ALL ABOUT LOVE ( Othello Season 2 )

All About Love Poster

.

By tmarionlie

.

Poster By L.E Design

.

Main Pair : ChanBaek

Other : Luhan & Kris

.

Y
aoi | Hurt & Comfort | Romance | Mature

.

.


WARNING!!

Karakter semua tokoh dalam FF ini akan sangat menjijikkan dan memuakkan. Bagi ChanBaek hardshipper yang tidak mampu membedakan antara Fiksi dan Real, yang tidak suka jika biasnya dinistakan di dalam FF, harap CLOSE FF INI DENGAN SEGERA agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Author ( saya ). Thanks!


CHAPTER 6


 

 

Park Chanyeol, baru saja kembali dari mengantarkan Luhan pulang ke rumahnya. Saat ini pria tinggi itu sedang mengemudikan mobilnya menuju rumahnya sendiri. Wajahnya tegang, dengan kedua belah rahang yang mengeras karena emosi. Chanyeol sedang sangat kecewa saat ini. Beberapa jam yang lalu dia menyatakan perasaannya pada Luhan, tapi pria cantik itu menolaknya dengan alasan yang membuat Chanyeol sangat kesal.  Bukan, bukan di tolak yang membuat Chanyeol merasa sangat emosi seperti sekarang melainkan alasan Luhan tadi.

 

 

Xi Luhan, pria cute itu baru saja berterus terang padanya mengenai sisi gelap hidupnya selama ini, bagaimana buruk dirinya karena tekanan bathin yang dia dapatkan selama bertahun-tahun semenjak keluarganya berantakan. Sejak mendengar pengakuan itu keluar dari bibir Luhan untuk yang pertama kali, emosi Chanyeol sudah mencapai ubun-ubun, bahkan kata-kata Luhan setelahnya hanya sedikit yang mampu dia tangkap karena dia sudah terlanjur emosi selain juga merasa amat kecewa berat.

 

 

Chanyeol menghentikan mobilnya secara mendadak. Nafasnya tersengal-sengal dengan wajah yang masih mengeras. Segala ucapan Luhan tadi terngiang-ngiang dalam kepalanya, membuat emosinya menjadi bertambah seiring dengan detik-detik yang bergerak. Chanyeol menggebrak stir kemudi dengan jengkel, kemudian mengusap kasar wajahnya sendiri. Setelahnya, pemuda itu hanya diam dengan tatapan kosong yang mengarah pada jalanan sepi di hadapannya, berpikir.

 

 

Flashback

 

Chanyeol masih mencium bibir Luhan dengan penuh nafsu meskipun pria berambut merah itu hanya diam dan tak membalas. Ciuman itu sudah berlangsung lama, namun Chanyeol tak beniat menyudahinya sedikitpun, dan Luhan juga tak menolak meskipun dia tak menginginkan hal itu. Luhan hanya membiarkan saja sahabatnya itu melakukan sesukanya, lagi pula Luhan merasa tak kehilangan apapun karena ciuman Chanyeol. Dia sudah terlalu sering melakukan hal seperti itu bahkan melakukan lebih dari sekedar berciuman dengan pria-pria yang bahkan baru dia kenal, karena itu ciuman seperti ini tak berarti apa-apa untuknya.

 

 

Beberapa lama hanya diam, Luhan mulai merasa bosan. Akhirnya dia cengkram kedua rahang Chanyeol dan dia balas ciuman pria tinggi itu, hanya beberapa lumatan sebelum akhirnya dia lepaskan paksa tautan bibir mereka dan mendorong keras dada Chanyeol, membuat Chanyeol mengeluarkan desahan kecewanya. Setelahnya Luhan hanya diam, tak berniat meminta penjelasan apapun, karena dia yakin pria tinggi itu akan menjelaskan sendiri padanya. Luhan hanya butuh menunggu hingga pria itu bicara.

 

 

Luhan terkesiap ketika merasakan jari-jarinya di genggam erat oleh Chanyeol, membuatnya menoleh spontan pada pria jangkung itu, tapi bibirnya tetap terkatup rapat, tak berniat mengatakan apapun. Sedangkan Chanyeol menatap Luhan dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu, tapi sayangnya Luhan tak perduli pada arti tatapan itu.

