menghubungiku di waktu-waktu seperti ini, tapi aku memutuskan untuk tak mengabaikannya karena bisa saja itu adalah telepon penting. Siapa tahu saja Appa yang meneleponku untuk menanyakan kabarku dan kabar Baekhyun.

 

 

Aku berjalan cepat kearah meja pendek yang berada beberapa meter di belakang sofa setelah berhasil mengecup bibir kekasihku satu kali lagi. Kutatap layar ponselku dan nama Luhan berkerlap-kerlip di sana. Batinku berkecamuk, bimbang hendak mengangkat telepon atau tidak. Walau bagaimanapun Baekhyun ada di sini dan dia sedang mendengarkan. Aku hanya takut kekasihku itu marah lagi.

 

 

Akhirnya ponselku berhenti berdering, mungkin karena aku tak kunjung mengangkatnya. Aku bernafas lega. Ku letakkan kembali ponselku ke atas meja dan hendak menghampiri Baekhyunku lagi, tapi ponselku kembali berdering-dering nyaring, dan penelepon itu masih orang yang sama, Luhan. Dengan nekat kujawab panggilan itu.

 

 

Hallo.” Kataku dengan suara yang teramat pelan, meskipun aku yakin Baekhyun pasti tetap bisa mendegarnya.

 

 

~Chanyeollie, hiks…~

 

Aku terkejut saat ku dengar Luhan menangis di seberang sana. Seketika aku menjadi panik, bahkan aku lupa jika sejak tadi aku sedang berusaha menjaga suaraku agar tak terdengar Baekhyun. Aku lupa segalanya jika menyangkut Luhan.

 

“Luhan? Ada apa? Kenapa menangis?” tanyaku panik.

 

~Chan, Xiao Huo Hyung dan Eomma, me-mereka…mereka…~

 

“Luhannie,  tenangkan dirimu. Katakan pelan-pelan.” kataku mencoba menenangkan, karena sepertinya Luhan sedang kacau sekali.

 

~Chan…Me-mereka –meninggal –k-kecelakaan~

 

“APA???” kataku terkejut setengah mati.

 

~Chan, aku membutuhkanmu…kumohon~

 

“Ya, aku akan segera datang Lu, tenanglah, dan tunggu aku!” kataku sambil terburu-buru menyambar kunci mobil dan hendak berlari ke arah pintu. Luhan membutuhkanku, aku harus segera menemuinya.

 

 

Baru saja hampir mencapai pintu, tiba-tiba saja langkahku tertahan. Dua buah lengan mungil memeluk perutku.

 

“Yeol, jangan pergi….”

 

Astaga! Kenapa aku melupakan Baekhyun?

 

 

Aku memejamkan mataku, mengutuki kebodohanku. Kubalikkan tubuhku dan kutatap wajah mungilnya.

 

“Baekhyun, kumohon biarkan aku pergi. Ini benar-benar penting, aku harus–”

 

“Tidak! Aku tak mengizinkanmu pergi! Kumohon jangan menemui dia Yeol, jangan menemui Luhan…”potongnya tiba-tiba, membuatku merasa bersalah.

 

 

Aku terdiam hingga beberapa lama, namun ketika aku sadar jika aku tak memiliki waktu lebih banyak lagi, aku memutuskan untuk membujuk Baekhyun.

 

“Baekkie….aku–”

 

“Tidak Yeol, tidak boleh! Jangan pergi menemuinya!” katanya, tetap keras kepala, bahkan dia tak membiarkanku menjelaskan.

 

“Baek, kumohon….Luhan membutuhkanku….” kataku, mencoba memberi pengertian. Tapi tiba-tiba saja Baekhyun marah dan berteriak di depan wajahku.

 

“AKU JUGA MEMBUTUHKANMU, PARK CHANYEOL!!!”

 

 

Aku terdiam. Aku kehabisan kata-kata untuk membujuknya, dan aku menyerah. Aku tak tahu aku yang egois atau Baekhyun yang egois, tapi aku mulai tak perduli lagi pada kemarahannya. Menurutku Baekhyun telah bertingkah terlalu berlebihan kali ini. Luhan sedang kacau. Dia temanku, dan dia membutuhkanku. Lagipula masalah Luhan benar-benar gawat kali ini, dia pasti sangat terpukul dan dia butuh seseorang untuk menenangkannya, jadi aku memutuskan akan tetap menemui Luhan.

 

“Baekhyun, maaf…tapi aku sungguh-sungguh tak bisa mengabaikan Luhan kali ini, kumohon mengertilah sayang…” bujukku, ini upaya terakhirku, sungguh. Tapi kulihat Baekhyun menutup kedua telinganya dengan tangannya dan menggeleng kuat-kuat.

 

“Pokoknya kau tak boleh pergi!!” katanya, setengah berteriak.

 

Sudah cukup. Aku tak ingin membujuknya lagi, karena semuanya akan percuma.

 

“Maafkan aku Baekkie…” kataku menyesal, lalu aku berbalik dan hendak melangkah keluar pintu, tapi lagi-lagi Baekhyun menahan tanganku. Dia pegangi tanganku erat-erat. Dia benar-benar tak mau membiarkanku pergi.

 

“Jangan Yeol…Kumohon…” kata Baekhyun memelas.

 

Kutatap wajahnya agak lama dengan tatapan penyesalanku, lalu aku berusaha melepaskan tangannya pelan-pelan, tapi dia tetap tak mau melepaskanku.

 

“Maafkan aku, aku harus pergi Baekkie….” kataku menyesal, tapi–

 

 

Airmata Baekhyun mulai menetes-netes.

 

Sebegitu tak inginkah dia membiarkanku pergi?  

 

Akhirnya dia melepaskan pegangannya pada tanganku, lalu langsung membalikkan tubuhnya, meninggalkanku tanpa mengatakan apapun lagi.

 

“Baekkie….” panggilku pelan, berusaha membujuknya, tapi Baekhyun tak mau mendengarkan. Dia bahkan tak mau menoleh dan tetap berjalan menjauh, menaiki tangga menuju kamarnya dengan airmata yang masih menetes-netes di pipinya.

 

Perasaanku jadi tak menentu, campur aduk, dan kepalaku mendadak menjadi pusing. Tapi aku tetap berbalik dan meraih handle pintu. Aku masih sempat berhenti dan mematung di ambang pintu karena perang bathin menyerang diriku secara tiba-tiba. Tapi akhirnya aku tetap memutuskan pergi. Luhan dan Baekhyun, aku menyayangi keduanya, namun saat ini Luhan lebih membutuhkanku, dan aku benar-benar tak bisa mengabaikannya.

 

“Maafkan aku Baekkie…tapi saat ini Luhan lebih penting” kataku pelan, meskipun aku yakin Baekhyun tak bisa mendengarnya.

 


 

To Be Continued


Advertisements