 

 

“Kau kenapa?” tanya Luhan dengan senyuman miringnya, kemudian membuang tatapannya kearah lain dengan bosan.

 

 

Chanyeol menarik nafas satu kali, kemudian menarik jemari Luhan dan semakin mengeratkannya dengan jari-jarinya sendiri.

 

 

“Luhan, aku–“

 

 

Luhan menatap Chanyeol kembali, kemudian menaikkan satu alisnya, menunggu.

 

 

 “–aku mencintaimu” lanjut Chanyeol.

 

 

“…..”

 

 

“…..”

 

 

“Lalu?” tanya Luhan, datar dan nyaris tanpa ekspresi.

 

 

“Jadilah kekasihku Lu”

 

 

Luhan mengerutkan keningnya dalam-dalam, kemudian menunduk, bingung ingin menjawab apa.

 

 

“Maaf Chanyeollie, tapi aku–“

 

 

“Aku tahu kau menganggapku menjijikkan Luhan, tapi–“

 

 

“Tidak, bukan itu!” potong Luhan epat-cepat, membuat kening Chanyeol berkerut.

 

 

“Kau tak mengenalku, Park Chanyeol”

 

 

“Aku mengenalmu!” jawab Chanyeol, emosi.

 

 

“Ya, kau mengenalku, tapi itu dulu! Sekarang aku bukan Luhan yang kau kenal dulu Park Chanyeol, aku Luhan yang berbeda!”

 

 

“…..”

 

 

“Kau tak menjijikkan bagiku Chan, karena kita sama. Kau tak dengar apa yang di ucapkan oleh wanita itu? Dia bahkan mengira kau adalah kekasih baruku, itu karena dia sudah terlalu sering melihatku berkencan dengan pria yang berbeda-beda”

 

 

“Ap– Be-berkencan dengan pria yang berbeda-beda?” tanya Chanyeol dengan nada tak percayanya, membuat Luhan terkekeh.

 

 

“Ya, aku adalah namja seperti itu Park Chanyeol. Kenapa? Kau terkejut?” tanya Luhan, melemparkan tatapan tajamnya pada Chanyeol.

 

 

“Aku tak tahu jika kau namja seperti itu” kata Chanyeol, kecewa.

 

 

“Well, sekarang kau sudah tahu kan?” jawab Luhan cuek. “Bisa kau lepaskan tanganku?” tanya Luhan lagi, dan Chanyeol langsung melepaskannya.

 

 

Hening menyelimuti selama beberapa saat, karena kedua pria itu hanya diam.

 

 

“Sejak kapan kau seperti ini Lu? Kau berubah. Kau tahu, sejujurnya aku tak percaya pada ucapanmu. Kau mengatakan hal seperti itu hanya untuk menolakku kan?” tuduh Chanyeol, tapi Luhan kembali terkekeh meskipun wajahnya tampak emosi.

 

 

“Jadi kau mengira aku berbohong hanya untuk menjauhkan dirimu dariku? Sejujurnya tak ada keuntungan yang bisa kudapatkan dari melakukan hal seperti itu Chan. Baiklah, sepertinya kau perlu melihatnya sendiri Park Chanyeol” kata Luhan, kemudian membuka satu-persatu kancing kemeja yang dia pakai.

 

 

“Luhan, apa yang kau–“ Chanyeol baru hendak protes dengan tingkah Luhan, namun suaranya langsung tercekat di tenggorokan dengan mata yang membulat ketika melihat tubuh Luhan yang sengaja ditunjukkan pria itu padanya. Kulit putih itu, penuh dengan bercak-bercak merah keunguan di sana-sini, bahkan hingga ke perut pemuda itu.

 

 

“Kau bisa melihatnya? Apa setelah ini kau masih akan meragukan ucapanku? Aku ini namja liar, Park Chanyeol. Aku bergonta-ganti partner sex sesering aku mengganti pakaianku, dan aku melakukan itu semua tanpa perasaan, kau mengerti kan sekarang? Jadi berhenti mencintaiku, aku tak pantas untukmu Chan, kau bisa mendapatkan yang lebih baik” kata Luhan dengan wajah terlukanya.

 

 

Chanyeol tertegun. Pria itu hanya diam dan hanya mengikuti gerakan tangan Luhan hingga pria itu selesai mengancingkan kemejanya lagi, dan lagi-lagi hening tercipta dalam mobil itu.

 

 

“Kenapa kau menjadi seperti ini?” tanya Chanyeol dengan suara yang sangat rendah. Pria itu merasa sangat kecewa, sejujurnya. Chanyeol tak menyangka jika Luhan yang dia kenal akan berubah menjadi seperti ini, tak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya, sungguh.

 

 

Chanyeol menunggu Luhan menjawab pertanyaannya, namun pria itu hanya diam saja. Chanyeol membuang nafas beratnya satu kali.

 

 

“Kau tahu? Aku sudah menyukaimu sejak kita masih kecil Lu”

 

 

Luhan tersentak, dan langsung menoleh cepat pada pria yang duduk di sampingnya itu.

 

 

“C-Chanyeol, k-kau?”

 

 

“Ya…aku sudah menyukaimu sejak kecil Xi Luhan. Selama bertahun-tahun aku menyimpannya, bahkan cintaku tak pernah berkurang sedikitpun meskipun aku tak melihatmu lagi selama beberapa tahun belakangan ini”

 

 

Luhan menatap sekeliling, merasa tak enak dan juga merasa bersalah.

 

 

“Sejak kapan kau menjadi seperti ini Lu? Kau tahu, aku merasa sangat kecewa padamu”

 

 

Luhan tersenyum miris.

 

 

“Entahlah…segalanya terasa amat berat bagiku sejak Appa dan Eomma bercerai. Aku juga tak tahu sejak kapan aku terjebak dalam lingkaran hitam ini. Awalnya aku hanya mencari sesuatu yang bisa menyenangkan diriku, dan setelahnya segalanya menjadi kacau…Aku membenci apa yang ku lakukan, tapi semuanya terasa menyenangkan Chanyeollie….Aku tak bisa berhenti….” kata Luhan sambil menundukkan kepalanya.

 

 

Chanyeol menatap pria itu dengan pikiran yang berkecamuk. Meskipun mengetahui fakta seperti ini, perasaannya pada Luhan tak berkurang sedikitpun. Chanyeol hanya merasa kecewa, itu saja.

 

 

“Perceraian orangtuamu tak boleh kau jadikan alasan ntuk mengobral tubuhmu Luhan. Kau seharusnya menghargai tubuhmu sendiri, bukan justru merendahkan dirimu sendiri seperti itu”

 

 

Luhan terkekeh, meskipun raut terlukanya lebih mendominasi wajahnya saat ini.

 

 

“Tubuhku bukan sesuatu yang berharga lagi semenjak Appa memutuskan menikahi wanita gila itu” kata Luhan dengan gigi yang bergemeretak karena geram, membuat kening Chanyeol lagi-lagi berkerut dalam.

 

 

“Wanita gila? Ibumu?”

 

 

“Dia bukan Ibuku!” pekik Luhan dengan tubuh yang mulai bergetar karena terlalu emosi.

 

 

“Luhan, tenanglah…Kau–“

 

 

Chanyeol meniup poninya satu kali, kemudian mengelus bahu Luhan untuk menenangkan.

 

 

“Lu, meskipun kau tak suka dia menggantikan posisi Ibu kandungmu, kau tak harus–“

 

 

“Bukan itu masalahnya, Park Chanyeol!” potong Luhan, membuat Chanyeol langsung terdiam karena terkejut.

 

 

“Lu-Luhan…”

 

 

“Apa kau masih sanggup berkata seperti itu jika kau memiliki Ibu tiri seorang Pedofil maniak seperti wanita itu, eoh?” kata Luhan dengan nada suara yang meninggi di akhir kalimatnya, dan kata-katanya itu sukses membuat mata Chanyeol melebar sempurna.

 

 

“Pedo…fil?”

 

 

Luhan membuang wajah kearah lain. “Ya, wanita itu seorang Pedofil. Dia gila, Park Chanyeol, sudah 6 tahun aku menjadi budak seks wanita itu, bisa kau bayangkan bagaimana rasanya?”

 

 

“Luhan, kau–Astaga…Asta–Damn Luhan! Kau harus melaporkannya ke Polisi! Kenapa kau membiarkannya hingga berlarut-larut seperti ini? Itu tindak pelecehan seksual Lu, itu kriminal, harusnya kau melaporkannya sejak dulu, Shit!” maki Chanyeol bertubi-tubi. Pria itu benar-benar merasa emosi, sungguh. Tapi Luhan hanya diam hingga beberapa lama, kemudian menggeleng.

 

 

“Aku tak bisa melaporkannya Chanyeollie…Wanita itu membayarku, dan aku menerimanya” kata Luhan lagi, dan bulir-bulir air mata lepas begitu saja dari matanya.

 

 

“Lu, kau–Ya Tuhan….Luhan, apa kau sudah gila?”

 

 

Chanyeol membuang nafas kesalnya hingga beberapa kali, dan Luhan masih menangis tanpa suara. Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya Chanyeol menarik tubuh Luhan ke dalam pelukannya untuk menenangkan pemuda itu.

 

 

“Sudahlah….jangan menangis lagi Lu, sudah….”

 

 

Luhan melingkarkan lengan-lengannya pada pinggang Chanyeol dan mengangguk.

 

 

“Terima kasih Chanyeollie….Dan juga–maafkan aku….”

 

 

End Flashback

Entah bagaimana perasannya sekarang, Chanyeol juga tak mengerti. Perasaannya benar-benar kacau, ampur aduk, dan aneh. Otaknya sangat kalut hingga tak bisa memikirkan apapun. Chanyeol merasa pusing. Dia usap wajahnya hingga beberapa kali kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya sendiri, menuju rumah.

 

 

 

Sepanjang perjalanan pulang tadi, otaknya hanya memikirkan satu nama, Luhan. Tapi tidak lagi setelah dia sampai di depan pagar rumahnya sendiri. Jantung pria itu mendadak berdetak tak stabil karena melihat pintu utama rumahnya terbuka sangat lebar, padahal ini sudah lewat tengah malam. Seingatnya tadi dia meninggalkan rumah dengan Baekhyun yang tertidur pulas di dalamnya, tapi saat ini pintu terbuka lebar, membuat otaknya jadi memikirkan hal yang aneh-aneh.

 

 

“Kenapa pintu depan terbuka, apa terjadi sesuatu? Atau jangan-jangan ada perampok masuk ke rumah? Astaga, Baekhyun!”

 

 

Canyeol cepat-cepat mengemudikan mobilnya memasuki pagar dan berjalan terburu-buru setengah berlari saat dirinya sudah keluar dari mobilnya sendiri. Entah mengapa Chanyeol merasa tak enak dan perasaan khawatir begitu membuncah untuk saudaranya yang berpostur mungil itu.

 

 

“Baekhyun?” panggil Chanyeol setelah tubuhnya berada di dalam rumah. Baru saja dia hendak memanggil saudaranya lagi, suaranya kembali teredam karena matanya menangkap sosok mungil itu tengah duduk di sofa ruang tengah dengan kepala yang tertunduk. Chanyeol membuang nafas leganya, kemudian melangkah cepat menghampiri pria mungil itu.

 

 

“Astaga Baek, kukira terjadi sesuatu padamu! Kenapa kau tak menutup pintu depan, bagaimana kalau ada perampok masuk, eoh?” omel Chanyeol, namun pria yang terduduk itu hanya diam tanpa bergerak sama sekali.

 

 

Chanyeol membuang nafasnya lagi sebelum menarik tangan pria mungil itu, bermaksud membawa Baekhyun kembali ke kamarnya, tapi Baekhyun bertahan pada posisinya, membuat Chanyeol heran.

 

 

“Kau kenapa? Ayo kembali ke kamarmu Baek, ini sudah sangat larut”

 

 

“Aku sedang menunggumu pulang…” jawab Baekhyun dengan suara serak yang teramat pelan.

 

 

“Ya, dan sekarang aku sudah di sini. Kau boleh kembali tidur, ayo!” kata Chanyeol dan kembali menarik tangan Baekhyun, namun lagi-lagi Baekhyun tetap bertahan pada posisinya.

 

 

“Jangan lakukan Yeol, kumohon….” Kata Baekhyun, membuat kening Chanyeol berkerut karena bingung.

 

 

“Apa maksudmu?” tanya Chanyeol heran.

 

Baekhyun mendongak menatap Chanyeol, dan membuat Chanyeol melebarkan matanya secara spontan karena melihat airmata pria mungil itu.

 

“Baekkie, ada apa? Kenapa menangis? Kau sakit? Mana yang sakit?” tanya Chanyeol panik sambil memposisikan dirinya berlutut di hadapan saudara mungilnya itu, tapi Baekhyun menggelengkan kepalanya.

 

“Kumohon jangan Yeollie…jangan menyukai Luhan…Aku tak mengizinkanmu menyukainya…” kata Baekhyun dengan nada yang terdengar memohon, namun memerintah, membuat Chanyeol tertegun seketika.

 

“Kau tak boleh mencintainya Yeol, tidak boleh” ulang Baekhyun lagi.

 

Chanyeol menatap serba salah pada Baekhyun. Chanyeol tak mengerti situasinya. Sikap Baekhyun membuatnya menjadi bingung, padahal kepalanya sudah terasa mau pecah sekarang karena masalah Luhan, dan Baekhyun membuat kekalutannya bertambah berkali-kali lipat.

 

“Baek, kenapa kau tiba-tiba begini?” tanya Chanyeol sambil memijit pelipisnya sendiri, dan Baekhyun menggeleng lemah.

 

“Aku tak tahu Yeol, dan aku tak perduli pada apapun alasannya. Aku hanya tak ingin kau bersamanya, aku tak rela jika kau mencintai Luhan”

 

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan bingungnya. Otaknya berputar cepat, memikirkan tingkah saudaranya yang aneh itu. Chanyeol merasa apa yang terlintas diotaknya mungkin sedikit gila, tapi–

 

“Baek, apa kau menyukaiku?” tanya Chanyeol, yang membuat mata sipit Baekyun melebar sempurna.

 

 

“Ap-Apa katamu?”

 

 

“Bisakah kau jelaskan padaku kenapa kau tak ingin melihatku bersama dengan Luhan? Apa alasannya Baekhyun? Kau menyukaiku?” tanya Chanyeol lagi.

 

Baekhyun membeku. Apa yang harus dia katakan?

 

 

“Ye-Yeol…aku–“

 

 

Ucapan itu terhenti. Mata Baekhyun melebar ketika bibir itu menempel pada permukaan bibirnya. Baekhyun hendak mendorong Chanyeol, namun tenaganya seperti hilang entah ke mana. Yang dia lakukan hanya diam, kemudian memejamkan matanya sipitnya ketika bibir Chanyeol mulai bergerak pada permukaan bibirnya sendiri.

 

 

Chanyeol tak tahu apa yang dia lakukan. Chanyeol merasa kalut. Dia bingung. Ucapan Baekhyun membuat otaknya terasa semakin kusut hingga tak mampu di urai lagi. Chanyeol hanya ingin mencari kebenaran tentang teori yang baru saja dia ucapkan, dan dia semakin meyakini argumentasinya sendiri karena Baekhyun tak menolak ciumannya sama sekali.

 

Tangan besarnya bergerak naik, mengelus pipi putih Baekhyun. Bibirnya terus bergerak dengan tangan yang mengusap jejak-jejak airmata di pipi mulus itu, dan Baekhyun hanya diam. Chanyeol tak tahu apa yang di pikirkan oleh Baekhyun saat ini, tapi entah mengapa Chanyeol merasa tak perduli. Otaknya menjadi semakin blank ketika Baekhyun membalas ciumannya. Bibir tipis dan mungil itu bergerak, dan terbuka secara sukarela, membiarkan Chanyeol menerobosnya dengan lidahnya sendiri. Meskipun Chanyeol tak mengerti apa yang mereka lakukan saat ini, tapi Chanyeol menikmatinya, dan Chanyeol yakin Baekhyun juga sama.

 

 

Dua pria itu sekarang saling mencium dan melumat intens. Entah apa yang di pikirkan oleh keduanya, bahkan mereka mulai melupakan fakta bahwa mereka bersaudara. Melupakan fakta bahwa mereka tumbuh bersama. Mereka masih mengingatnya beberapa menit yang lalu, tapi kini mereka seolah melupakan semua itu, bahkan mereka benar-benar tak perduli. Chanyeol dan Baekhyun hanya tahu kalau mereka sekarang sedang saling membutuhkan.

 

 

Chanyeol mengangkat tubuh mungil Baekhyun ke pangkuannya, lalu menekan tengkuk Baekhyun semakin dalam, dan tangan Baekhyun juga semakin erat memeluk leher Chanyeol. Kepala mereka saling bergerak kearah yang berlawanan. Lidah itu masih saling berperang, dan sekitar bibir keduanya sudah mulai basah oleh saliva. Beberapa menit berlalu, Baekhyun mulai merasa lelah dan juga sesak. Dia lepaskan ciuman menggairahkan itu kemudian dia tarik kepalanya mundur. Nafas pria mungil itu terengah-engah.

 

“Ini salah…kita sudah melampaui batas Yeol….” bisik Baekhyun tepat didepan wajah Chanyeol, bahkan Chanyeol dapat merasakan nafas pria mungil itu menggelitik kulit hidungnya.

 

“Hmm…Aku tahu, tapi aku tak perduli Baek…Aku menginginkanmu…” Kata Chanyeol egois, kemudian kembali melumat bibir mungil Baekhyun dan pria mungil itu kembali membalasnya. Baekhyun mulai merasa resah saat merasakan sesuatu yang mengganjal di bagian bawah bokongnya. Penis Chanyeol telah mengeras, memaksanya untuk melepaskan ciumannya lagi. Baekhyun merasa ini adalah batasnya dan dia harus menghentikannya sebelum semuanya terlambat. Lagipula hubungan mereka ini–ah, Baekhyun tak mengerti mengapa mereka melakukan ini.

 

 

“Yeol….henti–hmmpft“

 

 

Chanyeol tak membiarkan Baekhyun melanjutkan ucapannya. Dia bungkam bibir itu dengan ciuman yang memaksa dan menuntut. Baekhyun mulai berontak, tapi Chanyeol sudah terlanjur menggila. Chanyeol membawa tubuhnya bangkit dari sofa, dengan tubuh Baekhyun yang masih menempel pada tubuhnya dan kaki pendek pria itu melingkari sekitar pinggangnya. Dia bawa tubuh ‘mereka’menaiki tangga, menuju ke kamarnya sendiri.

 

 

Brukkk!!!

 

 

Tubuh mungil itu terhempas di atas ranjang. Chanyeol langsung merangkak naik dan menindih tubuh mungil Baekhyun. Bau saja ingin menciumi bibir mungil itu lagi, Baekhyun menekan dada Chanyeol dan menggeleng.

 

“Jangan Yeollie….”

 

“Kenapa? Aku menginginkanmu Baek”

 

“Kau yang kenapa? Kau tiba-tiba menciumku, padahal kau baru saja berciuman dengan Luhan” kata Baekhyun, kemudian membuang tatapan terlukanya kearah samping.

 

 

“Kau–bagaimana bisa kau mengetahuinya?” kata Chanyeol, mulai emosi.

 

 

“…..”

 

 

“Kau mengikutiku?” desak Chanyeol lagi.

 

 

Baekhyun masih diam hingga beberapa lama, kemudian tersenyum miris.

 

 

“Jangan menjadikanku pelampiasan…Aku tak mau Yeol…Kau sudah berhasil mencium Luhan, selamat. Aku akan menye–”

 

 

Lagi-lagi ucapan Baekhyun terhenti. Chanyeol kembali menciumnya dengan ciuman liar, kasar, dan menuntut, hingga Baekhyun merasa kewalahan dan kembali memberontak, tapi kedua tangannya di cekal oleh Chanyeol dan di tahan di sisi-sisi kepalanya.

 

 

“Kumohon bantu aku…bantu aku melupakan Luhan…” kata Chanyeol dengan raut wajah terlukanya, membuat Baekhyun tertegun.

 

 

“Yeol….”

 

 

“Aku menginginkanmu Baekkie…Jangan menolakku…”

 

 

“Tapi kau mencintai Luhan”

 

 

“Aku akan melupakannya Baek….Aku akan melupakan dia….bantu aku Baekhyun….”

 

 

Baekhyun menatap Chanyeol dengan bimbang. Baekhyun masih sangat yakin jika dirinya bukan penyuka sesama jenis seperti Chanyeol, hanya saja keinginan untuk memiliki Chanyeol seutuhnya tanpa di ganggu oleh siapapun begitu membuncah dalam hatinya. Baekhyun merasa ini sangat gila, tapi dia yakin jika dirinya mampu melakukan apapun demi mendapatkan seluruh perhatian Chanyeol, meskipun harus berpura-pura menjadi gay. Baekhyun tak merasa keberatan sama sekali, sungguh. Oleh karena itu dia tarik tengkuk pria tinggi itu, kemudian kembali mempertemukan bibir mereka. Lagi-lagi keduanya berciuman intens. Pria yang berada di atas sudah dipenuhi oleh nafsu akibat kekalutan pikirannya sendiri. Otak pria tinggi itu berkabut. Saat ini dia tak dapat berpikir jernih. Chanyeol hanya tahu jika dirinya menginginkan Baekhyun. Chanyeol juga tak pernah membayangkan jika dia akan menyentuh saudaranya itu hingga seintim ini, hal seperti itu bahkan tak pernah terlintas di dalam otaknya sama sekali, namun Chanyeol tak ingin memikirkan semua itu untuk sekarang. Chanyeol sudah tak bisa berhenti.

 

.

.

.

 

 

Baekhyun mengerutkan keningnya dalam-dalam di tengah-tengah ciuman panas itu. Pria mungil itu tak mengerti dengan perasaannya sendiri, namun Baekhyun mencoba menikmati ciuman itu. Dia biarkan tangan Chanyeol menelusup masuk ke dalam piyamanya, dan dia biarkan Chanyeol membelai puting-putingnya sampai tubuhnya sendiri bergetar karena merasakan sensasi aneh itu. Ciuman Chanyeol menjalar pada lehernya, mencumbui dan menghisap di sana hingga lehernya terasa sedikit perih karena Chanyeol menghisapnya dengan sangat kuat.

Baekhyun tersentak ketika merasakan penisnya di remas lembut oleh Chanyeol dari luar celana tidur yang ia pakai.

 

 

“Ahhhh…Yeolliehh…” desah Baekhyun sambil menarik rambut Chanyeol, saat Chanyeol melorotkan celananya dan menyentuh penisnya secara langsung. Selanjutnya Baekhyun hanya menggigiti bibirnya sendiri sambil memejamkan matanya rapat-rapat, menikmati penisnya yang dipijat-pijat lembut oleh Chanyeol.

 

Chanyeol semakin menggila. Bibirnya terus menghisap dan menjilat disekitar leher, kemudian ia lepaskan penis Baekhyun hanya untuk melolosi piyama pria mungil itu hingga tubuh telanjang Baekhyun yang putih mulus terpampang jelas di hadapannya. Chanyeol menatap wajah merah Baekhyun yang matanya masih terpejam itu dengan tatapan bodohnya. Perlahan tapi pasti, sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Entahlah, Chanyeol merasa sangat tolol karena baru mengetahui jika saudaranya ternyata sangat cantik dan menggairahkan seperti ini.

 

So beautiful…” pujinya dengan suara yang rendah, kemudian kembali dia cumbui tubuh pria itu sampai Baekhyun mendesah-desah pelan. Chanyeol mengecupi setiap inci tubuh mungil itu hingga berakhir di bagian bawah pusarnya. Dia kecup ujung penis Baekhyun beberapa kali sebelum dia hisap benda panjang itu ke dalam mulutnya.

 

Baekhyun menjerit-jerit nikmat saat Chanyeol memanjakan penisnya. Perutnya terasa geli, dan dia mendesah-desah seperti orang sinting dengan bibir yang terbuka dan jari-jemari yang menjambaki rambut Chanyeol tanpa henti. Perutnya terasa mengejang dan erangan kepuasan keluar dari bibirnya saat dia lepaskan spermanya ke dalam tenggorokan Chanyeol. Baekhyun tak tahu apa yang Chanyeol lakukan di sana, tapi penisnya terasa semakin basah saja oleh cairan mulut pria tinggi itu. Baekhyun terengah-engah, dan saat itu digunakan Chanyeol untuk membebaskan penisnya sendiri tanpa melepaskan celananya. Chanyeol hanya menarik turun resleting jeansnya dan mengeluarkan penisnya dari sana, kemudian mengarahkannya pada lubang Baekhyun.

 

 

Baekhyun kembali menjerit saat merasakan sesuatu melesak masuk ke dalam lubang anusnya. Lubangnya terasa robek dan panas seperti terbakar, tapi Baekhyun tak mengeluh. Pria itu hanya memeluk punggung Chanyeol erat-erat, dan pelukannya semakin erat ketika tubuhnya terguncang-guncang oleh gerakan pinggul Chanyeol. Penis Chanyeol keluar-masuk di dalam lubangnya, menciptakan sensasi aneh yang membuatnya melayang-layang. Baekhyun tak mengerti dengan perasaannya saat ini, dan dia tak ingin memikirkannya. Baekhyun hanya semakin erat memeluk punggung Chanyeol ketika gerakan Chanyeol menjadi semakin cepat dan prostatnya di hajar habis-habisan oleh ujung penis pria tinggi itu. Baekhyun menikmatinya, dan tak merasa keberatan jika Chanyeol ingin berlama-lama menikmati tubuhnya.

 

 

“Ahhh…Baekkiehh…” Chanyeol mengerang keras saat spermanya keluar, membasahi lubang pria yang dia himpit di bawah tubuhnya itu.

 

 

Baekhyun mengerutkan keningnya, sambil memandangi wajah Chanyeol yang sedang menatap langit-langit kamar. Tangan kanan Chanyeol masih mengelus-elus kepala Baekhyun, tapi pikirannya entah kemana saat ini dan Baekhyun dapat merasakannya.

 

“Yeol, apa kau menyesal?” tanya Baekhyun dengan wajah cemasnya. Baekhyun takut Chanyeol menyesali segalanya, dan pada akhirnya dia akan ‘terabaikan’ lagi.

 

Chanyeol menoleh sekilas, lalu tersenyum.

 

“Sejak tadi aku memikirkannya Baekkie…dan kurasa aku menikmatinya….Aku tak menyesal Baek….”

 

Baekhyun terdiam, dan menatap pada mata Chanyeol dalam-dalam.

 

“Lalu apa hubungan kita sekarang? Apa kau masih saudaraku?” tanya Baekhyun.

 

Chanyeol mengelus-elus bibir Baekhyun dengan telunjuk kirinya yang bebas, dan tersenyum.

 

“Entahlah…Apa yang kau inginkan, hmm?”

 

“Aku hanya ingin kau menjadi milikku Yeol, hanya milikku saja, milik Byun Baekhyun…hanya itu yang ku inginkan” jawab Baekhyun, egois.

 

Chanyeol membuang nafas satu kali, kemudian kembali tersenyum pada Baekhyun, entah apa arti senyuman itu.

 

 

“Baiklah…aku hanya milikmu Baek…aku janji…”

 

“Lalu Luhan?”

 

“Aku akan melupakan perasaanku padanya untukmu…bantu aku Baekkie…”

 

Baekhyun terdiam. Hatinya sedikit menghangat. Baekhyun tak menyangka ini akan terjadi. Bahkan sebenarnya Baekhyun tak mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Baekhyun belum tahu apakah dirinya menyukai Chanyeol atau tidak. Baekhyun tak tahu untuk apa dirinya melakukan semua ini. Karena cintakah? Sejujurnya, Baekhyun tak yakin. Baekhyun merasa dirinya masih normal. Apa karena ia hanya ingin menguasai Chanyeol sepenuhnya? Kalau itu mungkin, bahkan sangat mungkin. Entahlah, Baekhyun juga bingung. Yang pasti, sentuhan Chanyeol tadi membuatnya sangat bahagia. Baekhyun menikmatinya.

 

“Yeol…”

 

“Hmmm?”

 

“Apa sekarang kau kekasihku?”

 

 

“Menurutmu?”

 

 

“Kau kekasihku Yeollie…”

 

 

“Ya, baiklah…Aku kekasihmu…”

 

 

“Apa kau masih menyukai Luhan?”

 

 

“Hmm…sedikit…”

 

 

“Aku tak mau kau jadikan pelampiasan…Kau harus menjadi milikku sepenuhnya Park Chanyeol”

 

 

“Hmm…aku mengerti…”

 

 

“Jangan menyukai Luhan lagi Yeol”

 

 

“Akan kulakukan…apapun akan kulakukan untukmu Baek, asal kau tetap berada di sisiku”

 


To Be Continued


Advertisements